Claim Missing Document
Check
Articles

PENGARUH MOTIVASI DAN PENGETAHUAN INVERTOR TERHADAP INTENSI KOMERSIALISASI PATEN MELALUI PERAN SCIENCE TECHNO PARK (STUDI KASUS : PRODUK FARMASI DI INSTITUT PERTANIAN BOGOR) Sukma Dhani; I Gede Made Wirabrata; Kosasih Kosasih; Yuni Puji Hastuti
Journal of Economic, Bussines and Accounting (COSTING) Vol. 8 No. 1 (2025): COSTING : Journal of Economic, Bussines and Accounting
Publisher : Institut Penelitian Matematika, Komputer, Keperawatan, Pendidikan dan Ekonomi (IPM2KPE)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31539/costing.v8i2.14161

Abstract

Komersialisasi paten memainkan peran penting dalam mendorong pertumbuhan ekonomi berbasis inovasi. Penelitian ini mengkaji pengaruh motivasi dan pengetahuan terhadap niat komersialisasi paten di kalangan penemu di Institut Pertanian Bogor (IPB), dengan Science Techno Park (STP) sebagai faktor moderasi. Studi ini melibatkan 100 dosen aktif IPB, dan data dianalisis menggunakan metode Partial Least Square-Structural Equation Modeling (PLS-SEM) dengan perangkat lunak SmartPLS versi 4.1.1. Hasil penelitian menunjukkan bahwa pengetahuan memiliki pengaruh positif dan signifikan terhadap niat komersialisasi paten, dengan nilai koefisien jalur 0,687, t-statistik 4,393 (t > 1,96), dan p-value 0,000 (p < 0,05). Motivasi, namun, menunjukkan pengaruh positif namun tidak signifikan, dengan koefisien jalur 0,124, t-statistik 1,106 (t < 1,96), dan p-value 0,269 (p > 0,05). Pengaruh moderasi STP antara motivasi dan niat komersialisasi paten lemah dan tidak signifikan, dengan koefisien jalur -0,055, t-statistik 0,703 (t < 1,96), dan p-value 0,482 (p > 0,05). Selain itu, STP tidak memperkuat hubungan pengetahuan dan komersialisasi secara signifikan. Kesimpulannya, pengetahuan sangat penting untuk niat komersialisasi paten. Meskipun STP memiliki potensi sebagai moderator, perannya masih tidak signifikan, yang menunjukkan perlunya dukungan lebih lanjut untuk penemu melalui pelatihan, penyederhanaan, dan kolaborasi dengan industri.
Pemberian Kalsium Karbonat CaCO3 pada Media Bersalinitas 3 g L-1 Untuk Pertumbuhan Ikan Sepat Siam Trichopodus pectoralis Hastuti, Yuni Puji; Mahmud, Moh Burhanuddin; Anwar, Rifky Alwafi; Supriyono, Eddy; Nirmala, Kukuh; Nurussalam, Wildan
Jurnal Akuakultur Sungai dan Danau Vol 10, No 1 (2025): April
Publisher : Universitas Batangahari Jambi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33087/akuakultur.v10i1.243

