Claim Missing Document
Check
Articles

Mengungkap Bentuk dan Fungsi Feminisme Liberal dalam Novel Bulan Terbelah di Langit Amerika Karya Hanum Salsabiela Rais Gazali Gazali; Ulinsa Ulinsa; Iqlima Iqlima
Aksara Vol 35, No 2 (2023): Aksara, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Provinsi Bali

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29255/aksara.v35i2.889.249--263

Abstract

This research aims to describe the forms and functions of liberal feminism in the novel "Bulan Terbelah di Langit Amerika" by Hanum Salsabiela Rais. It employs a qualitative descriptive research design using the liberal feminist theory approach. The data is sourced from the 2015 edition of the novel "Bulan Terbelah di Langit Amerika" by Hanum Salsabiela Rais. Data collection is conducted through reading and note-taking techniques. Data analysis consists of three stages: data reduction, data presentation, and drawing conclusions. Data reduction is intended to sharpen, categorize, guide, and eliminate unnecessary data. Data presentation is carried out by grouping the data according to their respective sub-sections related to liberal feminism. The conclusion-drawing step is based on organizing information using inductive techniques. Based on the research findings, the forms and functions of liberal feminism are identified. The functions and forms of liberal feminism mutually support each other, particularly in the fields of politics, culture, economy, and society.  AbstrakPenelitian ini bertujuan mendeskripsikan bentuk dan fungsi feminisme liberal dalam novel Bulan Terbelah di Langit Amerika Karya Hanum Salsabiela Rais. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan teori feminisme liberal. Data bersumber   dari novel Bulan Terbelah di Langit Amerika Karya Hanum Salsabiela Rais cetakan tahun 2015. Pengumpulan data dilakukan dengan menggunakan teknik baca dan teknik catat. Analisis data dilakukan melalui tiga tahap, yaitu reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Reduksi data dimaksudkan untuk menajamkan, menggolongkan, mengarahkan, membuang data yang tidak diperlukan. Penyajian data dilakukan dengan mengelompokkan data sesaui dengan sub-babnya masing-masing yang berkaitan dengan feminisme liberal. Adapun langkah penarikan kesimpulan dilakukan berdasarkan pengorganisasian informasi dengan menggunakan teknik induktif. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bentuk dan fungsi feminisme liberal. Fungsi dan bentuk feminism liberal tersebut saling mendukung, yaitu bidang politik, budaya, ekonomi, dan sosial.
Tialo Language Affix for Verb Marker Ulinsa, Ulinsa; Marzuki, Abdul Gafur; Idris Patekkai; Fadila, Fadila; Deni Karsana; Tamrin, Tamrin
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i2.3194

Abstract

The problems in this study are the types, meanings, and forms of affixes marking the Tialo language verbs. This study aims to describe the types, meanings, and forms of the Tialo language, including prefixes, suffixes, infixes, and confixes. The method used is a qualitative method. This study used the observing and speaking methods, with tapping techniques, proficient involvement techniques, proficient free observing techniques, fishing techniques, all-encompassing techniques, and note-taking techniques. The data analysis technique used is the distributional and equivalent method using the smallest element breakdown technique. Based on the results of research that has been carried out, it was found that affixes are markers for Tialo language verbs which include: Prefixes {moN-}, {non-}, {meN-}, {neN}, {poN-}, {peN-}, {in-}, and {te-}. {in-} infix. Suffixes {i-} and {a'a}. Confixes {moN-a'a} {noN-a'a}, {meN-a'a}, {meN-omo}, {nen-omo}, {poN-omo} and {moN-i}. The meaning of the affix markers in the Tialo language is going to take action, is taking action, has taken action, ordered, has taken action for others, and has finished taking action for others. Meanwhile, the affixes for the Tialo language consist of prefixes {mo-}, {no-}, and {me-}. {in-} infix. Suffixes {-i} and {a'a}. The confixes {mo-i}, {mo-a'a}, and {no-a'a} in the affix form of the Tialo language verb markers have changed and some have not changed.
Character Analysis Ability of M. Night Shyamalan Split Translation Film Characters in Indonesian EFL Students Muthmainnah, Muthmainnah; Marzuki, Abdul Gafur; Santiana, Santiana; Erizar, Erizar; Ulinsa, Ulinsa; Purwaningsi, Utari; B, M. Asri
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i2.3196

