Claim Missing Document
Check
Articles

Design of Plastic Wall on Lobster Trap Gondo Puspito
Saintek Perikanan : Indonesian Journal of Fisheries Science and Technology Vol 3, No 2 (2008): Jurnal Saintek Perikanan
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/ijfst.3.2.16-22

Abstract

Experiment was aimed to obtain a design of lobster trap wall. The trap was constructed by plastic. Design of wall consisted of standard gap, horizontal gap, vertical gap, and rectangular gap. From those walls, it was determined the wall that was easily crawled by lobster. There were 3 groups of lobster based on body weight and carapace length, i.e. group A (10.5 cm; 10 g), group B (15.5 cm; 70 g), and group C (17 cm; 100 g). The experiment tried to find out the wall color and lobster bait first. From the experiment, lobster preferred to choose crab and red wall. While, the wall design of vertical gap was easier crawled by lobster than those of three others.  Keywords : Lobster trap wall, plastic, standard gap, horizontal gap, vertical gap, and rectangular gap.
PENGARUH MODIFIKASI CELAH PELOLOSAN TERHADAP SELEKTIVITAS BUBU LIPAT DALAM PENANGKAPAN KEPITING BAKAU (Scylla spp.) Ismawan Tallo; Ari Purbayanto; Sulaeman Martasuganda; Gondo Puspito
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 20, No 3 (2014): (September 2014)
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (561.207 KB) | DOI: 10.15578/jppi.20.3.2014.183-190

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menentukan bentuk dan posisi pemasangan celah pelolosan serta selektivitas pada bubu lipat balok. Penelitian dibagi dalam dua tahap, yaitu penelitian di laboratorium dan di lapangan. Penelitian di laboratorium dilaksanakan antara Januari - Mei 2012 dan penelitian di lapangan dilaksanakan di Teluk Mutiara Kabupaten Alor, Provinsi Nusa Tenggara Timur antara Juni - November 2012. Data penelitian di laboratorium dan di lapang dianalisis secara deskriptif komparatif. Adapun data untuk selektivitas bubu lipat dianalisis dengan model selektivitas logistik dengan dukungan persamaan metode maximum likelihood dan program Solver dari Microsoft Excel. Hasil penelitian menunjukkan bahwa bentuk celah pelolosan yang sesuai untuk meloloskan kepiting bakau adalah celah berbentuk persegi panjang. Posisi celah pelolosan yang paling banyak meloloskan kepiting muda adalah celah pelolosan bagian depan (CP depan). Nilai selektivitas bubu lipat (dengan nilai CW50) untuk posisi CP depan: 6,6 cm, CP sudut bawah: 6,5 cm, CP samping atas: 6,4 cm dan CP sudut atas: 6,2 cm. Celah pelolosan yang lebih selektif terhadap ukuran kepiting bakau adalah CP samping atas. The study was aimed to determine the shape and installed position of escaping gap equipment and the selectivity of the pot based on the escaping gaps. The study was conducted in experimental laboratory from January to May 2012 and the field experiment was carried out in Mutiara Bay, Alor District, Province of Nusa Tenggara Timur between June to October 2012. The data were analysed by using comparative descriptively. The pot selectivity was analysed by using logistic model and it was supported by using formulation of Maximum Likelihood Method and SOLVER of Microsoft Excel. The results showed that the appropriate of escaping gap shape was rectangular escaping gap and the escaped gap at front position of the pot which the escaped of young crabs were higher than the other escaped gaps. The pot selectivity based on CW50 with escaping gap at front position was 6.6 cm, under side position of 6.5 cm, top corner position of 6.4 cm and upper side position of 6.2 cm. The selectivity of escaping gap at front position was higher than the other escaping gap position.
KOMBINASI UKURAN MATA PANCING DAN WARNA UMPAN TIRUAN UNTUK MENINGKATKAN HASIL TANGKAPAN HUHATE Fauzan Idris Maspeke; Gondo Puspito; Iin Solihin
Jurnal Penelitian Perikanan Indonesia Vol 24, No 4 (2018): (Desember) 2018
Publisher : Pusat Riset Perikanan, BRSDM KP.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1330.64 KB) | DOI: 10.15578/jppi.24.4.2018.239-251

