cover
Contact Name
Zulkarnain
Contact Email
dzul9787@gmail.com
Phone
+6287832631987
Journal Mail Official
selaparang.ummat@gmail.com
Editorial Address
Jl. KH. Ahmad Dahlan No.1, Pagesangan, Kec. Mataram, Kota Mataram, Nusa Tenggara Bar. 83115
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan
ISSN : 26145251     EISSN : 2614526X     DOI : https://doi.org/10.31764/jpmb.v5i1.6393
SELAPARANG : Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan merupakan jurnal yang mendiseminasikan setiap pemikiran dan ide gagasan atas hasil penelitian dan pemanfaatan teknologi untuk diimplementasikan kepada masyarakat mencakup ; (1). Bidang ilmu pengetahuan ; MIPA (Matematika, Fisika, Kimia, Biologi), Terapan, Sosial, Budaya, Ekonomi, dan Kesehatan, (2). Pelatihan dan peningkatan hasil pendidikan dan (3). Pengembangan TIK (Teknologi Informasi dan Komunikasi).
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 2,588 Documents
Edukasi gizi seimbang pada ibu untuk optimalisasi pertambahan berat badan balita di Posyandu Merpati 8 Desa Karangasih Mujahidah, Almadhiya; Ramadani, Dania; Latuconsina, Mutiara; Safariah, Suci; Ghinah, Siti Nailal; Nurpratama, Widya Lestari; Sanjaya, Dandi
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35178

Abstract

Abstrak Wasting masih menjadi masalah gizi di Indonesia, edukasi gizi seimbang merupakan upaya penting dalam meningkatkan pertumbuhan dan perkembangan anak, terutama terkait kenaikan berat badan balita. Tujuan kegiatan ini yaitu memberikan edukasi gizi seimbang pada ibu balita. Metode menggunakan penyuluhan dengan media leaflet dan lembar balik. Kegiatan ini dilaksanakan di Posyandu Merpati 08 Desa Karang Asih yang merupakan wilayah kerja Puskesmas Cikarang pada 21 September 2025 dengan melibatkan 19 ibu balita sebagai peserta. Tahapan kegiatan meliputi persiapan, pembagian leaflet, pemaparan materi edukasi dengan media lembar balik, dan sesi diskusi interaktif dan tanya jawab. Hasil kegiatan ini menunjukan adanya peningkatan pengetahuan ibu mengenai gizi seimbang dilihat dari hasil tanya jawab dan diskusi pada ibu yang dilaksanakan diakhir sesi dan keaktifan ibu untuk bertanya. Kegiatan ini juga mendorong penerapan pola makan sehat di rumah sebagai upaya mendukung pencapaian status gizi balita yang lebih optimal. Edukasi gizi terbukti efektif, namun perlu dilakukan secara berkesinambungan dengan dukungan kader, tenaga kesehatan, dan fasilitas yang memadai agar dampaknya lebih maksimal. Kata kunci: edukasi; gizi seimbang; ibu balita; leaflet; posyandu. Abstract Wasting remains a nutritional problem in Indonesia. Education about balanced nutrition is a crucial step in improving child growth and development, particularly regarding weight gain in toddlers. The objective of this activity was to provide balanced nutrition education to mothers of toddlers. The method used counseling using leaflets and flipcharts. This activity was conducted at the Merpati 08 Integrated Health Post (Posyandu) in Karang Asih Village, within the Cikarang Community Health Center (Puskesmas) working area, on September 21, 2025, with 19 mothers of toddlers participating. The activity included preparation, distribution of leaflets, presentation of educational materials using flipcharts, and an interactive discussion and question-and-answer session. The results of this activity showed an increase in mothers' knowledge about balanced nutrition, as evidenced by the Q&A and discussion sessions held at the end of the session and the mothers' active participation in asking questions. This activity also encouraged the adoption of healthy eating patterns at home to support optimal nutritional status for toddlers. Nutrition education has proven effective, but it needs to be implemented continuously with the support of cadres, health workers, and adequate facilities for maximum impact. Keywords: education; balanced nutrition; mothers of toddlers; leaflets; integrated health posts.
Pemberdayaan masyarakat melalui sosialisasi pembuatan pupuk organik dari kiambang, daun talas dan kohe ayam Budiardi, Didi; Finastoari, Meldy; Latifah, Elok Nor; Angrela, Puput; Andreani, Muhammad; Abduh, Andin Muhammad
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34504

