Claim Missing Document
Check
Articles

PERAN BADAN AMIL ZAKAT NASIONAL DALAM PEMBANGUNAN DAN PENGEMBANGAN PENDIDIKAN DI BULUKUMBA Jabal Nur; Siti Aisyah; Musyfikah Ilyas
Qadauna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Keluarga Islam Vol 5 No 3
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/qadauna.v5i3.33088

Abstract

The focus of this research is on the utilization of zakat in the field of education by the National Amil Zakat Agency (BAZNAS) in Bulukumba and the challenges it faces in the management and distribution of zakat funds in Bulukumba. This research is a field study, descriptive in nature, with an empirical juridical and sharia approach. The results show that the role of zakat in the development and enhancement of education in Bulukumba, managed by BAZNAS Bulukumba, can be seen from the effectiveness of educational programs, which include assistance for study completion, tuition assistance for underprivileged and high-achieving students, provision of uniforms and school supplies for students, distribution of smart bag packages for impoverished students, assistance for tahfiz teachers, renovation and construction of pesantren (Islamic boarding schools) and madrasah (Islamic schools), mosque renovation assistance, and more. Through these assistance programs, educational development in the Bulukumba region has progressed, helping to reduce or prevent school dropouts, neglect, illiteracy, and the lack of formal education among children.
PENGELOLAAN WAKAF DI PONDOK PESANTREN AL-WASILAH LEMO POLEWALI MANDAR PERSPEKTIF HUKUM ISLAM Riswandi; Alimuddin; Musyfikah Ilyas
Qadauna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Keluarga Islam Vol 5 No 3
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/qadauna.v5i3.35923

Abstract

The main problem of this research is the management of waqf at al-wasilah Islamic boarding school Lemo Polewali Mandar from the perspective of Islamic law. The subject matter is then formulated into three problem formulations namely, 1. How is the development of waqf at the Al-Wasilah Lemo Polewali Mandar Islamic Boarding School, 2. How is the review of Islamic law on the development of waqf at the Al-Wasilah Lemo Polewali Mandar Islamic Boarding School, and 3. What are the inhibiting factors for waqf development in Al-Wasilah Lemo Polewali Mandar Islamic Boarding School. This type of research is field research, which is descriptive qualitative in nature. The research approach used is the Sociological Approach, Syar'i Approach, Juridical Approach. The source of research data is the management of the al-wasilah Islamic boarding school, Lemo. Data collection methods used are interviews and observation. Then data management and analysis techniques, namely data that is not related to numbers and not related to statistical analysis. The results of this study indicate that the waqf development method at al Wasilah Lemo Islamic Boarding School uses four main elements, namely, planning, organizing, leadership, and monitoring processes. Its management and development are in accordance with Islamic law, where the foundation program's waqf provisions have fulfilled its pillars and conditions. The obstacles faced by the development of waqf at the al wasilah Lemo Islamic boarding school include the lack of public understanding of waqf, a lack of funds to manage land and other waqf assets, a lack of human resources and the absence of a waqf agency at the al wasilah Lemo Islamic boarding school.
TRADISI MAPPENRE DUI’ DALAM PERNIKAHAN SUKU BUGIS PERSPEKTIF 'URF DI DESA MANURUNG KECAMATAN BOLA KABUPATEN WAJO Asma Yunitah Alwi; Musyfikah Ilyas; Nurfaika Ishak
Qadauna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Keluarga Islam Vol 6 No 1
Publisher : Universitas Islam Negeri Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/qadauna.v6i1.36737

