Claim Missing Document
Check
Articles

Found 35 Documents
Search
Journal : Chemical Engineering Journal Storage (CEJS)

PENGARUH PENAMBAHAN EKSTRAK BONGGOL NANAS (ENZIM BROMELIN) PADA PEMBUATAN KECAP IKAN DARI IKAN LEMURU (SARDINELLA LEMURU) Reza Dwi Fani; Meriatna Meriatna; Masrullita Masrullita; Suryati Suryati; Agam Muarif
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 2 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i2.7295

Abstract

Ikan merupakan sumber protein hewani utama, yang kaya akan protein dan mempunyai daya cerna mencapai 80%. Karena sifat fisik ikan cepat mengalami pembusukan, khususnya pada iklim tropis dan kelembapan yang tinggi, maka perlu dilakukan pengawetan dan pengolahan salah satunya adalah dengan mengolah ikan menjadi kecap ikan melalui proses fermentasi, ikan yang digunakan pada penelitian ini adalah ikan lemuru, Tujuan penelitian ini adalah untuk menganalisis pengaruh waktu fermentasi dan pengaruh lama fermentasi terhadap kadar protein, kadar air, dan pH. Pada penelitian ini proses hidrolisis dilakukan dengan menambahkan ektrak bonggol nanas (Enzim Bromelin) kedalam daging ikan yang sudah dihaluskan, dengan kosentrasi ekstrak bonggol nanas 5%, 10%, 15%, dan 20% , dan waktu fermentasi selama 1, 3, 5, dan 7 hari. Analisis dilakukan terhadap produk kecap ikan yang meliputi uji kadar protein, kadar air dan pH. Hasil percobaan menunjukkan bahwa kecap ikan secara optimum dapat diproduksi dari ikan lemuru dengan ekstrak bonggol nanas (Enzim Bromelin) sebanyak 20% dan waktu fermentasi 7 hari.
Pembuatan Sabun Mandi Padat dengan Penambahan CHarcoal dariTempurung Kemiri Nurlian Nurlian Nurlian; Sulhatun Sulhatun; Suryati Suryati; Meriatna Meriatna; Agam Muarif
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 2 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i2.7233

Abstract

Cangkang kemiri merupakan limbah yang dapat dimanfaatkan sebagai bahan baku pembuatan karbon aktif (charcoal). Pemanfaatan limbah cangkang kemiri ini dimaksudkan untuk menanggulangi penumpukan limbah cangkang kemiri dan  diharapkan dapat menghasilkan produk yang aman dan ramah lingkungan. Adapun tujuan penelitian ini adalah Menemukan komposisi terbaik dari sabun mandi padat yang telah ditambahkan Charcoal, Menguji kualitas sabun mandi padat yang dibuat dengan variasi penambahan massa Charcoal dan pengaruh perbandingan minyak zaitun pomace dan minyak kelapa (VCO) dan Mengkaji pengaruh penambahan massa Charcoal dan pengaruh perbandingan minyak zaitun pomace dan minyak kelapa (VCO) terhadap nilai pH, kadar air, kadar alkali bebas dan uji organoleptik. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan proses yaitu meliputi tahap persiapan bahan baku  tahap pengayakkan arang aktif, tahap pembuatan sabun dan tahap Maturing. Adapun variasi massa charcoal yang digunakan yaitu 2,5 gr, 5 gr 7,5 gr, 10 gr dan 12,5 gr. Dengan variasi perbandingan minyak zaitun pomace dan minyak kelapa (VCO) 100:100, 125:75, 150:50 ml. Hasil penelitian menunjukkan minyak zaitun pomace  memiliki kadar air lebih tinggi dibandingkan minyak kelapa. Semakin besar perbandingan minyak zaitun yang digunakan daripada minyak kelapa maka kadar air yang dihasilkan semakin tinggi. Kadar alkali bebas tertinggi yaitu 0,081 yang berada pada massa charcoal 12,5 gram dengan perbandingan minyak yang digunakan sebesar 150:50. Adapun standar kualitas sabun telah diatur dalam SNI 3532-2016 yaitu dengan kadar air maksimal kurang dari 14%, kadar alkali bebas maksimal kurang dari 0,1%. Pada setiap sampel telah memenuhi SNI 3532-2016. Pada uji organoleptik, panelis lebih menyukai run 2, 8 dan 10 dengan massa Charcoal 5gr, 7,5gr dan 12,5gr.
PEMBUATAN TAWAS DARI LIMBAH KALENG MINUMAN BEKAS Rati Halimatussakdiyah; Jalaluddin Jalaluddin; Agam Muarif; Masrullita Masrullita; Sulhatun Sulhatun
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 2 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i2.7437

