Claim Missing Document
Check
Articles

Application of Zeolite-KMnO4 and Silica Gel to Extend Green Life of Manggo Arumanis (Mangifera indica L) Anita Khairunnisa; Emmy Darmawati; Siti Mariana Widayanti
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 9 No. 3 (2021): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.09.3.135-142

Abstract

Mangoes are harvested when ripe have an "eating quality" that consumers are them in, but quickly reach the senescence phase, making it less profitable for businesses. As a climacteric fruit, the ripening process of mango can be slowed down by using an ethylene adsorber. This study aims to determine the combination of zeolite-KMnO4 and silica gel as ethylene adsorber (EAB) to maintain the green life of ripe The material used is ethylene adsorber (EAB) which is applied to mango arumanis which is packaged with a weight package of 1000±50 g. After the shelf life is reached, the EAB is removed from the packaging and the mangoes are left at room temperature for natural ripening and continued until conditions are not acceptable to consumers. The results showed that the EAB application was able to maintain the green life of mangoes by the scenario of the shelf life both at cold and room temperature storage. Natural ripening of mango was achieved 5 days and 2 days after EAB was removed from the packaging, for cold and room temperature storage, respectively. The length of time until the panellists did not receive it was 20 days for cold storage and 12 days for the room, while the control for cold storage was 6 and 3 days at room temperature
Nilai Tambah pada Tindakan Pascapanen Curing, Pengeringan Askip dan Penyimpanan Bawang Merah Tingkat Petani (Studi Kasus Kabupaten Cirebon) (Added Value of Curing Treatment, Askip Drying, and Postharvest of Shallot in Farmers) Sazli Tutur Risyahadi; Emmy Darmawati; Y Aris Purwanto
Jurnal Sains Terapan : Wahana Informasi dan Alih Teknologi Pertanian Vol. 4 No. 2 (2014): Jurnal Sains Terapan, Volume 4, Nomor 2, Tahun 2014
Publisher : IPB University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2547.411 KB) | DOI: 10.29244/jstsv.4.2.57-67

Abstract

Added value of curing treatment, askip drying and storing are used for knowing the benefit of shallot postharvest process. Postharvest technique of shallot makes longer shelflife but adds cost. The method adopted in the study relied on informal interview with key informants and a number of participants at different stages of postharvest chain including the producers of shallot. Data was calculated by Hayami method. The results of the study showed that curing process has losses up to 20% and margin at Rp 1.050. The storage of shallot showed different margin between conventional and cold storage. There is higher margin of cold storage than conventional. Loss at cold-storage is only 15%for 2 months. Cold-storage margin is Rp 4.025 per kg, higher than the conventional one, which is only Rp 725 per kg.Keywords : added value analysis, Hayami method, postharvest of shallot
Kinerja Rantai Pasok, Dinamika, dan Pembentukan Harga Beras di Jawa Tengah nFN Saptana; Erma Suryani; Emmy Darmawati
Analisis Kebijakan Pertanian Vol 17, No 1 (2019): Analisis Kebijakan Pertanian
Publisher : Pusat Sosial Ekonomi dan Kebijakan Pertanian

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (443.557 KB) | DOI: 10.21082/akp.v17n1.2019.39-58

