Claim Missing Document
Check
Articles

ANALISIS TERHADAP AKTA PENDIRIAN BADAN USAHA MILIK DESA: STUDI AKTA PENDIRIAN BADAN USAHA MILIK DESA TARATAK BANCAH SEJAHTERA Muthia Anggela Mawadhaty Putry; Elwi Danil; Neneng Oktarina
Lambung Mangkurat Law Journal Vol. 3 No. 2 (2018): September
Publisher : Program magister Kenotariatan Fakultas Hukum Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32801/abc.v3i2.61

Abstract

Badan Usaha Milik Desa adalah badanusaha yang seluruh atau sebagian besar modalnya dimiliki oleh Desamelalui penyertaan secara langsung yang berasal dari kekayaan Desa yangdipisahkan guna mengelola aset, jasa pelayanan, dan usaha lainnya untuksebesar-besarnya kesejahteraan masyarakat Desa. Salah satu BUMDes di Kota Sawah Lunto yaitu BUMDes Taratak Bancah Sejahtera yang merupakan (1) satu dari (3) tiga BUMDes yang pertama kali berdiri di tahun 2016 selain pendiriannya dengan Peraturan Desa juga dituangkan ke dalam akta notaris, yang mana didalam peraturan perundang-undangan tidak menjelaskan pendirian BUMDes dibuat dalam bentuk akta Notaril. Berdasarkan hal tersebut,maka penulis merumuskan permasalahan yaitu 1. Bagaimana Subtansi Akta Pendirian Badan Usaha Milik Desa Taratak Bancah Sejahtera? 2. Bagaimana Tanggung Jawab Notaris Dalam Pembuatan Akta Pendirian Badan Usaha Milik Desa? Metode penelitian dalam penelitian ini adalah yuridis normatif. Hasil penerlitian: 1. Dalam penjelasan Pasal 87 ayat (1) PP Nomor 43 Tahun 2014, dinyatakan secara tegas bahwa BUMDes secara spesisifik tidak dapat disamakan dengan badan hukum seperti perseroan terbatas, cv atau koperasi. Akta Pendirian Badan Usaha Milik Desa Taratak Bacah Sejahtera memuat Anggaran Dasar Dan Anggaran Rumah Tangga Badan Usaha Milik Desa Taratak Bacah Sejahtera; 2. Notaris tidak berwenang membuat akta pendirian BUMDes, namun berwenang membuat unit usaha berbadan bukum BUMDes. Tanggung Jawab Notaris berupa tanggung jawab secara perdata, pidana dan berdasarkan kode etik.
Peran Rupbasan Dalam Benda Sitaan Hasil Pidana Korupsi (Studi Rupbasan Kelas 1 Padang) Khairun Nissa, Zakiyah; Elwi Danil; Nani Mulyati
Jurnal Niara Vol. 18 No. 1 (2025): Mei
Publisher : FAKULTAS ILMU ADMINISTRASI UNIVERSITAS LANCANG KUNING

