p-Index From 2021 - 2026
9.728
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Jurnal Hubungan Internasional Proceeding Seminar LPPM UMP Tahun 2014 Jurnal Hubungan Internasional Indonesian Perspective Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Dauliyah Journal of Islamic and International Affairs Jurnal Manajemen Pelayanan Publik Prosiding Penelitian dan Pengabdian kepada Masyarakat UMBARA Indonesian Journal of Anthropology AdBispreneur Jurnal Penelitian Politik JWP (Jurnal Wacana Politik) Journal Of Nursing Practice Jurnal Pertahanan : Media Informasi tentang Kajian dan Strategi Pertahanan yang Mengedepankan Identity, Nasionalism dan Integrity TRANSBORDERS: International Relations Journal Andalas Journal of International Studies Paradigma POLISTAAT: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Jurnal Soshum Insentif Jurnal Kreativitas PKM Abditani : Jurnal Pengabdian Masyarakat JAKP (Jurnal Administrasi dan Kebijakan Publik) Jurnal ICMES: The Journal of Middle East Studies Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Indonesian Journal of International Relations Kumawula: Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Global Political Studies Journal Santhet: (Jurnal Sejarah, Pendidikan Dan Humaniora) Journal of Enterprise and Development (JED) Publica: Jurnal Pemikiran Administrasi Negara Responsive: Jurnal Pemikiran dan Penelitian Administrasi, Sosial, Humaniora dan Kebijakan Publik Vox Populi Padjadjaran Journal of International Relations Jurnal Kolaborasi Resolusi Konflik Community Development Journal: Jurnal Pengabdian Masyarakat Journal of Strategic and Global Studies Sawala : Jurnal pengabdian Masyarakat Pembangunan Sosial, Desa dan Masyarakat Ilomata International Journal of Social Science GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Daengku: Journal of Humanities and Social Sciences Innovation Journal of Feminism and Gender Studies Prosiding Seminar Nasional Sains Teknologi dan Inovasi Indonesia (Senastindo) Comsep : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat JoS ( Journal of International Relations) Indonesian Journal of Global Discourse Intermestic: Journal of International Studies Indonesian Perspective Edunity: Kajian Ilmu Sosial dan Pendidikan Global Focus Eduvest - Journal of Universal Studies Journal of Paradiplomacy and City Networks Jurnal Berdaya Aliansi : Jurnal Politik, Keamanan Dan Hubungan Internasional
Claim Missing Document
Check
Articles

DEFENCE COOPERATION BETWEEN INDOENSIA AND GERMANY IN AIR DEFENCE: A STUDY ON DIEHL DEFENCE’S IRIS-T MISSILE Haryanto, Teguh Dwi; Dermawan, Windy; Sari, Deasy Silvya
GOVERNANCE: Jurnal Ilmiah Kajian Politik Lokal dan Pembangunan Vol. 11 No. 1 (2024): 2024 September
Publisher : Lembaga Kajian Ilmu Sosial dan Politik (LKISPOL)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Indonesia faces various forms of potential threats from outside and from within the country which also includes airspace. The Indonesian Air Force as a state instrument in the field of air defence has a duty, which one of it is to maintain sovereignty in the airspace of national jurisdiction using combat aircraft in carrying out air defence and taking action against airspace violations. However, in reality, the current condition of air missiles owned by the Air Force is still very limited in number to support operations and the trend of readiness has decreased, so that it is necessary to increase the strength of defense equipment through defence cooperation that needs to be carried out by Indonesia with Germany in the acquisition of IRIS-T missiles. This research uses a qualitative method. The required data were collected through interviews with a number of relevant informants, observation, literature study and documentation. The data obtained in the research were then analysed through three stages of analysis, namely data reduction, processing and analysis, data presentation, and conclusion drawing. The results showed that defence cooperation between Indonesia and Germany in the acquisition of IRIS-T missiles is possible and feasible. If the Indonesian Air Force acquires IRIS-T missiles, there will be compatibility with air defence systems owned by fighter aircraft such as the F-16 AM/BM emlu, F-16 C/D and T-50i aircraft. There are four opportunities if the IRIS-T acquisition is carried out, namely increased missile capability, flexibility and interoperability, deterrence and trust and modernisation and technology.
Who Will Govern the World: New Structure of The International System of Covid-19 Vaccine Producing Countries Sari, Deasy Silvya; Bainus, Arry; Yulianti, Dina; Aditiany, Savitri; Habibullah, Ali Zahid
Satwika : Kajian Ilmu Budaya dan Perubahan Sosial Vol. 7 No. 2 (2023): Oktober
Publisher : Universitas Muhammadiyah Malang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22219/satwika.v7i2.28592