Abstract

Keberhasilan operasi penangkapan ikan dengan huhate sangat tergantung pada beberapa faktor, dua diantaranya adalah ukuran mata pancing dan warna umpan tiruan. Hasil tangkapan huhate berupa cakalang, juvenile tuna, madidihang dan tongkol dapat menjadi optimal bila paduan antara ukuran mata pancing dan warna umpan tiruannya tepat. Oleh karenanya, paduan antara ukuran mata pancing dan warna umpan perlu diujicoba secara bersamaan dalam satu kapal. Tujuan penelitian ini adalah untuk mendapatkan kombinasi ukuran mata pancing dan warna umpan tiruan huhate sehingga menghasilkan jumlah tangkapan terbanyak. Ukuran mata pancing yang digunakan adalah nomor 2 dan 3. Adapun warna umpan tiruannya merah, biru dan putih. Metode yang digunakan dalam penelitian adalah melalui uji coba penangkapan dengan cara menguji mata pancing yang terdiri atas berbagai kombinasi ukuran dan warna umpan tiruan secara langsung di laut. Kapal huhate yang digunakan untuk operasi penangkapan berukuran 57 GT dengan jumlah pemancing 20 – 30 orang. Hasil uji statistik RALF dan BNT terhadap hasil tangkapan menunjukan bahwaFhit bernilai 5,214 atau lebih besar daripada Ftab (3,027), atau jumlah hasil tangkapan keenam kombinasi perlakuan berbeda nyata. Kombinasi ukuran mata pancing nomor 3 dan umpan berwarna merah mendapatkan hasil tangkapan sebanyak 2.596 ekor, kemudian diikuti berturut-turut oleh ukuran No.3 dan warna biru sebanyak 2.400 ekor, No. 3 dan warna putih sebanyak 2.109 ekor , No.2 dan warna merah sebanyak 2.106 ekor, No.2 dan warna biru sebanyak 1.333 ekor dan No.2 dan warna putih sebanyak 1.250 ekor.The success of huhate fishing operations is highly dependent on several factors, two of which are the size of hook and the color of the artificial bait. Catch of pole and line consisted of skipjack, juvenile tuna, yellowfin tuna and little tuna will be optimal when the alloy between the hook size and the color of the imitation bait is prorely. Therefore, the combination between the hook size and the color of the bait needs to be tested simultaneously in same fishing vessel. The goal to be achieved in the research is to get a combination of the hook size and artificial bait color are used for catching the largest number of catches. Two type of hook size are used that number 2 and will be combined with three color of artificial bait i.e., red, blue and white. The method used in this research is experimental fishing by using pole and liner sized of 57 GT ship operated by 20 – 30 fisherman. The results of RALF and BNT statistical tests on the catch data show that F-hit is 5.214 or greater than F-tab (3,027), that means the number of catches from the six treatment combinations is significantly different. The combination of the hook size number 3 and the red bait color caught 2,596 fishes. The following sequence are 2,400 fishes (No. 3 and blue), 2,109 fishes (No.3 and white), 2,106 fishes (No.2 and red), 1,333 fishes (No.2 and blue) and 1,250 fishes (No.2 and white). 
KOREKSI UKURAN MATA PANCING RAWAI TEGAK UNTUK MENANGKAP IKAN PELAGIS KECIL DI PERAIRAN SELAT SEMAU Ricky Winrison Fuah; Diniah Diniah; Gondo Puspito
Jurnal Kelautan dan Perikanan Terapan (JKPT) Vol 2, No 1 (2019): JKPT Juni 2019
Publisher : Politeknik Ahli Usaha Perikanan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.856 KB) | DOI: 10.15578/jkpt.v2i1.7580

Abstract

Alat tangkap yang digunakan untuk menangkap ikan pelagis kecil di perairan Selat Semau yaitu rawai tegak. Operasi penangkapanikan menggunakan ukuran mata pancing nomor 18, 16 dan 15. Tujuan penelitian yaitu untuk menentukan ukuran mata pancing yang tepat dalam menangkap ikan pelagis kecil yang layak tangkap. Metode penelitian yang digunakan adalah experimentalfishing, dengan metode analisis data uji normalitas Kolmogorov-Smirnov, uji Kruskal Wallis dan uji Mann-Whitney. Jumlah responden 12 orang. Hasil penelitian diperoleh presentase ukuran ikan tidak layak tangkap 65%-72% dan layak tangkap 28%-34% (nomor 18), tidak layak tangkap 26%-33% dan layak tangkap 67%-74% (nomor 16), tidak layak tangkap 23%-36% dan 64%-74% layak tangkap (nomor 15). Kesimpulannya adalah ukuran mata pancing nomor 16 dan 15 lebih tepat untuk menangkap ikan pelagis kecil layak tangkap. Saran yang dapat diberikan adalah perlu dilakukan penelitian tentang pengamatan gonad ikan sehingga dapat membuktikan mata pancing nomor 16 dan 15 menangkap ikan layak tangkap.
PENGARUH JENIS DAN WARNA UMPAN BUATAN RAWAI TEGAK TERHADAP HASIL TANGKAPAN IKAN PELAGIS KECIL Ricky Winrison Fuah; Diniah .; Gondo Puspito
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 3 No. 1 (2019): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (292.919 KB) | DOI: 10.29244/core.3.1.25-34

