Claim Missing Document
Check
Articles

Found 3 Documents
Search
Journal : Empiricism Journal

Peran Tri Hita Karana dalam Kehidupan Masyarakat dan Institusi: Kajian Komprehensif Berdasarkan Literatur Ahzan, Sukainil; Pangga, Dwi; Sutajaya, I Made; Astawa, Ida Bagus Made; Suja, I Wayan
Empiricism Journal Vol. 5 No. 2: December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i2.2370

Abstract

Penelitian ini mengeksplorasi peran filosofi Tri Hita Karana (THK) sebagai kerangka kerja untuk menciptakan harmoni dalam kehidupan masyarakat dan institusi di Bali. Dengan menggunakan tinjauan pustaka sistematis berbasis pedoman PRISMA, penelitian ini menganalisis 30 artikel yang relevan dari tahun 2014 hingga 2024. Hasil penelitian menunjukkan bahwa THK memainkan peran signifikan dalam berbagai aspek kehidupan, termasuk hubungan spiritual dengan Tuhan (parhyangan), interaksi sosial (pawongan), dan pelestarian lingkungan (palemahan). Filosofi ini tidak hanya mendukung harmoni sosial dan budaya melalui kegiatan kolektif seperti gotong royong dan pelestarian adat, tetapi juga menjadi pedoman dalam praktik keberlanjutan lingkungan. Pada tingkat institusi, THK diadopsi dalam kebijakan pemerintah, pendidikan, dan pariwisata, menghasilkan keseimbangan antara pembangunan ekonomi, pelestarian budaya, dan konservasi lingkungan. Meski demikian, tantangan dalam implementasi THK mencakup tekanan globalisasi, individualisme, dan modernisasi yang dapat mereduksi nilai-nilai tradisional. Penelitian ini memberikan kontribusi dengan mengidentifikasi praktik terbaik dalam penerapan THK serta relevansinya dalam konteks global. Implikasi praktis dari penelitian ini mencakup pengembangan kebijakan berbasis THK, penguatan strategi pendidikan, dan model keberlanjutan institusi yang menekankan keterpaduan antara nilai tradisional dan inovasi modern. Hasil ini mempertegas bahwa THK bukan sekadar filosofi lokal, melainkan pendekatan universal yang relevan untuk mendukung pembangunan berkelanjutan dan harmoni sosial di era modern. The Role of Tri Hita Karana in Community and Institutional Life: A Comprehensive Literature ReviewAbstractThis study explores the role of the Tri Hita Karana (THK) philosophy as a framework for fostering harmony in community and institutional life in Bali. Using a systematic literature review guided by PRISMA protocols, the research analyzes 30 relevant articles published between 2014 and 2024. The findings demonstrate that THK plays a significant role across various aspects of life, including spiritual connections with God (parhyangan), social interactions (pawongan), and environmental preservation (palemahan). This philosophy not only promotes social and cultural harmony through collective activities such as communal work (gotong royong) and cultural preservation but also serves as a guideline for environmental sustainability practices. At the institutional level, THK is adopted in government policies, education, and tourism, creating a balance between economic development, cultural preservation, and environmental conservation. However, challenges in implementing THK include pressures from globalization, individualism, and modernization, which can erode traditional values. This study contributes by identifying best practices in applying THK and highlighting its relevance in a global context. The practical implications of this research include the development of THK-based policies, the strengthening of educational strategies, and institutional sustainability models that emphasize the integration of traditional values and modern innovation. These findings underscore that THK is not merely a local philosophy but a universal approach relevant to supporting sustainable development and social harmony in the modern era.
Membangun Keseimbangan Global dengan Implementasi Tri Hita Karana untuk Keberlanjutan Sosial, Ekologis, dan Budaya Handayani, Baiq Vina; Sutajaya, I Made; Suja, I Wayan; Astawa, Ida Bagus Made
Empiricism Journal Vol. 5 No. 2: December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i2.2382