Abstract

Semua kaleng minuman rata-rata terbuat dari aluminium sehingga sangat memungkinkan untuk dimanfaatkan dalam pembuatan tawas. Tawas atau alum adalah suatu senyawa aluminium sulfat dengan rumus kimia [Al2(SO4)212H2O].  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk menentukan kualitas kadar tawas sintesis yang dihasilkan dari limbah   kaleng minuman dan menentukan pengaruh rasio alunimium (Al), kalium hidroksida (KOH) dalam pembuatan tawas. Pada penelitian ini digunakan konsentrasi KOH 10 %, 20%, 30% 40%, 50% dan H2SO4 8M dengan berat sampel 5 gram. Dari penelitian ini diperoleh yield tawas yang paling besar (maksimum) diperoleh pada konsentrasi KOH 30% dengan konsentrasi H2SO4 8M. Yield tawas yang diperoleh oleh tawas dari kaleng lasegar yaitu 88,45%, sedangkan tawas yang dihasilkan dari kaleng redbull yaitu 75,48%. Yield tawas dari kaleng lasegar lebih baik daripada kaleng redbull dikarenakan jumlah yield mendekati 100%. Tawas yang berasal dari kaleng lasegar lebih baik dibandingkan tawas yang berasal dari kaleng redbull dengan kadar alumunium 4,64%. Tawas yang diperoleh berbentuk kristal berwarna putih.
ADSORPSI ZAT WARNA METHYLENE BLUE MENGGUNAKAN ADSORBEN DARI AMPAS TEH PADA KOLOM Nur Asiah Indah Rahayu; Novi Sylvia; Syamsul Bahri; Meriatna Meriatna; Agam Muarif
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 2 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i2.7030

Abstract

Methylene blue (MB) merupakan zat pewarna yang umum digunakan pada industri tekstil dan senyawa ini memiliki gugus benzene sehingga sulit untuk terurai secara alami. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji tinggi unggun yang digunakan pada penyisihan methylene blue menggunakan ampas teh. Parameter operasi yang efektif seperti konsentrasi adsorbat, tinggi unggun dan waktu kontak pada adsorpsi telah diselidiki. Data model kinetik dianalisa menggunakan model orde pertama semu, orde kedua semu. Hasil penelitian menunjukkan bahwa kondisi yang terbaik untuk waktu operasi adsorben yang digunakan dengan konsentrasi adsorbat 15 mg/L pada tinggi unggun 8, 12 dan 16 cm berturut-turut yaitu 60 menit, 60 menit dan 75 menit dengan efesiensi penyerapan sebesar 98.4793%, 99.3441% dan 99.4883%. Mekanisme kesetimbangan adsorpsi dipelajari dengan menggunakan dua jenis isotehrm, yaitu isoterm Langmuir dan Freundlich.  Fenomena dari adsorpsi MB ke ampas teh didapatkan bahwa model Freunlich lebih sesuai dalam menjelaskan kesesauaian antara data ekperimen dengan data yang diperoleh dari model. Hal ini juga dapat dibuktikan bahwa nilai koefisien korelasinya (R2) yang diperoleh juga lebih tinggi untuk Freunlich dari pada Langmuir, yaitu 0.9764.
Pemanfaatan Limbah padat Industri asap cair (Arang Tempurung Kemiri) Untuk Pembuatan Sabun Cuci Piring Maryanti Maryanti; Sulhatun Sulhatun; Meriatna Meriatna; Suryati Suryati; Agam Muarif
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 2 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i2.7231