Abstract

Rice supply chain from producers to consumers in Central Java Province is relatively extensive and it affects rice price establishment. This study aimed to assess rice production performance, dried paddy (GKG) conversion rate into rice, rice supply chain, dynamics of rice prices among seasons and markets, and rice price establishment. This research was conducted in 2018 in rice producing centers in Central Java, namely Sragen, Klaten and Demak Regencies. This province had a rice production surplus and it was marketed mostly to West Java and Jakarta provinces. Conversion rate from paddy to rice varies between 60-65% or an average of 62.74% depending on varieties grown, drying process, and harvesting machine condition. In general, there are six to seven actors in the rice supply chain. During the main harvest in rainy season, paddy and rice prices usually dropped due to abundant supply. However, during the harvest in rain season in 2017/2018, paddy and rice prices remained high. This case indicated that paddy and rice prices establishment were more determined by supply side. It can be concluded that shorten the rice supply chain will increase paddy price at farm level and reduce rice price at consumer level. To shorten the rice supply chain effectively, it is recommended that rice milling process to be done at the milling industry. AbstrakRantai pasok beras di Jawa Tengah dari tingkat produsen hingga konsumen masih cukup panjang. Kondisi ini berpengaruh pada pembentukan harga beras. Tujuan penelitian adalah untuk mengkaji kinerja produksi padi, besaran rendemen gabah kering giling (GKG) menjadi beras, kinerja rantai pasok gabah dan beras, dinamika harga beras antar musim dan pasar, dan pembentukan harga beras pada setiap tingkatan pelaku rantai pasok beras. Penelitian dilakukan tahun 2018 di lokasi sentra produksi padi Provinsi Jawa Tengah yaitu Kabupaten Sragen, Klaten, dan Demak. Hasil kajian menunjukkan provinsi ini menghasilkan surplus beras yang dipasarkan terutama ke Jawa Barat dan Jakarta. Tingkat rendemen GKG menjadi beras bervariasi antara 60-65% atau rata-rata 62,74% tergantung varietas, proses pengeringan, dan kondisi mesin panen. Rantai pasok beras cukup panjang, sebanyak enam sampai tujuh pelaku. Sesuai pola yang umum dikenal, pada musim panen raya pada musim hujan (MH) harga gabah dan beras turun, namun pada musim panen raya MH 2017/2018 harga pangan ini tetap tinggi. Hal ini disebabkan pembentukan harga gabah dan beras lebih ditentukan oleh aspek pasokan dibandingkan aspek permintaan. Dari hasil penelitian ini disimpulkan pemangkasan rantai pasok gabah dan beras dari petani produsen ke konsumen dapat meningkatkan harga gabah di tingkat petani dan menurunkan harga beras di tingkat konsumen. Agar upaya pemotongan rantai pasok berjalan efektif, maka penggilingan gabah menjadi beras sebaiknya dilakukan di industri penggilingan padi.
Model Distribusi Hasil Pertanian Yang Berdampak Pada Perbaikan Kualitas Lingkungan Emmy Darmawati
JURNAL PANGAN Vol. 20 No. 2 (2011): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v20i2.37

Abstract

Sampah pasar tidak saja berasal dari mata rantai distribusi tetapi juga dari jumlah pasokan yang berlebih. Perbaikan pada sistem distribusi hasil pertanian khususnya hortikultura menjadi satu solusi yang efektif dan efisien terhadap penanggulangan sampah kota. Penelitian dilakukan dengan tujuan mengkaji sistem distribusi komoditas hortikultura dan membuat model sistem distribusi yang mampu mengurangi pasokan sampah ke pusat-pusat distribusi yang umumnya berlokasi di kota. Hasil pengamatan di lapang menunjukkan bahwa sistem distribusi komoditas hortikultura pada umumnya masih menghasilkan sampah cukup besar. Tujuh puluh delapan persen komoditas sayuran di Jabotabek didistribusikan dengan cara tersebut dan sampah yang dihasilkan mencapai 60 persen dari volume pasokan. Berdasarkan tingkat kegiatan pascapanen yang dilakukan, sistem distribusi dimodelkan dalam bentuk perwilayahan (zona) dimana dalam setiap zona diberlakukan aturan kegiatan pasca panen. Ada dua zona yang dibuat yaitu zona podusen dan zona konsumen (pasar kota, pasar induk, dan terminal agribisnis). Dengan model tersebut diharapkan sampah pasar berkurang sampai 40 persen untuk sayuran daun dan 20 persen untuk sayuran umbi. Untuk mendukung penerapan model distribusi yang diusulkan, pada penelitian ini dibangun prototipe sistem berbasis web yang secara real time menginformasikan permintaan dan penawaran atas suatu komoditas sehingga diharapkan dapat memperkecil peluang dalam menghasilkan sampah pasar.Market waste comes not only from the distribution chain but also from the amount of excess supply. Therefore improvements in the distribution system of horticultural product may be one solution that can effectively reduce city waste. This research is conducted to study the supply-chain system of horticultural commodities that is capable of reducing the supply of waste to the distribution centers which are generally located in the city. The results of observation show that horticultural commodity distribution system still generates considerable amount of waste in the market. 78 percent of vegetable in Jabotabek are distributed in such manner in which the waste reaches 60 percent of the volume. Based on the level of post-harvest activities, the distribution system is modeled in the form of zoning system where in every zone the rules of post-harvest activities are applied. There are two zones, namely the zone of producers (farmers, collectors) and the zone of consumers (market town, the main markets, and agribusiness terminal). With this model it is expected that waste market will decrease up to 40 percent for leafy vegetables and 20 percent for tuber vegetables. By utilizing the information system it is expected that the supply matches with the demand, so that it will reduce the chance of producing waste. 
Model Perkiraan Kebutuhan Pasokan Beras untuk Program Raskin (Studi Kasus pada Perum BULOG Subdivisi Regional Cianjur) Models to EstimateRice SupplyNeededfor Raskin (Case Study at Perum BULOG ofRegional Subdivision Cianjur) Ria Sartika; Emmy Darmawati; Ridwan Rachmat
JURNAL PANGAN Vol. 23 No. 3 (2014): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v23i3.66

