p-Index From 2021 - 2026
5.144
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Agronomi Indonesia (Indonesian Journal of Agronomy) MANAJEMEN HUTAN TROPIKA Journal of Tropical Forest Management Jurnal Gizi dan Pangan Jurnal Ilmu Pertanian Indonesia Sodality: Jurnal Sosiologi Pedesaan Forum Pasca Sarjana Jurnal Ilmu Tanah dan Lingkungan (Journal of Soil Science and Environment) Jurnal Planologi Sultan Agung Jurnal Pembangunan Wilayah dan Kota SAINS DAN MATEMATIKA Jurnal Ilmu Lingkungan TELKOMNIKA (Telecommunication Computing Electronics and Control) Jurnal Geografi : Media Informasi Pengembangan dan Profesi Kegeografian Jurnal Ilmu Komputer dan Agri-Informatika Jurnal Sumberdaya Lahan Analisis Kebijakan Pertanian JTSL (Jurnal Tanah dan Sumberdaya Lahan) Journal of Degraded and Mining Lands Management Journal of Regional and City Planning Jurnal Pengelolaan Sumberdaya Alam dan Lingkungan (Journal of Natural Resources and Environmental Management) Agrokreatif Jurnal Ilmiah Pengabdian kepada Masyarakat Jurnal Tataloka Jurnal Ekonomi & Kebijakan Publik MAJALAH ILMIAH GLOBE Journal of Regional and Rural Development Planning Journal of Socioeconomics and Development Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital Analisis Kebijakan Pertanian Jurnal Sumberdaya Lahan Jurnal Tanah dan Iklim Budapest International Research and Critics Institute-Journal (BIRCI-Journal): Humanities and Social Sciences Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan Makara Journal of Technology Journal Research of Social Science, Economics, and Management International Journal of Integrative Sciences International Journal of Multidisciplinary Approach Research and Science Jurnal Ekonomi Pembangunan Jurnal Teknik Sipil Jurnal Penginderaan Jauh dan Pengolahan Data Citra Digital
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : MAJALAH ILMIAH GLOBE

PEMETAAN KERENTANAN PETANI DI DAERAH DENGAN BAHAYA BANJIR TINGGI DI KABUPATEN KARAWANG Barus, Baba; Dharmawan, Arya Hadi; Tommi, Tommi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 18, No 2 (2016)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (593.499 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2016.18-2.351

Abstract

ABSTRAKBanjir merupakan salah satu fenomena perubahan iklim yang sering terjadi di Kabupaten Karawang. Banjir membawa dampak kerugian yang sangat besar terhadap masyarakat kabupaten yang sebagian besar bekerja di sektor pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis tingkat bahaya banjir dan tingkat kerentanan petani di daerah bahaya banjir tinggi di Kabupaten Karawang. Untuk mencapai kedua tujuan tersebut, maka analisis dalam penelitian ini dilakukan dua tahap. Tahapan pertama, dilakukan analisis tingkat bahaya banjir. Analisis tingkat bahaya banjir dilakukan untuk mendapatkan kelas tingkat bahaya banjir lahan sawah di Kabupaten Karawang. Metode yang digunakan dalam analisis tingkat bahaya banjir adalah tumpang susun (overlay) peta sawah, peta kejadian banjir, peta drainase tanah, peta curah hujan dan peta administrasi Kabupaten Karawang. Tahapan kedua, dilakukan analisis kerentanan petani di daerah bahaya banjir tinggi. Metode yang digunakan untuk analisis kerentanan petani adalah dengan menghitung indeks kerentanan nafkah atau Livelihood Vulnerability Index (LVI). Data yang digunakan untuk menghitung indeks LVI adalah data responden petani di daerah bahaya banjir tinggi. Hasil dari penelitian ini menunjukkan daerah di Kabupaten Karawang yang memiliki kelas tingkat bahaya banjir tinggi terdapat di Kecamatan Telukjambe Barat, Telukjambe Timur dan Jayakerta. Tingkat kerentanan nafkah petani di daerah bahaya banjir tinggi pada Kecamatan Telukjambe Barat menunjukkan petani di Dusun Pengasinan dan Dusun Kampek, Desa Karangligar, tingkat kerentanannya lebih tinggi dibandingkan dengan petani di Dusun Peundeuy, Desa Ciptamarga, Kecamatan Jayakerta.Kata kunci: banjir, tingkat bahaya, kerentananABSTRACTFlood is one of the climate change phenomenon that often occurs in Karawang District. Flood impact very big loss to the district community, mostly working in agriculture. This research aim to analyze the level of flood hazards and the vulnerability of farmers in high flood hazard area at Karawang District. The analysis consists of two steps. First step, the analysis of flood hazard level. The analysis aim to obtain flood hazard level class paddy field at Karawang District. The methods are overlay paddy fields