Abstract

Filosofi Tri Hita Karana (THK) yang berakar pada budaya Bali melambangkan keharmonisan antara manusia dengan Tuhan (Parahyangan), manusia dengan sesamanya (Pawongan), serta manusia dengan lingkungan (Palemahan). Tinjauan literatur sistematis ini mengeksplorasi penerapan THK di bidang sosial, ekologi, dan budaya melalui analisis tinjauan literatur menggunakan metodologi deskriptif kualitatif. Kajian analisis penelitian ini diterbitkan antara tahun 2015 hingga 2024. Di bidang sosial, THK terbukti efektif meningkatkan pembentukan karakter, perilaku etis, dan hasil belajar, serta menanamkan nilai-nilai seperti kejujuran dan kerja sama. Pada aspek ekologi, THK diterapkan untuk melestarikan sistem irigasi Subak dan Sungai Ayung, menonjolkan kolaborasi masyarakat dalam menjaga keseimbangan ekosistem. Dari perspektif budaya, THK melestarikan identitas lokal melalui tata kelola berbasis nilai tradisional yang mendukung keberlanjutan lintas generasi. Hasil studi menunjukkan bahwa pendekatan holistik THK mempunyai potensi signifikan dalam mengatasi tantangan keseimbangan global, terutama dalam menyeimbangkan pembangunan dengan pelestarian budaya. Namun masih terdapat kesenjangan penelitian, seperti kurangnya kajian mengenai penerapan THK di luar Bali dan integrasinya dengan teknologi modern. Penelitian di masa depan diharapkan dapat mengeksplorasi adaptasi prinsip-prinsip THK dalam konteks global dan mendorong inovasi interdisipliner untuk memastikan relevansi dan penerapannya secara luas. Building Global Balance by Implementing Tri Hita Karana for Social, Ecological and Cultural SustainabilityAbstractThe Tri Hita Karana (THK) philosophy, which is rooted in Balinese culture, symbolizes harmony between humans and God (Parahyangan), humans and each other (Pawongan), and humans and the environment (Palemahan). This systematic literature review explores the application of THK in the social, ecological, and cultural fields through literature review analysis using descriptive qualitative methodology. This research analysis study was published between 2015 and 2024. In the social sector, THK has proven effective in improving character formation, ethical behavior, and learning outcomes, as well as instilling values such as honesty and cooperation. In the ecological aspect, THK is applied to preserve the Subak irrigation system and the Ayung River, highlighting community collaboration in maintaining ecosystem balance. From a cultural perspective, THK preserves local identity through traditional value-based governance that supports sustainability across generations. The study results show that THK's holistic approach has significant potential in overcoming the challenges of global balance, especially in balancing development with cultural preservation. However, research gaps remain, such as the lack of studies regarding the application of THK outside Bali and its integration with modern technology. Future research is expected to explore the adaptation of THK principles in a global context and encourage interdisciplinary innovation to ensure their relevance and widespread application.
Sinergi Tradisi Perang Topat dan Tri Hita Karana: Studi Hubungan Antara Religi, Sosial, dan Lingkungan dalam Masyarakat Lombok Samsuri, Taufik; Sutajaya, I Made; Suja, Wayan; Astawa, Ida Bagus Made; Pahriah, Pahriah; Sukroyanti, Baiq Azmi
Empiricism Journal Vol. 5 No. 2: December 2024
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ej.v5i2.2480

