cover
Contact Name
Samadi
Contact Email
jurnalagripet@usk.ac.id
Phone
+6281383736633
Journal Mail Official
jurnalagripet@usk.ac.id
Editorial Address
Animal Husbandry Department, The Faculty of Agriculture, Universitas Syiah Kuala Jln. Tgk. H. Hasan Krueng Kalee No. 3, Kopelma Darussalam, Banda Aceh, 23111, Aceh, Indonesia
Location
Kab. aceh besar,
Aceh
INDONESIA
Jurnal Agripet
ISSN : 14114623     EISSN : 24604534     DOI : https://doi.org/10.17969/agripet
Core Subject : Agriculture,
Aims Jurnal Agripet aims to publish original research results on farm tropical animals such as cattle, buffaloes, sheep, goats, horses, poultry, etc. Scope Jurnal Agripet encompasses a broad range of research topics in animal sciences and biotechnology including animal physiology and nutrition, feed processing and technology, animal productions, animal genetics, breeding and reproduction, meat and milk sciences, animal health, behavior and welfare, animal housing and livestock farming system.
Articles 462 Documents
Stimulus Pertumbuhan Organ Reproduksi Ayam Buras Betina melalui Aplikasi Pemberian Phytoestrogen dari Kelompok Isoflavonoid Hasil Ekstrak Limbah Edamame Nurkholis, Nurkholis; Nusantoro, Suluh; Setiawan, Dwi Agus; Andriani, Mira; Syahniar, Theo Mahiseta
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.27727

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi pertumbuhan dan perkembangan organ reproduksi ayam buras betina yang diberi flavonoid dari ekstrak limbah kedelai edamame. Penelitian dilakukan dalam dua tahap; kuantifikasi total flavonoid ekstrak limbah kedelai edamame dan eksperimen menggunakan ayam buras berumur 8-16 minggu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Kelompok (RAK) terdiri atas empat kelompok umur dan lima perlakuan pemberian ekstrak limbah edamame per oral, dengan level 0% (P0), 0,02% (P1), 0,04% (P2), 0,08% (P3), dan 0,16% (P4) dari jumlah pakan yang diberikan. Variabel yang diamati yaitu pertambahan bobot badan (PBB), berat organ reproduksi, dan panjang saluran reproduksi. Data yang diperoleh dianalisis dengan analisis varian dan uji lanjut menggunakan Duncan. Hasil uji kuantitatif menunjukkan bahwa ekstrak limbah edamame mengandung senyawa flavonoid dari golongan isoflavon dan secara kuantitatif diperoleh 40 ppm total flavonoid. Penggunaan ekstrak limbah edamame secara signifikan meningkatkan PBB, panjang saluran reproduksi, dan berat organ (P0,05).(Stimulus for reproductive organs growth of female domestic chickens through phytoestrogens application of isoflavones group from edamame waste extracts)ABSTRACT. This study aimed to access the growth and development of female domesticated chicken reproductive organs after being treated with the addition of flavonoid compound from extract of edamae waste. The research consisted of two experiments; quantification of flavonoids compounds in edamame waste and feeding trial using female domesticated chickens (aged 4-16 weeks). The later used Randomized Block Design, consisted of four groups and five treatments (addition of edamame waste extract at 0%, 0.02%, 0.04%, 0.08%, and 0.16% of the amount of feed given). The variables observed were body weight gain, reproductive organ weight, and reproductive tract length. The data obtained were analyzed using analysis of variance analysis of variance (ANOVA) and Duncan's test. The phytochemical test showed that the edamame waste extract contained flavonoid compounds from the isoflavone group. The addition of edamame waste extract significantly affected body weight gain, reproductive tract length, and reproductive organ weight (P0.05).
Perbedaan Viskositas Mucous Serviks dan Tipologi Ferning pada Sapi Aceh Repeat Breeding dan Fertil Thasmi, Cut Nila; Herrialfian, Herrialfian; Husnurrizal, Husnurrizal; Hafizuddin, Hafizuddin; Sutriana, Amalia; Dasrul, Dasrul; Titit, Marcelus Ferdinandez; Reza, Muhammad
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.34687

