cover
Contact Name
Ilham
Contact Email
ilham.ummataram@gmail.com
Phone
+6281997989594
Journal Mail Official
ilham.ummataram@gmail.com
Editorial Address
Jl. K.H Ahmad Dahlan No 1 Pagesangan
Location
Kota mataram,
Nusa tenggara barat
INDONESIA
Journal of Community Empowerment
ISSN : 29619459     EISSN : 29637090     DOI : -
Journal of Community Empowerment is multidisciplinary scientific journal in the field of empowerment and community Service, published by the English Department Universitas Muhammadiyah Mataram with a publication period of two times in one year, namely in June and December. This journal covers some general problems from the results of research implemented to the community services including (1) social humanities, science, applied science, economic, health, cultural, ICT Development, and administration services, (2) Training and improvement in the results of educational, agricultural, information and communication, and appropriate technology, (3) community empowerment, students community services, local food security, marketing, and less developed region. The purpose of this journal publication is to disseminate conceptual thoughts or ideas and research results that have been achieved in the field of service to the community. This journal accepts manuscript in Bahasa or English.
Arjuna Subject : Umum - Umum
Articles 260 Documents
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU DI YPAC SEMARANG DALAM STRATEGI PEMBELAJARAN INKLUSIF Amaliyah, Shofwatun; Agustin, Menik Tetha; Trisna Dewi, Benedicta Audrey Putri
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.31620

Abstract

ABSTRAKKegiatan pengabdian masyarakat ini dilatarbelakangi oleh kebutuhan mendesak akan peningkatan kompetensi guru dalam menerapkan strategi pembelajaran inklusif, khususnya di Yayasan Pembinaan Anak Cacat (YPAC) Semarang. Permasalahan utama yang dihadapi mitra adalah keterbatasan pemahaman dan keterampilan praktis guru dalam menghadapi keberagaman kebutuhan belajar siswa disabilitas. Tujuan dari kegiatan ini adalah untuk meningkatkan pengetahuan, keterampilan, dan sikap profesional guru dalam menyusun dan mengimplementasikan strategi pembelajaran yang inklusif dan adaptif. Tahapan dari kegiatan yang dilaksanakan meliputi identifikasi kebutuhan mitra, pelaksanaan dan Evaluasi hasil kegiatan. Metode pelaksanaan kegiatan meliputi sosialisasi konsep pendidikan inklusif, penyuluhan tentang hak-hak anak berkebutuhan khusus, workshop penyusunan Rencana Pembelajaran Individual (RPI), serta praktikum penggunaan media ajar adaptif dan teknologi bantu. Kegiatan dilaksanakan bersama mitra YPAC Semarang yang terdiri dari 55 orang guru dan tenaga kependidikan. Evaluasi dilakukan dengan metode pre-test dan post-test untuk mengukur peningkatan pemahaman, observasi langsung praktik pembelajaran, serta kuisioner kepuasan peserta. Hasil evaluasi menunjukkan adanya peningkatan pemahaman konseptual tentang pendidikan inklusif sebesar 35%, serta peningkatan keterampilan praktis guru dalam merancang dan melaksanakan pembelajaran inklusif sebesar 33%. Selain itu, terjadi peningkatan softskill dalam hal empati, komunikasi, dan kolaborasi antar guru. Dampak jangka menengah dari kegiatan ini juga diproyeksikan dapat meningkatkan kualitas layanan pendidikan di YPAC Semarang secara menyeluruh. Kata kunci: kompetensi guru; pembelajaran inklusif; YPAC; disabilitas; pengabdian masyarakat.  ABSTRACTThis community service activity was driven by the urgent need to improve teachers' competencies in implementing inclusive learning strategies, particularly at the Foundation for the Development of Children with Disabilities (YPAC) Semarang. The main problem faced by the partner institution is the limited understanding and practical skills of teachers in addressing the diverse learning needs of students with disabilities. The aim of this program is to enhance teachers’ knowledge, skills, and professional attitudes in designing and implementing inclusive and adaptive teaching strategies. The stages of the activity included identifying partner needs, implementation, and evaluation of results. The methods used in this program included the dissemination of inclusive education concepts, education on the rights of children with special needs, a workshop on the development of Individualized Education Plans (IEPs), and practical sessions on the use of adaptive teaching media and assistive technologies. The activity was carried out in collaboration with YPAC Semarang and involved 55 teachers and education staff. Evaluation was conducted using pre- and post-tests to measure knowledge improvement, direct observation of teaching practices, and participant satisfaction questionnaires. The evaluation results showed a 35% increase in conceptual understanding of inclusive education and a 33% increase in practical teaching skills for inclusive learning. In addition, there was an improvement in soft skills such as empathy, communication, and collaboration among teachers. The medium-term impact of this activity is projected to contribute to the overall improvement of educational services at YPAC Semarang. Keywords: teacher competence; inclusive learning; YPAC; disability; community service.
IMPLEMENTASI PROGRAM GEROBAK SEBAGAI STRATEGI PEMBENTUKAN DESA SIAGA DONOR BERBASIS KELUARGA Nuraini, Fatia Rizki; Muflikhah, Nina Difla; Astuti, Retno Puji
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.31486