Abstract

The snakeskin gourami is a part of the superior commodity of freshwater fisheries in Indonesia because it has economic value and high demand. Technology is needed to optimize the growth of snakeskin gourami so that the production of snakeskin gourami from aquaculture becomes more stable. The method of adding calcium to the salinity water is a part of the technology to optimize the growth of cultured fish. The purpose of this research is to determine the best amount of CaCO3 calcium carbonate lime on the growth of snakeskin gourami that are maintained at 3 g L-1 of salinity. The tank is used in the form of an aquarium measuring 30x30x30 cm3 with a volume of water as much as 20 liters. The snakeskin gourami used were 8.7 ± 0.46 cm in length and weighed 8.3 ± 1.37 g. The fish are fed with the restricted method (5% of fish biomass). The study was conducted by applying calcium carbonate CaCO₃ at concentrations of 50, 100, 150, and 200 mg L⁻¹, with an additional control treatment that received no calcium carbonate application. The results showed that the best amount of CaCO3 calcium carbonate lime, as much as 100 mg L-1, showed 2.5 cm of total length growth, total weight growth of 6.35 g, daily growth rate of 2%, and survival rate of 93.3%. The best amount of CaCO3 calcium carbonate lime for 3 g L-1 of salinity water is 100 mg L-1. The best amount of CaCO3 calcium carbonate lime for the growth of snakeskin gourami that is maintained at 3 g L-1 of salinity is 100 mg L-1.
KORELASI PARAMETER KUALITAS AIR DAN PRODUKTIVITAS UDANG VANAME (Litopenaeus vannamei) DALAM SISTEM KOLAM HDPE Adianto, Asep; Nirmala, Kukuh; Hastuti, Yuni Puji; Supriyono, Eddy
JARI : Jurnal Akuakultur Rawa Indonesia Vol. 12 No. 2 (2024): JARI : JURNAL AKUAKULTUR RAWA INDONESIA
Publisher : Program Studi Budidaya Perairan, Fakultas Pertanian, Universitas Sriwijaya

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36706/jari.v12i2.23

Abstract

Vannamei shrimp remains one of the leading fisheries commodities in Indonesia. This study aims to analyze the correlation between measured parameters and identify the most influential water quality parameters affecting the productivity of vannamei shrimp reared in HDPE pond systems. This non-experimental research was conducted by directly sampling from a shrimp pond in Patrol, Indramayu, over a 49-day cultivation period. The measured data included water quality parameters (physical, chemical, and biological) and shrimp growth performance parameters (survival rate, feed conversion ratio, average body weight, and average daily gain). Measurements were carried out both in the field and in the laboratory. The results showed that several water quality parameters exceeded their optimal thresholds (e.g., hardness levels reached 7,000 mL⁻¹ in pond D3). However, growth performance parameters still indicated relatively high values. Based on survival rate calculations, pond D2 had the highest Survival Rate (96%), while pond C3 recorded the lowest (67%). These findings suggest that water quality parameters collectively support shrimp growth despite some of them being outside the ideal range. Total Organic Matter (TOM) and Dissolved Oxygen (DO) were identified as the most influential water quality parameters for shrimp productivity.
EVALUASI TOKSISITAS AKUT DAN SUB-AKUT DARI INSEKTISIDA LAMBDA-CYHALOTHRIN PADA IKAN PATIN Pangasianodon hypophthalmus Mahmud, Moh Burhanuddin; Hastuti, Yuni Puji; Nirmala, Kukuh; Supriyono, Eddy; Nurussalam, Wildan
Jurnal Riset Akuakultur Vol 19, No 3 (2024): September (2024)
Publisher : Politeknik Kelautan dan Perikanan Jembrana

