Claim Missing Document
Check
Articles

Konstruksi Pemeriksaan Bersyarat dalam Mengadili Perkara Perceraian Secara Verstek di Pengadilan Agama Mansari Mansari
Journal of Dual Legal Systems Vol. 3 No. 1 (2026): Journal of Dual Legal Systems
Publisher : STAI Syekh Abdur Rauf, Aceh Singkil

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58824/jdls.v3i1.525

Abstract

This study examines the practice of default judgments (verstek) in divorce proceedings which potentially deviates from the objectives of Maqashid al-Shariah, particularly the protection of lineage (hifz al-nasl), the protection of property (hifz al-mal), and the preservation of human dignity (hifz al-‘irdh). The central problem lies in the predominance of a procedural approach that treats the formal validity of service of summons as the primary basis for adjudication, without substantive examination of the child’s circumstances, the respondent’s financial capacity, and the underlying marital conflict. This research aims to analyze the normative construction of default judgment, to assess its application in judicial decisions, and to formulate a reconstructed model of default adjudication oriented toward substantive justice. The study employs a normative juridical method, applying both conceptual and statutory approaches. Data are analyzed descriptively and analytically through the examination of statutory provisions, court decisions, and the theoretical framework of Maqashid al-Shariah. The findings demonstrate that the current practice of default judgments in divorce cases has not ensured optimal protection of children’s rights, has inadequately considered the respondent’s economic condition, and has failed to place the substantive marital conflict at the core of judicial reasoning, resulting in the insufficient internalization of Maqashid al-Shariah within judicial practice. The application of default procedures in divorce proceedings risks distorting the protection of lineage, property, and human dignity due to the dominance of procedural justice over substantive justice. Judgments are frequently rendered without verification of the best interests of the child or the respondent’s capacity to provide maintenance, thereby weakening the function of law as an instrument of public welfare and human benefit. A reconstruction of default adjudication grounded in Maqashid al-Shariah is therefore required, positioning default judgment as a conditional mechanism that mandates substantive examination and the proactive exercise of judicial ex officio powers. [Penelitian ini mengkaji praktik putusan verstek dalam perkara perceraian yang berpotensi menyimpang dari tujuan maqashid al-shariah, khususnya perlindungan keturunan (hifz al-nasl), perlindungan harta (hifz al-mal), dan penjagaan martabat manusia (hifz al-‘irdh). Permasalahan utama karena lebih didominasi pendekatan prosedural yang menempatkan keabsahan pemanggilan sebagai dasar putusan, tanpa pemeriksaan materiil terhadap kondisi anak, kemampuan ekonomi tergugat, serta substansi konflik rumah tangga. Tujuan penelitian ini menganalisis konstruksi norma verstek, praktik verstek dalam putusan dan  merumuskan model rekonstruksi hukum verstek yang berorientasi keadilan. Penelitian menggunakan metode yuridis normatif dengan pendekatan konseptual yang menjadikan maqashid sebagai dasar analisis utama, pendekatan kasus dan peraturan perundang-undangan. Analisis data dilakukan secara deskriptif dan analitis melalui telaah norma hukum, putusan pengadilan, serta teori maqashid al-shariah.  Hasil penelitian menunjukkan bahwa praktik putusan verstek dalam perkara perceraian belum memberikan perlindungan optimal terhadap hak anak, kondisi ekonomi tergugat, dan kompleksitas konflik rumah tangga. Aspek-aspek tersebut belum menjadi pertimbangan utama sehingga nilai-nilai maq??id al-syar?‘ah belum terinternalisasi secara memadai dalam praktik peradilan. Penerapan verstek berpotensi mendistorsi perlindungan terhadap keturunan (?if? al-nasl), harta (?if? al-m?l), dan martabat manusia karena praktik peradilan lebih menekankan keadilan prosedural. Penelitian merekomendasaikan rekonstruksi hukum verstek berbasis maq??id al-syar?ah dengan menempatkan verstek sebagai mekanisme bersyarat yang tetap mensyaratkan pemeriksaan materiil oleh hakim. Optimalisasi kewenangan ex officio hakim juga diperlukan agar kepentingan anak, kemampuan ekonomi pihak tergugat, dan nilai kemaslahatan dapat dipertimbangkan secara substantif dalam putusan perceraian. Kontribusi global kajian ini karena memberikan dasar konseptual dalam pengembangan diskursus Islamic family law dengan menawarkan model integrasi antara mekanisme prosedural peradilan modern dan prinsip maq??id al-syar?‘ah sebagai dasar evaluasi keadilan. Konsep pemeriksaan bersyarat dalam putusan verstek yang ditawarkan dapat menjadi kerangka analitis bagi negara-negara dengan sistem peradilan keluarga berbasis hukum Islam.]
The Urgency of Reformulating Regulations on the Postponement of Marital Property Distribution to Fulfill the Best Interests of the Child Fatahillah, Zahrul; Ilham, Ajhatul; Mansari; Azharuddin
Dusturiyah: Jurnal Hukum Islam, Perundang-undangan dan Pranata Sosial Vol. 16 No. 1 (2026): JURNAL DUSTURIAH
Publisher : Universitas Islam Negeri Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/qhj60v43

