Articles
Problem Posing sebagai Kemampuan Matematis
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 1 (2017): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v6i1.438
Perlunya kemampuan dalam membuat permasalahan/persoalan matematis sangat diperlukan oleh seorang guru. Hal tersebut berguna agar guru tidak hanya memberikan soal yang ada di buku saja. Guru dituntut kreatif; guru perlu memiliki kemampuan dalam membuat soal yang dibutuhkan oleh siswanya. Selama ini, kemampuan yang terus disoroti adalah kemampuan dalam menyelesaikan berbagai tipe soal dilihat dari daya pikir siswanya. Untuk kali ini, kita coba lihat dari sudut pandang perlunya kemampuan seorang guru untuk memiliki kemampuan pengajuan permasalahan matematis (mathematical problem posing) ini. Seiring dengan meningkatnya kemampuan membuat soal yang baik tentunya dapat meningkatkan kualitas pembelajaran di kelas. Kemampuan mathematical problem posing ini masih menjadi kendala bagi beberapa mahasiswa calon guru matematika, padahal kemampuan ini sangat diperlukan bagi mereka yang akan menjadi seorang guru yang baik. Oleh karena itu, pada kesempatan ini, kita akan coba paparkan problem posing sebagai suatu kemampuan matematis yang diperlukan oleh seseorang, terutama calon guru.
Perbandingan Kemampuan Komunikasi Matematis Siswa antara yang Mendapatkan Model Pembelajaran Problem Based Learning dengan Pendekatan Realistic Mathematics Education dan Open-Ended
Alamiah, Ulfah Syifa;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 2 (2017): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.442
Penelitian ini dilatar belakangi oleh rendahnya kemampuan komunikasi matematis siswa yang berdampak pada rendahnya kemampuan dalam menyelesaikan soal matematika yang menuntut kemampuan komunikasi matematis siswa. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui perbandingan kemampuan komunikasi matematis siswa antara yang mendapatkan model Pembelajaran Problem Based Learning dengan pendekatan Realistic Mathematics Education dan open-ended. Adapun metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode quasi eksperimen yang terdiri dari dua kelas, yaitu kelas eksperimen 1 yang mendapat model pembelajaran PBL dengan pendekatan RME dan kelas eksperimen 2 yang mendapat model pembelajaran PBL dengan pendekatan Open-Ended. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Cikajang dengan sampel penelitiannya adalah kelas VII A sebagai kelas eksperimen 1 dan VII B sebagai kelas eksperimen 2. Materi yang dijadikan bahan penelitian yaitu tentang sistem persamaan dan pertidaksamaan linear satu variabel (SPLSV). Instrumen penelitian ini berupa tes dengan bentuk uraian yang diberikan pada saat pretest dan posttest serta diberikan tes skala sikap siswa. Dari hasil penelitian dapat disimpulkan kemampuan komunikasi matematis antara siswa yang mendapatkan model pembelajaran Problem Based Learning menggunakan pendekatan Realistic Mathematic Education lebih baik dari pada pendekatan Open-Ended. This research is based on the low ability of students & apos mathematical communication which has an impact on the low ability to solve the mathematical problems that demand the students and apos; mathematical communication ability. This study aims to determine the comparison of students and apos; mathematical communication skills between Learning Problem Based Learning Model; with Realistic Mathematics Education and open-ended approach. The benefit of this research in general is to provide an overview of PBL learning model with RME and open-ended approach to students & apos mathematical communication ability. The research method used in this research is a quasi-experimental method consisting of two classes, namely experimental class 1 which received PBL learning model with RME approach and experiment class 2 which got PBL learning model with Open-Ended approach. The research was conducted in SMP Negeri 1 Cikajang with the research sample is class VII A as experimental class 1 and VII B as experiment class 2. The material used as research material is about system of equation and linear inequality one variable (SPLSV). The instrument of this research is a test with the form of description given at the time of pretest and posttest and given the students attitude scale test. From the results obtained pretest Ho accepted so it can be concluded that there is no significant difference in students and apos; mathematical communication between experimental class 1 and experiment class 2. From the result posttest obtained Ha accepted, so it can be concluded mathematical communication skills between students who get the model of learning Problem Based Learning Using the Realistic Mathematic Education approach is better than the Open-Ended approach. While the scale of student attitudes processed with Likert scale, and it can be concluded that students interpret both the PBL learning model with the approach of RME and open-ended.
