Claim Missing Document
Check
Articles

Perubahan Sifat-sifat Fisik Mata Jaringan Insang Hanyut Setelah Digunakan 5, 10, 15, dan 20 Tahun Gondo Puspito
Jurnal Penelitian Sains Vol 12, No 3 (2009)
Publisher : Faculty of Mathtmatics and Natural Sciences

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2080.466 KB) | DOI: 10.56064/jps.v12i3.172

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui perubahan ukuran mata, kekuatan putus mata dan stabilitas simpul jaring insang hanyut setelah pemakaian 5, 10, 15 dan 20 tahun. Ukuran mata awal adalah 2, 5”, 3, 0” and 3, 5”. Hasil pengukuran akan memberikan informasi umur teknis jaring insang. Hasilnya menunjukkan bahwa peningkatan usia pakai menyebabkan ukuran mata menjadi lebih besar. Ini diilustrasikan dengan persamaan UM2,5” = 0, 122t + 6, 106 untuk ukuran mata 2, 5”, UM3,0” = 0, 266t + 7, 314(3, 0”), dan UM3,5” = 0, 0206t + 8, 486(3, 5”). Peningkatan waktu pemakaian akan diikuti oleh penurunan kekuatan putus mata. Penurunan terendah kekuatan putus mata terjadi pada usia pakai 5 tahun. Hubungan keduanya digambarkan dengan persamaan KM2,5” = −1, 51t+11, 12 untuk ukuran mata 2, 5”, KM3,0” = −1, 094t+11, 10(3, 0”), dan KM3,5” = −1, 037t+10, 83(3, 5”). UM adalah ukuran mata, KM kekuatan putus mata dan t waktu pemakaian. Sementara, uji terhadap stabilitas simpul tidak memberikan satu pun pergeseran simpul untuk setiap usia pakai. Dari penelitian ini didapatkan bahwa usia teknis jaring insang adalah 5 tahun.
JENIS UMPAN DAN BENTUK PERANGKAP PLASTIK YANG EFEKTIF UNTUK MENANGKAP RAJUNGAN (Efective Bait and Plastic Trap Shape in Catching Swimming Crab) Gondo Puspito
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 2 No. 2 (2011): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (456.173 KB) | DOI: 10.29244/jmf.2.2.111-119

Abstract

Tiga puluh perangkap plastik dioperasikan untuk menangkap rajungan di perairan Palabuhanratu. Operasi penangkapan dilakukan sebanyak 16 kali pada kedalaman perairan ± 20 m dengan jenis substrat dasar berupa pasir berlumpur. Bentuk perangkap terdiri atas kubah, limas terpancung, dan balok. Adapun 2 jenis umpan yang digunakan adalah cucut (Rhinodon typicus) dan tembang (Sardinella spp.). Penelitian bertujuan untuk mendapatkan komposisi jenis rajungan yang tertangkap, jenis umpan yang disukai rajungan dan bentuk perangkap yang paling efektif menangkap rajungan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi hasil tangkapan terdiri atas 249 rajungan bintang (Portunus sanguinolentus), 2 rajungan karang (Charybdis feriatus), dan 2 rajungan badak (Portunus pelagicus). Umpan cucut lebih disukai rajungan bintang dibandingkan dengan tembang. Umpan cucut menghasilkan 136 rajungan bintang dan umpan tembang 113 menghasilkan rajungan bintang. Perangkap berbentuk kubah menangkap 103 rajungan bintang. Perangkap berbentuk kubah lebih efektif dibandingkan dengan perangkap berbentuk limas terpancung dan balok.Kata kunci: umpan, bentuk perangkap plastik, rajungan
UKURAN MATA DAN SHORTENING YANG SESUAI UNTUK JARING INSANG YANG DIOPERASIKAN DI PERAIRAN TUAL ((Appropriate of Mesh Size and Shortening for Gillnet Operated on Tual Waters)) Ali Rahantan; Gondo Puspito
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (341.103 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.141-147

