Claim Missing Document
Check
Articles

Pembuatan dan Pendugaan Lama Simpan Bubuk Asam Sunti dalam Kemasan dengan Metode Sorpsi Desi Idayanti; Emmy Darmawati; Sutrisno Sutrisno
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 2 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1131.055 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.2.151-156

Abstract

AbstractAsam sunti is a typical seasoning Aceh cuisine made by processed belimbing wiluh (Averhoa bilimbi. L) in the form of semi-wet. Making asam sunti in powder form as well as other spices such as pepper, turmeric, and ginger others is expected to simplify and expand the asam sunti market as spice. The aim of this research were to make asam sunti powder, to analyze the effect of packing type on the change of water content of asam sunti powder, and to the estimation of shelf life of asam sunti powder in the packaging. Preparation of asam sunti powder was carried out by drieying a semi-wet asam sunti at temperature 70°C for 12 hours. Dried asam sunti was blended and sieved (80 mesh). Measurement of isotherm sorption properties was done using the salts of NaOH (6.9%), NaBr (56%), NaNO2 (64%), NaCl (75.3%), and KCl (83.6%) to regulate the humidity. The packaging tested for asam sunti powder storage was aluminum foil, HDPE and PP. Critical water content to a determine of shelf life of asam sunti powder at 21.26% with powder conditions starting to clot and not accepted by consumers. The estimation of shelf life of asam sunti powder with sorption method for aluminum foil, PP and HDPE packaging were 541.81, 506.83 and 369.24 days at 75% RH storage respectively, while RH of 83% was 364.12, 337.50 and 245.88 days. These results indicate that the best packaging for asam sunti powder was aluminum foil.AbstrakAsam sunti merupakan bumbu khas masakan aceh yang terbuat dari olahan belimbing wuluh dalam bentuk semi basah. Membuat asam sunti dalam bentuk bubuk seperti halnya bumbu lain yaitu lada, kunyit, jahe bubuk, dan yang lainnya diharapkan memudahkan dan memperluas pasar asam sunti sebagai bumbu masakan. Penelitian ini bertujuan menganalisa pengaruh jenis kemasan terhadap perubahan kadar air asam sunti bubuk dan pendugaan umur simpan asam sunti bubuk dalam kemasan. Pembuatan asam sunti bubuk dilakukan dengan pengeringan suhu 70oC selama 12 jam. Asam sunti kering diblender dan diayak (80 mesh). Pengukuran sifat sorpsi isotermis dilakukan menggunakan garam NaOH (6.9%), NaBr (56%), NaNO2 (64%), NaCl (75.3%), dan KCl (83.6%) untuk mengatur kelembaban. Kemasan yang diuji untuk penyimpanan adalah aluminium foil, HDPE dan PP. Kadar air kritis sebagai penentu umur simpan pada nilai 21.26% dengan kondisi bubuk mulai menggumpal dan tidak disukai konsumen. Pendugaan umur simpan asam sunti bubuk dengan metode sorpsi untuk kemasan aluminium foil, HDPE dan PP berturutturut adalah 541.81, 506.83 dan 369.24 hari pada penyimpanan RH 75%, sedang pada penyimpanan RH 83% berturut-turut 364.12, 337.50 dan 245.88 hari. Hasil ini menunjukkan bahwa kemasan yang terbaik untuk menyimpan asam sunti bubuk adalah jenis aluminium foil.
Peningkatan Efektivitas Ekstraksi Oleoresin Pala Menggunakan Metode Ultrasonik Baihaqi Baihaqi; I Wayan Budiastra; Sedarnawati Yasni; Emmy Darmawati
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (753.434 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.249-254