Abstract

This study explores the mappenre dui’ tradition in Bugis weddings from the perspective of ‘urf in Manurung Village, Bola Subdistrict, Wajo Regency. It focuses on the process and significance of this tradition in Bugis marriage customs based on the concept of ‘urf. This field research employs a qualitative approach, utilizing documentation and interviews as data collection methods. The findings indicate that the people of Manurung Village practice the mappenre dui’ tradition as part of their cultural heritage, passed down through generations. It is an essential tradition, not only as a form of respect for women but also because it is primarily used to fund the entire wedding process. The mappenre dui’ ceremony includes several stages: mammanu’-manu’, followed by madduta (discussing the acceptance of the proposal, determining the dowry, wedding day, and the date for mappenre dui’), mappettuada (agreement), mappasiarekeng, and finally, the mappenre dui’ procession. From the perspective of ‘urf, each stage of the mappenre dui’ tradition aligns with Islamic law, categorizing it as ‘urf shahih.
Dinamika Hukum Islam Dalam Pembentukan Peraturan Perundang-Undangan di Indonesia Yuyun Alwania Walude; Kurniati; Musyfikah Ilyas
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 3 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i3.1602

Abstract

Hukum Islam memiliki karakter dinamis yang memungkinkan untuk beradaptasi dengan perkembangan sosial, politik, dan budaya, termasuk dalam pembentukan peraturan perundang-undangan di Indonesia. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis dinamika hukum Islam dan kontribusinya terhadap pembentukan regulasi nasional yang inklusif dan berkeadilan. Penelitian ini menggunakan pendekatan normatif-kualitatif dengan metode studi kepustakaan dan analisis isi terhadap dokumen hukum, regulasi, dan literatur ilmiah. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum Islam berperan signifikan sebagai sumber nilai dan norma dalam sistem hukum nasional, terutama dalam bidang keluarga, ekonomi syariah, dan peradilan agama. Meskipun demikian, integrasi hukum Islam menghadapi tantangan struktural, politik, dan sosial, seperti pluralisme hukum dan perbedaan interpretasi. Oleh karena itu, pendekatan moderat dan dialogis diperlukan untuk memastikan hukum Islam tetap relevan, fleksibel, dan responsif terhadap kebutuhan masyarakat modern Indonesia
DAMPAK TINDAK KEKERASAN SEKSUAL DALAM PERSEPEKTIF HUKUM ISLAM DAN HAK ASASI MANUSIA Ilham; Kurniati; Musyfikah Ilyas
Iqtishaduna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Vol 7 No 1 (2025): Oktober
Publisher : Jurusan Hukum Ekonomi Syariah Fakultas Syariah dan Hukum Uin Alauddin Makassar

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24252/iqtishaduna.v7i1.58361