Abstract

ABSTRACTShortening and mesh size of gillnet that operated by Tual fishermen are various. The purposes of this study were to determine the effectively of gillnet based on different shortening and mesh size and to estimate the catch diversity index of each mesh size. The study was conducted from April 6th-May 15th of 2012 in Tual waters. Results shown that gillnet with mesh size of 2.25” and shortening of 50% caught the most number of fish (74). It was followed by gillnet of 2.50”-50% (59), 2.50”-55% (31), 2.25”-55% (24), 2.25”-45% (19), 2.50”-45% (15), 3.00”-50% (15) and 3.00”-55% (6). The Shannon index rate of gillnet with mesh size of 2.25” was 1.8, 2.50” (1.9) and 3.00” (1.1). While the Sympson index rate of gillnet with mesh size of 2.25” was 0.2, 2.50” (0.3) and 3.00” (0.4).Keywords: gillnet, mesh size, shortening, Tual waters-------ABSTRAKUkuran mata dan shortening jaring insang yang dioperasikan nelayan Tual sangat beragam. Penelitian ini ditujukan untuk menentukan efektivitas jaring insang yang didasarkan atas ukuran mata dan shortening yang berbeda dan menentukan indeks keragaman dari setiap ukuran mata. Penelitian dilakukan dari 6 April-15 Mei 2012 di perairan Tual. Hasil penelitian menunjukkan bahwa jaring insang dengan ukuran mata jaring 2,25” dan shortening 50% paling efektif menangkap ikan di perairan Tual dibandingkan dengan ukuran jaring lainnya. Jaring ini menangkap 74 ekor. Adapun jaring 2,5”-50% (59 ekor), 2,5”-55% (31 ekor), 2,25”-55% (24 ekor), 2,25”-45% (19 ekor), 2,50”-45% (15 ekor), 3,00”-50% (15 ekor) dan 3,00-55% (6 ekor). Indeks keragaman Shanon untuk jaring insang dengan ukuran mata 2,25” adalah 1,8, 2,50” (1,9) dan 3,00” (1,1). Sementara indeks keragaman Sympson pada ukuran mata 2,25” sebesar 0,2, 2,50” (0,3) dan 3,00” (0,4).Kata kunci: jaring insang, ukuran mata, shortening, perairan Tual
SELEKSI UMPAN DAN UKURAN MATA PANCING TEGAK (Selection on bait and hook number of vertical line) Noor Azizah; Gondo Puspito
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 3 No. 2 (2012): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (414.381 KB) | DOI: 10.29244/jmf.3.2.169-175

Abstract

ABSTRACTExperimental research on vertical line using different bait and hook size to catch hairtail has been conducted in Palabuhanratu waters. Three kinds of bait were hairtails (Trichiurus sp.), sardine (Sardinella sp.), and mackerel (Rastrelliger sp.). Number of hooks consisted of 8, 9 and 10. All fishing operations were done on floating lift net. From the experiment, bait of sardine was more effective to catch hairtails of Trichiurus savala than hairtails and mackerel. The three baits cought 69, 54 and 46 hairtails of Trichiurus savala, respectively. While, bait of hairtails was more suitable to catch hairtails of Trichiurus haumela. Bait of hairtails, sardine and mackerel cought 11, 7 and 1 hairtails of Trichiurus haumela. Hook number 8 gave the greatest number of catch, i.e. 62 hairtails of Trichiurus savala and 11 hairtails of Trichiurus haumela.Keywords: Hairtails, vertical line, bait, hook number, and Palabuhanratu.-------ABSTRAKOperasi penangkapan layur dengan menggunakan jenis umpan dan ukuran mata pancing yang berbeda telah dilakukan di perairan Palabuhanratu. Jenis umpan yang dipakai adalah layur (Trichiurus sp.), tembang (Sardinella sp.), dan kembung (Rastrelliger sp.). Adapun ukuran mata pancing yang digunakan terdiri atas nomor 8, 9 dan 10. Operasi penangkapan dilakukan di atas bagan apung. Dari hasil penelitian didapatkan bahwa umpan tembang paling efektif untuk menangkap layur bedog (Trichiurus savala), selanjutnya layur dan kembung. Masing-masing menghasilkan 69; 54 dan 46 ekor. Adapun umpan layur lebih efektif untuk menangkap layur meleu (Trichiurus haumela) dibandingkan dengan tembang dan kembung. Masing-masing menangkap 11, 7 dan 1 ekor layur meleu. Mata pancing nomor 8 menghasilkan jumlah tangkapan layur bedog dan layur meleu terbanyak, yaitu 62 dan 11 ekor.Kata kunci: Layur, rawai tegak, umpan, nomor mata pancing dan Palabuhanratu
PENGGUNAAN LIGHT EMITTING DIODE PADA LAMPU CELUP BAGAN (The Use of Light Emitting Diode on Sunked Lamps of Lift Net) Imanuel M. Thenu; Gondo Puspito; Sulaeman Martasuganda
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (688.94 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.141-151