maps, event flood maps, soil drainage maps, rainfall maps and administrative maps of Karawang District. The second step, analysis of farmer vulnerability in high flood hazard area. The analysis aim to determine the level of farmers vulnerability in high flood hazard area. The method is Livelihood Vulnerability Index (LVI). The data is respondent farmers in high flood hazard area. Results of this study indicate areas in Karawang District which has a high flood hazard level such as West Telukjambe, East Telukjambe and Jayakerta Sub District. The level of livelihood vulnerability in high flood hazard area shows farmers in Dusun Pengasinan and Dusun Kampek, Karangligar Village, West Telukjambe Sub District is higher than farmers in Dusun Peundeuy,Ciptamarga Village, Jayakerta Sub District.Keywords: flood, hazard, vulnerability
PREDIKSI PERUBAHAN TUTUPAN LAHAN DAN PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN PASCATAMBANG NIKEL DI KABUPATEN HALMAHERA TIMUR Tuni, Muhd. Siraz; Barus, Baba; Iskandar, Iskandar
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 2 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (261.118 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-2.84

Abstract

Halmahera Timur merupakan salah satu kabupaten di Provinsi Maluku Utara dengan potensi sumberdaya mineral yang besar yaitu pertambangan nikel. Namun, sumberdaya mineral yang tersedia belum memberikan dampak yang berarti bagi pertumbuhan ekonomi. Vegetasi tutupan lahan semakin berkurang dengan adanya aktivitas penambangan dan jumlah produksi pertanian tiap kecamatan terganggu. Penelitian ini bertujuan untuk memanfaatkan lahan pascatambang nikel yang mendukung perkembangan wilayah melalui beberapa pendekatan yaitu : analisis dan prediksi perubahan tutupan lahan; evaluasi tingkat perkembangan wilayah dari data PDRB dan identifikasi sektor basis tiap kecamatan; membuat skenario penggunaan lahan pascatambang nikel. Penelitian ini memperlihatkan perubahan tutupan lahan terjadi pada kelas hutan dan kebun campuran yang terkonversi menjadi bukaan tambang, sawah dan tegalan/semak/belukar terkonversi menjadi permukiman. Selain itu, sektor basis tiap kecamatan menurun dari hasil produksi karena ada konversi lahan, seperti kelas kebun campuran menjadi kelas bukaan tambang. Perubahan ini tidak diikuti dengan peningkatan ekonomi wilayah yang tinggi. Tren perkembangan ekonomi wilayah periode 2000-2010 menunjukkan peningkatan yang rendah yaitu 0,8%. Perkembangan ekonomi wilayah dan sektor basis tiap kecamatan di Kabupaten Halmahera Timur belum berkembang, sehingga perlu adanya skenario perencanaan penggunaan lahan pascatambang nikel yang sesuai dengan fungsi ruang yaitu tanaman pangan, perkebunan rakyat, hutan tanaman rakyat,dan hutan.Kata Kunci : Perencanaan Penggunaan Lahan, Lahan Pascatambang, Sektor Basis, Pengembangan Ekonomi Wilayah.ABSTRACTEast Halmahera is one of the regency in North Maluku Province with great mineral resource potential especially nickel mining. However, these mineral resources have not provided a significant impact to the economic growth. Vegetation of land cover decreased in the presence of mining activities and the amount of agriculture production from each sub district is disrupted. This study aims to utilize post-mining land of nickel supporting regional development, through a few parameters, namely : analysis and prediction of land cover change; evaluation of regional growth rate of GDP and identifying leading sector in each sub district; making scenario of ex-nickel mining land. This study showed land cover occurred on the forest class and mixed plantation class converted to land clearing mines, paddy and moors / bush / shrubconverted to settlements. Beside that, leading sector of each sub district decreased of existing production due to land conversion, such as mixed plantation class to be class of mine openings. These changes were not followed by regionaleconomy development. The trend of regional economic development of the period 2000-2010 showed a low increase of 0,8%. Regional economic growth and leading sector each sub district in East Halmahera Regency is undeveloped, so that this needs the presence of scenarios for land use planning of ex-nickel mining appropriate with the spatial function namely food crops, smallholder plantations, community plantation forests, and forest.Keyword : Land Use Planning, Ex-Mining Land, Leading Sector, Regional Economic Development.