Abstract

Tradisi Perang Topat di Lombok merupakan salah satu warisan budaya yang mencerminkan harmoni antara manusia dengan Tuhan, sesama, dan lingkungan, sebagaimana tercermin dalam filosofi Tri Hita Karana. Tradisi ini tidak hanya menjadi simbol toleransi antarumat beragama, tetapi juga sarana untuk menjaga keseimbangan ekosistem melalui penghormatan terhadap siklus agraris. Artikel ini bertujuan untuk menganalisis Tradisi Perang Topat dalam konteks Tri Hita Karana, menyoroti tantangan pelestarian nilai-nilai tradisi ini di era modern, serta menawarkan solusi dan rekomendasi praktis untuk menjaga keberlanjutan tradisi. Metode yang digunakan adalah pendekatan kualitatif berbasis kajian literatur, dengan mengumpulkan data dari artikel akademik, buku, dan dokumen digital. Analisis dilakukan berdasarkan tiga pilar Tri Hita Karana: Parahyangan (hubungan dengan Tuhan), Pawongan (hubungan dengan sesama), dan Palemahan (hubungan dengan lingkungan). Temuan menunjukkan bahwa Tradisi Perang Topat memainkan peran penting dalam memperkuat hubungan spiritual melalui doa lintas agama, menciptakan harmoni sosial melalui kerja sama lintas komunitas, dan menjaga keberlanjutan lingkungan melalui simbolisme agraris. Namun, tantangan seperti komersialisasi budaya, degradasi lingkungan, dan kurangnya keterlibatan generasi muda mengancam pelestarian nilai-nilai tradisi ini. Oleh karena itu, artikel ini merekomendasikan penguatan pendidikan berbasis kearifan lokal, revitalisasi tradisi dengan pendekatan kreatif untuk melibatkan generasi muda, serta pengembangan pariwisata budaya yang berkelanjutan. Tradisi Perang Topat tidak hanya relevan sebagai warisan budaya lokal tetapi juga memiliki potensi untuk menjadi model harmoni sosial dan pelestarian lingkungan yang dapat menginspirasi dunia. The Synergy of Perang Topat Tradition and Tri Hita Karana: A Study of the Relationship Between Religion, Society, and Environment in Lombok SocietyAbstractThe Perang Topat tradition in Lombok is a cultural heritage that reflects harmony between humans and God, fellow humans, and the environment, as embodied in the philosophy of Tri Hita Karana. This tradition not only symbolizes interreligious tolerance but also serves as a means to maintain ecosystem balance through respect for the agrarian cycle. This article aims to analyze the Perang Topat tradition within the context of Tri Hita Karana, highlighting the challenges of preserving its values in the modern era and offering practical solutions and recommendations for its sustainability. The method used is a qualitative approach based on literature review, collecting data from academic articles, books, and digital documents. The analysis is conducted based on the three pillars of Tri Hita Karana: Parahyangan (relationship with God), Pawongan (relationship with fellow humans), and Palemahan (relationship with the environment). The findings indicate that the Perang Topat tradition plays a crucial role in strengthening spiritual relationships through interreligious prayers, fostering social harmony through cross-community cooperation, and maintaining environmental sustainability through agrarian symbolism. However, challenges such as cultural commercialization, environmental degradation, and the lack of youth involvement threaten the preservation of these traditional values. Therefore, this article recommends strengthening education based on local wisdom, revitalizing traditions with creative approaches to engage younger generations, and developing sustainable cultural tourism. The Perang Topat tradition is not only relevant as a local cultural heritage but also holds potential as a model for social harmony and environmental preservation that can inspire the world.