Abstract

ABSTRACTLift net fishermen usually use fluorescent lamp as attractor to lure fish. As price of fuel rise, fishermen are forced to find another option to change their attractor into some much lower cost and more energy-save lamp, or in other words, to change into LED lamp. This research are providing evidence that sunked LED lamps can be utilized as a helper tools, and also determined the best time for catching fish in the lift net. Two lift net used in this research, one of them used sunked LED lamps and the other used ordinary fluorescent lamps. Lift net are operated as long as 20 nights, with four catching times per night, between 18.00-21.00, 21.00-00.00, 00.00-03.00, and 03.00-06.00. Results showed that LED lamps give a better result with 11 organisms successfully catch (287,6 kg), compared to ordinary fluorescent lamps with only six organisms (238,3 kg). The best time for catching with LED lamps are between 18.00-21.00 (121 kg), while between 21.00-00.00 (67,4 kg), 00.00-03.00 (46,9 kg) and 03.00-06.00 (52,3 kg).Key words: fluorescent lamp, lift net, light emitting diode, Palabuhanratu,sunked lights-------ABSTRAKNelayan bagan biasa menggunakan lampu fluorescent sebagai atraktor untuk memanggil ikan. Harga bahan bakar yang mahal menyebabkan nelayan harus beralih memakai jenis lampu lain yang hemat energi, seperti lampu LED (light emitting diode) Penelitian bertujuan untuk membuktikan bahwa lampu celup LED dapat digunakan sebagai alat bantu penangkapan ikan pada bagan dan menentukan waktu operasi penangkapan terbaik. Dua bagan digunakan dalam penelitian ini. Masing-masing menggunakan lampu celup LED dan lampu fluorescent. Bagan dioperasikan selama 20 malam. Dalam 1 malam dilakukan 4 kali penangkapan, yaitu antara jam 18.00-21.00, 21.00-00.00, 00.00-03.00 dan 03.00-06.00. Hasil penelitian menunjukkan bahwa penggunaan lampu celup LED pada bagan menghasilkan 11 jenis organisma tangkapan seberat 287,6 kg, atau lebih banyak dari lampu fluorescent sejumlah 6 organisma (238,3 kg). Adapun waktu penangkapan terbaik pada bagan yang menggunakan lampu LED adalah antara pukul 18.00-21.00 yang menghasilkan tangkapan seberat 121 kg, sedangkan 21.00-00.00 (67,4 kg), 00.00-03.00 (46,9 kg) dan 03.00-06.00 (52,3 kg).Kata kunci: lampu fluorescent, bagan, light emitting diode, Palabuhanratu, lampu celup
PENGUATAN CAHAYA PADA BAGAN MENGGUNAKAN REFLEKTOR KERUCUT SEBAGAI UPAYA MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN CUMI-CUMI (Light Strengthening on Lift Net with Conical Reflectors to Squid Catch Improvement) Supriono Ahmad; Gondo Puspito; M. Fedi A. Sondita; Roza Yusfiandayani
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 4 No. 2 (2013): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (838.387 KB) | DOI: 10.29244/jmf.4.2.163-173