Abstract

ABSTRAK                                                                            Ketersediaan darah dalam situasi darurat masih menjadi tantangan serius di berbagai daerah, terutama di tingkat desa yang jauh dari fasilitas transfusi darah. Program GEROBAK (Gerakan Donor Bersama Keluarga) hadir sebagai solusi untuk memberdayakan keluarga dalam membentuk sistem donor darah mandiri dengan meningkatkan pengetahuan dan kesadaran tentang pentingnya donor darah. Kegiatan pengabdian masyarakat ini dilaksanakan di Desa Prayungan dengan melibatkan kerjasama aktif antara tim pelaksana dan pihak pemerintah desa. Program ini diikuti oleh 30 orang peserta, terdiri dari perwakilan keluarga. Metode pelaksanaan terdiri atas tiga tahap, yaitu: persiapan dan koordinasi, sosialisasi dan edukasi, serta monitoring dan evaluasi. Hasil pretest dan posttest menunjukkan adanya peningkatan signifikan dalam pengetahuan peserta, yaitu sebesar 42,5%, dari rata-rata skor awal 57,8 menjadi 82,4 setelah mengikuti kegiatan. Selain peningkatan pengetahuan, program ini juga menghasilkan daftar awal pendonor keluarga yang selanjutnya dikelola oleh tenaga kesehatan setempat. Antusiasme tinggi tercermin dari partisipasi aktif peserta dan permintaan lanjutan untuk pemeriksaan golongan darah bagi anggota keluarga lainnya. Temuan ini menunjukkan bahwa Program GEROBAK efektif dalam meningkatkan kesiapsiagaan desa terhadap kebutuhan darah dalam kondisi darurat. Ke depan, disarankan agar program ini dikembangkan lebih lanjut melalui pendampingan berkelanjutan, pelatihan kader kesehatan, serta replikasi di desa-desa lain melalui kolaborasi multisektor untuk mewujudkan sistem kesehatan berbasis komunitas yang tangguh dan berdaya. Kata kunci: Donor darah;Pendonor keluarga, Transfusi ABSTRACTThe availability of blood in emergency situations remains a serious challenge in many regions, particularly in rural villages far from blood transfusion facilities. The GEROBAK program (Gerakan Donor Bersama Keluarga) emerges as an innovative solution to empower families in order to establish a self-sufficient blood donation system by increasing awareness of the importance of blood donation. This public service activity was implemented in Prayungan through active collaboration between the team and the government. The program involved by 30 participants, consisting of family representatives. The implementation methodology comprised three stages: preparation and coordination, socialization and education, and monitoring and evaluation. Pre-test and post-test results demonstrated a significant (42.5%) increase in participants' knowledge, with average scores rising from 57.8 to 82.4 after intervention. Furthermore, the program also established a preliminary registry of family donors which will be managed by authorized healthcare officer. High enthusiasm was shown through active participation and participant requests for blood type screenings for additional family members. These findings indicate that the GEROBAK program effectively increase public readiness for emergency blood needs. It is recommended that the program could be expanded through sustained mentoring, training of health cadres, and replication in other villages via multisectoral collaboration to building a resilient, community-based healthcare system capable of addressing critical blood supply challenges. Keywords: Blood donation; Family donors; Transfusion
IMPLEMENTASI INTERVENSI KESEHATAN BERBASIS KOMUNITAS UNTUK PENINGKATAN PENGETAHUAN DAN PERILAKU SEHAT DI KELURAHAN BUKUAN Susanti, Rahmi; Adrianto, Ratno; Ivanca, Abira; Nada, Audya; Huwaidah, Ayu; Hutauruk, Hutauruk; Jumliana, Jumliana; Ulfah, Meilida; Rangga, Muhammad; Auralia, Syalmita; Khusnul, Vika
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.30303

