Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan komunikasi terapeutik dengan tingkat kecemasan pasien Husada, Imam Farid Farian; Andoko, Andoko; Elliya, Rahma
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 1 No. 1 (2022): April Edition 2022
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v1i1.119

Abstract

Pendahuluan :Kecemasan dapat menimbulkan beberapa gangguan psikologis antara lain bibir terasa kering, merasa kesulitan bernafas, merasa dalam suasana yang tidak nyaman, berkeringat meskipun cuaca tidak panas, jantung bedebar-debar, merasa sulit menelan, gemetar dan ketakutan. Apabila gangguan yang terjadi tidak diatasi dapat berpengaruh dalam memberikan asuhan keperawatan yang tepat dari perawat kepada pasien, Berdasarkan hasil prasurvey di RSUD Ahmad Yani Kota Metro Pada Bulan Maret 2019, dari 10 pasien pre operasi, 7 pasien mengatakan jantungnya berdebar-debar, merasa pusing, mengalami keringat dingin, dan tremor, sedangkan 3 pasien tidak mengalami gejala tersebut, hal ini menunjukan bahwa tingkat kecemasan pada pasien pre operasi masih relative tinggi. Tujuan : dalam penelitian ini adalah diketahui hubungan komunikasi terapeutik perawat dengan tingkat kecemasan pada pasien pre operasi di RSUD Ahmad Yani Kota Metro Tahun 2019. Metode :Jenis penelitian kuantitatif. Rancangan penelitian ini menggunakan analitik, dengan pendekatan cross sectional.Populasi dalam penelitian ini adalah pasien pre operasi RSUD Ahmad Yani Kota Metro Tahun 2019 dengan rata-rata 34 pasien perbulan, Sampel sejumlah 34 responden. Teknik sampling yang digunakan Accidental Sampling.Analisa data menggunakan analisa univariat dan analisa bivariat. Hasil :Diketahui bahwa di RSUD Ahmad Yani Kota Metro Tahun 2019, sebagian perawat mempuyai komunikasi terapeutik tidak baik berjumlah 19 responden (55,9%), dansebagian besar pasien pre operasi mengalami kecemasan yang berjumlah 23 responden (67,6%).Berdasarkan hasil uji statistik, didapatkan p-value 0,007 atau p-value < nilai α (0,05) yang artinya terdapat hubungan antara komunikasi terapeutik terhadap kecemasan pasien pre operasi Di RSUD Ahmad Yani Kota Metro Tahun 2019 dengan nilai OR : 2,168.Diharapkan kepada pihak RSUD Ahmad Yani Kota Metro untuk dapat meningkatkan dalam memberikan pelatihan kepada seluruh tenaga keperawatan tentang komunikasi teraputik yang baik dan benar.
Konseling teman sebaya untuk meningkatkan penerimaan diri pada anak broken home Mu'alifah, Ismi; Pribadi, Teguh; Elliya, Rahma
JOURNAL OF Mental Health Concerns Vol. 2 No. 1 (2023): April Edition 2023
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerjasama dengan Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/mhc.v2i1.365

