Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search

Analisis Kebijakan Pelayanan Kesehatan di Rumah Sakit dalam Perspektif Hukum Perlindungan Masyarakat Ronald Jolly Pongantung; Dian Ratu Ayu Uswatun Khasanah; Nurma Khusna Khanifa
Syariati: Jurnal Studi Al-Qur'an dan Hukum Vol. 12 No. 1 (2026): SYARIATI : Jurnal Studi Al Qur'an dan Hukum
Publisher : Fakultas Syari'ah dan Hukum (FSH) UNSIQ

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32699/syariati.v12i1.8977

Abstract

Persoalan kualitas layanan kesehatan Indonesia masih jauh tertinggal di lingkungan negara-negara di kawasan Asia, apalagi dunia. Hingga tahun 2024, Indeks Pelayanan Kesehatan yang dikeluarkan CEO World menempatkan Indonesia di urutan ke-39 dengan skor 42,99. Padahal kesehatan merupakan komponen vital dalam upaya memajukan sebuah negara. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif filosofis guna menyoroti kebijakan pelayanan kesehatan. Dengan hasil penelitian diantaranya pertama, hak atas kesehatan berarti pemerintah memiliki kewajiban untuk membuat kebijakan dan rencana kerja yang bertujuan untuk memastikan bahwa layanan kesehatan. Dari kewajiban tersebut dengan sendirinya akan memunculkan hubungan timbal balik (hak – kewajiban) antara rumah sakit dan pasien. Hubungan ini harus terjaga dengan baik atas dasar mutual understanding, mutual trust dan mutual respect antara kedua belah pihak. Kedua, kebijakan pelayanan kesehatan dilihat dari sisi normatif digunakan untuk menyelesaikan permasalahan yang ada. Sedangkan filosofis dikembangkan berdasarkan sistem hukum di Indonesia berupa Pancasila sila ke 2 terkait pengakuan terhadap “Hak Asasi Manusia”, diwujudkan dalam kalimat : ”kemanusiaan yang adil dan beradab”, serta kolektif yang dimiliki Pancasila berupa norma keadilan sosial (sila ke 5). Dengan kata “keadilan sosial” memberikan petunjuk bahwa masyarakat harus bersikap adil terhadap individu-individu yang berbeda terhadap pelayanan kesehatan. Disinilah diperlukan perlindungan hukum sebagai suatu gambaran dari fungsi hukum, yaitu konsep dimana hukum dapat memberikan suatu keadilan, ketertiban, kepastian, kemanfaatan dan kedamaian.
Andragogy-Based Psychosocial Intervention and Funiculi Funicula Bibliotherapy to Strengthen the Meaning of Life Among Incarcerated Mothers at Class IIB Women's Prison Manado Cynthia Maria Siwi; Ronald Jolly Pongantung; Dian Ratu Ayu Uswatun Khasanah
Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia Vol. 7 No. 3 (2026): Glosains: Jurnal Sains Global Indonesia
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Kuningan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59784/glosains.v7i3.776

Abstract

Background: Incarcerated mothers in Indonesia face severe psychological challenges, including loss of maternal identity, depression, and disrupted mother–child relationships during imprisonment. With 13,976 female inmates nationally and significant mental health needs, targeted psychosocial interventions are critically needed; however, they remain underrepresented in correctional rehabilitation programs. Objective: The Strengthening Life Meaning of Parenting for Incarcerated Mothers Program at the Class IIB Women’s Correctional Facility in Manado aims to enhance the psychological well-being of incarcerated mothers through the application of andragogy principles and the Funiculi Funicula novel series as a stress-coping mechanism. Methods: Activities were carried out using a group-based psychosocial development approach, including counseling, diary writing, creativity training, outbound experiential activities, and art exhibitions. The Funiculi Funicula novel series served as a medium for reflection and motivation, helping participants accept their past experiences and build renewed hope. Results: This program was evaluated using the Satisfaction With Life Scale (SWLS), showing an increase in mean “meaning in life” scores from 15.2 (slightly dissatisfied category) to 28.1 (satisfied category). As a result, participants experienced significant improvements in mental well-being, self-confidence, strengthening of the maternal role, and readiness for social reintegration. Conclusion: This model is expected to become a relevant correctional intervention for incarcerated mothers and may be applicable to other women’s correctional facilities.
Corporate Communications and Corporate Social Responsibility of Coal Mining Companies in Promoting Community Well-being Dian Ratu Ayu Uswatun Khasanah; Hafri Yuliani; Titi Darmi; Ronald Jolly Pongantung
DAWUH : Islamic Communication Journal Vol. 7 No. 2 (2026): July
Publisher : Yayasan Darussalam Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62159/dawuh.v7i2.2033

