p-Index From 2021 - 2026
4.393
P-Index
This Author published in this journals
All Journal HAYATI Journal of Biosciences Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Journal of Tropical Forest Management Jurnal Gizi dan Pangan Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Jurnal Teknologi Dan Industri Pangan Jurnal Pengolahan Hasil Perikanan Indonesia Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Forum Pasca Sarjana Prosiding Seminar Nasional MIPA Jurnal Perikanan dan Kelautan Berkala Perikanan Terubuk Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Jurnal Penelitian Tanaman Industri Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Pembangunan Pedesaan Journal of Engineering and Technological Sciences Jurnal Kimia dan Kemasan agriTECH Planta Tropika Majalah Obat Tradisional Warta IHP (Warta Industri Hasil Pertanian) UNEJ e-Proceeding Jurnal Hasil Penelitian Industri AGRIKAN Jurnal Ilmiah Agribisnis dan Perikanan Jurnal Aplikasi Teknologi Pangan Informatika Pertanian Squalen Bulletin of Marine and Fisheries Postharvest and Biotechnology Indonesian Food Science and TechnologyJournal Biosaintifika: Journal of Biology & Biology Education Jurnal Teknologi & Industri Hasil Pertanian Jurnal Teknik Pertanian Lampung (Journal of Agricultural Engineering) Jurnal Mutu Pangan : Indonesian Journal of Food Quality Jurnal Penelitian Tanaman Industri (Littri) Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Journal of Food Technology and Health Jurnal Kimia dan Kemasan Jurnal Ilmiah Pangan Halal Karimah Tauhid Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Halal Studies and Society Penelitian Gizi dan Makanan (The Journal of Nutrition and Food Research) International Journal of Oil Palm
Claim Missing Document
Check
Articles

Fermented was reported to have different physicochemical and functional properties to those of non fermented flour.  The objective of this research was to study the effect of spontaneous fermentation to chemical and rheological properties of corn flour and to identifying correlation among parameters.  Flour was prepared by spontaneous fermentation with variation of fermentation time (0, 12, 24, 36, 48, 60 and 72 hours).  The result indicated that the increasing of corn grits fermentation time wa Nur Aini; Purwiyatno Hariyadi; Tien R. Muchtadi; Nuri Andarwulan
Forum Pasca Sarjana Vol. 32 No. 1 (2009): Forum Pascasarjana
Publisher : Forum Pasca Sarjana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Fermented was reported to have different physicochemical and functional properties to those of non fermented flour.  The objective of this research was to study the effect of spontaneous fermentation to chemical and rheological properties of corn flour and to identifying correlation among parameters.  Flour was prepared by spontaneous fermentation with variation of fermentation time (0, 12, 24, 36, 48, 60 and 72 hours).  The result indicated that the increasing of corn grits fermentation time was decrease of protein, crude fiber, lipid, ash, starch  and amylase content of corn flour.  The increasing of protein content, reduction sugar, crude fiber, ash, bulk density and gelatinization time were decrease of gel strength.  Gel strength will be promote with increasing of angle of repose and peak viscosity.  Gel stickeness will decrease with increasing of amylosa: amylopecyin ratio and breakdown viscosity.   Key words: white corn, flour,fermentation, chemical, rheological
Validasi Metode Analisis Kandungan Spesifik Residu Total Monomer Stiren Pada Kemasan Polistiren Dina Mariana; Nuri Andarwulan; Hanifah Nuryani Lioe
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 35 No. 2 Oktober 2013
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24817/jkk.v35i2.1883