Abstract

Abstrak Tindak kekerasan seksual merupakan kejahatan serius yang dapat menimbulkan dampak mendalam bagi korban. Artikel ini membahas bagaiamana kekerasan seksual dipahami dan direspons dalam pandangan hukum islam dan Hak Asasi Manusia (HAM), serta bagiamana pendekata normatif ini dapat digunakan secara integratif untuk merumuskan solusi yang adil dan manusiawi. Penelitian ini bertujuan untuk menjawab tiga permasalahn dalam penelitian ini yaitu, bagaimana pandangan islam dan HAM terhadap kekerasan seksual, serta penyebab dan solusinya. Pendekatan yang digunakan adalah kualitatif dengan metode studi Pustaka dan analisis isi, terhadap literatur jurnal ilmiah ,fatwa, kitab fikih, serta dokumen HAM internasional maupun nasional. Penelitian ini menggunakan kerangka maqasid al-syariah dan pendekatan nilai-nilai keadilan dalam HAM untuk menemukan titik temu diantara keduanya. Hasil penelitian menunjukkan bahwa islam dan HAM memiliki titik temu yang kuat dalam mempertahankan martabat korban dan melindunginya. Kekerasan seksual dapat disebabkan oleh faktor-faktor struktural dan hukum, serta faktor-faktor kultural dan relasional. Pendidikan seksual yang didasarkan pada prinsip Islam, perubahan fikih gender, dan pendekatan keadilan restoratif adalah beberapa metode pencegahan yang ditawarkan. MUI, NU, dan Muhammadiyah adalah lembaga keislaman yang memiliki tanggung jawab strategis untuk mendorong fatwa dan kebijakan yang mendukung korban. Menurut penelitian ini, integrasi Islam dan hak asasi manusia dapat berfungsi sebagai dasar yang kuat untuk membangun sistem perlindungan korban yang kontekstual dan adil. Selain itu, hal ini memungkinkan ijtihad sosial yang berkembang sesuai dengan zaman. Kata Kunci: Kekerasan Seksual; Hukum Islam; HAM; Maqasid al-Syariah; Keadilan Restoratif   Abstract Sexual violence is a serious crime that can have profound impacts on victims. This article discusses how sexual violence is understood and responded to from the perspective of Islamic law and human rights, and how this normative approach can be used integratively to formulate just and humane solutions. This research aims to address three research questions: the perspectives of Islam and human rights on sexual violence, as well as its causes and solutions. The approach used is qualitative, using literature review and content analysis, examining scientific journals, fatwas, Islamic jurisprudence (fiqh) books, and international and national human rights documents. This research uses the maqasid al-Shari'ah framework and a justice-based approach to human rights to find common ground. The results show that Islam and human rights have strong common ground in upholding and protecting the dignity of victims. Sexual violence can be caused by structural and legal factors, as well as cultural and relational factors. Sex education based on Islamic principles, changes in gender fiqh, and a restorative justice approach are some of the prevention methods offered. MUI, NU, and Muhammadiyah are Islamic institutions that have strategic responsibility for pushing fatwas and policies that support victims. According to this research, the integration of Islam and human rights can serve as a strong basis for building a contextual and fair victim protection system. Apart from that, this allows social ijtihad to develop according to the times. Keywords: Sexual Violence; Islamic Law; HAM; Maqasid al-Syariah; Restorative Justice
Hukum Islam dan Pluralitas Sosial di Indonesia: Menggali Konsep Kesetaraan dalam Keragaman Agama dan Budaya Mahfudah, Rifkatul; Kurniati, Kurniati; Musyfikah Ilyas
PESHUM : Jurnal Pendidikan, Sosial dan Humaniora Vol. 4 No. 6: Oktober 2025
Publisher : CV. Ulil Albab Corp

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56799/peshum.v4i6.10766

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menggali penerapan hukum Islam dalam masyarakat Indonesia yang pluralistik dan bagaimana konsep kesetaraan dapat diterapkan dalam keragaman agama dan budaya. Masalah utama yang diangkat dalam penelitian ini adalah bagaimana hukum Islam dapat disesuaikan dengan kondisi sosial dan budaya masyarakat Indonesia yang plural tanpa mengabaikan prinsip dasar ajaran Islam. Pertanyaan penelitian yang diajukan mencakup bagaimana hukum Islam dapat beradaptasi dengan kebutuhan lokal dan bagaimana pluralisme agama di Indonesia dapat diterima secara harmonis dalam konteks hukum Islam. Penelitian ini menggunakan metode library research dengan pendekatan normatif syar’i, dimana data dikumpulkan dari berbagai sumber pustaka seperti buku, literatur klasik, jurnal ilmiah, dan dokumen lainnya. Analisis data dilakukan melalui tiga langkah utama: reduksi data, penyajian data, dan penarikan kesimpulan. Temuan penelitian menunjukkan bahwa penerapan hukum Islam di Indonesia harus mempertimbangkan pluralisme sosial dan budaya, dengan penekanan pada nilai-nilai universal Islam seperti keadilan dan kebebasan, serta penghormatan terhadap keberagaman agama. Penelitian ini juga mengidentifikasi kesenjangan dalam literatur yang ada dan mengusulkan arah penelitian masa depan terkait penerapan hukum Islam dalam masyarakat pluralistik.
Dialektika Receptio In Complexu dan Receptio A Contrario: Implementasi Hukum Islam Dalam Sistem Hukum Indonesia Miftahul Jannah; Kurniati Kurniati; Musyfikah Ilyas
Tasamuh: Jurnal Studi Islam Vol. 17 No. 2 (2025): Tasamuh: Jurnal Studi Islam
Publisher : LPPM IAIN Sorong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47945/tasamuh.v17i2.1948