Abstract

ABSTRACTStudy of light strengthening on lift net with conical reflectors was conducted in Kao Bay waters. Three units of lift net were operated 14 nights at the full moon condition. Every lift nets were completed with three different kind of lamp cover, called tudung, reflector αr23,3o and αr32,6o. Fishing operation time of lift net were divided into two intervals of time i.e 20.00-01.00 and 01.00-05.00 WIT (East Indonesian Timezone). Total yield of lift net with reflector αr23,3o was 5.774 kg (41,45%), while that of the lift net with reflector αr 32,6o was 4.977 kg (35,72%), and that of total yield of the lift net with tudung was 3.180 kg (22,83 %). Fishing operation time of lift net at 01.00-05.00 WIT (East Indonesian Timezone) produced 12.661 kg (91 %) weight of total catch, higher than fishing operation of lift net at 20.00-01.00 am that produced 1.270 kg (9 %) weight of total catch. However, statistical analysis concluded that design of the reflector did not significantly affect the catch per trip (Pvalue > 0,05) while fishing time significantly affected the catch per trip (Pvalue < 0,05).Key words: Kao Bay, light, reflector, squid-------ABSTRAKPenelitian tentang pengaruh penguatan cahaya pada bagan dengan reflektor kerucut terhadap hasil tangkapan cumi-cumi dilakukan di perairan Teluk Kao. Tiga unit bagan dioperasikan selama 14 malam pada saat kondisi terang bulan. Masing-masing bagan dilengkapi penutup lampu berbeda, yaitu tudung standar, reflektor kerucut αr23,3o dan αr32,6o. Setiap pengoperasian bagan dibagi dalam dua interval waktu, yaitu antara 20.00-01.00 WIT dan 01.00-05.00 WIT. Hasil penelitian menunjukan bahwa penggunaan reflektor αr23,3o memberikan hasil tangkapan cumi-cumi paling banyak dengan bobot total 5.774 kg (41,45%), sedangkan bagan dengan reflektor αr32,6o seberat 4.977 kg (35,72%), dan bagan dengan tudung 3.180 kg (22,83%). Pengoperasian bagan pada interval waktu penangkapan 01.00-05.00 WIT menghasilkan bobot tangkapan 12.661 kg (91%), atau lebih tinggi dari interval waktu penangkapan 20.00-01.00 WIT (1.270 kg) atau 9% dari total hasil tangkapan. Namun hasil uji statistik menyimpulkan bahwa faktor tudung tidak berpengaruh nyata terhadap tangkapan cumi-cumi per trip sedangkan faktor interval waktu penangkapan berpengaruh nyata (Pvalue = 0,05).Kata kunci: Teluk Kao, cahaya, reflektor, cumi-cumi
PERBAIKAN KONSTRUKSI BUBU ELVER SKALA LABORATORIUM (Correction of Elver Trap Contruction in Laboratory Scale) Misbah Sururi; Gondo Puspito; Roza Yusfiandayani
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 5 No. 1 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (605.826 KB) | DOI: 10.29244/jmf.5.1.67-78