Abstract

Limbah yang dihasilkan dari proses pemecahan biji kemiri berupa tempurung kemiri belum dimanfaatkan secara optimal. Saat ini limbah padat industri asap cair (arang tempurung kemiri) dapat digunakan untuk proses pembuatan sabun cuci piring dengan demikian dapat memanfaatkan limbah pada industri asap cair. Adapun tujuan penelitian ini mengetahui pengaruh massa charcoal dan waktu pengadukan terhadap produk sabun cuci piring yang dihasilkan, mengetahui pengaruh massa charcoal dan waktu pengadukan terhadap kualitas sabun cuci piring yang dihasilkan, dan mengetahui kondisi proses terbaik terhadap nilai pH, kadar alkali bebas, dan bobot jenis. Penelitian ini dilakukan dengan beberapa tahapan proses yaitu meliputi tahap persiapan bahan baku, dan tahap proses pencampuran. Pada penelitian ini dengan kondisi terbaik pada proses pembuatan sabun cuci piring cair dengan massa charcoal 1 gr dan 1,5 gr dengan waktu pencampuran 15 menit yaitu dengan kadar alkali bebas maksimal kurang dari 0,1%. Pada setiap sampel telah memenuhi SNI 06-4075-1996, pada nilai pH yang terbaik adalah 6-8 dengan itu nilai pH pada sabun cair telah memenuhi SNI 1996, dan pada bobot jenis 0,890026 dan 0,889937.Kata kunci:Charcoal,   Sabun Cuci Piring, Standard nasional Indonesia.dan Waktu Pengadukan
PEMANFAATAN EKSTRAK DAUN RAMBUTAN SEBAGAI INHIBITOR KOROSI PADA PLAT BESI DALAM MEDIA AIR PAYAU Rizzki Andira; Zulnazri Zulnazri; Syamsul Bahri; Azhari Azhari; Agam Muarif
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 3 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i3.6507

Abstract

AbstrakKorosi adalah peristiwa kerusakan atau penurunan mutu suatu logam akibat reaksi elektrokimia dengan lingkungannya. Penanganan masalah korosi dapat dilakukan dengan menambahkan inhibitor korosi dari ekstrak daun rambutan yang mengandung tanin dan dapat membentuk senyawa komplek dengan besi (III) oksida pada permukaan logam, sehingga terjadinya penurunan laju reaksi korosi.  Inhibitor korosi merupakan suatu zat yang jika ditambahkan ke dalam suatu lingkungan, dapat menurunkan laju korosi lingkungan itu terhadap suatu logam. Studi pemanfaatan ekstrak daun rambutan sebagai inhibitor  korosi pada plat besi dilakukan pada penelitian di laboratorium dengan menggunakan metode perendaman. Media korosif yang digunakan dalam penelitian adalah air payau yang telah ditambahkan inhibitor. Inhibitor yang digunakan merupakan inhibitor organik yang diperoleh dari ekstrak daun rambutan. Perendaman dilakukan dalam interval waktu 4 hari, 8 hari, 12 hari, 16 hari , dan 20 hari dengan konsentrasi inhibitor 0 ppm, 60 ppm, 120 ppm, dan 180 ppm. Laju korosi dihitung dengan menggunakan metode weight loss, hasil pengujian yang dilakukan menunjukkan bahwa penyerangan korosi secara merata terjadi dipermukaan logam, Besarnya laju korosi dinyatakan sebagai besarnya kehilangan berat benda uji per satuan luas permukaan per satuan waktu perendaman. Dari hasil penelitian menunjukkan bahwa laju korosi pada plat besi dalam lingkungan air payau menurun secara signifikan seiring meningkatnya konsentrasi inhibitor dan lamanya waktu perendaman. Penurunan ini terjadi karna adanya pembentukan lapisan protektif ekstrak tanin pada permukaan plat besi, sehingga melindungi plat besi dari serangan korosi. Laju korosi terendah dan efesiensi inhibisi tertinggi diperoleh pada perendaman 20 hari dengan konsentrasi 180 ppm yaitu  2,85 mmpy dan 81,06%
Pembuatan Furfural Dari Ampas Tebu Dengan Metode Hidrolisis Menggunakan Katalisator Asam Sulfat Rizki Ramadhan; Syamsul Bahri; Agam Muarif; Jalaluddin Jalaluddin; Rizka Nurlaila
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 3 (2022): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Agustus 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i3.6558

