Claim Missing Document
Check
Articles

Found 30 Documents
Search

HAKIKAT ILMU PENGETAHUAN DALAM PERSPEKTIF FILSAFAT ILMU: TELAAH ONTOLOGIS, EPISTEMOLOGIS, DAN METODOLOGIS Ahmad Amri; Faizal; Safari Daud
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/3jrasv91

Abstract

Ilmu pengetahuan memiliki peran sentral dalam perkembangan peradaban manusia, namun pengembangannya tidak dapat dilepaskan dari persoalan-persoalan filosofis mengenai hakikat, sumber, dan cara memperolehnya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis hakikat ilmu pengetahuan, landasan epistemologisnya, serta proses perolehan dan validasi pengetahuan dalam perspektif filsafat ilmu. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif melalui kajian pustaka terhadap pemikiran filsafat klasik hingga kontemporer, meliputi empirisme, rasionalisme, kritisisme Kantian, falsifikasionisme Karl Popper, teori paradigma Thomas Kuhn, dan konstruktivisme sosial. Hasil kajian menunjukkan bahwa ilmu pengetahuan bukanlah entitas yang statis dan tunggal, melainkan konstruk dinamis yang terbentuk melalui interaksi antara pengalaman empiris, akal budi, serta konteks sosial-historis komunitas ilmiah. Sumber pengetahuan tidak hanya bersandar pada pengalaman indrawi dan rasio, tetapi juga mencakup intuisi, wahyu, otoritas, dan tradisi, yang masing-masing memiliki landasan validitas serta keterbatasan epistemologis. Selain itu, cara memperoleh ilmu pengetahuan berkembang secara pluralistik melalui metode deduktif, induktif, kritis, hermeneutis, dan abduktif, sesuai dengan karakter dan tujuan kajian keilmuan. Kajian ini menegaskan pentingnya kesadaran filosofis dalam praktik penelitian agar produksi ilmu pengetahuan berlangsung secara reflektif, bertanggung jawab, dan relevan dengan tantangan epistemologis kontemporer.
FALSIFIKASI SEBAGAI FONDASI ILMU: ANALISIS KRITIS TERHADAP EPISTEMOLOGI KARL POPPER Erna Martia Anggraini; Faizal; Safari Daud
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/tx5p9f88

Abstract

Konsep falsifikasi sebagai fondasi ilmu dalam epistemologi Karl Popper. Popper menolak tradisi induktivisme positivistik yang menganggap ilmu berkembang melalui verifikasi akumulatif, dan mengajukan falsifiabilitas sebagai kriteria utama keilmuan. Menurut Popper, suatu teori hanya dapat dianggap ilmiah jika membuka kemungkinan untuk diuji dan dibantah oleh bukti empiris. Melalui pendekatan conjectures and refutations, Popper menekankan bahwa ilmu bersifat tentatif, selalu dapat direvisi, dan berkembang melalui proses kritik rasional yang berkelanjutan. Kajian ini juga menyoroti implikasi falsifikasi terhadap metodologi penelitian modern, termasuk pentingnya rumusan hipotesis yang spesifik, desain penelitian yang memungkinkan pengujian ketat, serta sikap ilmiah yang terbuka terhadap koreksi. Analisis menunjukkan bahwa meskipun falsifikasionisme Popper memberikan kontribusi signifikan bagi fondasi epistemologi ilmu, ia tetap menghadapi kritik terkait praktik ilmiah aktual dan keterbatasannya dalam disiplin non-eksperimental. Namun demikian, falsifikasi tetap menjadi kerangka penting dalam memahami dinamika perkembangan ilmu dan objektivitas dalam penelitian.
PERAN SARANA ILMIAH DALAM PEMBENTUKAN PENGETAHUAN TINJAUAN FILSAFAT ILMU TERHADAP BAHASA, MATEMATIKA, STATISTIK, DAN LOGIKA Muhammad Iqbal; Faizal; Safari Daud
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/s66dm027