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jra.19.3.2024.259-275

Abstract

Lambda-cyhalothrin adalah insektisida beracun yang seringkali digunakan untuk mengendalikan hama di lahan pertanian. Insektisida ini sangat beracun terhadap organisme akuatik dan berpotensi mengganggu keseimbangan metabolisme dan fisiologi ikan budidaya. Ikan patin (Pangasianodon hypophthalmus) merupakan salah satu jenis ikan air tawar yang sangat rentan terpapar Lambda-cyhalothrin karena letak sistem budidaya yang berdekatan dengan lahan pertanian. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui efek toksisitas akut Lambda-cyhalothrin dan efek sub-akut terhadap organ tubuh ikan patin. Ikan patin diperoleh dari pembudidaya ikan di Bogor, Jawa Barat, dengan berat dan Panjang rata-rata 8,59 ± 0,47 g dan 7,52 ± 0,83 cm. Bahan toksikan yang digunakan adalah insektisida Lambda-cyhalothrin. Ikan yang diuji dipelihara dalam akuarium berukuran 30x30x30 cm3 yang diisi air sebanyak 20 L. Penelitian dibagi menjadi tiga tahap, yaitu uji nilai kisaran, uji toksisitas akut LC50-96 jam, dan uji sub akut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa LC50-96 jam Lambda-cyhalothrin pada ikan patin adalah 5,2 µg L-1. Hasil uji sub akut dengan taraf perlakuan 2,6 µg L-1 menunjukkan pertumbuhan minimal 0,688% dan berdampak nyata (P<0,05) terhadap kadar glukosa yang mencapai 148,16 mg dL-1. Kesimpulan penelitian ini adalah Lambda-cyhalothrin bersifat merugikan terhadap ikan patin yang menyebabkan kerusakan yang nyata pada insang, usus, dan hati yang dibuktikan dengan adanya hiperplasia, proliferasi, vakuolisasi, kongesti, fusi, nekrosis, cloudy swelling dan inflamasi.Lambda-cyhalothrin is a toxic insecticide frequently used to control pests in agricultural settings. This insecticide is very toxic to aquatic organisms and can potentially disrupt the balance of metabolism and physiology of farmed fish. Striped catfish (Pangasianodon hypophthalmus) is one of farmed freshwater fish species highly susceptible to being exposed to Lambda-cyhalothrin due to the common shared location of the farming system with agricultural land. This study aimed to determine the acute toxicity effects of Lambda-cyhalothrin and the sub-acute effects on the organs of the striped catfish. The striped catfish was obtained from fish farmers in Bogor, West Java, with an average weight and length of 8.59 ± 0.47 g and 7.52 ± 0.83 cm, respectively. The toxicant material used was Lambda-cyhalothrin insecticide. The tested fish were reared in aquarium sized 30x30x30 cm3 filled with 20 L of water. This study was divided into three stages, i.e., range value test, acute toxicity test (96h-LC50), and sub-acute test. The result showed that 96h-LC50 of Lambda-cyhalothrin on striped catfish was 5.2 µg L-1. The results of the sub-acute test with a treatment level of 2.6 µg L-1 showed minimal growth at 0.688% and a significant impact (P<0.05) on glucose levels, which reached 148.16 mg dL-1. This study concludes that Lambda-cyhalothrin insecticide is detrimental to striped catfish, causing noticeable damage to the gill, intestine, and liver, as evidenced by hyperplasia, proliferation, vacuolization, congestion, fusion, necrosis, cloudy swelling, and inflammation.
PENAMBAHAN SHELTER UNTUK PENGENDALIAN RESPONS FISIOLOGI DAN PRODUKSI KEPITING BAKAU Scylla serrata PADA SISTEM RESIRKULASI AKUAKULTUR Hastuti, Yuni Puji; Priyo Handoyo Wicaksono; Wildan Nurusallam; Siska Tridesianti; Yuli Siti Fatma; Kukuh Nirmala; Iman Rusmana; Ridwan Affandi
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 1 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (632.563 KB) | DOI: 10.29244/jitkt.v12i1.30753

Abstract

Ketersediaan shelter (tempat perlindungan) pada kepadatan spesifik diharapkan dapat meningkatkan produksi kepiting bakau (Scylla serrata) dalam sistem resirkulasi. Shelter sebagai salah satu faktor abiotik berperan penting dalam mengurangi kematian yang disebabkan oleh kanibalisme kepiting dan menekan tingkat stres biota. Sistem Resirkulasi Akuakultur (RAS) dengan bak kotak kultur berkapasitas 60 L yang didukung oleh shelter diperkirakan menghasilkan respons fisiologis dan pertumbuhan kepiting bakau yang paling baik. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi dampak penambahan shelter pada lingkungan dengan sistem resirkulasi terhadap respons fisiologis dan produksi kepiting bakau S. serrata dengan kepadatan 10 kepiting per satu bak kultur yang berisi 60 L air laut. Penelitian ini dilakukan dengan tiga perlakuan penambahan shelter, yaitu 2 shelter (S2), 4 shelter (S4), 6 shelter (S6), dan kontrol tanpa shelter (C). S6 adalah perlakuan terbaik dengan tingkat kelangsungan hidup 73,33±5,8%, laju pertumbuhan spesifik 0,886±0,014%, pertumbuhan lebar karapas 0,024±0,004 cm/hari, dan rasio konversi pakan terendah dibandingkan dengan perlakuan lain. Perlakuan S6 secara signifikan mempengaruhi jumlah hemosit total kepiting pada awal budidaya (P <0,05). Penambahan 6 shelter dapat mengoptimalkan pertumbuhan kepiting lumpur dengan kepadatan 10 kepiting dalam satu bak kotak kultur.
EVALUASI PENGGUNAAN PASIR MALANG SEBAGAI BAHAN FILTER TERHADAP KUALITAS AIR, RESPON FISIOLOGI DAN PRODUKSI KEPITING BAKAU Scylla serrata Hastuti, Yuni Puji; Prastomo, Arul Tabah; Affandi, Ridwan; Nurussalam, Wildan; Wildan, Dudi Muhammad; Agus, Syamsul Bahri
Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis Vol. 12 No. 3 (2020): Jurnal Ilmu dan Teknologi Kelautan Tropis
Publisher : Department of Marine Science and Technology, Faculty of Fisheries and Marine Science, IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/jitkt.v12i3.32939