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31849/niara.v18i1.24245

Abstract

Pasal 44 Ayat (1) KUHAP mengatur bahwa benda sitaan disimpan dalam Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan). Rupbasan merupakan unit pelaksana yang dikelola Departemen Hukum dan Hak Asasi Manusia. Penerapan terhadap Peraturan Perundang-Undangan ini belum berlaku efektif di wilayah hukum Rupbasan kelas 1 Padang. Perumusan Masalah 1. Bagaimanakah peran Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) dalam menangani Benda Sitaan Hasil Tindak Pidana Korupsi 2 Hambatan yang temui oleh Rumah Penyimpanan Benda Sitaan Negara (Rupbasan) dalam menangani Benda Sitaan Hasil Tindak Pidana Korupsi? Peran Rupbasan Kelas 1 Padang belum begitu efektif karena belum efektifnya regulasi yang ada terkait benda sitaan hasil tindak pidana korupsi untuk dilakukan pengelolaan selama proses peradilan berlangsung sampai adanya putusan. Hambatan yang dihadapi oleh Rupbasan kelas1Padang dalam menangani benda sitaan hasil tindak pidana korupsi yaitu terkait penegakan hukum yang belum berkoordinasi dengan baik antar lembaga khususnya dalam menangani benda sitaan hasil tindak pidana korupsi, hambatan selanjutnya sarana atau fasilitas untuk menampung benda sitaan hasil tindak korupsi yang belum memadai di Rupbasan Kelas 1 Padang dan ruang yang tidak tersedia. Kemudian kendala lain faktor cuaca hujan dan banjir yang masuk ke dalam Rupbasan Kelas 1 Padang dan menyebabkan berkurang nya nilai benda sitaan yang berada di Rupbasan.
Implementation of Legal and Social Assistance for Street Children Victims of Sexual Exploitation in Padang City from the Perspective of Legal Sociology Kamila Hesti; Danil, Elwi; Zurnetti, Aria
El-Hadhanah : Indonesian Journal Of Family Law And Islamic Law Vol. 5 No. 1 (2025): El-Hadhanah: Indonesian Journal of Family Law and Islamic Law
Publisher : Prodi Hukum Keluarga Fakultas Syariah dan Hukum UIN Ar-Raniry

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.22373/hadhanah.v5i1.7830

Abstract

Street children in Indonesia are among the most vulnerable social groups, particularly exposed to various forms of exploitation, including sexual abuse. Despite the existence of regulatory frameworks such as Law No. 35 of 2014 on Child Protection and local regulations in Padang City, the implementation of protective measures for these children remains inconsistent and fragmented. This study aims to investigate the implementation of assistance programs for street children who are victims of sexual exploitation, with a focus on the role played by the Padang City Social Service Office. The research also explores the legal and institutional challenges that hinder the effectiveness of such interventions. This research uses a juridical sociological approach with a qualitative method. Data was collected through in-depth interviews with government officials, social services, and other parties related to the research topic. Secondary data in the form of documents were obtained from literature studies of legal documents, policy reports, and academic literature. The findings indicate that while a framework for holistic support comprising legal aid, psychological counseling, education, and basic needs assistance has been established, its implementation suffers from several key constraints. These include limited government budgets, weak inter-agency coordination due to sectoral egotism, and a lack of public awareness regarding the rights and protection of child victims. Furthermore, social stigma often prevents effective community involvement. This study concludes that without strengthening social and institutional structures and increasing cross-sectoral synergies, child protection will not be effective. Strengthening policy implementation, public education, and integration of Islamic legal values such as the protection of the soul (ḥifẓ al-nafs) and descendants (ḥifẓ al-nasl) can be a strong normative basis in creating a fair and sustainable child protection system.
Penerapan Diskresi Penuntutan Berdasarkan Keadilan Restoratif Terhadap Tindak Pidana Bernilai Kerugian Ekonomis Rendah Pradana, Rido; Danil, Elwi; Elda, Edita
Nagari Law Review Vol 8 No 3 (2025): Nagari Law Review
Publisher : Faculty of Law, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/nalrev.v.8.i.3.p.632-647.2025

