Claim Missing Document
Check
Articles

Optimasi Konsentrasi Pelilinan dan Suhu Penyimpanan Buah Manggis dengan Menggunakan Metode Respon Surface Andriani Lubis; Emmy Darmawati; Sutrisno .
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 23 No. 2 (2009): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.023.2.%p

Abstract

Post-harvest handling is less precise cause of most of mangosteen can not be maintained quality afterharvest. This research is expected to give information a waxing combination and the optimum temperatureto maintain the quality of mangosteen. Response Surface Method (RSM) was used to create a mathematicalmodel of the influence of temperature and waxing concentration combined treatment. The experimentwas done using the CCD (Central Composite Design) with storage temperature treatment (X1) 6OC, 8OC,13OC, 18OC, 20OC and waxing concentration (X2) 4%, 5%, 7.5%, 10%, 11%. Quality response that wereobserved were the firmness and total soluble solid (TSS) value.The results showed that of the two qualityparameters, TSS is the best response for analysis using RSM with R2 values of 69.3% and lack of fit for0.093. Mathematical model influence of temperature and waxing TSS response is Y = 16.4600 - 0.9268X1- 0.0561X2 + ε. The model produce the plot surface shaped saddle point with optimum value at 18OCstorage temperature and wax concentration of 7.5%, meaning that in those circumstances the changes inTSS value is minimum during self life.Keywords: mangosteen,response surface method, waxing and storage temperatureDiterima: 26 Maret 2009; Disetujui: 28 Agustus 2009
Aplikasi Ice Gel pada Kemasan untuk Transportasi dan Penyimpanan Sementara Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) Adya Nurkusumaprama; Emmy Darmawati; Y. Aris Purwanto
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 2 No. 2 (2014): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.02.2.%p

Abstract

AbstractGenerally, oyster mushroom is distributed at 11.00 a.m. until 14.00 p.m. The temperature at that time is relatively hot so it can reduce oyster mushroom quality faster. One of method to maintain the oystermushroom quality is by decreasing the temperature when distributing the oyster mushroom. Ice gel is one of alternative cooling media that can be used in decreasing oyster mushroom temperature when the mushroom distributed. The ice gel needs is depends on temperature, mushroom weight in packaging and distribution time. The aim of this research is developing ice gel cooler packaging fortransportation an oyster mushroom temporary storage. Packaging is developed for 3 kg per package oyster mushroom transportation, with mushrom temperature is 15OC and distribution time is 2.5 hour by using styrofoam box. The research shows that hours by using Styrofoam box which has 37.5 in length, 27.5 in width, 27.5 in tall and 2.75 in thickness which containing 3 ice gel can make temperature condition in packaging box become 15OC for 2 hoursKeywords: oyster mushroom, packaging, ice gel.AbstrakDistribusi jamur tiram umumnya dilakukan pada pukul 11:00 hingga pukul 14:00. Suhu lingkungan pada rentang waktu tersebut cukup panas sehingga dapat mempercepat penurunan kualitas jamur tiram. Salahsatu cara untuk mempertahankan kualitas jamur tiram adalah dengan menurunkan suhu ketika jamur tiram ditransportasikan. Ice gel merupakan media dingin alternatif yang dapat digunakan untuk menurunkan suhu jamur tiram saat ditransportasikan. Kebutuhan ice gel ditentukan oleh suhu, berat jamur dalam kemasan dan lama transportasi yang ditetapkan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kemasan untuk dapat mengaplikasikan ice gel untuk transportasi dan penyimpanan sementara jamur tiram. Kemasan dirancang untuk transportasi jamur tiram dengan berat 3 kg perkemasan, suhu jamur 15OC dan lama transportasi 2.5 jam menggunakan kotak styrofoam. Hasil penelitian menunjukan bahwa styrofoam dengan dimensi 37.5 x 27.5 x 27.5 cm dan tebal dinding 2.75 cm yang diisi 3 buah ice gel mampu menghasilkan suhu jamur 15OC selama 2 jam.Kata Kunci: jamur tiram, kemasan, ice gel.Diterima: 10 Juni 2014; Disetujui: 11 September 2014
Perancangan Kemasan Transportasi Buah Jambu Air (Syzygium aqueum) cv Camplong Iswahyudi .; Emmy Darmawati; Sutrisno .
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 3 No. 1 (2015): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1085.519 KB) | DOI: 10.19028/jtep.03.1.%p

