Claim Missing Document
Check
Articles

Found 14 Documents
Search

Program Intervensi 1000 Hari Pertama Kehidupan di Desa Senoni, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara Anggraini, Fitria; Tandirogang, Nataniel; Yadi; Bakhtiar, Rahmat; Pramulia Yudia, Riries Choiru
Jurnal Abdimas Mandiri Vol. 9 No. 2
Publisher : UNIVERSITAS INDO GLOBAL MANDIRI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36982/jam.v9i2.5749

Abstract

Stunting merupakan masalah gizi kronis yang memerlukan intervensi pada periode 1000 Hari Pertama Kehidupan (HPK) sebagai golden age tumbuh kembang anak. Indonesia menempati urutan kelima dunia dengan prevalensi stunting 37% atau hampir 9 juta balita. Program intervensi 1000 HPK dilaksanakan di Desa Senoni, Kecamatan Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara pada 24 Mei 2025 sebagai upaya pencegahan stunting berbasis masyarakat. Kegiatan ini merupakan kolaborasi Fakultas Kedokteran Universitas Mulawarman dengan masyarakat setempat menggunakan pendekatan edukatif dan partisipatif untuk meningkatkan keterlibatan program. Metode pelaksanaan meliputi sesi edukasi oleh dr. Setya Wardana, Sp.OG dengan materi "Risiko Stunting Periode Kehamilan" dan dr. Magdalena Rusady Goey, MRes, Sp.A dengan materi "Deteksi Gangguan Tumbuh Kembang Anak", talkshow interaktif, pelayanan kesehatan komprehensif, dan evaluasi program. Hasil menunjukkan partisipasi masyarakat tinggi dengan kehadiran mencapai target 50 orang. Sesi edukasi berhasil meningkatkan pemahaman tentang pentingnya asupan gizi adekuat selama kehamilan dan deteksi dini gangguan tumbuh kembang, dibuktikan melalui wawancara 12 peserta yang menyatakan paham dan puas dengan jawaban yang diberikan. Tingginya antusiasme terlihat dari banyaknya peserta yang hadir dan mengajukan pertanyaan pada sesi talkshow interaktif. Pelayanan kesehatan komprehensif memberikan manfaat langsung melalui pemeriksaan antropometri, konsultasi medis, dan pelayanan caregiver. Pelaksanaan kegiatan mencapai dua tujuan utama: pencegahan stunting tingkat desa melalui edukasi 1000 HPK dan menciptakan model replikatif untuk wilayah lain. Program ini relevan karena merupakan inisiatif perdana pencegahan stunting yang menargetkan periode 1000 HPK di wilayah tersebut.
Efek Neuropsikiatri Halusinasi pada Pasien HIV dengan Pengobatan ARV/OAT: Pendekatan Kedokteran Keluarga: Neuropsychiatry Hallucinations on ARV/OAT Therapy HIV Patient: A Family Medicine Approach Rahayu, Hanis Kusumawati; Bakhtiar, Rahmat; Setiya, Aulia; Ramadhani, Tiara
Jurnal Sains dan Kesehatan Vol. 6 No. 3 (2024): J. Sains Kes.
Publisher : Fakultas Farmasi, Universitas Mulawarman, Samarinda, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25026/jsk.v6i3.2205

Abstract

A male 34th patient in Sempaja Health Care was diagnosed with TB-HIV. The patient came into primary health care services to take the ARV cocktail treatment. He started the medication on 2nd January 2023, he also got OAT treatment at Dirgahayu hospital.  After 4 days of consumption, the patient felt that he heard a whisper noise. This symptom is for two weeks and becomes progressively aggravated. Keywords:          HIV, ARV, Hallucination, OAT, Family Medicine   Abstrak Laki-laki 34 tahun didiagnosis dengan TB HIV di Puskesmas Sempaja. Pasien datang untuk mengambil Obat ARV (Anti Retro Virus). Pasien memulai konsumsi ARV sejak 2 Januari 2023, pasien juga mendapatkan pengobatan OAT (Obat Anti Tuberkulosis) dari Rumah Sakit Dirgahayu. Namun setelah mengkonsumsi obat pasien merasakan suara-suara bisikan, gejala ini berlangsung selama dua minggu dan semakin bertambah parah. Kata Kunci:         HIV, ARV, Halusinasi, OAT, Kedokteran Keluarga
Strengthening Self Efficacy and Self Care Practices Among People Formerly Affected by Leprosy to Reduce Disability Risk Bakhtiar, Rahmat; Duma, Krispinus; Rahayu, Hanis Kusumawati; Sawitri, Endang
Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat (Indonesian Journal of Community Engagement) Vol 11, No 4 (2025): December
Publisher : Direktorat Pengabdian kepada Masyarakat Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22146/jpkm.101798