Co-Authors ., In&#039 A Sediyo Adi Nugraha Abdi Radinal Saragih Ahzan, Sukainil Anak Agung Gede Agung Darmawan Anak Agung Gede Sugianthara Anggraeni, Nida Anna Sharah Artini, Nyoman Sri Aryani, Luh Nitra Aryati, Ni Ketut Dian Bharata, Ida Bagus Arya Yoga Budiastini, Ni Putu Desi CHRISTIANI ENDAH POERWATI . Cordia, Grassiana Misseri Darmiati, Ni Made Ayu Diah Dewa Made Atmaja Dewi, Kadek Ary Kumala Dewi, Ni Komang Ayu Triadi Dewi, Putu Siska Krisna Dharma Tari, I Dewa Ayu Eka Purba Dhea Vier Nanda Dewi Dr. Tuty Maryati,M.Pd . Drs. I Wayan Mudana,M.Si. . Dwipawati, Ni Made Gunarsih Faizatun Nisa' Gita, I Gusti Lanang Mahendra Gregorius Sebo Bito Gustama, I Wayan Hafsari, Ayu Marshanda Hamimah, Siti Handayani, Baiq Vina Harefa, Darmawan Haribaik, Made Adelia Suryani Hasanah, Elsia Fitri Hawali, Rebeka Filda I Gede Algunadi I Gede Algunadi I Gede Arya Sumarabawa I Gede Arya Sumarabawa I Gede Astra Wesnawa I Gede Budiarta I Gusti Lanang Mahendra Gita I Kadek Arta I Kadek Arta I Ketut Putra Jaya I Ketut Putra Jaya i ketut suratha I Ketut Suratha I Komang Wisnu Budi Wijaya I Made Sarmita I Made Sutajaya I Made Tegeh I Made Windu Antara I Nyoman Suditha I Putu Ananda Citra I Putu Sriartha I Wayan Suarsana I Wayan Suja I Wayan Treman Ida Ayu Laksmi Yuliasari In'Am Azizur Romadhon . Julia Vironika Julia Vironika K. Yunitha Aprillia K. Yunitha Aprillia Kadek Ary Kumala Dewi Kadek Ayu Astiti Kadek Ayu Astiti Komang Adi Komang Adi Kristiani, Putu Ery laxmi zahara Luh Nitra Aryani Made Adelia Suryani Haribaik Made Suryadi Made Suryadi Made Visnu Dasa Made Visnu Dasa Mahadewi, Luh Putu Putrini Mahadewi, Luh Putu Putrini Mahayani, Ni Nyoman Tri Mahsup, Mahsup Maretanta Ananda Pinasthi Maria Evanrista Roslovenia Ndoi Mujiburrahman Mujiburrahman Mujiburrahman Muslim, Suyitno Nasar, Ismail Nasar, Ismail Ni Ketut Dian Aryati Ni Komang Ayu Triadi Dewi Ni Komang Noviani Ni Komang Sinta Ratnasari Ni Luh Desy Dwi Anike Dhamayanti Ni Luh Desy Dwi Anike Dhamayanti Ni Luh Sri Novi Sumitadewi Ni Luh Yunika Valina Ni Made Ayu Diah Darmiati Ni Made Ayu Suryaningsih Ni Made Gunarsih Dwipawati Ni Nyoman Tri Mahayani Ni Putu Desi Budiastini Ni Putu Dwi Sucita Dartini Ni Putu Sri Astuti Ni Putu Sri Astuti Ni Wayan Ayu Suparmi Nida Anggraeni Nisa', Faizatun Noviani, Ni Komang Nurhalimah Nurhalimah Nurhalimah Nurhalimah Nyoman Julita Sari Nyoman Sri Artini Pahriah, Pahriah Pangga, Dwi Piscesita, Brilliantari Boeky Poerwati, Christiani Endah Pracintia, A.A.A Ngurah Shinta Putu Indra Christiawan Putu Siska Krisna Dewi Qo'idul Umam Ratnasari, Ni Komang Sinta Restu Ade Yanti Ros Indah Mareta Simanjuntak Sakinah Sakinah Sakinah Sakinah Saragih, Abdi Radinal Sharah, Anna Simanjuntak, Ros Indah Mareta Suarsana, I Wayan Suditha, I Nyoman Suja, Wayan Sukadi Sukroyanti, Baiq Azmi Suparmi, Ni Wayan Ayu Suryati Suryati Sutajaya, Made Sutarjo Sutarjo sutarjo sutarjo Syamsiar, Syamsiar Taufik Samsuri Umam, Qo'idul Uswatun Hasanah Valina, Ni Luh Yunika Wahyu Sumardeni Wisnu, I Komang Wisnu Budi Wijaya Yuliasari, Ida Ayu Laksmi