Claim Missing Document
Check
Articles

Pengenalan Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) Pada Petugas Clening Service di Lingkungan Kampus Fakultas Keperawatan dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammdiyah Banjarmasin Mariani, Mariani; Suwandewi, Alit; Mathuridy, Roly Marwan
Jurnal Kreativitas Pengabdian Kepada Masyarakat (PKM) Vol 7, No 3 (2024): Volume 7 No 3 2024
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/jkpm.v7i3.13004

Abstract

ABSTRAK Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan hal penting yang harus diterapkan di semua tempat kerja, baik pada sektor formal maupun sektor informal. Salah satu yang dapat dilakukan untuk meningkatkan K3 adalah dengan menggunakan Alat Pelindung Diri. Kesehatan dan Keselamatan Kerja (K3) merupakan hal penting yang harus diterapkan di semua tempat kerja, baik pada sektor formal maupun sektor informal. Terlebih bagi tempat kerja yang memiliki risiko atau bahaya yang tinggi, serta dapat menimbulkan Kecelakaan Akibat Kerja (KAK) dan Penyakit Akibat Kerja (PAK). Adapun KAK adalah kecelakaan yang berhubungan dengan hubungan kerja sedangkan Penyakit Akibat Kerja (PAK) yaitu penyakit yang didapat atau ditimbulkan pada waktu melaksanakan pekerjaan (Hedaputri et al, 2021). Petugas cleaning service di Kampus Fakultas Kesehatan dan Ilmu Kesehatan Universitas Muhammadiyah Banjarmasin merupakan pekerja yang dikontrak langsung oleh pihak manajemen Kampus Universitas Muhammadiyah Banjarmasin yang berjumlah 15 orang. Secara umum mereka memiliki tugas membersihkan setiap ruangan di area Kampus, membersihkan halaman di area ruangan serta membersihkan kamar kecil. Untuk menilai program kerja ini berhasil atau tidaknya yaitu dengan hasil dari jawaban ketika pre test dan post test dilakukan, kami menggunakan suatu parameter yang akan kami berikan kepada pihak sekolah yaitu dari hasil tersebut berupa rekapan dimana hasil dari pre test dan post test yang dijawab oleh peserta penyuluhan. Kata Kunci: K3, Cleaning Service  ABSTRACT Occupational Health and Safety is an important thing that must be implemented in all workplaces, both in the formal and informal sectors. One thing that can be done to improve K3 is to use Personal Protective Equipment. Occupational Health and Safety is an important thing that must be implemented in all workplaces, both in the formal and informal sectors. Especially for workplaces that have high risks or dangers, and can cause work-related accidents and work-related diseases. Meanwhile, CAC is an accident related to work relations, while occupational disease is a disease that is acquired or caused while carrying out work (Hedaputri et al, 2021). The cleaning service officers at the Muhammadiyah Banjarmasin University Faculty of Health and Sciences Campus are workers contracted directly by the management of the Muhammadiyah Banjarmasin University Campus, totaling 15 people. In general, they have the task of cleaning every room in the campus area, cleaning the yard in the room area and cleaning the restrooms. To assess whether this work program is successful or not, namely by the results of the answers when the pre-test and post-test were carried out, we use a parameter that we will give to the school, namely the results in the form of a recap where the results of the pre-test and post-test were answered by the participants. counseling. Keywords: K3, Cleaning Service
Penerapan Barthel Index Terhadap Tingkat Kemandirian Aktivitas Harian Lansia Jamaah Lansia Masjid KH. Ahmad Dahlan Banjarmasin Alit Suwandewi; Muhammad Ferdy Baihaqi; Mimin Hafizatul Maulida; Maryam Maryam; Sonia Sonia
Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan Vol. 4 No. 1 (2024): Maret : Jurnal Pengabdian Ilmu Kesehatan
Publisher : Lembaga Pengembangan Kinerja Dosen