Abstract

Abstrak Ketergantungan pada pupuk kimia menimbulkan masalah biaya dan lingkungan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan memberdayakan masyarakat Desa Puncak Harapan melalui sosialisasi dan praktik pembuatan pupuk organik berbahan kiambang (Salvinia molesta), daun talas, dan kotoran ayam dengan tambahan EM4 dan molase. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif berbasis praktik lapangan. Evaluasi dilakukan menggunakan pre-test dan post-test untuk menilai peningkatan pemahaman peserta. Hasil menunjukkan adanya kenaikan rata-rata dari 42,14% menjadi 81,43% (selisih 39 poin). Peningkatan tertinggi terjadi pada aspek persepsi kesulitan pembuatan kompos (70 poin) dan pengalaman membuat kompos (55 poin). Kegiatan ini terbukti efektif meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan motivasi masyarakat dalam memanfaatkan limbah organik lokal menjadi pupuk, serta mendukung pengurangan pupuk kimia dan penerapan pertanian berkelanjutan. Kata kunci: pupuk organik; pengomposan; EM4; limbah organik local; pemberdayaan masyarakat. AbstractThe dependency on chemical fertilizers causes economic and environmental problems. This community service program aimed to empower Puncak Harapan Village through socialization and hands-on training in producing organic fertilizer from kiambang (Salvinia molesta), taro leaves, and chicken manure, with EM4 and molasses as bio-activators. A participatory training method was applied with field practice. Evaluation using pre-test and post-test assessed participants’ understanding. The results showed an increase in the average score from 42.14% to 81.43% (a 39-point improvement). The highest increase was found in the perception of composting difficulty (70 points) and hands-on composting experience (55 points). The program effectively improved knowledge, skills, and motivation in utilizing local organic waste into fertilizer, while reducing dependence on chemical fertilizers and supporting sustainable agriculture. Keywords: organic fertilizer; composting; EM4; local organic waste; community empowerment.
Pengurangan kejadian pityriasis versicolor dan dermatofitosis di Panti Asuhan Muhammadiyah Abepura Wardani, Afika Herma; Sahli, Indra Taufik; Asrianto, Asrianto; Hartati, Risda; Kurniawan, Fajar Bakti; Purwati, Rina
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35036

Abstract

Abstrak Pityriasis versicolor dan dermatofitosis merupakan infeksi kulit yang umum terjadi di seluruh dunia, terutama di negara-negara tropis dan sub-tropis. Pityriasis versicolor menginfeksi 20-25% populasi global, dengan prevalensi mencapai 60% di daerah tropis. Di Indonesia, yang memiliki iklim tropis, dermatofitosis menempati urutan kedua setelah pityriasis versicolor, dengan tinea pedis dan tinea kruris sebagai kasus terbanyak.  Kegiatan pengabdian masyarakat dilakukan melalui penyuluhan dan edukasi mengenai infeksi kulit, serta monitoring aktivitas kebersihan diri anak-anak. Hasil evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan anak-anak tentang penyakit kulit setelah kegiatan edukasi, serta penurunan kejadian pityriasis versicolor dari 37,5% menjadi 12,5% setelah intervensi. Saran diberikan untuk meningkatkan kesadaran akan pentingnya perilaku hidup bersih dan sehat dalam mencegah infeksi kulit. Kata kunci: abepura; dermatofitosis, edukasi; jamur; pityriasis versicolor. AbstractPityriasis versicolor and dermatophytosis are common skin infections worldwide, particularly in tropical and subtropical countries. Pityriasis versicolor affects 20–25% of the global population, with a prevalence of up to 60% in tropical regions. In Indonesia, which has a tropical climate, dermatophytosis ranks second after pityriasis versicolor, with tinea pedis and tinea cruris being the most frequent cases. Community service activities were conducted through counseling and education on skin infections, along with monitoring the children’s personal hygiene practices. The evaluation showed an increase in the children’s knowledge of skin diseases after the educational activities, and a reduction in the incidence of pityriasis versicolor from 37.5% to 12.5% following the intervention. Recommendations were provided to promote awareness of the importance of clean and healthy living behaviors in preventing skin infections. Keywords: abepura; dermatophytosis, education; fungy; pityriasis versicolor.
Edukasi kesehatan reproduksi sebagai upaya pencegahan perilaku seksual pada remaja di Kampung Skouw Sae Distrik Muara Tami tahun 2025 Muspitha, Fitri Dia; Rumaseb, Ester; Rahayu, Gemi; Gentindatu, Sofietje; Mebri, Elisabeth; Mandowen, Rospuana
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35567