Abstract

In early 2020, the international community was faced with Covid-19. At the global level, the COVAX Facility was established to ensure all countries in the world have equal access to Covid-19 vaccines. However, many vaccine-producing countries have undertaken bilateral ways to distribute vaccines directly. The existence of the Covid-19 vaccine is still determined by vaccine manufacturing companies. This article aims to examine the international structure after the outbreak of the Covid-19 pandemic based on the postulate that Covid-19 vaccine-producing countries will become world hegemons in a non-polar world structure. The concepts used are health diplomacy and hegemony. The evolving operational components used to determine world hegemon are vaccine types, consumer countries, and vaccine production capacity. The method used is pseudo-qualitative. The article concludes that (i) world hegemony in terms of vaccine types is China, Russia, the United States, and India; (ii) the world hegemons in terms of the number of consumer countries are the United States, the United Kingdom and China, and (iii) the world hegemons in terms of vaccine production capacity are China, the United States, Germany, and the United Kingdom. Finally, the world hegemons that meet these all criteria are China and the United States.   Pada awal 2020, komunitas internasional dihadapkan dengan Covid-19. Di tingkat global, Fasilitas COVAX didirikan untuk memastikan semua negara di dunia memiliki akses yang sama terhadap vaksin Covid-19. Namun, banyak negara penghasil vaksin telah melakukan cara bilateral untuk mendistribusikan vaksin secara langsung. Keberadaan vaksin Covid-19 masih ditentukan oleh perusahaan pembuat vaksin. Artikel ini bertujuan untuk mengkaji struktur internasional pasca merebaknya pandemi Covid-19 berdasarkan postulat bahwa negara-negara penghasil vaksin Covid-19 akan menjadi hegemoni dunia dalam struktur dunia non-polar. Konsep yang digunakan adalah diplomasi kesehatan dan hegemoni. Komponen operasional yang berkembang yang digunakan untuk menentukan hegemon dunia adalah jenis vaksin, negara konsumen, dan kapasitas produksi vaksin. Metode yang digunakan adalah pseudo-kualitatif. Artikel tersebut menyimpulkan bahwa (i) hegemoni dunia dalam hal jenis vaksin adalah Cina, Rusia, Amerika Serikat, dan India; (ii) hegemoni dunia dalam hal jumlah negara konsumen adalah Amerika Serikat, Inggris dan Cina, dan (iii) hegemoni dunia dalam hal kapasitas produksi vaksin adalah Cina, Amerika Serikat, Jerman, dan Inggris. Akhirnya, hegemoni dunia yang memenuhi semua kriteria ini adalah Cina dan Amerika Serikat.
Potensi Minyak Bumi Indonesia di Laut Timor dalam Rangka Pencarian Sumber Energi Alternatif Tais, Muhammad Sultan Audi; Dyota, Demetrius; Shebahi, Fikky Itsbatul Waqiey Esh; Yulianti, Dina; Sari, Deasy Silvya
Indonesian Perspective Vol 9, No 1 (2024): (Januari-Juni 2024)
Publisher : Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ip.v9i1.63707