Abstract

Background: Self-acceptance can be interpreted as one of the efforts to accept a person's complete acceptance of himself with the advantages or disadvantages of himself to be able to achieve happiness. Counseling is a personal relationship that is carried out face to face between two people. Where counselors must have special abilities to lead learning situations and shape individuals to be able to understand themselves. Purpose: Carry out peer counseling to increase self-acceptance of broken home children in Sumur Kucing Village, East Lampung in 2023. Method: In writing case studies focusing on peer counseling nursing care to increase self-acceptance in broken home children. Results: The last day of counseling for 3 respondents, before peer counseling was carried out: An. V said he needed time to adapt to the circumstances he was experiencing. An. Z says himself but has a hard time believing his parents' divorce. An. R said he cared about himself but found it hard to believe his parents' divorce. after peer counseling: An. V said that after counseling he felt happy and was able to adjust to the circumstances he was experiencing. An. Z said that he had accepted, had confidence in his ability to face his life, there was an openness when communicating and accepting this situation. An. R seemed to care about himself increasing. Conclusion: In the process of implementing peer guidance there are several empowerment activities in the form of mental strengthening, providing emotional support, with the aim of increasing self-empowerment and improving psychological conditions in a more positive direction after peer counseling is known that peer counseling can increase self-acceptance in broken home children.   Keywords: Broken Home; Self Accepting; Peer Counseling   Pendahuluan: Penerimaan diri sendiri dapat diartikan sebagai salah satu upaya penerimaan seseorang secara utuh terhadap dirinya dengan adanya kelebihan ataupun kekurangan pada dirinya sendiri untuk dapat mencapai kebahagiaan. Konseling adalah hubungan pribadi yang dilakukan dengan cara tatap muka antara dua orang. Dimana konselor harus memiliki kemampuan-kemampuan khusus untuk menggiring situasi belajar dan membentuk individu agar dapat memahami diri sendiri. Tujuan: Melaksanakan Konseling teman sebaya untuk meningkatkan penerimaan diri pada anak broken home di Desa Sumur Kucing Lampung Timur tahun 2023. Metode: Pada penulisan studi kasus berfokus pada asuhan keperawatan konseling teman sebaya untuk meningkatkan penerimaan diri pada anak broken home. Hasil: Hari terakhir dilakukannya konseling pada 3 responden, sebelum dilakukan konseling teman sebaya: An. V mengatakan dirinya  membutuhkan waktu untuk beradaptasi dengan keadaan yang dialami. An. Z mengatakan dirinya sendiri namun sulit percaya akan  perceraian orang tuannya. An. R mengatakan perduli akan  dirinya sendiri namun sulit percaya akan perceraian orang tuannya. setelah dilakukan konseling sebaya: An. V mengatakan setelah dilakukan konseling merasa senang dan dapat menyesuaikan keadaan yang dia alami. An. Z mengatakan sudah menerima, mempunyai keyakinan akan kemampuannya untuk menghadapi kehidupannya, tampak adanya keterbukaan saat berkomunikasi dan menerimaan keadaan tersebut. An. R tampak rasa peduli pada dirinya sendiri meningkat. Simpulan: Dalam proses pelaksanaan bimbingan teman sebaya terdapat beberapa kegiatan pemberdayaan berupa penguatan mental, memberikan dukungan secara emosional, dengan tujuan untuk meningkatkan pemberdayaan diri dan meningkatkan kondisi psikologis ke arah yang lebih positif setelah dilkaukannya konseling teman sebaya diketahui bahwa konseling teman sebaya dapat meningkatkan penerimaan diri pada anak broken home.
Hubungan Tingkat Stres dengan Munculnya Perilaku Bullying pada Siswa SMP Negeri 13 Bandar Lampung dan SMP Negeri 26 Bandar Lampung Safitri, Hilda Meilinda; Rilyani, Rilyani; Elliya, Rahma
MAHESA : Malahayati Health Student Journal Vol 6, No 4 (2026): Volume 6 Nomor 4 (2026)
Publisher : Universitas Malahayati