Abstract

The implementation of Islamic law in the Indonesian legal system is a complex issue involving the interaction between religious authorities, the state, and society. This research aims to analyze the dialectic between the theories of Receptio in Complexu (Islamic law applies automatically to Muslims) and Receptio a Contrario (Islamic law applies as long as it does not contradict custom) and its impact on the integration of Islamic law in the national legal framework. The research method used is library research with a theological-normative approach and contextual analysis, combining primary (legal texts, colonial documents) and secondary (journals, books) data. The results show that inconsistencies in the application of Islamic law, such as in the case of Bugis customary inheritance which contradicts the provisions of faraidh, reflect the tug-of-war between religious, customary and state authorities. The implications include legal uncertainty, regulatory dualism, and the potential for social disharmony. Islamic legal products such as the Compilation of Islamic Law (KHI) and MUI fatwas have been recognized, but their application remains influenced by the socio-cultural context. To create harmonious integration, a benefit-based approach (istislahi), regulatory harmonization, and the active role of Islamic organizations and community leaders are needed. This research provides academic and practical recommendations to strengthen an inclusive national legal system, and encourages further research on the integration model of Islamic law based on maqashid sharia and local wisdom within the framework of Pancasila.
Peran Ganda Perempuan Di Era Media Sosial Tinjauan Hukum Islam Andi Marwah; Kurniati; Musyfikah Ilyas
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2626

Abstract

Perkembangan teknologi digital dan media sosial telah mengubah peran perempuan Muslim secara signifikan, baik dalam ranah domestik maupun publik. Fenomena ini menimbulkan isu baru mengenai keadilan gender dalam hukum Islam, terutama ketika perempuan memikul tanggung jawab ganda antara peran keluarga dan aktivitas sosial di ruang digital. Isu ini menjadi penting untuk dikaji karena pemaknaan tradisional terhadap hukum Islam sering kali menempatkan perempuan dalam batas domestik, sementara realitas modern menuntut partisipasi mereka dalam ruang publik secara lebih luas. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis konsep keadilan gender dalam hukum Islam dengan meninjau peran ganda perempuan di era media sosial. Fokus kajian diarahkan pada bagaimana prinsip-prinsip hukum Islam merespons keterlibatan perempuan di ruang publik digital tanpa mengabaikan tanggung jawab terhadap keluarga dan nilai-nilai moral Islam. Metodologi yang digunakan adalah pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi pustaka. Penelitian ini memanfaatkan teori Keadilan Gender Islam dari Amina Wadud dan Double Movement Theory dari Fazlur Rahman sebagai kerangka analisis utama, dengan sumber data berupa literatur klasik, teks keislaman kontemporer, dan kajian akademik yang relevan dengan aktivitas perempuan di media digital. Hasil penelitian menunjukkan bahwa hukum Islam bersifat adaptif dan kontekstual terhadap perkembangan zaman. Prinsip al-‘adl (keadilan), al-musawah (persamaan), dan al-maslahah (kemaslahatan) menjadi dasar penerapan keadilan gender yang memungkinkan perempuan berperan aktif di ruang digital secara etis, produktif, dan tetap sejalan dengan nilai-nilai syariat.
Pertimbangan Hakim dalam Penyelesaian Sengketa Akad Mudharabah di Peradilan Agama Nur Adilah; Kurniati; Musyfikah Ilyas
Al-Zayn: Jurnal Ilmu Sosial, Hukum & Politik Vol 3 No 6 (2025): 2025
Publisher : Yayasan pendidikan dzurriyatul Quran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.61104/alz.v3i6.2641