Abstract

AbstractApplication of ultrasonic-assisted extraction (UAE) is widely used to extract active compounds of certain product due to its lower energy consumption and shorter operating times than conventional method. However, proper configuration of UAE in improving extraction efficiency in spices, particularly nutmeg, remains unknown. Therefore, the aim of this research is to study the effect of particle size and amplitudes of UAE on the oleoresin extraction effectiveness in nutmeg. Experiments were carried out under the following conditions: the mass ratio of dry meat nutmeg to solvent of 1:5, therespective particle size of the material 20, 40, and 60 mesh and the ultrasonic amplitudo were 20 and 40% with extraction time 30 minutes. Maceration method at 350C for 7 hour was used as control. The result shows that particle size had a significant effect on yield of oleoresin, while the amplitude had no effect. The best UAE configuration based on the highest yield (31.33%) was held on 60 mesh by amplitude of 40%. The application of UAE can improve oleoresin extraction efficiency in nutmeg by increasing yield and shorten extraction time.AbstrakAplikasi ekstraksi berbantukan ultrasonik (UAE) banyak digunakan untuk mengekstrak senyawa aktifproduk tertentu karena konsumsi energinya lebih rendah dan waktu operasi yang lebih singkat dari pada metode konvensional. Namun, konfigurasi yang tepat dari UAE dalam meningkatkan efektivitas ekstraksidalam rempah-rempah, terutama pala, belum diketahui. Oleh karena itu, tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari pengaruh ukuran partikel dan amplitudo UAE terhadap efektivitas ekstraksi oleoresin pada pala. Penelitian dilakukan dengan kondisi sebagai berikut: rasio bahan dan pelarut yaitu 1:5, ukuranbahan 20, 40, dan 60 mesh dan amplitudo ultrasonik adalah 20% dan 40% dengan waktu ekstraksi 30 menit. Metoda Maserasi pada suhu 350C selama 7 jam digunakan sebagai kontrol. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ukuran partikel berpengaruh nyata terhadap hasil oleoresin, sedangkan amplitudo tidak berpengaruh. Konfigurasi UAE terbaik berdasarkan hasil tertinggi (31.33%) dilakukan pada 60 mesh dengan amplitudo 40%. Penerapan UAE dapat meningkatkan efisiensi ekstraksi oleoresin pada pala dengan meningkatkan rendemen dan mempersingkat waktu ekstraksi.
Investigasi Penyakit Busuk Ujung Lancip Buah Salak pada Rantai Pasok Jamaludin Jamaludin; Lilik Pujantoro Eko Nugroho; Emmy Darmawati
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1453.651 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.303-310

Abstract

AbstractSalak fruit (Salacca edulis Reinw.) which is not handled properly during distribution and marketing will be damaged. The biggest damage caused by rot disease on the taper tip of the fruit, which has an impact on postharvest losses and market rejection. The aims of this study were to examine supply chain pattern of salak pondoh, rot disease causative microorganisms on the salak's taper tip and the magnitude of postharvest losses due to the rot disease. Data were collected by survey method to obtain the pattern of supply chain and postharvest losses rate. Surveys (interviews and observations) were conducted in each of the supply chain actors at salak pondoh production centers, Sleman Regency, Yogyakarta. Laboratory observations to identify disease causative microorganisms were conducted using single spore isolation method on the PDA and fungi morphological observations. The results of the investigation of supply chain patterns in Sleman Regency, in general, there are three patterns, namely supply chain for the distribution of traditional markets, modern markets, and export markets. Total postharvest losses along those supply chains were 22.89%, 11.27%, and 6.26%, respectively. The results of isolation were obtained five fungus isolates, namely Thielaviopsis paradoxa (De Seynes) Honhel (58.4%) Colletotrichum gloeosporioides section (19.48%), Rhizopus stolonifer (Ehrenberg) Vuillemin (15.58%), Mucor sp. (3.90%), and Mycelia sterilia (2.60%). Based on the level of findings, the fungus Thielaviopsis paradoxa was the main causative microorganisms of rot disease on the salak pondoh's taper tip.AbstrakBuah salak (Salacca edulis Reinw.) yang tidak ditangani dengan baik selama distribusi dan pemasaran akan rusak. Kerusakan terbesar adalah karena penyakit busuk ujung lancip buah salak yang berdampak pada kehilangan pascapanen dan penolakan pasar. Tujuan penelitian ini ialah mengkaji pola rantai pasok salak pondoh, jenis mikroorganisme penyebab penyakit busuk ujung lancip buah salak, dan besarnya tingkat kehilangan pascapanen yang disebabkannya. Pengumpulan data dilakukan dengan metode survei untuk memperoleh pola rantai pasok salak pondoh dan tingkat kehilangan pascapanen. Survei (wawancara dan observasi) dilakukan di setiap pelaku rantai pasok di sentra produksi salak pondoh, Kabupaten Sleman, Yogyakarta. Pengamatan laboratorium untuk mengidentifikasi mikroorganisme penyebab penyakit dilakukan dengan metode isolasi spora tunggal pada PDA dan pengamatan morfologi cendawan. Hasil investigasi pola rantai pasok di Kabupaten Sleman secara umum terdapat tiga pola yaitu rantai pasok untuk distribusi pasar tradisional, pasar modern dan pasar ekspor. Total kehilangan pascapanen sepanjang rantai pasoknya masing-masing adalah 22.89%, 11.27%, dan 6.26%. Hasil isolasi diperoleh lima isolat cendawan yaitu Thielaviopsis paradoxa (De Seynes) Honhel (58.4%), Colletotrichum gloeosporioides section (19.48%), Rhizopus stolonifer (Ehrenberg) Vuillemin (15.58%), Mucor sp. (3.90%), dan Mycelia sterilia (2.60%). Berdasarkan besarnya tingkat temuan, cendawan Thielaviopsis paradoxa merupakan mikroorganisme penyebab utama busuk ujung lancip buah salak pondoh.
Teknik Pengemasan Jagung Pipil untuk Meminimumkan Kadar Aflatoksin Dede Risanda; Emmy Darmawati; Meity Suradji Sinaga
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1134.562 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.319-326