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mahesa.v6i4.17455

Abstract

ABSTRACT The city of Bandar Lampung is the city/district that ranks second with the most cases of violence occurring among junior high school students with 122 children, followed by elementary school students with 64 children and high school students with 60 children. Victims of violence including children were 79.2% of cases, while for adults it was 20.8%. Stress is thought to be a trigger for violence or bullying. So it is necessary to research the relationship between stress levels and the emergence of bullying behavior. To determine the relationship between stress levels and the emergence of bullying behavior in students at SMP Negeri 13 Bandar Lampung and SMP Negeri 26 Bandar Lampung in 2024. This type of research is quantitative with an analytical survey design using a cross-sectional approach. The number of samples was 244 respondents taken from 2 SMP Negeri 13 Bandar Lampung and SMP Negeri 26 Bandar Lampung with a purposive sampling technique. Data analysis was carried out univariately (frequency distribution) and bivariately using the chi square test. The results of the stress levels that occurred at SMP Negeri 13 Bandar Lampung were mild stress levels of 44 (78.6%), and low bullying behavior of 44 (56.4%). Meanwhile, at SMP Negeri 26 Bandar Lampung, moderate stress levels were 22 (41.5%) and mild bullying behavior was 38 (88.4%). Chi square analysis test of the relationship between stress levels and the emergence of bullying behavior in students at SMP Negeri 13 and SMP Negeri 26 Bandar Lampung p-value 0.000 (0.05). There is a relationship between stress levels and the emergence of bullying behavior in SMP Negeri 13 Bandar Lampung and SMP Negeri 26 Bandar Lampung. Keywords: Bullying Behavior, Stress Level, Students.  ABSTRAK Kota Bandar Lampung adalah kota/kabupaten yang menempati urutan kedua dengan kasus kekerasan terbanyak terjadi pada siswa SMP sebesar 122 anak disusul oleh siswa SD sebesar 64 anak dan SMA sebesar 60 anak. Korban kekerasan yang mencakup usia anak-anak sebesar 79,2% kasus sedangkan untuk orang dewasa sebesar 20,8%. Stres diperkirakan menjadi pemicu terjadinya pelaku kekerasan atau bullying. Sehingga perlu diteliti terkait hubungan Tingkat stres dengan munculnya perilaku bullying. Diketahui hubungan tingkat stres dengan munculnya perilaku bullying pada siswa di SMP Negeri 13 Bandar Lampung dan SMP Negeri 26 Bandar Lampung tahun 2024. Jenis penelitian ini kuantitatif dengan desain survei analitik pendekatan cross sectional. Jumlah sampel 244 responden yang diambil dari 2 SMP Negeri 13 Bandar Lampung dan SMP Negeri 26 Bandar Lampung dengan teknik purposive sampling. Analisa data secara univariat (distribusi frekuensi) dan bivariat menggunakan uji chi square. Didapatkan hasil tingkat stres yang terjadi di SMP Negeri 13 Bandar Lampung yaitu tingkat stres ringan sebanyak 44 (78,6%), dan perilaku bullyingrendah sebanyak 44 (56,4%). Sedangkan, di SMP Negeri 26 Bandar Lampung tingkat stres sedang sebanyak 22 (41,5%) dan perilaku bullying ringan sebanyak 38 (88,4%). Uji analisis chi square hubungan tingkat stres dengan munculnya perilaku bullying pada siswa di SMP Negeri 13 dan SMP Negeri 26 Bandar Lampung p-value 0,000 ( 0,05). Terdapat hubungan tingkat stres dengan munculnya perilaku bullying Di SMP Negeri 13 Bandar Lampung dan SMP Negeri 26 Bandar Lampung. Kata Kunci: Perilaku Bullying, Tingkat Stress, Siswa.
Hubungan Perilaku Bullying dengan Kecemasan pada Siswa SMP Negeri 26 Bandar Lampung Anggun Istawala; Eka Trismiyana; Prima Dian Furqoni; Rahma Elliya
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i2.17027

Abstract

ABSTRACT Bullying refers to behaviors in which individuals use violence to harm, insult, coerce, mentally embarrass, or exert control over others, leading to the victim being subjected to intimidating actions. According to data from the Women's Empowerment and Child Protection Service (PPPA) of Bandar Lampung City, the incidence of violence among junior high school students is ranked second, with a proportion of 36.2% or 122 children. At SMP Negeri 26 Bandar Lampung, there was a reported maximum of 11 instances of bullying behavior, with 7 of these cases associated with severe anxiety. Anxiety is an emotional state characterized by discomfort arising from uncertainty and feelings of helplessness due to unclear situations. This study aims to examine the relationship between bullying behavior and anxiety among students at SMP Negeri 26 Bandar Lampung. This research employs a quantitative approach with an analytical survey design and a cross-sectional method. The sample comprised 140 respondents, selected using stratified random sampling.The majority of participants were adolescents aged 13 years. Statistical analysis yielded a p-value of 0.000 (0.05), indicating a significant relationship between bullying behavior and anxiety. Sugesstion It is recommended that students become more actively involved in extracurricular activities at school. Engagement in positive activities is anticipated to mitigate the prevalence of bullying and reduce anxiety levels. Keywords : Bullying, Anxiety, Students  ABSTRAK Bullying merupakan suatu tindakan dimana seseorang menggunakan kekerasan untuk menyakiti, menghina, menekan mempermalukan mental, dan mengontrol orang lain, sehingga korbannya menerima perlakuan dalam bentuk perilaku intimidasi. Data Dinas Pemberdayaan Perempuan dan Perlindungan Anak (PPPA) Kota Bandar Lampung menempati urutan ke-2 dengan kasus kekerasan terbanyak. pada siswa Sekolah Menengah Pertama dengan proporsi 36,2 % atau 122 anak dan di SMP Negeri 26 Bandar Lampung menunjukkan hasil perilaku bullying terbanyak 11 orang dengan kecemasan berat 7 orang.Kecemasan merupakan suatu keadaan emosi yang timbul akibat ketidaknyamanan yang dirasakan seseorang. pengalaman ketidakpastian yang disertai perasaan tidak berdaya disebabkan oleh sesuatu yang belum jelas.Diketahui hubungan Perilaku Bullying dengan kecemasan pada siswa di SMP Negeri 26 Bandar Lampung.Jenis penelitian kuantitatif Desain Survey analitik dengan pendekatan cross sectional. Sampel berjumlah 140 responden,Teknik sampel menggunakan Stratified random sampling Penelitian ini mayoritas perempuan usia madya (13 tahun)  dan hasil analisis p-value 0,000 (0,05) yang berarti ada hubungan yang signifikan antara Bullying dengan Kecemasan. Saran kepada Siswa lebih aktif dalam mengikuti kegiatan ekstrakurikuler disekolah diharapkan jika siswa mengikuti kegiatan ekstrakulikuler, maka dengan adanya kegiatan yang positif diharapkan akan mengurangi tingkat kejadian perundungan disekolah. Kata Kunci : Bullying, Kecemasan, Siswa
Hubungan Perilaku Bullying terhadap Kemampuan Interaksi Sosial dan Kepercayaan Diri pada Siswa/Siswi di SMP Negeri 26 Bandar Lampung Siti Herlina Mariyam; Rahma Elliya; Triyoso Triyoso
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 2 (2025): Volume 7 Nomor 2 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i2.16749