Abstract

This research explains the comparison of prosecutorial discretionary in Indonesia with other countries, indicators of determining low economic loss crimes based on laws and regulations and the application of prosecutorial discretionary to low economic loss crimes in cases in the jurisdiction of the West Sumatra High Prosecutor's Office. This research uses a normative legal research method with a statutory approach, a case approach and a comparative approach based on secondary data through literature studies. The results of this research indicate that prosecutorial discretionary in Indonesia and other countries is basically the authority of the public prosecutor in carrying out their duties in the field of prosecution to prosecute or not to prosecute a case, but each country has certain criteria in applying prosecutorial discretionary to a crime. In the provisions of laws and regulations, there are no clear indicators regarding low economic loss crimes because there is no classification of criminal acts based on economic losses, so that each law enforcement officer has its own discretion in determining indicators of low economic loss crimes. The indicator of low economic loss crimes is currently still influenced by the indicator of criminal fines. Prosecutorial discretionary for low economic loss crimes can be resolved by using a restorative justice approach that can accommodate the economic loss value of a crime. In this research, the author suggests that indicators be regulated clearly and firmly to determine the minimum and maximum limits of the nominal value of low economic loss crimes for law enforcement officers for the sake of legal certainty in law enforcement.
Analisis Mengenai Dampak Lingkungan (AMDAL) sebagai Instrumen Pencegahan Pencemaran dan Perusakan Lingkungan Hidup Yang Berakibat Perbuatan Tindak Pidana Lingkungan ditinjau dari Undang-Undang Cipta Kerja Yofirsta, Rova; Danil, Elwi; Rembrandt, Rembrandt
Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 7 No. 6 (2025): Ranah Research : Journal Of Multidisciplinary Research and Development
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/rrj.v7i6.1894

Abstract

Indonesia, endowed with abundant natural resources, bears a constitutional obligation to ensure a healthy environment for all citizens as mandated by Article 28H of the 1945 Constitution. However, the ongoing environmental crisis—characterized by ecosystem degradation and the impacts of global warming—demands stronger legal instruments for the prevention and control of environmental pollution and destruction. Environmental law plays a crucial role in this regard, particularly through the Environmental Impact Assessment (AMDAL), which has historically served as a preventive planning tool and a primary prerequisite for business licensing. Significant changes have emerged following the enactment of Law No. 11 of 2020 on Job Creation, which shifts the licensing framework from a permit-based to a risk-based approach. This shift has downgraded the status of AMDAL from a primary requirement to a supplementary one, raising concerns about the weakening of its preventive function. Moreover, the perceived relaxation of environmental criminal sanctions under the new law has sparked questions about the state’s commitment to constitutional mandates for environmental protection. These concerns are further compounded by the conditional unconstitutionality status of the Job Creation Law, creating uncertainty regarding the effectiveness of environmental law enforcement. This study employs a normative-juridical approach to analyze the regulatory changes introduced by the Job Creation Law and its implementing regulation, Government Regulation No. 22 of 2021, in comparison with the previous framework under Law No. 32 of 2009 on Environmental Protection and Management. The focus lies on examining the urgency and effectiveness of AMDAL as an instrument for controlling environmental degradation and pollution, as well as its implications for potential environmental criminal acts under the new legal regime. The findings of this study are expected to provide a deeper understanding of the impact of legislative changes on environmental protection in Indonesia and to identify legal gaps that may exacerbate the environmental crisis. The study aims to inform policymakers in striking a balance between economic development and sustainable environmental protection.
Pembebanan Uang Pengganti kepada Saksi dalam Perkara Tindak Pidana Korupsi pada Pengadilan Negeri Padang (Studi Kasus Putusan No. 24/Pid.Sus-Tpk/2022/Pn.Pdg) Prihatin Ningsih, Chyntia; Danil, Elwi; Mulyati, Nani
Ranah Research : Journal of Multidisciplinary Research and Development Vol. 8 No. 1 (2025): Ranah Research : Journal Of Multidisciplinary Research and Development
Publisher : Dinasti Research