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55606/jpikes.v4i1.3214

Abstract

Elderly is a process of human growth and development does not occur suddenly, namely developing from infants to become elderly. Everyone's physique and behavior changes when they reach a certain age is normal. Elderly is the end of the aging process that has reached the age of 60 and over. As we get older, organ function decreases with age, which has an impact on the ability of the elderly to carry out Activity of Daily Living (ADL). This study will be held on October 22, 2023 at the KH Ahmad Dahlan Mosque Jl. S.Parman, North Belitung, West Banjarmasin District, Banjarmasin City. The purpose of this study is to determine the level of independence of the elderly using the Barthel Index measurement tool through the Question and Answer method. According to the results of the discussion, it can be concluded that the level of independence of the elderly in the independent category is at a good health level in accordance with the results of the study conducted on the elderly congregation of the KH. Ahmad Dahlan Mosque. The results of this service are also expected by all participants to maintain the quality of the ADL that they have done.
Relationship Between Age and ASA Physical Status with Recovery Time for Post-General Anesthesia Patient Norhidayat, Muhammad; Suwandewi, Alit; Aprilia, Hanura; Khalilati, Noor; Daud, Izma
Journal of Nursing Invention Vol. 6 No. 2 (2025): Journal of Nursing Invention
Publisher : LPPM Universitas Sari Mulia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33859/jni.v6i2.980

Abstract

Latar Belakang: General anestesi merupakan salah satu jenis pembiusan yang menimbulkan hilangnya kesadaran, hilangnya persepsi nyeri, hilangnya memori dan relaksasi. Salah satu perhatian utama bagi pasien yang menjalani operasi dengan general anestesi adalah waktu pemulihan kesadaran. Di antara faktor yang dapat mempengaruhi waktu pulih sadar adalah usia dan status fisik ASA (American Society of Anesthesiologists) pasien. Tujuan: Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara usia dan status fisik ASA dengan waktu pulih sadar pada pasien post operasi dengan general anestesi. Metode: Desain penelitian ini adalah analitik korelatif dengan pendekatan cross sectional. Sampel pada penelitian ini berjumlah 96 responden. Metode pengumpulan data yang digunakan adalah lembar observasi. Analisis data menggunakan uji Chi-Square. Penelitian ini dilakukan di RSUD Dr. H. Moch. Ansari Saleh Banjarmasin pada bulan Mei-Juni 2025. Hasil: Hasil penelitian menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara usia dengan waktu pulih sadar dengan p value 0,768 (p>0,05), dan tidak ada hubungan antara status fisik ASA dengan waktu pulih sadar dengan p value 0,278 (p>0,05). Kesimpulan: Diharapkan hasil penelitian ini dapat mendorong penata anestesi untuk meningkatkan kualitas manajemen anestesi sehingga dapat meminimalkan terjadinya resiko komplikasi pasca pembedahan.
Hubungan Pola Makan dan Aktivitas Fisik Dengan Nilai Kadar Asam Urat Pada Lansia Gout Arthritis Di Wilayah Kerja Puskesmas Teluk Tiram Sherly Meilianty; Linda Linda; Alit Suwandewi; Yurida Olviani
Malahayati Nursing Journal Vol 7, No 9 (2025): Volume 7 Nomor 9 (2025)
Publisher : Universitas Malahayati Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33024/mnj.v7i9.20848