Analisis Kemampuan Siswa dalam Menyelesaikan Soal High Order Thinking ditinjau dari Kemampuan Awal Matematis Siswa
Gais, Zakkina;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 2 (2017): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.447
Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh kemampuan awal matematis siswa terhadap penyelesaian soal-soal high order thinking ditinjau dari soal analisis, soal evaluasi, soal mencipta dan secara umum. Penelitian ini pun bertujuan untuk mengetahui kemampuan siswa dalam menyelesaikan soal-soal high order thinking serta untuk mengetahui faktor-faktor yang menyebabkan siswa keliru dalam menyelesaikan soal-soal high order thinking. Metode penelitian yang digunakan adalah metode campuran dengan jenis embedded concurrent. Dari hasil penelitian diperoleh terdapat pengaruh kemampuan awal matematis siswa terhadap penyelesaian soal high order thinking dalam segala aspek. Siswa dikategorikan mampu menyelesaikan soal-soal high order thinking. Faktor-faktor yang menyebabkan siswa keliru dalam menyelesaikan soal-soal high order thinking diantaranya adalah kurang teliti dalam proses pengerjaan soal, kemampuan awal matematis siswa yang rendah, proses yang dilalui selama pembelajaran tidak maksimal, kurangnya pemahaman siswa terhadap soal, ketidaklengkapan dalam membaca soal dan kurangnya perhatian dari orang tua. This research aims to know the effect of prior mathematical students' ability to solve on high order thinking questions looked by analysis question, evaluation question, creating question and genera question. This research also aims to know about students' ability in solving high order thinking question and to know about the factors that cause students to be wrong in solving high order thinking questions. The research method that used is mixed method with embedded concurrent type. From the result of the research, it is gotten there is an effect of prior mathematical students' ability to solve high order thinking question in all aspects. Students are categorized able to solve high order thinking questions. The factors that cause student to be wrong in solving high order thinking question are less careful in the process of solving the question, the prior mathematical student's ability is low, the process traversed during learning is not maximal, the lack students understanding to the question, incompleteness in reading the questions and the lack of attention of their parents.
Analisis Kesulitan Siswa dalam Proses Pemecahan Masalah Geometri Berdasarkan Tahapan Berpikir Van Hiele
Sholihah, Silfi Zainatu;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 2 (2017): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v6i2.451
Matematika memiliki peranan penting dalam kehidupan. Namun, dalam praktik pembelajarannya sebagian siswa masih menganggap matematika sebagai mata pelajaran yang sulit. Bukti-bukti di lapangan menunjukkan bahwa hasil belajar geometri masih rendah. Kesulitan pada materi geometri dapat berdampak pada kesulitan-kesulitan bagian lain dalam materi geometri itu sendiri, karena banyak pokok bahasan dalam geometri yang saling berhubungan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor penyebab kesulitan siswa dalam proses pemecahan masalah geometri berdasarkan tahapan berpikir Van Hiele serta untuk melihat ketercapaian siswa dalam pemahaman geometri berdasarkan tahapan berpikir geometri Van Hiele. Metode penelitian yang digunakan adalah metode penelitian kualitatif dengan jenis penelitian studi kasus. Subjek penelitian yang diambil sebanyak 6 siswa dari kelas VII C SMP Negeri 6 Garut. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ketercapaian siswa pada proses pemecahan masalah geometri berdasarkan tahapan berpikir Van Hiele paling banyak adalah pada tahap 0 (visualisasi). Hal ini ditunjukkan dengan tingginya persentase pencapaian siswa pada tahap visualisasi yaitu sebanyak 96,87 %. Ketercapaian tahapan berpikir Van Hiele yang paling baik dicapai sebesar 3,13% pada tahap 1 (Analisis). Untuk tahap 2 (deduksi informal) dan tahap 3 (deduksi) belum ada siswa yang mampu mencapai tahapan tersebut. Faktor yang menjadi penyebab kesulitan siswa dalam materi segiempat disebabkan karena beberapa hal, yaitu pemahaman mengenai konsep dan sifat-sifat segiempat yang kurang, pemahaman sebelumnya mengenai materi bangun datar segiempat yang masih kurang kuat, kurangnya keterampilan menggunakan ide-ide geometri dalam memecahkan masalah matematika yang berkaitan dengan bangun segiempat, serta kondisi kelas yang kurang kondusif untuk belajar. Mathematics has an important role in life. However, in the practice of learning some students still regard mathematics as a difficult subject. The evidence in the field shows that the geometry learning result is still low. Difficulties in geometrical matter can affect the difficulties of other parts of the material itself, since many of the subjects in the geometry are interconnected. This study aims to determine the factors causing student difficulties in the process of solving geometry problems based on the stages of thinking Van Hiele and to see students' achievement in understanding geometry based on the stages of thinking geometry Van Hiele. The research method used is qualitative research method with case study research type. Research subjects taken as many as 6 students from class VII C SMP Negeri 6 Garut. The results showed that students' achievement in the process of solving geometry problems based on the stage of thinking Van Hiele at most is at stage 0 (visualization). This is indicated by the high percentage of student achievement in the visualization stage that is as much as 96.87%. The achievement of the best stage of Van Hiele thinking was achieved at 3.13% in stage 1 (Analysis). For stage 2 (informal deduction) and stage 3 (deduction) no students have been able to reach that stage. Factors that cause student difficulties in rectangular material caused by several things, namely the understanding of the concept and the characteristic of the rectangle is lacking, previous understanding of the material wake rectangular flat that is still less strong, the lack of skills to use geometric ideas in solving math problems Relating to wake-up quadrilateral, as well as class conditions that are less conducive to learning.