Abstract

The regulation of the distribution of marital property in Indonesia has not yet incorporated a child-protection perspective. In fact, divorce has direct consequences for children, particularly in situations where the marital property consists of only a single asset, namely the family home. If such property is divided equally between the husband and the wife, it may result in adverse effects on the best interests of the child. This study aims to analyze the urgency of reformulating the regulation of marital property distribution in a manner oriented toward child protection and the best interests of the child as reflected in Supreme Court Circular Letter (SEMA) Number 1 of 2022. This research employs a normative legal research method. The legal materials used consist of the Marriage Law and the Compilation of Islamic Law. Data collection was carried out through a literature review of library materials. The data were analyzed descriptively and prescriptively. The findings indicate that reformulating the regulation on postponing the distribution of marital property in the form of legislation is essential to address the existing legal vacuum in Indonesia. Although the Supreme Court has issued an internal policy in the form of a SEMA, its effectiveness is weak because it functions merely as an internal directive that is not legally binding on judges. A provision acquires binding force only when it is regulated in statutory legislation. The SEMA has attempted to realize the best interests of the child by providing for the postponement of the distribution of marital property when the property acquired during the marriage consists solely of a house that serves as the family residence. Dividing the house equally between the husband and the wife may generate negative consequences for the child, as the child could lose their place of residence.
Social Stigma and Family Identity Construction in Pulang Balee Marriage among Acehnese Society: A Legal Anthropology Perspective Mansari Mansari; Zahrul Fatahillah
Ahlika: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam Vol. 3 No. 1 (2026): Ahlika: Jurnal Hukum Keluarga dan Hukum Islam
Publisher : Yayasan Abdurrauf Cendekia Nusantara