Abstract

ABSTRACT  Gout arthritis, a degenerative disease stemming from improper purine metabolism, is marked by elevated uric acid levels. An individual's physical capacity and general health are significantly affected by their diet.  The likelihood of gout increases with the use of foods high in purines.  An imbalanced diet increases the risk of gout.  Physical exercise refers to any physical movement that leads to heightened energy consumption.  Blood uric acid levels are affected by physical exercise.  Inadequate physical activity will elevate lactic acid levels, which in turn influences uric acid concentrations.  This research aimed to ascertain the correlation between food and physical activity and uric acid levels in older individuals with gout arthritis within the Teluk Tiram Health Center jurisdiction.  The study used a correlation analysis model using a cross-sectional approach and quantitative methods.  The study's population included 62 individuals, selected using purposive sampling, resulting in 45 responses.  Data were collected through questionnaires and uric acid level examination results, analyzed using the Spearman rank test, yielding a p-value of 0.000 (p 0.05). This indicates a significant relationship between diet and physical activity and uric acid levels in elderly patients with gout arthritis in the Teluk Tiram Health Center jurisdiction.  Health staff at the health center are advised to conduct health education sessions on proper nutrition for senior individuals with gout arthritis, as well as on the need of physical exercise to preserve health. Keywords: Gout, Diet, Physical activity, Elderly, Gout arthritis  ABSTRAK Gout arthritis, suatu penyakit degeneratif yang disebabkan oleh gangguan metabolisme purin, ditandai dengan peningkatan kadar asam urat. Kemampuan fisik dan kesehatan umum seseorang sangat dipengaruhi oleh pola makan. Risiko gout meningkat dengan konsumsi makanan tinggi purin. Pola makan yang tidak seimbang meningkatkan risiko gout. Aktivitas fisik merujuk pada gerakan fisik apa pun yang menyebabkan peningkatan konsumsi energi. Kadar asam urat dalam darah dipengaruhi oleh aktivitas fisik. Kurangnya aktivitas fisik akan meningkatkan kadar asam laktat, yang pada gilirannya mempengaruhi konsentrasi asam urat. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan korelasi antara pola makan, aktivitas fisik, dan kadar asam urat pada individu lanjut usia dengan gout arthritis di wilayah pelayanan Pusat Kesehatan Teluk Tiram. Penelitian ini menggunakan model analisis korelasi dengan pendekatan cross-sectional dan metode kuantitatif. Populasi penelitian terdiri dari 62 individu, dipilih melalui purposive sampling, dengan 45 responden. Data dikumpulkan melalui kuesioner dan hasil pemeriksaan kadar asam urat, dianalisis menggunakan uji Spearman, dengan nilai p 0,000 (p 0,05). Hal ini menunjukkan adanya hubungan yang signifikan antara pola makan dan aktivitas fisik dengan kadar asam urat pada pasien lanjut usia dengan artritis gout di wilayah kerja puskesmasTeluk Tiram. Tenaga kesehatan di pusat kesehatan dianjurkan untuk mengadakan sesi pendidikan kesehatan mengenai pola makan yang tepat bagi lansia dengan artritis gout, serta pentingnya aktivitas fisik untuk menjaga kesehatan. Kata Kunci: Asam Urat, Pola Makan, Aktivitas Fisik, Lansia, Gout Arthritis 
Hubungan PHBS dengan Kejadian Diare pada Balita Usia 0–36 Bulan yang Tinggal di Pinggiran Sungai Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin [The Association between Clean and Healthy Living Behavior and the Incidence of Diarrhea among Infants Aged 0–36 Months Living in Riverside Areas within the Working Area of Pekauman Public Health Center Banjarmasin] Munawarah, Raudatul; Harun, Lukman; Suwandewi, Alit; Millati, Rida'
Indonesia Berdaya Vol 7, No 2 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261481

Abstract

Diarrhea in toddlers is one of the main causes of illness and death that still frequently occurs in residential areas with poor sanitation, including areas along rivers. This study aims to determine the relationship between Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS) and the incidence of diarrhea in toddlers aged 0–36 months in the working area of the Pekauman Banjarmasin Community Health Center. This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 98 respondents selected through purposive sampling. Data collection was conducted using a CHB questionnaire and a diarrhea incidence observation sheet. Data analysis was performed using the Chi-Square test. The results showed that there was a significant relationship between PHBS and the incidence of diarrhea in toddlers (p = 0.002). Toddlers with poor PHBS had a higher proportion of diarrhea cases (75.9%) compared to toddlers in families with good PHBS (45.5%). These findings indicate that poor PHBS practices, such as not washing hands with soap, using unclean water, inadequate sanitation, low rotavirus immunization coverage, and using unsanitary toilets, contribute to the high incidence of diarrhea. This study is expected to serve as a basis for health workers in improving PHBS education programs, especially through a family approach in riverside settlements. The research outputs, in the form of leaflets and PHBS education applications, can also be used as a medium for promotive-preventive interventions in efforts to reduce the incidence of diarrhea in toddlers. Abstrak. Diare pada balita merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian yang masih sering terjadi di daerah permukiman dengan sanitasi buruk, termasuk wilayah bantaran sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita usia 0–36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 98 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner PHBS dan lembar observasi kejadian diare. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS dengan kejadian diare pada balita (p = 0,002). Balita dengan PHBS yang kurang baik memiliki proporsi kejadian diare yang lebih tinggi (75,9%) dibandingkan dengan balita pada keluarga dengan PHBS yang baik (45,5%). Temuan ini menunjukkan bahwa praktik PHBS yang buruk, seperti tidak mencuci tangan dengan sabun, penggunaan air yang tidak bersih, sanitasi yang tidak memadai, rendahnya cakupan imunisasi rotavirus, serta penggunaan jamban yang tidak layak, berkontribusi terhadap tingginya kejadian diare. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam seperti tidak mencuci tangan dengan sabun, penggunaan air yang tidak bersih, sanitasi yang tidak memadai, rendahnya cakupan imunisasi rotavirus, serta penggunaan jamban yang tidak layak, berkontribusi terhadap tingginya kejadian diare. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam  meningkatkan program edukasi PHBS, khususnya melalui pendekatan keluarga di permukiman bantaran sungai. Luaran penelitian berupa leaflet dan aplikasi edukasi PHBS juga dapat dimanfaatkan sebagai media intervensi promotif-preventif dalam upaya menurunkan kejadian diare pada balita.
Hubungan PHBS dengan Kejadian Diare pada Balita Usia 0–36 Bulan yang Tinggal di Pinggiran Sungai Wilayah Kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin [The Association between Clean and Healthy Living Behavior and the Incidence of Diarrhea among Infants Aged 0–36 Months Living in Riverside Areas within the Working Area of Pekauman Public Health Center Banjarmasin] Raudatul Munawarah; Lukman Harun; Alit Suwandewi; Rida' Millati
Indonesia Berdaya Vol. 7 No. 2 (2026)
Publisher : UKInstitute