Abstract

ABSTRAK. Efisiensi reproduksi ternak sangat ditentukan berdasarkan deteksi estrus. Terdapat beberapa indikator estrus yang dapat dijadikan patokan deteksi estrus diantaranya keluarnya mucous serviks. Mucous serviks akan diamati sifat fisiknya diantaranya warna, (tampilan), konsistensi (viskositas), elastisitas, tipologi ferning dan pH. Pengamatan terhadap nilai viskositas dan tipologi ferning mucous serviks dibagi menjadi dua faktor utama dalam penelitian ini. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbedaan viskositas mucous serviks dan tipologi ferning pada sapi Aceh repeat breeding dan sapi Aceh fertil. Dalam penelitian ini digunakan 10 ekor sapi Aceh, terdiri dari 6 ekor sapi fertil dan 4 ekor sapi repeat breeding berumur 3-5 tahun yang telah disinkronisasi dengan prostaglandin F2 alpha (PGF2) sebanyak 5 mL secara intra muskulus dengan pola penyuntikan tunggal. Penentuan viskositas mucous serviks diukur berdasarkan nilai spinnbarkeit yang dideteksi pada saat puncak estrus. Untuk menentukan tipology ferning, mucous serviks dioleskan di atas objek glass, lalu dikeringkan selanjutnya diamati di bawah mikroskop. Tipologi ferning diklasifikasikan berdasarkan kriteria tipikal, atipikal, dan nihil. Data yang diperoleh dianalisis secara deskriptif dan uji T. Hasil penelitian menunjukkan terdapat tidak ada perbedaan viskositas mucous serviks, namun terlihat adanya perbedaan tipology ferning antara sapi Aceh repeat breeding dan fertil.(Differences in cervical mucous viscosity and ferning typology in repeat breeding and fertile Aceh cows)ABSTRACT. Reproductive efficiency of livestock is determined based on estrus detection. There are several indicators of estrus that can be used as a benchmark for estrous detection, including cervical mucous discharge. Cervical mucus will be observed for its physical properties including color, (appearance), consistency (viscosity), elasticity, ferning and pH. Observation of the viscosity value and typology of cervical ferning mucous was divided into two main factors in this study. The purpose of the study was to identify the variations in mucous cervical ferning between fertile Aceh cattle and repeat breeding. In this study, 10 Aceh cattle were used, consisting of 6 fertile cattle and 4 repeat breeding aged 3-5 years which had been synchronized with 5 mL of prostaglandin F2 alpha (PGF2) intramuscularly with a single injection pattern. The determination of cervical mucous viscosity is measured based on the spinnbarkeit value detected at the peak of estrus. To determine the ferning typology, cervical mucous was applied to the glass object, allowed to dry, and then examined under a microscope. Ferning typology was classified based on the criteria of typical, atypical, and nil. The data obtained were analyzed descriptively and T-test. The results showed that there was no difference in cervical mucous viscosity, but there was a difference in ferning typology between repeat breeding and fertile Aceh cows.
An Exploratory Study of Beef Cattle Farming Systems: A Comparative Analysis of Cut and Carry in Java vs. the Pastoral System in Sumba Island, Indonesia Setianto, Novie Andri; Sodiq, Akhmad; Sumarmono, Juni; Kii, Wilhelmus Yape; Widiyanti, Rahayu; Haryoko, Imbang
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.34072

Abstract

ABSTRACT. This study aims to explore the differences between beef cattle farming systems in Java and Sumba. The research was conducted using a survey method in three districts, two districts in Central Java and one district in Sumba Island, NTT. Data analysis used a descriptive qualitative approach, with the CATWOE Analysis framework to determine the perspectives of stakeholders involved in the beef cattle farming business system. Beef cattle farming in Java has been characterized by a cut and carry system, while in Sumba with a pasture grazing system. The research shows that the main purpose of cattle rearing in Java is to generate income for the family, so more and more are running enlargement and fattening businesses. Cattle rearing in Sumba is prioritized for savings for traditional purposes. Farmers in Sumba predominantly breed cattle without additional feed to save on maintenance costs. Farmers are still faced with the problem of unfairness in pricing. The study concluded that farmers show adaptive ability in allocating their resources to obtain profits. Differences in farming paradigms need to be considered in the preparation of livestock development programs.(Studi eksploratif pada sistem pemeliharaan sapi potong: analisis komparatif pada sistem cut and carry di jawa dengan sistem penggembalaan pastura di pulau Sumba, Indonesia)ABSTRAK. Peternakan sapi potong di Jawa selama ini dicirikan dengan cut and carry sistem, sedangkan di Sumba dengan sistem penggembalaan di pastura. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan eksplorasi lebih mendalam tentang perbedaan sistem usaha peternakan sapi potong di Jawa dengan di Sumba. Penelitian dilakukan dengan metode survey di tiga kabupaten, dua kabupaten di Jawa Tengah dan satu kabupaten di Pulau Sumba, NTT. Analisis data menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif, dengan kerangka CATWOE Analysis untuk mengetahui perspektif dari para stakeholders yang terlibat dalam sistem usaha peternakan sapi potong. Penelitian menunjukkan bahwa tujuan utama pemeliharaan sapi di Jawa adalah untuk menghasilkan pendapatan untuk keluarga, sehingga semakin banyak yang lebih menjalankan usaha pembesaran dan penggemukan. Pemeliharaan sapi di Sumba lebih diutamakan untuk tabungan untuk keperluan adat. Peternak di Sumba didominasi pembiakan sapi tanpa tambahan pakan untuk menghemat biaya pemeliharaan. Peternak masih dihadapkan pada permasalahan ketidakadilan dalam penentuan harga. Penelitian menyimpulkan bahwa peternak menunjukkan kemampuan adaptif dalam mengalokasikan sumber daya yang dimiliki untuk memperoleh keuntungan. Perbedaan paradigma beternak perlu untuk diperhatikan dalam penyusunan program pembangunan peternakan.
Pengaruh Ransum yang Mengandung Azolla microphylla terhadap Indeks Kuning, Indeks Putih dan Haugh Unit Telur Ayam Ramadhan, Rahmad Fani; Aulia, Nazilla; Rusmana, Denny; Mansyur, Mansyur
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.33500