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.70742/ahlika.v3i1.599

Abstract

Pulang balee marriage is a customary marital practice that continues to exist in Acehnese society, referring to the marriage between an individual and their former sibling-in-law following the death or divorce of a spouse. This practice is commonly regarded as a means of preserving kinship ties, ensuring the continuity of child care, and maintaining family stability, although it may also generate social stigma in certain communities. This study aims to examine pulang balee marriage in relation to the construction of family identity and the strategies employed by families to address social stigma. The research adopts an empirical legal method with a legal anthropology approach. Data were analyzed descriptively and analytically based on the social practices observed within Acehnese communities. The findings indicate that pulang balee marriage functions to strengthen kinship relations, sustain child care, and preserve family continuity after the death of a spouse. Social stigma does not arise uniformly but is shaped by differing community perceptions of customary norms and moral values. Family identity is constructed through an ongoing negotiation between customary values, social perceptions, and lived experiences. To gain social acceptance, families reinforce customary values, emphasize child welfare, and actively participate in community life. This study contributes to legal anthropology by demonstrating that family identity in pulang balee marriage is dynamically negotiated through the interaction of living law, cultural values, and social perceptions. [Perkawinan pulang balee merupakan praktik adat yang masih dijumpai dalam masyarakat Aceh, yaitu perkawinan antara seseorang dengan iparnya setelah pasangan sebelumnya meninggal dunia atau terjadi perceraian. Praktik ini dipandang sebagai upaya menjaga hubungan kekerabatan, keberlangsungan pengasuhan anak, dan stabilitas keluarga, meskipun masih dapat menimbulkan penilaian negatif di sebagian masyarakat. Penelitian ini bertujuan menganalisis praktik perkawinan pulang balee dalam kaitannya dengan pembentukan identitas keluarga dan strategi menghadapi stigma sosial. Penelitian menggunakan metode hukum empiris dengan pendekatan antropologi hukum. Data dianalisis secara deskriptif-analitis berdasarkan praktik sosial yang berkembang dalam masyarakat Aceh. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perkawinan pulang balee berfungsi memperkuat ikatan keluarga, menjaga kesinambungan pengasuhan anak, dan mempertahankan hubungan kekerabatan setelah kematian pasangan. Stigma sosial tidak selalu muncul, tetapi dipengaruhi oleh perbedaan pandangan masyarakat terhadap norma adat dan nilai moral. Identitas keluarga terbentuk melalui proses negosiasi antara nilai adat, persepsi masyarakat, dan pengalaman keluarga. Untuk memperoleh penerimaan sosial, keluarga menegaskan nilai-nilai adat, membangun narasi perlindungan anak, serta meningkatkan partisipasi dalam kehidupan bermasyarakat. Penelitian ini menegaskan bahwa identitas keluarga dalam praktik pulang balee dibentuk secara dinamis melalui interaksi antara living law, nilai budaya, dan persepsi sosial masyarakat.]
Polygamy in the Perspective of Contemporary Islamic Law: A Normative and Contextual Analysis of Nasr Hamid Abu Zaid's Thought Erha Saufan Hadana; Muhammad Haikal; Mansari Mansari; Irwansyah Irwansyah; Muzakkir Zakaria; Ikhsan Ikhsan
Syarah: Jurnal Hukum Islam dan Ekonomi Vol. 14 No. 2 (2025): SYARAH : Jurnal Hukum Islam dan Ekonomi
Publisher : Fakultas Syariah Universitas Islam Negeri Sultanah Nahrasiyah Lhokseumawe

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47766/syarah.v14i2.6424

Abstract

Polygamy remains a controversial practice in Islamic society in Indonesia, especially when linked to the principles of justice and gender equality. Although Marriage Law No. 1 of 1974 and a number of other regulations have restricted polygamy through administrative and substantive requirements, practices in the field show weak control and numerous procedural violations. This gap between legal norms and social practices demonstrates the failure of the law to provide protection, especially for women. This study aims to analyze the regulation of polygamy in Indonesia from the perspective of Nasr Hamid Abu Zaid's thinking, which emphasizes the importance of maqashid al-syariah as the basis for the validity of Islamic law. This study is a normative legal study with a qualitative approach, through a documentary study of legislation, legal literature, and the thoughts of modern Islamic legal figures. The results of the study show that the regulation of polygamy in Indonesia has not fully integrated the principle of maqashid, both in the substance of the law and in its implementation in court. Legal provisions tend to be legal-formal in nature without addressing the ethical, social, and psychological dimensions of the practice of polygamy. Nasr Hamid Abu Zaid's thinking emphasizes that the permissibility of polygamy must depend on substantive justice, not merely procedural validity. This view offers a critical framework for reforming Islamic family law to be more contextual, responsive, and just. It is important to reform regulations to ensure that the law truly serves as an instrument of protection, not merely a means of legitimizing social inequality.
PEMIDANAAN TERHADAP PENGGELAPAN HARTA DARI NIKAH SIRI Mansari Mansari; Haspan Yusuf Ritonga; Rahmad Hidayat
Jurnal Yudisial Vol. 15 No. 3 (2022): BEST INTEREST OF THE CHILD
Publisher : Komisi Yudisial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29123/jy.v15i3.532