Abstract

Corporate Social Responsibility (CSR) represents both a moral and legal obligation of corporations to promote the welfare of communities within their operational sphere. In the coal mining sector in Indonesia, effective CSR implementation is inseparable from the quality of corporate communication the strategic process through which companies convey their social commitments, build trust with stakeholders, and manage their public image before affected communities. This research examines: (1) the normative framework of CSR for coal mining companies under applicable Indonesian legislation, encompassing the most recent regulations including Law No. 3/2020, Law No. 11/2020, Government Regulation No. 96/2021, and Government Regulation No. 25/2024; and (2) the reconstruction of an ideal CSR communication model within a welfare state perspective to improve community well-being. Employing a normative juridical approach with qualitative descriptive-analytical data analysis, this study reveals that despite the relatively comprehensive legal foundation for CSR in Indonesia, significant weaknesses persist in the form of inter-regulatory disharmony, insufficient deterrent sanctions, and unsystematic oversight mechanisms. Furthermore, deficiencies in corporate communication practices — including asymmetric information dissemination, lack of transparent dialogue, and absent participatory communication — exacerbate the gap between normative CSR obligations and their real-world impact. Accordingly, a comprehensive reconstruction of the mining CSR system is needed, encompassing regulatory harmonization, institutional strengthening, corporate paradigm transformation, and meaningful community participation facilitated through effective multi-stakeholder communication. Keywords: Corporate Communication; Corporate Social Responsibility; Coal Mining; Community Welfare; Normative Juridical.
Pemberdayaan Masyarakat Melalui Pelatihan Menjahit Busana Gamis pada Ibu Rumah Tangga di Kelurahan Srondol Kulon, Kota Semarang Eem Kurniasih; Dian ratu ayu Uswatun Khasanah; Ronald Jolly Pongantung; Pukky Tetralian Bantining N.
JURNAL ABDIMAS SERAWAI Vol. 6 No. 1 (2026): Jurnal Abdimas Serawai (JAMS)
Publisher : Program Studi Administrasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Muhammadiyah Bengkulu 

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/jams.v6i1.10023

Abstract

Berdasarkan penilaian situasi yang telah dilakukan oleh tim Pengabdian, diperoleh informasi bahwa mayoritas ibu PKK di kelurahan Srondol Kulon RT 04/RW 07 Kec. Banyumanik, Semarang, cukup menguasai teknik dasar menjahit. Hasil penilaian yang lain saat wawancara sebelum kegiatan pengabdian didapatkan bahwa beberapa ibu-ibu PKK dahulu pernah belajar melalui pelatihan di LPK menjahit, sehingga dapat dijadikan dasar untuk melakukan kegiatan menjahit busana gamis menggunakan metode dressmaking. Selanjutnya, tim melaksanakan pendataan dan pendampingan untuk mendata siapa saja yang akan mengikuti kegiatan pengabdian. Program pendampingan keterampilan menjahit busana gamis dengan dressmaking ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan ibu PKK. Kegiatan pengabdian masyarakat ini telah berlangsung selama delapan bulan. Metode yang digunakan pada kegiatan pengabdian ini yaitu teori dan praktik dengan komposisi 70% praktik dan 30% teori. Hasil yang telah dicapai dari program ini adalah bahwa ibu-ibu PKK telah mampu membuat busana gamis secara mandiri dengan metode dressmaking, Hasil gamis yang dibuat mitra sebanyak sepuluh buah dan sebagian gamis ada yang sudah dipasarkan melalui marketplace.
Kesenjangan Hukum dan Realitas Sosial Terhadap Pekerja Migran Indonesia di Kamboja: Perspektif Yuridis dan Sosiologis Dian Ratu Ayu Uswatun Khasanah; Ronald Jolly Pongantung; Cynthia Maria Siwi
Integralistik Vol. 37 No. 2 (2026): Juli :2026
Publisher : Universitas Negeri Semarang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/integralistik.v37i2.43663

Abstract

The increasing number of Indonesian illegal migrant workers, particularly from Central Java, reflects the socio-economic disparities in Southeast Asia, especially in relation to unequal opportunities for employment and wages between countries. The driving factors behind this illegal migration include high unemployment rates, poverty in rural areas, and strong social networks, which often encourage prospective workers to choose non-procedural pathways despite the high risks involved. This illegal migration involves informal recruitment by brokers and document falsification, which makes workers vulnerable to exploitation, violence, and human trafficking. Although Indonesia has a relatively comprehensive legal framework through Law Number 18 of 2017 on the Protection of Indonesian Migrant Workers, the implementation of legal protection in practice remains far from satisfactory. Weak law enforcement, limited inter-agency coordination, and a lack of trust in official procedures have led many workers to choose illegal routes. This study identifies the gap between written laws and the social practices of illegal migration through a normative legal and socio-legal approach. The findings show that existing legal policies are not effectively followed in practice, leaving illegal migrant workers still vulnerable. To improve this situation, a more holistic approach is needed, including simplifying legal migration procedures, enforcing stricter laws against illegal recruitment, and strengthening legal education for prospective migrant workers. These findings are expected to contribute to the development of more effective migrant worker protection policies, bridging the gap between existing laws and the reality on the ground.