Abstract

ABSTRACT Juvenile delinquency is a form of naughty or deviant behavior that commonly occurs in teenagers. Bullying is a form of naughty behavior that often occurs among children and teenagers, where someone uses power repeatedly against individual and they consider weak or helpless, both physically and verbally. The impact of bullying not only affects the physical body but also mental and psychological health. To determine the relationship between bullying behavior and social interaction skills and self-confidence. This research is quantitative using a cross sectional approach. The sampling technique used in this research is the Probability Sampling Technique with the application of the stratified random sampling model. The population in this study was grade 8, the sample in this study was 133 respondents, data collection in this study was through a questionnaire, namely a questionnaire on bullying behavior, social interaction and self-confidence. The data analysis used in this research is univariate and bivariate analysis. The results of bullying behavior that occurred among students at SMP Negeri 26 Bandar Lampung were obtained, namely at a moderate level of bullying with a total of 81 (60.9%), social interaction abilities at a medium level of 61 (45.9%), and Self-Confidence at a low level of 73 (54.9%). The Chi-Square Test results obtained a p value of 0.000 (0.05). There is a relationship between bullying behavior and social interaction abilities with a p value of 0.000 (0.05) and between bullying behavior and self-confidence with a p value of 0.000 (0.05) for students at SMP Negeri 26 Bandar Lampung. Keywords: Teenagers, Bullying, Social Interaction, Self-Confidence.  ABSTRAK Kenakalan remaja merupakan salah satu bentuk perilaku nakal atau penyimpangan yang umum terjadi pada remaja. Bullying adalah bentuk perilaku nakal yang sering terjadi di kalangan anak-anak dan remaja, di mana seseorang menggunakan kekuasaan secara berulang-ulang terhadap individu yang dianggapnya lemah atau tidak berdaya, baik secara fisik maupun verbal. Dampak dari bullying tidak hanya berdampak pada tubuh fisik tetapi juga kesehatan mental dan psikologis. Untuk mengetahui hubungan perilaku bullying terhadap kemampuan interaksi sosial dan kepercayaan diri. Penelitian ini adalah kuantitatif dengan menggunakan pendekatan cross sectional. Teknik pengambilan sampel yang digunakan dalam penelitian ini adalah Teknik Probability Sampling dengan penerapan model stratified random sampling. Populasi dalam penelitian ini adalah kelas 8, sampel dalam penelitian ini sebanyak 133 responden, pengumpulan data dalam penelitian ini melalui kuisioner perilaku bullying, interaksi sosial dan kepercayaan diri. Analisa data yang digunakan dalam peneltian ini adalah Analisa univariat dan Bivariat. Berdasarkan data Frekuensi didapatkan hasil perilaku bulliying yang terjadi pada Siswa/Siswi di SMP Negeri 26 Bandar Lampung, yaitu pada tingkat bully sedang dengan total sebanyak 81 (60,9%), kemampuan interaksi sosial pada tingkat sedang 61 (45,9%), dan Kepercayaan Diri pada tingkat rendah sebanyak 73 (54.9%). Hasil Uji Chi-Square didapatkan nilai p value 0,000 (0,05), yang artinya terdapat hubungan antara perilaku bulliying dengan kemampuan interaksi sosial dan kepercayaan diri. Terdapat hubungan antara perilaku bullying dengan kemampuan interaksi sosial dengan nilai p value 0.000 (0.05) dan terdapat hubungan antara perilaku bullying dengan kepercayaan diri dengan nilai p value 0.000 (0.05) Pada Siswa/Siswi Di SMP Negeri 26 Bandar Lampung. Kata Kunci: Kenakalan Remaja, Bullying, Interaksi Sosial, Kepercayaan Diri.
Hubungan Perilaku Bullying terhadap Resiliensi Remaja di SMP Negeri 13 Kota Bandar Lampung Neisa Adhani; Rahma Elliya; Triyoso Triyoso
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 8 (2025): Volume 7 Nomor 8 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i8.20898