Abstract

Indonesia sebagai negara kepulauan memiliki perairan yang sangat luas, oleh karenanya minyak dan gas yang ada di dasar laut di belum sepenuhnya dieksplorasi. Saat ini Indonesia masih banyak melakukan impor minyak bumi dari negara tetangga, dan Indonesia mengalami penurunan cadangan minyak dari tahun ke tahun. Sehingga pengelolaan minyak bumi perlu lebih ditingkatkan lagi agar selaras dengan blue economy. Blue economy memiliki tujuan untuk menciptakan pertumbuhan ekonomi yang memaksimalkan pengelolaan laut. Laut Timor menjadi wilayah yang kaya akan minyaknya namun belum dieksplorasi sepenuhnya. Eksplorasi dan pemanfaatan migas di laut dapat menjadi salah satu cara bagi Indonesia untuk memenuhi kebutuhan energi yang kian meningkat. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif yang bertujuan untuk  menjelaskan bagaimana migas di Laut Timor dapat menjadi salah satu sektor penting bagi blue economy indonesia. Penelitian ini diteliti memakai konsep keamanan energi, terutama 4A dari keamanan energi (availability, accessibility, acceptability dan affordability). Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa minyak bumi Indonesia di wilayah Laut Timor belum tereksploitasi sepenuhnya, dimana melalui 4A keamanan energi, potensi minyak bumi di Laut Timor tersebut jika dapat dikelola dengan optimal dapat meningkatkan keamanan energi Indonesia dalam jangka panjang.
Blue Economy Sebagai Basis Strategi Kebijakan Ekspor Industri Perikanan Indonesia di Kawasan Asia Tenggara Khairunisaa, Selsya Shafa; Putri, Astricta Amalia; Sari, Deasy Silvya
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 6, No 2 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v6i2.54415

Abstract

Sebagai negara maritim, Indonesia dapat memperkuat ekonominya melalui sektor perikanan dengan menerapkan kerangka ekonomi biru.. Penelitian ini menyoroti empat aspek penting dalam kebijakan ekspor perikanan berbasis ekonomi biru: (1) inovasi dan teknologi, (2) keberlanjutan ekosistem dan lingkungan, (3) dukungan bagi nelayan dan petani ikan, serta (4) penelitian dan pengembangan. Dengan menggunakan pendekatan studi kasus kualitatif dan data sekunder, penelitian ini menunjukkan bahwa aspek-aspek tersebut telah dimasukkan ke dalam strategi ekspor perikanan Indonesia. Namun, fokus pada kawasan Asia Tenggara masih terbatas, dan diperlukan advokasi serta kolaborasi lebih lanjut untuk meningkatkan implementasi kebijakan dan memberikan manfaat bagi semua pelaku ekonomi.As a maritime nation, Indonesia can bolster its economy through the fisheries sector by implementing the blue economy framework. This study highlights four key aspects crucial to fisheries export policies based on the blue economy: (1) innovation and technology, (2) ecosystem and environmental sustainability, (3) support for fishermen and fish farmers, and (4) research and development. Using a qualitative case study approach with secondary data, the research shows that these aspects have been incorporated into Indonesia’s fisheries export strategies. However, the focus on Southeast Asia remains limited, and further advocacy and collaboration are needed to enhance policy implementation and benefit all economic actors.
Diplomasi Olahraga Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) melalui World Bridge Federation (WBF) Maximillian, Renata; Sari, Deasy Silvya
Padjadjaran Journal of International Relations Vol 6, No 1 (2024)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/padjir.v6i1.44282

Abstract

Bridge merupakan salah satu olahraga otak (mindsport) yang telah diakui secara internasional termasuk di Indonesia. Namun olahraga tersebut baru dikenal sebatas olahraga semata, tanpa kesadaran akan peranan maupun fungsi lainnya, misalnya sebagai sarana diplomasi olahraga. Berdasarkan hal tersebut, peneliti menelaah olahraga bridge sebagai diplomasi olahraga dengan meninjau hubungan antara Gabungan Bridge Seluruh Indonesia (Gabsi) dan World Bridge Federation (WBF). Peneliti menggunakan konsep diplomasi olahraga dari Nygård dan Gates (2013) dan metode penelitian kualitatif melalui studi literatur dan wawancara. Penelitian ini menemukan bahwa diplomasi olahraga bridge oleh Gabsi melalui WBF dilangsungkan melalui mekanisme berikut: (i) image-building dengan aktif mengikuti banyak pertandingan internasional, menjadi tuan rumah kegiatan kejuaraan dunia maupun multi-sports event; (ii) building a platform for dialogue dengan tergabung dalam WBF dan APBF serta mempromosikan bridge di negara yang belum mengenal bridge, seperti: Filipina dan Timor Leste; (iii) trust-building dengan menjunjung tinggi sportivitas, serta konsisten membangun dan memelihara hubungan baik antar individu maupun komunitas/organisasi; dan (iv) recognition, integration, dan anti-racism berupa pengakuan akan adanya kesetaraan gender dalam struktur organisasi Gabsi maupun pertandingan.Bridge is a mindsport that has been recognized internationally, including Indonesia. However, this sport is considered as a usual sport, without acknowledgment of other roles, for example as a means of sports diplomacy. The researcher examines bridge as sports diplomacy by reviewing the relationship between the Indonesian Contract Bridge Association (ICBA) and the World Bridge Federation (WBF). Researchers use the sports diplomacy from Nygård and Gates (2013) and qualitative research methods through literature studies and interviews. This study finds that bridge sports diplomacy by ICBA through the WBF is carried out through the following mechanisms: (i) image-building by actively participating in many international competitions, hosting world championships and multi-sports events; (ii) building a platform for dialogue by joining the WBF and APBF while promoting bridges in countries that have not been familiar with bridges, such as: the Philippines and Timor Leste; (iii) trust-building by upholding sportsmanship, as well as consistently building and maintaining good relations between individuals and communities/organizations; and (iv) recognition, integration, and antiracism by acknowledging the existence of gender equality in ICBA's organizational structure and competition.
Netherlands Vaccine Diplomacy Towards Indonesia During Covid-19 Pandemic Muawal, Fakhri Sabiq; Sari, Deasy Silvya
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 16 No. 2 (2023): JURNAL HUBUNGAN INTERNASIONAL
Publisher : Universitas Airlangga