Abstract

The background of this research is to identify or determine the ability to analyze the character analysis of the characters in the film translation Split by M. Night Shymalayan in Semester VI Students of Indonesian Language Education Faculty of Teacher Training and Education in the 2022/2023 academic year. The number of samples in this study is 27 people, class B consisted of 24 girls and 6 boys. Data collection was used, namely test sheets and observation sheets. Then, the data analysis used in this study was the Quantitative Description technique, because the data studied were in the form of technical figures for student learning outcomes by identifying or determining the characters in the Split translation film by M. Night Shymalayan by using a certain formula. The results showed that the students' ability to analyze the characters of M. Night Shymalayan's Split translation film character in sixth-semester students of Indonesian language education experienced differences in every aspect that was assessed. The results of data analysis show that the average score obtained or achieved by class B students in the sixth semester of Indonesian language education obtained an average score of 69.26% with a total percentage of 2.57% in the good category. This means that the split translation film media helps students to identify the character analysis skills of M. Night Shymalayan's split translation film characters.
Analysis of the Main Character's Resistance to Racism in Theodore Melfi's Hidden Figures Film Muthmainnah, Muthmainnah; Marzuki, Abdul Gafur; Erizar, Erizar; Ulinsa, Ulinsa; Harmisa, Harmisa; Azis, Sulihin; B, M. Asri
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 3 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i3.3197

Abstract

This study aims to describe the main character's resistance to racism in Theodore Melfi's film Hidden Figures. This research is a qualitative descriptive study, as a research procedure that can produce descriptive data that can be in the form of written or spoken words from people with observable behavior. Qualitative descriptive research aims to make a systematic, factual, and accurate description, description, or painting of facts and characteristics, as well as the relationship between things being investigated. The techniques in data analysis used in this study are 1) data reduction, 2) data presentation, and 3) verification. The results obtained describe the existence of racial discrimination and the attitudes of the main character of the film Hidden Figures' resistance to discrimination which is divided into 6 parts, namely: 1) Racial Justification, 2) Classification Based on Skin Color in Place Settings, 3) Racism in Facilities General Black/Skin, 4) Unpleasant Treatment and, 5) Promote Equality.
Pergeseran Honorifik Dalam Sistem Kekerabatan Masyarakat Mandar Ida Nuraeni; Ulinsa, Ulinsa; Muhammad Nasir; Juniati, Juniati
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i4.4336

Abstract

Tujuan penelitian ini untuk mengetahui apakah terdapat pergeseran honorifik pada sistem kekerabatan masyarakat Mandar. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah deskriptif komparatif yang bersifat diakronik. Teknik pengumpulan data pada penelitian ini adalah dokumentasi, wawancara, dan observasi. Informan penelitian ini adalah masyarakat Mandar yang memiliki garis keturunan bangsawan dan masyarakat biasa yang dianggap memiliki pengetahuan, pengalaman, dan kemampuan dalam bidang penelitian yang dimaksud Hasil dalam penelitian ini menunjukkan bahwa terdapat pergeseran honorifik pada sistem kekerabatan masyarakat Mandar yaitu terdiri dari (1) masa lalu kaitannya dengan sistem honorifik pada masyarakat tradisional. (2) masa sekarang yang kaitannya dengan sistem honorifik pada masyarakat modern. Kedua masa tersebut memiliki sistem honorifik yang sedikit berbeda. Perbedaan itu disebabkan adanya perubahan atau dengan kata lain pergeseran. Pada masyarakat tradisional khususnya di daerah Mandar telah dikenal istilah pemerian nama yang dilakukan pada saat bayi lahir seperti Acoq, Asoq, Caco, Kacoq , Icciq, Cicciq dan Issiq. Sementara pada masa modern, sistem kekerabatan masyarakat Mandar tidak lagi menggunakan sistem penamaan diri seperti Acoq, Icciq, Kacoq, dan Cicciq. Hal ini dapat dilihat pada keadaan kekinian dimana masyarakat sudah mulai meninggalkan sistem tersebut.
Analisis Pemahaman Membaca Kritis Mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako Irwansyah, Irwansyah; Ulinsa, Ulinsa; Sitti Harisah; Nur Halifah
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 10 No. 4 (2024)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v10i4.4400

