Claim Missing Document
Check
Articles

Found 1 Documents
Search
Journal : Metahumaniora

IMPERIALISME EKOLOGIS DALAM CERPEN “BARAPEN NISAN” KARYA WIKA G. WULANDARI: KAJIAN EKOKRITIK POSKOLONIAL Prabawati, Theresia Sekar; Sudibyo, Sudibyo
Metahumaniora Vol 13, No 3 (2023): METAHUMANIORA, DESEMBER 2023
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/metahumaniora.v13i3.49969

Abstract

Bentuk penjajahan pada masa kini tidak lagi ditandai dengan penguasaan politik dan militer dalam suatu wilayah. Salah satu jenisnya dapat berupa penjajahan lingkungan atau yang disebut sebagai imperialisme ekologis. Penelitian ini bertujuan untuk mengungkap bagaimana imperialisme ekologis digambarkan dan bagaimana resistensi masyarakat tereksploitasi terhadap imperialisme ekologis yang terjadi dalam cerpen “Barapen Nisan” (2019) karya Wika G. Wulandari. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode kualitatif dengan mengaplikasikan teori imperialisme ekologis melalui pendekatan ekokritik poskolonial. Berdasarkan hasil pembahasan, ditemukan bahwa pengarang menggambarkan imperialisme ekologis dalam cerpen dengan bentuk rasisme lingkungan (environmental racism) yang terlihat melalui kedatangan pekerja asing dari perusahaan tambang asal Amerika untuk mengeruk emas dari wilayah Baliem. Aktivitas pertambangan ini menyebabkan kerusakan pada lingkungan sekitar sehingga membuat hidup warga setempat tidak nyaman, serta dapat menimbulkan kehancuran ekosistem dalam jangka panjang. Temuan selanjutnya adalah sikap masyarakat Baliem terhadap keberadaan tambang emas tersebut direpresentasikan melalui tiga simbol dalam cerpen, yakni tokoh Amos yang menyimbolkan keseluruhan warga Baliem, tokoh kose atau kepala suku sebagai simbol dari perusahaan tambang asing, dan batu nisan yang menyimbolkan emas. Resistensi warga terlihat dari sikap keterpaksaan mereka terhadap aktivitas pekerja tambang. Berdasarkan hasil tersebut, dapat disimpulkan bahwa imperialisme ekologis dalam cerpen merupakan alat pelanggengan neo-imperialisme asing yang terjadi karena relasi kuasa yang timpang antara pihak dominan (perusahaan tambang) dengan pihak yang lebih lemah (warga Baliem).
Co-Authors Abdul Aziz Agung, Langgeng Akmal Jaya Al Muttaqii, Muhammad Aldara, Intan Anggraeni, Pangesti Anggraeni, Tika Aprinus Salam Dahlan, Astryd Viandila Dewi, Aisha Andini Indira Dewojati, Cahyaningrum Diah Riski Gusti Dwi Cahyo Kartiko Eddy Hermanto Fadlil Munawwar Manshur Fahmi, Muhammad Zaki faruk faruk Fauziah, Sarah Ferry Budhi Susetyo Frastica Deswardani Ginting, JP Hanafiah, Luthfi Harendika, Melania Shinta Hary Sulistyo Ilma, Awla Akbar Indradewa, Rhian Jafar Lantowa Jati, Anisa Ambar Joanita, Ulfi Krisyono, Danar Hari Laksmidevi Juwono, Ariadne Lenny Marlinda Lismeri, Lia Lubi, Ahmad Manshur , Fadlil Munawwar Marbun, Maja Pranata Mochamad Ridwan Muhammad Amin Muhammad Ikbal Muhammad Taufiqurrohman, Muhammad Muratin, Muratin Novi Siti Kussuji Indrastuti Nulhakim, Lukman Peri Oktiarmi Prabawati, Theresia Sekar Pramudya, Injira Rizqy Pratama, Dian Septiani Priscila Fitriasih Limbong Pudjiastuti, Titik Puspita, Afifah Lingga Putri, Descenda Angelia Putriana, Silvia Ramadhan, Cahyo Setiadi Ramandani, Adityas Agung Ramdhani, Aditya Dwi Reva Edra Nugraha Rohman, Fakhrony Sholahudin Ronidin Ronidin Rozana, Monna Safitri Safitri Santiko, Erik Budi Saripudin, Khansa Syaima Rihaadatul Aisya Sarwan, Sarwan Sasmita, Ismoyo Aji Sinurat, Menita Situmeang, Rudy Tahan Mangapul Sjamsjul Anam Sugeng Priyanto, Sugeng Sukma, Vinda Avri Suprihatin Suprihatin Swastanto, Yoedhi Syaiful Anwar Tiurmaida, Serepina Tri Adi Sarwoko Wahyuni, Sri Amelia Widodo Widodo yati, indri Yudanto, Sigit Dwi Yuli Darni Yustinah Yustinah Zalianty, Sebila Aulia Zipora Sembiring Zulian, Muhammad Rizki Zuliana, Rina