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/rrj.v8i1.1876

Abstract

Korupsi masih menjadi masalah yang merajalela di Indonesia, termasuk di sektor olahraga Kota Padang. Kasus No. 24/Pid.Sus-TPK/2022/PN.Pdg melibatkan Davitson dan Nazar, pejabat Komite Olahraga Nasional (KONI) Padang, yang dihukum dengan dakwaan subsidair berdasarkan Pasal 3 Undang-Undang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi. Pengadilan juga memerintahkan saksi Kennedi yang bukan terdakwa untuk membayar uang pengganti sebesar Rp144.248.826 atas keterlibatannya dalam kasus korupsi tersebut. Penelitian ini mengkaji penentuan pertanggungjawaban pidana dan dasar hukum untuk menjatuhkan pertanggungjawaban finansial kepada seorang saksi. Dengan menggunakan pendekatan hukum empiris dengan tinjauan pustaka dan wawancara, temuan penelitian menunjukkan bahwa kedua terdakwa dijatuhi hukuman 1,5 tahun penjara dan denda, sementara beban finansial yang ditanggung Kennedi semata-mata didasarkan pada peran proseduralnya. Penelitian ini merekomendasikan agar jaksa lebih berhati-hati dalam mengidentifikasi penerima manfaat sebenarnya dari korupsi untuk memastikan hasil hukum yang adil dan akuntabel. Kata Kunci: Tanggung Jawab, Pembebanan Uang Pengganti,Tindak Pidana Korupsi
PENERAPAN PRINSIP MENGENALI PENGGUNA JASA OLEH NOTARIS DALAM PENCEGAHAN DAN PEMBERANTASAN TINDAK PIDANA PENCUCIAN UANG Ridho Ilham, Ridho; Danil, Elwi; ., Yoserwan
UNES Journal of Swara Justisia Vol 3 No 4 (2020): Unes Journal of Swara Justisia (Januari 2020)
Publisher : Program Magister Ilmu Hukum Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Dilibatkannya notaris sebagai pihak pelapor dalam pencegahan dan pemberantasa tindak pidana pencucian uang memunculkan dilema, notaris diberi kewajiban baru untuk menerapakan prinsip mengenali pengguna jasa dan melaporkan setiap transaksi yang dinalai mencurigakan kepada Pusat Pelaporan Analisis Transaksi Keuangan. Dalam ketentuan rahasia jabatan notaris Pasal 16 ayat (1) huruf f Undang-Undang Nomor 2 Tahun 2014 tentang Jabatan Notaris yang menyatakan bahwa notaris dalam menjalankan jabatannya wajib untuk merahasiakan segala sesuatu mengenai akta yang dibuatnya dan segala keterangan yang diperoleh guna pembuatan akta sesuai dengan sumpah/janji jabatan, kecuali Undang-Undang menentukan lain. Dalam Pasal tersebut jelas-jelas berbunyi hanya Undang-Undang yang bisa membuka jabatan notaris. Sedangkan jabatan notaris dimasukkan sebagai pihak pelapor dalam pencegahan dan pemberantasan tindak pencucian uang diatur melalui peraturan pemerintah Nomor 43 Tahun 2015 tentang pihak pelapor dalam tindak pencegahan dan pemberantasan tindak pencucian uang.
EKSISTENSI PERBUATAN MELAWAN HUKUM SECARA MATERIIL (MATERIELE WEDERRECHTELIJKHEID) DALAM ARTI NEGATIF TERHADAP TINDAK PIDANA KORUPSI Nadilla, Indah; Danil, Elwi; Yoserwan, Yoserwan
UNES Journal of Swara Justisia Vol 7 No 1 (2023): Unes Journal of Swara Justisia (April 2023)
Publisher : Program Magister Ilmu Hukum Universitas Ekasakti