Abstract

Abstrak Masa remaja merupakan fase transisi yang rentan terhadap berbagai perilaku berisiko, termasuk perilaku seksual pranikah. Minimnya pengetahuan tentang kesehatan reproduksi dapat mendorong remaja untuk melakukan aktivitas seksual tanpa pemahaman yang memadai mengenai risiko kesehatan dan sosial yang ditimbulkan. Edukasi reproduksi menjadi salah satu strategi penting dalam pencegahan perilaku seksual berisiko. Kegiatan ini bertujuan untuk mengevaluasi peran edukasi reproduksi dalam meningkatkan pemahaman remaja mengenai kesehatan reproduksi dan mengurangi kecenderungan mereka terhadap perilaku seksual berisiko. Pelaksanaan kegiatan dilakukan dengan metode pemberdayaan masyarakat melalui  penyuluhan yang dilakukan dengan pendekatan partisipatif dan terstruktur. Kegiatan ini dimulai dengan melakukan survei awal untuk mengidentifikasi tingkat pengetahuan dan kebutuhan kesehatan masyarakat khusunya pada remaja . selanjutnya diadakan sesi penyuluhan melalui ceramah, diskusi terkait kesehatan reproduksi. Kegiatan ini di ikuti oleh 25 Remaja di Kampung Skouw Sae . Evaluasi dan pemantauan dilakukan secara berkala untuk menilai efektifitas kegiatan ini setelah serangkaian sesi penyuluhan, remaja menjadi lebih memahami pengertian, penyebab, dampak yang terjadi dan cara pencegahan. Hasil menunjukkan bahwa edukasi reproduksi yang diberikan secara komprehensif sejak dini dan melalui pendekatan yang sesuai dengan usia, mampu meningkatkan kesadaran remaja dan menurunkan angka perilaku seksual yang tidak sehat. Dengan demikian penting bagi keluarga dan masyarakat untuk bersinergi dalam menyediakan edukasi reproduksi yang efektif bagi remaja Kata kunci: edukasi reproduksi; remaja; perilaku seksual; kesehatan reproduksi. Abstract Adolescence is a transitional phase that is vulnerable to various risky behviors, including premarital sexual behavior. Lack of knowledge about reproductive health can encourage adolescents to engage in sexual activity without adequate understanding of the health and social riska involved. Reproductive education is an important strategy ini preventing risky sexual behavior. This activity aims to evaluate the role of reproductive education in improving adolescents understanding of reproductive health and reducing their tendency towards risky sexual behavior. The implementation of the activity is carried out using the community empowerment method through counseling carried out with a participatory and structured approach. This activity begins with conducting an initial survey to identify the level of knowledge and health needs of the community, especially adolescents. Then a counseling session is held through lectures, discussions related to reproductive health. This activity was attended by 25 adolescents in skouw sae village. Evalution and monitoring are carried out periodically to assess the effectiveness of this activity after a seires of counseling session, adolescents become more aware of the meaning , causes, impacts thet occur and how to prevent it. The results show that reproductive education provided comprehensively from an early age and through an approach that is appropriate to age and culture, can  increase adolescent awareness and reduce the number of unhealthy sexual behaviors. Thus, it is important for families and communities to work together to provide effective reproductive education for adolescents. Keywords: reproductive education; adolescents; sexual behavior; reproductive health.
Pelatihan budidaya maggot berbasis kandang dual-zona untuk ekonomi sirkular Desa Wonosari Abidin, Asroful; Suharsono, Riyanto Setiawan; Prasetiyo, Dani Hari Tunggal; Oktakusuma, Mochammad Mashud; Maulana, David; Ersa Putra, Hafidz Mahardika; Wicaksana, Aditya Wira
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34663