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ransum yang mengandung azolla (Azolla microphylla) terhadap indeks kuning telur, indeks putih telur dan haugh unit telur ayam. Azolla merupakan tanaman paku air yang pertumbuhan cepat dan dapat dijadikan bahan pakan alternatif untuk ayam petelur. Penelitian menggunakan 48 ekor ayam petelur strain ISA Brown berumur 54 minggu di Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan (P0= ransum tanpa azolla; P1= ransum dengan 5% azolla; P2= ransum dengan 10% azolla; dan P3= ransum dengan 15% azolla) dan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum yang mengandung azolla berpengaruh tidak nyata (P0,05) terhadap indeks putih telur, indeks kuning telur dan haugh unit telur. Penggunaan azolla sampai taraf 15% menghasilkan nilai yang sama terhadap indeks kuning telur, indeks putih telur dan haugh unit telur ayam.(Growth and production of Indigofera zollingeriana in post-sand mining land with addition Fertilizer and mycorrhizae)ABSTRACT. This study aimed to determine the effect of a ration containing azolla (Azolla microphylla) on the yolk index, albumen index, and haugh unit of layers. Azolla is a water fern that grows fast and can be used as an alternative feed ingredient for laying hens. The study used 48 laying hens of the ISA Brown strain aged 54 weeks at the Faculty of Animal Husbandry, Padjadjaran University. This research was conducted experimentally using a completely randomized design (CRD) with 4 treatments and 6 replications for each treatment, P0 (ration without azolla), P1 (ration with 5% azolla), P2 (ration with 10% azolla), and P3 (ration with 15% azolla). The results showed that the ratio containing Azolla had no significant effect (P0.05) on the yolk index, albumen index, and haugh unit of layers. The use of Azolla up to 15% level produces the same value on the yolk index, albumen index, and haugh unit of layers.
Efektivitas Amoniasi, Fermentasi, dan Amoniasi Fermentasi dengan Trichoderma harzianum pada Jerami Sereh Wangi (Cymbopogon nardus) Solehudin, Solehudin; Hernaman, Iman; Ayuningsih, Budi; Pamungkas, Dicky
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.29594