Desain Lintasan Pembelajaran Pecahan melalui Pendekatan Realistic Mathematics Education
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 6 No. 3 (2017): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v6i3.468
Keberhasilan pendidikan dipengaruhi oleh berbagai pelaku yang terlibat didalamnya, khususnya keefektifan seorang pendidik dalam mengelola lingkungan belajarnya. Peningkatan kualitas pendidikan diperlukan sebagai alat ukur dalam mencapai tingkat keberhasilan pendidikan yang lebih baik. Pada penelitian ini, peneliti memiliki tujuan untuk meningkatkan kualitas pendidikan matematika melalui masukan desain pembelajaran yang dapat digunakan oleh pendidik. Peningkatan ini pun urgen diperlukan untuk meningkatkan kemampuan peserta didik Indonesia karena dalam beberapa ajang tes matematika skala internasional, peserta didik Indonesia di level tertentu masih memberikan hasil yang kurang baik. Pendekatan Realistic Mathematics Education (RME) dijadikan sebagai solusi peningkatan kualitas peserta didik. RME mendasari desain dari seluruh konteks dan kegiatan pembelajaran. Design research dipilih sebagai sarana yang tepat untuk mencapai tujuan; dilakukan dalam tiga tahap, desain pendahuluan, percobaan mengajar, dan analisis retrospektif. Penelitian ini melibatkan 6-8 mahasiswa calon guru pada siklus pertama dan 30-40 mahasiswa calon guru pada siklus kedua bertempat di STKIP Garut. Hasil penelitian ini dapat menunjukkan bahwa serangkaian kegiatan pembelajaran RME dapat membuat mahasiswa calon guru tidak lagi keliru dalam memahami topik pecahan secara detail. The successes of education is influenced by the various factors involved in it, especially the effectiveness of an educator in managing his learning environment. Improving the quality of education is needed as a measuring tool in achieving a better level of educational successes. In this study, researchers have a goal to improve the quality of mathematics education through instructional design input that can be used by educators. This improvement is also urgent to improve the ability of Indonesian students because in some international scale mathematical tests, Indonesian students at medium level still give unfavorable results. Realistic Mathematics Education (RME) Approach serves as a solution to improve the quality of learners. RME underlies the design of all contexts and learning activities. Design research is chosen as an appropriate means to achieve the goal; conducted in three stages, preliminary design, teaching experiments, and retrospective analysis. This study involved 6-8 prospective teacher students in the first cycle and 30-40 student prospective teachers in the second cycle housed in STKIP Garut. The results of this study can show that a series of RME learning activities can make prospective students no longer mistaken in understanding the topic of fractions in detail.
Perbandingan Kemampuan Pemahaman Matematis Siswa melalui Auditory Intellectualy Repetition dan Student Teams Achievement Division
Ridia, Noni Siti;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 8 No. 3 (2019): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v8i3.586
Kondisi pembelajaran saat ini cenderung kurang melibatkan siswa dalam proses pembelajaran meskipun siswa tampak mengikuti pembelajaran matematika dengan baik serta kemampuan pemahaman matematis siswa masih tergolong rendah. Strategi yang dapat melibatkan siswa dan meningkatkan kemampuan pemahaman dalam pembelajaran diantaranya model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition dan Student Teams Achievement Division. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuasi eksperimen dengan desain Nonequivalent control group design. Sampel penelitian yang diambil sebanyak 59 orang dari dua kelas, yaitu kelas VII-D menggunakan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition sebanyak 29 orang dan kelas VII-E menggunakan model pembelajaran Student Teams Achievement Division sebanyak 30 orang. Instrumen yang digunakan yaitu tes kemampuan pemahaman matematis dan angket skala sikap. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kemampuan pemahaman matematis siswa yang mendapatkan model pembelajaran Auditory Intellectually Repetition tidak lebih baik daripada siswa yang mendapatkan model pembelajaran kooperatif tipe Student Teams Achievement Division. The current learning conditions tend to involve fewer students in the learning process even though students seem to follow mathematics learning well and the students' mathematical understanding ability is still relatively low. Strategies that can involve students and improve the ability to understand in learning include the Auditory Intellectually Repetition learning model and Student Teams Achievement Division. This research method uses quasi-experimental research with Nonequivalent control group design. The research sample was taken as many as 59 people from two classes, namely class VII-D using the Auditory Intelligence Repetition learning model as many as 29 people and class VII-E using 30 students Teams Achievement Division learning model. The instrument used is a mathematical understanding ability test and attitude scale questionnaire. The results showed that the students' mathematical comprehension ability who received the Auditory Intellectually Repetition learning model was no better than the students who received the cooperative learning model of Student Teams Achievement Division.