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20473/jhi.v16i2.44486

Abstract

Vaccine diplomacy is diplomacy that uses vaccines as the main tool of diplomacy. The Covid-19 pandemic presents an opportunity for vaccine producing countries and producing countries to conduct vaccine diplomacy. The Netherlands as a vaccine producing country has made Indonesia one of the targets for vaccine diplomacy. This research aims to explain the instruments and strategies used by the Netherlands in conducting vaccine diplomacy against Indonesia during the Covid-19 Pandemic. This research uses a qualitative method with secondary data in the form of books, journal articles, news, and document reports on the websites of the Netherlands Government and Indonesian Government institutions, as well as the results of interviews from the Ministry of Foreign Affairs of the Republic of Indonesia. the analysis technique used is thematic data. The findings from this research are that the Netherlands Government uses collaborative instruments with the More Formal Collaborative Instruments approach which was raised by the interaction of various international actors such as countries, international organizations and multinational vaccine manufacturing companies.
China's Debt Trap in Indonesia: A Case Study of the Jakarta-Bandung High-Speed Rail Project Nabiilah, Rifia Azka; Deasy Silvya Sari
Ilomata International Journal of Social Science Vol. 5 No. 1 (2024): January
Publisher : Yayasan Ilomata

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61194/ijss.v5i1.1113

Abstract

Thanks to the Belt and Road Initiative, the rise of China has brought forth new sets of opportunities and challenges for Southeast Asia. Indonesia has become one of Southeast Asia countries that has close economic relations with China. The Indonesia-China High Speed Rail project, which connects Jakarta-Bandung with a 142 km long line, can be seen as one of the biggest projects between Indonesia and China. However, the project faces an overrun of around USD 2 billion. This paper aims to analyze the worst possibility that Indonesia will face, namely China's Debt Trap. This paper uses the literature study method. The results show that Indonesia has the potential to be caught in China's debt-trap if there are no comprehensive economic recovery efforts without relying on foreign loans. State income from loans and debts will only lead Indonesia under the influence of the lender country. This paper suggests that Indonesia needs to reconsider its decision to use APBN funds for a new capital project, namely Nusantara. This can make Indonesia trapped in a debt-trap due to excessive reduction in state assets.
Strategic Health Diplomacy: An Indonesia’s Approach in Securing COVID-19 Booster Vaccine Supplies Sari, Deasy Silvya; Halimah, Mas; Akim, Akim; Maximillian, Renata; Muawal, Fakhri Sabiq; Lie, Nathanael Jusac
Jurnal Hubungan Internasional Vol. 13 No. 1 (2024)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.18196/jhi.v13i1.17829

