cover
Contact Name
Lira Mufti Azzahri Isnaeni
Contact Email
liramuftiazzahri.isnaeni@gmail.com
Phone
+6285271651482
Journal Mail Official
prepotifjurnalkesmas.up@gmail.com
Editorial Address
Jl. Tuanku Tambusai 23 Bangkinang, Kampar, Riau
Location
Kab. kampar,
Riau
INDONESIA
PREPOTIF : Jurnal Kesehatan Masyarakat
ISSN : 26231573     EISSN : 26231581     DOI : https://doi.org/10.31004/prepotif
Core Subject : Health,
PREPOTIF Jurnal Kesehatan Masyarakat adalah bidang kesehatan yang luas seperti kesehatan masyarakat, Keselamatan dan Kesehatan Kerja, Epidemiologi, keperawatan, kebidanan, kedokteran, farmasi, psikologi kesehatan, nutrisi, teknologi kesehatan, analisis kesehatan, sistem informasi kesehatan, hukum kesehatan, rumah sakit manajemen, Ekonomi Kesehatan, Kebijakan Kesehatan, kesehatan lingkungan dan sebagainya.
Articles 2,239 Documents
FAKTOR RISIKO TUBERKULOSIS PADA ANAK DI RUMAH SAKIT UMUM UNIVERSITAS MUHAMMADIYAH CIREBON Fitriani, Andriana Aulia; Syakhrudin, Imam; Khasanah, Uswatun
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.54924

Abstract

Tuberkulosis (TB) merupakan penyakit infeksi kronik yang masih menjadi permasalahan kesehatan utama di Indonesia, termasuk pada populasi anak. Provinsi Jawa Barat menempati posisi tinggi dalam jumlah kasus TB, termasuk di Kabupaten Cirebon. Anak-anak merupakan kelompok rentan terhadap infeksi TB, terutama apabila terdapat faktor risiko tertentu di lingkungan dan keluarga. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara usia, jenis kelamin, status gizi, imunisasi BCG, riwayat kontak TB dewasa, paparan asap rokok, serta tingkat pendidikan dan pengetahuan orang tua dengan kejadian TB pada anak, sekaligus mengidentifikasi faktor risiko yang paling dominan. Penelitian observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional ini dilaksanakan pada Mei–Juni 2024 di RSU Universitas Muhammadiyah Cirebon dengan jumlah sampel 135 anak yang memenuhi kriteria inklusi dan dipilih menggunakan teknik consecutive sampling. Data diperoleh melalui kuesioner dan rekam medis, kemudian dianalisis menggunakan uji chi-square dan regresi logistik. Hasil menunjukkan kelompok usia 12–59 bulan merupakan yang terbanyak (53,3%). Sebagian besar anak memiliki status gizi baik, telah menerima imunisasi BCG, dan terpapar asap rokok. Terdapat hubungan bermakna antara usia (p=0,005) dan riwayat kontak TB dewasa (p<0,001) dengan kejadian TB. Riwayat kontak dengan penderita TB dewasa merupakan faktor risiko paling dominan (OR=6,211). Disimpulkan bahwa usia dan riwayat kontak TB dewasa berhubungan signifikan dengan kejadian TB anak.
HUBUNGAN TREMOR, ATROFI OTAK, DAN ANSIETAS DALAM ASPEK NEUROBIOLOGI Aisyah, Sahida Nur; Jaya, Muhammad Alim; Japari, Agus
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55050

Abstract

Tremor merupakan gangguan gerak yang tidak hanya berkaitan dengan disfungsi motorik, tetapi juga dipengaruhi oleh faktor emosional seperti ansietas serta perubahan struktural otak. Perubahan neurobiologis, khususnya atrofi pada serebelum, sistem limbik, dan korteks prefrontal, dapat mengganggu regulasi motorik dan emosional sehingga memperberat tremor. Penelitian ini bertujuan untuk meninjau hubungan antara tremor, atrofi otak, dan ansietas dalam perspektif neurobiologi. Metode yang digunakan adalah narrative systematic review terhadap literatur internasional tahun 2015–2025 yang diperoleh dari Google Scholar, PubMed, dan NCBI menggunakan kata kunci tremor, atrofi otak, dan ansietas. Hasil penelusuran menunjukkan bahwa ansietas dapat memperberat tremor melalui peningkatan aktivitas simpatis dan gangguan kontrol inhibisi top-down. Atrofi pada struktur serebelar dan limbik–prefrontal berkontribusi terhadap disfungsi regulasi emosi dan motorik. Temuan neuroimaging dan molekuler mendukung adanya hubungan dua arah antara tremor, ansietas, dan atrofi otak. Kesimpulannya, tremor, atrofi otak, dan ansietas saling berkaitan melalui mekanisme neurobiologis yang terintegrasi, sehingga pendekatan diagnostik dan terapeutik perlu mempertimbangkan aspek motorik dan emosional secara bersamaan.
DUKUNGAN DAN HAMBATAN MAHASISWA DENGAN OBESITAS DALAM UPAYA PENURUNAN BERAT BADAN Aini, Farida Nur; Ichsan, Burhannudin
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55051