Peningkatan Kemampuan Berpikir Kreatif Matematis Siswa melalui Creative Problem Solving
Faturohman, Ikhsan;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 9 No. 1 (2020): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v9i1.596
Berbagai penelitian mengemukakan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa masih rendah. Siswa hanya mencontoh apa yang dikerjakan guru, tanpa makna, sehingga dalam menyelesaikan soal, siswa menganggap cukup mengerjakan seperti apa yang dicontohkan. Tujuan dari penelitian ini untuk mendapatkan bukti empiris serta mengetahui bagaimana peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa dengan penggunakan model pembelajaran Creative Problem Solving. Metode penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah kuasi eksperimen dengan satu kelas sebagai kelas eksperimen. Instrumen yang digunakan dalam penelitian ini berupa soal tes uraian yang diberikan sebelum dan setelah diterapkannya model pembelajaran, dengan pokok bahasan materi fungsi. Populasi pada penelitian ini adalah seluruh siswa kelas X SMAN 25 Garut dengan sampel satu kelas yaitu, kelas X MIA 3 sebanyak 32 siswa, diambil secara purposive sampling. Hasil penelitian menunjukan bahwa secara statistik peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis kelas Creative Problem Solving bartaraf sedang, maka dapat disimpulkan bahwa terdapat peningkatan kemampuan berpikir kreatif matematis siswa yang menggunakan model Creative Problem Solving. Different studies propose that students' mathematical creative thinking abilities are still weak. Students only imitate what the teacher is doing, without meaning, so that in solving problems, students assume enough to do as what is explained. The objective of this study is to obtain empirical evidence and find out how to enhance students' mathematical creative thinking abilities by using the Creative Problem-Solving learning model. The study method is a quasi-experiment with one class as an experimental class. The instrument was in the form of a test item given before and after the learning model was performed, with the subject theme functioning. The population in this study were all students of class X SMAN 25 Garut with a sample of one class that is, class X MIA 3 as many as 32 students, taken by purposive sampling. The outcomes of the study revealed that statistically increasing the ability to think mathematically in a creative class of moderate problem-solving problem, it can be assumed that there was an improvement in students' mathematical creative thinking ability using the model of creative problem-solving.
Mendesain Soal Berbasis Masalah untuk Kemampuan Berpikir Kritis Matematis Calon Guru
Afriansyah, Ekasatya Aldila;
Herman, Tatang;
Turmudi;
Dahlan, Jarnawi A
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 9 No. 2 (2020): Mei
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v9i2.607
Mahasiswa calon guru yang memiliki kemampuan berpikir kritis matematis diharapkan dapat memecahkan permasalahan yang berkaitan dengan konsep matematika ataupun konsep didaktiknya. Fokus keterampilan berpikir kritis matematis pada mahasiswa calon guru adalah kemampuan untuk mengidentifikasi permasalahan, mencari strategi, melakukan refleksi kembali, dan menganalisis permasalahan matematika. Penelitian ini bertujuan untuk mendesain soal berbasis masalah yang valid dalam meningkatkan kemampuan berpikir kritis matematis mahasiswa calon guru dalam berbagai materi pendidikan menengah. Penelitian ini mengambil jenis penelitian pengembangan, terdiri dari studi literatur, observasi, dan pengembangan soal. Kesimpulan dari penelitian ini hasil validasi expert menunjukan nilai validitas muka 80,35% dan nilai validitas isi 86,85%. Hal ini berarti soal-soal berbasis masalah untuk meningkatkan keterampilan berpikir kritis matematis dapat digunakan sebagai bahan pembelajaran dalam mata kuliah Kapita Selekta Matematika Pendidikan Dasar 1 untuk mahasiswa calon guru. Prospective teacher students who can think critically mathematically are expected to be able to solve problems related to mathematical concepts or didactic concepts. The focus of mathematical critical thinking abilities on prospective teacher-students is the ability to identify problems, find strategies, reflect, and analyze mathematical problems. This study aims to design a valid and practical problem-based activity question to improve students' mathematical critical thinking abilities of prospective teachers in various secondary education materials. This research takes the type of Research and Development, consisting of a study of literature, observation, and development of questions. The conclusion from this study the results of expert validation showed an advance validity value of 80.35% and a value of content validity of 86.85%. This means that problem-based activity questions to improve mathematical critical thinking abilities can be used as learning material in the Kapita Selekta Mathematics Basic Education 1 course for prospective teacher students.