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh ransum yang mengandung azolla (Azolla microphylla) terhadap indeks kuning telur, indeks putih telur dan haugh unit telur ayam. Azolla merupakan tanaman paku air yang pertumbuhan cepat dan dapat dijadikan bahan pakan alternatif untuk ayam petelur. Penelitian menggunakan 48 ekor ayam petelur strain ISA Brown berumur 54 minggu di Fakultas Peternakan, Universitas Padjadjaran. Penelitian ini dilakukan secara eksperimental dengan metode Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan 4 perlakuan (P0= ransum tanpa azolla; P1= ransum dengan 5% azolla; P2= ransum dengan 10% azolla; dan P3= ransum dengan 15% azolla) dan 6 ulangan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ransum yang mengandung azolla berpengaruh tidak nyata (P0,05) terhadap indeks putih telur, indeks kuning telur dan haugh unit telur. Penggunaan azolla sampai taraf 15% menghasilkan nilai yang sama terhadap indeks kuning telur, indeks putih telur dan haugh unit telur ayam.(Effectiveness ammoniation, fermentation and amoniated fermentation with Trichoderma harzianum in citronella straw (Cymbopogon nardus))ABSTRACT. The research was conducted to investigate effectiveness of ammoniation, fermentation and ammoniated fermentation with Trichoderma harzianum on citronella (Cymbopogon nardus) straw. The research used Completely Randomized Design (CRD) with 3 treatments: citronella straw with ammoniation treatment (P1), citronella straw with fermentation treatment (P2), and citronella straw with ammoniated fermentation treatment (P3). Each treatment was replicated five times. The parameters measured were an increase in crude protein content, an increase in Total Digestible Nutrient (TDN), a decrease in crude fiber, and a decrease in lignin. Variance analysis was conducted to determine treatment effect and followed by Multiple Range of Duncan to determine difference between treatment. The result showed that treatments give significant effect (P0.05) on increasing of crude protein, increasing of TDN, decreasing of crude fiber and decreasing of lignin. The best value processing of citronella straw was ammoniated fermentation with Trichoderma harzianum. It concluded that ammoniated fermentation with Trichoderma harzianum had the best effectiveness in processing of citronella straw.
Pertumbuhan dan Produksi Indigofera zollingeriana pada Lahan Pasca Tambang Pasir dengan Penambahan Pupuk dan Mikoriza Infitria, Infitria; Karti, Panca Dewi Manu Hara; Suharti, Sri
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.25418

Abstract

ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pertumbuhan dan produksi legum Indigofera zollingeriana pada lahan pasca tambang pasir dengan penambahan pupuk dan mikoriza. Rancangan percobaan yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) dengan enam perlakuan dan lima ulangan. Perlakuan yang diberikan adalah pupuk organik berupa pupuk kandang kambing, pupuk anorganik berupa NPK, FMA (Fungi Mikoriza Arbuskula), MPF (Mikroba Pelarut Fosfat) dan pupuk hayati berupa Asam humat. Hasil penelitian memperlihatkan bahwa perlakuan P1 sampai P6 pada pertumbuhan legum Indigofera zollingeriana dengan pemberian pupuk organik, anorganik dan hayati tidak memberikan pengaruh nyata terhadap tinggi tanaman, diameter batang dan jumlah tangkai Indigofera zollingeriana pada pemotongan I dan II. Perlakuan P2 sampai P6 pada produksi legum Indigofera zollingeriana memperlihatkan pengaruh yang sangat nyata (P0,01) terhadap produksi tanaman pada berat kering daun dan berat kering ranting pemotongan I. Perlakuan P1 sampai P6 pada berat kering batang pemotongan I, berat kering daun pemotongan ke II, berat kering batang pemotongan ke II, berat kering ranting pemotongan ke II, produksi biomassa dan berat kering akar tidak memperlihatkan pengaruh nyata. Kesimpulan dari penelitian adalah Pemberian pupuk organik, dan FMA tidak berpengaruh terhadap pertumbuhan, namun penambahan pupuk NPK dapat meningkatkan pertumbuhan dan produktivitas tanaman Indigofera zollingeriana pada lahan pasca tambang pasir.(Growth and production of Indigofera zollingeriana in post-sand mining land with addition Fertilizer and mycorrhizae)ABSTRACT. This research aims to determine the growth and production of Indigofera zollingeriana legumes on post-sand mining land with the addition of fertilizer and mycorrhiza. The experimental design used was a Completely Randomized Design (CRD) with six treatments and five replications. The treatment given is organic fertilizer in the form of goat drum fertilizer, inorganic fertilizer in the form of NPK, AMF (Arbuscular Mycorrhizal Fungi), MPF (Phosphate Solvent Microbes) and biological fertilizer in the form of humic acid. The results of the research showed that treatment P1 to P6 on the growth of Indigofera zollingeriana legumes by providing organic, inorganic and biological fertilizers did not have a significant effect on plant height, stem diameter and number of Indigofera zollingeriana stalks at cuttings I and II. Treatments P2 to P6 on the production of Indigofera zollingeriana legumes showed a very significant effect on (P0.01) plant production on dry weight of leaves and dry weight of twigs cut I. Treatments P1 to P6 on dry weight of stems cut I, dry weight of leaves cut II, dry weight of second cutting stems, dry weight of second cutting twigs, biomass production and root dry weight did not show a significant effect. The conclusion of the research is that the provision of organic fertilizer and AMF has no effect on growth, but the addition of NPK fertilizer can increase the growth and productivity of Indigofera zollingeriana plants on post-sand mining land.
Environmental Factors Influence the Infestation of Gastrointestinal Nematodes in Cattle in Aceh Province Zulfikar, Zulfikar; Umar, Sayed; Ferasyi, Teuku Reza; Tafsin, Maruf; Sidabukke, Simon
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.33336

