Claim Missing Document
Check
Articles

Pendampingan Usahatani Jagung Pakan dan Kedelai Edamame pada Ponpes Nurul Muhibbin, Kalimantan Selatan Nugroho, Agung; Purnomo, Joko; Santoso, Untung; Jumar, Jumar; Imam Nugraha, Muhammad; Ramadani, Qudsi; Ronny Hakim, Muhammad; Nol Hakim, Lukman; Septiana, Noni; Rahman Sidik, Rifqi; Mislawati, Mislawati; Nurlita, Saskia; Adrianoor Saputra, Riza
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 10 No. 3 (2024): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian Kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.10.3.289-296

Abstract

Routine assistance to several Islamic boarding schools, including the Nurul Muhibbin Halong Islamic Boarding School, is the Adaro Santri Sejahtera (PASS) Program. This program focuses on skill development so that besides having religious knowledge, students are also expected to know about entrepreneurship. This mentoring activity is a form of Community Service (PkM) for Lambung Mangkurat University (ULM) as a driving effort to develop a business unit for cultivating and marketing community agricultural products, such as feed corn and organic edamame. This activity is also aimed at making Islamic boarding schools more prosperous, independent, and advanced in learning religious knowledge and providing students with knowledge and skills in agribusiness to become independent people. This activity was carried out for four months (August‒December 2021) at the Nurul Muhibbin Islamic Boarding School, Halong District, Balangan Regency, South Kalimantan, with a target number of participants of 20 people. The method used in this activity is a classical and individual approach. The classical approach was taken when providing theory regarding the introduction of feed corn cultivation and organic edamame, while the individual approach was taken when filling out the questionnaire. This service activity produces elements of Islamic boarding school students, caregivers, and congregation farmers who have knowledge, understanding, and skills in intensive feed corn and organic edamame cultivation. This is essential capital for the Islamic boarding school to continue and develop farming to create an independent Islamic boarding school.
Kompos Limbah Baglog Jamur Tiram sebagai Alternatif Budidaya Edamame di Tanah Gambut Saputra, Riza Adrianoor; Ramadani, Qudsi; Jumar, Jumar
Jurnal Teknologi Lingkungan Vol. 25 No. 1 (2024)
Publisher : BRIN Publishing (Penerbit BRIN)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.55981/jtl.2024.3562

Abstract

Along with the times, edamame has good prospects for development. This prospect can be seen from the high demand for exports of around 100,000 t year-1. However, Indonesia is only able to fulfill about 3% of it. The lack of fulfillment of the export market for edamame is due to several constraints in its development. One of the obstacles is the availability of fertile land. Peatlands in South Kalimantan have problems with high soil acidity and low soil fertility. Using oyster mushroom baglog waste (OMBW) is an effort to increase peat soil fertility and edamame production. This study aims to determine the best dosage of OMBW compost for raising soil pH, growth, and yield of edamame on peat soils. This study was structured using a one-factor completely randomized design (CRD) with five treatments, namely: 0 (b0), 5 (b1), 10 (b2), 15 (b3), and 20 t ha-1 OMBW  compost (b4). The results showed the best dose of 20 t ha-1 OMBW  compost (b4) increased plant height at 4 weeks after planting (WAP) by 45%, the number of leaves at 4 WAP by 60%, and the number of pods by 65%. In comparison, the dose of 10 t ha-1 OMBW  compost (b2) was best at increasing soil pH at 3 weeks after incubation by 20.24%, increasing plant stem diameter by 39%, and fresh pod weight by 78%.   Abstrak Seiring dengan perkembangan zaman, edamame memiliki prospek yang baik untuk dikembangkan. Hal ini terlihat dari kebutuhan ekspornya yang tinggi sekitar 100.000 t tahun-1. Namun, Indonesia hanya mampu memenuhi sekitar 3% dari kebutuhan tersebut. Kurangnya pemenuhan pasar ekspor akan edamame ini dikarenakan beberapa kendala dalam pengembangannya. Salah satu kendalanya yaitu ketersediaan lahan subur. Lahan gambut di Kalimantan Selatan memiliki masalah kemasaman tanah yang tinggi dan kesuburan tanah yang rendah. Pemanfaatan limbah baglog jamur tiram (LBJT) merupakan upaya untuk meningkatkan kesuburan tanah gambut dan produksi edamame. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui dosis terbaik kompos LBJT dalam meningkatkan pH tanah, pertumbuhan, dan hasil edamame di tanah gambut. Penelitian ini disusun menggunakan rancangan acak lengkap (RAL) satu faktor dengan lima perlakuan yaitu: 0 (b0), 5 (b1), 10 (b2), 15 (b3), dan 20 t ha-1 kompos LBJT (b4). Penelitian ini menghasilkan dosis terbaik yaitu 20 t ha-1 kompos LBJT (b4) mampu meningkatkan tinggi tanaman pada 4 minggu setelah tanam (MST) sebesar 45%, jumlah daun pada 4 MST sebesar 60%, dan jumlah polong sebesar 65%. Sebagai pembanding, dosis 10 t ha-1 kompos LBJT (b2) terbaik dalam meningkatkan pH tanah pada 3 minggu setelah inkubasi sebesar 20,24%, meningkatkan diameter batang tanaman sebesar 39%, dan bobot polong segar sebesar 78%.
Pengelolaan Produk Samping Budidaya Jamur Tiram menjadi Pupuk Organik di Desa Danda Jaya, Barito Kuala Saputra, Riza Adrianoor; Santoso, Untung; Aulia, Siska; Nehemia, Jean Melver; Wahdah, Rabiatul; Sari, Yulia Padma
Agrokreatif: Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 12 No. 1 (2026): Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat
Publisher : Institut Pertanian Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agrokreatif.12.1.168-174