Abstract

Monomer stiren merupakan bahan dasar kemasan pangan yang menjadi isu perhatian terkait keamanan pangan. Saat ini di dalam peraturan nasional maupun internasional, peraturan persyaratan pada total residu dari monomer stiren dalam kemasan pangan. Dalam rangka menunjang pengawasan kemasan pangan polistiren, maka diperlukan peningkatan kapasitas pengujian kandungan spesifik residu total monomer stiren di laboratorium sesuai dengan peraturan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi metode analisis pengujian kandungan spesifik residu total monomer stiren pada kemasan polistiren dengan heptana sebagai simulan pangan menggunakan kromatografi gas dengan pendeteksi ionisasi nyala, sesuai prosedur uji yang diatur dalam Peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.03.1.23.07.11.6664 Tahun 2011 tentang Pengawasan Kemasan Pangan. Hasil validasi metode analisis adalah linieritas dengan persamaan regresi y = 0,186x nilai R2 = 0,999, presisi dengan nilai relatif standar deviasi (RSD) = 0,93 %, akurasi dengan persen perolehan kembali (% recovery) 98,04 ± 2,62 %, pada konsentrasi stiren yang ditambahkan 502 μg/g dan selektivitas yang baik. 
Stabilisasi Bekatul Dengan Ekstruder Ulir Ganda Menggunakan Response Surface Methodology Ineke Kusumawaty; Dedi Fardiaz; Nuri Andarwulan; Sri Widowati; Slamet Budijanto
Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian Vol 10, No 1 (2013): Jurnal Penelitian Pascapanen Pertanian
Publisher : Balai Besar Penelitian dan Pengembangan Pascapanen Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jpasca.v10n1.2013.27-38

Abstract

Keterbatasan pemanfaatan bekatul dalam pangan disebabkan oleh sifatnya yang mudah tengik sehingga perlu dilakukan stabilisasi. Penelitian ini bertujuan menentukan kondisi optimum stabilisasi bekatul dengan ekstruder ulir ganda tanpa die sebagai bahan bakuekstraksi protein. Optimasi kondisi stabilisasi bekatul dilakukan dengan menggunakan response surface methodology (RSM) dengan central composite design (CCD)dua faktor yaitu X1 (suhu/oC) dan X2 (kecepatan ulir/Hz).Pengolahan data menggunakan program Design Expert 7.0® yang memberikan model persamaan pengaruh suhu dan kecepatan ulir ekstruder terhadap respon kadar air, kadar protein terlarut, dan aktivitas lipoksigenase. Hasil optimasi memberikan kondisi suhu ekstrusi 130,96oC dan kecepatan ulir 26,65 Hz. Bekatul yang dihasilkan memiliki kadar air 7,02%, kadar protein terlarut 2,04%(bk), aktivitas lipoksigenase 0,007?mol/menit/ml, dan stabilitas oksidatif yanglebih tinggi yaitu 20,00 jam daripada bekatul yang tidak distabilisasi 13,50 jam.
KARAKTERISTIK NANOEMULSI MINYAK SAWIT MERAH YANG DIPERKAYA BETA KAROTEN SHANNORA YULIASARI; DEDI FARDIAZ; NURI ANDARWULAN; SRI YULIANI
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 20, No 3 (2014): September 2014
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v20n3.2014.111-121