Abstract

Kepiting bakau Scylla serrata merupakan salah satu komoditas krustasea yang memiliki nilai ekonomi tinggi. Salah satu kendala yang belum terpecahkan dalam pemeliharaan kepiting bakau adalah tingkat stres kepiting akibat kualitas air yang menurun. Sistem resirkulasi merupakan salah satu cara untuk menjaga kualitas air selama pemeliharaan kepiting budidaya dengan penggunaan air yang sama dan berputar terus menerus melalui filter. Sistem ini dapat menggunakan berbagai material filter fisik, seperti zeolit, pasir dan material lainnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jumlah pasir malang sebagai filter fisik dalam budidaya kepiting bakau yang berpengaruh positif terhadap respons fisiologis dan produksi kepiting bakau. Penelitian ini dilakukan menggunakan sistem resirkulasi dengan rancangan acak lengkap yang dilakukan dalam lima perlakuan dengan tiga ulangan, yaitu pasir malang dengan bobot 0 kg (kontrol), 5 kg, 10 kg, 15 kg, dan 20 kg. Hasil penelitian membuktikan bahwa respons fisiologis dan produksi kepiting bakau terbaik diamati pada perlakuan pasir malang dengan bobot 5 kg. Perlakuan ini menunjukkan laju pertumbuhan spesifik, laju pertumbuhan bobot mutlak, laju pertumbuhan panjang mutlak, dan tingkat kelangsungan hidup kepiting bakau dengan nilai tertinggi masing-masing sebesar 0,18±0,061%, 0,13±0,05 g/hari, 0,0016±0,00006 cm/hari, dan 77,77%, namun memiliki rasio konversi pakan terendah yaitu 3,76±004. Selain itu pada perlakuan 5 kg memiliki nilai kualitas air yang mendekati kontrol.
Kebijakan Pengeluaran Kepiting Bakau dan Kontribusinya terhadap PDB Perikanan Nasional Ahmad Nashrullah; Yuni Puji Hastuti; Malta Malta
Jurnal Kebijakan Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan Vol 16, No 1 (2026): Juni 2026
Publisher : Balai Besar Riset Sosial Ekonomi Kelautan dan Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15578/jksekp.v16i1.19234