Abstract

AbstractJamboo cv Camplong was an exotic fruit from Sampang Indonesia which had high economic values. The quality of fresh Jamboo was greatly influenced by the types of packaging and ways of its transportation that affected its shelf life. The purpose of this research were designing a primary packaging and analyzing the quality of Jamboo cv Camplong after short transportation (from Sampang to Surabaya). Farmers usedconventional packaging with capacity of 8.4 kg/box (dimension 478 mm x 146 mm x 354 mm). Based on theoretical packaging design showed that the flute BC cardboard (capacity 4.5 kg/box, dimension 357 mm x217 mm x 216 mm) with partition flute A cardboard. In fact, there was needed modification of the dimension (342 mm x 210 mm x 200 mm) because of the fruits diameter (60-65 mm). This result did not change theefficiency usage of transportation space (91-95%) and compression strength of box can support (7 boxes/ stack). The result showed that the mechanical damage after transportation were 20.87% for conventionalpackaging (as control) and 7.70% for modification packaging design (packaging with partition).Keywords: Jamboo cv Camplong, packaging, transportation.AbstrakJambu air camplong merupakan salah satu buah lokal yang menjadi unggulan dan memiliki nilai ekonomi. Terdapat kerusakan buah yang cukup tinggi saat buah di transportasikan dari Sampang ke Surabaya dikarenakan cara kemasan dan penanganan (handling) yang kurang tepat. Pengemasan yang tepat serta transportasi yang baik menjadi titik kritis pascapanen buah untuk menjaga kesegaran buah saat didistribusikan hingga ke konsumen. Tujuan penelitian ini adalah merancang kemasan primer untuk transportasi buah jambu air camplong dan mengkaji kerusakan buah pasca transportasi. Secara teoritishasil rancangan kemasan menggunakan karton gelombang flute BC berkapasitas 4.5 kg per kemasan, mempunyai dimensi 357 mm x 217 mm x 216 mm dengan partisi antar buah berupa karton flute A. Dalampenerapanya dilakukan penyesuaian dimensi menjadi 342 mm x 210 mm x 200 mm karena buah yang didapat saat penelitian pada kisaran 60-65 mm, hasil ini tidak merubah efisiensi penggunaan ruang angkut(91-95%) dan kekuatan kemasan untuk menahan 7 susunan kemasan dalam transportasi. Sebagai kontrol digunakan kemasan karton dari petani dengan kapasitas 8.4 kg dimensi 478 mm x 146 mm x 354 mm.Kerusakan mekanis yang terjadi pasca transportasi adalah 20.87% untuk jambu pada kemasan kontrol (petani), dan 7.70% pada kemasan hasil rancangan bersekat.Kata Kunci: Jambu air Camplong, pengemasan, transportasi.Diterima: 18 Desember 2014 ; Disetujui: 17 Maret 2015
Operasi Mesin Perontok Multiguna untuk Kedelai Studi Kasus: Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka Novi Dewi Sartika; Sutrisno .; Emmy Darmawati
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 4 No. 1 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.04.1.%p

Abstract

AbstractThreshing is one of important postharvest handling of soybean. Use of threshers done to reduce weight losses and the quality losses with the right operation. So that, this study aims to determine the best drum cylinder speed of the threshing to reduce weight losses and quality losses. This research was conducted by operating two type of multipurpose threshers. Thresher testing was done by setting the drum cylinders speed on 515-570 rpm and 580-650 rpm. This research resulted weight losses was 3.33%, the split seeds was 2.9% and damage seeds was 2.57% on thresher A. The drum cylinders speed was significant on weight losses, split seeds and damage seeds. To get low weight and quality losses, so the drum cylinders speed was set on 515-570 rpm.AbstrakPerontokan merupakan salah satu penanganan pascapanen yang penting. Penggunaan mesinperontok pada kegiatan perontokan dilakukan untuk menekan susut bobot dan susut mutu dengan cara pengoperasian alat yang tepat. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan menentukan kecepatan putar terbaik dari silinder perontok untuk mengurangi susut tercecer (bobot) dan susut mutu. Penelitian dilakukan dengan mengoperasikan dua mesin perontok multiguna. Pengujian operasional mesin perontok dilakukan dengan mengatur kecepatan putar silinder perontok pada 515-570 rpm dan 580-650 rpm. Penelitian ini menghasilkan susut tercecer (bobot) mencapai 3.33%, biji belah mencapai 2.9% dan biji rusak 2.57% pada mesin perontok A. Kecepatan putar silinder berpengaruh nyata terhadap susut bobot, biji belah dan bijirusak kedelai. Untuk memperoleh susut bobot dan susut mutu yang rendah maka kecepatan putar silinder harus di-setting pada 515-570 rpm.
Operasionalisasi Mesin Perontok Multiguna untuk Kedelai Studi Kasus: Kecamatan Majalengka, Kabupaten Majalengka Novi Dewi Sartika; Sutrisno .; Emmy Darmawati
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 4 No. 1 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1607.567 KB) | DOI: 10.19028/jtep.04.1.%p