Abstract

ABSTRAKMinyak sawit merah (Red palm oil/RPO) dan β-karoten tidak larutdalam air sehingga sulit diaplikasikan ke dalam produk pangan. Salah satupendekatan untuk meningkatkan kelarutan RPO dan β-karoten adalah emulsifikasi. Penelitian ini bertujuan untuk mendapatkan nanoemulsi RPOdiperkaya β-karoten yang stabil. Penelitian dilaksanakan di LaboratoriumSEAFAST CENTER IPB dari Januari–September 2013. Pada penelitiantahap pertama, nanoemulsi disiapkan melalui tahap-tahap: pengayaan RPOdengan β β-karotenmenggunakan HPH (High Pressure Homogenizer) pada tekanan 34,5 MPadengan 10 siklus. Rasio RPO dan air dalam emulsi adalah 5 : 95; 7,5 :92,5; dan 10 : 90 (b/b), dan persentase Tween 80 sebagai pengemulsiadalah 2,5; 5,0; 7,5; dan 10% (b/b) dari total emulsi. Pada tahap kedua,nanoemulsi disiapkan dengan persentase RPO: 2, 4, dan 6% (b/b) danpengemulsi 1,5; 3,0; dan 4,5% (b/b) dari total emulsi. Hasil penelitiantahap pertama menunjukkan nanoemulsi yang dibuat dengan rasio RPO :air = 5 : 95 dan 7,5 : 92,5 serta pengemulsi 5% (b/b) menghasilkan emulsidengan ukuran droplet 115,1 sampai 145,2 nm dan stabil. Nanoemulsiyang dihasilkan dari penelitian tahap kedua memiliki ukuran droplet 94,9sampai 125,5 nm, dan kadar β-karoten antara 47,6 sampai 130,9 mg/l.Ukuran droplet nanoemulsi yang kurang dari 125 nm dapat dihasilkandengan formula rasio RPO dan pengemulsi kurang dari 2,0.Kata kunci: minyak sawit merah, β-karoten, nanoemulsi, homogenizerABSTRACTRed palm oil (RPO) and β-carotene are insoluble in water. It makescan be used to improve RPO and βThis research is aimed to produce stable RPO nanoemulsion enriched withβ-carotene. The research was conducted in the SEAFAST CENTERLaboratory, Bogor Agriculture University from January to Septemberfollowing steps, i.e. enrichment of RPO with βusing a high pressure homogenizer at a pressure of 34.5 MPa in 10 cycles.The ratio of RPO and water in the mixture were 5 : 95; 7.5 : 92.5; and 10 :10% (w/w) of the total emulsions. In the second stage, nanoemulsionswere prepared on various RPO percentage of 2, 4, and 6% (w/w) andhad a droplet size from 115.1 to 145.2 nm and stable. Nanoemulsions wereresulting from the second stage had droplet size from 94.9 to 125.5 nm,and β-carotene content were 47.6 to 130.9 mg/l. Droplet size ofnanoemulsions is less than 125 nm. It can be produced with RPO andKey words: red palm oil, β-carotene, nanoemulsion, homogenizer
FRAKSINASI KERING MINYAK KELAPA MENGGUNAKAN KRISTALISATOR SKALA 120 KG UNTUK MENGHASILKAN FRAKSI MINYAK KAYA TRIASILGLISER0L RANTAI MENENGAH MURSALIN MURSALIN; PURWIYATNO HARIYADI; EKO HARI PURNOMO; NURI ANDARWULAN; DEDI FARDIAZ
Jurnal Penelitian Tanaman Industri Vol 19, No 1 (2013): Maret 2013
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/jlittri.v19n1.2013.41-50

