Claim Missing Document
Check
Articles

Found 33 Documents
Search

Peran Pendidikan Islam Dalam Menanamkan Nilai-Nilai Multikulturalisme di Sekolah Hilwa Nurul Fikriyah; Putri Nabilah; Sari, Herlini Puspika
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 3 No 2 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v3i2.939

Abstract

Di tengah keragaman budaya dan etnis di Indonesia, pendidikan Islam memiliki peran strategis dalam menanamkan nilai-nilai multikulturalisme sebagai upaya membangun harmoni dan toleransi di lingkungan sekolah. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana peran pendidikan Islam dalam menanamkan nilai-nilai multikulturalisme di sekolah. Metode penelitian yang digunakan adalah studi kepustakaan dimana seluruh data diambil melalui buku dan jurnal ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa konsep pendidikan Islam sangat sejalan dengan nilai-nilai multikulturalisme, yaitu menghargai perbedaan budaya, agama, dan etnis. Pendidikan Islam berperan dalam membentuk karakter multikultural dengan menanamkan nilai toleransi, moderasi, dan keadilan sosial melalui kurikulum yang terintegrasi, peran guru, serta kegiatan ekstrakurikuler. Selain itu, pendidikan Islam juga dapat mengurangi potensi konflik sosial dan memperkuat keharmonisan dalam masyarakat yang plural. Implikasi penelitian ini adalah pentingnya penerapan pendidikan Islam berbasis multikultural di sekolah untuk menciptakan generasi yang mampu hidup harmonis dalam keberagaman.
Membangun Karakter Islami di Era Digital: Tantangan dan Solusi Maisy Apriliany Wilanda; Irma Nur Rahmawati; Primayeni, Sari; Sari, Herlini Puspika
Jurnal QOSIM : Jurnal Pendidikan, Sosial & Humaniora Vol 3 No 2 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/jq.v3i2.940

Abstract

Perkembangan teknologi digital telah membawa dampak besar terhadap pembentukan karakter, khususnya dalam mempertahankan nilai-nilai Islami di tengah arus informasi global. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tantangan dalam membangun karakter Islami di era digital dan mengeksplorasi strategi efektif yang dapat diterapkan. Metode yang digunakan adalah studi pustaka dengan pendekatan kualitatif deskriptif-analitis terhadap berbagai literatur terkait karakter Islami, pengaruh teknologi, dan strategi pendidikan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa teknologi digital dapat menjadi peluang sekaligus ancaman bagi pembentukan karakter Islami, tergantung pada cara pemanfaatannya. Tantangan utama meliputi etika digital yang rendah, penyebaran informasi yang menyesatkan, dan menurunnya interaksi sosial yang sehat. Pendidikan karakter berbasis Islam, yang diperkuat melalui peran aktif pendidik, orang tua, dan lingkungan, terbukti mampu menjadi solusi dalam menghadapi tantangan ini. Strategi yang efektif mencakup literasi digital Islami, pendekatan pembelajaran kontekstual, serta keteladanan orang tua dan guru. Kesimpulannya, pembentukan karakter Islami di era digital membutuhkan sinergi lintas pihak dan pemanfaatan teknologi secara bijak agar nilai-nilai Islam tetap relevan dan membumi dalam kehidupan generasi muda.
Muhammad Iqbal: Filsafat Pendidikan Islami untuk Gen Z Azyati, Nikki; Selviani, Rini; Sukma, Zulista; Sari, Herlini Puspika
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 9 No. 3 (2025): Desember
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Penelitian ini membahas relevansi pemikiran pendidikan Muhammad Iqbal terhadap kebutuhan dan karakteristik Generasi Z di era digital. Masalah utama yang dikaji adalah bagaimana konsep khudi, keseimbangan spiritual-intelektual, serta pembentukan insan kamil dalam filsafat Iqbal yang dapat diimplementasikan berdasarkan pendidikan Islam kontemporer. Penelitian ini menggunakan metode studi kepustakaan (library research) dengan menganalisis karya-karya primer Iqbal dan literatur sekunder terkait pendidikan Islam modern. Hasil penelitian menunjukkan bahwa filsafat pendidikan Iqbal menawarkan landasan filosofis yang kuat untuk membentuk generasi yang kreatif, berkarakter, dan spiritual, sekaligus mampu beradaptasi dengan perkembangan teknologi. Kesimpulannya, nilai-nilai Iqbal perlu diintegrasikan ke dalam kurikulum, strategi pembelajaran, dan peran guru agar pendidikan Islam dapat mencetak generasi Z yang beriman, intelektual, dan berakhlak.
INTEGRATION OF ISLAMIC EDUCATION AND MODERN SCIENCE: BUILDING COLLABORATION WITHIN THE ISLAMIC SCIENTIFIC PARADIGM Harahap, Nazua Fatia; Azwa, Nurul; Fitriyanti, Yuli; Sari, Herlini Puspika
AL-ADABIYAH: Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol. 6 No. 4 (2025): AL-ADABIYAH: Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Published by the Islamic Religious Education Study Program Faculty of Tarbiyah and Teacher Training Kiai Haji Achmad Siddiq University, Jember, East Java, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35719/adabiyah.v6i4.1231