Abstract

Permintaan distribusi beras yang tidak beraturan dan tidak dapat diprediksi menjadi unsur ketidakpastian pada rantai pasokan beras untuk Program Raskin. Hal ini menyebabkan beberapa wilayah kerja BULOG tidak dapat menentukan kebutuhan pasokan secara pasti di setiap bulannya, salah satunya adalah Subdivre Cianjur. Tujuan penelitian ini adalah membuat perkiraan kebutuhan pasokan pada kondisi ketidakpastian permintaan distribusi menggunakan pendekatan metode simulasi Monte Carlo. Hasil simulasi membuktikanbahwa semakin terlambat waktu dalam penerbitan SPA Raskin Kabupaten/Kota dan semakin besar jumlah tunggakan dalam pembayaran HP-Raskin cenderung akan meningkatkan ketidakpastian penyediaan dan semakin besar jumlah pasokan. Kondisi ketidakpastian permintaan distribusi terendah membutuhkan pasokan minimal sebesar 194.308 ton per tahun, sedangkan kondisi ketidakpastian permintaan distribusi tertinggi membutuhkan pasokan sebesar 319.025 ton per tahun atau sebesar 1,6 kali dari rencana Pagu Raskin Kabupaten/Kota tahun 2012.Demand distribution ofrice for Raskin Program is irregularand unpredictable and it causes uncertainty to rice supply chain for Raskin Program. This obstacle make some BULOG regional areas cannot determine the adequate amount of rice to meet the distribution need every month. One of this area is Subdivre Cianjur. This research is aimed to estimate rice supply need under the uncertainty demand condition using Monte Carlo simulation. Simulation results prove that the late time of the issuance of SPA Raskin and the greater the amount ofpayment arrears of the HP-Raskin tend to increase the amount of rice supply needs. Estimated minimum supply is 194.308 tons per year, while the amount of stock required is 319.025 tons per year, or 1,6 times the plan of Pagu Raskin in 2012 that is needed to anticipate uncertainty at rice supply chain for Raskin Program. 
Screening Varietas Padi Lokal Kalimantan Tengah Terhadap Serangan Sitophilus oryzae selama Penyimpanan (Screening of Local Rice Varieties from Central Kalimantan to Sitophilus oryzae Attack During Storage) Elmi Kamsiati; Emmy Darmawati; Yadi Haryadi
JURNAL PANGAN Vol. 22 No. 2 (2013): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v22i2.82