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47679/ib.20261481

Abstract

Diarrhea in toddlers is one of the main causes of illness and death that still frequently occurs in residential areas with poor sanitation, including areas along rivers. This study aims to determine the relationship between Clean and Healthy Living Behaviors (PHBS) and the incidence of diarrhea in toddlers aged 0–36 months in the working area of the Pekauman Banjarmasin Community Health Center. This study used a quantitative method with a cross-sectional design. The sample consisted of 98 respondents selected through purposive sampling. Data collection was conducted using a CHB questionnaire and a diarrhea incidence observation sheet. Data analysis was performed using the Chi-Square test. The results showed that there was a significant relationship between PHBS and the incidence of diarrhea in toddlers (p = 0.002). Toddlers with poor PHBS had a higher proportion of diarrhea cases (75.9%) compared to toddlers in families with good PHBS (45.5%). These findings indicate that poor PHBS practices, such as not washing hands with soap, using unclean water, inadequate sanitation, low rotavirus immunization coverage, and using unsanitary toilets, contribute to the high incidence of diarrhea. This study is expected to serve as a basis for health workers in improving PHBS education programs, especially through a family approach in riverside settlements. The research outputs, in the form of leaflets and PHBS education applications, can also be used as a medium for promotive-preventive interventions in efforts to reduce the incidence of diarrhea in toddlers. Abstrak. Diare pada balita merupakan salah satu penyebab utama kesakitan dan kematian yang masih sering terjadi di daerah permukiman dengan sanitasi buruk, termasuk wilayah bantaran sungai. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) dengan kejadian diare pada balita usia 0–36 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pekauman Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan metode kuantitatif dengan desain cross-sectional. Sampel terdiri dari 98 responden yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner PHBS dan lembar observasi kejadian diare. Analisis data dilakukan dengan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang signifikan antara PHBS dengan kejadian diare pada balita (p = 0,002). Balita dengan PHBS yang kurang baik memiliki proporsi kejadian diare yang lebih tinggi (75,9%) dibandingkan dengan balita pada keluarga dengan PHBS yang baik (45,5%). Temuan ini menunjukkan bahwa praktik PHBS yang buruk, seperti tidak mencuci tangan dengan sabun, penggunaan air yang tidak bersih, sanitasi yang tidak memadai, rendahnya cakupan imunisasi rotavirus, serta penggunaan jamban yang tidak layak, berkontribusi terhadap tingginya kejadian diare. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam seperti tidak mencuci tangan dengan sabun, penggunaan air yang tidak bersih, sanitasi yang tidak memadai, rendahnya cakupan imunisasi rotavirus, serta penggunaan jamban yang tidak layak, berkontribusi terhadap tingginya kejadian diare. Penelitian ini diharapkan dapat menjadi dasar bagi tenaga kesehatan dalam  meningkatkan program edukasi PHBS, khususnya melalui pendekatan keluarga di permukiman bantaran sungai. Luaran penelitian berupa leaflet dan aplikasi edukasi PHBS juga dapat dimanfaatkan sebagai media intervensi promotif-preventif dalam upaya menurunkan kejadian diare pada balita.
Faktor yang Berhubungan Dengan Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun (CTPS) Untuk Mencegah Diare pada Anak di SDN Sungai Andai 3 Laili Febrianingrum; Alit Suwandewi; Ahmad Juliadi; Didy Ariady
QISTINA: Jurnal Multidisiplin Indonesia Vol. 5 No. 2 (2026): December 2026
Publisher : CV. Rayyan Dwi Bharata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.57235/qistina.v5i2.8821