Abstract

ABSTRACT. One is the obstacles faced by cattle breeders is the emergence of diseases caused by environmental influences, such as infestation with gastrointestinal nematode worm parasites (digestive tract worms) so that rearing results are non optimal. Due to this, it is necessary to create a model and strategy for controlling diseases that are often affected, especially those caused by environmental conditions, both from the micro environment (climate) and the macro environment (maintenance management) and this is a necessity in order to obtain maximum production and productivity. The goal of this study was to see how environmental conditions affected the presence of gastrointestinal nematode worms in cattle. This study focused on the prevalence and severity of gastrointestinal nematode worm infestation in cattle in Aceh Province's lowland and highland environments. The research was conducted between February-August 2017 in three lowland districts ( 200 masl) with a sample 307 tail and three highland districts ( 600 masl) with a sample 205 tail. According to the study's findings, topographic variations, wet days, and rainfall all had an impact on the prevalence and degree of gastrointestinal nematode worm infestation in cattle (lowland environments had a higher prevalence and degree of infestation than upland environments (P0,05). In the meantime, lowlands maintenance management seemed riskier than highlands maintenance management (P0.01).Pengaruh faktor lingkungan terhadap infestasi nematoda gastrointestinal pada sapi di Provinsi AcehABSTRAK. Salah satu kendala yang dihadapi para peternak sapi adalah munculnya penyakit yang disebabkan pengaruh lingkungan, seperti adanya infestasi parasit cacing nematoda gastrointestinal (cacing saluran pencernaan) sehingga hasil pemeliharaan tidak optimal. Oleh sebab itu, perlu dibuat suatu model dan strategi pengendalian penyakit yang sering terkena dampaknya, terutama yang disebabkan oleh kondisi lingkungan, baik dari lingkungan mikro (iklim) maupun lingkungan makro (manajemen pemeliharaan) dan menjadi suatu keharusan supaya mendapatkan produksi dan produktivitas yang maksimal. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh faktor-faktor di lingkungan terhadap kehadiran cacing nematoda gastrointestinal pada sapi. Secara khusus penelitian ini menganalisis prevalensi dan derajat infestasi cacing nematoda gastrointestinal pada ternak sapi di lingkungan dataran rendah dan dataran tinggi Provinsi Aceh. Penelitian dilaksanakan antara bulan Februari-Agustus 2017 pada tiga kabupaten dataran rendah (200 mdpl) dengan jumlah sampel 307 ekor dan tiga kabupaten dataran tinggi (600 mdpl) dengan jumlah sampel 205 ekor. Hasil penelitian menunjukkan bahwa faktor lingkungan seperti perbedaan topografi, hari hujan dan curah hujan berpengaruh terhadap kemunculan cacing nematoda gastrointestinal pada sapi dengan lingkungan dataran rendah lebih tinggi prevalensi dan derajat infestasi daripada dataran tinggi (P0,05). Sementara dari segi manajemen pemeliharaan terlihat sangat berisiko di dataran rendah daripada dataran tinggi (P0,01).
Polymorphisms of IGF-1 Gene in Indonesian Local Goat Reared Under Smallholder Farmers in Sulawesi Region Rahim, Lellah; Dagong, Muhammad Ihsan Andi; Bugiwati, Sri Rachma Aprilita; Purnomo, Nurul
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.28830