Abstract

The integration of Islamic education and modern science is crucial to overcoming the long-standing dichotomy that positions religious and empirical knowledge as opposing domains. This study aims to examine the conceptual foundation and practical opportunities for building a collaborative scientific paradigm that unites Islamic spiritual values with modern scientific rationality. Using a qualitative descriptive design, this research relies on library studies and content analysis of scholarly works related to Islamic epistemology, the Islamization of knowledge, and integrated education models. The findings show that the dichotomy between Islamic education and modern science stems from epistemological misconceptions influenced by secular educational systems, which separate divine revelation from rational inquiry. Islamic epistemology views all knowledge as originating from Allah and therefore positions religious and scientific disciplines as inherently interconnected. The study identifies three key areas of integration: curriculum development grounded in tawhid, reflective and interdisciplinary learning strategies, and strengthening the role of teachers as murabbi who bridge spiritual and scientific dimensions. This integrative paradigm enables the formation of ulul albab individuals—those who are intellectually critical, spiritually grounded, and ethically responsible in their use of knowledge. Consequently, Islamic education and modern science should be perceived not as competing entities but as complementary pillars that collectively contribute to building a holistic, civilized, and God-centered educational system.
Membumikan Adab: Menyingkap Gagasan Al-Attas sebagai Fondasi Pendidikan Karakter Generasi Z Nabila, Mutiara; Manasikana, Arina; Mumtaza, Ukhty; Sari, Herlini Puspika
JURNAL LENTERA [PENDIDIKAN PUSAT PENELITIAN LPPM UM METRO] Vol 10, No 2 (2025): Jurnal Lentera Pendidikan Pusat Penelitian LPPM UM Metro
Publisher : LPPM UM Metro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24127/jlpp.v10i2.4671

Abstract

This study aims to analyze and implement the concept of adab (etiquette) proposed by Syed Muhammad Naquib Al-Attas as a philosophical foundation in addressing the crisis of character education and moral erosion among Generation Z in the digital age. Generation Z, who live in a digital and global environment, experience value disorientation due to the weak internalization of adab in an education system that tends to be cognitive and materialistic. Through a literature review using a qualitative-descriptive analytical approach, this study examines Al-Attas' major works, particularly The Concept of Education in Islam, as well as various literature related to the character crisis and the dynamics of Generation Z. The results of the analysis show that, according to Al-Attas, manners are not merely social etiquette, but rather a spiritual and intellectual awareness to place everything in its proper position according to its essence. The concept of Islamization of Knowledge (IIEP) becomes an implementative instrument for the formation of civilized human beings (al-insan al-mu'addab) through the purification of knowledge from secular values towards a monotheistic orientation. This study concludes that effective character education for Generation Z must be holistic—integrating spiritual, moral, intellectual, and technological aspects to produce a generation that is knowledgeable, moral, and civilized in accordance with the Islamic worldview.
Relevansi Pemikiran Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi Sebagai Solusi Terhadap Krisis Moral dan Intelektual Generasi Digital Sianly, Sekar; Nabila, Nadia; Sari, Herlini Puspika
Tafáqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman Vol. 13 No. 2 (2025): Desember
Publisher : INSTITUT AGAMA ISLAM BANI FATTAH (IAIBAFA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.52431/tafaqquh.v13i2.4094