PERENCANAAN PENGGUNAAN LAHAN BERBASIS KONSERVASI SUMBER DAYA AIR DI SUB DAS CISADANE HULU Maryanto, Dwi; Baskoro, DP Tejo; Barus, Baba
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 15, No 1 (2013)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (423.923 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2013.15-1.71

Abstract

ABSTRAKPermasalahan penggunaan lahan di Sub DAS Cisadane Hulu sudah mengganggu kondisi tata airnya. Tujuan daripenelitian ini adalah untuk (1) mengidentifikasi kinerja sub-sub DAS; (2) menentukan arahan penggunaan lahan; dan(3) mengidentifikasi preferensi masyarakat tentang jenis penggunaan lahan yang optimal. Parameter penilai kinerjasub-sub DAS meliputi Indeks Penggunaan Lahan (IPL), koefisien limpasan (C), Indeks Bahaya Erosi (IBE) dan kadarsedimen (SC). Hasil analisis menunjukkan bahwa dari 44 sub-sub DAS Cisadane Hulu, 36 sub-sub DAS berkinerjaBuruk dan 8 lainnya berkinerja Sedang. Untuk meningkatkan kinerjanya digunakan skenario terbaik dalam rangkakonservasi sumberdaya air. Skenario Fungsi Kawasan menghasilkan komposisi penggunaan lahan yang terbaik,dibanding skenario Kemampuan Lahan dan RTRW. Dalam skenario terbaik, Sub DAS Cisadane Hulu terbagi atas 3kawasan dengan prioritas penggunaan lahan yang berbeda. Kawasan Lindung diarahkan untuk hutan, kawasanpenyangga diarahkan untuk hutan dan perkebunan campuran, dan kawasan budidaya diarahkan untuk sawah.Analytic Hierarchy Process (AHP) menunjukkan bahwa masyarakat memilih kawasan penyangga diarahkan untukperkebunan campuran dan kawasan budidaya diarahkan untuk sawah. Untuk melaksanakan arahan penggunaanlahan terbaik tersebut, diperlukan strategi kebijakan yaitu penetapan status kawasan, sosialisasi dan pengendalianpemanfaatan ruang yang ketat.Kata Kunci: DAS, Konservasi Sumberdaya Air, Arahan Penggunaan Lahan.ABSTRACTLand use problem in Cisadane Hulu sub watershed has led to deterioration of water resources, so that moreattention should be given to water resources conservation. The objectives of this research were: (1) to identify theperformance of sub watersheds, (2) to evaluate alternatives of land use allocation, and (3) to identify people’spreference on optimum land use. Parameters used for assessing the performance of sub watersheds include LandCover Index (IPL), coefficient of runoff (C), Erosion Hazard Index (IBE) and Suspended Sediment Concentration (Sc).Among the sub watersheds, 36 sub watersheds showed “Poor” performance, and 8 sub watersheds showed “Medium”performance. To improve the performance, 3 scenarios of land use allocation were simulated, those based onFunctional Zone, Land Capability, and Land Use Planning (RTRW). The result showed that Functional Zone scenarioproduced the best result. The best scenario directed the Cisadane Hulu sub watershed into 3 main areas with differentland use priorities. Within this scenario, protected area is directed as forest, buffer zone area as forest or mixedplantation, and cultivated area as rice field. Meanwhile, Analytic Hierarchy Process (AHP) result showed that peopleprefer to use the buffer zone area as mix plantation and the cultivation area as rice field. To implement the best landuse allocation, strategic policy is required such as defining legal status of particular area, socialization andimplementation of tight control of the land use.Keyword: Watershed, Water Resources Conservation, Land Use Allocation.