Abstract

Obesitas pada mahasiswa merupakan masalah kesehatan yang dipengaruhi oleh dukungan sosial serta berbagai hambatan dalam upaya penurunan berat badan, yang berperan penting dalam membentuk perubahan perilaku sehat. Penelitian ini bertujuan mengeksplorasi bentuk dukungan dan hambatan yang dialami mahasiswa dengan obesitas dalam menjalani proses penurunan berat badan. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif fenomenologis dengan melibatkan 18 mahasiswa berusia 18–25 tahun yang dipilih secara purposive sampling di Kabupaten Sukoharjo. Data dikumpulkan melalui wawancara mendalam, direkam, ditranskripsi secara verbatim, dan dianalisis menggunakan analisis tematik dengan bantuan perangkat lunak OpenCode. Hasil penelitian menunjukkan bahwa mahasiswa menerima berbagai bentuk dukungan, meliputi dukungan sosial dari keluarga, teman sebaya, dan tenaga kesehatan; dukungan personal berupa motivasi diri, komitmen, dan disiplin; dukungan informasional terkait pola makan dan aktivitas fisik; serta dukungan lingkungan berupa akses terhadap fasilitas dan lingkungan yang kondusif. Dukungan tersebut berperan dalam meningkatkan motivasi, kepercayaan diri, dan konsistensi mahasiswa dalam menjalani pola hidup sehat. Di sisi lain, mahasiswa juga menghadapi hambatan internal seperti rendahnya kontrol diri, fluktuasi emosi, rasa malas, serta kebiasaan makan tidak sehat. Hambatan eksternal meliputi beban akademik, keterbatasan waktu, dan pengaruh lingkungan sosial yang mendorong perilaku makan tidak terkontrol. Keberhasilan penurunan berat badan dipengaruhi oleh keseimbangan antara dukungan yang diterima dan kemampuan mahasiswa dalam mengelola hambatan secara adaptif.
PENGETAHUAN DAN PERILAKU MASYARAKAT LEMBATA MEMANFAATKAN POTENSI NUTRISI SARDINELLA UNTUK PENCEGAHAN STUNTING Ulnang, Arijanti Susana; Tukan, Gerardus Diri; Naben, Maria Novalina; Latumakulita, Gertreda; Tukan, Virjy Emanuela Lema; Sawo, Agustina Emiliana; Tukan, Cerry Julianus Pana; Tukan, Clara Marcian Palan
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55052

Abstract

Stunting sebagai masalah kesehatan masyarakat yang perlu penanganan inovatif dengan pemanfaatan sumber laut. Ikan sardinella adalah nutrisi kompleks perempuan dalam persiapan kehamilan, saat hamil, melahirkan dan bagi bayi untuk pencegahan stunting. Angka stunting di Lembata paling rendah menjadi indikator keberhasilan program pengentasan stunting dengan pemanfaatan sardinella. Peneliti ingin menginvestigasi pengetahuan dan perilaku masyarakat dalam pemanfaatan ikan sardinella untuk mencegah stunting. Studi ini dilaksanakan ingin mengetahui pengetahuan dan perilaku masyarakat Lembata terhadap pemanfaatan ikan sardinella di Lembata dalam kaitan dengan upaya pencegahan stunting, terutama sebagai asupan nutrisi bagi ibu hamil dan balita. Metode penelitian yang dilaksanakan yaitu deskriptif survey dengan design cross sectional, menggunakan purposive sampel dengan metode pengambilan data melalui wawancara terhadap 248 responden usia dewasa atau produktif. Data diolah menggunakan software SSPS 25. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 89,1% responden mengetahui bahwa ikan sardinella merupakan salah satu jenis hewan laut yang mengandug zat gizi tinggi bagi pencegahan stunting. Perilaku responden terhadap pemanfaatan ikan sardinella diketahui bahwa 95,6% sampel berperilaku baik namun 4,4% responden berperilaku cukup terhadap konsumsi ikan sardinella dalam memenuhi asupan gizi keluarga. Responden mengetahui ikan sardinella sebagai salah satu hewan laut yang bergizi tinggi dan selalu mengonsumsinya untuk tindakan pemenuhan gizi, pencegahan stunting dan kecerdasan anak yang akan dilahirkan. Diharapkan masyarakat daerah lain dapat mencontoh pengetahuan dan perilaku pemanfaatan ikan sardinella sebagai protein yang murah untuk mencegah dan mengatasi stunting.
HUBUNGAN INDEKS MASA TUBUH (IMT) DENGAN RISIKO PREEKLAMPSIA PADA IBU HAMIL Suhardin, Nur Isra Awaliyah; Fujiko, Masita; Rahman, Abdul
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55053