Abstract

Pengetahuan ilmiah tidak hanya dibentuk oleh objek kajian dan metode penelitian, tetapi juga sangat ditentukan oleh sarana ilmiah yang digunakan dalam proses pengembangannya. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis peran sarana ilmiah bahasa, matematika, statistik, dan logika dalam pembentukan pengetahuan dari perspektif filsafat ilmu. Metode penelitian yang digunakan adalah kajian kepustakaan dengan pendekatan filosofis, khususnya epistemologi ilmu pengetahuan. Hasil kajian menunjukkan bahwa bahasa berfungsi sebagai medium konseptual dan komunikatif dalam merumuskan serta menyebarluaskan pengetahuan ilmiah. Matematika berperan sebagai alat abstraksi dan pemodelan yang memungkinkan penjelasan fenomena secara sistematis dan universal. Statistik berfungsi sebagai sarana pengolahan dan validasi data empiris guna mendukung generalisasi ilmiah, sedangkan logika menjadi landasan penalaran rasional yang menjamin konsistensi dan koherensi argumentasi ilmiah. Keempat sarana ilmiah tersebut saling berkaitan dan membentuk struktur metodologis yang integral dalam proses pembentukan pengetahuan ilmiah. Dengan demikian, pemahaman terhadap peran sarana ilmiah dalam perspektif filsafat ilmu menjadi penting untuk memperkuat rasionalitas, objektivitas, dan validitas ilmu pengetahuan.
KERANGKA DASAR TEORI KEILMUAN: FRANCIS BACON DAN JOHN STUART MILL Suhendi; Faizal
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 3 No. 12 (2025): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Desember
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/s2kb0p69

Abstract

Perkembangan ilmu pengetahuan modern menuntut adanya kerangka teori keilmuan yang kokoh, rasional, dan berbasis empiris, terutama di tengah dinamika ilmu kontemporer yang semakin dipengaruhi oleh teknologi dan data. Dalam konteks ini, pemikiran Francis Bacon dan John Stuart Mill memiliki relevansi penting sebagai fondasi epistemologis metode ilmiah modern. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji dan membandingkan secara sistematis kerangka dasar teori keilmuan menurut Francis Bacon dan John Stuart Mill, serta menelaah kontribusi dan kesinambungan pemikiran keduanya dalam pembentukan metodologi ilmiah. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif dengan jenis penelitian kepustakaan (library research), melalui analisis teks primer berupa Novum Organum karya Francis Bacon dan A System of Logic karya John Stuart Mill, serta literatur akademik sekunder yang relevan. Data dianalisis menggunakan teknik analisis isi (content analysis) untuk mengidentifikasi konsep empirisme, induksi, dan logika ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa Bacon meletakkan dasar metode ilmiah berbasis observasi dan eksperimen, sementara Mill menyempurnakannya melalui sistematisasi logika induktif dan analisis kausal, sehingga keduanya membentuk kerangka teori keilmuan yang empiris, rasional, dan sistematis. Temuan ini memberikan kontribusi teoretis terhadap kajian filsafat ilmu dengan menegaskan relevansi empirisme klasik dalam konteks keilmuan modern. Kesimpulan penelitian ini menekankan pentingnya integrasi pendekatan empiris dan logis dalam pengembangan metodologi ilmiah, serta membuka peluang bagi penelitian lanjutan yang mengkaji penerapan pemikiran Bacon dan Mill dalam praktik riset kontemporer.
KERANGKA DASAR TEORI KEILMUAN AUGUSTE COMTE POSITIVISME LOGIS Wahyu Saputra; Faizal; Safari
Jurnal Media Akademik (JMA) Vol. 4 No. 1 (2026): JURNAL MEDIA AKADEMIK Edisi Januari
Publisher : PT. Media Akademik Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.62281/y0x5rv07

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji kerangka dasar teori keilmuan positivisme Auguste Comte serta keterkaitannya dengan positivisme logis yang berkembang pada abad ke-20. Positivisme Comte dipahami sebagai aliran filsafat yang menempatkan fakta empiris dan pengamatan inderawi sebagai sumber utama pengetahuan, sekaligus menolak metafisika dan spekulasi abstrak yang tidak dapat diverifikasi. Melalui konsep hukum tiga tahap, Comte menjelaskan perkembangan pemikiran manusia dari tahap teologis, metafisis, hingga tahap positif yang menandai dominasi ilmu pengetahuan ilmiah. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif dengan pendekatan studi pustaka, dengan menganalisis berbagai buku dan artikel jurnal yang relevan dengan topik kajian. Hasil pembahasan menunjukkan bahwa positivisme Comte memiliki pengaruh yang signifikan terhadap lahirnya positivisme logis, terutama dalam penekanan pada verifikasi ilmiah dan penolakan terhadap metafisika. Meskipun demikian, positivisme logis lebih menekankan analisis logika dan bahasa ilmiah dibandingkan orientasi sosial yang ditekankan oleh Comte. Penelitian ini diharapkan dapat memberikan pemahaman yang lebih komprehensif mengenai kontribusi positivisme dalam perkembangan filsafat ilmu dan metode ilmiah modern
Fenomena Annyala di Kabupaten Gowa: Analisis Faktor Pendorong, Mekanisme Rekonsiliasi Adat, dan Implikasinya terhadap Masyarakat Bugis-Makassar Mustafa; Faizal; Nurazizah Rahmi R; Awayundu Said
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 4 No 1 (2026): 2026
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v4i1.4075