Abstract

Studi ini bertujuan mendeskripsikan kemampuan pemahaman membaca kritis mahasiswa Pendidikan Bahasa dan Sastra Indonesia Fakultas Keguruan dan Ilmu Pendidikan Universitas Tadulako. Jenis studi ini adalah kualitiatif dengan pendekatan deskriptif. Metode pengumpulan data dalam studi ini mencakup observasi dan wawancara, dokumetasi, dan tes. Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa mahasiswa masih kurang mampu memahami aktivitas membaca kritis berdasarkan keterampilan membaca kritis model Facione melalui soal tes yang disajikan. Keterampilan membaca kritis model Facione terbagi atas enam keterampilan dengan setiap sub keterampilan memiliki indikator. Kemampuan mahasiswa dalam membaca kritis pada berita menunjukkan hasil yang cukup baik dengan memperoleh nilai rata-rata 68 dengan kualifikasi cukup baik, terdapat 3 mahasiswa memperoleh nilai dengan kualifikasi baik, 23 mahasiswa mendapatkan nilai dengan kualifikasi cukup baik, dan 4 mahasiswa mendapatkan nilai dengan kualifikasi kurang baik.
Tindak Tutur Ekspresif dalam Interaksi Remaja di Desa Sibado Cindy Afitasari; Ulinsa, Ulinsa; Arum Pujining Tyas; Yunidar, Yunidar; Asrianti, Asrianti
Jurnal Onoma: Pendidikan, Bahasa, dan Sastra Vol. 11 No. 4 (2025): Penulis dari 3 negara (Indonesia, Jerman dan Turki)
Publisher : Universitas Cokroaminoto Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30605/onoma.v11i4.7136

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan bentuk dan fungsi tindak tutur ekspresif  dalam interaksi remaja di Desa Sibado. Penelitian ini menggunakan kajian pragmatik menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan teknik pengumpulan data dilakukan berupa teknik simak bebas libat cakap, rekam, dan catat terhadap data lisan. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa tindak tutur ekspresif remaja di Desa Sibado meliputi lima bentuk dan fungsi utama: (1) mengucapkan terima kasih, (2) memberi selamat, (3) meminta maaf, (4) menyalahkan, dan (5) memuji. Bentuk terima kasih dicirikan dengan adanya ucapan terima kasih karena suatu bantuan, bentuk dengan adanya ucapan selamat karena suatu hal yang spesial atau membahagiakan, bentuk meminta maaf karena adanya rasa penyesalan atas kesalahan, bentuk menyalahkan karena adanya sebuah kejadian yang tidak dapat diterima atau membuat kesal, dan bentuk memuji karena adanya sesuatu yang menggagumkan atau penghargaan yang diterima.
THE FORMS AND MEANINGS OF ANTHROPOMORPHIC METAPHORS IN PAE LANGUAGE Bustan, Fransikus; Semiun, Thresia Trivict; Ulinsa, Ulinsa
Jurnal Edulanguage: Jurnal Pendidikan Bahasa Vol. 8 No. 1 (2022): Jurnal Edulanguage: Jurnal Pendidikan Bahasa
Publisher : English Study Program, Faculty of Teacher Training and Educational Sciences, Universitas Timor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32938/edulanguage.8.1.2022.11-19

Abstract

This study describes the forms and meanings of anthropomorphic metaphors in Pae dialect in view of cultural linguistics. This study is descriptive. The methods of data collection were observation, interview, and documentary study. The techniques of data collection were recording, elicitation, and note-taking. The sources of data were the native speakers of Pae language represented by two key informants. Data were analyszed qualitatively by using inductive method. The results of study show that the forms and meanings of anthropomorphic metaphor in Pae language have unique and specific characteristics, as can be seen in such terms as ulung wae, mata wae, kinga kue, wewa kue, nggolo kue, lime kerosi, tuka nepe, tedu nepe, wa’i woko, and tedu woko. The results of study might be beneficial to support the study of language as the mirror of culture shared by a people as members of an ethnic group with special reference to Pae language as the mirror of Pae culture serving both as the sense of identity and as the symbol of identity for Pae people as members of Pae ethnic group.
Lanskap Linguistik Lembaga Pemerintah dan Swasta di Kota Surakarta Sri Wahyuni; Enita Istriwati; Ulinsa Ulinsa; Asri M. Nur Hidayah
SAWERIGADING Vol 29, No 2 (2023): Sawerigading, Edisi Desember 2023
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v29i2.1047