Abstract

Preeklampsia merupakan salah satu komplikasi kehamilan yang masih menjadi penyebab utama morbiditas dan mortalitas maternal serta perinatal. Salah satu faktor risiko yang diduga berperan dan bersifat dapat dimodifikasi adalah Indeks Massa Tubuh (IMT). Peningkatan prevalensi overweight dan obesitas pada wanita usia reproduksi menjadikan IMT sebagai indikator penting dalam upaya pencegahan preeklampsia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara Indeks Massa Tubuh dengan kejadian preeklampsia pada ibu hamil. Penelitian ini menggunakan desain observasional analitik dengan pendekatan cross-sectional. Populasi penelitian adalah seluruh ibu hamil yang tercatat dalam rekam medis di fasilitas kesehatan tempat penelitian. Sampel diambil menggunakan teknik total sampling sesuai kriteria inklusi dan eksklusi, sehingga diperoleh 49 subjek penelitian. Variabel independen adalah Indeks Massa Tubuh yang dihitung dari berat badan awal kehamilan dan tinggi badan, sedangkan variabel dependen adalah kejadian preeklampsia. Pengumpulan data dilakukan melalui penelusuran rekam medis, dan analisis data menggunakan uji Chi-Square untuk menilai hubungan antara IMT dan preeklampsia. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar ibu hamil dengan preeklampsia berada pada kategori IMT normal hingga tinggi, dengan proporsi IMT tinggi (overweight dan obesitas) yang lebih besar dibandingkan IMT rendah. Analisis statistik menunjukkan adanya hubungan yang bermakna antara IMT dan kejadian preeklampsia (p < 0,05). Kesimpulannya, terdapat hubungan yang signifikan antara Indeks Massa Tubuh dan kejadian preeklampsia pada ibu hamil. IMT tinggi berperan sebagai faktor risiko yang perlu mendapat perhatian dalam pelayanan antenatal sebagai upaya pencegahan preeklampsia.
PERAN C3 DAN ANTI-STREPTOLYSIN O PADA DIAGNOSIS GLOMERULONEFRITIS AKUT PASCASTREPTOKOKUS ANAK Gau, Anugrah Wija; Aras, Jusli; Darussalam, Andi Husni Esa; Rauf, Syarifuddin; Aisyah, Nur
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55054

Abstract

Glomerulonefritis akut pasca streptokokus (GNAPS) merupakan penyebab tersering sindrom nefritik akut pada anak. Diagnosis umumnya dapat ditegakkan berdasarkan gambaran klinis khas, namun konfirmasi diagnostik sering menghadapi kendala karena perubahan marker imunologis yang dipengaruhi oleh waktu pemeriksaan selama perjalanan penyakit. Dua parameter laboratorium yang paling sering digunakan adalah kadar komplemen C3 dan titer Anti-Streptolysin O (ASO), yang interpretasinya memerlukan pemahaman mengenai dinamika patofisiologi GNAPS. Tinjauan pustaka ini bertujuan mengevaluasi secara kritis peran, keterbatasan, dan nilai diagnostik pemeriksaan C3 dan ASO dalam menegakkan diagnosis GNAPS pada anak. Metode yang digunakan adalah penelusuran literatur melalui basis data PubMed, Google Scholar, dan ScienceDirect terhadap publikasi dalam sepuluh tahun terakhir. Dari delapan artikel yang memenuhi kriteria inklusi, didapatkan bahwa penurunan kadar C3 merupakan temuan yang paling konsisten pada fase akut GNAPS dan umumnya kembali normal dalam waktu 6–8 minggu. Sementara itu, peningkatan titer ASO berperan sebagai bukti serologis adanya infeksi streptokokus sebelumnya, namun sensitivitasnya bervariasi bergantung pada lokasi infeksi serta waktu pengambilan sampel. Kombinasi kadar C3 yang rendah dengan titer ASO yang meningkat memberikan nilai diagnostik tertinggi dibandingkan penggunaan masing-masing parameter secara terpisah. Pemahaman yang baik terhadap pola perubahan C3 dan ASO sangat penting untuk meningkatkan akurasi diagnosis, menghindari pemeriksaan yang tidak perlu, serta mencegah kesalahan interpretasi pada GNAPS anak.
ANALISIS HUBUNGAN PROGRAM MAKAN BERGIZI GRATIS DENGAN STATUS GIZI REMAJA DI KOTA PALU Manda, Manda; Tangkas, Made; Dewi, Nikmah Utami
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55056