Abstract

Proses pembuatan furfural dari biomassa (ampas tebu) melalui dua tahap reaksi, yaitu hidrolisa dan dehidrasi. Pertama kali mengalami hidrolisa pentosan menjadi pentosa, yang diikuti dengan tahap dehidrasi pentosa menjadi furfural dengan bantuan katalis asam sulfat. Produk yang dihasilkan dianalisa jumlah dan konsentrasi furfural yang dihasilkan dengan cara titrasi menggunakan larutan Na2S2O3 0.1 N, analisa densitas dengan alat piknometer dan analisa viskositas menggunakan alat viskositas Ostwald. Proses hidrolisa ini berlangsung pada temperatur 1100C serta konsentrasi asam sulfat 10% dengan volume 150 ml dan menggunakan pelarut aquades 40 ml dan juga memvariasikan ukuran sampel sebesar 20, 50, 80 dan 100 mesh dan waktu operasi 90, 120, 150 dan 180 menit. Hasil terbaik diperoleh pada penelitian kali ini pada ukuran bahan baku 100 mesh dengan waktu operasi 150 menit dan jumlah furfural yang dihasilkan sebesar 0.2467 gram dengan konsentrasi furfural sebesar 1.656 gr/L.
Pembuatan Gelatin Dari Tulang Ikan Bandeng Dengan Metode Ekstraksi Dan Variasi Konsentrasi Asam Sitrat Dennis Eka Syahputra; Agam Muarif; Suryati Suryati; Azhari Azhari; Rizka Mulyawan
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 2, No 4 (2022): Chemical Engineering Journal Storage - Oktober 2022
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v2i4.7842

Abstract

Gelatin merupakan bahan tambah pangan yang digunakan dalam pengemulsi, pengental, penstabil makanan. Gelatin adalah salah satu jenis protein yang berbentuk gel yang didapatkan dari hasil denaturasi kolagen kulit, tulang dan jaringan ikan. Gelatin pada penelitian ini diperoleh dari hasil ekstraksi tulang ikan bandeng. Tulang ikan, dihilangkan lemak dan kotorannya pada suhu 70oC selama 30 menit, Kemudian direndam menggunakan pelarut asam sitrat dengan variasi konsentrasi 7%, 9%, 11% dan 13% hingga terbentuk ossein. Ossein yang terbentuk, diekstraksi pada suhu 60oC selama 5 jam menggunakan akuades 1:2(massa/volume), Hasil ekstraksi disaring dan dikeringkan menggunakan oven pada suhu 60oC selama 48 jam. Berdasarkan hasil penelitian, analisa gelatin dari tulang ikan bandeng yang paling baik menghasilkan rendemen 5,09 % pada konsentrasi 13 % dengan lama perendaman 48 jam, kadar air 4,55 % pada konsentrasi 9% dengan lama perendaman 24 jam, kadar abu 1,58 % dengan konsentrasi 13 % di lama perendaman 48 jam serta kadar protein 70,9% dengan konsentrasi 9 % dan lama perendaman 48 jam. Analisis FTIR gelatin pada penelitian ini menunjukkan karakteristik yang sama dengan gelatin dipasaran. Hal ini ditunjukkan munculnya puncak pada bilangan gelombang gugus hidroksil (OH) pada 3579,88 cm-1, gugus amina (NH) pada 1541,12 cm-1, karbonil (C=O) pada1672,28 cm-1, C-H aromatis pada 2932,56cm-1 dan 2937,23 cm-1.
PENGARUH TEMPERATUR ROASTING BIJI KOPI TERHADAP KANDUNGAN KAFEIN MENGGUNAKAN SPEKTROFOTOMETRI UV-VIS Andri Nur rizky; Agam Muarif; Syamsul Bahri; Novi Sylvia; Eddy Kurniawan; Wiza Ulfa Fibarzi
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 1 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - April 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i1.9279