Abstract

ABSTRAKMinyak kelapa merupakan sumber medium chain triglycerides(MCT) utama. Melalui proses fraksinasi dapat dihasilkan fraksi minyakdengan kandungan MCT tinggi. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajaripengaruh berbagai faktor perlakuan dingin terhadap kristalisasi danfraksinasi minyak kelapa, serta untuk menetapkan prosedur pendinginanyang efektif dalam menghasilkan fraksi minyak dengan kandungan MCTtinggi. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium SEAFAST CENTER IPBdari bulan Maret 2012 sampai bulan Februari 2013. Fraksinasi dilakukandengan memanaskan minyak pada suhu 70°C lalu didinginkan padaberbagai laju pendinginan untuk mencapai beberapa variasi suhukristalisasi, diaduk dengan kecepatan 15 rpm, dibiarkan mengkristal padalama waktu yang berbeda (hingga 900 menit), serta difraksinasi denganpenyaringan vakum menggunakan kertas Whatman 40. Tiga tahappendinginan yang merupakan faktor kunci keberhasilan proses kristalisasiminyak kelapa yaitu tahap pendinginan awal dari suhu 70 hingga 29°C;tahap pendinginan kritis 29°C hingga suhu kristalisasi; dan tahapkristalisasi itu sendiri. Pada tahap pertama minyak kelapa didinginkansecepat mungkin untuk menurunkan waktu proses, tetapi pada tahap keduaharus dilaksanakan dengan laju pendinginan lambat (kurang dari 0,176°C/menit) untuk menghasilkan kristal yang berukuran besar dan tidak mudahmeleleh. Minyak dengan kandungan triasilgliserol tinggi dapat diperolehdari fraksi olein minyak kelapa. Pada perlakuan suhu kristalisasi 21,30-21,73°C untuk laju pendinginan kritis antara 0,013 hingga 0,176°C/menit,semakin rendah laju pendinginan kritis dan semakin lama proseskristalisasi maka kandungan MCT fraksi olein yang dihasilkan akansemakin tinggi.Kata kunci: minyak kelapa, laju pendinginan, kristalisasi, fraksinasi, MCTABSTRACTCoconut oil is the main source of medium chain triglycerides(MCT). Fractionation produce oil fraction containing MCT concentrate.This research aims to study the influence of various factors of coolingtreatment on the crystallization and fractionation of coconut oil, and toestablish effective cooling procedure to produce oil fraction with highMCT content. The research was conducted in Laboratorium of SEAFASTCENTER IPB from March 2012 to February 2013. Coconut oil washeated at 70°C then cooled at different cooling rate to reach variouscrystalization temperatures. The oil was then stirred at 15 rpm and allow tocrystallized at different period of time (up to 900 min), and finallyfractionated by vacuum filtration using Whatman #40 paper. Fractionationtemperatures was the same as crystalization temperature. The resultsshowed that there were three distinct cooling regimes critical tocrystallization process, i.e temperature range from 70 to 29°C; 29°C tocrystallization temperature; and crystallization temperature. In the firstregime, melted coconut oil might be cooled quickly to save time, but in thesecond regime need be done with a cooling rate of less than 0.176°C/minto produce physically stable crystal. Oil with high triacylglycerol contentcould be obtained from olein fraction of coconut oil. At the crystallizationtemperature 21.30-21.73°C for the critical cooling rate between 0.013 to0.176°C/min, the higher MCT content of olein fraction were produced bythe lower critical cooling rate and the longer crystallization process.Keywords: fractionation, crystallization, MCT, coconut oil, cooling rate.
SHOOT, TOTAL PHENOLIC, AND ANTHOCYANIN PRODUCTION OF Plectranthus amboinicus WITH ORGANIC FERTILIZING Rina Ekawati; Sandra Arifin Aziz; Nuri Andarwulan
Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat Vol 24, No 2 (2013): Buletin Penelitian Tanaman Rempah dan Obat
Publisher : Pusat Penelitian dan Pengembangan Perkebunan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21082/bullittro.v24n2.2013.%p

Abstract

Bangun-bangun [Plectranthus amboinicus] is a functional vegetable that is used as lactagogue. This research was aimed to provide information of the effect of organic fertilizer on shoot, total phenolic, and anthocyanin production of bangun-bangun. This experiment was conducted at Bogor Agricultural University, Leuwikopo experimental station (Indonesia), from December 2012 to February 2013. The experiment was laid out in randomized block design with single factor with five combination of organic fertilizer treatments (combination of cow manure 12.3 t ha-1, rock phosphate 1.5 t ha-1, rice-hull ash 5.5 t ha-1) with three replications. The result showed that application of organic fertilizer increased of shoot production. Application of 12.3 t ha-1 cow manure + 1.5 t ha-1 rock phosphate + 5.5 t ha-1 rice-hull ash produced shoot dry weight ha-1 (57.33%) and metabolite production ha-1 (total phenolic 12.06%, anthocyanin 41.73%) higher than no fertilizing (P > 0.05). Application of cow manure + rock phosphate produced the lowest shoot dry weight ha-1 and metabolite production ha-1. The result of this research suggested that nitrogen, phosphorus, and potassium were needed on shoot production of bangun-bangun. 
Chemical Characterization of Flour Fractions from Five Yam (Dioscorea alata) Cultivars in Indonesia Lula Nadia; M. Aman Wirakartakusumah; Nuri Andarwulan; Eko Hari Purnomo; Takahiro Noda; Koji Ishiguro
Journal of Engineering and Technological Sciences Vol. 47 No. 1 (2015)
Publisher : Institute for Research and Community Services, Institut Teknologi Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.5614/j.eng.technol.sci.2015.47.1.7