Abstract

AbstractThreshing is one of important postharvest handling of soybean. Use of threshers done to reduce weight losses and the quality losses with the right operation. So that, this study aims to determine the best drum cylinder speed of the threshing to reduce weight losses and quality losses. This research was conducted by operating two type of multipurpose threshers. Thresher testing was done by setting the drum cylindersspeed on 515-570 rpm and 580-650 rpm. This research resulted weight losses was 3.33%, the split seeds was 2.9% and damage seeds was 2.57% on thresher A. The drum cylinders speed was significant on weight losses, split seeds and damage seeds. To get low weight and quality losses, so the drum cylinders speed was set on 515-570 rpm.AbstrakPerontokan merupakan salah satu penanganan pascapanen yang penting. Penggunaan mesin perontok pada kegiatan perontokan dilakukan untuk menekan susut bobot dan susut mutu dengan cara pengoperasian alat yang tepat. Maka dari itu, penelitian ini bertujuan menentukan kecepatan putar terbaik dari silinder perontok untuk mengurangi susut tercecer (bobot) dan susut mutu. Penelitian dilakukan dengan mengoperasikan dua mesin perontok multiguna. Pengujian operasional mesin perontok dilakukan dengan mengatur kecepatan putar silinder perontok pada 515-570 rpm dan 580-650 rpm. Penelitian ini menghasilkan susut tercecer (bobot) mencapai 3.33%, biji belah mencapai 2.9% dan biji rusak 2.57% pada mesin perontok A. Kecepatan putar silinder berpengaruh nyata terhadap susut bobot, biji belah dan bijirusak kedelai. Untuk memperoleh susut bobot dan susut mutu yang rendah maka kecepatan putar silinder harus di-setting pada 515-570 rpm.
Pengaruh Beberapa Kemasan Plastik Terhadap Kualitas Benih Kedelai Selama Penyimpanan Irna Dwi Destiana; Emmy Darmawati; Lilik Pujantoro Eko Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 4 No. 1 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1709.077 KB) | DOI: 10.19028/jtep.04.1.%p