Abstract

ABSTRACTPVC trap is used by fisherman in Java Island, southern waters to capture elver, or juvenileeels measuring < 10 gr. The problems are that trap catches too less and elver in injured condition,while buyers need a lot of good elvers for cultivating. This study tried to fix a trap construction sothat function more effective and doesn’t hurt elver. All experiments were conducted in the FishingGear Laboratory, Bogor Agricultural University. Three sections of traps were examined were therear cover of trap construction, entrance of trap construction and application two doors of traps.Furthermore, new traps made by three criteria were obtained. The entire test was conducted in theexperimental tank containing between 30-100 elvers. The test was done as much as 20-25 timeswith 20 minutes soaking time. The results showed that more elvers enter the trap which does notseal, the entrance was made from nets and had two doors of the trap. The construction trap basedon three criteria was more effective which could trap 355 elvers or 6.12 times more than thefisherman’s trap (58 elvers).Key words: elver, PVC traps, ijep, Java Island, laboratory--------ABSTRAKBubu paralon digunakan oleh nelayan di perairan selatan Pulau Jawa untuk menangkapjuvenil sidat (elver) berukuran < 10 g. Permasalahannya, jumlah tangkapan bubu tersebut sangatsedikit dan elver yang tertangkap sering dalam kondisi terluka, padahal pembeli membutuhkansangat banyak elver yang sehat untuk dibudidayakan. Penelitian ini mencoba memperbaikikonstruksi bubu agar lebih efektif dan tidak melukai elver. Seluruh penelitian dilaksanakan diLaboratorium Bahan dan Alat Penangkap Ikan, Institut Pertanian Bogor. Tiga bagian bubu yangditeliti adalah konstruksi tutupan bagian belakang bubu, konstruksi pintu masuk bubu danpenggunaan dua pintu. Selanjutnya, bubu dibuat berdasarkan ketiga kriteria yang didapatkan.Seluruh pengujian dilakukan di dalam tangki percobaan yang berisi antara 30-100 elver. Pengujiandilakukan sebanyak 20–25 ulangan dengan lama perendaman 20 menit. Hasilnya menunjukkanbahwa elver lebih banyak masuk ke dalam bubu yang tidak tertutup rapat, pintu masuk terbuat darijaring dan memiliki 2 pintu. Konstruksi bubu yang dibuat berdasarkan tiga kriteria tersebut dapatmemerangkap 355 elver, atau 6,12 kali lebih banyak dibandingkan dengan bubu nelayan (58elver).Kata kunci: elver, bubu paralon, ijep, Pulau Jawa, laboratorium
RANCANG BANGUN BUBU ELVER SPIRAL (Desain of Elver Spiral Traps) Misbah Sururi; Gondo Puspito
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 5 No. 2 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (540.769 KB) | DOI: 10.29244/jmf.5.2.139-147