Abstract

Abstrak Desa Wonosari, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, menghadapi permasalahan serius dalam pengelolaan sampah organik yang sebagian besar masih dibuang atau dibakar, menimbulkan pencemaran lingkungan dan hilangnya potensi ekonomi. Kegiatan pengabdian ini bertujuan mengintegrasikan teknologi tepat guna berupa mesin shredder dan kandang maggot dual-zona untuk mendukung budidaya larva Black Soldier Fly (BSF) sebagai solusi zero waste berbasis ekonomi sirkular. Mesin shredder digunakan untuk mencacah limbah organik rumah tangga dan pasar menjadi bubur halus, sedangkan kandang dual-zona berukuran 2,5 m × 1,5 m × 1 m dengan tambahan laci 0,5 m didesain tanpa sudut siku-siku agar lalat BSF tidak menempel di rangka, serta memisahkan ruang terang untuk perkawinan dan ruang gelap-lembap untuk oviposisi. Pelatihan teknis kepada Karang Taruna Desa Wonosari dilakukan secara partisipatif, mencakup pengoperasian shredder, manajemen kandang, serta siklus budidaya maggot hingga panen. Hasil implementasi menunjukkan shredder mampu mengolah 120–160 kg sampah organik per hari, sementara kandang menghasilkan tingkat penetasan telur 85–90% dengan produksi maggot konsisten. Maggot dipanen pada usia 10–12 hari dengan ukuran 1–1,2 cm dan kandungan protein tinggi, dimanfaatkan sebagai pakan unggas dan ikan, sedangkan residu organik diolah menjadi pupuk kompos. Dampak yang dicapai tidak hanya mengurangi praktik pembakaran sampah, tetapi juga membuka peluang ekonomi baru melalui penguatan unit pengelola sampah desa berbasis Karang Taruna. Integrasi mesin shredder dan kandang maggot inovatif terbukti efektif dalam mengurangi sampah organik, meningkatkan produktivitas budidaya maggot, serta memperkuat kemandirian ekonomi masyarakat pedesaan berbasis konsep zero waste. Kata kunci: mesin shredder; kandang dual-zona; zero waste; ekonomi sirkular; maggot Abstract Wonosari Village, Puger District, Jember Regency, faces serious problems in the management of organic waste, most of which is still disposed of or burned, causing environmental pollution and loss of economic potential. This service activity aims to integrate appropriate technology in the form of shredder machines and dual-zone maggot cages to support the cultivation of Black Soldier Fly (BSF) larvae as a zero waste solution based on a circular economy. The shredder is used to chop household and market organic waste into fine slurries, while the 2.5 m × 1.5 m × 1 m dual-zone cage with an additional 0.5 m drawer is designed without right angles to keep BSF flies from sticking to the frame, as well as separating a light room for mating and a dark-damp room for oviposition. Technical training to the Wonosari Village Youth Organization is carried out in a participatory manner, including shredder operation, cage management, and maggot cultivation cycle until harvest. The results of the implementation showed that the shredder was able to process 120–160 kg of organic waste per day, while the cage produced an egg hatching rate of 85–90% with consistent maggot production. Maggot are harvested at the age of 10–12 days with a size of 1–1.2 cm and a high protein content, used as poultry and fish feed, while organic residues are processed into compost. The impact achieved not only reduces the practice of burning waste, but also opens up new economic opportunities through the strengthening of Karang Taruna-based village waste management units. The integration of shredder machines and innovative maggot cages has proven effective in reducing organic waste, increasing maggot cultivation productivity, and strengthening the economic independence of rural communities based on the zero waste concept. Keywords: shredder machine; dual-zone enclosure; zero waste; circular economy; maggot
Pendampingan bahasa inggris dan konten digital bagi anggota pokdarwis sebagai upaya mendukung promosi pariwisata Pantai Impos Ariyani, Etika; Ilham, Ilham
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.36539

