Claim Missing Document
Check
Articles

Pemikiran Ibn Jinni Tentang Linguistik  Arab Dan Relevansinya Bagi Kajian Linguistik Muhammad Hafiz Zohri; Hilalludin Hilalludin
Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol. 1 No. 02 (2025): Qawaid: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini berangkat dari kegelisahan akademik bahwa pemikiran Ibn Jinni, salah satu tokoh sentral linguistik Arab klasik, sering kali hanya diposisikan sebagai warisan historis, bukan sebagai kerangka teoretis yang dapat berdialog dengan linguistik modern. Melalui karya monumentalnya al-Khaṣā’iṣ dan al-Luma‘, Ibn Jinni merumuskan konsep fonologi, morfologi, dan semantik yang sistematis. Penelitian ini bertujuan menganalisis relevansi pemikiran Ibn Jinni dengan teori linguistik kontemporer, seperti derivasi morfologi dan Optimality Theory. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif deskriptif-analitis dengan desain studi kepustakaan komparatif, di mana data primer dari karya Ibn Jinni dibandingkan dengan teori modern serta diperkuat oleh literatur sekunder. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ibn Jinni memiliki pemahaman mendalam tentang struktur bunyi yang selaras dengan kerangka fonologi modern, konsep isytiqāq yang berhubungan erat dengan teori derivasi morfologi, serta analisis lafazh-makna yang sejalan dengan perspektif strukturalis dalam semantik. Temuan ini menegaskan bahwa pemikiran Ibn Jinni tidak hanya bernilai historis, melainkan juga memiliki potensi epistemologis untuk memperkaya paradigma linguistik kontemporer, khususnya dalam pengajaran bahasa Arab berbasis analisis teoretis. Dengan demikian, integrasi tradisi klasik dan linguistik modern melalui kajian Ibn Jinni memberikan kontribusi konseptual yang signifikan bagi perkembangan linguistik Arab modern sekaligus membuka ruang metodologis baru dalam studi kebahasaan.
Strategi Penerjemahan Istilah Keagamaan Arab ke dalam Bahasa Indonesia: Sebuah Telaah Kritis Zidan Khalik Al Jaber; Hilalludin Hilalludin; Dedi Sugari
Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol. 1 No. 02 (2025): Qawaid: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penerjemahan istilah keagamaan Arab ke dalam bahasa Indonesia merupakan fenomena penting dalam kajian bahasa, karena teks-teks keagamaan seperti Al-Qur’an, hadis, dan kitab klasik memiliki makna yang kompleks serta berfungsi sebagai sumber utama pemahaman keislaman masyarakat Indonesia. Tantangan utama dalam penerjemahan ini terletak pada istilah-istilah kunci seperti takwa, jihad, dan shalat yang tidak memiliki padanan sempurna dalam bahasa Indonesia, sehingga penerjemah harus menentukan strategi yang tepat antara mempertahankan bentuk asli (foreignisasi) atau menyesuaikannya dengan budaya pembaca (domestikasi). Penelitian ini menggunakan metode penelitian kepustakaan (library research) dengan menelaah berbagai karya terjemahan dan sumber akademis yang relevan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penerjemah menerapkan strategi literal, adaptasi, domestikasi, maupun foreignisasi, dengan variasi pemilihan tergantung pada konteks teks serta tujuan penerjemah. Misalnya, takwa kadang dipertahankan untuk menjaga keaslian makna teologis, tetapi juga diterjemahkan menjadi “ketaatan” atau “kesalehan” agar lebih komunikatif. Istilah jihad sering menimbulkan dilema karena konotasi politik dan historisnya, sementara shalat lebih banyak dipertahankan dalam bentuk aslinya karena sifatnya yang sangat spesifik. Temuan ini menegaskan bahwa strategi penerjemahan bukanlah proses teknis semata, melainkan juga praktik interpretatif yang sarat nilai ideologis, kultural, dan teologis. Simpulan penelitian ini menekankan perlunya keseimbangan antara menjaga keaslian makna Arab dan memudahkan pemahaman bagi pembaca Indonesia, sehingga penerjemahan istilah keagamaan dapat berfungsi sebagai sarana komunikasi sekaligus pelestarian identitas religius.
Kontribusi Sastra Arab Modern Terhadap Pembentukan Identitas Budaya Di Dunia Arab Kontemporer Muhammad Jailani; Hilalludin Hilalludin
Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab Vol. 1 No. 02 (2025): Qawaid: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab
Publisher : Qawa’id: Jurnal Bahasa dan Sastra Arab