Abstract

ABSTRAKNikah siri seringkali menimbulkan konsekuensi terhadap harta bersama. Fakta empiris menunjukkan persoalan yang ditimbulkan berkaitan dengan harta bersama yang diperoleh dari perkawinan berakhir dengan pemidanaan. Melalui Putusan Nomor 57/Pid.B/2021/PN.Cag, majelis hakim menjatuhkan hukuman satu tahun penjara kepada terdakwa karena menggadaikan harta yang diperoleh dari perkawinan kepada pihak lain, padahal perkawinan tersebut tidak dicatat. Penelitian bertujuan untuk menganalisis mengapa majelis hakim menghukum suami yang menggelapkan harta dari nikah siri dan bagaimana tinjauan yuridis terhadap penjatuhan hukuman tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif. Bahan hukum primer yang digunakan berupa Undang-Undang Perkawinan, KUHP, Putusan Nomor 57/Pid.B/2021/PN.Cag, KHI, sedangkan bahan hukum sekunder diperoleh dari buku, jurnal dan hasil penelitian yang berkaitan dengan topik ini. Analisis data dilakukan secara kualitatif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pertimbangan hakim menjatuhkan hukuman terhadap terdakwa yang melakukan tindak pidana penggelapan adalah dikarenakan hakim menilai mobil yang dibawakan oleh terdakwa dibeli selama masih adanya ikatan perkawinan dengan saksi korban dan tindak pidana tersebut dilakukan setelah saksi korban dan terdakwa menjatuhkan talak terhadap saksi korban. Secara yuridis, penjatuhan hukuman terhadap terdakwa kurang tepat dalam perspektif ilmu hukum, karena satu unit mobil yang dibawakan oleh terdakwa belum diketahui secara pasti bagian dari terdakwa maupun saksi korban serta tidak ada perlindungan hukum dari negara terhadap harta yang diperoleh dari perkawinan yang tidak dicatat. Suami maupun istri dapat saja bertindak terhadap harta yang diperoleh dari nikah siri karena tidak adanya batasan penggunaannya dari undang-undang. Sebaliknya, undang-undang hanya membatasi bagi pasangan suami istri menggunakan harta yang diperoleh dari perkawinan tercatat tanpa adanya persetujuan bersama.Kata kunci: harta bersama; pemidanaan; nikah siri; penggelapan.ABSTRACT Siri marriages (unregistered marriages) often have consequences for a joint asset. Empirical facts show that the problems caused are related to a joint asset obtained from an ended marriage with criminalization. Through Decision Number 57/Pid.B/2021/PN.Cag, the panel of judges sentenced the defendant to one year’s imprisonment for pawning an asset acquired during marriage to another party, even though the marriage was unregistered. The research aims to analyze why the panel of judges sentenced the husband because he embezzled the asset from the siri marriage and how the juridical review of the sentencing. This research used the juridic normative method. Primary legal materials are the Marriage Law, Criminal Code, Decision Number 57/Pid.B/2021/PN.Cag, KHI. Meanwhile, secondary legal materials are obtained from books, journals, and research results related to this topic. Data analysis was carried out qualitatively. The results showed that the judge’s consideration of imposing a sentence on the defendant who committed the embezzlement was because the judge assessed that the car brought by the defendant was purchased as long as there was still a marital bond with the victim-witness. After the victim- witness and the defendant had divorced then, the crime was committed. Juridically, the sentence imposed on the defendant was inaccurate in legal perspective because the one unit of the car brought by the defendant had not yet been identified as belonging to the defendant or the victim-witness, and there was no legal protection from the state for an asset obtained from an unregistered marriage. Husbands and wives may act on assets obtained through siri marriage because there are no restrictions on its use in the law. On the other hand, the law only restricts spouses from using assets acquired during a registered marriage without mutual consent. Keywords: joint assets; criminalisation; siri marriage; embezzlement.
STATUS PERKAWINAN AKIBAT PENOLAKAN ISBAT NIKAH Mansari mansari; Muslim Zainuddin; Khairuddin Khairuddin
Jurnal Yudisial Vol. 16 No. 1 (2023): NIETIG
Publisher : Komisi Yudisial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29123/jy.v16i1.534