Abstract

Abstrak Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan bahasa Inggris dan keterampilan pembuatan konten digital bagi anggota Kelompok Sadar Wisata (Pokdarwis) Pantai Impos sebagai upaya mendukung promosi pariwisata berbasis masyarakat. Kegiatan dilaksanakan pada tanggal 20 September 2025 di kawasan Pantai Impos, Kota Mataram, dengan jumlah peserta sebanyak 30 orang berusia 25–45 tahun. Metode yang digunakan adalah pelatihan partisipatif (participatory training method) yang menggabungkan penyampaian materi, simulasi percakapan (role play), praktik pembuatan konten digital, dan evaluasi menggunakan kuesioner skala Likert. Materi pelatihan mencakup bahasa Inggris dasar untuk pelayanan wisata dan teknik fotografi serta penulisan caption promosi sederhana. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan kemampuan peserta dalam menggunakan ungkapan dasar bahasa Inggris untuk melayani wisatawan asing serta meningkatnya keterampilan mereka dalam menghasilkan konten digital yang menarik. Hasil evaluasi juga menunjukkan bahwa lebih dari 70% peserta memberikan respons “sangat setuju” terhadap efektivitas kegiatan. Kegiatan ini terbukti berkontribusi terhadap peningkatan kapasitas sumber daya manusia pariwisata lokal dan memperkuat semangat kolaborasi antaranggota Pokdarwis. Secara keseluruhan, program ini berhasil mendorong pemberdayaan masyarakat pesisir melalui penguasaan bahasa dan literasi digital yang relevan dengan kebutuhan industri pariwisata modern. Kata kunci: Pelatihan bahasa Inggris; konten digital; Pokdarwis; promosi pariwisata; Pantai Impos AbstractThis community service activity aimed to enhance the English communication skills and digital content creation abilities of the members of the Tourism Awareness Group (Pokdarwis) at Impos Beach as part of efforts to strengthen community-based tourism promotion. The activity was conducted on September 20, 2025, at Impos Beach, Mataram City, involving 30 participants aged 25–45 years. The program adopted a participatory training method that combined lectures, role-play simulations, hands-on digital content practice, and evaluation using a Likert-scale questionnaire. The training materials covered basic English for tourism services and simple techniques in photography and caption writing for social media promotion. The results indicated significant improvement in participants’ ability to use basic English expressions to communicate with foreign visitors, as well as in their skills to produce appealing digital promotional content. The evaluation showed that over 70% of participants strongly agreed that the activity was effective and relevant to their needs. This community service successfully contributed to strengthening local tourism human resources, fostering collaboration among Pokdarwis members, and promoting community empowerment through language proficiency and digital literacy aligned with the needs of modern tourism development. Keywords: English training; digital content; Pokdarwis; tourism promotion; Impos Beach
Peningkatan produktivitas silica powder dari limbah kaca dengan penerapan teknologi informasi untuk peningkatan sirkukar ekonomi pada bank sampah Berseka Tasikmalaya Sutisna, Herlan; Ratningsih, Ratningsih; Wibisono, Taufik; Firdaus, Reyhan Andrea; Sidik, Zamzam Permana Maulana
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35114