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31933/ujsj.v7i1.319

Abstract

Korupsi merupakan kejahatan luar biasa (extra ordinary crime) yang memerlukan perhatian khusus di Indonesia. Korupsi tidak hanya merugikan kekayaan dan keuangan negara, namun korupsi juga menghilangkan legitimasi penegakan hukum dengan menghancurkan kepercayaan masyarakat terhadap hukum. Dalam upaya penegakan hukum terhadap pemberantasan tindak pidana korupsi diperlukannya kepastian hukum agar Hakim dapat malahirkan putusan yang adil dan bermanfaat bagi masyarakat. Namun terjadi persoalan terkait penafsiran hukum terhadap Pasal 2 ayat (1) Undang-Undang Nomor 31 Tahun 1999 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi sebagaimana diubah dengan Undang-Undang Nomor 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi (selanjutnya disebut UU PTPK) khususnya pada bagian penjelasan pasal mengenai perbuatan melawan hukum materiil (Materiele Wederrechtelijkheid). Persoalan ini lahir akibat judicial review ke Mahkamah Konstitusi dengan Nomor Putusan 003/PUU-VI/2006. Maka untuk Menjawab persoalan tersebut, perlu diketahui bagaimana pengaturan dan penafsiran serta eksistensi perbuatan melawan hukum materiil (materiele wederrechtelijkheid) dalam arti negatif terhadap tindak pidana korupsi. Metode Penelitian yang digunakan adalah penelitian normatif yang bersifat deskriptif. Hasil penelitian mengungkapkan bahwa Perbuatan melawan hukum materiil dalam arti positif akibat lahirnya putusan Mahkamah Konstitusi dianggap bertentangan dengan Pasal 28 D Undang-Undang Dasar Tahun 1945, sehingga hanya perbuatan melawan hukum materiil dalam fungsi negatif saja yang masih berlaku. Kemudian dalam pengejawantahan delik tersebut, hakim haruslah melakukan penafsiran hukum yang ideal guna terciptanya kepastian hukum terhadap Pasal 2 ayat (1) UU PTPK tersebut.
Sanksi Pidana Bagi Pejabat yang Menyalahgunakan Wewenang dalam Pemberian Izin Pertambangan Dafit Riadi; Ismansyah; Elwi Danil
Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik Vol. 5 No. 2 (2025): (JIHHP) Jurnal Ilmu Hukum, Humaniora dan Politik
Publisher : Dinasti Review Publisher

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.38035/jihhp.v5i2.3181

Abstract

Sejak era Otonomi Daerah, pemberian izin Usaha Pertambangan menjadi tidak terkendali karena daerah berlomba-lomba mengeluarkan izin guna peningkatan Pendapatan Asli Daerah. Pemberian izin pertambangan oleh pejabat didaerah juga seringkali dilakukan dengan melawan hukum antara lain nepotisme, suap, gratifikasi dan sebagainya. Penghapusan pasal 165 UU Nomor 4 tahun 2009 mengenai sanksi pidana bagi pejabat yang menyalahgunakan wewenang untuk memberi  izin  usaha Pertambangan  Khusus  (IUPK),  Izin  Usaha Pertambangan (IUP) dan Izin Pertambangan Rakyat (IPR) dalam Undang-undang nomor 3 tahun 2020 tentang Pertambangan Mineral dan Batubara menjadi polemik karena tidak ada  sanksi  pidana  bagi  pejabat  yang  menyalahgunakan  izin  pertambangan tersebut. Namun demikian, aparat penegak hukum dapat menerapkan ketentuan pidana korupsi terhadap penyalahgunaan izin pertambangan bila ditemukan perbuatan melawan hukum.  Ketentuan dalam UU tindak pidana korupsi yang mengatur suap dan gratifikasi adalah pada Pasal 12B Undang-undang Nomor: 20 Tahun 2001 tentang Pemberantasan Tindak Pidana Korupsi.
Pengaturan Hukum Pidana Adat dalam KUHP Baru dari Perspektif Asas Legalitas Chandra, Yonatan Iskandar; Danil, Elwi; Zurnetti, Aria
Nagari Law Review Vol 7 No 1 (2023): Nagari Law Review
Publisher : Faculty of Law, Andalas University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/nalrev.v.7.i.1.p.93-106.2023