Abstract

Perilaku Cuci Tangan Pakai Sabun merupakan bagian dari Perilaku Hidup Bersih dan Sehat yang berperan dalam pencegahan penyakit diare pada anak usia sekolah dasar. Rendahnya penerapan CTPS dipengaruhi oleh berbagai faktor, antara lain pengetahuan, sikap, dukungan teman sebaya, serta ketersediaan sarana dan prasarana. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor yang berhubungan dengan perilaku CTPS untuk pencegahan diare pada anak di SDN Sungai Andai 3. Penelitian ini menggunakan desain kuantitatif dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian sebanyak 358 seluruh siswa kelas 4-6 di SDN Sungai Andai 3 dengan jumlah sampel sebanyak 189 responden yang diambil menggunkan teknik stratified random sampling dihitung menggunakan rumus slovin 5%. Pengumpulan data dilakukan menggunakan kuesioner yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data meliputi analisis univariat dan bivariat menggunakan uji Chi-Square. Hasil penelitian menunjukan tidak ada hubungan antara pengetahuan (p-value 0.05) dan teman sebaya (p-value 0.538) dengan perilaku CTPS memiliki (p-value >0.05), sedangkan hubungan antara sikap (p-value 0.004) dan sarana prasarana (p-value 0.004) memiliki nilai (p-value <0.05) sehingga dapat disimpulkan adanya hubungan antar variabel dengan perilaku CTPS. Hasil analisis menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki tingkat pengetahuan yang kurang mengenai CTPS, namun mayoritas responden menunjukkan sikap yang baik terhadap CTPS. Uji bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara pengetahuan dan dukungan teman sebaya dengan perilaku CTPS. Sebaliknya, terdapat hubungan yang signifikan antara sikap serta sarana prasarana dengan perilaku CTPS.
Hubungan Kebutuhan Spiritual dengan Tingkat Stres pada Pasien Rawat Inap di Rumah Sakit Islam Banjarmasin Halimatus Sa’diah; Muhammad Anwari; Alit Suwandewi; Mohamad Hamsanie; Meti Agustini
Ulul Albab: Majalah Universitas Muhammadiyah Mataram Vol 29, No 2 (2025): Juli
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jua.v29i2.33973