Abstract

Penelitian ini mengkaji fenomena annyala (kawin lari) di Kabupaten Gowa, Sulawesi Selatan, sebagai mekanisme adaptasi masyarakat Bugis-Makassar terhadap tekanan struktural dan perubahan sosial kontemporer. Menggunakan metode kualitatif fenomenologis dengan pendekatan studi kasus, penelitian ini melibatkan wawancara mendalam terhadap pelaku annyala, imam desa, tokoh masyarakat, dan pemangku adat. Data dikumpulkan melalui wawancara semi-terstruktur, observasi partisipatif, dan analisis dokumen, kemudian dianalisis menggunakan model interaktif Miles & Huberman. Hasil penelitian menunjukkan tiga faktor utama pendorong annyala: (1) tingginya uang panai' (50 juta rupiah ke atas) yang memberatkan pihak laki-laki, (2) kehamilan di luar nikah, dan (3) perjodohan yang tidak sesuai kehendak. Peran hukum adat, khususnya melalui Imam sebagai mediator, terbukti efektif dalam menyelesaikan konflik melalui mekanisme ammotere abbaji (rekonsiliasi). Terjadi transformasi signifikan dalam persepsi masyarakat, di mana annyala yang dulunya dianggap appakasiri-siri (sangat memalukan) kini mengalami normalisasi seiring berkurangnya stigma sosial. Implikasi multidimensional meliputi: beban psikologis pelaku yang mengalami pemendekan durasi isolasi sosial, paradoks ekonomi di mana biaya annyala justru lebih mahal dari pernikahan normal, dan supremasi de facto hukum adat dalam sistem hukum plural. Penelitian ini berkontribusi pada pemahaman dinamika budaya Bugis-Makassar dalam menghadapi modernisasi, serta menawarkan model rekonsiliasi berbasis kearifan lokal yang dapat menjadi rujukan kebijakan sosial di wilayah dengan praktik serupa.
ANALISIS PEMIKIRAN PROF ALI YAFIE TERHADAP PENGELOLAAN EKOLOGI BERKELANJUTAN MELALUI PRINSIP HIFZ AL BĪʻAH Faizal; Abd Rahman R; Zaenal Abidin
TAHKIM Vol. 21 No. 2 (2025): TAHKIM
Publisher : IAIN Ambon

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33477/thk.v21i2.11506

Abstract

This article aims to analyse Prof. Ali Yafie's thoughts on hifz al-bī'ah (environmental preservation) in the context of Maqāṣid al-Syarīʻah and its implications for sustainable ecological management. This study employs a literature review method, involving the collection and analysis of various relevant sources, such as books, scientific articles, and documents related to Prof. Ali Yafie's thoughts and the principles of hifz al-bī’ah in Islam. The results of the study show that Prof. Ali Yafie views environmental conservation as part of humanity's responsibility as khalīfah on earth, which is not only related to moral aspects but also to Islamic religious teachings. His thoughts integrate hifz al-bī’ah as part of Maqāṣid al-Syarīʻah, which focuses on five main objectives, namely religion (dīn), soul (nāfs), intellect (‘aql), offspring (nāsl), and wealth (māl), with the addition of the environment as a component that must be protected. In the discussion, this article also reveals practical solutions offered by Prof. Ali Yafie to address ecological challenges such as climate change, deforestation, and pollution, involving a paradigm shift in development, ecological awareness, and active community participation. The implications of this thinking are highly relevant in developing sustainable development policies, particularly in developing countries like Indonesia, by integrating Islamic values into natural resource management and environmental conservation. Keywords: hifz al-bī’ah, maqāṣid al-syarīʻah, environmental conservation, sustainable ecological management
Human Capital Transformation in Equalizing Workloads and Increasing Employee Discipline: Study of the Regional Financial and Asset Agency of Takalar Regency Nur Faidah; Miftahul Jannah Ilyas; Faizal; Muchriady Muchran
Masterpiece Journal Society Service Insight Vol. 2 No. 1 (2026): February 2026
Publisher : www.amertainstitute.com