Abstract

Beras merupakan komoditas penting, karena merupakan makanan pokok sebagian besar penduduk Indonesia termasuk di propinsi Kalimantan Tengah. Selama penyimpanan, beras dapat rusak, baik karena pengaruh lingkungan maupun serangan hama pascapanen. Sitophilus oryzae merupakan serangga hama pascapanen yang banyak menyerang beras selama penyimpanan, menyebabkan susut bobot dan kualitas. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menyeleksi resistensi dari beberapa varietas beras lokal Kalimantan Tengah. Delapan varietas beras diuji terhadap serangan S.oryzae. Hasil dari penelitian ini menunjukkan bahwa indeks perkembangan yang paling rendah terdapat pada varietas Siam Jurut, diikuti oleh Siam Palun, Siam Palas dan Bayar Pahit yang menjadi varietas resisten. Siam Unus memiliki nilai indeks perkembangan yang medium. Sedangkan varietas Rantul, Siam Pandak dan Karang Dukuh memiliki indeks perkembangan yang tinggi. Setelah penyimpanan, kelompok resisten mimiliki persentase susut bobot dan biji berlubang yang rendah dibanding kelompok yang rentan.Rice is an important commodity as it is the staple food of most of the Indonesian people, including in the regions of Central Kalimantan. During storage, the rice can be damaged due to environmental factors as well as postharvest pest. Sitophilus oryzae is postharvest insect pest that attacks rice during storage causing quantity and quality losses. The objective of this research is to screen resistance of several local rice varieties of Central Kalimantan. Eight rice varieties were tested against S.oryzae. The result of this research shows that the lowest index of susceptibility was Siam jurut, followed by Siam palun, Siam palas, and Bayar Pahit which were resistant varieties. Siam unus had a medium index of susceptibility. Rantul, Siam pandak and Karang dukuh had a high index of susceptibility. After storage, the resistant group had lower quantity losses, lower amount of damaged grains, and lower moisture contents than those classified in the susceptible group. 
Upaya Mengurangi Tingkat Kerusakan Buncis Pada Proses Transportasi Emmy Darmawati
JURNAL PANGAN Vol. 19 No. 3 (2010): PANGAN
Publisher : Perum BULOG

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.33964/jp.v19i3.149

Abstract

Sumber pangan selain padi adalah sayuran. Buncis merupakan sayuran yang banyak dikonsumsi untuk pemenuhan gizi masyarakat. Produk segarnya mudah rusak pada proses transportasi, sehingga diperlukan penanganan yang tepat dalam transportasi dan pasca transportasi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh jenis kemasan terhadap mutu buncis setelah dilakukan transportasi. Selama transportasi, buncis dikemas dengan dua cara yaitu kemasan curah (bulk) dan retail (eceran) dari asal produsen. Untuk cara curah (bulk) pada saat sampai ke konsumen dikemas ulang dalam bentuk kemasan retail. Hasil penelitian menunjukkan bahwa secara kualitas dan kuantitas, kemasan yang cocok untuk transportasi buncis segar adalah kemasan retail (kombinasi kemasan styrofoam + keranjang). Secara ekonomis, kemasan curah (keranjang dan kantong plastik) masih mungkin digunakan untuk transportasi jarak dekat, sedangkan untuk transportasi jarak jauh akan lebih menguntungkan apabila langsung menggunakan kemasan retail. Berdasarkan analisa biaya, pada tingkat harga jual buncis Rp 2.500/kg introduksi kemasan yang layak diterapkan adalah kemasan PE + keranjang. Sedangkan untuk kemasan keranjang, plastik dan kombinasi styrofoam + plastik film dengan keranjang akan layak diterapkan pada tingkat mulai dari harga jual Rp 4.900/kg.Green bean is type of vegetable that is consumed much to a accomplish community nutrition. Green beans are fresh products that can be easily damaged during transportation process, thus need proper handling during and post transportation. The objective of this study was to determine the influence of packaging types to the quality of the fresh beans after transportation. During the transportation from the original sources, the beans were packeged in two forms: bulky and retail packaging. In the bulky form, the beans were subsequently package in the form of retail packaging and directly displayed to end user. The results shown that in term of quality and quantity, suitable packaging for transport of the fresh green beans were in retail form (a combination of styrofoam packaging + plastic container). In the economic point of few, bulky form (plastic container and plastic bags). could be considered to be continually used for short-distance transport. But, for long-distance transport it would be more advantageous when the beans were packed in the retail form. On the basis of cost-benefit analysis, on the selling price beans of 2.500 IDR (Indonesian Rupiah)/kg, suitable packaging was the combination of PE + plastic container. While plastic container, plastic bag, and combination of styrofoam + plastic film would be reasonably apply when the level of the salling price was 4.900 IDR/kg. 
Analisis Keekonomian Pengoperasian Alat Perontok untuk Kedelai (Studi Kasus : Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka) Novi Dewi Sartika; Sutrisno Sutrisno; Emmy Darmawati
Jurnal Bisnis Tani Vol 3, No 2 (2017): Jurnal Bisnis Tani Desember 2017
Publisher : Universitas Teuku Umar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (195.87 KB) | DOI: 10.35308/jbt.v3i2.444