Abstract

The purpose of this study was to investigate the influence of particle size on  the  chemical properties  of yam flour  in five  cultivars, yellow/YY, orange/OY, light purple/LPY, purple/PY, and dark purple/DPY. With a mesh sieve, three  flour fractions  were separated according to particle size:  small (128.6-139.7 µm), medium (228.7-257.9 µm), and large (475.4-596.3 µm). The content of moisture (6.81-11.26 %db) and lipids (4.48-9.85 %db) decreased with the increase of particle size, while proteins (4.48-9.85 %db) and carbohydrates (78.12-83.76 %db) were not influenced by particle size. Folin-Ciocalteu reagent and chlorogenic acid were used as standard to investigate the total phenolic compounds  in  the  yam  flour,  and  high-performance liquid chromatography (HPLC) was used to investigate the anthocyanin and carotene contents. It was found that there was no size influence on the content of phenolics (0.27-2.82%db), anthocyanin (2.25-15.27  mg/100g db) in LPY, PY, DPY  or  carotene (23.75-132.12 mg/100g db) in YY, OY. The differences in chemical composition were due to differences in particle size and heat treatment, but may also have been caused by the different composition of the milling process.
Validasi Metode Analisis Kandungan Spesifik Residu Total Monomer Stiren Pada Kemasan Polistiren Dina Mariana; Nuri Andarwulan; Hanifah Nuryani Lioe
Jurnal Kimia dan Kemasan Vol. 35 No. 2 Oktober 2013
Publisher : Balai Besar Kimia dan Kemasan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1840.948 KB) | DOI: 10.24817/jkk.v35i2.1883

Abstract

Monomer stiren merupakan bahan dasar kemasan pangan yang menjadi isu perhatian terkait keamanan pangan. Saat ini di dalam peraturan nasional maupun internasional, peraturan persyaratan pada total residu dari monomer stiren dalam kemasan pangan. Dalam rangka menunjang pengawasan kemasan pangan polistiren, maka diperlukan peningkatan kapasitas pengujian kandungan spesifik residu total monomer stiren di laboratorium sesuai dengan peraturan yang berlaku. Penelitian ini bertujuan untuk melakukan validasi metode analisis pengujian kandungan spesifik residu total monomer stiren pada kemasan polistiren dengan heptana sebagai simulan pangan menggunakan kromatografi gas dengan pendeteksi ionisasi nyala, sesuai prosedur uji yang diatur dalam Peraturan Kepala Badan POM Nomor HK.03.1.23.07.11.6664 Tahun 2011 tentang Pengawasan Kemasan Pangan. Hasil validasi metode analisis adalah linieritas dengan persamaan regresi y = 0,186x nilai R2 = 0,999, presisi dengan nilai relatif standar deviasi (RSD) = 0,93 %, akurasi dengan persen perolehan kembali (% recovery) 98,04 ± 2,62 %, pada konsentrasi stiren yang ditambahkan 502 μg/g dan selektivitas yang baik. 
Penggunaan Minyak Sawit Merah untuk Pembuatan Lemak Bubuk Kaya β-Karoten Melalui Proses Pendinginan Semprot Juanda Reputra; Purwiyatno Haryadi; Nuri Andarwulan
agriTECH Vol 35, No 4 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (543.157 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9324