Abstract

Penelitian ini mengkaji relevansi pemikiran pendidikan Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi sebagai landasan konseptual dalam menghadapi krisis moral dan intelektual generasi digital. Dengan menggunakan metode deskriptif-analitis melalui studi pustaka, penelitian ini mensintesiskan gagasan filosofis ketiganya yang menekankan integrasi antara rasionalitas, moralitas, dan spiritualitas dalam pendidikan. Al-Ghazali memandang pendidikan sebagai proses penyucian jiwa (tazkiyatun nafs) yang bertujuan membentuk akhlak mulia dan kematangan spiritual. Ibnu Sina menitikberatkan pendidikan pada pengembangan potensi manusia melalui pendekatan rasional, moral, dan sesuai tahap perkembangan untuk mencapai al-insan al-kamil (manusia sempurna). Sementara itu, Al-Farabi melihat pendidikan sebagai instrumen pembentukan al-madinah al-fadhilah (masyarakat utama) yang berlandaskan keadilan, ilmu, dan etika. Hasil kajian menunjukkan bahwa pemikiran ketiganya tetap relevan di abad ke-21 sebagai panduan dalam menyeimbangkan kemajuan intelektual dengan kesadaran etis dan tanggung jawab digital. Sintesis gagasan Al-Ghazali, Ibnu Sina, dan Al-Farabi memberikan kerangka filosofis sekaligus praktis bagi pembentukan generasi digital yang cerdas, berakhlak, dan berlandaskan nilai spiritual.
Menjembatani merdeka belajar dengan nilai-nilai pendidikan Islam Syafitri, Ruhul Zikraini; Azzahra, Qonita; Sari, Herlini Puspika
Jurnal Pendidikan Agama Islam Vol 2 No 2 (2025): Jurnal Pendidikan Agama Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam (STAI) AL-IKHLAS DAIRI SIDIKALANG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.64677/ppai.v2i2.189

Abstract

This study aims to analyze the integration of the Merdeka Belajar (MB) concept with Islamic educational values in order to form an education system that is adaptive to the times without losing its spiritual and moral foundations. The research approach used is library research by examining various journals, books, and scientific literature related to MB policies and Islamic educational principles. The results of the study show that both have the same orientation in shaping well-rounded individuals, intellectually intelligent, noble in character, independent, and socially responsible. This integration is evident in the flexible curriculum design, project-based learning methods, and authentic assessments that evaluate cognitive, affective, and spiritual aspects in a balanced manner. Teachers act as facilitators and role models of values, while schools function as spaces for Islamic character building. The conclusion of this study confirms that the synergy between Merdeka Belajar and Islamic values is a strategic step towards realizing meaningful, humanistic education that is strongly rooted in the values of monotheism and national character. Keywords: Integration, Independent Learning, Islamic Values, Character Education, Islamic Education
Dehumanisasi Teknologi dan Tantangan Pendidikan Islam: Sebuah Tinjauan Filosofis Amnur, Mursyidatul; Safitri, Arrum Husaini; Sari, Herlini Puspika; Hasani, Salman
Indonesian Journal of Islamic Education and Local Culture Vol. 3 No. 2 (2025): Indonesian Journal of Islamic Education and Local Culture (IJIELC)
Publisher : MKWK PAI Universitas Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22437/ijielc.v3i2.49567