Abstract

AbstractSoybean seed var. Argomulyo has been processed and dried to < 10% moisture content. Seeds were stored in 3 different kinds of plastic packaging ie. HDPE, hermetic plastic and vacuum plastic for a period of 6 months at room temperature. The research aims to determine the best type of plastic packaging for soybean seed. The experimental design was arranged in RBD consisting of 2 block and 1 factor; different engine rotation n speed (rpm) threshing and packaging material. Sample was carried out every month until 6 months of storage. The following analyses were carried out: moisture content, germination, damaged grains, additional weight and free fatty acid (FFA). Result show that kinds of packaging significantly affect moisture content and additional weights. It was found that seed moisture contentin HDPE packaging was increase and showed positive correlation with additional weight. Engine rotation speed (rpm) threshing was significantly affect damaged grains that high rpm showed positively corelation with increasing damaged grain. Percent of FFA < 0.4% untill 6 months of storage. From this research, soybean seed was stored in hermetic plastic observed have the ability to maintain moisture content and hold up additional weight followed by vacuum plastic and HDPE. Soybean seed were stored in HDPE, hermetic plastic and vacuum plastic have percent of germination ≥70% after 6 months stored and moisture content < 10%.AbstrakBenih kedelai varietas Argomulyo telah diproses dan dikeringkan hingga kadar air < 10%. Benih disimpan dalam tiga jenis kemasan plastik yaitu HDPE, plastik hermetic, dan plastik vakum selam 6 bulan dalam gudang dengan suhu ruang. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan tipe kemasan terbaik untuk pengemasan benih kedelai. Rancangan percobaan yang digunakan dalam penelitian ini adalah rancangan acak kelompok satu faktor; yang terdiri dari perbedaan kecepatan putaran mesin (rpm) perontok sebagaikelompok dan bahan kemasan sebagai faktor. Sampel diamati setiap bulan hingga penyimpanan bulan ke 6. Analisis yang diamati adalah kadar air, daya kecambah, butir rusak, penambahan bobot dan kadar asam lemak bebas (FFA). Hasil penelitian menunjukkan jenis kemasan berpengaruh nyata terhadap kadar air dan penambahan bobot selama penyimpanan. Kadar air benih pada kemasan HDPE meningkatselama penyimpanan dan berkorelasi positif dengan penambahan bobot. Kecepatan putaran mesin (rpm) perontokan berpengaruh nyata terhadap butir rusak, dimana rpm tinggi memiliki korelasi positif dengan peningkatan butir rusak. Kadar FFA < 0.4% hingga penyimpanan bulan ke enam. Berdasarkan penelitian diketahui bahwa kemasan plastik hermetik memiliki kemampuan paling baik untuk mempertahankan kadar air dan menghambat penambahan bobot benih kedelai yang disimpan, yang diikuti oleh kemasan plastik vakum dan HDPE. Benih kedelai yang disimpan pada plastik HDPE, plastik hermetik dan plastik vakum memiliki daya kecambah ≥70% hingga penyimpanan 6 bulan dan kadar air < 10%.
Perubahan Kualitas Pasca Panen Bayam Organik selama Penyimpanan setelah Perlakuan Heat Shock dan Hydrocooling Dini Nur Hakiki; Emmy Darmawati; Y Aris Purwanto; Ueno Hideto; Yo Toma
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 4 No. 1 (2016): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1144.112 KB) | DOI: 10.19028/jtep.04.1.%p

Abstract

AbstractThe objective of this study was to investigate the quality of organic spinach during storage after hydrocooling and heat shock treatment. Hydrocooling treatment was carried out using cold water of 3-5°C for 5 min and heat shock treatment was carried out using warm water of 40°C for 3.5 min. After treatments, samples of spinach were placed at cold storage of 7°C, RH of 95-98%. The changes in color, nitrate content, soluble solid content, ascorbic acid, total antioxidant were observed at 1, 3 and 7 days during storage period. Postharvest treatment using by hydrocooling and heat shock can maintain chlorophyll significantly. Heat shock was better than hydrocooling to maintain chlorophyll. Postharvest treatments were no significant difference with control to quality of color, ascorbic acid, total soluable solid, and antioxidant.AbstrakTujuan penelitian ini untuk menganalisis perubahan kualitas bayam organik (Spinacia oleraceae L.) selama penyimpanan setelah perlakuan hydrocooling dan heat shock. Perlakuan hydrocooling dilakukan dengan cara merendam bayam dalam air dingin pada suhu 3-5oC selama 5 menit sedangkan perlakuan heat shock dilakukan dengan cara merendam dalam air hangat pada suhu 40oC selama 3.5 menit. Bayam selanjutnya disimpan pada 7oC, RH 98-95% selama 7 hari. Perubahan kualitas bayam berupa warna, klorofil, kandungan nitrat, total padatan terlarut, asam askorbat, dan total antioksidan diamati selama penyimpanan pada hari ke-1, 3, dan 7 hari. Penanganan pascapanen dapat mempertahankan klorofil secara signifikan. Aplikasi heat shock cenderung lebih baik dalam mempertahankan klorofil dibanding dengan hydrocooling. Aplikasi penanganan pascapanen tidak berbeda nyata dengan kontrol untuk parameter kualitas warna,asam askorbat, total padatan terlarut, dan total antioksidan.
Rancangan Kemasan dan Aplikasi Ice gel untuk Transportasi Jamur Tiram (Pleurotus ostreatus) Mila Siti Amalia; Emmy Darmawati; Leopold Oscar Nelwan
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 5 No. 2 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1176.177 KB) | DOI: 10.19028/jtep.05.2.%p