Abstract

Eksploitasi berlebihan kepiting bakau (Scylla spp.) oleh nelayan telah menimbulkan ancaman terhadap keberlanjutan sumber daya karena praktik penangkapan yang belum sepenuhnya sejalan dengan prinsip perikanan berkelanjutan. Kondisi tersebut mendorong Pemerintah Indonesia untuk menerapkan kebijakan pembatasan penangkapan dan pelepasan kepiting guna menjaga keberlanjutan stok sekaligus menjamin kesinambungan produksi. Penelitian ini bertujuan menganalisis pengaruh kebijakan tersebut terhadap kinerja sosial ekonomi sektor perikanan kepiting bakau, khususnya kontribusinya terhadap Produk Domestik Bruto (PDB) Perikanan Nasional. Penelitian menggunakan data deret waktu periode 2014–2023 serta data primer dari 161 responden yang dipilih dari total 241 pelaku usaha sektor kelautan dan perikanan, terutama eksportir kepiting bakau yang terdampak langsung oleh kebijakan. Variabel yang dianalisis meliputi PDB sektor perikanan serta volume dan nilai ekspor kepiting bakau Indonesia. Analisis data dilakukan menggunakan pendekatan ekonometrika Vector Auto Regression (VAR) dengan dukungan Microsoft Excel 365 dan EViews 9. Hasil uji stasioneritas Augmented Dickey–Fuller (ADF) menunjukkan seluruh variabel telah stasioner setelah transformasi, dengan uji panjang lag optimal berdasarkan Akaike Information Criterion (AIC) sebesar satu periode. Uji kointegrasi Johansen mengindikasikan adanya hubungan keseimbangan jangka panjang yang stabil antara PDB perikanan dan kinerja ekspor kepiting bakau, sementara uji kausalitas Granger menunjukkan hubungan kausal dua arah antara nilai ekspor kepiting bakau dan PDB sektor perikanan. Temuan ini menunjukkan terjadinya pergeseran komoditas dari produk tidak hidup atau olahan menuju produk hidup, segar, dan beku dengan nilai jual lebih tinggi, yang menegaskan bahwa kebijakan pembatasan penangkapan kepiting tidak hanya memberikan manfaat ekologis tetapi juga berdampak positif terhadap kinerja ekonomi dan kontribusi sektor perikanan terhadap PDB nasional. Title: Mud Crab Export Regulations and Their Contribution to the Fisheries Gross Domestic ProductOverexploitation of mud crabs (Scylla spp.) by fishermen has posed a serious threat to resource sustainability due to harvesting practices that are not fully aligned with sustainable fisheries principles. This condition prompted the Government of Indonesia to implement catch-restriction and release policies aimed at maintaining stock sustainability while ensuring production continuity. This study analyzes the impact of these policies on the socio-economic performance of the mud crab fisheries sector, particularly its contribution to the national fisheries Gross Domestic Product (GDP). The research employs time-series data covering the period 2014–2023, complemented by primary data collected from 161 respondents selected from a total population of 241 marine and fisheries business actors, mainly mud crab exporters directly affected by the policy. The variables analyzed include fisheries-sector GDP, as well as the volume and value of Indonesian mud crab exports. Data were analyzed using an econometric Vector Auto Regression (VAR) approach, supported by descriptive and statistical analyses using Microsoft Excel 365 and EViews 9. The Augmented Dickey–Fuller (ADF) stationarity test indicates that all variables are stationary after transformation, with the optimal lag length determined as one period based on the Akaike Information Criterion (AIC). Johansen cointegration results reveal a stable long-term equilibrium relationship between fisheries GDP and mud crab export performance, while Granger causality testing demonstrates a bidirectional causal relationship between mud crab export value and fisheries-sector GDP. These findings indicate a structural shift from non-live or processed crab products toward live, fresh, and frozen products with higher economic value, confirming that mud crab catch-restriction policies generate not only ecological benefits but also positive economic impacts on the performance and GDP contribution of Indonesia’s fisheries sector.
Analyze of production performance of vaname shrimp Litopenaeus vannamei culture and water quality on earthen pond and HDPE-lined pond Zulfana Fikru Sifa; Kukuh Nirmala; Yuni Puji Hastuti; Eddy Supriyono
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.1-15