ANALISIS POTENSI PENGEMBANGAN HUTAN RAKYAT DI KABUPATEN LOMBOK TENGAH Setiawan, Hendra; Barus, Baba; Suwardi, Suwardi
MAJALAH ILMIAH GLOBE Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (419.704 KB) | DOI: 10.24895/MIG.2014.16-1.52

Abstract

ABSTRAKKawasan hutan Kabupaten Lombok Tengah saat ini tidak bisa memproduksi hasil hutan kayu karena kondisi vegetasi hutan kurang optimal sehingga terjadi defisit kebutuhan kayu di wilayah ini. Salah satu alternatif untuk memenuhi kebutuhan kayu adalah melalui produksi hutan rakyat. Saat ini produksi hutan rakyat masih rendah tetapi berpotensi besar, untuk itu dibutuhkan perencanaan yang baik. Tujuan penelitian ini adalah: (1) mendapatkan jenis tanaman yang potensial berdasarkan referensi masyarakat dan identifikasi tingkat kelayakan dari pengusahaan hutan rakyat; (2) memetakan kesesuaian lahan untuk pengembangan hutan rakyat; (3) mendapatkan potensi ketersediaan lahan untuk pengembangan hutan rakyat di Kabupaten Lombok Tengah; dan (4) menyusun arahan pengembangan hutan rakyat. Analisis data pada penelitian ini mencakup analisis data spasial berbasis Sistem Informasi Geografi (SIG), analisis finansial, identifikasi jenis tanaman hutan rakyat prioritas menggunakan Analytical Hierarchy Process (AHP). Hasil penelitian menunjukkan lahan yang dialokasikan untuk hutan rakyat di Kabupaten Lombok Tengah yang sesuai dan tersedia untuk sengon yaitu seluas 2.552,2 ha, mahoni seluas 4.363,7 ha dan jati seluas 8.825,8 ha. Analisis finansial menunjukkan bahwa pengusahaan hutan rakyat layak untuk dikembangkan terlihat dari nilai NPV, BCR, dan IRR yang memenuhi kriteria layak walaupun pada tingkat suku bunga yang berbeda. Arahan jenis tanaman hutan rakyat yaitu, pada bagian utara untuk sengon (Paraserianthes falcataria) dan mahoni (Swietenia mahogany) sedangkan di bagian selatan untuk jati (Tectona grandis). Lokasi arahan pengembangan terdapat di 8 kecamatan prioritas yaitu Pujut, Praya Barat, Batukliang, Praya Barat Daya, Batukliang Utara, Kopang, Praya Timur, dan Pringgarata. Saat ini posisi tawar petani masih rendah sehingga harga kayu dari hutan rakyat dikuasai oleh pengumpul/pedagang kayu, karena pola pengembangan dan kelembagaan kelompok tani belum terkoordinasi secara baik. Pola pengembangan kemitraan yang berbasis koperasi merupakan solusi yang tepat.Kata Kunci: hutan rakyat, pengembangan hutan rakyat, prioritas pengembanganABSTRACTCurrently, Central Lombok forest area is unable to produce timber because the forest vegetation is not in optimum condition, and resulted to the lack of wood products. Development of community forest is an alternative to meet the need for timber. Although the timber production derives from the community forest is still low, it is actually potential. Therefore, a good planning is required to boost the production. The objectives of this study were: (1) to obtain an excellent potential of plant types based on the community reference and identifiy the community forest feasibility level in terms of economic value; (2) to map potential land availability for developing community forest; (3) to assess the potential of land availability used to developed the community; and (4) to formulate the direction of community forest development. The data analyses covered in this research include spatial analyses based on Geographic Information System (GIS), financial analysis, plant type identification of the community forest priority, and conducting an Analytical Hierarchy Process (AHP). The results shows that the land allocated for the community forest in Central Lombok was suitable and available for growing sengon (Paraserianthes falcataria) (2,552.2 ha), mahogany (Swietenia mahogany) (4,363.7 ha), and teak (Tectona grandis) (8,825.8 ha). The financial analysis showed that community forest business was feasible to be developed based on the values of NPV, BCR, and IRR that met the feasibility criteria in spite of the different interest rates. The northern part of the community forest was suggested to grow sengon and mahogany while the southern part was recommended to grow teak. The recommended locations for developing the community forests consist of eight sub-districts, namely Pujut, Praya Barat, Batukliang, Praya Tenggara, Batukliang Utara, Kopang, Praya Timur and Pringgarata. The farmer’s bargaining position is apparently low so that the pricing of forest products has been controlled by the timber collectors/traders. This is due to the patterns of institutional development and farmer groups that exist today are not well coordinated. Therefore, developing a pattern of a cooperative-based partnership would be a right solution.Keywords: community forest, community forest development, development priority