Abstract

Majalengka is one of the regency that had been implemented the multipurpose threshers for soybean. The multipurpose thresher related with business sustainability in the region, so an economic analysis need to be done. The objective of this study was to assess the economics of multipurpose threshers in order to improve postharvest activity by using this multipurpose thresher. This research was conducted by operating two type of multipurpose threshers in the Sindang Kasih village as main soybean seed producing center. Thresher testing was done by setting the rotary cylinders speed on 515-570 rpm and 580-650 rpm. Weight losses of threshing operation was found 0.68-3.1%. The results of analysis for main operational cost was Rp. 327 - Rp. 369/kg, and BEP was reached at 15.7-19.2 ha/year that equal with 23,562 – 28,852 kg of soybean seeds/year or Rp. 9,604,100 - Rp. 11,540,649/year. The equipment rent cost of Rp. 400/kg was feasible with NPV Rp. 1,997,037 - Rp. 6,523,947, IRR 19.63-32.42% and net B/C of 1.11-1.43. An availability of soybean to be threshed was found during two periods of planting, namely 40 ha on February until April and 10 ha on June until August.
Evaluating the Sustainability Utilization of Post-Harvest Coffee Agricultural Equipment and Machines Yusi Dwi Setyoningtyas; Emmy Darmawati; Sutrisno Mardjan
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 10 No. 2 (2022): Agustus 2022
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.010.2.162-171

Abstract

Kopi sebagai penyumbang devisa terbesar keempat Indonesia dan produksinya didominasi perkebunan rakyat dengan pengelolaan yang terbatas. Untuk mendukung hilirisasi kopi lokal maka Direktorat Jenderal Perkebunan mengembangkan peralatan pascapanen kopi melalui bantuan alat dan mesin (alsintan) pascapanen dan pengolahan kopi. Sehingga evaluasi pemanfaatan alsintan terhadap keberlanjutan perlu dilakukan untuk mendukung kebijakan pembangunan industri prioritas kopi. Tujuan penelitian ini adalah mengevaluasi keberlanjutan pemanfaatan bantuan alsintan pascapanen kopi bantuan pemerintah periode tahun 2017-2020. Penelitian ini menggunakan metodologi survei melalui pendekatan expert systemdengan teknik analisis yakni: Data Envelopment Anaysis (DEA) dan Analitycal Hierarchical Process (AHP). Penelitian ini menunjukkan bahwa status keberlanjutan pemanfaatan alat dan mesin pertanian pascapanen kopi semua poktan masuk dalam kategori baik pada aspek ekonomi dan teknologi. Sedangkan rekomendasi strategi peningkatan pemanfaatan alsintan pascapanen kopi sesuai alternatif yang diprioritaskan adalah bahan baku dengan stakeholder yang berperan yaitu poktan.
Retail Packaging Design For Avocado Fruits Labeled Ripe Indicator Novita Sari; Emmy Darmawati; Usman Ahmad
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 10 No. 3 (2022): Desember 2022
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.010.3.291-304