Abstract

ABSTRACTPVC trap is used by fisherman in the southern Java Island waters to capture elver or juvenile eels measuring < 10 gr. One of some problems is how difficult the traps transportation in great quantities. This study tried to design a new trap from spiral little iron material as frame construction. The aim is toward easy tobe shorted so became simple transportation of traps. All experiments were conducted on the Fishing Gear Laboratory, Bogor Agricultural University. The study is divided into two stages, that are design of spiral traps and testing the effectiveness of a spiral trap with two pipe traps, that are elver traps modification (Sururi et al. 2014) and fisherman‘s traps as control. The entire test was conducted in the experimental tank containing between 60 elvers with 20 times repetition. The soaking time were done within 20 minutes of observation each. Spiral traps design giving simpler and easier in transporting traps, because ist weight is 0.24 kg or 3.25 time less weigh than elver traps modification and 2.16 time less weight than fisherman traps. Beside, spiral traps can be shorted to 6 cm, or 8.3 time shorter than elver traps modification and 5 time shorter than fisherman traps. The results showed that spiral traps construction caught 286 individuals or more than elver traps modification (165 individuals) and fishermen’s traps (43 individuals).Keywords: PVC traps, elver, ijep, spiral traps-------ABSTRAKBubu elver digunakan oleh nelayan di perairan selatan Pulau Jawa untuk menangkap elver atau juvenil sidat berukuran < 10 g. Salah satu permasalahannya, pengangkutan bubu dalam jumlah banyak cukup sulit dilakukan. Penelitian ini mencoba merancang bubu dari material kawat besi berbentuk spiral agar bubu dapat dipendekkan sehingga memudahkan dalam pengangkutan-nya. Penelitian dilaksanakan di Laboratorium Bahan dan Alat Penangkapan Ikan, Institut Pertanian Bogor. Kegiatan terdiri atas 2 bagian, yaitu perancangan bubu dan pengujian bubu elver spiral dibandingkan dengan bubu elver modifikasi (Sururi et al. 2014) dan bubu elver milik nelayan sebagai kontrol. Pengujian dilakukan di dalam tangki percobaan yang berisi 60 elver sebanyak 20 ulangan. Lama perendaman bubu 20 menit per ulangan. Bubu elver spiral lebih simpel dan mudah dalam pengangkutannya, karena berat bubu hanya 0,24 kg atau 3,25 kali lebih ringan dari bubu elver modifikasi dan 2,16 kali lebih ringan dari bubu elver standar. Selain itu, bubu elver spiral juga dapat dipendekkan hingga 6 cm, atau 8,3 kali lebih pendek dari bubu elver modifikasi dan 5 kali lebih pendek dari bubu elver standar. Berdasarkan hasil pengujian, bubu elver spiral memerangkap elver sejumlah 286 ekor, atau lebih banyak dibandingkan dengan bubu elver modifikasi 165 ekor dan bubu elver standar 43 ekor.Kata kunci: Bubu elver, elver, ijep, bubu spiral
SELEKSI UMPAN DAN BENTUK PERANGKAP PLASTIK UNTUK MENANGKAP KEONG MACAN (Selection on Bait and Shape of Plastic Trap in Catching Babylon Snail) Gondo Puspito; Ayu Adhita Damayanti
Marine Fisheries : Journal of Marine Fisheries Technology and Management Vol. 5 No. 2 (2014): Marine Fisheries: Jurnal Teknologi dan Manajemen Perikanan Laut
Publisher : Bogor Agricultural University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (375.326 KB) | DOI: 10.29244/jmf.5.2.155-161

Abstract

ABSTRACTThe paper describes the result of experimental research on plastic trap to catch babylon snail (Babylonia spirata). The aims of the research were to have the effective shape of trap to catch babylon snail. The shapes of trap were dome, truncated pyramid, and block. While, 2 kinds of baits were shark (Rhinodon typicus) and sardine (Sardinella spp.). Result showed that babylon snail preferred bait of sardine to shark. The truncated pyramid trap was more effective than dome and block trap. Each trap cauht 22, 16 and 4 babylon snail, respectively.Keywords: Plastic trap, babylon snail and Palabuhanratu--------ABSTRAKTulisan ini menjelaskan hasil uji coba perangkap plastik untuk menangkap keong macan (Babylonia spirata). Penelitian ditujukan untuk mendapatkan bentuk perangkap yang efektif menangkap keong macan. Bentuk trap berupa kubah, limas terpancung dan balok. Adapun 2 jenis umpan yang digunakan adalah tembang (Sardinella spp.) dan cucut (Rhinodon typicus). Hasil penelitian menunjukkan bahwa keong macan lebih menyukai umpan tembang dibandingkan dengan hiu. Perangkap bentuk limas terpancung lebih efectif dibandingkan dengan perangkap bentuk kubah dan balok. Masing-masing perangkap menangkap 22, 16 dan 4 keong macan.Kata kunci: Perangkap plastik, keong macan dan Palabuhanratu
Kemiringan dinding perangkap Jodang (Slope of Jodang Trap Wall) Gondo Puspito
Maspari Journal : Marine Science Research Vol 1, No 1 (2010): Edisi Juli
Publisher : UNIVERSITAS SRIWIJAYA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (301.432 KB) | DOI: 10.36706/maspari.v1i1.1067