Abstract

AbstractThe application of hermetic storage, which is a type of modified atmosphere, effectively reduced the growth of Aspergillus flavus during storage and therefore limit the aflatoxin production. However, its relatively high cost isa major obstacle for its adoption by smallholder farmers and traders. The preparation of two layers of HDPE and polypropylene plastic packaging that is expected to limit the aflatoxin production and prevent the mold growthduring storage. The experimental design used in this study was a completely randomized factorial design. The first factor consisted of three levels: plastic bag (J0), multi-layered plastic packaging composed of plastic bag and hermetic GrainPro bag (J1), and multi-layered plastic packaging composed of plastic bag, high density polyethylene (HDPE), and polypropylene bag (J2). Furthermore, the second factor comprised two levels: without inoculation (M0) and with inoculation (M1). The maize grains that had been stored for three months in J1 and J2packaging at 12-13% moisture levels has been able to maintain material moisture content remains low. In these two packaging, the percentage of aflatoxin infection was around 2% during three months. On the other hand, the maize grains that had been stored in J1 and J2 packaging at 17-18% moisture content showed that the material moisture content remains high during storage. The fungal infection percentage attain 3-17% in both two types of packaging. Storing the maize grains in J2 packaging with high moisture levels during three months at risk of being contaminated by aflatoxin and seed fermentation.AbstrakPenyimpanan jagung melalui modifikasi atmosfer yang terbentuk pada kemasan hermetik telah mampu menghambat pertumbuhan cendawan dan produksi aflatoksin. Namun, kemasan hermetik merupakan produk impor dan harganya relatif mahal untuk diterapkan di tingkat petani dan pedagang pengumpul. Penyusunan dualapis kemasan berbahan plastik HDPE dan polipropilen diharapkan mampu menekan produksi aflatoksin dan menghambat pertumbuhan cendawan selama penyimpanan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial. Faktor pertama adalah jenis kemasan dengan 3 taraf, yaitu (J0) karung plastik, (J1) kemasan berlapis yang tersusun dari karung plastik+plastik hermetik GrainPro, dan (J2) kemasan berlapis yang tersusun dari karung plastik+plastik HDPE+plastik polipropilen. Faktor kedua adalah inokulasi sumber inokulum dengan 2 taraf, yaitu (M0) tanpa inokulasi sumber inokulum, dan (M1) dengan inokulasi sumberinokulum. Jagung pipil yang telah disimpan selama 3 bulan pada kemasan J1 dan J2 pada kadar air rendah (12-13%) telah mampu mempertahankan kadar air bahan tetap rendah. Di kedua jenis kemasan tersebut, persen infeksi cendawan masih sekitar 2% setelah disimpan selama 3 bulan. Sementara itu, penyimpanan jagung pipil pada kemasan J1 dan J2 pada kadar air tinggi (17-18%) menunjukkan bahwa kadar air bahan tetap tinggi selama penyimpanan. Persen infeksi cendawan mencapai 3-17% pada kedua jenis kemasan tersebut. Penyimpanan jagung pipil dengan kemasan J2 pada kadar air tinggi selama 3 bulan beresiko tercemar aflatoksin serta biji mengalami fermentasi.
Penundaan Kematangan Menggunakan Oksidan Etilen dan Pengaruhnya Terhadap Perubahan Fisiologi Pisang Barangan Dyah Ayu Agustiningrum; Emmy Darmawati; Siti Mariana Widayanti
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 6 No. 3 (2018): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (784.084 KB) | DOI: 10.19028/jtep.06.3.311-318