IDENTIFICATION OF AGE CLASS AND VARIETIES OF RICE PLANT USING SPECTRORADIOMETRY AND CHLOROPHYLL CONTENT INDEX: (Identifikasi Kelas Umur dan Varietas Tanaman Padi Menggunakan Spektroradiometri dan Indeks Kandungan Klorofil) Munibah, Khursatul; Trisasongko, Bambang Hendro; Barus, Baba; Tjahjono, Boedi; Achmad, Alfredian; Uciningsih, Winda; Sigit, Gunardi; Hongo, Chiharu
Majalah Ilmiah Globe Vol. 24 No. 1 (2022): GLOBE VOL 24 NO 1 TAHUN 2022
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rice is the staple food for Indonesian society because more than 90% population eat rice every day. Estimation of the rice production can be monitored from the plant growth phase by utilizing remote sensing data. Spectroradiometry can be used to validate the remote sensing spectral because it has a wide wavelength range. Research objectives are to identify transplanting age class and varieties of rice plant based on spectroradiometry and its vegetation index, to analyze the relationship between spectroradiometry and chlorophyll content index (CCI). The results show that the transplanting date of 14 days, 21-32 days, and 56-68 days in three varieties (Inpari32; Padjadjaran Agritan; Siliwangi Agritan) are difficult to be distinguished at visible wavelength but it easy at infrared wavelength. The plant age class for the Siliwangi Agritan can be distinguished well on NDVI, SAVI, EVI while the Pajajaran Agritan is only on NDVI and EVI. All vegetation indexes, where the plant age of 14 days and 21-32 days for the Inpari32 are difficult to be distinguished between them, but easy to be distinguished with 56-68 days. This is due to the high sensitivity of chlorophyll to infrared wavelengths and the characteristics of rice plants itself (many tillers and plant height). Meanwhile, rice plants of every veriety are difficult to be distinguished, either on visible wavelength, infrared wavelength or on all vegetation indexes. Spectroradiometry has a high correlation with chlorophyll content index (CCI) (R2=0,88). This shows that the higher chlorophyll content in rice plants, the higher spectroradiometry for infrared wavelength.
PENGARUH KENAIKAN MUKA AIR LAUT TERHADAP KEBERADAAN PULAU-PULAU KECIL: Studi Kasus di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Herianto; Baba Barus; Vincentius P. Siregar; Nadia Shalehah
Majalah Ilmiah Globe Vol. 25 No. 1 (2023): GLOBE VOL 25 NO 1 TAHUN 2023
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kenaikan muka air laut merupakan salah satu akibat yang disebabkan oleh pemanasan global. Pemanasan global mempercepat cairnya gletser di permukaan bumi yang menyebabkan kenaikan muka air laut. Kenaikan muka air laut menyebabkan pesisir dan pulau-pulau kecil yang elevasinya relatif rendah terhadap muka air laut secara perlahan akan terendam. Pulau Panggang dan Pulau Pramuka memiliki ketinggian relatif rendah terhadap muka air laut, sehingga pulau-pulau tersebut rentan terhadap dampak kenaikan muka air laut. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui perubahan luas pulau dan wilayah terdampak akibat kenaikan muka air laut. Metode yang digunakan yaitu melakukan pengolahan data pasang surut untuk referensi, menghitung luas pulau, melakukan interpolasi kenaikan muka air laut untuk mendapatkan nilai kenaikan muka air laut dan melakukan model kenaikan muka air laut dan dampaknya terhadap luas Pulau Pramuka dan Pulau Panggang tahun 2050 dan 2100. Hasil pengolahan pasang surut menghasilkan nilai Highest Astronomical Tide (HAT) 1,85 m, Mean Sea Level (MSL) 1,36 m, dan Lowest Astronomical Tide (LAT) 0,81 m terhadap nol palem, dengan tipe pasang surutnya harian tunggal. Luas Pulau Panggang dan Pulau Pramuka pada tahun 2021 yaitu 15,09 ha dan 23,41 ha. Berdasarkan hasil interpolasi, terjadi kenaikan muka air laut di lokasi kajian sebesar 2,55 cm per tahun. Luas Pulau Panggang dan Pulau Pramuka yang berada di bawah HAT pada tahun 2050 yaitu seluas 7,53 ha dan 3,76 ha. Luas pulau yang berada di bawah HAT tahun 2100 menjadi 14,95 ha untuk Pulau Panggang dan 23,27 ha untuk Pulau Pramuka.