Abstract

Beta-carotene-rich fat powder was prepared from the mixture of red palm oil/RPO (olein and stearin) and fully hydrogenated palm oil/FHPO by using spray chilling process. Effects of composition of fats used on fat powder flowability, were studied. Our research showed that spray chilling process may be used to produced β -carotene rich-fat powder. Our result also indicated that the use of higher composition of RPO to increase β-carotene content of fat powder tend to reduce the flowability of the resulting fat powder. The maximum ratio of RPO/FHPO used to produce free flowing fat powder was 50% (formula of F50) with β-carotene content of 167.71 ppm. Our research also showed that the melting point of molten mixture fat used was significantly correlated with flowability of the resulting fat powder. The higher melting point of molten fat, the lower the angle of repose or the better flowability of fat powder produced.ABSTRAKLemak bubuk kaya β-karoten telah dibuat dengan menggunakan campuran minyak sawit merah (MSM) fraksi olein dan stearin, serta minyak sawit terhidrogenasi penuh (FHPO) melalui proses pendinginan semprot. Penelitian ini dilakukan untuk melihat pengaruh komposisi campuran minyak tersebut terhadap karakteristik lemak bubuk yang dihasilkan, terutama sifat daya alir. Hasil penelitian menunjukkan bahwa proses pendinginan semprot bisa menghasilkan lemak bubuk kaya β -karoten. Penelitian ini juga menunjukkan bahwa peningkatan rasio MSM untuk meningkatkan kadar β-karoten akan menurunkan daya alir lemak bubuk yang dihasilkannya. Rasio maksimal MSM/FHPO yang dapat digunakan untuk menghasilkan lemak bubuk yang mudah mengalir diperoleh sebesar 50/50 (formula F50), dimana lemak bubuk tersebut mempunyai kadar β-karoten sebesar 167.71 ppm. Titik leleh bahan lemak berkorelasi kuat dengan daya alir lemak bubuk yang dihasilkan, dimana semakin tinggi titik leleh akan menghasilkan lemak bubuk dengan daya alir yang lebih baik, yang ditunjukkan dengan sudut gulir yang lebih rendah.
Pengaruh Pengolahan Panas terhadap Konsentrasi Antosianin Monomerik Ubi Jalar Ungu (Ipomoea batatas L) Ai Mahmudatussa'adah; Dedi Fardiaz; Nuri Andarwulan; Feri Kusnandar
agriTECH Vol 35, No 2 (2015)
Publisher : Faculty of Agricultural Technology, Universitas Gadjah Mada, Yogyakarta, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (477.374 KB) | DOI: 10.22146/agritech.9398