Abstract

AbstractEthylene oxidants were used to delay Barangan banana ripening at ambient temperature. However, a few information about the effect of ripening delay to fruit physiological quality after treatment that has been reported. This study was performed to examine the effects of ripening delay using ethylene oxidants to fruit quality during storage, ripening process, and display period. The experimental design was usedrandomize complete design with two factors consisting 2 levels of picking date and 3 levels of delaying duration. Ethylene oxidants (KMnO4 and zeolite powder) were packaged into sachets and applied to banana packaging. Observed quality parameters were peel color, hardness and TSS content. The results indicated that ethylene oxidants application effectively delayed Barangan banana ripening at 25±2°C compared to control. Banana picked at 10 weeks after flower cutting (WAFC) has longer green life period than 11 WAFC. Ripening delay treatment did not detrimentally affect fruits quality. The fruits ripened normally and attain optimum TSS as the control. Overall, the quality parameters at the display period were not significantly different (α<0.05) between control and treated fruit. Duration of ripening delay did not affect the whole parameters of fruit quality, while the picking date affects Hue color and TSS.AbstrakOksidan etilen telah digunakan untuk menunda kematangan Pisang Barangan pada suhu lingkungan, namun masih sedikit penelitian yang mengkaji efek penundaan kematangan terhadap mutu fisiologi buah pasca-perlakuan. Penelitian ini dilakukan untuk mengkaji efek penundaan kematangan menggunakan oksidan etilen terhadap mutu buah selama penyimpanan, proses pematangan, dan pemajangan. Rancangan percobaan yang digunakan adalah rancangan acak lengkap faktorial dengan dua faktor meliputi 2 taraf umur petik dan 3 taraf durasi penundaan kematangan. Oksidan etilen (KMnO4 dan zeolit 200 mesh) dikemas dalam bentuk sachet dan diaplikasikan pada kemasan pisang. Parameter mutu yang diamati meliputi warna kulit, kekerasan dan TPT. Hasil pengamatan menunjukkan aplikasi oksidan etilensecara efektif dapat menunda kematangan pisang Barangan pada 25±2°C dibandingkan kontrol. Pisang yang dipetik umur 10 minggu setelah potong ontong (MSPO) umur simpannya lebih lama dibandingkan 11 MSPO. Perlakuan penundaan kematangan tidak memberikan efek yang mengganggu terhadap mutu buah pasca-perlakuan. Buah matang secara alami dan mencapai kandungan TPT setara dengan kontrol. Secara keseluruhan, parameter mutu buah dengan perlakuan dan kontrol selama pemajangan tidak berbeda nyata (α<0.05). Durasi penundaan kematangan tidak berpengaruh terhadap seluruh parameter mutu, sedangkan umur petik berpengaruh terhadap warna Hue dan TPT.
Rancangan Kemasan dengan Indikator Warna untuk Deteksi Tingkat Kematangan Buah Alpukat Meika Wahyuni Azrita; Usman Ahmad; Emmy Darmawati
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 7 No. 2 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1219.898 KB) | DOI: 10.19028/jtep.07.2.155-162