Abstract

ABSTRAK Kesehatan masyarakat di Kelurahan Bukuan menghadapi berbagai tantangan, termasuk tingginya kebiasaan merokok di dalam rumah, konsumsi makanan cepat saji berlebihan, kasus ISPA dan hipertensi, rendahnya pengetahuan remaja tentang kesehatan reproduksi, serta praktik pembakaran sampah yang belum optimal. Kondisi ini menunjukkan perlunya intervensi komprehensif untuk meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Kegiatan ini bertujuan untuk merencanakan dan melaksanakan program intervensi kesehatan masyarakat yang sesuai dengan permasalahan dan sumber daya yang tersedia di Kelurahan Bukuan. Metode pelaksanaan melibatkan ceramah, diskusi, demonstrasi, dan roleplay, serta sosialisasi dari pintu ke pintu. Mitra sasaran utama adalah warga Kelurahan Bukuan, khususnya orang tua (ayah dan ibu), ibu rumah tangga, dan remaja. Total peserta yang terlibat bervariasi untuk setiap program, dengan rata-rata sekitar 10-20 peserta per kegiatan intervensi. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan yang signifikan pada peserta setelah intervensi. Program "INGAT NASAR" (Lingkungan Sehat Tanpa Asap Rokok) menunjukkan peningkatan rata-rata nilai pre-test ke post-test dari 76,36 menjadi 98,18. Program "RAMU NASEHAT" (Cerdas Mengonsumsi Makanan Sehat) menunjukkan peningkatan dari 62,22 menjadi 86,67. Program "CAPER" (Cegah Hipertensi) menunjukkan peningkatan dari 73,33 menjadi 95,56. Program "KUKIRA AKU" (Kurangi Risiko Infeksi Saluran Pernapasan Akut) menunjukkan peningkatan dari 76,36 menjadi 90,91. Program "RAJA LISAN" (Gerakan Remaja Peduli Masa Depan) menunjukkan peningkatan dari 71 menjadi 92. Terakhir, program "GITAR MESRA" (Gerakan Pintar Mengolah Sampah Rumah Tangga) menunjukkan peningkatan dari 62,67 menjadi 85,33. Data ini menunjukkan bahwa program-program yang dilaksanakan efektif dalam meningkatkan kesadaran dan pengetahuan masyarakat mengenai masalah kesehatan yang ada, serta memicu perubahan perilaku positif. Kata kunci: isi piringku; senam hipertensi; demonstrasi asap rokok; pemberdayaan masyarakat.   ABSTRACTPublic health in Bukuan Village faces various challenges, including high rates of indoor smoking habits, excessive fast food consumption, cases of acute respiratory infections and hypertension, low knowledge among adolescents about reproductive health, and suboptimal waste burning practices. This condition indicates the need for comprehensive interventions to improve the quality of life of the community. This activity aims to plan and implement public health intervention programs that are appropriate to the problems and resources available in Bukuan Village. The implementation methods involve lectures, discussions, demonstrations, and role-play, as well as door-to-door socialization. The main target partners are residents of Bukuan Village, particularly parents (fathers and mothers), housewives, and adolescents. The total number of participants involved varies for each program, with an average of around 10-20 participants per intervention activity. The results of the activities show significant knowledge improvement among participants after the intervention. The "INGAT NASAR" program (Smoke-Free Healthy Environment) showed an average increase in pre-test to post-test scores from 76.36 to 98.18. The "RAMU NASEHAT" program (Smart Consumption of Healthy Food) showed an increase from 62.22 to 86.67. The "CAPER" program (Prevent Hypertension) showed an increase from 73.33 to 95.56. The "KUKIRA AKU" program (Reduce Risk of Acute Respiratory Tract Infections) showed an increase from 76.36 to 90.91. The "RAJA LISAN" program (Youth Movement Caring for the Future) showed an increase from 71 to 92. Finally, the "GITAR MESRA" program (Smart Movement for Household Waste Management) showed an increase from 62.67 to 85.33. This data indicates that the implemented programs were effective in increasing community awareness and knowledge regarding existing health problems, as well as triggering positive behavioral changes. Keywords: fill up my plate; hypertension exercise; cigarette smoke demonstration; community empowerment
IMPLEMENTASI TEKNIK TARING (TARIK JARING-JARING) UNTUK MENINGKATKAN PEMAHAMAN KONSEP BANGUN RUANG PADA SISWA KELAS V SDN 294 MALUKU TENGAH Ramadhani, Widya Putri
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.31839