Abstract

Abstrak Pengelolaan Bank Sampah Berseka di Desa Cikunir, Tasikmalaya, menghadapi tantangan besar dalam mengoptimalkan produksi Silica Powder dari limbah kaca. Dengan sistem manajemen yang masih manual, keterbatasan peralatan produksi dan strategi pemasaran yang belum memanfaatkan digital, produktivitas saat ini hanya mencapai 2,2-2,4 ton per bulan. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberikan solusi komprehensif guna meningkatkan efektivitas operasional dan daya saing mitra. Tujuan utama dari kegiatan ini adalah Meningkatkan produktivitas produksi Silica Powder secara signifikan melalui penambahan peralatan yang memadai, yaitu mesin pencacah, memodernisasi manajemen operasional dan keuangan dengan mengimplementasikan Sistem Informasi Bank Sampah berbasis web serta memperluas jangkauan pasar dan meningkatkan penjualan melalui pelatihan digital marketing yang efektif. Metode pelaksanaan melibatkan hibah peralatan produksi, pengembangan dan implementasi sistem informasi, serta pelatihan intensif. Hasil yang diperoleh yaitu adanya peningkatan pengetahuan dan keterampilan pengelolaan dalam bidang produksi, keuangan, dan pemasaran digital. Secara kuantitatif, solusi ini diharapkan dapat meningkatkan volume produksi Silica Powder dan pendapatan mitra secara signifikan, yang pada akhirnya akan meningkatkan kesejahteraan anggota serta mendorong pertumbuhan ekonomi lokal. Kata kunci: bank sampah; serbuk silika; limbah kaca; manajemen operasional; pemasaran digital. Abstract The management of the Berseka Waste Bank in Cikunir Village, Tasikmalaya, faced significant challenges in optimizing the production of silica powder from glass waste. With a manual management system, limited production equipment, and a marketing strategy that had not yet utilized digital tools, productivity at the time only reached 2.2-2.4 tons per month. This community service project provided comprehensive solutions to improve the partner's operational effectiveness and competitiveness. The project successfully increased the productivity of silica powder production with the addition of adequate equipment, modernized operational and financial management through the implementation of a web-based information system, and expanded market reach through effective digital marketing training. The implementation involved grants for production equipment, the development and application of the information system, as well as intensive training. As a result, there was an increase in knowledge and management skills in the fields of production, finance, and digital marketing. Quantitatively, the project significantly increased the volume of silica powder production and the partner's revenue, which contributes to the improvement of members' welfare and promotes local economic growth. Keywords: waste bank; silica powder; glass waste; operational management; digital marketing.
Pemberdayaan tukang jamu gendong kabupaten garut melalui penerapan CPOTB skala rumah tangga Kokom, Asep; Mariani, Ria; Amalia, Nur; Martiani, Isye; Fadhlillah, Faizah Min; Maharani, Raisha; Fajarwati, Neng Nabila
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34259

Abstract

Abstrak Pengobatan tradisional telah menjadi bagian penting dari budaya Indonesia, dengan jamu sebagai salah satu warisan kesehatan yang masih dilestarikan hingga kini. Jamu gendong, yang diproduksi dan dipasarkan secara keliling oleh penjual, banyak dijumpai di Kabupaten Garut. Obat tradisional termasuk jamu gendong dalam proses pembuatannya harus memenuhi standar keamanan dan mutu produk sebagaimana diatur dalam Cara Pembuatan Obat Tradisional yang Baik (CPOTB). Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk memberdayakan penjual jamu gendong di Kabupaten Garut melalui penerapan CPOTB skala rumah tangga. Evaluasi pengetahuan dilakukan menggunakan pre-test dan post-test mencakup lima aspek CPOTB: pengertian dan tujuan, bahan baku, produksi, peralatan, dan higienitas personal. Hasil menunjukkan adanya peningkatan rata-rata pengetahuan peserta dari 87,5% sebelum peyuluhan menjadi 100% setelah penyuluhan. Peningkatan ini mencerminkan efektivitas kegiatan dalam meningkatkan pemahaman CPOTB. Namun, hasil diskusi mengungkapkan bahwa pemahaman tersebut belum sepenuhnya diimplementasikan dalam praktik produksi. Oleh karena itu, diperlukan pelatihan lanjutan berbasis praktik dan pendampingan berkelanjutan agar penerapan CPOTB dapat berjalan secara konsisten. Kata kunci: CPOTB; jamu gendong; Kabupaten Garut; mutu AbstractTraditional medicine has been an important part of Indonesian culture, with jamu as one of the health heritages that is still preserved today. Jamu gendong, which is produced and sold door-to-door by vendors, is widely found in Kabupaten Garut. Traditional medicines, including jamu gendong, must be produced in compliance with the safety and quality standards set out in the Good Traditional Medicine Manufacturing Practices (CPOTB). This community service activity aimed to empower jamu gendong vendors in Kabupaten Garut through the implementation of household-scale CPOTB. Knowledge evaluation was conducted using pre-test and post-test assessments covering five aspects of CPOTB: definition and objectives, raw materials, production, equipment, and personal hygiene. The results showed an increase in the participants’ average knowledge from 87.5% before the training to 100% after the training. This improvement reflects the effectiveness of the program in enhancing participants’ understanding of CPOTB. However, discussions revealed that this knowledge has not been fully implemented in production practices. Therefore, further practice-based training and continuous mentoring are needed to ensure the consistent application of CPOTB. Keywords: CPOTB; jamu gendong; Kabupaten Garut; quality
Pendampingan penyelenggaraan trail running event bagi karang taruna Desa Ngrejeng Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban Munir, Miftachul; Syahrial, Mario Fahmi; Putri, Rizca Yunike; Musrifah, Sri; Kurniahu, Hesti; Febriyanti, Ossy; Haristiono, Ridlo Zendhi; Dwi Secrisyah, Novi Ana; Setiawan, Sony; Al Muhtadhi, Muhammad Zain; Ibrahim, Munawar Malik
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.34489