Abstract

AbstractDetermining the ripeness levels of avocados is still having difficulties because the fruit does not change color when ripe. Smart labels based on color indicators of ammonium molybdate with potassium permanganate can be used to detect the maturity of avocados by detecting ethylene gas (C2H4) produced during the ripening process. This study aims to examine the physiological and physicochemical changes that occur in avocados during the ripening process, design packaging of color indicator labels to determine the level of maturity of avocados and changes in color indicators to the maturity level of avocados. Parameters measured were respiration rate and ethylene production, hardness, total dissolved solids and color change. The data obtained were tested using ANOVA and  Duncan's further test to obtain the best treatment. The best performance was obtained from label composed by 2 grams ammonium molibdat and 3 grams potassium permanganate because it has a good and even color gradation response to different level of ripeness by detecting the presence of ethylene in packaging.AbstrakPenentuan kematangan buah alpukat masih mengalami kesulitan karena buah tidak mengalami perubahan warna saat matang. Label cerdas berbasis indikator warna amonium molibdat  dengan kalium permanganat dapat digunakan untuk mendeteksi kematangan buah alpukat dengan mendeteksi gas etilen (C2H4) yang dihasilkan selama proses pematangan. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji perubahan fisiologi dan fisiko kimia yang terjadi pada buah alpukat selama proses pematangan, perancangan kemasan label indikator warna untuk mengetahui tingkat kematangan buah alpukat dan perubahan indikator warna terhadap tingkat kematangan buah alpukat. Parameter yang diukur adalah laju respirasi dan pembentukan etilen, kekerasan, total padatan terlarut dan uji warna. Data yang diperoleh diuji dengan ANOVA dan dilakukan uji lanjut Duncan untuk mendapatkan perlakuan terbaik. Kinerja terbaik diperoleh dari label yang disusun oleh 2 gram amonium molibdat dan 3 gram kalium permanganat karena memiliki respons gradasi warna yang baik dan merata terhadap tingkat kematangan yang berbeda dengan mendeteksi keberadaan etilen dalam kemasan.
Studi Coating dengan Metode Semprot Berbasis Bahan Baku Pektin untuk Mempertahankan Kesegaran Buah Rambutan Novia Nava; Emmy Darmawati; Nugraha Edhi Suyatma
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 7 No. 1 (2019): JURNAL KETEKNIKAN PERTANIAN
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2209.482 KB) | DOI: 10.19028/jtep.07.1.41-48

Abstract

AbstractRambutan is still going on physiological processes after harvesting, that can cause diminishing fruit freshness and water loss. One of postharvest treatment that can help with physiological processes is by using coatings. The purpose of this study was to study the characteristics of films and droplets formed from various types and concentrations of solutions using the spray method. The type of pectin used was high methoxyl and low methoxyl citrus pectin with concentrations of 0.5% and 1%. Parameters test are droplet diameter, droplet density, film thickness and WVTR (Water Transmission Rate Transmission Rate). The results showed that the best pectin formulation using a low methoxyl orange pectin spray technique with a concentration of 1%. The resulting dropet size was 0.404±0.068 mm, droplet density 13.901-18.602, viscosity was 8.5875±0.043 mPas, film thickness was 0.10±0.138 mm, WVTR 5.08±0.172 g/m2/day andrespiration rate was 6.63 ml O2 /kg-hour. The observations on the 14th day of rambutan coating reduced water content by 13.19% with a weight loss of 12.76%, L value of 11.00, Hue value of 29.50, chroma value of 26.94, TPT value between 22.10-24.37 0Brix and consumer acceptance is above the consumer acceptance limit for all sensory test observation variables.AbstrakBuah rambutan setelah dipanen tetap melangsungkan proses fisiologi yang dapat menyebabkan berkurangnya kesegan buah dan kehilangan air. Salah satu perlakuan pascapanen yang dapat menghalangiproses fisiologi adalah dengan menggunakan coating. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mempelajari karakteristik film dan droplet yang terbentuk dari berbagai jenis dan konsentrasi larutan pektin denganmetode semprot. Jenis pektin yang digunakan adalah high metoxyl dan low metoxyl pektin jeruk dengan konsentrasi 0.5% and 1%. Parameter pengujian adalah diameter droplet, kerapatan droplet, ketebalan filmdan WVTR (Water Vapor Transmission Rate). Hasil penelitian menunjukkan bahwa formulasi larutan pektin terbaik dengan menggunakan teknik semprot adalah pektin jeruk low metoxyl dengan konsentrasi 1%. Ukuran dropet yang dihasilkan 0.404±0.068 mm, kerapatan 13.901-18.602 droplet, viskositas 8.5875±0.043 mPas, ketebalan film 0.10±0.138 mm, WVTR 5.08±0.172 g/m2/hari dan laju respirasi 6.63 ml O2/kg-jam. Hasil pengamatan pada hari ke-14 rambutan coating mengalami penurunan kadar air sebesar 13.19% dengan susut bobot 12.76%, nilai L 11.00, nilai Hue 29.50, nilai chroma 26.94, nilai TPT antara 22.10-24.37 0Brix dan penerimaan konsumen berada pada atas batas penerimaan konsumen untuk seluruh variabelpengamatan uji sensori.
Aplikasi Ozon Untuk Mempertahankan Kualitas Buah Duku Andi Ani Kuswati; Emmy Darmawati; Siti Mariana Widayanti
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 1 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.08.1.15-22