Abstract

The discussion on Adat Criminal Law has returned to attention after promulgating the National Criminal Code. This is because the provisions regarding Adat Criminal Law are unknown and are not contained in the Criminal Code, which was previously in effect in Indonesia. The regulation of Adat Criminal Law in the form of positive law resulted in a change in the form of Adat Criminal Law itself, which was previously unwritten law to become written law. The change in form is also related to the Legality Principle, which is still maintained in the National Criminal Code. Based on this, it can be stated that the formulation of the problem in this study: (1) How is the concept of Adat criminal law regulation in the National Criminal Code? (2) What is the relationship between the nature of the Adat Criminal Law as unwritten law and its provisions in the National Criminal Code?; and (3) How is the regulation of Adat Criminal Law in the National Criminal Code according to the perspective of the Legality Principle? The method used in this research is normative legal research with statutory and conceptual approaches. The nature of the exploratory research uses primary, secondary, and tertiary legal sources. Based on the results of the study, it can be concluded that regulations regarding Adat Criminal Law in the National Criminal Code are as stipulated in Article 2 of the National Criminal Code, where Adat Crimes are laws that live in society in the form of unwritten law, and are still valid and developing in people's lives in Indonesia. However, the regulation of Adat Criminal Law in the National Criminal Code will cause problems when viewed from the perspective of the Legality Principle. The formulation that the Adat Criminal Law should be legalized through local law contradicts the essence of Adat Law itself and is the legality principle.
Co-Authors A. Irzal Rias Ade Candra, Ade Adrian Bima Putra Aldyans Rio Pratra Anak Agung Gede Sugianthara Angga Pratama Angga Pratama Aria Zurnetti, Aria Ayu Efritadewi Azmi Fendri Bagas, Alkautsar Chandra, Yonatan Iskandar Dafit Riadi Dafit Riadi Dharma Yuda Putra Edi Yunara Edita Elda Ekaputra, Mohammad Elda, Edita Elvia Puspita Siregar Fadillah Sabri Fadillah Sabri Fortuna, Lovely Gaol, Suryadinata LBN Hendri Joni Hengki Andora Ikhwan, Indah Indah Ikhwan Indah Nadilla Irsal Habibi Irwandi Syahputra, Irwandi Ismansyah Ismansyah Ismansyah Ismansyah Iwan Kurniawan Iwan Kurniawan Jenny Susmita Susilo Joni, Hendri Kamila Hesti Khairani Khairani Khairani Khairani Khairun Nissa, Zakiyah Kurniati, Dea Eling LBN Gaol, Suryadinata Lovely Fortuna Mahmud Mulyadi Muhammad Hasbi Muthia Anggela Mawadhaty Putry Mutya, Sherly Nadilla, Indah Nani Mulyati Nazif Firdaus Neneng Oktarina Nursafitri, Kharisma Oksep Adhayanto Oktarina, Neneng Partynia Nur Imantya Pengki Sumardi Pradana, Rido Prihatin Ningsih, Chyntia Puspita Siregar, Elvia Putra, Adrian Bima Putra, Vananda Putry, Muthia Anggela Mawadhaty Rafifa, Dhiyaul Okasha Rahma Noviyanti Rembrandt, Rembrandt Rias, A. Irzal Ridho Ilham, Ridho Ridho Ridho Ilham Rina Melati Sitompul Rina Rusman Rina Rusman Robensyah, Andes Rosmalinda, Rosmalinda Saibih, Junaedi Sarah Qurrata A’yun Sayutis, Sayutis Sherly Mutya Shinta Agustina Sipayung, Ronald Fredy Christian Siska Elvandari Sofyan, Syofirman Stella Dea Firsty Sukmareni Sukmareni, Sukmareni Suryadinata LBN Gaol Suryadinata LBN Gaol Susmita Susilo, Jenny Syofiarti Syofirman Sofyan Topo Santoso Topo Santoso Vananda Putra Wetria Fauzi Yasniwati, Yasniwati Yofirsta, Rova Yohanes Yohanes Yohanes Yohanes Yonatan Iskandar Chandra Yoserwan Yoserwan Yoserwan Yoserwan, Yoserwan Yuslim Yuslim Zainul Daulay Zakaria, Iqbal