Analisis Miskonsepsi Siswa SMP pada Materi Operasi Hitung Bentuk Aljabar
Sari, Herikeu Meidia;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 9 No. 3 (2020): September
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v9i3.626
Rendahnya kemampuan pemahaman konsep siswa pada materi operasi hitung bentuk aljabar menjadi salah satu permasalahan yang ditemui saat belajar materi Aljabar. Banyak miskonsepsi yang ditemukan pada materi operasi hitung bentuk aljabar. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui bentuk miskonsepsi yang dialami siswa pada materi operasi hitung bentuk aljabar. Metode penelitian yang digunakan adalah metode kualitatif. Penelitian dilaksanakan di SMP Negeri 1 Cibatu kelas VII-H yang berjumlah sebanyak 32 siswa dengan 3 siswa dipilih secara purposive sampling untuk dijadikan partisipan pilihan. Teknik analisis data secara deskriptif melihat hasil jawaban siswa, hasil wawancara, serta dokumentasi menggunakan model Miles and Huberman, sehingga triangulasi data terpenuhi. Dari hasil penelitian ditemukan beberapa miskonsepsi yang dialami siswa pada materi operasi hitung bentuk aljabar yang dikategorikan dalam empat jenis, diantaranya miskonsepsi generalisasi, miskonsepi notasi, miskonsepsi pengartian huruf dan misonsepsi aplikasi aturan. Diketahuinya keempat miskonsepsi ini diharapkan guru-guru dapat lebih waspada saat mengajar materi aljabar terhadap keempat miskonsepsi ini.
Analisis Miskonsepsi Siswa pada Bilangan Berpangkat
Nurkamilah, Puji;
Afriansyah, Ekasatya Aldila
Mosharafa: Jurnal Pendidikan Matematika Vol. 10 No. 1 (2021): Januari
Publisher : Department of Mathematics Education Program IPI Garut
Show Abstract
|
Download Original
|
Original Source
|
Check in Google Scholar
|
DOI: 10.31980/mosharafa.v10i1.640
Beberapa hasil penelitian terdahulu menunjukkan adanya miskonsepsi yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal bilangan berpangkat. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis bentuk miskonsepsi yang sering dilakukan siswa dalam menyelesaikan soal bilangan berpangkat. Adapun jenis penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah penelitian kualitatif. Hal ini bertujuan untuk mendapatkan pemahaman yang mendalam mengenai bentuk miskonsepsi yang dialami siswa dalam menyelesaikan soal yang berkaitan dengan bilangan berpangkat. Penelitian dilaksanakan di MTsN 2 Garut dengan sumber data dalam penelitian ini adalah 32 siswa, dengan fokus hanya pada tiga orang siswa saja, masing-masing siswa berkemampuan tinggi, siswa berkemampuan sedang dan siswa berkemampuan rendah dalam pembelajaran matematika. Instrumen dalam penelitian ini berupa tes, disertai wawancara. Dari hasil penelitian diperoleh bahwa pada materi bilangan berpangkat ini, terdapat siswa yang mengalami miskonsepsi generalisasi, miskonsepsi notasi, miskonsepsi penspesialisasian, dan miskonsepsi bahasa. Some of the results of previous research showed that there were misconceptions experienced by students in solving exponential questions. This study aims to analyze the form of misconceptions that students often do in solving exponential questions. The type of research used in this research is qualitative research. This aims to gain a deep understanding of the form of misconceptions experienced by students in solving questions related to exponents. The research was conducted at MTsN 2 Garut with data sources in this study were 32 students, with a focus on only three students, each student with high ability, students with the medium ability, and students with low abilities in learning mathematics. The instrument in this study was a test, accompanied by an interview. From the research results, it was found that in this exponential number material, there were students who experienced misconception of generalization, the misconception of notation, the misconception of specialization, and misconception of language.