Abstract

AbstractThe high ambient temperatures at the oyster mushrooms distribution will accelerate deterioration. Ice gel can be used to lower the mushrooms temperature during transport, so that the mushrooms quality can be maintained. This research was aimed to design the packages, determine the ice gel need, and decreased the oyster mushroom temperature up to 15 oC by applying ice gel. The research treatments were giving ice gel (G): without an ice gel (G0), the ice gel formation 1 (G1) placed the ice gel vertically between every partition on the mushroom retail package and the ice gel formation 2 (G2) placed two ice gel on the top of the package horizontally and an ice gel at the side of the package vertically; and plastic PP perforation treatment: 0.1 % (P1) and 0.3 % (P2) of package area. The result was the 50 x 40 x 24 cm corrugated cardboard dimension had been designed for 3 kg of mushroom and 2.52 kg ice gel could be used with the expectation to lower the mushrooms temperature up to 15 ° C for 2.5 hours. The ice gel formation 2 with perforated 0.3 % and 0.1 % could decrease mushroom temperature at the top part, up to 11 oC and 12.2 oC. While, the rate of mushroom temperature in the package were 16.9 oC and 17.1oC during 2.5 hours.                                                                                                                           Abstrak Suhu lingkungan yang tinggi saat distribusi jamur tiram akan mempercepat penurunan mutu. Ice gel dapat digunakan untuk menurunkan suhu jamur selama transportasi sehingga kualitas jamur dapat dipertahankan. Penelitian ini bertujuan untuk merancang kemasan, menentukan kebutuhan ice gel dan menurunkan suhu jamur tiram hingga 15 oC saat transportasi dengan aplikasi ice gel. Perlakuan yang diberikan adalah pemberian ice gel (G): tanpa ice gel (G0), ice gel susunan 1 yaitu diletakkan secara vertikal antara masing-masing sekat pada kemasan ritel jamur (G1) dan ice gel susunan 2 yaitu 2 buah ice gel diletakkan secara horizontal dibagian atas kemasan dan 1 buah ice gel secara vertikal pada sisi kemasan (G2). Perlakuan perforasi (P) pada plastik PP: 0.1 % (P1) dan 0.3 % (P2) dari luas kemasan. Hasil penelitian ini adalah kemasan berbahan karton gelombang dengan dimensi 50 cm x 40 cm 24 cm yang telah dirancang untuk wadah 3 kg jamur dan 2.52 kg ice gel dapat digunakan dengan harapan dapat menurunkan suhu jamur hingga 15 oC selama 2.5 jam. Posisi ice gel susunan 2 dengan perforasi plastik 0.3 % dan 0.1 % dapat menurunkan suhu jamur bagian atas masing-masing hingga 11 oC dan 12.2 oC, sedangkan rata-rata suhu jamur dalam kemasan adalah 16.9 dan 17.1 selama 2.5 jam.
Kombinasi Teknologi Kemasan dan Bahan Tambahan Untuk Mempertahankan Mutu Kolang Kaling Amarilia Harsanti Dameswari; Emmy Darmawati; Lilik Pujantoro Eko Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 5 No. 3 (2017): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (735.652 KB) | DOI: 10.19028/jtep.05.3.201-208