Abstract

ABSTRACT. The objective of this study was to determine the allele frequency of IGF-1 in Kacang and Peranakan Ettawa goats in Indonesia. The DNA samples were extracted from the blood of 105 heads of goats and collected from the South Sulawesi and West Sulawesi provinces. The IGF-1 target was amplified using the PCR-RFLP method. Two allele variants (A and B) and three genotypes of the IGF-1 gene (AA, AB, and BB) have been identified in the local goat population. Allele frequencies of IGF-1 were A (0.81) and B (0.19) in the total population of local goats. Allele A is the most common allele in both the Kacang and Peranakan Ettawa goat populations, with the highest frequency found in the Kacang population (0.87). The most common genotype is genotype AA, with the highest frequency in the Kacang population (0.75). The observed and expected heterozygosity were 0.276 and 0.303, respectively. The population of local goats in these regions was in Hardy-Weinberg equilibrium. The conclusion of this research is that the IGF-1 gene in local goats in the Sulawesi region is polymorphic and this diversity information can be used for association studies with growth traits, litter size, and twinning rate.(Polimorpisme gen IGF-1 pada populasi kambing lokal Indonesia yang dipelihara oleh peternak kecil di daerah Sulawesi)ABSTRAK. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui frekuensi alel IGF-1 pada kambing Kacang dan Peranakan Ettawa di Indonesia. Sampel DNA diambil dari darah 105 ekor kambing dan dikumpulkan dari Provinsi Sulawesi Selatan dan Sulawesi Barat. Target IGF-1 diamplifikasi menggunakan metode PCR-RFLP. Dua varian alel (A dan B) dan tiga genotipe gen IGF-1 (AA, AB, dan BB) telah diidentifikasi pada populasi kambing lokal. Frekuensi alel IGF-1 adalah A (0,81) dan B (0,19) pada total populasi kambing lokal. Alel A merupakan alel yang paling banyak ditemukan baik pada populasi kambing Kacang maupun kambing Peranakan Ettawa, dengan frekuensi tertinggi terdapat pada populasi Kacang (0,87). Genotipe yang paling umum adalah genotipe AA, dengan frekuensi tertinggi pada populasi Kacang (0,75). Heterozigositas yang diamati dan diharapkan adalah 0,276 dan 0,303, masing-masing. Populasi kambing lokal di wilayah ini berada dalam keseimbangan Hardy-Weinberg. Kesimpulan yang dihasilkan adalah bahwa gen IGF-1 pada kambing lokal yang dipelihara oleh peternak di wilayah Sulawesi bersifat polimorfik dan informasi keragaman ini dapat digunakan untuk studi asosiasi dengan sifat pertumbuhan, litter size dan kelahiran kembar.
Proteksi Bungkil Kedelai dengan Ekstrak Daun Mahoni terhadap Produk Fermentasi Rumen dan Kecernaan In vitro Ifani, Merryafinola; Suhartati, F.M.; Rimbawato, Efka Aris; Subagyo, Yusuf; Syamsi, Afduha Nurus; Widodo, Hermawan Setyo
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.20419

Abstract

ABSTRACT. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh proteksi bungkil kedelai menggunakan ekstrak daun mahoni terhadap produk VFA total, konsentrasi N-NH3, kecernaan bahan kering, dan kecernaan bahan organik secara in vitro. Bahan yang digunakan adalah bungkil kedelai, daun mahoni, cairan rumen sapi potong, serta reagen untuk analisis konsentrasi amonia dan VFA. Penelitian dilakukan dalam tiga tahap yaitu ekstraksi mahoni, proteksi protein dengan ekstrak mahoni, dan tahap in vitro. Penelitian bersifat eksperimental dengan tiga tahap, yaitu ekstraksi mahoni menggunakan metode soxhlet, pencampuran ekstrak mahoni dengan bungkil kedelai, dan uji kecernaan menggunakan metode in vitro. Hasil penelitian dianalisis menggunakan rancangan acak lengkap dengan 4 perlakuan dan 6 ulangan sehingga terdapat 24 unit percobaan. Perlakuan terdiri dari P0 (bungkil kedelai + ekstrak mahoni 0%), P1 (bungkil kedelai + ekstrak mahoni 1,5%), P2 (bungkil kedelai + ekstrak mahoni 3%) dan P3 (bungkil kedelai + ekstrak mahoni 4,5%). Pengukuran VFA total menggunakan metode distilasi uap dan N-NH3 dengan teknik difusi mikro Conway. Penelitian dilakukan di Laboratorium Ilmu Nutrisi dan Makanan Ternak (INMT) Fakultas Peternakan, Universitas Jenderal Soedirman. Pengukuran hasil tersebut dianalisis secara statistik dengan analisis variansi, jika terdapat perbedaan lebih lanjut diuji menggunakan ortogonal polinomial. Hasil penelitian menunjukkan bahwa perlindungan bungkil kedelai dengan ekstrak mahoni berpengaruh nyata terhadap produk VFA total, N-NH3, kecernaan bahan kering dan kecernaan bahan organik (P0,05). Pemberian bungkil kedelai terproteksi ekstrak daun mahoni berpengaruh secara kubik dengan persamaan berturut-turut Y= 99,67 36,44X + 18,19X2 2,12X3 (R= 0,98); Y= 14 + 0,798X 0,370X2 + 0,055X3 (R= 0,66); Y= 60,30 - 2,89X + 2,67X2 - 0,38X3 (R= 0,65); dan Y= 59,58 2,65X + 1,79X2 0,19X3 (R= 0,91). Berdasarkan VFA total, konsentrasi N-NH3, kecernaan bahan kering, dan kecernaan bahan organik disimpulkan bahwa penambahan ekstrak mahoni taraf 3% efisien.(Protection of soybean meal with mahogany leaf extract on rumen fermentation products and in vitro digestibility)ABSTRAK. The aim of this study was to determine the protective effect of soybean meal using mahogany leaf extract on VFAs product, N-NH3 concentration, dry matter digestibility, and organic matter digestibility in vitro. The materials used were mahogany leaves, beef cattle rumen fluid, and reagents for analysis of ammonia and VFA concentrations. The research was conducted in three stages, mahogany extraction, protein protection with mahogany extract, and in vitro stages. The research was experimental with in vitro method using a completely randomized design with 4 treatments and 6 replications so that there were 24 experimental units. The treatments consisted of P0 (soybean meal + 0% mahogany extract), P1 (soybean meal + 1.5% mahogany extract), P2 (soybean meal + 3% mahogany extract) and P3 (soybean meal + 4.5% mahogany extract). Measurement of total VFA using the steam distillation method and N-NH3 with the Conway micro diffusion technique (Smith et al., 2005). The research was carried out at the Animal Nutrition and Forage Science Laboratory (INMT), Faculty of Animal Science, Jenderal Soedirman University. Measurement The results were analyzed statistically by analysis of variance, if there were further differences tested using orthogonal polynomial. The results showed that the protection of soybean meal with mahogany extract significantly affected the total VFA product, N-NH3, dry matter digestibility and organic matter digestibility (P 0.05). It can be concluded that the addition of 3% level mahogany extract is efficient in increasing the total VFA product, N-NH3 concentration, dry matter digestibility, and organic matter digestibility.
Karakterisasi Dedak Padi dan Campuran Sekam Padi berdasarkan Sifat Fisik dan Kimia Rosani, Urip; Hernaman, Iman; Hidayat, Rahmat; Hidayat, Darmawan
Jurnal Agripet Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024
Publisher : Faculty of Agriculture