Abstract

Salah satu faktor penentuan keberhasilan dalam penangkapan menggunakan rawai tegak adalah umpan, baik umpan buatan maupun alami. Umpan berfungsi untuk menarik perhatian ikan sasaran sehingga ikan tersebut tertarik untuk memakan atau mengigitnya. Umpan yang digunakan dalam uji coba adalah karet pentil dan kain kaca warna merah dan kuning. Tujuan penelitian ini yaitu untuk menentukan jenis dan warna umpan yang tepat untuk menangkap ikan pelagis kecil terbanyak. Metode penelitian yang digunakan adalah experimental fishing, dengan metode analisis data uji normalitas Kolmogorov-Smirnov dan uji Mann-Whitney. Jumlah responden 12 orang. Hasil penelitian diperoleh penggunaan karet pentil menangkap 4 spesies terbanyak yaitu Selar crumenophthalmus 1.813 ekor, Decapterus russelli 991 ekor, Decapterus tabl 973 ekor, Selaroides leptolepis 1.311 ekor, sedangkan menggunakan kain kaca menangkap 1 spesies terbanyak yaitu Rastrelliger faughni 1.295 ekor. Kesimpulannya yaitu karet pentil lebih baik untuk menangkap famili Carangidae sedangkan kain kaca lebih tepat untuk menangkap famili Scombridae.    Kata Kunci : Carangidae, kain kaca, karet pentil, scombridae, umpan buatan
INTRODUKSI LAMPU CELUP PADA PENGOPERASIAN JARING INSANG HANYUT Gondo Puspito; Sugeng Hartono; Fakhri Kurniawan; Wazir Mawardi
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 4 No. 3 (2020): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.4.3.283-293

Abstract

Peluang keberhasilan operasi penangkapan ikan dengan jaring insang hanyut sangat ditentukan oleh arah ruaya ikan terhadap posisi jaring. Ikan akan tertangkap jika arah renangnya terhadang oleh jaring. Penelitian mencoba meningkatkan peluang ikan tertangkap dengan memanfaatkan lampu celup. Tujuannya untuk menunjukkan bahwa penggunaan lampu celup akan meningkatkan jumlah ikan hasil tangkapan tanpa mengurangi komposisi jenisnya. Dua unit jaring insang dioperasikan secara bersamaan. Salah satu unit jaring insang dilengkapi dengan lampu celup. Hasil penelitian menunjukkan penggunaan lampu celup tidak mempengaruhi komposisi jenis ikan yang tertangkap, tetapi hanya mempengaruhi jumlah tangkapannya. Jumlah total ikan hasil tangkapan jaring insang yang dilengkapi lampu celup mencapai 3.521 ekor, atau 58,82% dari seluruh ikan hasil tangkapan, sedangkan jaring insang tanpa lampu celup sebanyak 2.465 ekor (41,18%). Rincian hasil tangkapan jaring insang yang dilengkapi lampu celup dan tanpa lampu celup adalah mackerel tuna (Euthynnus affinis) sebanyak 218 ekor dan 129 ekor, spanish mackerel (Scomberomorus commerson) (80; 50), needlefish (Tylosurus crocodilus) (7; 3), Indo-Pacific sailfish (Istiophorus platypterus) (4; 2), gelang sadap/driftfish (Psenes cyanophrys) (2.838; 2.051), dan moonfish (Mene maculata) (374; 230). Kata kunci: high-brightness LEDs, jaring insang hanyut, komposisi jenis ikan, lampu celup
KONSTRUKSI PERANGKAP LIPAT UNTUK MENANGKAP LOBSTER AIR TAWAR (Cherax sp.) Vemilia; Gondo Puspito; Didin Komarudin; Roza Yusfiandayani
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 5 No. 3 (2021): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.5.3.251-264