Abstract

Abstrak: Pasien rawat inap rentan mengalami stres akibat kondisi medis dan lingkungan rumah sakit. Data RSI Banjarmasin menunjukkan peningkatan jumlah pasien rawat inap dari 6.869 (2021) menjadi 9.622 (2023). Stres yang tidak terkelola dapat memperburuk kondisi pasien, sementara pemenuhan kebutuhan spiritual berpotensi menurunkan tingkat stres. Namun, aspek spiritual sering terabaikan dalam pelayanan. Studi pendahuluan menunjukkan variasi antara pemenuhan kebutuhan spiritual dan tingkat stres. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara keduanya pada pasien rawat inap. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kebutuhan spiritual dan tingkat stres pada pasien rawat inap di Rumah Sakit Islam Banjarmasin. Penelitian ini menggunakan pendekatan kuantitatif dengan desain cross sectional. Populasi penelitian ini adalah 180 pasien rawat inap di Rumah Sakit Islam Banjarmasin. Sampel berjumlah 124 pasien rawat inap di Rumah Sakit Islam Banjarmasin, yang dipilih menggunakan teknik purposive sampling. Data dikumpulkan melalui kuesioner kebutuhan spiritual dan Perceived Stress Scale (PSS), lalu dianalisis untuk mengetahui hubungan antara kedua variabel.el penelitian berupa kuesioner sikap yang telah diuji validitas dan reliabilitasnya. Analisis data menggunakan uji Spearman Rho karena data berdistribusi tidak normal. Hasil penelitian menunjukkan terdapat hubungan yang signifikan antara pemenuhan kebutuhan spiritual dan tingkat stres pada pasien rawat inap, dengan nilai korelasi ρ = –0,369 dan p value sebesar 0,000 (p < 0,05). Arah korelasi negatif menunjukkan bahwa semakin tinggi tingkat pemenuhan kebutuhan spiritual, maka semakin rendah tingkat stres yang dialami pasien selama menjalani perawatan.Abstract: Inpatients are vulnerable to stress due to medical conditions and the hospital environment. Data from Islamic Hospital Banjarmasin shows an increase in the number of inpatients from 6,869 (in 2021) to 9,622 (in 2023). Unmanaged stress can worsen a patient’s condition, while fulfilling spiritual needs has the potential to reduce stress levels. However, the spiritual aspect is often overlooked in healthcare services. A preliminary study indicated variations between the fulfillment of spiritual needs and stress levels. This study aims to determine the relationship between these two factors in inpatients. This study aims to determine the relationship between spiritual needs and stress levels among inpatients at Islamic Hospital Banjarmasin. This study employed a quantitative approach with a cross-sectional design. The population of this study consisted of 180 inpatients at Banjarmasin Islamic Hospital. The sample consisted of 124 inpatients at Islamic Hospital Banjarmasin, selected using purposive sampling technique. Data were collected using a spiritual needs questionnaire and the Perceived Stress Scale (PSS), both of which had been tested for validity and reliability. The data were then analyzed to determine the relationship between the two variables. Data were analyzed using the Spearman Rho test, as the data were not normally distributed. The results showed a significant relationship between the fulfillment of spiritual needs and stress levels in inpatients, with a correlation coefficient of ρ = –0.369 and a p-value of 0.000 (p < 0.05). The negative correlation indicates that the higher the level of spiritual needs fulfillment, the lower the stress level experienced by patients during hospitalization.
Ketika Anak Sulit Makan: Hubungan Perilaku Makan Selektif dan Status Gizi Anak Prasekolah Nusa Taruna Putra; Milasari Milasari; Diah Retno Wulan; Alit Suwandewi
Khatulistiwa Nursing Journal Vol. 8 No. 1 (2026): January 2026
Publisher : STIKes YARSI Pontianak

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53399/knj.v8i1.433

Abstract

Latar Belakang: Gizi buruk merupakan masalah yang sering terjadi pada anak. Apabila tidak ditangani, maka akan berdampak terhadap proses tumbuh kembang anak. Penyebab dari gizi buruk adalah hal yang harus digali untuk mencari akar masalahnya, salah satu penyebabnya adalah perilaku makan selektif. Tujuan: Tujuan penelitian ini untuk mengidentifikasi hubungan antara perilaku makan selektif dengan status gizi pada anak prasekolah. Metode: Penelitian menggunakan cross sectional. Penelitian dilakukan di PAUD kecamatan Tabukan. Populasi dalam penelitian ini adalah PAUD di Kec. Tabukam sebanyak 13 PAUD dengan 409 murid, Sampel adalah orang tua/wali murid Sebanyak 137 responden, pemilihan sampel menggunakan Cluster Random Sampling yang dilakukan pengundian pada 13 PAUD yang berada di kecamatan Tabukan didapatkan 2 sekolah yaitu PAUD Nusa Indah dan PAUD Kuncup Mekar. Pengumpulan data menggunakan 2 instrumen penelitian yaitu kuesioner Childern’s Eating Behavior Questionnaire dan pengukuran antrompometri. Hasil: Hasil analisa dengan (sperman rank) mendapati bahwa terdapat hubungan dengan nilai p=0,000 (p<0,05) dengan Correlation Coefficient didapatkan nilai 0.799 yang berarti arah hubungan pada penelitian ini “kuat”, hasil Probability 70,15% anak yang masuk kedalam kategori tidak selektif berpeluang masuk ke dalam kategori gizi baik dan 27,14% anak yang masuk kedalam kategori selektif berpeluang masuk kedalam kategori gizi buruk. Kesimpulan: Terdapat hubungan yang bermakna antara perilaku makan selektif dengan status gizi pada anak prasekolah.
Kepatuhan Remaja Dalam Menjalankan Protokol Kesehatan Alit Suwandewi; Anita Agustina; Nurhalimah
JIKES : Jurnal Ilmu Kesehatan Vol. 1 No. 2 (2023): Januari-Juni 2023
Publisher : Yayasan Pendidikan Tanggui Baimbaian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.71456/jik.v1i2.173