Abstract

Litopenaeus vannamei is a leading aquaculture commodity with high economic value. Efforts to enhance the production of L. vannamei shrimp can be achieved by selecting the type of pond. Culture ponds are crucial in controlling water quality and managing culture waste. Based on these conditions, selecting the appropriate type of pond is essential to improve the production performance of L. vannamei shrimp. This study aimed to analyze the effects of earthen ponds and high density polyethylene (HDPE)-lined ponds on production performance and water quality factors, identify key water quality parameters influencing shrimp yield, and conduct an economic analysis. This study was conducted with two types of ponds, earthen ponds and HDPE-lined ponds. Water quality factors were analyzed weekly using a composite sampling method. Meanwhile, shrimp weight sampling was conducted weekly after 35 days of culture using 30 shrimp for each pond. The results showed that shrimp production performance in HDPE-lined ponds was significantly higher than in earthen ponds. This enhanced production performance was attributed to the more optimal water quality parameters in HDPE-lined ponds, particularly the lower abundance of Cyanophyta. Furthermore, the soil quality in earthen ponds also reduces shrimp survival rates, leading to decreased pond productivity. Although the production costs for HDPE-lined ponds were 17.54% higher than earthen ponds, this investment increases farmers' total revenue by 57.20%. HDPE ponds produce high production performance and healthier water quality, thereby increasing farmers' income and proving economically viable. Keywords: economic, growth, pond type, soil   Abstrak Litopenaeus vannamei merupakan salah satu komoditas unggulan perikanan budidaya yang memiliki nilai ekonomis tinggi. Upaya untuk meningkatkan produksi udang L. vannamei dapat dilakukan dengan memilih jenis tambak. Tambak budidaya sangat penting dalam mengontrol kualitas air dan mengelola limbah budidaya. Berdasarkan kondisi tersebut, pemilihan jenis tambak yang tepat sangat penting untuk meningkatkan performa produksi udang L. vannamei. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pengaruh tambak tanah dan tambak berlapis high density polyethylene (HDPE) terhadap kinerja produksi dan faktor kualitas air, mengidentifikasi parameter kualitas air utama yang mempengaruhi hasil panen udang, dan melakukan analisis ekonomi. Penelitian ini dilakukan dengan dua jenis tambak, yaitu tambak tanah dan tambak berlapis HDPE. Faktor kualitas air dianalisis setiap minggu dengan menggunakan metode pengambilan sampel komposit. Sementara itu, pengambilan sampel berat udang dilakukan setiap minggu setelah 35 hari budidaya dengan menggunakan 30 ekor udang untuk setiap tambak. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kinerja produksi udang ditambak HDPE lebih tinggi dibandingkan tambak tanah. Tingginya kinerja produksi udang ini dikarenakan tambak HDPE memiliki parameter kualitas air yang lebih optimal dibandingkan dengan tambak tanah, terutama pada kelimpahan Cyanophyta yang lebih rendah. Selain itu, kualitas tanah di tambak tanah juga menurunkan tingkat kelangsungan hidup udang sehingga mengakibatkan rendahnya produktivitas tambak tanah. Meskipun biaya produksi untuk tambak yang dilapisi HDPE 17.54% lebih tinggi dibandingkan tambak tanah, namun biaya investasi ini dapat meningkatkan total pendapatan petambak sebesar 57.20%. Tambak HDPE menghasilkan kinerja produksi yang tinggi dan kualitas air yang lebih optimal, sehingga meningkatkan pendapatan petani dan terbukti layak secara ekonomi. Kata kunci: ekonomi, pertumbuhan, tanah, tipe tambak
Vannamei shrimp Litopenaeus vannamei mortality correlation with water quality dynamics and blue-green algae in earthen pond Rahmatulloh Arifin; Kukuh Nirmala; Yuni Puji Hastuti; Eddy supriyono
Jurnal Akuakultur Indonesia Vol. 25 No. 1 (2026): Jurnal Akuakultur Indonesia
Publisher : Indonesian Society of Scientific Aquaculture (ISSA)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19027/jai.25.1.55-69