Abstract

Perkembangan teknologi digital yang sangat cepat membawa dampak besar bagi dunia pendidikan. Di satu sisi, teknologi memudahkan proses belajar, namun di sisi lain dapat menimbulkan dehumanisasi yaitu menurunnya nilai-nilai kemanusiaan, adab, dan spiritualitas peserta didik. Fenomena ini terjadi ketika proses pendidikan hanya terfokus pada aspek teknis dan hasil, tanpa memperhatikan pembentukan karakter dan moral. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji bagaimana filsafat pendidikan Islam dapat menjadi solusi dalam menghadapi dampak dehumanisasi teknologi. Penelitian menggunakan metode kualitatif dengan pendekatan penelitian perpustakaan, yaitu menelaah berbagai literatur ilmiah, jurnal, buku, dan penelitian terbaru yang relevan. Hasil kajian menunjukkan bahwa filsafat pendidikan Islam dengan konsep tauhid, adab, dan insan kamil dapat menjadi dasar untuk membangun pendidikan yang berpusat pada manusia. Nilai-nilai etika digital, peran guru sebagai teladan moral, serta integrasi nilai spiritual dalam pembelajaran sangat penting untuk membentuk generasi beradab di era digital. Dengan demikian, filsafat pendidikan Islam tetap relevan sebagai panduan moral dan arah pembinaan karakter di tengah kemajuan teknologi
Reimagining the Meaning of Learning: The Relevance of Educational Philosophy in the Face of the Onslaught of Digital Technology Bakti, Bagas Agamy; Hafiz, Muhammad Suma; Sari, Herlini Puspika
Cendekiawan : Jurnal Pendidikan dan Studi Keislaman Vol 4 No 4 (2025): December: Multiple Intelligences of Students in Formal, Informal, and Nonformal E
Publisher : Yayasan Zia Salsabila

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61253/cendekiawan.v4i4.486

Abstract

This study aims to formulate a theoretical model on the relevance and strategic role of the philosophy of education in redefining the meaning of learning amid the dominance of digital technology. The central issue is how the philosophy of education can offer a robust conceptual framework to navigate, not merely utilize, the digital ecosystem. This research employs a qualitative approach using the Library Research method, focusing on philosophical-conceptual analysis.The findings indicate that technology triggers a shift in the meaning of learning from a one-way transfer of information to the active construction of knowledge (constructivism), transforming the teacher into a critical facilitator. The core relevance of philosophy (Axiology, Epistemology, Ontology) is heightened. Epistemology serves as a fortress against the "Digital Truth Crisis" by demanding critical literacy, while Axiology provides a moral compass for digital ethics issues. In synthesis, the enriched meaning of learning is a metacognitive process that merges technical proficiency with moral maturity (wisdom). The philosophy of education acts as a moral and intellectual regulator, ensuring that technology serves the ultimate goal of education: the holistic development of human beings.
Pendidikan Islam di Era Digital: Respon terhadap Isu Kesetaraan Gender di Media Sosial Annisa, Annisa; Anggina, Dhea Yuspi; Syahrani, Syalum; Sari, Herlini Puspika
Hidayah : Cendekia Pendidikan Islam dan Hukum Syariah Vol. 2 No. 4 (2025): Desember : Hidayah : Cendekia Pendidikan Islam dan Hukum Syariah
Publisher : Asosiasi Riset Ilmu Pendidikan Agama dan Filsafat Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61132/hidayah.v2i4.1445

Abstract

The development of digital technology has significantly transformed Islamic education, particularly in the growing discourse on gender equality within digital public spaces. Social media has become a new arena where diverse gender narratives—from progressive to conservative—compete for public attention, requiring a more systematic response from Islamic education. This study aims to describe the foundational concepts of gender in Islamic education, analyze how social media shapes gender perceptions among Muslim communities, and formulate effective educational strategies for responding to these challenges in the digital era. Using a library research design with a descriptive qualitative approach, this study applies thematic content analysis to synthesize relevant academic literature. The findings indicate that Islamic education holds strong potential to promote gender justice through theological, pedagogical, and digital literacy approaches. Nevertheless, significant challenges persist, including biased interpretations, the spread of misinformation, and the dominance of patriarchal narratives in online spaces. The study’s implications highlight the need for curriculum reform grounded in gender equality, teacher capacity development, strengthened Islamic digital literacy, and collaborative efforts among educators, scholars, and digital communities to build a more inclusive and moderate digital da'wah environment. These findings are expected to serve as a foundation for developing adaptive Islamic educational strategies that respond effectively to gender dynamics in the cyber era.