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.17969/agripet.v24i1.33257

Abstract

ABSTRACT. Mengetahui karakteristik bahan berdasarkan sifat fisik dan kimia adalah sangat penting, agar dalam perancangan dan penarikan kesimpulan penelitian lebih akurat. Terutama penelitian dedak padi yang mempunyai kualitas yang beragam karena sangat ditentukan oleh metode dan mesin pada proses penggilingan gabah. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui karakteristik dedak padi berdasarkan fraksi dan campurannya dengan sekam padi dengan berbagai metode evaluasi. Penelitian menggunakan dedak padi galur lokal unggul Banowati dari Desa Sindangsari, Sumedang. Penelitian tahap pertama untuk mengetahui karakteristik dedak padi berdasarkan fraksi ukuran partikel menggunakan saringan dengan mesh 10, 20, 30, 40 dan 50. Tahap kedua untuk mengetahui karakteristik campuran dedak padi dan sekam dengan proporsi 100, 75, 50, 25 dan 0 % dengan ukuran lolos mesh 30. Parameter yang diukur adalah Persentase ukuran partikel, gambaran visual, densitas, porositas, kandungan nutrien dan kandungan lignin. Hasil penelitian menunjukkan bahwa fraksi dedak padi berdasarkan ukuran partikel/mesh mempunyai karakteristik yang berbeda, perbedaan tersebut pada komposisi, kandungan nutrien, lignin, densitas dan porositas. Protein kasar mesh 30 sebesar 13,41%, mesh 40 sebesar 13,08%, dan mesh 50 sebesar 13,60. Uji lignin mesh 30, 40, dan 50 menunjukkan warna coklat terang. Berdasarkan sifat fisik dan kimia dedak padi lolos mesh 30, 40 dan 50 yang terbaik. Dedak padi yang dicampur dengan sekam padi yang semakin tinggi, maka semakin rendah nilai nutrien, kandungan lignin semakin tinggi, densitas dan porositas nya semakin tinggi.(Characterization of rice bran and rice husk mixture based on physical and chemical properties)ABSTRAK. Knowing the characteristics of materials based on their physical and chemical properties is very important for designing and drawing research conclusions more accurately. Especially rice bran research, which has a variety of quality because it is determined by the method and machine in the grain milling process. The purpose of this study was to determine the characteristics of rice bran based on its fraction and mixture with rice husks using various evaluation methods. The study used Banowati superior local strain rice bran from Sindangsari, Sumedang Village. The first stage of research was to determine the characteristics of rice bran based on particle size fractions using sieves with meshes of 10, 20, 30, 40, and 50. The second stage is to determine the characteristics of a mixture of rice bran and husk with proportions of 100, 75, 50, 25, and 0% with a mesh pass size of 30. The parameters measured are particle size percentage, visual image, density, porosity, nutrient content, and lignin content. The results showed that rice bran factions based on particle or mesh size have different characteristics, including differences in composition, nutrient content, lignin, density, and porosity. Crude protein mesh 30 is 13.41%, mesh 40 is 13.08%, and mesh 50 is 13.60. Lignin mesh assays 30, 40, and 50 show a light brown color. Based on the physical and chemical properties of rice bran, meshes 30, 40, and 50 are the best. The higher the rice bran mixed with rice husks, the lower the nutrient value, and the higher the lignin content, the higher the density and porosity.