Abstract

ABSTRAK                                                                            Pembelajaran bangun ruang di SDN 294 Maluku Tengah menghadapi masalah rendahnya pemahaman konsep dengan 65% siswa kelas V belum mencapai KKM 70. Tujuan kegiatan ini adalah menerapkan teknik TARING (Tarik Jaring-jaring) untuk meningkatkan pemahaman konsep bangun ruang siswa kelas V. Metode menggunakan pendekatan participatory action research melibatkan 28 siswa dan seorang guru. Tahapan kegiatan meliputi: (1) koordinasi melalui survei pendahuluan dan identifikasi kebutuhan; (2) persiapan pengembangan perangkat pembelajaran dan media template jaring-jaring; (3) implementasi dalam satu kali pertemuan pembelajaran menggunakan aktivitas manipulatif pengguntingan, pelipatan, dan perakitan; (4) evaluasi melalui pre-test, post-test, observasi, dan angket respons; (5) monitoring keberlanjutan program dan diseminasi hasil. Hasil menunjukkan peningkatan signifikan dengan N-gain 0,49, nilai rata-rata dari 58,7 menjadi 78,9, dan ketuntasan belajar dari 35% menjadi 85,7%. Sebanyak 92,9% siswa memberikan respons positif terhadap teknik TARING yang dinilai lebih menyenangkan dan memudahkan pemahaman. Teknik TARING terbukti efektif meningkatkan pemahaman konsep geometri ruang, mengembangkan keterampilan motorik halus, dan menumbuhkan sikap positif terhadap pembelajaran matematika dengan memanfaatkan bahan sederhana sesuai kondisi geografis kepulauan. Kata kunci: teknik TARING; bangun ruang; pembelajaran manipulatif; sekolah dasar; Maluku Tengah. ABSTRACTGeometry lessons at SDN 294 in Maluku Tengah are facing the issue of low conceptual understanding, with 65% of Year 5 students not reaching the minimum passing grade of 70%. The aim of this activity is to implement the TARING technique (Tarik Jaring-jaring) to improve the students' understanding of spatial shapes. The method uses a participatory action research approach involving 28 students and a teacher for three months. The stages of the activity include: (1) coordination through a preliminary survey and needs identification; (2) preparation of the teaching materials and jigsaw templates; (3) implementation in six learning sessions using manipulative activities involving cutting, folding, and assembly; (4) evaluation through pre-test, post-test, observation, and questionnaire responses; and (5) monitoring the sustainability of the programme and dissemination of results. The results showed a significant improvement with an N-gain of 0.49, an increase in the mean score from 58.7 to 78.9, and an increase in learning achievement from 35% to 85.7%. 92.9% of students responded positively to the TARING technique, which they found more enjoyable and easier to understand. The TARING technique has been proven to effectively enhance understanding of geometric concepts, develop fine motor skills, and foster positive attitudes towards mathematics learning by utilising simple materials that align with the geographical conditions of the islands. Keywords: TARING technique; geometric solids; manipulative learning; elementary school; Central Maluku.
PEMANFAATAN KOMIK DIGITAL INTERAKTIF: PENDAMPINGAN GURU MI ROUDHOTUL ULUM AGUNG JATI Pratami, Fisnia; Sari, Nindy Devita; Afifah, Siti; Alawi, Faiz; Fitria, Rima
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.31850