Abstract

Remaja merupakan kelompok usia yang rentan terhadap permasalahan gizi yang ditandai dengan fenomena triple burden of malnutrition, sehingga diperlukan intervensi gizi yang efektif, salah satunya melalui Program Makan Bergizi Gratis (MBG). Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis hubungan antara asupan gizi, kepatuhan konsumsi menu, dan preferensi makanan Program MBG dengan status gizi remaja di Kota Palu. Penelitian menggunakan desain analitik observasional dengan pendekatan cross-sectional. Sampel berjumlah 105 siswa penerima MBG di dua SMP di Kota Palu yang dipilih menggunakan teknik simple random sampling. Asupan gizi diukur menggunakan metode food recall 2×24 jam, kepatuhan konsumsi dan preferensi makanan diukur dengan kuesioner terstruktur, sedangkan status gizi ditentukan berdasarkan Indeks Massa Tubuh menurut Umur (IMT/U) sesuai standar WHO 2007. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji chi-square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil penelitian menunjukkan bahwa sebagian besar responden memiliki status gizi normal (55,24%), asupan gizi MBG kategori cukup (54,29%), tingkat kepatuhan konsumsi tinggi (71,43%), serta preferensi positif terhadap menu MBG (80,00%). Analisis bivariat menunjukkan tidak terdapat hubungan yang signifikan antara asupan gizi (p=0,345), kepatuhan konsumsi (p=0,201), dan preferensi makanan (p=0,294) dengan status gizi remaja. Hasil analisis multivariat juga menunjukkan bahwa seluruh variabel independen tidak berhubungan signifikan terhadap status gizi. Kesimpulannya, Program Makan Bergizi Gratis berperan sebagai pendukung pemenuhan gizi remaja, namun belum menjadi faktor penentu utama status gizi, sehingga diperlukan pendekatan yang lebih komprehensif melalui peningkatan kualitas menu, edukasi gizi, dan pengendalian pola konsumsi di luar sekolah.
LAPORAN KASUS : PENANGANAN LUKA BAKAR GRADE II A 20 % DI RUMAH SAKIT BHAYANGKARA MAKASSAR Madani, Nurul Hidayah; Yuniati, Lisa; Jufri, Jufri
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55083

Abstract

Luka bakar yaitu salah satu kejadian cedera fisik yang biasa terjadi di rumah dengan angka kejadian cukup sering sehingga memerlukan perawatan spesifik. Laporan kasus seorang anak perempuan berumur 4 tahun datang ke IGD diantarkan oleh orang tuanya dengan kondisi luka bakar pada lengan dan tangan kanannya. Luka bakar terjadi karena terkena minyak goreng panas. Pasien tidak memiliki riwayat alergi dan tidak memiliki riwayat penyakit. Pemeriksaan fisik pasien didapatkan tingkat kesadaran compos mentis, dengan GCS E4M6V5, HR: 99x/mnt, S: 36,7C, RR: 22x/mnt BB : 15 kg. Status emosional pasien responsif. Status lokalis yang ditemukan luka bakar pada bagian lengan bawah dan tangan kanan, ditemukan luas luka bakar 20% TBSA. Hasil pemeriksaan laboratorium menunjukkan adanya kenaikan jumlah WBC 12.7 x 103/µL dan PLT 619 x 103/µL. Pasien menjalani perawatan di rumah sakit dengan tatalaksana awal resusitasi cairan, tindakan debridement pembersihan dengan cairan infus Nacl dan diberikan Sulfadiazin Silver dengan perawatan luka pasca debridement. Diagnosis pasien ini yaitu luka bakar grade II AB 20%. Prognosisnya adalah bonam.
FAKTOR RISIKO RIWAYAT INFEKSI, ASUPAN MAKAN, PENGETAHUAN IBU DAN SANITASI LINGKUNGAN DENGAN KEJADIAN STUNTING PADA ANAK BALITA DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS PANDERE Hutama, Tirta Sari Putri; Laenggeng, Abd. Hakim; Tangkas, Made
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55087