Abstract

ABSTRACT Bullying among adolescents is a serious issue that can impact their psychological development. Data from the World Health Organization (WHO) indicates that around 30% of adolescents worldwide experience bullying, though not all exhibit low resilience. Furthermore, a pre-survey conducted through interviews and questionnaires at SMP N 13 revealed that 12 students were victims of bullying behavior. This study aims to investigate the relationship between high levels of bullying and high resilience among adolescents. To determine the relationship between bullying behavior and resilience among adolescents. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The population consisted of all seventh-grade students at SMP N 13 Bandar Lampung, totaling 296 students, with a sample size of 170 respondents. Sampling was done using a random sampling technique, and data analysis was conducted using the chi-square statistical test. Based on the frequency distribution of bullying, 60.6% of respondents experienced very high levels of bullying, while 39.4% experienced very low levels of bullying. Regarding resilience, 45.9% of respondents had very high resilience, while 54.1% had very low resilience. The study found a p-value of 0.001 with an Odds Ratio of 2.981. This study reveals a significant relationship between bullying behavior and adolescent resilience (p-value 0.001, OR 2.981) at SMP N 13 Bandar Lampung in 2024. Therefore, it is recommended that schools enhance awareness and education by increasing awareness of the negative impacts of bullying through educational programs and anti-bullying campaigns. This can include workshops, seminars, and other activities involving students, teachers, and parents. Additionally, schools should develop effective prevention and intervention programs to address bullying cases. These programs should include training for school staff on how to recognize signs of bullying and how to handle it effectively. Keywords: Bullying, Resilience, Adolescents  ABSTRAK Bullying di kalangan remaja adalah masalah serius yang dapat mempengaruhi perkembangan psikologis mereka. Data dari World Health Organization (WHO) menunjukkan bahwa sekitar 30% remaja di seluruh dunia mengalami bullying, namun tidak semua dari mereka menunjukkan resiliensi yang rendah. Selain itu, didapat juga data pre survey melalui wawancara dan penyebaran kuesioner di SMP N 13 yang menunjukan bahwa terdapat 12 siswa/siswi korban perilaku bullying.Penelitian ini bertujuan untuk meneliti hubungan antara tingkat bullying yang tinggi dan resiliensi yang tinggi pada remaja. Diketahui hubungan perilaku bullying terhadap resiliensi remaja. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain crosssectional. Populasi dalam penelitian ini adalah seluruh siswa/siswi kelas VII SMP N 13 Kota Bandar Lampung sebanyak 296 orang dengan jumlah sampel 170 responden. Pengambilan sampel menggunakan teknik random sampling serta analisis data menggunakan uji statistik chi-square. Berdasarkan distribusi frekuensi bullying 60,6% responden mengalami perilaku bullying sangat tinggi dan 39,4% mengalami perilaku bullying sangat rendah. Berdasarkan distribusi frekuensi resiliensi 45,9% responden memiliki resiliensi sangat tinggi sedangkan 54,1% memiliki resiliensi sangat rendah. Didapatkan p-value 0,001 dengan Odd Ratio 2,981. Penelitian ini mengungkapkan adanya hubungan signifikan antara perilaku bullying dengan resiliensi remaja dengan (p-value 0,001 .OR 2,981) di SMP N 13 Kota Bandar Lampung Tahun 2024. Maka dari itu disarankan bagi sekolah untuk meningkatkan Kesadaran dan Edukasi, Sekolah perlu meningkatkan kesadaran tentang dampak negatif bullying melalui program edukasi dan kampanye anti-bullying. Ini bisa mencakup workshop, seminar, dan kegiatan lain yang melibatkan siswa, guru, dan orang tua. Serta mengembangkan Program Pencegahan dan Intervensi, yang efektif untuk menangani kasus bullying. Program ini harus mencakup pelatihan bagi staf sekolah tentang cara mengenali tanda-tanda bullying dan bagaimana menanganinya secara efektif. Kata Kunci: Bullying, Resiliensi, Remaja
Penggunaan Teknik 5 Jari Untuk Mengatasi Kecemasan Di SMA Al-Azhar Rahma Elliya; Muhammad Rafli; Ilham Agung Sakti; Anggun Istawala; Endah Fajrianti; Mahda Rizka F.R; Niluh Sumo
Compromise Journal Community Proffesional Service Journal Vol. 2 No. 4 (2024): Compromise Journal : Community Proffesional Service Journal
Publisher : LPPM STIKES KESETIAKAWANAN SOSIAL INDONESIA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57213/compromisejournal.v2i4.485