Abstract

ABSTRAK                                                                            Pembelajaran di Madrasah Ibtidaiyah (MI) sering mengalami kendala, terutama dalam penggunaan media yang kurang menarik dan belum sesuai dengan karakteristik peserta didik usia sekolah dasar. Mitra dalam kegiatan pengabdian ini adalah para guru di MI Roudhotul Ulum Agung Jati, yang berjumlah 9 orang. Pengabdian ini bertujuan untuk mendampingi mereka dalam mengembangkan dan memanfaatkan komik digital interaktif berbasis aplikasi Pixton sebagai media pembelajaran yang efektif. Metode kegiatan meliputi identifikasi kebutuhan mitra, pelatihan penggunaan aplikasi, pendampingan pembuatan komik secara individu dan kelompok, serta evaluasi terhadap hasil media dan implementasinya dalam pembelajaran. Evaluasi dilakukan melalui observasi, penilaian produk, dan diskusi reflektif bersama para guru. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 90% mitra mampu secara mandiri membuat dan menggunakan komik digital interaktif. Komik yang dihasilkan memuat konten naratif dan dialog kontekstual yang menarik dan mudah dipahami siswa. Selain peningkatan keterampilan digital (hard skill), kegiatan ini juga berdampak positif terhadap pengembangan keterampilan kolaborasi dan kreativitas guru (soft skill). Secara keseluruhan, program pendampingan ini memberikan kontribusi positif dalam inovasi pembelajaran Bahasa Indonesia yang lebih interaktif dan sesuai dengan perkembangan peserta didik di MI. Kata kunci: aplikasi Pixton; komik digital; literasi digital; media pembelajaran  ABSTRACTLearning in Madrasah Ibtidaiyah (MI) often faces challenges, particularly due to the use of less engaging media that do not align with the characteristics of elementary school-aged students. The partners in this community service activity were nine teachers from MI Roudhotul Ulum Agung Jati. This program aimed to assist them in developing and utilizing interactive digital comics using the Pixton application as an effective learning medium. The methods implemented included needs assessment, hands-on training in using the application, individual and group mentoring in comic creation, and evaluation of the media products and their implementation in teaching. Evaluation was conducted through classroom observation, product assessment, and reflective discussions with the teachers. The results showed that 90% of the partner teachers were able to independently create and use interactive digital comics. The developed media featured narrative content and dialogues that were contextually relevant to students' daily lives, making them more engaging and easier to understand. In addition to enhancing digital (hard) skills, the program also fostered teachers' soft skills such as collaboration and creativity. Overall, this mentoring activity contributed positively to the innovation of Indonesian language learning by making it more interactive and aligned with students' developmental needs at the MI level. Keywords: Pixton application; digital comics; digital literacy; learning media
PEMBERDAYAAN KOMUNITAS LOKAL BERBASIS PEER EDUCATOR MELALUI PENDEKATAN PARTICIPATORY EMPOWERMENT Nisa, Alfiana Ainun; Nugroho, Efa; Istiada, Ayu; Alifah, Rafidha Nur; Alkautsar, Nikmatul Ilma
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.31994

Abstract

                                                                          ABSTRAK       Masalah kesehatan pada kelompok remaja di komunitas lokal merupakan isu strategis yang perlu mendapatkan perhatian khusus, terutama karena adanya kecenderungan perilaku berisiko yang dapat berdampak negatif terhadap kualitas hidup dan masa depan mereka. Hasil asesmen menunjukkan masih rendahnya penerapan perilaku hidup bersih dan sehat, serta kecenderungan melakukan perilaku berisiko seperti merokok, konsumsi minuman beralkohol, dan hubungan seksual pranikah. Kegiatan pengabdian ini bertujuan untuk memberdayakan komunitas lokal melalui peningkatan kapasitas pendidik sebaya (peer educator) sebagai agen perubahan dalam komunitas, dengan menggunakan pendekatan Participatory Empowerment. Program ini dilaksanakan melalui beberapa tahapan, yaitu analisis situasi, advokasi, pelatihan pendidik sebaya, serta implementasi posyandu remaja. Selain itu, dilaksanakan kegiatan posyandu remaja sebagai wadah berkelanjutan dalam penyebaran informasi kesehatan. Hasil kegiatan menunjukkan adanya peningkatan pemahaman remaja terhadap isu-isu kesehatan, terbentuknya forum komunikasi yang aktif, serta meningkatnya akses terhadap informasi dan layanan kesehatan. Dengan demikian, pendekatan pemberdayaan partisipatif melalui penguatan kapasitas peer educator terbukti menjadi strategi efektif dalam mendukung upaya promotif dan preventif kesehatan di komunitas lokal.ABSTRACTAdolescent health issues in local communities represent a strategic concern that requires special attention, particularly due to the tendency toward risky behaviors that can negatively affect their quality of life and future. Assessment results revealed a low level of implementation of clean and healthy living behaviors, as well as a tendency to engage in risky behaviors such as smoking, alcohol consumption, and premarital sexual activity. This community engagement program aims to empower local communities by strengthening the capacity of peer educators as agents of change through a Participatory Empowerment approach. The program was implemented in several stages, including situation analysis, advocacy, peer educator training, and the establishment of adolescent health posts (posyandu remaja). In addition, a youth communication forum was formed as a sustainable platform for disseminating health information. The results showed an increase in adolescents’ understanding of health issues, the formation of an active communication forum, and improved access to health information and services. Thus, the participatory empowerment approach through strengthening peer educator capacity has proven to be an effective strategy in supporting health promotion and prevention efforts in local communities.
PELATIHAN PENULISAN DIKSI SEBAGAI UPAYA PENINGKATAN LITERASI SASTRA DI MA PLUS ASSOWAH AL-ISLAMIYAH GERUNG KABUPATEN LOMBOK BARAT Darmurtika, Linda Ayu; Mariyati, Yuni; Suyasa, I Made; Akhmad, Akhmad; Akbar, M Aris; Lamusiah, Siti; Ihsani, Baiq Yuliatin; Waluyan, Roby Mandalika; Rosada, Rosada
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.32361