Abstract

Perkembangan ekonomi syariah di Indonesia menyebabkan semakin banyaknya kasus sengketa akad mudharabah yang diajukan ke pengadilan agama. Sengketa ini umumnya terjadi antara para investor dan pengelola usaha akibat perbedaan dalam pengaturan pembagian keuntungan atau tanggung jawab atas kerugian. Dalam keadaan seperti ini, peran hakim sangat penting untuk memastikan keadilan dengan mengedepankan prinsip hukum Islam serta nilai-nilai moral. Tujuan penelitian ini adalah untuk menilai bagaimana para hakim menimbang aspek hukum, prinsip-prinsip syariah, dan nilai-nilai moral serta sosial dalam menyelesaikan sengketa akad mudharabah. Metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan pendekatan studi literatur, yaitu menganalisis putusan pengadilan agama, peraturan, fatwa DSN-MUI, serta literatur yang berkaitan dengan ekonomi syariah. Temuan penelitian menunjukkan bahwa mayoritas hakim sudah mengikuti prinsip hukum Islam dalam hal pembagian keuntungan dan tanggung jawab risiko, serta menekankan pentingnya amanah dan kejujuran. Akan tetapi, dalam beberapa kasus, penerapan nilai-nilai moral dan sosial belum sepenuhnya konsisten karena faktor sosial yang dipertimbangkan. Secara keseluruhan, pertimbangan para hakim memberikan kontribusi dalam membangun sistem hukum ekonomi syariah yang lebih adil, transparan, dan memberikan kepastian hukum bagi masyarakat.
Prinsip Hukum Islam dan Tata Kelola Pertambangan Berkelanjutan di Indonesia: Suatu Kerangka Analiti Itishan, Bani Adam; Kurniaty; Musyfikah Ilyas
Progressive Law Review Vol. 7 No. 2 (2025): NOVEMBER 2025
Publisher : Faculty of Law-Universitas Bandar Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36448/prolev.v7i2.297

Abstract

Indonesia's considerable mineral resources including coal, nickel, copper, and bauxite are pivotal to economic development and the worldwide green energy supply chain. Nonetheless, expedited extraction has resulted in significant environmental degradation, socio-economic disruption, and legal-ethical issues, especially in areas facing deforestation, water contamination, habitat fragmentation, and community displacement. These effects underscore the urgent necessity for a governance framework that enforces regulatory compliance while incorporating ethical and environmental accountability. This study analyzes the potential of Islamic legal concepts to provide a normative and ethical framework for enhancing sustainable mining governance in Indonesia. This study aims to achieve three objectives: (1) to assess the environmental, social, and economic consequences of mineral extraction; (2) to investigate Islamic legal principles pertinent to resource governance, including maqāṣid al-sharī‘ah, khilāfah, milkiyyah ‘āmmah, ḥifẓ al-bī’ah, and hisbah; and (3) to develop a cohesive analytical framework that harmonizes Islamic jurisprudence with Indonesia’s mining regulatory framework. This article utilizes a qualitative narrative-descriptive methodology, using statutory and regulatory texts, ancient and modern Islamic legal sources, MUI fatwas, environmental reports, and recent academic research. The data were systematically categorized by theme and examined using triangulation to confirm the coherence and validity of the arguments.The results indicate that Islamic law provides a thorough ethical framework that can effectively address governance deficiencies in Indonesia's mining industry. Principles such as lā ḍarar wa lā dirār and dar’ al-mafāsid muqaddam ‘alā jalb al-maṣāliḥ offer robust ethical basis for more stringent environmental regulations, while hisbah legitimizes governmental involvement to avert ecological damage. Incorporating these concepts with national mining rules and ESG standards can improve environmental protection, guarantee equitable benefit sharing, fortify community rights, and advance intergenerational justice. This research finishes by presenting a normative-ethical framework for sustainable mining that aligns positive law with Islamic environmental jurisprudence.