Abstract

This research tried to test 3 slopes of jodang trap wall which were usually used by Palabuhanratu fishermen. The objective was to obtain slope of trap wall that selective to babylon snails size. The wall could be passed only by snails with shell length of p ³ 4.27 cm. In this research, 9 traps with slope of 30, 40 and 50o were operated in Palabuhanratu waters. Fishing operations were done 10 times with 3 hours soaking time for each fishing operation. Result showed that slope of jodang trap wall of 50o was more selective than the other two jodang traps. It caught 29.11% of snails with shell length of p ³ 4.27 cm. While, slope of a =40 and a =30o were 19.42% and 10.41% of total catch of babylon snails. Key words: Slope and jodang trap wall   Penelitian ini mencoba menguji 3 kemiringan dinding perangkap jodang yang biasa digunakan oleh nelayan Palabuhanratu. Tujuannya untuk mendapatkan sudut kemiringan dinding perangkap yang selektif terhadap ukuran keong macan. Dinding perangkap hanya dapat dilalui oleh keong dengan panjang cangkang p ³ 4,27 cm. Dalam penelitian ini, 9 perangkap dengan sudut kemiringan a = 30, 40 dan 50o dioperasikan di perairan Palabuhanratu. Operasi penangkapan dilakukan sebanyak 10 kali dengan waktu perendaman 3 jam per operasi penangkapan. Hasilnya menunjukkan bahwa a = 50o lebih selektif dibandingkan dengan kedua sudut kemiringan dinding lainnya. Sudut kemiringan ini menangkap 29,11% keong dengan panjang cangkang p ³ 4,27 cm. Adapun sudut kemiringan a = 40o dan a = 30o adalah 19,42% dan 10,41% dari total tangkapan keong macan.   Kata kunci: Sudut kemiringan dan dinding perangkap jodang
Co-Authors Abualreesh, Muyassar Hamid Agus Suherman Ainun Apriliyani Muhyun Ali Muntaha Andrew Amadeus Angga Hartono Ari Purbayanto Arif, Hadi Sholekhan Arkan, Muhammad Zaky Ateng Supriatna Aulia, Deni Ayu Adhita Damayanti Bangun, Tri Nanda Citra Budhi Hascaryo Iskandar Budy Wiryawan Diana Agustina Diniah . Diniah Diniah Diniah Diniah Edy Miswar Eko Sri Wiyono Etty Riani Fadhilah, Harits Ridho Faik Kurohman Faik Kurohman Fakhri Kurniawan Fauzan Idris Maspeke Fis Purwangka Fredinan Yulianda Fuah, Ricky Winrison Gatut Bintoro Hani Dwi Wijayanti Harry Santoso Hasrianti, Hasrianti Iin Solihin Imanuel M. Thenu Ismawan Tallo Januar, Januar Julia Eka Astarini Julius Mose Rahaningmas Kusuma, Mega Lembito, Hoetomo M. Fedi A. Sondita Malik, Fikri Rizky Mardiah, Ratu Sari Mihrobi Khalwatu Rihmi Misbah Sururi Mohammad Imron Mokhamad Dahri Iskandar Muhammad Natsir Kholis Muhyun, Ainun Apriliyani Mulyono S. Baskoro Mustaruddin Nasution, Defra Monika Noor Azizah Novita, Yopi Pambudi, Rilo Pratama, Gilar Budi Prihatin Ika Wahyuningrum Putra, Demo Buana Rahantan, Ali Rahman, Muhamad Arif Retno Muninggar Rihmi, Mihrobi Khalwatu Rilo Pambudi Rolando Akbar Wenang Ronny I. Wahju Ronny Irawan Wahju Roza Yusfiandayani Salsabila, Sahda Santanumurti, Muhammad Browijoyo Septian Eka Satriawan Sugeng Hartono Sukoraharjo, Sri Suryo Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Supriono Ahmad Syifa Nurul Aini Thomas Nugroho Tirtana, Denta Umam, Hairul Vemilia Wazir Mawardi Zayyan, M Luthfi Zulkarnain Zulkarnain Zulkarnain Zulkarnain Zurkarnain