Abstract

Abstrak Sport ecotourism adalah kegiatan yang memadukan aktivitas olahraga dan pariwisata. Trail running merupakan salah satu sport ecotourism yang saat ini banyak diminati berbagai kalangan. Kabupaten Tuban Jawa Timur memiliki potensi besar untuk pengembangan sport ecotourism. Desa Ngrejeng Kecamatan Grabagan Kabupaten Tuban memiliki potensi untuk dikembangkan menjadi salah satu destinasi tujuan sport ecotourism karena wilayahnya terdiri dari perbukitan karst yang memiliki kontur tidak rata sehingga menimbulkan tantangan bagi pelari. Selain itu, bentang alam ekosistem karst  yang unik dan menarik dapat memberikan pengalaman bagi pelari. Oleh karena itu, kegiatan trail running bertajuk Ngrejeng Karst Running bukan hanya memberikan dampak kesehatan raga juga meningkatan kesehatan jiwa. Tujuan kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memberikan pendampingan kepada karang taruna Desa Ngrejeng Kecamatan Grabagan untuk menyelenggarakan event olahraga berupa trail running. Trail running bertajuk Ngrejeng Karst Running ini melintasi 3 Desa yaitu Desa Grabagan, Desa Banyubang dan berakhir di Desa Ngrejeng. Metode pelaksanaan kegiatan ini dilakukan melalui 3 tahap yaitu: 1) tahap sosialisasi, 2) tahap pendampingan penyelenggaraan trail running event yang meliputi berbagai macam kegiatan, 3) tahap monitoring dan evaluasi. Hasil dari kegiatan ini adalah terbentuk tim penyelenggara (panitia) kegiatan, penentuan rute lari, berhasil menyusun proposal sponsorship dan promosi event trail running di berbagai platform media sosial. Berdasarkan hasil kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini diharapkan mitra secara mandiri maupun kolaborasi dengan tim PKM mampu menyelenggarakan berbagai macam event terkait sport ecotourism secara berkelanjutan guna mendukung upaya pembangunan desa melalui pengembangan ekowisata. Kata kunci: karang taruna; karst; ngrejeng; trail running. Abstract Sport ecotourism is an activity that combines sports and tourism. Trail running is one of the most popular forms of sport ecotourism that is currently gaining traction among various groups. Tuban Regency in East Java has significant potential for the development of sport ecotourism. Ngrejeng village has the potential to be developed into sport ecotourism destination because its terrain consists of karst hills with uneven contours, presenting a challenge for runners. In addition, the unique karst ecosystem landscape can provide an experience for runners. Therefore, the trail running activity entitled Ngrejeng Karst Running not only provides physical health benefits but also improves mental health. The purpose of this community service activity is to provide assistance to the Ngrejeng Village youth organization to organize a trail running event. The Ngrejeng Karst Running event traverses three villages: Grabagan, Banyubang, and Ngrejeng. The implementation of this activity is carried out in three stages: 1) the socialization stage, 2) the support stage for organizing the trail running eventand 3) the monitoring and evaluation stage. The outcomes of this activity include the formation of an organizing committee for the event, the determination of the running route, the sponsorship proposal, and the promotion of the trail running event. Based on the results of this community service activity, it is hoped that partners, either independently or in collaboration with the PKM team, will be able to organize various events related to sport ecotourism in a sustainable manner to support village development efforts through the development of ecotourism.  Keywords: karst; ngrejeng; trail running.
Dunia warna : cara mewarnai membantu perkembangan kreativitas balita Sugiharti, Rosi Kurnia; Musmundiroh, Musmundiroh
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 9, No 6 (2025): November
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v9i6.35532