Abstract

Danda Jaya Village is one of the primary oyster mushroom producing areas in Barito Kuala Regency, South Kalimantan Province, but until now, the baglog waste from these cultivation activities has not been optimally managed, potentially leading to environmental pollution. This Community Service (PKM) activity aims to increase the knowledge and skills of oyster mushroom cultivators in processing baglog waste into organic fertilizer. The implementation method involved preparation, execution—consisting of lectures and practical fertilizer-making sessions—and evaluation using questionnaires. The activity was attended by 24 participants who are members of the oyster mushroom cultivation group. The practical sessions utilized oyster mushroom baglog waste (50 kg) as the primary material, mixed with cow manure, bran, agricultural lime, EM4, and molasses. Evaluation results showed a significant increase in participant knowledge; while technical procedural knowledge ranged from 0‒18.75% before the activity, it surged to 80‒100% after the training. Currently, 100% of the participants understand that baglog waste can be processed into compost, which is expected to be independently applied to their respective agricultural lands in Danda Jaya Village to support environmental sustainability.
Pelatihan Pembuatan Pupuk Organik Berbasis Gulma Rawa dan Tandan Kosong Kelapa Sawit Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis; Purba, Febriani; Saputra, Riza Adrianoor; Rohmanna, Novianti Adi
Lumbung Inovasi: Jurnal Pengabdian kepada Masyarakat Vol. 11 No. 1 (2026): March
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/rq9vqt56