Abstract

The COVID-19 pandemic has necessitated a rapid and coordinated international response, particularly in the procurement of life-saving vaccines. As nations endeavor to protect their populations, health diplomacy emerges as a pivotal strategy. This study provides an in-depth analysis of Indonesia’s health diplomacy strategy in securing booster vaccines for COVID-19, a critical component in mitigating the impact of the pandemic. Employing a qualitative research method, this investigation synthesized data from comprehensive literature reviews and focus group discussions (FGDs) to construct a nuanced understanding of Indonesia’s approach. The findings illuminated the multifaceted nature of Indonesia’s health diplomacy, operating on bilateral, regional, and global stages. A notable outcome of these diplomatic efforts was the acquisition of 510,000,000 doses of the booster vaccines scheduled for distribution by the end of 2022. The research identified a supportive diplomatic ecosystem underpinned by the universal necessity for vaccine access, transcending national borders. This environment was characterized by a coalition of researchers advancing vaccine knowledge, complexities surrounding vaccine procurement, and the operationalization of international initiatives such as the COVAX Facility and the ASEAN COVID-19 Response Fund. The intricacies of Indonesia’s diplomatic engagements revealed the importance of collaborative frameworks in addressing global health crises. The study contributes to the discourse on health diplomacy by highlighting the mechanisms and outcomes of Indonesia’s vaccine procurement strategy, offering insights into the role of diplomacy in pandemic preparedness and response.
Peran APEC dalam Mengatasi Kemiskinan Masyarakat Pesisir di Kawasan Asia-Pasifik melalui Implementasi Blue Economy Ni Made Cantya Fauza Adelamajid; Aditya Sukma Bimantoro; Natasya Shalika Putri; Deasy Silvya Sari; R. Dudy Heryadi
Paradigma POLISTAAT: Jurnal Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Vol. 7 No. 1 (2024): Paradigma POLISTAAT: Jurnal Ilmu Sosial dan Politik
Publisher : Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan Bandung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Kawasan Asia-Pasifik kini telah menjadi poros perekonomian dunia yang berorientasi padapotensi maritim. Namun ironisnya, sebagian besar masyarakat pesisir di wilayah Asia-Pasifikjustru hidup dalam kubangan kemiskinan. Pengelolaan sumber daya laut yang salah menjadisalah satu faktor penyebab utama. Guna mengatasi permasalahan tersebut, blue economydisinyalir menjadi pendekatan baru yang bertujuan untuk menciptakan perekonomian maritimyang lebih inklusif dan berkelanjutan. Asia Pacific Economic Cooperation (APEC) sebagai forum kerja sama regional di Asia-Pasifik memiliki peran penting dalam memastikanpelaksanaan blue economy di kawasan. Penelitian ini akan mengkaji bagaimana pengaruh blueeconomy terhadap masyarakat pesisir di kawasan Asia-Pasifik serta bagaimana peran APECdalam mendorong pengimplementasian blue economy di Asia-Pasifik. Metode yang digunakandalam penelitian ini adalah metode penelitian kualitatif, penelitian kualitatif adalah sebuahmetode penelitian yang digunakan untuk melihat realitas ganda (majemuk), hasil konstruksidalam pandangan holistik. Berdasarkan hasil penelitian, ditemukan bahwa APEC memilikiperan konkret dalam mewujudkan model blue economy di kawasan Asia-Pasifik. Penerapanblue economy juga ditinjau berpengaruh signifikan terhadap perbaikan ekonomi dan kualitashidup masyarakat pesisir Asia-Pasifik.
BRICS: Tantangan dan Peluang Dalam Tata Kelola Global Muhammad Fawwaz Afif; Adrian Maulana Firmansyah; Dudy Heryadi; Deasy Silvya Sari
TRANSBORDERS: International Relations Journal Vol. 8 No. 1 (2024): TransBorders: International Relations Journal
Publisher : Hubungan Internasional, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/transborders.v8i1.12214