Abstract

Disability progression among people formerly affected by leprosy can occur due to permanent nerve damage involving the hands, feet, and eyes. Consistent self care can prevent or reduce secondary injury and disability. This community service program aimed to increase self efficacy and knowledge related to self care practices. A refresher program comprising education and motivational support was delivered to 20 participants who had a history of leprosy and varying levels of disability. Self efficacy and self care activities were assessed before and after the program. At baseline, conditions that support self efficacy were limited. After the intervention, improvements were observed across multiple elements of self care, particularly reduced wound odor, improved hand condition with cleaner and softer skin, and increased use of protective footwear and gloves during work activities. Participants reported that prior successful experiences with self care and support from peers, other people formerly affected by leprosy, and family members helped strengthen self efficacy and supported more consistent self care. These findings suggest that refresher education combined with social support can reinforce self care behaviors, which may help participants maintain daily self care practices.
PARTICIPATORY EMPOWERMENT OF SELF-CARE GROUPS FOR PERSONS AFFECTED BY LEPROSY WITH DISABILITIES Bakhtiar, Rahmat; Duma, Krispinus; Sukmana, Mayusef; Tarihoran, Nurhasan; Kabir, Fahmi
Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Vol 9, No 2 (2026): Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/kumawula.v9i2.66872

Abstract

Disability and stigma among persons affected by leprosy remain important public health challenges, particularly for those living with permanent impairments. These conditions can limit physical functioning, social participation, economic independence, and overall quality of life. This community engagement program aimed to improve knowledge of self-care and disability prevention, as well as enhance the quality of life of persons affected by leprosy through a community-based empowerment approach. The program was conducted in Harapan Baru Sub-village, Sebulu Village, Kutai Kartanegara Regency, East Kalimantan, Indonesia, from May to August 2025. A total of 25 persons affected by leprosy participated, including 76% with grade 2 disability and 24% with grade 1 disability. The intervention consisted of health education, self-care training, and empowerment activities designed to promote independence and improve quality of life. Knowledge and quality of life were assessed before and after the intervention using a structured questionnaire and the Assessment of Quality of Life–4 Dimensions (AQoL-4D) instrument. The results showed improvements in both knowledge and quality of life following the intervention. The proportion of participants with high self-care knowledge increased from 4% to 36%, while the proportion with low knowledge of disability prevention decreased from 48% to 32%. Quality of life also improved, as indicated by a reduction in the proportion of participants with a high level of quality-of-life impairment from 40% to 12%. In contrast, the proportions of participants with moderate and low levels of impairment increased from 40% to 56% and from 20% to 32%, respectively. Community-based empowerment interventions that integrate health education, self-care training, and community participation can improve knowledge and quality of life among persons affected by leprosy. Sustained support from relevant stakeholders is needed to maintain independence, reduce stigma, and enhance the well-being of persons affected by leprosy.Kecacatan dan stigma pada penyintas kusta masih menjadi tantangan kesehatan masyarakat karena dapat membatasi fungsi fisik, partisipasi sosial, kemandirian ekonomi, dan kualitas hidup. Kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini bertujuan meningkatkan pengetahuan tentang perawatan diri dan pencegahan kecacatan serta meningkatkan kualitas hidup penyintas kusta melalui pendekatan pemberdayaan berbasis masyarakat. Kegiatan dilaksanakan di Dusun Harapan Baru, Desa Sebulu, Kabupaten Kutai Kartanegara, Kalimantan Timur, pada Mei–Agustus 2025. Sebanyak 25 penyintas kusta berpartisipasi, terdiri atas 76% dengan cacat tingkat 2 dan 24% dengan cacat tingkat 1. Intervensi meliputi pendidikan kesehatan, pelatihan perawatan diri, dan kegiatan pemberdayaan untuk meningkatkan kemandirian serta kualitas hidup. Pengetahuan dan kualitas hidup diukur sebelum dan sesudah intervensi menggunakan kuesioner terstruktur dan instrumen Assessment of Quality of Life-4 Dimensions (AQoL-4D). Hasil menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan dan kualitas hidup setelah intervensi. Proporsi peserta dengan tingkat pengetahuan tinggi mengenai perawatan diri meningkat dari 4% menjadi 36%, sedangkan peserta dengan pengetahuan rendah mengenai pencegahan kecacatan menurun dari 48% menjadi 32%. Pada aspek kualitas hidup, proporsi peserta dengan gangguan kualitas hidup tinggi menurun dari 40% menjadi 12%, sementara kategori gangguan sedang meningkat dari 40% menjadi 56% dan kategori gangguan rendah meningkat dari 20% menjadi 32%. Intervensi pemberdayaan berbasis masyarakat yang mengintegrasikan pendidikan kesehatan, pelatihan perawatan diri, dan keterlibatan masyarakat efektif meningkatkan pengetahuan dan kualitas hidup penyintas kusta. Dukungan berkelanjutan dari berbagai pemangku kepentingan diperlukan untuk mempertahankan kemandirian, mengurangi stigma, dan meningkatkan kesejahteraan penyintas kusta.