Abstract

Abstrak Perawatan tanaman duku yang masih kurang baik, membuat buah duku yang dipanen berpotensi membawa kontaminan mikroorganisme dari lahan sehingga turut mempercepat kerusakan buah. Teknologi ozon telah banyak digunakan untuk menghambat perkembangan mikroorganisme pada penyimpanan hortikultura segar. Tujuan penelitian adalah mengkaji pengaruh durasi pemaparan ozon dengan laju 1.38x10-4 gram/detik terhadap perubahan mutu duku dalam penyimpanan. Durasi pemaparan ozon yang dikaji adalah 20, 40 dan 60 detik sebagai perlakuan. Penelitian dilakukan menggunakan Rancangan Acak Lengkap (RAL). Pertumbuhan mikroba diukur menggunakan uji TPC, sedangkan parameter mutu yang dikaji adalah perubahan warna, kekerasan, total padatan terlarut (TPT) dan susut bobot. Data dianalisa menggunakan ANOVA dan uji lanjut Duncan. Perlakuan ozon yang memberi efek tebaik adalah laju 1.38x10-4 gram/detik dengan paparan 60 detik. Perlakuan tersebut mampu menahan pertumbuhan mikroba hingga 6.11 (log cfu/g) dibanding kontrol pada hari ke enam penyimpanan dengan mutu duku yang lebih baik berdasarkan nilai TPT dan susut bobot dengan nilai masing-masing adalah 17.8 obriks dan 0.93%. Namun untuk parameter warna dan kekerasan buah, perlakuan ozon 40 detik menghasilkan nilai yang lebih baik. Pelakuan ozon dengan paparan selama 40-60 detik dapat diaplikasikan untuk mempertahankan mutu duku yang dikombinasikan dengan penyimpanan suhu 14 1oC. Kata Kunci: ozon, buah duku, total plate count, durasi
Integrasi Metode Gravitasi dan Metode Perbandingan Eksponensial untuk Penentuan Pusat Distribusi Pangan di Kabupaten Halmahera Selatan Syamsul Bahri; Sutrisno Suro Mardjan; Emmy Darmawati; Bambang Pramudya
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 2 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.08.2.63-70

Abstract

AbstractThis study aims to determine the location of distribution centers in each islandgroup in South Halmahera Regency. Data sources were obtained from survey resultsand literature studies. Integration of Gravity Models and Exponential ComparisonMethods are used to determine the best location. Subdistrict of Kayoa as the locationof distribution centers for Kayoa-Makian islands group, Subdistrict of West Gane forGane islands group, Subdistrict of Bacan for Bacan-Kasiruta islands group, and theObi Subdistrict for Obi Islands group. The location chosen as the distribution centerin each island group is a main subdistrict which physically has better resourcecarrying capacity.
Komposisi Fisikokimia Tepung Ubi Kayu dan Mocaf dari Tiga Genotipe Ubi Kayu Hasil Pemuliaan Nafilawati wa ode; Emmy Darmawati; Sutrisno Suro Mardjan; Nurul Khumaida
Jurnal Keteknikan Pertanian Vol. 8 No. 3 (2020): Jurnal Keteknikan Pertanian
Publisher : PERTETA