Abstract

Abstract Gumoti palm is one of health food with minimal post-harvest treatment that caused damage and limited range of distribution. The damage that Occurs in gumoti palm is brown discoloration caused by oxidation of the enzyme polyphenoloxidase (PPO). Prevention of the damage can be done by reducing the oxygen as a source of oxidation reactions. The use of packaging, soaked water and substance a citric acid can reduce enzymatic browning reactions that lead to color deterioration of gumoti palm. The purpose of this study is to examine the influence of the ratio of water, the concentration of citric acid from lime and packaging technology to discoloration on the surface of gumoti palm during storage. The first stage is the determination of the ratio of water gumoti palm and citric acid concentration of lime was best to maintain the quality. Water ratio studied were 1:1; 1:2 and 1:3 being the concentration of citric acid were 0.1%, 0.5% and 1%. Storage was at room temperature to accelerate change in the quality as a result of this preliminary study are used in the research stage into two. The second stage was to determine the packaging technology combined with materials. The variations of packaging techology by vacuum and non vacuum. Gumoti palm stored at 5OC until the sample was broken. Quality parameters measured include, color, galactomannan content, texture (hardness). The best results was gumoti palm with addition of citric acid 0.1% of lime is able to maintain color preference level is still acceptable to consumers up to 9 days of storage However the effect on the change in taste with consumer acceptanceondy until 6 days after storage at 5OC. Packaging pouch made from PE + nylon combined with water (ratio 1: 3) and citric acid 0.1% were able to retain their galactomanan of 40.18 % to 31.48%. Abstrak Kolang kaling merupakan sumber pangan kesehatan yang masih minim perlakuan pascapanennya sehingga cepat rusak dan terbatas jangkauan pemasarannya. Kerusakan yang terjadi pada kolang kaling adalah perubahaan warna akibat reaksi oksidasi enzymatic browning. Penggunaan kemasan, perendaman air dan pemberian larutan jeruk nipis sebagai sumber asam sitrat alami dapat mengurangi enzymatic browning dan mempertahankan mutu kolang kaling. Tujuan penelitian mengkaji pengaruh rasio air dan konsentrasi asam sitrat dari jeruk nipis dan teknologi kemasan untuk mempertahankan mutu kolang kaling selama penyimpanan. Tahap pertama penelitian adalah penentuan rasio air dan konsentrasi asam sitrat dari jeruk nipis yang terbaik dalam mempertahankan mutu. Rasio air yang dikaji adalah 1:1,1:2 dan 1:3 sedangkan konsentrasi asam sitrat adalah 0.1%, 0.5% dan 1%, yang disimpan pada suhu ruang untuk mengetahui penurunan mutu selama penyimpanan. Hasil dari penelitian pendahuluan, kemudian digunakan pada tahap ke dua penelitian. Penelitian tahap ke dua adalah menentukan teknologi kemasan yang dikombinasikan dengan bahan tambahan untuk mempertahankan mutu selama penyimpanan. Teknologi kemasan yang digunakan adalah teknologi vakum dan non vakum. Kolang kaling disimpan pada suhu 5OC hingga sampel mengalami kerusakan. Parameter mutu yang di amati adalah warna, kadar galaktomanan, dan kekerasan. Hasil penelitian menunjukkan bahwa rasio air dengan kolang kaling yang terbaik adalah 1:3 dan konsentrasi larutan jeruk nipis yang terbaik adalah 0.1%. Teknologi pengemasan tidak berpengaruh terhadap perubahan, warna dan kekerasan kolang kaling dalam penyimpanan suhu 5oC sedang yang berpengaruh adalah jenis kemasan PE dan PE+nylon dengan hasil terbaik adalah kemasan PE+nylon. Kemasan pouch berbahan PE+nylon yang dikombinasikan dengan air dan asam sitrat 0.1% mampu mempertahankan kandungan galaktomanan dari 40.18% menjadi 31.48%.
Desain Kemasan Buah Rambutan (Nephelium lappaceum L.) untuk Distribusi dan Pemasaran dalam Satuan Eceran (Ritel) Andi Marlisa Bossa Samang; Emmy Darmawati; Lilik Pujantoro Eko Nugroho
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 2 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1650.505 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.2.209-216