Abstract

Bubu merupakan alat tangkap pasif yang dioperasikan di dasar perairan. Pengoperasian alat tangkap bubu dilakukan dengan cara perendaman untuk menangkap hewan demersal. Salah satu kontruksi bubu yang banyak digunakan adalah bubu lipat diantaranya bubu payung. Bubu payung banyak digunakan di Belitung Timur untuk menangkap organisme air seperti lobster air tawar. Bubu payung standar memiliki kekurangan yaitu sulit dimasuki lobster. Lobster yang telah terperangkap juga mudah keluar dari pintu masuk, sehingga bubu standar tidak efektif untuk menangkap lobster air tawar. Salah satu upaya yang dilakukan untuk mengoptimalkan bubu adalah dengan memperbaiki konstruksi pintu masuk agar lobster mudah memasuki bubu dan sulit ketika meloloskan diri. Penelitian bertujuan unutk menentukan konstruksi pintu yang tepat dan membandingkan hasil tangkapan antara bubu pintu standar dengan pintu modifikasi. Seluruh penelitian dilakukan pada skala laboratorium. Penelitian menggunakan akuarium dan kolam. Uji konstruksi pintu bubu dilakukan di akuarium sedangkan uji makanan dan uji bubu dilakukan di kolam. Hasil Penelitian menunjukkan bahwa konstruksi pintu bubu yang tepat adalah memiliki pintu luar menyentuh dasar bubu, sudut lintasan 40˚ dan bentuk pintu bagian dalamnya persegi panjang. Bubu modifikasi mampu memerangkap lobster sebanyak 76,92%, sedangkan bubu standar sebanyak 23,08% dari seluruh hasil tangkapan. Bubu standar mampu meloloskan lobster sebanyak 78,79%, sedangkan bubu modifikasi hanya sebanyak 21,31%. Umpan yang disarankan untuk uji coba adalah ikan laisi (lemuru). Kata kunci: bubu payung, lobster air tawar, umpan
EFEKTIVITAS PENANGKAPAN LAYUR (Trichiurus sp.) MENGGUNAKAN UMPAN BUATAN Julius Mose Rahaningmas; Gondo Puspito; Diniah Diniah; Ronny Irawan Wahju
Jurnal Teknologi Perikanan dan Kelautan Vol 5 No 1 (2014): MEI 2014
Publisher : Fakultas Perikanan dan Ilmu Kelautan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3484.938 KB) | DOI: 10.24319/jtpk.5.33-40

Abstract

Hairtail fishing (Trichiurus sp) in Palabuhanratu using handline is highly dependent on fishing bait. The bait which is usually used by fishermen is natural bait which is a piece of trash fish. The purpose of this research is to find bait alternative as a replacement of natural bait for hairtail fishing. Three type of baits used in this research were natural bait as a control, artificial bait and combination between natural and artificial bait. The aims of this research are to prove that artificial baits can increas the catch and to determine the effective time for handline fishing operations. Three kinds of baits were operated at the same time on a single unit of handline fishing boats for 22 days.The research using comparative descriptive analysis and statistical analysis completely randomized design (RAL). The results showed that combination bait can capture 453 hairtails or 52% of the total catch which is more than artificial bait that catch 223 hairtails 25% and natural bait that catch 203 hairtails 23%. The best time of the capture is between 05:00 am to 07:00 am that catch 379 hairtail or 43% of the total catch, and then at 07.00 am to 09:00 am and 09:00 am to 11:00 am, each captured 298 fish 34%, and 202 fish 23%.
SELEKSI JENIS DAN KETINGGIAN UMPAN PANCING ULUR UNTUK MENANGKAP IKAN DEMERSAL Gondo Puspito; Sugeng Hartono; Mustaruddin; Andrew Amadeus
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 4 No. 3 (2020): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.4.3.341-351

Abstract

Tujuan penelitian adalah mengetahui pengaruh perbedaan umpan dan ketinggian umpan pancing ulur terhadap komposisi jenis dan jumlah ikan demersal yang tertangkap. Penelitian menggunakan metode eksperimen. Jenis umpan yang digunakan berupa udang putih (Penaeus merguiensis), udang dogol (Metapenaeus monoceros), dan cumi-cumi (Loligo spp.). Adapun ketinggian umpan adalah 1, 2 dan 3 m dari permukaan dasar perairan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa komposisi jenis ikan hasil tangkapannya sama, yaitu kakap merah (Lutjanus sp), kuwe (Caranx ignobilis), kerapu (Epinephelus sp), kuniran (Upeneus sulphureus), kerong-kerong (Terapon jarbua). Umpan udang putih ternyata mendapatkan 196 ikan, atau 57,94 % dari seluruh ikan hasil tangkapan, selanjutnya udang dogol (111 ikan; 35,92 %), dan cumi-cumi (24 ikan; 6,13 %). Sementara, ketinggian umpan yang memberikan hasil tangkapan terbanyak adalah 1 m, yaitu 157 ekor, atau 47,43 % dari seluruh ikan hasil tangkapan, sedangkan 2 m (146 ikan; 44,11 %), dan 3 m (28 ekor; 8,46 %). Kata kunci: ikan demersal, jenis umpan, ketinggian umpan, pancing ulur
TEKNIK PENANGANAN KOMPONEN SISA PADA OPERASI INDUSTRI PENANGKAPAN IKAN YANG BERBASIS DI PELABUHAN PERIKANAN PANTAI BLANAKAN Mustaruddin; Diana Agustina; Gondo Puspito; Mulyono S. Baskoro; Syifa Nurul Aini
ALBACORE Jurnal Penelitian Perikanan Laut Vol. 7 No. 1 (2023): Albacore
Publisher : Departemen PSP IPB