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kontribusi sastra Arab modern terhadap pembentukan identitas budaya di dunia Arab kontemporer. Isu utama yang diteliti adalah bagaimana karya sastra tidak hanya merefleksikan kondisi sosial, politik, dan keagamaan, tetapi juga berfungsi sebagai agen aktif dalam menegosiasikan identitas Arab di tengah globalisasi, diaspora, dan fragmentasi budaya. Hal ini penting karena sebagian besar kajian sebelumnya masih bersifat terfragmentasi, terbatas pada satu pengarang atau satu negara, sehingga belum memberikan gambaran komprehensif mengenai dinamika lintas budaya Arab. Pendekatan yang digunakan adalah penelitian kualitatif dengan metode kepustakaan (library research). Data primer berupa karya sastra Arab modern, seperti novel, puisi, dan drama, sedangkan data sekunder berupa artikel ilmiah, buku, dan jurnal mutakhir. Teknik analisis dilakukan dengan metode analisis isi (content analysis) yang dipadukan dengan pendekatan hermeneutika untuk menafsirkan tema-tema utama dalam teks, antara lain bahasa, diaspora, gender, memori, dan modernitas. Sastra Arab modern tidak hanya menjadi refleksi realitas sosial-politik, tetapi juga arena strategis dalam membentuk identitas budaya Arab yang cair, hibrid, dan plural. Bahasa berfungsi sebagai simbol ideologis, diaspora melahirkan identitas hibrida dan postsekuler, gender direpresentasikan lebih inklusif, sementara nostalgia diposisikan sebagai strategi politik dan kultural. Kesimpulannya, sastra Arab modern berperan penting dalam menjaga keunikan budaya Arab sekaligus membangun jembatan antarperadaban. Implikasi ini menegaskan bahwa sastra Arab modern harus dipandang sebagai instrumen strategis dalam pendidikan, kebijakan kebudayaan, dan diplomasi lintas budaya. Dengan demikian, penelitian ini membuka ruang baru untuk memperkuat kurikulum sastra, mendukung penerjemahan lintas bahasa, serta mengembangkan kajian interdisipliner mengenai hubungan sastra dan identitas budaya di era globalisasi.
Sistem dan Metode Pengasuhan Pesantren dalam Pendidikan Islam Hilalludin
Salam Institute Islamic Studies Vol. 2 No. 02 (2025): Salam Institue Islamic Studies (SIIS)
Publisher : Elsalima (Salam Institute)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67716/g5ck4e61

Abstract

Pondok pesantren merupakan lembaga pendidikan tradisional yang memiliki peran penting dalam membentuk karakter santri melalui pendidikan agama Islam yang mendalam. Sistem pengasuhan di pondok pesantren mencakup tiga pola utama: otoriter, permisif, dan demokratis. Pengasuhan otoriter menekankan disiplin ketat dan otoritas penuh dari pengasuh, sementara pola permisif memberikan kebebasan lebih kepada santri, dan pola demokratis menciptakan keseimbangan antara otoritas dan kebebasan. Penelitian ini menggunakan metode kepustakaan untuk mengumpulkan data dari berbagai sumber literatur yang relevan. Konsep pengasuhan pondok pesantren melibatkan pelatihan, pembiasaan, dan penyadaran untuk membentuk kepribadian santri yang religius dan berakhlak mulia. Prinsip-prinsip pengasuhan di pondok pesantren meliputi teladan, kasih sayang, kedisiplinan, pembinaan mental dan spiritual, pengembangan potensi, kemandirian, kebersamaan, ketaatan kepada orang tua dan guru, pengabdian kepada masyarakat, dan cinta tanah air. Model pengasuhan di pondok pesantren bervariasi dari otoriter, demokratis, hingga permisif, masing-masing dengan karakteristik dan dampaknya terhadap perkembangan santri. Faktor pendukung pengasuhan di pondok pesantren meliputi minat dan kepercayaan orang tua, aturan yang ketat, kurikulum berkarakter, dan semangat pengasuh dalam mendidik. Sebaliknya, faktor penghambat termasuk paksaan orang tua dan campur tangan terhadap aturan pesantren. Upaya mengatasi hambatan ini melibatkan pemahaman orang tua, sosialisasi aturan, peningkatan SDM pengasuh, dan kerjasama antar pengasuh. Prinsip pengasuhan Islami menekankan nilai-nilai keagamaan, sedangkan prinsip pengasuhan nasional berfokus pada pengkondisian lingkungan yang aman, nyaman, dan melibatkan anak.
STRATEGI AHMAD DAHLAN DALAM MEMBANGUN KEMANDIRIAN MASYARAKAT Hilalludin
Salam Institute Islamic Studies Vol. 1 No. 2 (2024): Salam Institue Islamic Studies (SIIS)
Publisher : Elsalima (Salam Institute)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.67716/xe1k6y16

Abstract

Jurnal ini membahas peran dan strategi K.H. Ahmad Dahlan dalam gerakan pembaruan Islam dan membangun kemandirian masyarakat di Indonesia melalui organisasi Muhammadiyah yang didirikannya. Setelah menimba ilmu di Mekkah, Ahmad Dahlan bertekad memurnikan ajaran Islam di Indonesia yang saat itu banyak tercemar praktik mistik. Pendekatan yang digunakan melibatkan pendidikan modern dan penelaahan ulang sistem madzhab dan taqlid. Penelitian ini menggunakan metode studi pustaka dengan mengkaji berbagai literatur terkait. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Ahmad Dahlan, melalui Muhammadiyah, memajukan pendidikan dengan mendirikan sekolah-sekolah yang menggabungkan pelajaran agama dan umum. Beliau juga memajukan ekonomi masyarakat melalui pembentukan koperasi dan menanamkan kesadaran kebangsaan yang kuat untuk melawan penjajahan. Ahmad Dahlan menekankan pentingnya moralitas dan kehidupan beragama yang benar sebagai dasar membangun kemandirian bangsa. Kesimpulannya, strategi-strategi yang diterapkan K.H. Ahmad Dahlan telah memberikan kontribusi besar dalam membangun kemandirian dan kemajuan bangsa Indonesia.