Abstract

ABSTRAK                                                                            Perkembangan literasi sastra di kalangan peserta didik masih terbilang rendah. Hal ini disebabkan oleh beberapa faktor, antara lain minimnya akses terhadap bahan bacaan sastra yang berkualitas, kurangnya pelatihan keterampilan menulis kreatif, serta belum optimalnya pendekatan pembelajaran sastra di kelas. Dalam konteks ini, pembelajaran sastra seringkali bersifat normatif dan tekstual, sehingga kurang menyentuh aspek apresiasi dan kreativitas yang dapat menggugah minat serta keterlibatan siswa secara aktif. Pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk melakukan pelatihan penulisan diksi sebagai upaya peningkatan literasi sastra di MA Plus Assowah Al-Islamiyah Gerung dengan melibatkan 40 orang sebagai peserta pelatihani. Kegiatan pengabdian terdiri dari lima tahap, yaitu persiapan, penyampaian materi, praktik, presentasi dan diskusi, serta refleksi. Kegiatan dilaksanakan melalui metode partisipatif dan interaktif. Kegiatan ini dinyatakan berhasil dengan indikator sebagai berikut: Aspek partisipasi: Peserta mengikuti kegiatan secara penuh dari awal hingga akhir. Aspek capaian pembelajaran: Berdasarkan penilaian terhadap hasil tugas menulis, sebagian besar peserta mampu menerapkan diksi konotatif dan denotatif dengan baik, serta menunjukkan peningkatan dalam variasi kosakata melalui penggunaan sinonim dan antonim. Aspek keberlanjutan: Pihak sekolah berkomitmen untuk memasukkan materi diksi ini dalam program ekstrakurikuler sastra dan meminta tindak lanjut berupa pendampingan literasi secara berkala. Aspek evaluatif: Refleksi peserta menunjukkan peningkatan kesadaran akan pentingnya pilihan kata dalam menulis sastra yang ekspresif dan bermakna. Secara keseluruhan, kegiatan pengabdian ini tidak hanya memberikan dampak positif terhadap keterampilan menulis siswa, tetapi juga memperkuat kemitraan antara institusi pendidikan tinggi dan sekolah menengah dalam membangun budaya literasi sastra yang berkelanjutan.[A1] Kata kunci: Penulisan Diksi; Peningkatan Literasi Sastra; Lingkungan Sekolah. ABSTRACTThe development of literary literacy among students is still relatively low. This is due to several factors, including minimal access to quality literary reading materials, lack of creative writing skills training, and the suboptimal approach to literary learning in the classroom. In this context, literary learning is often normative and textual, so that it does not touch on aspects of appreciation and creativity that can arouse students' interest and active involvement. This community service aims to conduct diction writing training as an effort to improve literary literacy at MA Plus Assowah Al-Islamiyah Gerung by involving 40 people as training participants. The community service activity consists of five stages, namely preparation, delivery of materials, practice, presentation and discussion, and reflection. The activity was carried out through participatory and interactive methods. This activity was declared successful with the following indicators: Participation aspect: Participants participated in the activity fully from start to finish. Learning achievement aspect: Based on the assessment of the results of the writing assignment, most participants were able to apply connotative and denotative diction well, and showed an increase in vocabulary variation through the use of synonyms and antonyms. Sustainability aspect: The school is committed to including this diction material in the literature extracurricular program and requests follow-up in the form of regular literacy assistance. Evaluative aspect: Participant reflections show an increased awareness of the importance of word choice in writing expressive and meaningful literature. Overall, this community service activity not only has a positive impact on students' writing skills but also strengthens the partnership between higher education institutions and secondary schools in building a sustainable literary literacy culture.Keywords: Diction Writing; Increasing Literary Literacy; School Environment
PENINGKATAN KOMPETENSI GURU PAUD DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA MELALUI IN HOUSE TRAINING Widiyanti, Indri Ayu
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.31829