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29244/core.7.1.063-073

Abstract

Penelitian bertujuan menganalisis keragaan komponen sisa dan menyusun teknik penanganannya pada operasi industri penangkapan ikan yang berbasis di PPP Blanakan. Metode yang digunakan adalah metode deskripsi, model PPA, dan analisis porsi tertimbang. Komponen sisa dari kelebihan stok perbekalan pada operasi industri penangkapan ikan adalah sisa BBM (rata-rata 38,5 l/kapal), sisa air tawar (rata-rata 117,5 l/kapal), dan sisa es balok (rata-rata 5,3 balok/kapal). Adapun komponen sisa dari dampak aktivitas operasi kapal adalah tumpahan BBM dan oli, serta sampah melaut, terutama kemasan plastik. Teknik produksi bersih untuk penanganan komponen sisa pada operasi industri penangkapan ikan yang berbasis di PPP Blanakan adalah (a) memberi pelatihan perencanaan cermat perbekalan BBM (rethink), (b) mengurangi perbekalan es balok (reduce), (c) penggunaan kembali sisa air tawar untuk membersihkan peralatan (reuse), (d) memperbaiki instalasi yang bocor (refine) dan memberi pelatihan peningkatan kesadaran akan dampak tumpahan BBM dan oli (rethink), dan (e) mengurangi perbekalan berkemasan plastik (reduce). Kata kunci: air tawar, industri penangkapan ikan, komponen sisa, model PPA, pelabuhan perikanan, produksi bersih
Co-Authors Abdulrahman, Idris Abualreesh, Muyassar Hamid Adiyanto, Fajar Agus Suherman Ainun Apriliyani Muhyun Ali Muntaha Andrew Amadeus Angga Hartono Ani Haryati, Ani Ari Purbayanto Arif, Hadi Sholekhan Arkan, Muhammad Zaky Ateng Supriatna Aulia, Deni Ayu Adhita Damayanti Bangun, Tri Nanda Citra Budhi Hascaryo Iskandar Budy Wiryawan Diana Agustina Diniah . Diniah Diniah Diniah Diniah Edy Miswar Eko Sri Wiyono Etty Riani Fadhilah, Harits Ridho Faik Kurohman Faik Kurohman Fakhri Kurniawan Fauzan Idris Maspeke Fikri Rizky Malik Fis Purwangka Fitrachman, Naufal Aqiel Fredinan Yulianda Fuah, Ricky Winrison Gatut Bintoro Hani Dwi Wijayanti Harry Santoso Hasrianti, Hasrianti Iin Solihin Imanuel M. Thenu Ismawan Tallo Januar, Januar Julia Eka Astarini Julius Mose Rahaningmas Kusuma, Mega Lembito, Hoetomo M. Fedi A. Sondita Malik, Fikri Rizky Mardiah, Ratu Sari Mihrobi Khalwatu Rihmi Misbah Sururi Mohammad Imron Mokhamad Dahri Iskandar Muhammad Natsir Kholis Muhyun, Ainun Apriliyani Mulyono S. Baskoro Mustaruddin Nasution, Defra Monika Noor Azizah Novita, Yopi Pambudi, Rilo Pratama, Gilar Budi Prihatin Ika Wahyuningrum Purnama Sukardi Putra, Demo Buana Rahantan, Ali Rahman, Muhamad Arif Retno Muninggar Rihmi, Mihrobi Khalwatu Rilo Pambudi Rolando Akbar Wenang Ronny I. Wahju Ronny Irawan Wahju Roza Yusfiandayani Salsabila, Sahda Santanumurti, Muhammad Browijoyo Septian Eka Satriawan Sri Suryo Sukoraharjo Sugeng Hartono Sukoraharjo, Sri Suryo Sulaeman Martasuganda Sulaeman Martasuganda Supriono Ahmad Syifa Nurul Aini Thomas Nugroho Tirtana, Denta Umam, Hairul Vemilia Wazir Mawardi Yopi Novita Zayyan, M Luthfi Zulkarnain Zulkarnain Zulkarnain Zulkarnain Zurkarnain