Abstract

BRICS merupakan salah satu kekuatan ekonomi dan politik baru di dunia. Peran mereka dalam tata kelola global semakin penting. Namun, BRICS juga menghadapi berbagai tantangan dan peluang dalam tata kelola global.Tantangan internal yang dihadapi oleh BRICS antara lain: keragaman latar belakang dan kepentingan, ketidakseimbangan kekuatan, dan kurang pengalaman. Tantangan eksternal yang dihadapi oleh BRICS antara lain: oposisi dari negara-negara Barat dan persaingan dari negara-negara lain. BRICS juga memiliki berbagai peluang dalam tata kelola global, yaitu kekuatan ekonomi yang semakin besar, keberagaman latar belakang dan kepentingan, dan kebutuhan akan perubahan. Untuk mengatasi tantangan dan memanfaatkan peluang dalam tata kelola global, BRICS perlu meningkatkan kerja sama dan koordinasi di antara anggotanya, membangun kapasitas dan pengalaman, serta membangun hubungan kerja sama dengan negara-negara lain.
Co-Authors AA Sudharmawan, AA Abyasa, Ken Prama Acob, Joel Rey Adira Diva Aisha Sunardi Aditya Sukma Bimantoro Adrian Maulana Firmansyah Ahmad, Radja Kusuma Maulidhan Akbar, Raden Rahadian Firman Akim Akim Akim, Akim aldy akbar maulana Aldy Nofansya Alena Alenka Ali Zahid Ali Zahid Habibullah Alip Suroto Anza Zahya Qeysha Arfin Sudirman Arry Bainus Athallah, Muhammad Raja Aulia, Kirana Putri Aulia, Shafira Ayu, Maulida Azizurrohman, Muhammad Azzumar, Muhammad Arsy Chandra Purnama, Chandra Deniati, Nia Dewantoro, Ridlo Bayu Alam Dina Yulianti Dina Yulianti Dina Yulianti Dina Yulianti, Dina Dinda Citra Widyani Donny Juliandri Prihadi Dyota, Demetrius Eka Kadharpa Eka Kadharpa, Eka Elisa Kusumawardhani Eljatin, M. Azim Jabar Enceng Sakti Alamsyah Ering, Maurits Bhoas Fakhri Sabiq Muawal Falhan Hakiki Falhan Hakiki Farhan Arda Nugraha Feby Diah Miranti Ghina Hanamunika Habibullah, Ali Zahid HAMIDAH Haryanto, Teguh Dwi Hasan Sidik Hendar hendar Heryadi, R Dudy Hidayat, Nashwa Safa Jamilah, Kinanti Maryam Jihan Nadra Liani Joel A Roy Kamila, Zahra Shaffa Khairunisaa, Selsya Shafa Kiagus Zaenal Mubarak Kiagus Zainal Mubarak Kinanti, Alyandani Ayu Kisworo, Ary Lie, Nathanael Jusac Marlian, Shela Mas Halimah Maximillian, Renata Mohammad Benny Alexandri Mozaffari Falarti Muawal, Fakhri Sabiq Muhammad Erza Mahendra Muhammad Fadhlan Firasyan Aclamuf Muhammad Fauzan Tamir Muhammad Fawwaz Afif Muhammad Rifqi Naufal Muhammad Sajid Ramadhan Nabiilah, Rifia Azka Nainggolan, Tiffany Abigail Nasyika Fitriarifahrul Sholiha Natasya Shalika Putri Nathanael Jusac Lie Neneng Konety Ni Made Cantya Fauza Adelamajid Nugraha, Farhan Arda Nugroho, Naufal Hilmi Nursiswati Nurul Adhaniah Ooh Hodijah Pasaribu, Rachel Graceya Epipania Junissi Phoebe Inggrid Angeline Romauli Pujo Widodo, Pujo Putri, Astricta Amalia R. Dudy Heryadi R. Ratna Meisa Dai, R. Ratna Meisa R. Widya Setiabudi Sumadinata R.M.T. Nurhasan Affandi Rachma, Hurina Rachmat Fauzan Rahmawan, Muhamad Fikri Ratih Purbasari, Ratih Ratna Meisa Dai Ratna Meisa Dai Renata Maximillian Rezasyah, Teuku Rifia Azka Nabiilah RMT Nurhasan Affandi Santi Rukminita Anggraeni Savitri Aditiany Savitry aditiany Shebahi, Fikky Itsbatul Waqiey Esh Shela Marlian Shela Marlian Siti Aliyuna Pratisti Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Suhendrik Suhendrik Suroto, Alip Tais, Muhammad Sultan Audi Tanti Iswati Tarigan, Eka Taufik Hidayat Taufik Hidayat Taufik Hidayat Teuku Rezasyah Uksan, Arifuddin Usi Alfiani Nur Vieri Abdurrafi Virtuous Setyaka Windy Dermawan Yani Kusmiati Yanti Rubiyanti Yusuf Fadillah Tirta K Yusuf, Dedi Zaenal Muttaqin Zaenal Muttaqin Zaenal Muttaqin Zaenal Muttaqin Zaenal Muttaqin