Abstract

ABSTRAK                                                                            Para pendidik pendidikan anak usia dini menghadapi tantangan saat adanya pergantian kurikulum. Kemampuan untuk memahami kurikulum merdeka disarankan pemerintah untuk dapat dipelajari secara mandiri melalui sarana yang disediakan. Para pendidik PAUD pasti akan menghadapi banyak tantangan dalam memahami kurikulum secara mandiri. Oleh karena itu, tujuan dari kegiatan pengabdian ini adalah untuk memberikan pemahaman yang baik, terutama bagi tenaga pendidik tentang cara menerapkan Kurikulum Merdeka. Agar pendidik memiliki kemampuan untuk menerapkan Kurikulum Merdeka yang dapat berdampak positif terhadap kualitas pembelajaran di institusi pendidikan anak usia dini. Adapun metode pengabdian ini dengan In-house Training yang dilakukan dalam tiga tahap: persiapan; pelaksanaan; dan evaluasi. Kegiatan dilaksanakan di lembaga pendidikan anak usia dini yaitu TAAM (Taman Asuh Anak Muslim) Happy Kids dan PAUD Melati Ceria Kecamatan Andir Kota Bandung dengan jumlah pendidik sebanyak 12 orang guru selama delapan pertemuan. Hasil pre-post test menunjukkan peningkatan skor rata-rata dari 73,33 di pre-test menjadi 87,5 di post-test, menunjukkan bahwa kegiatan In-house Training (IHT) berdampak positif terhadap pemahaman guru tentang Kurikulum Merdeka. In-house Training ini juga meningkatkan kemampuan guru untuk menerapkan Kurikulum Merdeka di PAUD yang mengindikasikan bahwa kegiatan In-house Training ini berhasil meningkatkan pemahaman dan keterampilan pendidik dalam merancang dan menerapkan pembelajaran yang efektif. Kata kunci: In-house Training, Kurikulum Merdeka, PAUD, Peningkatan Kompetensi Guru ABSTRACTEarly childhood education educators face challenges when the curriculum changes. The ability to understand the independent curriculum is recommended by the government to be learned independently through the tools provided. PAUD educators will certainly face many challenges in understanding the curriculum independently. Therefore, the purpose of this service activity is to provide a good understanding, especially for educators, on how to implement the Independent Curriculum. So that educators have the ability to implement the Merdeka Curriculum which can have a positive impact on the quality of learning in early childhood education institutions. The method of this service is In-house Training which is carried out in three stages: preparation; implementation; and evaluation. The activity was carried out at Eearly Childhood Education Institution namely TAAM Happy Kids and PAUD Melati Ceria, Andir District, Bandung City with a total of 12 teachers for eight meetings. The pre-post test results show an increase in the average score from 73.33 in the pre-test to 87.5 in the post-test, indicating that In-house Training (IHT) activities have a positive impact on teachers' understanding of the Merdeka Curriculum. This In-house Training also improves teachers' ability to implement the Merdeka Curriculum in PAUD, which indicates that this In-house Training activity has succeeded in increasing educators' understanding and skills in designing and implementing effective learning. Keywords: In-house Training, Merdeka Curriculum, Early Childhood Education, Teacher Competency Improvement
PENINGKATAN KAPASITAS GURU DAERAH PERBATASAN DALAM IMPLEMENTASI KURIKULUM MERDEKA Eppendi, Jhoni; Alogori, Ahsin; Vega, Nohvia De
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.32075

Abstract

ABSTRAK                                                                            Keterbatasan geografis dan infrastruktur digital menjadi tantangan utama dalam pemerataan akses pengembangan profesional guru, terutama di wilayah perbatasan seperti Kecamatan Sebuku, Kabupaten Nunukan. Guru-guru di wilayah ini menghadapi kesulitan untuk mengikuti pelatihan Kurikulum Merdeka secara berkelanjutan karena mahalnya biaya transportasi dan lemahnya jaringan internet. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan untuk meningkatkan kapasitas guru dalam mengimplementasikan Kurikulum Merdeka melalui pelatihan intensif berbasis workshop yang partisipatif dan kontekstual. Kegiatan dilaksanakan selama empat hari (31 Oktober–3 November 2023) di SDN 01 Sebuku, melibatkan 60 guru dari 10 sekolah dasar. Metode pelaksanaan mencakup paparan materi inti (CP, ATP, dan P5), diskusi kelompok, simulasi penyusunan perangkat ajar, presentasi hasil, dan pemberian umpan balik langsung. Hasil kegiatan menunjukkan bahwa 80% peserta telah memahami pengembangan ATP, modul ajar, dan modul P5, meskipun masih dibutuhkan pendampingan pada aspek penyesuaian langkah pembelajaran dan perencanaan kegiatan karakter yang lebih lengkap. Respons positif dari Dinas Pendidikan dan Kepala Sekolah mitra menunjukkan bahwa kegiatan ini relevan dan menjawab kebutuhan guru di wilayah perbatasan. Pelatihan ini tidak hanya memperkuat kompetensi praktis guru, tetapi juga menegaskan pentingnya kolaborasi multisektor dalam menjembatani kesenjangan akses pendidikan. Kata Kunci: Kurikulum Merdeka; Pengembangan Profesional; Guru Daerah Perbatasan; Pengabdian Masyarakat ABSTRACT Geographical isolation and limited digital infrastructure pose significant challenges in ensuring equitable access to teacher professional development, particularly in border regions such as Sebuku District and Nunukan Regency. Teachers in these areas face difficulties participating in continuous training on the Merdeka Curriculum due to high transportation costs and weak internet connectivity. This community service program aimed to enhance teachers' capacity to implement the Merdeka Curriculum through an intensive, participatory, and context-based workshop. The program was conducted over four days (October 31 to November 3, 2023) at SDN 01 Sebuku and involved 60 elementary school teachers from 10 partner schools. The implementation method included core material delivery (CP, ATP, and P5), group discussions, instructional material development simulations, group presentations, and direct feedback sessions. Results indicated that 80% of participants demonstrated an adequate understanding of developing ATPs, teaching modules, and P5-based materials. However, minor support is still needed in adapting instructional steps and designing comprehensive character development activities. Positive responses from the local Education Office and partner school principals affirmed the relevance and effectiveness of this initiative. The training strengthened teachers' practical competencies and highlighted the importance of multisectoral collaboration in bridging the educational access gap in remote and underserved regions.Keywords: Merdeka Curriculum; Border Area Teachers; Professional Development; Community Service
MEMBANGUN ENTREPRENEURIAL BEHAVIOR PENGRAJIN UANG KEPENG DI KAMASAN, KLUNGKUNG, BALI Kusumawijaya, Ida Ketut; Astuti, Partiwi Dwi; Wartana, I Made Hedy; Adi, I Ketut Yudana
Journal of Community Empowerment Vol 4, No 1 (2025): Juni
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jce.v4i1.31177