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis pada balita yang berdampak terhadap pertumbuhan fisik, perkembangan kognitif, serta kualitas sumber daya manusia di masa depan. Kejadian stunting dipengaruhi oleh berbagai faktor, seperti riwayat penyakit infeksi, asupan makan, pengetahuan ibu, dan sanitasi lingkungan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh riwayat infeksi, asupan makan, pengetahuan ibu, dan sanitasi lingkungan terhadap kejadian stunting pada balita usia 6–59 bulan di wilayah kerja Puskesmas Pandere. Penelitian ini merupakan penelitian analitik observasional dengan desain case–control. Sampel berjumlah 72 balita, terdiri dari 36 balita stunting sebagai kelompok kasus dan 36 balita tidak stunting sebagai kelompok kontrol. Data dikumpulkan melalui wawancara menggunakan kuesioner, pengukuran antropometri, serta penilaian asupan makan menggunakan metode food recall 2×24 jam. Pengukuran antropometri dilakukan dengan mengukur panjang badan menggunakan infantometer dan tinggi badan menggunakan stadiometer, kemudian status stunting ditentukan berdasarkan indikator PB/U atau TB/U menggunakan standar WHO dengan kriteria Z-score < -2 SD. Analisis data dilakukan secara univariat, bivariat menggunakan uji Chi-Square, dan multivariat menggunakan regresi logistik. Hasil bivariat menunjukkan hubungan signifikan antara riwayat penyakit infeksi (p=0,000), asupan protein (p=0,001), asupan lemak (p=0,029), asupan karbohidrat (p=0,004), pengetahuan ibu (p=0,008), dan sanitasi lingkungan (p=0,000) dengan kejadian stunting. Hasil multivariat menunjukkan bahwa sanitasi lingkungan merupakan faktor paling dominan yang berhubungan dengan kejadian stunting (p=0,004). Kesimpulan penelitian ini adalah kejadian stunting dipengaruhi oleh riwayat infeksi, asupan makan, pengetahuan ibu, dan sanitasi lingkungan, dengan sanitasi lingkungan sebagai faktor dominan.
LAPORAN KASUS : HIPOKALEMIA DENGAN PRESENTASI TETRAPLEGI Chandra S, Ignasius Ivan; Buharman, Borries Foresto; Herwanto, Velma
PREPOTIF : JURNAL KESEHATAN MASYARAKAT Vol. 10 No. 1 (2026): APRIL 2026
Publisher : Universitas Pahlawan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/prepotif.v10i1.55088

Abstract

HypoKPP (PPH) adalah gangguan neuromuskular yang jarang terjadi tetapi perlu diwaspadai. Kondisi ini ditandai episode berulang lemahnya otot flaksid yang berkaitan dengan rendahnya kalium dan umumnya muncul pada usia muda. Kondisi ini sering terlewatkan dalam asesmen awal kelemahan akut karena manifestasi klinisnya dapat menyerupai berbagai gangguan neurologis lain yang lebih umum dan bersifat gawat darurat. Penulisan ini bertujuan untuk membahas konsep paralisis periodik hipokalemik serta menekankan pentingnya alur diagnosis yang sistematis berdasarkan telaah literatur. Secara klinis, PPH ditandai oleh kelemahan otot simetris tanpa gangguan sensorik atau penurunan kesadaran, yang membaik setelah koreksi kalium. Diagnosis ditegakkan melalui identifikasi serangan kelemahan berulang yang disertai hipokalemia, respons klinis terhadap suplementasi kalium, serta penyingkiran penyebab hipokalemia sekunder. Pemeriksaan kadar kalium urin dan status asam-basa memiliki peran penting dalam membedakan PPH akibat redistribusi kalium ke intrasel dari kondisi dengan kehilangan kalium berlebih. Deteksi dini dan prosedur diagnosis yang tepat diperlukan agar komplikasi serius dapat dicegah seperti gangguan irama jantung serta untuk menentukan tata laksana dan pencegahan kekambuhan jangka panjang.