Abstract

This research was motivated by the rise of writing in public spaces prioritizing something other than the state language. Surakarta City is an observation area because of its historical elements and rapid development. The purpose of this study is to describe the linguistic landscape and language misuse in public spaces of government and private institutions in Surakarta City. In this study, the researchers used observation and interview methods for collecting data. Researchers use descriptive methods to analyze the data. The results showed various language systems and language errors in the public space of Surakarta City. The language systems used are monolingual, bilingual, and multilingual. Monolinguals in Indonesian are widely used in government institutions, while private institutions commonly use them in English. The languages spoken are Indonesian, Javanese, English, and Arabic. Meanwhile, language errors are in the form of errors in writing letters, words, abbreviations, and punctuation. Local governments and every author writing in the inner public space can expect to find the results of this study useful. Therefore, the socialization of good language use must be more massive to increase public awareness of using language in public areas.  AbstrakPenelitian ini dilatarbelakangi dengan maraknya tulisan di ruang publik yang kurang mengutamakan bahasa negara. Kota Surakarta menjadi daerah pengamatan karena unsur sejarah dan perkembangan kotanya yang pesat. Tujuan penelitian ini ialah mendeskripsikan lanskap linguistik dan kesalahan penggunaan bahasa pada ruang publik lembaga pemerintah dan swasta di Kota Surakarta. Penelitian ini menggunakan metode observasi dan wawancara untuk pengumpulan data. Data kemudian dianalisis melalui metode deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada beragam sistem bahasa dan kesalahan berbahasa pada ruang publik Kota Surakarta. Sistem bahasa yang digunakan, yaitu monobahasa, dwibahasa, dan multibahasa. Monobahasa dalam bahasa Indonesia banyak digunakan pada lembaga pemerintah, sedangkan dalam bahasa Inggris banyak digunakan pada lembaga swasta. Bahasa yang digunakan, yaitu bahasa Indonesia, bahasa Jawa, bahasa Inggris, dan bahasa Arab. Adapun, kesalahan berbahasa berupa kesalahan penulisan huruf, kata, singkatan, dan tanda baca. Hasil penelitian ini diharapkan bermanfaat bagi pemerintah daerah dan setiap pembuat tulisan di ruang publik. Oleh karena itu, sosialisasi penggunaan bahasa yang baik harus lebih masif dilakukan supaya kesadaran masyarakat semakin tinggi dalam menggunakan bahasa di ruang publik.
REPRESENTASI NILAI DALAM RITUAL BALIA TAMPILANGI ETNIK KAILI: KAJIAN HERMENEUTIK (Representation of Value in Balia tampilangi Rituals of Kaili Ethnic: Hermeneutic Study) Gazali Gazali; Ulinsa Ulinsa; Yunidar Yunidar; Indra Indra
SAWERIGADING Vol 29, No 1 (2023): Sawerigading, Edisi Juni 2023
Publisher : Balai Bahasa Sulawesi Selatan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.26499/sawer.v29i1.1172