ANALISIS DAYA DUKUNG LAHAN UNTUK PERMUKIMAN BERBASIS ANCAMAN BENCANA DI PULAU-PULAU KECIL : Studi Kasus di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka, Kabupaten Administrasi Kepulauan Seribu Baba Barus; Herianto; Vincentius P. Siregar; Mira Harimurti
Majalah Ilmiah Globe Vol. 25 No. 1 (2023): GLOBE VOL 25 NO 1 TAHUN 2023
Publisher : Badan Informasi Geospasial

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pulau-pulau kecil merupakan wilayah yang memiliki lahan terbatas namun banyak dimanfaatkan manusia sebagai tempat bermukim. Peningkatan jumlah penduduk dan ancaman bencana merupakan tantangan dalam pengelolaan pulau-pulau kecil. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui daya dukung lahan untuk permukiman dan ancaman bencana di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka. Daya dukung lahan didasarkan pada ketersediaan lahan dengan mengacu Peraturan Menteri Agraria dan Tata Ruang/ Kepala Badan Pertanahan Nasional Nomor 17 Tahun 2016 dan sempadan pantai dengan metode buffer dari garis pantai pasang tertinggi ke arah daratan sejauh 10 m untuk Pulau Panggang, sedangkan 20 m untuk Pulau Pramuka. Kebutuhan lahan setiap individu dihitung dengan menggunakan Standar Nasional Indonesia (SNI) 03–1733:2004. Ancaman bencana gelombang ekstrim dan abrasi ditentukan berdasarkan Peraturan Kepala Badan Nasional Penanggulangan Bencana Nomor 2 Tahun 2012. Hasil penelitian menunjukkan bahwa lahan yang tersedia untuk permukiman di Pulau Panggang dan Pulau Pramuka yaitu 5,91 ha dan 8,65 ha. Kebutuhan lahan untuk permukiman penduduk tahun 2021 Pulau Panggang dan Pulau Pramuka masing-masing 16,89 ha dan 3,64 ha. Ketersediaan potensi lahan yang dapat dimanfaatkan untuk permukiman di Pulau Panggang sudah melebihi dari kebutuhannya 10,98 ha sedangkan ketersediaan potensi lahan untuk permukiman di Pulau Pramuka 5,01 ha. Hasil perhitungan ancaman gelombang ektrim dan abrasi kawasan pesisir Pulau Panggang dan Pulau Pramuka untuk ancaman tinggi seluas 67,12%, ancaman sedang 1,55% dan ancaman rendah sebesar 31,34%. Adanya analisis kebutuhan dan ketersediaan lahan serta ancaman bencana pada pulau kecil yang dialokasikan untuk permukiman akan menjadi dasar dalam penyusunan Rencana Detail Tata Ruang di suatu wilayah.