Abstract

Abstrak Tingkat kesehatan suatu bangsa dapat diukur dari kesehatan anak-anaknya. Setiap tahun, lebih dari 200 juta anak di bawah usia lima tahun mengalami keterlambatan perkembangan, dengan 86% kasus terjadi di negara berkembang. Stimulasi menjadi salah satu faktor penting yang berkontribusi terhadap perkembangan otak anak, termasuk dalam mencegah keterlambatan perkembangan. Dengan stimulasi yang tepat, anak dapat mencapai potensi optimalnya. Pemberian stimulasi yang terarah dapat mempercepat perkembangan, terutama dalam aspek motorik halus, melalui aktivitas yang melibatkan gerakan fisik serta stimulasi sesuai dengan tahapan usia. Berdasarkan latar belakang tersebut, dalam program pengabdian masyarakat ini dilakukan kegiatan pelatihan dengan metode mewarnai bagi balita sebagai bentuk stimulasi yang mendukung perkembangan mereka. Selain itu, data dari Dinas Kesehatan menunjukkan bahwa sekitar 1-3% anak mengalami keterlambatan motorik. Pada tahun 2020, Puskesmas di Jawa Barat mencatat sebanyak 1.493 balita, dengan 246 di antaranya mengalami keterlambatan perkembangan motorik. Hasil survei pendahuluan di Desa Wanajaya menunjukkan bahwa 10 dari 15 ibu mengaku tidak pernah memberikan stimulasi mewarnai kepada anak mereka. Tujuan kegiatan ini adalah untuk memberikan pengetahuan kepada ibu dan kegiatan mewarnai pada anak yang berguna untuk meningkatkan motoric halus. Metode yang digunakan dalam  kegiatan ini adalah penyuluhan Pre dan Post tentang metode mewarnai dilanjutkan dengan kegiatan mewarnai. Responden yang mengikuti kegiatan ini adalah ibu yang memiliki balita usia 3-4 tahun sebanyak 20 orang di Desa Wanajaya.  Hasil kegiaan ini adalah tingkat pengetahuan ibu sebelum penyuluhan dan pelatihan adalah sebagian besar cukup 45 %, dan tingkat pengetahuan setelah penyuluhan dan pelatihan sebagian besar baik sebesar 90%. Penyuluhan dan mewarnai pada balita meningkatkan motoric halus pada balita.  Saran yang diberikan dalam kegiatan ini adalah diharapkan para ibu untuk dapat memberikan kegiatan mewarnai secara rutin kepada balita. Kata Kunci: mewarnai; motoric halus; balita. AbstractThe health of a nation can be measured by the health of its children. Each year, more than 200 million children under the age of five experience developmental delays, with 86% of cases occurring in developing countries. Stimulation is a crucial factor contributing to children's brain development, including preventing developmental delays. With appropriate stimulation, children can reach their optimal potential. Targeted stimulation can accelerate development, particularly in fine motor skills, through activities involving physical movement and age-appropriate stimulation. Based on this background, this community service program includes coloring training for toddlers as a form of stimulation to support their development. Furthermore, data from the Health Office indicates that approximately 1-3% of children experience motor delays. In 2020, the Community Health Center in West Java recorded 1,493 toddlers, with 246 of them experiencing delayed motor development. The results of a preliminary survey in Wanajaya Village showed that 10 out of 15 mothers admitted to never providing coloring stimulation to their children. The purpose of this activity was to provide knowledge to mothers and coloring activities for children that are useful for improving fine motor skills. The method used in this activity was Pre and Post counseling on coloring methods followed by coloring activities. Respondents who participated in this activity were mothers of toddlers aged 3-4 years, totaling 20 people in Wanajaya Village. The results of this activity were the level of knowledge of mothers before counseling and training was 45%, and the level of knowledge after counseling and training was 90%. Counseling and coloring for toddlers improve fine motor skills in toddlers. The suggestion given in this activity is expected to mothers can provide coloring activities regularly to toddlers. Keywords: coloring; fine motor skills; todd