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.19028/jtep.08.3.97-104

Abstract

Faktor penting yang mempengaruhi karakteristik fisikokimia tepung adalah bahan baku tepung, genotipe/varietas serta proses pengolahan dalam pembuatan tepung. Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi komposisi fisikokimia tepung ubi kayu dan mocaf dari tiga genotipe ubi kayu yaitu GX, G053 dan G390 yang merupakan hasil pemuliaan tim Croop Improvement IPB. Evaluasi komposisi fisikokimia dilakukan dengan menganalisis kadar air, karbohidrat, protein, lemak, abu, kadar HCN, rendemen dan derajat putih. Berdasarkan hasil analisis diketahui bahwa setiap genotipe ubi kayu memiliki komposisi fisikokimia yang berbeda-beda dipengaruhi oleh jenis genotipe dan proses pengolahannya. Komposisi fisikokimia tepung ubi kayu dari genotipe G053 memiliki keunggulan rendemen (26.10%±0.01), karbohidrat (89.11%±0.015), protein (2.63%±0.014), derajat putih tertinggi (96.89%±0.02) serta kadar air terendah (6.73%±0.004). Tepung dari genotipe G390 memiliki keunggulan kadar abu (0.74%±0.015) dan lemak (0.59%±0.005) terendah. Tepung GX memiliki keunggulan HCN terendah (0.40 ppm±0.198). Komposisi fisikokimia mocaf dari genotipe G053 memiliki keunggulan yaitu karbohidrat, derajat putih tertinggi (98.44%±0.02) dan kadar air terendah (6.65%±0.004). Mocaf dari genotipe G390 memiliki protein (3.01%±0.018) tertinggi kadar abu (0.28%±0.002) dan lemak terendah (0.57%±0.004). Mocaf dari genotipe GX memiliki keunggulan dengan kadar rendemen tertinggi (28.57%±0.08) dan HCN terendah (0.20 ppm±0.10).
Co-Authors . Sutrisno Adinda Putri Ayu Hakim Adya Nurkusumaprama Agus Supriatna Somantri Alifah Maulidiyah Amarilia Harsanti Dameswari Andi Ani Kuswati Andriani Lubis Anita Khairunnisa Aris Purwanto Aulia Indri Shacrudin Bambang Pramudya Dede Risanda Desi Idayanti Dini Nur Hakiki Dyah Ayu Agustiningrum Dyah Wulandani Eko Heri Purwanto Elena, Nadia Elmi Kamsiati Elmi Kamsiati Enrico Syaefullah Erma Suryani Florensius Labat Bionille Hadi Yusuf Faturochman Harli Prawaningrum Heldiyanti, Rina Herdiana, Mega I Wayan Astika I Wayan Budiastra Ihsan, Ghazian Satya Indah Yuliasih Iriani, Evi Savitri Ismaya, Pandu Legawa Iswahyudi Iswahyudi Jamaludin Jamaludin Ken Sutrisno Laras Putri Wigati Laras Putri Wigati Lilik Pujantoro Eko Nugroho Machfud Marimin , Maulidiyah, Alifah Meika Wahyuni Azrita Meity Suradji Sinaga Mila Anisya Rahmi Mila Siti Amalia Mohammad Iqwal Tawakal Nabila Putri, Ivanka Nafilawati wa ode Nelwan, Leopold Oscar nFN Saptana nFN Sutrisno Ni Luh Yulianti Nisa, Khaerun Nofa Andriastuti Dewi Hartono Novia Nava Novita Sari Nugraha Edhi Suyatma Nur Rahma Refilia Nurmala, Rike Nurul Khumaida Paluseri, Fachira Ulfah Rafika Ratik Srimurni Rahmaniar, Chairunnisa Ranti - Ranti Ria Sartika Ridwan Rachmat Rika Permata Sari, Putri Rokhani Rokhani Hasbullah Samang, Andi Marlisa Bossa Samsudin Samsudin Sartika, Novi Dewi Sartika, Ria Sasmito, Dewi Pratiwi Sazli Tutur Risyahadi SEDARNAWATI YASNI Setyadjit Setyadjit Setyadjit, Setyadjit Siti Mariana Widayanti Siti Mariana Widayanti Siti Mariana Widayanti Siti Mariana Widayanti Sugiarto SUTRISNO Sutrisno Sutrisno . Sutrisno . Sutrisno . Sutrisno . Sutrisno Mardjan Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno Sutrisno, Sutrisno Syahputra, Sufri Yanto Syamsiar, Syamsiar Syamsul Bahri trialita aprilia lita Tya Lestari Ueno Hideto Ulya, Kamila Nikmatul Usman Ahmad Widayanti, Siti Mariana Wulansetiasari, Rizky Yadi Haryadi Yadi Haryadi, Yadi Yandri Iskandar Pah Yenny Muliani Yo Toma Yusi Dwi Setyoningtyas Zulkarnain ‪Irna Dwi Destiana