Page 3 of 47 | Total Record : 462


Filter by Year

2000 2025


Filter By Issues
All Issue Vol 25, No 2 (2025): Volume 25, No. 2 October 2025 Vol 25, No 1 (2025): Volume 25, No. 1, April 2025 Vol 24, No 2 (2024): Volume 24, No. 2, October 2024 Vol 24, No 1 (2024): Volume 24, No. 1, April 2024 Vol 23, No 2 (2023): Volume 23, No. 2, Oktober 2023 Vol 23, No 1 (2023): Volume 23, No. 1, April 2023 Vol 22, No 2 (2022): Volume 22, No. 2, Oktober 2022 Vol 22, No 1 (2022): Volume 22, No. 1, April 2022 Vol 21, No 2 (2021): Volume 21, No. 2, Oktober 2021 Vol 21, No 1 (2021): Volume 21, No. 1, April 2021 Vol 20, No 2 (2020): Volume 20, No. 2, Oktober 2020 Vol 20, No 1 (2020): Volume 20, No. 1, April 2020 Vol 19, No 2 (2019): Volume 19, No. 2, Oktober 2019 Vol 19, No 1 (2019): Volume 19, No. 1, April 2019 Vol 18, No 2 (2018): Volume 18, No. 2, Oktober 2018 Vol 18, No 1 (2018): Volume 18, No. 1, April 2018 Vol 17, No 2 (2017): Volume 17, No. 2, Oktober 2017 Vol 17, No 1 (2017): Volume 17, No. 1, April 2017 Vol 16, No 1 (2016): Volume 16, N0. 1, April 2016 Vol 16, No 2 (2016): Volume 16, No. 2, Oktober 2016 Vol 15, No 1 (2015): Volume 15, N0. 1, April 2015 Vol 15, No 2 (2015): Volume 15, No. 2, Oktober 2015 Vol 14, No 2 (2014): Volume 14, No. 2, Oktober 2014 Vol 14, No 1 (2014): Volume 14, No. 1, April 2014 Vol 13, No 2 (2013): Volume 13, No. 2, Oktober 2013 Vol 13, No 1 (2013): Volume 13, No. 1, April 2013 Vol 12, No 2 (2012): Volume 12, No. 2, Oktober 2012 Vol 12, No 1 (2012): Volume 12, No. 1, April 2012 Vol 11, No 2 (2011): Volume 11, No. 2, Oktober 2011 Vol 11, No 1 (2011): Volume 11, No. 1, April 2011 Vol 10, No 2 (2010): Volume 10, No. 2, Oktober 2010 Vol 10, No 1 (2010): Volume 10, No. 1, April 2010 Vol 9, No 2 (2009): Volume 9, No. 2, Oktober 2009 Vol 9, No 1 (2009): Volume 9, No. 1, April 2009 Vol 8, No 2 (2008): Volume 8, No. 2, Oktober 2008 Vol 8, No 1 (2008): Volume 8, No. 1, April 2008 Vol 7, No 2 (2007): Volume 7, No. 2, Oktober 2007 Vol 7, No 1 (2007): Volume 7, No. 1, April 2007 Vol 3, No 1 (2002): Volume 3, No. 1, April 2002 Vol 2, No 2 (2001): Volume 2, No. 2, Oktober 2001 Vol 2, No 1 (2001): Volume 2, No. 1, April 2001 Vol 1, No 1 (2000): Volume 1, No. 1, April 2000 More Issue