Abstract

The tradition of treating diseases of the Kaili tribe, commonly called balia, is a traditional treatment that is believed to cure diseases brought by spirits. This study is expected to reveal the values contained in the balia tampilangi custom through hermeneutic studies. Hermeneutics is one of the approaches used to analyze a text. Currently, hermeneutics is widely used in text studies in almost all scientific fields. In this study, the hermeneutic model of Richard E Palmer (2016) is used to interpret the representation of values contained in traditional Kaili medicine. This research focused on analyzing the values contained in the Balia tampilangi ritual. The purpose of this research is to describe the form of value, meaning of value and function in the Kaili ethnic balia tampilangi ritual. The method used in this research is descriptive method with qualitative research form. The research data sources consist of interviews with sando, recordings, literature studies, field recordings and documentation. Based on the results of the research, it was found that there are three values contained in the Kaili ethnic balia performangi ritual, namely: religious value, philosophical value and ethical value. The form of religious values consists of faith and social values. While the philosophical value consists of humans as creatures of God, sustaining life and praying to God. The ethical value is as a unifier of society, especially people who are afflicted with disease, instilling a sense of loyalty and submission to applicable rules, and maintaining norms in society so that they are always obeyed by the community. AbstrakTradisi mengobati penyakit suku Kaili yang biasa disebut balia ini merupakan pengobatan tradisional yang dipercaya dapat menyembuhkan sakit yang dibawa oleh mahluk halus. Kajian ini diharapkan dapat mengungkap nilai-nilai yang terkandung dalam adat balia tampilangi melalui kajian hermeneutika. Hermeneutika merupakan salah satu pendekatan yang digunakan untuk menganalisis suatu teks. Saat ini hermeneutika banyak digunakan dalam kajian teks hampir segala bidang keilmuan. Pada kajian ini digunakan hermeneutika model Richard E Palmer (2016) untuk menafsirkan representasi nilai-nilai yang terkandung dalam pengobatan tradisional suku Kaili. Penelitian ini difokuskan pada analisis nilai-nilai yang terkandung dalam ritual balia tampilangi. Tujuan penelitian ini adalah mendeskripsikan bentuk nilai, makna nilai, dan fungsi dalam ritual Balia tampilangi etnis Kaili. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode deskriptif dengan bentuk penelitian kualitatif. Sumber data penelitian terdiri atas wawancara dengan sando, hasil rekaman, studi literatur, hasil rekaman lapangan, dan dokumentasi. Berdasarkan hasil penelitian ditemukan bahwa terdapat tiga nilai-nilai yang terkandung dalam ritual balia tampilangi etnik Kaili, yaitu: nilai religi, nilai filosofis dan nilai etika. Bentuk nilai nilai religi terdiri atas nilai keimantauhidan dan nilai sosial, sedangkan nilai filosofis manusia sebagai mahkluk tuhan, melangsungkan hidup, dan berdoa kepada tuhan. Adapun nilai etika sebagai pemersatu masyarakat, terutama masyarakat yang ditimpa penyakit, menanamkan rasa setia dan tunduk kepada aturan yang berlaku, dan menajaga norma di masyarakat agar selalu dipatuhi oleh masyarakat.
Co-Authors Abdul Gafur Marzuki Abdul Kamaruddin Ade Nurul Izatti G. Yotolembah Agung Surya Laksana Agustan Agustan Aldri Frinaldi Ali Karim Ali Karim Andi Bismawati ARDIN, ANITA SAFITRI Arum Pujining Tyas Arum Pujining Tyas Arum Pujiningtias Asri M. Nur Hidayah Asrianti Asrianti, Asrianti Azis, Sulihin B, M. Asri Cindy Afitasari Dandi Golontalo Darmawati Darmawati Deni Karsana Deni Karsana Efendi Enita Istriwati Erizar Erizar Erizar Erizar Erizar Erizar, Erizar Ervina Ervina Fadila Fadila Fadila Fadila, Fadila Fara Klara Dita Ferawati Ferawati Fransikus Bustan Fransiskus Bustan Gazali Gazali Gazali Lembah Gladys Gisella Suade Gusti Ketut Alit Suputra Harmisa Harmisa Harmisa, Harmisa Hidayah, Asri M. Nur Himawan, Romi I Wayan Yudana Ida Nur'aeni Ida Nuraeni Idris Patekkai Idris Patekkai Idris Pattekai Indra Indra Iqlima Iqlima Irwansyah Irwansyah Irwansyah Irwansyah Istriwati, Enita Jamiluddin, Jamiluddin Julia Marfuah Juniati Juniati Lini Andriani M. Asri B M. Asri B M. Asri B Moh. Reza Mohammad Tahir Muhammad Chaidir Muhammad Chaidir Muhammad Nasir Muhammad Nasir Muslimin Muslimin Muthia Aryuni Muthmainnah Muthmainnah Muthmainnah Muthmainnah Mutmainah Mutmainah Nelis Pradesa Nina Wati Ninawati Syahrul Nizrawati, Nizrawati Noviana, Manda Eva Nur Fadilah Nur Halifah Nur Halifah Nur Ratmi Nuraedah Nursyamsi Nursyamsi Oringo, Vincent PERTIWI, GITA Purwaningsi, Utari Rinaldi Rinaldi Sahrudin Barasandji Salsabila, Unik Hanifah Samad, Muhammad Ahsan Santiana Santiana Santiana Santiana Sitti Harisah Sri Wahyuni Sri Wahyuni Sulihin Azis Suputra, Gusti Ketut Alit Susanti, Ariska Susi Sri Handayani Syamsuddin Syamsuddin Syamsuddin Syamsuddin Syamsuddin Tamrin Tamrin Tamrin Tamrin Taqyuddin Bakri Thresia Trivict Semiun Tungga, Jefri Utari Purwaningsi Wahyudi Rahmat Widya nasfa Yunidar