Abstract

Desain penelitian ini menjelaskan suatu keadaan atau situasi fenomena bisa terjadi kemudian dilakukan analisis dengan menggunakan pendekatan Cross-Sectional. Desain Cross Sectional yaitu melakukan pengukuran atau pengamatan atau obsevasi data variabel independen dan dependen hanya satu kali pada saat itu. Kepatuhan remaja pada penelitian ini karena menggunakan masker saat di luar rumah adalah hal yang wajib dilakukan karena untuk mencegah penyebaran Covid-19 melalui tetesan air liur saat bicara, bernyanyi, bersin dan batuk. Saat remaja menggunakan masker yang lembab atau basah mereka merasa tidak nyaman sehingga remaja melakukan pengganti masker hal ini sesuai dengan masker medis karena masker sekali pakai dan maksimal 4 jam pemakaiannya. Ini penting dilakukan karena memakai masker dalam waktu lama tidak di anjurkan dan mengakibatkan muncul penyakit lain. Bagi sebagian remaja yang menyentuh masker saat memakainya disebabkan karena ingin membenarkan posisi masker nya atau merasa gatal di bagian wajah saat memakai masker.
Co-Authors Ahmad Juliadi Ahmad, Hairul Angga Irawan Anggeriyane, Esme Anita Agustina Anita Agustina, Anita Aprillia, Hanura Aprilya, Anissa Suci Ayu, Sherly Azidin, Yustan Dewi Anjani, Amellia Diah Retno Wulan Diah Retno Wulan Didy Ariady Dyah Yarlitasari Fadillah, M. Fajriani, Hanifa Rizky Halimatus Sa’diah Hanafi Rizani Hanura Aprilia, Hanura Heriani, Novia Herliyanti Herliyanti, Herliyanti Hiryadi Hiryadi Hiryadi Hiryadi Hiryadi, Hiryadi Husnul Khatimah Isrowiyatun Daiyah Iswantoro, Iswantoro Izma Daud, Izma Khairina, Salsabila Syifa Nur Laili Febrianingrum Latifah Linda linda Lisnawati , Ica Lukman Harun Mahabbatul Layna Fadli Mareliana Putri, Gusti Indah Mariani Mariani Mariani Marthuridy, Roly Marwan Maryam Maryam Maryam Maryam Mathuridy, Roly Marwan Maylani, Resty Silvia Meti Agustini Milasari Milasari Millati, Rida' Mimin Hafizatul Maulida Mimin Hafizatul Maulida Mira Mira Miranti Rahayu Miranti Rahayu Mohamad Hamsanie Muhammad Anwari Muhammad Ferdy Baihaqi Muhammad Ferdy Baihaqi Munawarah, Raudatul Ngalimun Ngalimun Ngalimun, Ngalimun Noor , Ahmad Ferdy Noor Khalilati, Noor Norfriati, Norfriati Norhidayat, Muhammad NURHALIMAH Nurhalimah Nurhalimah Nusa Taruna Putra Prisilia, Ni Kadek Neviska Rahma, Annisa Raudatul Munawarah Rida&#039; Millati Salamiah, Dea Sherly Meilianty Shofaniah Shofaniah Shofaniah, Shofaniah Siti Aisyah Solikin Solikin Sonia Sonia Stefina Merrysa Christine Subahan Sanusi Subahan Sanusi Tri Tunggal, Tri Wulan, Diah Retno Wulandatika , Darmayanti Yurida Olviani, Yurida zaqyyah huzaifah, zaqyyah