Co-Authors A Akbar Achmad, Alfredian Ade Mirza Roslinawati Adi Jaya, Adi Afan Ray Mahardika Ake Wihadanto Akhmad Fauzi Alamin Yang First Alfin Murtadho Aminah, Mimin Andhi Trisnaputra Andrea Emma Pravitasari, Andrea Emma Andri Yushar Andria Ardhy Firdian Arya Hadi Dharmawan Asnelly Ridha Daulay Atang Sutandi Azis, Muh. Ikhsan Bakri, Subhan Bambang Hendro Trisasongko Bambang Juanda Bambang P. Noorachmat Bambang Pramudya Bobby A. Palem Boedi Tjahjono Bratakusumah, Deddy S. Budi Mulyanto Budi Nugroho Budi Prasetyo Bustanul Arifin Cahyana, Destika Chiharu Hongo, Chiharu Corry Nurmala Danang Pramudita, Danang Darda Effendi Darmawan Darmawan Deddy S. Bratakusumah Deddy S. Bratakusumah Denis Muba Pandapotan Simanihuruk Desi Nadalia Dessy Arianti Destika Cahyana Diar Shiddiq Didit Okta Pribadi Didit Okta Pribadi Djuanda, Bambang Djuara P Lubis DP Tejo Baskoro, DP Tejo Drajat Martianto Dwi Maryanto, Dwi Dwi Putro Tejo Baskoro Dwi Ratnawati Christina Dyah Ita Mardianingsih Dyah R Panuju Dyah R. Panuju Dyah R. Panuju Dyah Retno Panuju Edy Djauhari Purwakusumah Eka Intan Kumala Putri Emilia Syafitri Endriatmo Soetarto Enni Dwi Wahjunie Erliza Noor Ernan Rustiadi Euis Sunarti Faris Rahmadian Fauzi, Firman Febrianti, Nur Fitri Insani Fredian Tonny Nasdian Fredinan Yulianda Gatot Yulianto Gersony Miri Hana Indriana Hans Moravia Hari Agung Hari Agung Adrianto Hari Wijayanto Harisman Edi harmes harmes Harmes Harmes Hartono, Arif Herianto Hermanto Siregar Hernanda, Tiara Aprilia Putri Hidayah, Nursantri Hilda Nurul Hidayati Hongo , Chiharu Imas Sukaesih Sitanggang Indraprahasta, Galuh Syahbana Irzaman, Irzaman Iskandar Iskandar Iswandi Umar Iwan Kurniawan Khursatul Munibah Kukuh Murtilaksono Kukuh Murtilaksono Kukuh Murtilaksono Kukuh Murtilaksono Kukuh Murtilaksono Kusumastuti, Ayu Candra Kusumawati, Balkis Lala M Kolopaking Laode Syamsul Iman Latifah Kosim Darusman M Habibi Yadi Irawanata M Munawir Mahmud A. Raimadoya Mahmud A. Raimadoya Mazlan Mira Harimurti Mohamad Rafi Muhamad Firdaus Muhammad Ardiansyah Muhammad Ardiansyah Muhammad Firdaus Muhammad Hikmat Muhammad Munawir Syarif Muhammad Mu’min Fahimuddin Muhammad Zulfikar Muhammad, Almawardi Nadia Shalehah Nandi Kosmaryandi Nina Widiana Darojati NINA WIDIANA DAROJATI Nindya Ayu Wardani Nur Febrianti Nur Febrianti Purwanto, Moh Yanuar Jarwadi Purwono Purwono Puspita, Gita Qalbi, Andria Harfani Rahmi Fajarini Reni Kusumo Tejo Reni Kusumo Tejo Reza Hanjaya Ricky Ricky Ricky, Ricky Rifyan Ruman Rilus Kinseng Rini Ariani Amir Rizaldi Boer Romiyanto Romiyanto Sabila, Salma Sabri Effendy Setia Hadi Sigit, Gunardi Siska Amelia Sitanggang, Imas S. Siti Faizah Zauhairah Siti Maesaroh Siti Nurisyah Soekmana Soma Sri Mulatsih Subhan Bakri Suci Sri Utami Sutjipto Sukiptiyah Sukiptiyah Sukiptiyah Sukiptiyah Sumardani Kusmajaya Suria Darma Tarigan Suryadi Suryadi Suryadi Suryadi Suwardi Suwardi Syahbana, Galuh Syaiful Anwar Syamsul Arifin Taopik Ridwan Tb Iwan Mulyawan Tenda, Edwin Tivianton, Tommy Andryan Tommi Tommi Tommi Tommi, Tommi Tommi, Tommi Tono, Tono Tuni, Muhd. Siraz Uciningsih, Winda Ugeng Wijanarko Umar Mansyur Untung Sudadi Vincentius P Siregar Wahyu Iskandar Werenfridus Taena Widada, Rasyid Widiatmaka Yani Nurhadryani Yiyi Sulaeman Yoyoh Indaryanti Yuda Pringgo Bayusukmara Yunito, Muhammad Rahmanda Yuri Ardhya Stanny Yusuf, Sri Malahayati Zluyan Firdaus Afif