Abstract

Kematangan buah alpukat tidak mudah diketahui karena tidak ditandai dengan perubahan warna. Konsumen umumnya menekan buah untuk memastikan tingkat kematangannya, oleh karena itu diperlukan label indikator kematangan agar buah tidak rusak karena sering ditekan. Tujuan dari penelitian ini adalah merancang kemasan ritel alpukat yang dilengkapi dengan label indikator kematangan buah. Penelitian dilakukan dengan tahapan pembuatan matrik indikator warna berbahan KMnO4 dan Molibdat, pemilihan kemasan retail, aplikasi label indikator pada kemasan dan penyimpanan pada suhu ruang (T1) dan suhu rendah (T2). Pada kemasan diberi perforasi (P1) dan tanpa perforasi (P2). Paremeter yang diukur adalah laju respirasi, warna label indikator, kekerasan dan TPT (Total Padatan Terlarut). Kemasan didesain untuk dua buah alpukat dengan berat 0,5 kg perkemasan. Bahan kemasan dari plastik mika berukuran 14 x 9 x 6 cm, diberi perforasi sebanyak 4 buah berdiameter 0,8 mm. Volume kemasan 756 ml dan volume buah rata-rata 553,18 ml. Label indikator berukuran 2 x 1 cm diletakkan dibagian dalam tutup kemasan. Etilen yang dihasilkan oleh alpukat dapat merubah warna label indikator pada kemasan. Perforasi kemasan membuat perubahan warna label indikator lebih terlihat. Pada kemasan tanpa perforasi terdapat uap air yang tertahan di label indikator membuat label basah dan robek. Perubahan nilai oHue label indikator lebih berkolerasi atau memiliki hubungan dengan perubahan kekerasan (r = -0,42) dibanding nilai TPT (r = 0,071). Pada suhu penyimpanan rendah (13±2°C), korelasi nilai oHue dengan kekerasan sangat rendah r = 0,059). Dari hasil tersebut disarankan aplikasi label indikator kematangan buah alpukat sebaiknya digunakan pada penyimpanan suhu ruang dengan kemasan yang diberi perforasi.
Co-Authors . Sutrisno Adinda Putri Ayu Hakim Adya Nurkusumaprama Agus Supriatna Somantri Alifah Maulidiyah Amarilia Harsanti Dameswari Andi Ani Kuswati Andriani Lubis Anita Khairunnisa Aris Purwanto Aulia Indri Shacrudin Bambang Pramudya Dede Risanda Desi Idayanti Dini Nur Hakiki Dyah Ayu Agustiningrum Dyah Wulandani Eko Heri Purwanto Elena, Nadia Elmi Kamsiati Elmi Kamsiati Enrico Syaefullah Erma Suryani Florensius Labat Bionille Hadi Yusuf Faturochman Harli Prawaningrum Heldiyanti, Rina Herdiana, Mega I Wayan Astika I Wayan Budiastra Ihsan, Ghazian Satya Indah Yuliasih Iriani, Evi Savitri Ismaya, Pandu Legawa Iswahyudi Iswahyudi Jamaludin Jamaludin Ken Sutrisno Laras Putri Wigati Laras Putri Wigati Lilik Pujantoro Eko Nugroho Machfud Marimin , Maulidiyah, Alifah Meika Wahyuni Azrita Meity Suradji Sinaga Mila Anisya Rahmi Mila Siti Amalia Mohammad Iqwal Tawakal Nabila Putri, Ivanka Nafilawati wa ode Nelwan, Leopold Oscar nFN Saptana nFN Sutrisno Ni Luh Yulianti Nisa, Khaerun Nofa Andriastuti Dewi Hartono Novia Nava Novita Sari Nugraha Edhi Suyatma Nur Rahma Refilia Nurmala, Rike Nurul Khumaida Paluseri, Fachira Ulfah Rafika Ratik Srimurni Rahmaniar, Chairunnisa Ranti - Ranti Ria Sartika Ridwan Rachmat Rika Permata Sari, Putri Rokhani Rokhani Hasbullah Samang, Andi Marlisa Bossa Samsudin Samsudin Sartika, Novi Dewi Sartika, Ria Sasmito, Dewi Pratiwi Sazli Tutur Risyahadi SEDARNAWATI YASNI Setyadjit Setyadjit Setyadjit, Setyadjit Siti Mariana Widayanti Siti Mariana Widayanti Siti Mariana Widayanti Siti Mariana Widayanti Sugiarto Sutrisno SUTRISNO Sutrisno . Sutrisno . Sutrisno . Sutrisno . Sutrisno Mardjan Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno, Sutrisno Syahputra, Sufri Yanto Syamsiar, Syamsiar Syamsul Bahri trialita aprilia lita Tya Lestari Ueno Hideto Ulya, Kamila Nikmatul Usman Ahmad Widayanti, Siti Mariana Wulansetiasari, Rizky Yadi Haryadi Yadi Haryadi, Yadi Yandri Iskandar Pah Yenny Muliani Yo Toma Yusi Dwi Setyoningtyas Zulkarnain ‪Irna Dwi Destiana