Abstract

Proses Roasting adalah proses pembentukan rasa dan aroma pada biji kopi. Apabila biji kopi memiliki keseragaman dalam ukuran, specific grafity, tekstur, kadar air dan struktur kimia, maka proses penyangraian akan relatif lebih mudah untuk dikendalikan. Penelitian ini dilakukan untuk memberikan informasi kepada masyarakat tentang kadar kafein dalam kopi yang diroasting dengan variasi temperatur tertentu. Rancangan penelitian yang digunakan adalah Rancangan Acak Lengkap (RAL) Faktorial dengan perlakuan variasi temperatur dan Jenis biji kopi, temperatur roasting terdiri dari suhu 195°C, 205°C, dan 215°C sedangkan biji kopi terdiri dari biji kopi jenis Arabika dan Robusta yang diambil dari kecamatan Timang gajah kabupaten Bener meriah provinsi Aceh. Hasil analisis sidik ragam (ANOVA) menunjukkan bahwa variasi temperatur dan jenis biji kopi berpengaruh sangat nyata terhadap kadar air dan kadar kafein. Perlakuan roasting biji kopi Arabika pada temperatur tertinggi yaitu 2150C Menghasilkan kadar kafein sebesar 15,43788 ppm dan kadar air sebesar 1,42%, sedangkan untuk temperatur terendah yaitu 1950C menghasilkan kadar kafein sebesar 12,07424 ppm dan kadar air sebesar 2,59 %. dan Perlakuan roasting biji kopi Robusta pada temperatur tertinggi yaitu 2150C Menghasilkan kadar kafein sebesar 22,92273 ppm dan kadar air sebesar 3,9 % sedangkan untuk temperatur terendah yaitu 1950C menghasilkan kadar kafein sebesar 18,24091 ppm dan kadar air sebesar 6,58%. Semakin tinggi temperatur maka semakin gelap warna kopi hasil roasting. Pengujian kadar kafein dalam kopi dilakukan dengan metode Spektrofotometri UV-Vis pada panjang gelombang 275 nm. Berdasarkan uji organoleptik kopi Arabika yang paling disukai panelis adalah kopi yang diroasting pada suhu 205˚C, sedangkan kopi Robusta yang paling disukai oleh panelis adalah kopi yang diroasting pada suhu 205°C.Kata kunci:Biji kopi Arabika, Biji kopi Robusta, Roasting, Temperatur, Uv - Vis
PENGARUH SUHU DAN WAKTU EKSTRAKSI TERHADAP KUALITAS PEKTIN DARI LIMBAH KULIT PEPAYA Eva Diana; Agam Muarif; Ishak Ibrahim; Meriatna Meriatna; Zainudding Ginting
Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) Vol 3, No 3 (2023): Chemical Engineering Journal Storage (CEJS) - Juni 2023
Publisher : LPPM Universitas Malikussaleh