Abstract

potato (PSP) is one source of antocyanin consisting of 98% acylated anthocyanin of the total anthocyanin content in tuber. Anthocyanin color varies from red, purple, blue to yellow. The color and amount of anthocyanin may change due to heating processings. The purpose of this research was to observe the changes in color and anthocyanin monomeric content in PSP during heat processing of flakes. The other purpose of this reseach was to observe the order kinetics model of effect temperature and time baking on total anthocyanin monomeric of fresh PSP and rehydration PSP flakes. The experimental applied a completely randomized design with three replications. The color and amount of anthocyanin (L * = 23.38 ± 0.71, C = 9.84 ± 0.98, Hue = 12.25 ± 1.61). Total monomeric anthocyanin in fresh PSP was 1.45 ± 0.00 mg cyanidin equivalent (CyE)/g dry basis (db). In general, the color and the amount of PSP anthocyanin changed during the flakes processing. Steamed PSP for 7 minutes turned its color into a bright purple (L * = 25.88 ± 0.47, C = 24.64 ± 0.25, Hue = 348.83 ± 0.33) with the amount of monomeric anthocyanin increased to 3.76 ± 0.01 CyE mg/g db. Flakes PSP was very bright purple (L * = 36.12 ± 0.11, C = 9.97 ± 0.18, Hue = 359.29 ± 0.31) and the amount of monomericanthocyanin was slightly lower than that of steamed sweet potato (3.19 ± 0.12 mg CyE / g db). Total monomeric anthocyanin of fresh PSP and rehydration flakes PSP decrease during baking time.ABSTRAKAntosianin merupakan salah satu kelompok zat warna alami yang terdapat pada tanaman, seperti daun, bunga, umbi, buah atau sayur. Salah satu sumber antosianin pada tanaman adalah ubi jalar ungu (UJU) yang mengandung lebih dari 98% antosianin terasilasi dari konsentrasi antosianin umbi. Warna antosianin bervariasi mulai dari merah, ungu, biru, sampai kuning. Warna dan konsentrasi antosianin dapat berubah karena pengaruh panas. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari perubahan warna dan konsentrasi antosianin monomerik sebagai akibat proses pengolahan dalam pembuatan  UJU. Penelitian ini mengkaji juga mengenai model kinetika reaksi pengaruh suhu dan waktu panggang terhadap konsentrasi antosianin UJU segar dan  rehidrasi. Penelitian menggunakan rancangan acak lengkap dengan tiga kali ulangan. Warna dan konsentrasi antosianin dari UJU segar, setelah proses pengukusandan setelah menjadi  dibandingkan. UJU segar berwarna ungu kecoklatan (L=23,38±0,71, C=9,84±0,98, Hue=12,25±1,61). Konsentrasi antosianin monomerik pada UJU segar adalah 1,45±0,00 mg setara sianidin (CyE)/gbasis kering (bk). Secara umum, warna dan konsentrasi antosianin UJU berubah selama proses pembuatan . UJU yang dikukus selama 7 menit berubah menjadi ungu cerah (L* * =25,88±0,47, C=24,64±0,25, Hue=348,83±0,33) dengan konsentrasi antosianin monomerik meningkat menjadi 3,76±0,01 mg CyE/g bk.  UJU berwarna ungu sangat cerah (L =36,12±0,11, C=9,97±0,18, Hue=359,29±0,31) dan konsentrasi antosianin monomerik sedikit lebih rendah dibandingkan ubi jalar setelah dikusus (3,19±0,12 mg CyE/g bk). Jumlah antosianin monomerik UJU segar dan rehidrasi menurun seiring dengan waktu dan suhu pemanggangan.