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.65246/mjssi.v21.488

Abstract

This study aims to analyze the role of Human Capital Transformation (HCT) as a strategic intervention to address workload disparities and improve employee discipline at the Regional Financial and Asset Management Agency (BKAD) of Takalar Regency. The main issues identified include unequal workload distribution—resulting in simultaneous conditions of overload and underload—as well as suboptimal employee discipline, particularly in terms of compliance with working hours and punctuality. This research employs a descriptive qualitative approach, with data collected through in-depth interviews with leaders and staff, observations, and document analysis, including policies on Workload Analysis (ABK) and the Performance Allowance (TPP) system. The findings indicate that the Human Capital Transformation implemented by BKAD is realized through two key mechanisms. First, the integration of ABK into the e-performance system and TPP, which significantly minimizes workload disparities by ensuring measurable and equitable task distribution. Second, the consistent enforcement of discipline based on digital data (electronic attendance), supported by the transparent application of sanctions and rewards in accordance with Government Regulation No. 94 of 2021. This transformation has proven to be a catalyst in creating a productive, performance-based, and integrity-driven work environment. The study concludes that Human Capital Transformation is a fundamental prerequisite for public sector organizations to achieve accountability and efficiency.
Implementing Prophetic Communication in the Leadership of HIQMA Student Organization at UIN Raden Intan Lampung Solihhati, Meisya; Faizal; Istiani, Ade Nur
LONTAR: Jurnal Ilmu Komunikasi Vol. 13 No. 2 (2025): Lontar : Jurnal Ilmu Komunikasi
Publisher : Program Studi Ilmu Komunikasi Universitas Serang Raya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30656/lontar.v13.i2.11345

Abstract

This study aims to analyze the implementation of prophetic communication in the leadership of the Student Activity Unit (UKM) HIQMA at UIN Raden Intan Lampung. Prophetic communication is based on three main pillars: humanization (amar ma’ruf), liberation (nahi munkar), and transcendence (tu’minuna billah). The research employed a descriptive qualitative method, using interviews, observations, and documentation as data collection techniques. The informants consisted of active administrators, alumni leaders, and members of UKM HIQMA selected through purposive sampling. The findings indicate that humanization is reflected in empathetic leadership, attention to members’ needs, and mentoring, which foster emotional closeness and organizational loyalty. Liberation is evident in the way leaders provide constructive criticism in a gentle and respectful manner, enabling members to grow with confidence. Transcendence appears through the integration of worship values such as prayer, dhikr, and Qur’anic recitation into organizational activities, which strengthens members’ spiritual motivation. Overall, prophetic leadership in UKM HIQMA successfully creates a humane, ethical, and spiritual organizational culture, proving the relevance of prophetic communication within student organizations.
PENERAPAN METODE ROUND ROBIN PADA PEMBELAJARAN PANCASILA MATERI NORMA UNTUK MEMBENTUK SIKAP TANGGUNG JAWAB SISWA KELAS V SEKOLAH DASAR Nur Azizah, Sitti; Faizal; Alirmansyah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 11 No. 01 (2026): Volume 11 No. 01 Maret 2026 Produce
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v11i01.41900

Abstract

This study aims to describe the application of the Round Robin method in Pancasila learning on norms in shaping the attitude of responsibility of fifth-grade elementary school students. This study is motivated by the low attitude of responsibility of students shown through a lack of active participation, less than optimal learning readiness, and low awareness in carrying out the role as students. This study uses a qualitative approach with a case study type. The research subjects consisted of the fifth-grade homeroom teacher and three fifth-grade students at SD Negeri 95/I Olak. Data were collected through observation, interviews, and documentation. The results of the study indicate that the application of the Round Robin method is able to increase students' active involvement, discipline in discussions, and the development of attitudes of responsibility both academically and socially. This method is effective for use in Pancasila learning on norms to shape students' attitudes of responsibility.