Abstract

Kegiatan pengabdian masyarakat ini bertujuan mengembangkan teknologi pembuatan pupuk organik berbasis gulma rawa dan tandan kosong kelapa sawit (TKKS) untuk mendukung keberlanjutan budidaya Cabai Hiyung di Desa Hiyung, Kabupaten Tapin, Kalimantan Selatan. Metode yang diterapkan meliputi survei awal, sosialisasi, pembangunan rumah pupuk, pelatihan pembuatan pupuk organik dan pengoperasian mesin pencacah bahan organik, serta pendampingan dan monitoring produksi kompos pada skala kelompok. Hasil pelaksanaan menunjukkan: (1) terbangunnya fasilitas rumah pupuk beserta mesin pencacah; (2) percepatan waktu kematangan kompos dari rata-rata 2–3 bulan menjadi sekitar 3–4 minggu pada kondisi operasional rumah pupuk; (3) pengurangan kebutuhan tenaga kerja pada tahap pengolahan hingga ≈40%; (4) 100% peserta pelatihan mampu memproduksi pupuk organik secara mandiri setelah pendampingan; dan (5) estimasi awal potensi penghematan biaya pembelian pupuk anorganik berkisar 20–30% dengan penurunan penggunaan NPK tampak pada tingkat kelompok (≈10% pada periode awal adopsi). Selain itu, sampel kompos yang dipantau selama 21 hari menunjukkan karakter fisik kematangan yang sesuai kriteria (warna coklat gelap, tekstur remah, tidak berbau menyengat). Kegiatan ini memperkuat kemandirian penyediaan input organik oleh kelompok tani dan berpotensi meningkatkan kesuburan tanah jangka menengah. Rekomendasi meliputi pendampingan lanjutan untuk uji lapang efektivitas pupuk terhadap produktivitas tanaman, optimasi rasio bahan, serta pemeliharaan fasilitas agar keberlanjutan produksi pupuk organik dapat terjamin.  Empowerment of Farmer Groups through Organic Fertilizer Production Based on Swamp Weeds and Oil Palm Empty Fruit Bunches Abstract This community service program aimed to develop an organic fertilizer production technology utilizing swamp weeds and empty fruit bunches of oil palm (EFB) to support the sustainable cultivation of Hiyung chili in Hiyung Village, Tapin Regency, South Kalimantan. The methods included preliminary surveys, awareness sessions, the construction of an organic fertilizer house, training on the production of organic fertilizer and the operation of a shredding machine, as well as mentoring and monitoring of compost production at the farmer-group level. The results demonstrated: (1) the successful establishment of an organic fertilizer house equipped with a shredding machine; (2) a significant reduction in compost maturation time, from the usual 2–3 months to approximately 3–4 weeks under controlled operational conditions; (3) a reduction of labor requirements by around 40% during the processing stage; (4) full adoption of the technology by participants, with 100% of trainees able to independently produce organic fertilizer after the mentoring phase; and (5) an estimated 20–30% potential reduction in chemical fertilizer expenditure, accompanied by an observed initial decrease of about 10% in NPK use at the group level. Weekly monitoring over 21 days also showed that the compost produced met the physical criteria for maturity—including dark brown color, crumbly texture, and the absence of foul odor. Overall, the program strengthened the self-sufficiency of the farmer group in producing organic inputs and has the potential to improve soil fertility in the medium term. Future recommendations include extended mentoring through field trials, optimization of raw material ratios, and regular maintenance of production facilities to ensure long-term sustainability.
Co-Authors Abdul Rahman Adhani, Muhammad Ridho Agus Saputera Ahmad Rosadi Ahmad Wahyudianur Akhmad Habibullah Akhmad Rizali Akhmad Rizali Alda Navira Amalia, Hilma Andini Putri Syawalluna Anis Wahdi Anshary, Muhammad Saifuddin Apriani, Rila Rahma Ayu Fitriani Ayu Lestari aziza, noor laili Bahjatussaniah Chatimatun Nisa Dwi Jaka Ananda Edo Legianto Pratama Ellya, Hikma Fadhil, Muhammad Syarif Farid, Muhammad Miftah Febriani Purba Gazali, Akhmad Guna, Ridho Adji Hafidzah, Fadia Audyani Hakim, Muhamad Karim Abdillah Helwenda Helwenda Husna, Kamilatul I Gede Kariasa Imam Nugraha, Muhammad Indradewa, Rhian Indriani Indriani Irawan, Herri Irvan Indra Resnawan Joko Purnomo Juanda Saputra Jumar Jumar Jumar Jumar Jumar Jumar Jumar, Jumar Kamiliah Wilda Kastalani, M. Abral Khairunnisa, Azra Jannati Komala Aminda Putri Komala Aminda Putri Komala Aminda Putri Komalasari, Noor Lia Rahcmawati Luki Anjardiani M. Shaleh Wafiuddin Magfirah, Mutiarani Salsabila Majid, Zuliyan Agus Nur Muchlis Marchel Alfaro Sefanya Masyhudah Rosni Merry Awalia Mila mila Mislawati, Mislawati Muhammad Aldy Zidani Muhammad Alfian Muhammad Aminuddin, Muhammad Muhammad Aulia Mahendra Muhammad Hayatullah Muhammad Imam Nugraha Muhammad Noor Muhammad Noor Muhammad Noor Muhammad Nova Alfarisy Muhammad Raihan Aulia Rahman Muhammad Saifuddin Anshary Mulyawan, Ronny Munanto Munanto Nabila, Ardelia Najirul Hafizah Najwa, Nugraha Anthoni Nehemia, Jean Melver Nina Budiwati Nindhiani, Faridawati Junjung Nol Hakim, Lukman Noni Septiana Noor Aisyah Noor Khamidah Noor Laila Aziza Noor Laili Aziza Noor Laili Aziza Norwinda Norwinda Norwinda, Norwinda Nour Wasilah Shopa Riska Novitriani Saragih Nugroho, Agung Nurin Nisa Farah Diena Nurlaila Nurlita, Saskia Nursyam Andi Syarifuddin Perdana, Arga Kusuma Pradana, Adiatma Putra Prayogo, Joni Yogo Puspita, Regina Ayu Putri, Rizka Diandra Rahmadini, Delvy Diena Rahman Sidik, Rifqi Ramadani, Qudsi Riska Amelisa Rizki Fadila Rohmanna, Novianti Adi Ronny Hakim, Muhammad Saputera, Agus Saputri, Henny Ramelan Sari, Noorkomala Sari, Nukhak Nufita Satrianto, Daniel Septiana, Noni Siska Aulia Siti Fatimah Siti Fatimah Siti Raudhatul Jannah Sitti Waahidaturrahmah Sofyan, Antar Sofyan, Antar Sofyan, Antar Suparto, Hairu Syarbini, Muhammad Syati Irawati Syawalluna, Andini Putri Tuti Heiriyani Untung Santoso Untung Santoso Vina Amelia, Vina Wahdah, Rabiatul Wahdah, Rabiatul Widyastuti, Maulinda Wijaya, Erlangga Nata Yulia Padma Sari Yunda, Alifia Dearta Zein Andri Faisal Akmal Zidani, Muhammad Aldy