Abstract

Mortality represents a significant challenge in enhancing productivity in intensive vannamei shrimp (Litopenaeus vannamei) farming systems. In ponds with soil bottoms, shrimp mortality is often caused by poor water quality, influenced by fluctuations in physicochemical parameters and changes in phytoplankton communities. This study aims to analyze the correlation between water quality, phytoplankton succession, and shrimp mortality. Pond water samples (E9, E10, F9, F10, and F11) were collected periodically to measure key physicochemical parameters, such as temperature, pH, dissolved oxygen (DO), ammonia (NH3), total ammonia nitrogen (TAN), and nitrite (NO2), as well as the abundance and dominance of phytoplankton. The results showed that shrimp mortality positively correlated with plankton abundance (0.57) and the presence of Blue-green Algae (0.43) in the water. Further, descriptively, shrimp mortality followed a similar pattern across several observation ponds, with deaths occurring after the decline or disappearance of Blue-green algae from previous observations. The water quality parameters that correlated with plankton abundance and blue-green algae dominance included TAN, BOD, and turbidity. The transformation in phytoplankton dominance to Blue-green algae can increase BOD levels and produce toxic compounds upon lysis, which may disrupt physiology and lead to shrimp mortality. These results underscore the importance of water quality management and phytoplankton monitoring to reduce vannamei shrimp mortality. Keywords: Blue-green algae, correlation, earthen pond, Vaname shrimp, water quality   Abstrak Kematian merupakan tantangan dalam meningkatkan produktivitas pada kegiatan budidaya udang vaname (Litopenaeus vannamei) dengan sistem intensif. Pada kolam budidaya dengan dasar kolam tanah sering kali kematian udang disebabkan oleh kualitas air yang buruk, yang dipengaruhi oleh fluktuasi parameter fisikokimia dan perubahan komunitas fitoplankton. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis korelasi antara kualitas air, suksesi fitoplankton, dan mortalitas Litopenaeus vannamei. Sampel air kolam budidaya (E9, E10, F9, F10 dan F11) diambil secara berkala untuk mengukur parameter fisikokimia utama, seperti suhu, pH, DO, amonia (NH3), TAN dan nitrit (NO2), serta kelimpahan dan dominansi fitoplankton. Hasil penelitian menunjukkan mortalitas udang memiliki nilai korelasi positif dengan kelimpahan pankton (0,57) dan Blue-green Algae (0,43) yang ada pada perairan. Selain itu secara deskriptif kematian udang memiliki pola yang sama pada beberapa kolam pengamatan dimana kematian terjadi setelah terjadinya kematian atau berkurangnya kelimpahan Blue-green Algae dari pengamatan sebelumnya. parameter kualitas air yang memiliki nilai korelasi terhadap kelimpahan plankton dan dominasi Blue-green Algae yaitu TAN, BOD dan Kecerahan. Pergeseran dominansi fitoplankton ke Blue-green algae dapat meningkatkan BOD dan menghasilkan senyawa toksik ketika lisis yang dapat mengganggu fisiologi hingga menyebabkan kematian udang. Temuan ini menekankan pentingnya pengelolaan kualitas air dan pemantauan fitoplankton untuk mengurangi mortalitas udang vaname. Kata kunci: blue-green algae, korelasi, kolam tanah, kualitas air, udang vaname
Kebijakan Inovatif untuk Akuakultur Berkelanjutan: Optimalisasi Peran Bivalvia dalam Pengolahan Limbah Eva Prasetiyono Pras; Kukuh Nirmala; Eddy Supriyono; Sukenda; Yuni Puji Hastuti
Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika Vol. 7 No. 2 (2025): Policy Brief Pertanian, Kelautan, dan Biosains Tropika
Publisher : Direktorat Kajian Strategis dan Reputasi Akademik IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/agro-maritim.0702.1272-1276