Abstract

AbstractRambutan is a top fruit from Indonesia, but it has not been get a good postharvest handling. One of the less postharvest handling is using of distribution packaging or retail marketing on fruit stores. The purpose of this research were designing a retail packaging made from polypropylene (PP) film and distribution packaging made from corrugated board. The stages of this research were to determine weight per unitpackaging of rambutan (retail and distribution), dimension of primary and secondary packaging, and analyze the efficiency of packaging arrangement on pallet. Rambutan cv. Lebak was picked from Subang, West Java Province with grade A fruit. The weight average of rambutan was 34.53 ± 2.32 g with individual volume was 21.29 cm3. The weight per retail packaging was 0.5 kg and each distribution packaging contain 4 packaging retail of rambutan. Based on the data, dimension of primary packaging was 12.5 x 12.5 x 15 cm that formed pouch bag with perforated (30 holes). Position of holes were placed with two options on the packaging surface. The RSC type secondary packaging was 28.5 x 28.5 x 16.5 cm for square packaging and the size 33.5 c 20.5 x 16.5 cm for rectangle packaging made from BC flute kraft 150 g. The simulation result shows efficiency of packaging arrangement above pallet should use size 1200 x 1000 mm (effieciency 81.22%) for square packaging and on pallet size 1067 x 1067 mm (effieciency 90.50%) for rectangle packaging.AbstrakRambutan merupakan buah unggulan Indonesia, namun belum mendapat penanganan pascapanen yang memadai. Salah satu penanganan yang masih minim adalah penggunaan kemasan dalam distribusi maupun penjualan di toko buah dalam bentuk eceran (ritel). Tujuan penelitian adalah merancang kemasan ritel berbahan plastik polypropylene (PP) dan kemasan distribusi berbahan karton gelombang. Tahapanpenelitian adalah penentuan satuan berat per kemasan (eceran dan distribusi), dimensi kemasan primer dan sekunder serta efisiensi penyusunan kemasan pada pallet untuk handling. Buah rambutan yang digunakan adalah varietas Lebak mutu A dari Kabupaten Subang, Jawa Barat dengan berat rata-rata 34.53 ± 2.32 g dan volume 21.29 ± 2.45 cm3. Berat per kemasan eceran dibuat 0.5 kg dan tiap kemasan distribusi berisi 4 buah kemasan eceran. Berdasarkan data tersebut, diperoleh dimensi kemasan primer 12.5 x 12.5 x 15 cm dibentuk pouch dengan jumlah perforasi 30 lubang yang diletakkan dengan dua pilihan posisi dipermukaan kemasan. Kemasan sekunder tipe RSC berukuran 28.5 x 28.5 x 16.5 cm untuk bentuk kotak dan 33.5 x 20.5 x 16.5 cm untuk bentuk persegi dengan bahan flute BC dari kertas kraft 150. Hasil simulasi penyusunan kemasan diatas palet menunjukkan, untuk bentuk kotak sebaiknya menggunakan palet ukuran 1200 x 1000 mm (efisiensi 81.22%), bentuk persegi menggunakan palet ukuran 1067 x 1067mm (efisiensi 90.50%).
Co-Authors . Sutrisno Adinda Putri Ayu Hakim Adya Nurkusumaprama Agus Supriatna Somantri Alifah Maulidiyah Amarilia Harsanti Dameswari Andi Ani Kuswati Andriani Lubis Anita Khairunnisa Aris Purwanto Aulia Indri Shacrudin Bambang Pramudya Dede Risanda Desi Idayanti Dini Nur Hakiki Dyah Ayu Agustiningrum Dyah Wulandani Eko Heri Purwanto Elena, Nadia Elmi Kamsiati Elmi Kamsiati Enrico Syaefullah Erma Suryani Florensius Labat Bionille Hadi Yusuf Faturochman Harli Prawaningrum Heldiyanti, Rina Herdiana, Mega I Wayan Astika I Wayan Budiastra Ihsan, Ghazian Satya Indah Yuliasih Iriani, Evi Savitri Ismaya, Pandu Legawa Iswahyudi Iswahyudi Jamaludin Jamaludin Ken Sutrisno Laras Putri Wigati Laras Putri Wigati Lilik Pujantoro Eko Nugroho Machfud Marimin , Maulidiyah, Alifah Meika Wahyuni Azrita Meity Suradji Sinaga Mila Anisya Rahmi Mila Siti Amalia Mohammad Iqwal Tawakal Nabila Putri, Ivanka Nafilawati wa ode Nelwan, Leopold Oscar nFN Saptana nFN Sutrisno Ni Luh Yulianti Nisa, Khaerun Nofa Andriastuti Dewi Hartono Novia Nava Novita Sari Nugraha Edhi Suyatma Nur Rahma Refilia Nurmala, Rike Nurul Khumaida Paluseri, Fachira Ulfah Rafika Ratik Srimurni Rahmaniar, Chairunnisa Ranti - Ranti Ria Sartika Ridwan Rachmat Rika Permata Sari, Putri Rokhani Rokhani Hasbullah Samang, Andi Marlisa Bossa Samsudin Samsudin Sartika, Novi Dewi Sartika, Ria Sasmito, Dewi Pratiwi Sazli Tutur Risyahadi SEDARNAWATI YASNI Setyadjit Setyadjit Setyadjit, Setyadjit Siti Mariana Widayanti Siti Mariana Widayanti Siti Mariana Widayanti Siti Mariana Widayanti Sugiarto SUTRISNO Sutrisno Sutrisno . Sutrisno . Sutrisno . Sutrisno . Sutrisno Mardjan Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno, Sutrisno Syahputra, Sufri Yanto Syamsiar, Syamsiar Syamsul Bahri trialita aprilia lita Tya Lestari Ueno Hideto Ulya, Kamila Nikmatul Usman Ahmad Widayanti, Siti Mariana Wulansetiasari, Rizky Yadi Haryadi Yadi Haryadi, Yadi Yandri Iskandar Pah Yenny Muliani Yo Toma Yusi Dwi Setyoningtyas Zulkarnain ‪Irna Dwi Destiana