Abstract

Isbat nikah bertujuan mengesahkan perkawinan yang tidak dicatatkan oleh pejabat pencatat nikah atau hilangnya akta nikah dan alasan lainnya sebagaimana ditentukan dalam Pasal 7 ayat (3) Kompilasi Hukum Islam melalui penetapan mahkamah syar’iyah. Namun, hakim melalui Putusan Nomor 206/Pdt.G/2021/MS.Bna menolak permohonan isbat tersebut, sehingga menimbulkan konsekuensi yuridis terkait keabsahan perkawinan para pemohon dan anakanak yang lahir dari perkawinan tersebut. Penelitian bertujuan menganalisis status perkawinan pasca penolakan isbat nikah dan konsekuensi yuridis terhadap perkawinan tersebut. Penelitian ini menggunakan metode penelitian yuridis normatif, dengan memfokuskan pada putusan hakim. Bahan hukum yang digunakan adalah bahan hukum primer dan bahan hukum sekunder. Analisis data dilakukan secara kualitatif dengan pendekatan konseptual dan kaidah-kaidah dalam ilmu hukum. Hasil penelitian menunjukkan bahwa status perkawinan para pemohon dalam Putusan Nomor 206/Pdt.G/2021/MS.Bna tidak sah menurut hukum Islam, karena wali nikah yang bertindak dalam perkawinan tersebut adalah adik pemohon yang tidak mendapatkan wewenang untuk menikahkan, dan tidak diwakilkan kepadanya untuk menikahkan kakak perempuannya. Seyogianya yang bertindak sebagai wali untuk menikahkan pemohon adalah ayahnya, karena ayah masih berhak untuk menikahkannya, namun tidak menyetujui pemohon menikah dengan laki-laki pilihannya. Konsekuensi yuridis terhadap penolakan tersebut berakibat pada tidak sahnya perkawinan tersebut. Akibatnya, pemohon harus dinikahkan kembali dengan memenuhi rukun dan syarat sahnya perkawinan menurut hukum Islam dan hukum positif di Indonesia agar sah secara agama untuk menghindari perzinahan dan mendapatkan perlindungan hukum dari negara.
PENGESAMPINGAN SYARAT ALTERNATIF POLIGAMI SEBAGAI DASAR MENGABULKAN PERMOHONAN Mansari Mansari; Zahrul Fatahillah; Siti Sahara
Jurnal Yudisial Vol. 16 No. 3 (2023): DISPARITAS PUTUSAN
Publisher : Komisi Yudisial RI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29123/jy.v16i3.659

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pertimbangan hakim yang mengesampingkan Pasal 4 ayat (2) UndangUndang Perkawinan, sehingga mengabulkan permohonan izin poligami. Ketentuan yang dikesampingkan tersebut menyatakan pengadilan memberi izin berpoligami jika istri tidak melaksanakan kewajibannya, memiliki penyakit badan atau sulit disembuhkan dan tidak dapat melahirkan keturunan. Kenyataan empiris menunjukkan tidak terpenuhinya ketiga alasan tersebut pada kasus dalam Putusan Nomor 272/Pdt.G/2023/MS.Bna, namun permohonan izin poligami dikabulkan oleh majelis hakim. Permasalahan lainnya pemohon telah menikah secara siri dengan istri kedua, padahal masih terikat dengan istri pertamanya. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis secara yuridis pertimbangan majelis hakim mengabulkan permohonan izin poligami dengan mengesampingkan syarat alternatif dan status hukum bagi perkawinan siri pasca dikabulkannya izin poligami. Penelitian hukum yang digunakan yaitu metode penelitian hukum normatif. Teknik pengumpulan data dilakukan dengan cara menelaah data yang terdapat di perpustakaan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara yuridis dikabulkannya permohonan izin poligami kurang tepat dalam perspektif yuridis, namun dari sisi keadilan dan kemanfaatan dapat dirasakan oleh para pihak. Status perkawinan siri dengan istri pertama menurut hukum agama sah, namun harus dicatatkan dan dinikahkan kembali di hadapan pejabat pencatat perkawinan. Mempelai laki-laki dan perempuan harus melakukan nikah ulang dengan melampirkan penetapan izin poligami sebagai syarat bagi suami yang berpoligami.