Abstract

Anxiety is related to fear and manifests as a mood state. Anxiety can be caused by several factors such as biological factors and psychosocial factors. anxiety can affect mood, cognitive, motor activity. Adolescence is a transition period from childhood to adulthood. In this phase, adolescents experience several major changes such as growth in body size, physical abilities, and physiological changes. Emotional turmoil, which occurs rapidly in early adolescence is known as a period of storm and stress. One therapy to reduce anxiety is 5 finger therapy. in this study, counseling was conducted on the use of the 5 finger technique to overcome anxiety at AL-AZHAR High School. this therapy method is carried out for ± 10 minutes with concentration and relaxation. this method causes a relaxation effect so that it reduces tension, stress and anxiety.
Co-Authors Adelta, Yosi Ainur Rahma Andi Rahmadi Andoko Andoko Andoko Andoko, Andoko Anggun Istawala Anjani, Ni Wayan Oktavia Aprina Aprina Aryanti Aryanti Aryanti Wardiah Aryanti Wardiyah Aryanti Wardiyah, Aryanti Ayu Martiana Budiarti Chelda Ernita Chrisanto, Eka Yudha Cindy Desmonika Desi Risnarita Desmonika, Cindy Dewi Kusumaningsih Diah Wahyuni Dila, Ratu Ratna Djunizar Djamaludin Eka Novita Sari Eka Novita Sari, Eka Novita Eka Trismiana Eka Trismiyana Endah Fajrianti Erlianti, Febi Ernita, Chelda Erpiyana, Refsi Evi Marta Fadhlie Ibrahim Febi Erlianti Febri Dwi Widyawati Febri Yogi Munanda Fradini Wandira Fransisca Melyana Furqoni, Prima Dian Gunawan, M. Ricko Helmawati Helmawati Heni Kartika Sari Hermawan, Dessy Hidayah, Alisah Rahmah Hilmiah Hilmiah Husada, Imam Farid Farian Ilham Agung Sakti Imam Farid Farian Husada Indra Maulana Ismi Mu&#039;alifah Isnainy, Usastiawaty Cik Ayu Saadiah K, Umi Rohmayati Keswara, Umi Romayati Kitry, Adelia Lisma Dana Leni Haryanti M. Arifki Zainaro Mahda Rizka F.R Mardani Mardani Marlena Marliyana Marliyana Maya Maya Mega Haryanti Meliana Hidayati Mu'alifah, Ismi Muhammad Johan Bastomi Muhammad Rafli Mutiara Arini Ariska Najamuddin Dalimunthe Neisa Adhani Niluh Sumo Nopriani Novikasari, Linawati Prima Dian Furqoni Prima Dian Furqoni Prima Dian Furqoni Prima Dian Furqoni Rahmadi, Andi Rika Juana Rika Yulendasari Rilyani Rilyani Rilyani, Rilyani Riska Wandini, Riska Rizka, Mahda Safitri, Hilda Meilinda Saputra, Dian Angen Sari, Lisa Depita Sastria Handayani Satria Baharuddin Sekardhyta Ayuning Tias Setiawati Setiawati Setiawati Setiawati Silvia, Eka Sinurat, Siti Farida Siti Herlina Mariyam Siti Nursondang Slivia, Eka Sri Haryani Sumo, Ni Luh Susi Anisia Laila Teguh Pribadi Teguh Pribadi Trismiana, Eka Trismiyana, Eka Triyoso Triyoso Triyoso Triyoso Triyoso Triyoso Triyoso Triyoso Triyoso Triyoso Triyoso, Triyoso Wahid Tri Wahyudi Widia Afira Wijayanti Wijayanti Winarno , Rudi Yanti Fitria Yopita Sari Yulianto Yulianto Yulina Yulina Yuniati Yuniati Yunidha Puspita Sari