Abstract

Pertumbuhan industri tambak udang intensif di Indonesia telah memberikan kontribusi ekonomi yang signifikan. Namun tambak udang juga menimbulkan permasalahan lingkungan akibat buangan kaya nutrien seperti amonium, nitrat, ortofosfat, partikel organik dan tersuspensi. Kandungan nutrien yang tinggi dalam buangan tambak dapat memicu ledakan populasi mikroalga, menurunkan kualitas lingkungan dan terganggunya keseimbangan ekosistem perairan. Pemerintah telah mengeluarkan kebijakan yang mewajibkan setiap tambak udang memiliki unit pengolahan limbah sebagai bentuk pengendalian dampak lingkungan. Namun, implementasi kebijakan ini menghadapi tantangan besar terkait dengan besarnya biaya investasi dan operasional instalasi pengolahan limbah tersebut. Upaya untuk memberikan solusi alternatif yang lebih efisien dan ramah lingkungan harus dilakukan, diantaranya dengan menggunakan bivalvia. Pemanfaatan bivalvia— seperti kerang darah—dapat menjadi pendekatan biotreatment yang efektif. Bivalvia berperan sebagai filter feeder yang mampu mengasimilasi mikroalga dan partikel nutrien di dalam air. Filtrasi menggunakan kerang darah terbukti mampu menurunkan konsentrasi mikroalga dan nutrien, masing-masing sebesar 72,80% untuk mikroalga, 36,78% untuk amonia, 50,00% untuk nitrit, 78,77% untuk nitrat, dan 89,13% untuk ortofosfat.. Rekomendasi alternatif kebijakan diarahkan pada integrasi penggunaan bivalvia dalam sistem pengolahan limbah tambak, dan penyusunan pedoman teknis biotreatment yang lebih efisien sebagai bagian dari strategi pengelolaan limbah berkelanjutan. Strategi ini tidak hanya memperkuat upaya perlindungan lingkungan, tetapi juga membuka peluang ekonomi tambahan melalui produksi bivalvia sebagai komoditas konsumsi.
Co-Authors Adianto, Asep Agus Oman Sudrajat Agus Triwanda Wanda Agus Waluyo Ahmad Nashrullah Albert Gamot Malau Alfisah, Rizal Khoirun Ali Mashar Alimuddin Alina Akhdiya Amalia Nur Milla Amri Priyadi Anwar, Rifky Alwafi Aprida Anggraini Atma Jaya Salman Muin Bianingrum Bianingrum Chandra Yudistira, Chandra Chrisliana, Chrisliana Chrismadha, Tjandra Daniel Djokosetiyanto DEDI JUSADI Dinamella Wahjuningrum Eddy Supriyono Ee Ling, Yong Eni Kusrini Eva Prasetiyono Eva Prasetiyono Pras Evi Susanti Fauzan Wahib Alsani Haris luthfi Hasan Nasrullah Hendriana, Andri Hutagaol, Manuntun Paruliah I Gede Made Wirabrata I. Effendi Ide Permatasari Iis Diatin Ima Kusumanti Imam Tri Wahyudi Iman Rusmana Iman Sari Lubis, Vina Irzal Effendi Izhar Amirul Haq K. Nirmala Kosasih Kosasih Kukuh Nirmala Kuntari, Wahyu Budi Kurnia Faturochman, Kurnia Kurnia Faturrohman Kurniawan, Ahmad Rahardi Lena Novita Lesmana, Dudi Lila Antara, Kadek Mafatih Devi Safrina, Mafatih Devi Malta Malta Melati, Aulia Firda Mia Setiawati Moh. Burhanuddin Mahmud Muhammad Muhammad Muhammad Saifuddin Mulyana N Hutomo Nadeak, Horas Nafisyah, Eva Naila K Aini Nasrul, Muit Novita MZ Odang Carman Orbita Roiyan Dhuha, Orbita Roiyan Peter Funch Prastomo, Arul Tabah Priyo Handoyo Wicaksono Putri Utami, Putri Radhita Millaty Rahmadani, Thoy Batun Citra Rahmatulloh Arifin Rani Nuraisah Ridwan Affandi RIDWAN AFFANDI RIDWAN AFFANDI Rina Hesti Utami Robin Satya, Awalina Setyo Pertiwi Sinung Rahardjo Siska Tridesianti SISKA TRIDESIANTI Sri Nuryati Sri Nuryati Subekti Nurmawati Sugiarti Sukenda, Sukenda, Sukma Dhani Sumi Lestari, Fajar Syamsul Bahri Agus, Syamsul Bahri T. Widiyanto Tanjung, Tanjung Tatag Budiardi Tri Widiyanto Tridesianti, Siska Tyas Setioaji Vika Yuniar Wardani, Sulistia Wijianto Wijianto Wijianto Wijianto Wildan Nurusallam Wildan Nurusallam, Wildan Wildan Nurussalam Wildan, Dudi Muhammad Y. Hadiroseyani Yonvitner - Yuli Siti Fatma Yuli Siti Fatma Yusli Wardiatno Zairion Zulfana Fikru Sifa