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29103/cejs.v3i3.9716

Abstract

Pektin adalah senyawa polisakarida kompleks yang terdapat dalam dinding sel tumbuhan dan dapat ditemukan dalam berbagai jenis tanaman pangan. Pektin banyak digunakan dalam industri makanan, farmasi dan kosmetik sebagai bahan perekat, pengental dan penstabil agar tidak terbentuk endapan. Salah satu tanaman yang memiliki kandungan pektin adalah buah pepaya, pektin terkandung dalam seluruh bagian tanaman pepaya, oleh karena itu peneliti memanfaatkan limbah kulit pepaya yang sudah tidak dimanfaatkan lagi sebagai bahan baku pembuatan pektin. Penelitian ini bertujuan untuk menentukan pengaruh suhu dan waktu ekstraksi terhadap pektin yang dihasilkan. Penelitian ini sudah pernah dilakukan sebelumnya tetapi dengan menggunakan variasi konsentrasi pelarut asam sitrat. Sedangkan pada penelitian ini menggunakan pelarut asam klorida dengan variasi suhu dan waktu ekstraksi.  Variabel bebas yang digunakan pada penelitian ini yaitu suhu 70◦C, 80◦C dan 90◦C dengan waktu 60 menit, 75 menit, 90 menit, 105 menit dan 120 menit. Sedangkan variabel terikat yang digunakan yaitu rendemen, uji kadar air, berat ekivalen, kadar metoksil dan pembuatan permen jeli. Hasil penelitian didapatkan rendemen pektin tertinggi 14,17%, kadar air terendah 4,48%, berat ekivalen terendah 510,20 mg dan kadar metoksil tertinggi 6,63% pada suhu 90oC dengan waktu 120 menit. Pektin yang dihasilkan pada penelitian ini sudah memenuhi Standar Nasional Indonesia berdasarkan nilai kadar air dan kadar metoksil.
Co-Authors Ade Ikhsan Kamil Adi Setiawan Afra, Khalida Ahmad Fikri Ahmad Fikri Ahmad Fikri Al Usrah, Cut Rizka Amalia, Nabila Amalia, Nabuia Amri Amri Andri Nur rizky Annisa Aulia Ar Razi Arafah, Sadinda Arif Maulana Ashari, Muhammad Rayhan Aulia, Rauzatul Aulia, Yeni Authar, Mhammad Azhari Azhari Azhari Azhari Bakhtiar Bakhtiar Dedi Fariadi Dennis Eka Syahputra Dewi Kumala Sari Dini Rizki Eddy Kurniawan Elviana, Suci Eva Diana Faisal Faisal Fatnia, Fatnia Fibarzi, Wiza Ulfa Fioza Ozly Erian Firda, Hanisyah Gusti Indah Sari Ibrahim, Ishak Ilhami, Gita Ayu Isa, Muzamir Ishak Ibrahim Ishak Ishak Jalaluddin Jalaluddin Kamar, Iqbal Khairul Anshar Khairul Anshar Kurniawati Kurniawati Kurniawati Laksita Ika Paksi Laksono Trisnantoro Lubis, Muhammad Irvan Maulana Lukman Hakim Lukman Hakim Mainisa, Mainisa Maizuar Maizuar Marisa Fitria Marisa Fitria Maryanti Maryanti Masrullita Masrullita Masrullita, Masrullita Maulana Heru Mulya Medyan Riza Melianda Putri Wulandari Meriatna Meriatna Mhd Azrin Milarahma Yulianti Muhammad Muhammad Fahrur Rozi Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Muhammad Mujiburrahman Mujiburrahman Mulyawan, Rizka Nabila Adhani Nabila Hamnasia Narul ZA Nasrul ZA Nasrul ZA Nasrul ZA, Nasrul Ningtiyas, Dinda Nissah, Khairun Novi Sylvia Nur Aisyah Nur Asiah Indah Rahayu Nurfikasari, Dara Nurhabiah Nurhabiah Nurlaila, Rizka Nurlian Nurlian Nurlian Nursakinah Nurul Islami, Nurul Nurwardina Sofiyani Pandey, Govinda Prashad pradana, ardie surya Purwoko, Agus Putri, Emilya Nirwana putri, intan nanda Ramadani, Fikri Fadli Rati Halimatussakdiyah Razi, Ar Retnowulan, Sri Rahayu Reza Dwi Fani Rini Meiyanti Riska Putri Ritonga, Renanda Pradila Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Mulyawan Rizka Nurlaila Rizki Ramadhan Rizki, Dini Rizzki Andira Roja Andesta Rozanna Dewi S, Syarifuddin Safrida, Riana Sinta Morina siregar, annisa febrianti Sofiyani, Nurwardina Sri Rahayu Retnowulan Subhan A Gani Subhan Subhan Sulhatun Sulhatun Suryati Suryati Suryati Suryati Syahrani, Irma Syamsul Bahri Syamsul Bahri Tsa Tsa Anindya Rakhim Ahmadi Ulfa, Raudhatul Wawan Atmaja Willy W Wiza Ulfa Fibarzi Wiza Ulfa Fibarzi yanti, eva Yaqinnas, Haqqul Yosi, Andre Yulisda, Desvina Zahara Firda Zainuddin Ginting Zulmiardi, Zulmiardi Zulnazri Zulnazri, Z