Abstract

ABSTRAK                                                                            Inisiatif pengabdian masyarakat ini dilakukan di Desa Kamasan, Klungkung, Bali, yang terkenal dengan kerajinan uang kepeng namun menghadapi tantangan terhadap keberlanjutan dan infrastruktur kewirausahaan yang terbatas. Program ini bertujuan mengembangkan entrepreneurial behavior di kalangan pengrajin uang kepeng melalui peningkatan kapasitas inovasi, respons terhadap pasar, dan praktik bisnis berkelanjutan. Dengan menggunakan model penelitian tindakan partisipatif pada 11 pengrajin, program ini melibatkan mereka dalam semua tahap identifikasi masalah, pengembangan solusi, dan evaluasi perilaku. Tiga tahap implementasi, yakni penilaian awal, lokakarya peningkatan kapasitas, dan penilaian akhir, dirancang untuk membangun kompetensi kewirausahaan. Pelatihan terstruktur berfokus pada pengembangan ide, promosi, dan realisasi, dengan umpan balik berkelanjutan untuk perbaikan iteratif. Hasilnya menunjukkan peningkatan signifikan dalam enam indikator kewirausahaan, terutama dalam menghasilkan ide hijau baru yang menandakan peningkatan inovasi dan kesadaran lingkungan. Meskipun ada sedikit variabilitas pada skor promosi ide, data mengonfirmasi efektivitas program. Analisis demografis menunjukkan dominasi peserta pria yang lebih tua, menyoroti kesenjangan generasi dan gender. Program ini berkontribusi pada pemberdayaan masyarakat dan pengembangan teori kewirausahaan yang berakar pada budaya. Kata kunci: Membangun; entrepreneurial behavior; uang kepeng; pengrajin; kamasan. ABSTRACTThis community service initiative was conducted in Kamasan Village, Klungkung, Bali, which is renowned for its uang kepeng craft but faces challenges regarding sustainability and limited entrepreneurial infrastructure. The program aimed to develop entrepreneurial behavior among uang kepeng craftsmen through enhancing their capacity for innovation, market responsiveness, and sustainable business practices. Using a participatory action research model with 11 craftsmen, the program involved them in all stages of problem identification, solution development, and behavioral evaluation. Three implementation stages—pre-assessment, capacity-building workshops, and post-assessment—were designed to build entrepreneurial competencies. Structured training focused on idea development, promotion, and realization, with continuous feedback for iterative improvements. The results showed a significant improvement in six entrepreneurial indicators, particularly in generating new green ideas, indicating increased innovation and environmental awareness. Although there was slight variability in idea promotion scores, the data confirmed the program's effectiveness. The demographic analysis showed the dominance of older male participants, highlighting generational and gender gaps. This program contributed to community empowerment and the development of entrepreneurship theory rooted in culture. Keywords: Constructing; entrepreneurial behavior; uang kepeng; craftsmen; kamasan.

Page 10 of 26 | Total Record : 260