Co-Authors - Mursalin . Elfi . Mursalin A.A. Ketut Agung Cahyawan W Adawiyah, Dede Ade Nugraheni Herawati Affandi, Arief R Afifah Z. Agista Afni, Sabri Ella Agustin, Denny Agustina, Lenny Ai Mahmudatussa'adah Ai Mahmudatussa’adah Ajeng Kurniasari Putri Al Manar, Primadika Aminudin Aminudin Andarini Diharmi Andri J. Laksana Anik Nur Hidayati Anton Apriyantono Ardiansyah . Arief Rakhman Affandi Awaludin, Mohamad Ayu C. Wulan Ayu Cahyaning Wulan Azis Boing Sitanggang Baiq Pebrianti Hidayati C Hanny Wijaya Dahrul Syah Deddy Muchtadi Dede R. Adawiyah Dede R. Adawiyah Dede R. Adawiyah Dede Robiatul Adawiyah Dedi Fardiaz Dedin F R Denny Agustin Denny Agustin Denny Agustin Desty G. Pratiwi Desty Gitapratiwi Desty Gitapratiwi Desty Gitapratiwi Desty Gitapratiwi Desty Gitapratiwi Dewi Fortuna Ayu Dewi Monita Sari Dewi, Fitriya N. Dian Herawati Dias Indrasti Dina Mariana Dina Mariana Dirayati Hanifah Dodik Briawan Drajat Martianto Drajat Martianto Dwi Fitriani Dwi Fitriani Dwi Ishartani Dwi Karmila Syafriyanti Dwi Rahmawati Dwi Rahmawati Dwiyitno Dwiyitno Dwiyitno Dwiyitno Eddy KemenadyKemenady Efriwati Efriwati Eko Hari Purnomo Elvira Syamsir Endang Prangdimurti Endang Sri Heruwati Endang Sri Heruwati Erka Fitria Ervizal A. M. Zuhud Ervizal Amir Muhammad Zuhud Ervizal AMZU Erwin Riyadi Fadhilah Nur’Azizah farida ariyani Farida Ariyani Feri Kusnandar Fifi Retiaty Firdaus, Safira Fitrah Ernawati FITRY TAFZI Friska Citra Agustia Gema Noor Muhammad Giri Rohmad Barokah Gitapratiwi, Desty Hanifah Nuryani Lioe Hari Eko Irianto Hari Eko Irianto Hartuti, Wiwi Henni Rizki Septiana Hidayati, Rima Hilda Utami Anwar I Nyoman Adi Putra I Wayan Rai Widarta IB Ketut Widnyana Yoga Ineke Kusumawaty Inneke Kusumawaty Inneke Kusumawaty, Inneke Ismail Saleh Ismail Saleh Jan Schwarzbauer Jan Schwarzbauer Juanda Reputra Kartika Sari Kemenady, Eddy Khoerul Bariyah Koji Ishiguro Koji Ishiguro Krisjati, Paulina Gandhes Dian Krisna Margaretta Malau Laksana, Andri J. Laksmi Istikasari Laksono Trisnantoro Larissa Dsikowitzky Larissa Dsikowitzky Layyinan Hafizha Khalish Liber Liber Lilis Nuraida Lily Viruly Lisa Norisza Sjahwil Lula Nadia M. Aman Wirakartakusumah M. Aman Wirakartakusumah Madaniyah, Siti Maggy T. Suhartono MAGGY T. SUHARTONO Maggy T. Suhartono Mala Nurilmala Manar, Primadhika Al Maria Afrida Maria Fransisca Njoman Maryuliano, Ilham Maya Melati MINTARSIH Mirna Isyanti Muhammad Fadillah Muhammad Hasjim Bintoro Djoefrie Hasjim Bintoro Djoefrie Mursalin . Mursalin Mursalin MURSALIN MURSALIN Muslim, Nizar Saeful Nancy Dewi Yuliana ndang Sri Heruwati Nugroho Indrotristanto Nur Aini . Nur Wulandari Nur Wulandari Nur, Ria Choriatul Nurcahali, Fani Palupi, Nurheni Sri Pamungkas, Joko Policybrief, Submission Pribadi, Moch Fadlal Islamay Pribadi, Moch. Fadlal Islamay Prijono, Mariana prima luna Primadhika Al Manar Purwiyatno Hariyadi Purwiyatno Haryadi Puspo Edi Giriwono Putri, Fiadini Putri, Permata Adinda R. Iis Arifiantini Ratih Dewanti -Hariyadi Ria Choriatul Nur Ria Noviar Triana Ria Noviar Triana Ria Noviar Triana Ria Noviar Triana Rimbawan , Rimbawan Rimbawan rina ekawati Rina Ekawati Rini Kesenja Rini Kesenja Rosy Hutami Rusdi Sabri Ella Afni Salsabila, Unik Hanifah Sandra Arifin Aziz Santi Dwi Astuti Santi Dwi Astuti Santi Dwi Astuti sapanli, kastana Satiti Kawuri Putri Satrya Dharmawan Septiana, Henni Rizki Septiani, Bunga Shannora Yuliasari SHANNORA YULIASARI Siti Madanijah Siti Madaniyah Slamet Budijanto Slamet Wahyudi Sri Widowati SRI YULIANI Sri Yuliani Sukamto, Ika Sumiyarsi Sutrisno Koswara Syafriyanti, Dwi Karmila Takahiro Noda Takahiro Noda Tanti Lanovia1,2)* Tensiska, Tensiska Tiara Aninditha Tien R. Muchtadi Titi Candra Sunarti Tjahja Muhandri Tri Haryati Tri Haryati Triana, Ria Noviar Tunggul Waloya Victoria Valentina Wahid Yulianto Wardhani, Ajeng Widyaningrum Kusuma Wibowo, Laksono Wincy Wincy Wincy, Wincy Winiati P. Rahayu Winiati Pudji Rahayu Yoga Putranda Yuliani, Sri Yulianti Yulianti YULIASARI, Shannora Yundari, Yundari Zada Agna Talitha Zita L. Sarungallo Zuhud, Ervizal A. M. Zulaikhah Zulaikhah Zulaikhah Zulaikhah Zulaikhah Zulaikhah, Zulaikhah