p-Index From 2021 - 2026
13.215
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Al-Mizan (e-Journal) Al-Risalah : Jurnal Imu Syariah dan Hukum Jurnal Diskursus Islam AL-Fikr LEGITIMASI: Jurnal Hukum Pidana dan Politik Hukum PALITA: Journal of Social - Religion Research Tafaqquh: Jurnal Penelitian Dan Kajian Keislaman FITRAH:Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Jurnal Ilmiah Al-Syir'ah Al-Amwal : Journal of Islamic Economic Law Jurnal Al Himayah TAZKIR: Jurnal Penelitian Ilmu-ilmu Sosial dan Keislaman Unes Law Review BILANCIA IJoASER (International Journal on Advanced Science, Education, and Religion) Idaarah: Jurnal Manajemen Pendidikan Ekspose: Jurnal Penelitian Hukum dan Pendidikan NUKHBATUL 'ULUM : Jurnal Bidang Kajian Islam Jurnal Ilmu Sosial Politik dan Humaniora (Jisora) Jurnal Al-Dustur Hermeneutika : Jurnal Ilmu Hukum Asy-Syariah BUSTANUL FUQAHA: Jurnal Bidang Hukum Islam Al-Azhar Islamic Law Review Al-Azhar Journal of Islamic Economics Siyasatuna Jurnal Ilmiyah Mahasiswa Siyasah Syariyyah Journal of Social Science Mutawasith: Jurnal Hukum Islam Shar-E: Jurnal Kajian Ekonomi Hukum Syariah Qadauna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Keluarga Islam Jurnal Manajemen Pendidikan Islam Jurnal Midwifery Iqtishaduna : Jurnal Ilmiah Mahasiswa Hukum Ekonomi Syariah Kafa’ah: Journal of Gender Studies International Journal of Social Science Shautuna: Jurnal Ilmiah Mahasiswa Perbandingan Mazhab Tasamuh: Jurnal Komunikasi dan Pengembangan Masyarakat Islam Jurnal Al-Qiyam Jurnal Tana Mana Jurnal Al Tasyri'iyyah Al-Manahij : Jurnal Kajian Hukum Islam Jurnal Cakrawala Ilmiah Formosa Journal of Sustainable Research (FJSR) JURIS (Jurnal Ilmiah Syariah) Jurnal Pengabdian Mandiri Jurnal Ilmiah Pendidikan Madrasah Ibtidaiyah (JIPMI) Madani: Multidisciplinary Scientific Journal Journal of Social Science Jurnal Al-Wasith : Jurnal Studi Hukum Islam Ethics and Law Journal: Business and Notary AL-SULTHANIYAH Jurnal Ilmiah Falsafah Socius: Social Sciences Research Journal Al-Bayyinah Aksioreligia : Jurnal Studi Keislaman Journal of Innovative and Creativity Media Hukum Indonesia (MHI) HISABUNA: Jurnal Ilmu Falak Journal of Dual Legal Systems Journal of Strafvodering Indonesian Jurnal Cendekia Ilmiah Bilancia : Jurnal Studi Ilmu Syariah dan Hukum Journal of Nafaqah Journal of Strafvordering Indonesian Jurnal Ilmiah Matematika Realistik Ushul Al-Hukm: Jurnal Syariah dan Hukum Islam ALADALAH: Jurnal Politik, Sosial, Hukum dan Humaniora
Claim Missing Document
Check
Articles

Consequences for Counterfeiting and Distributing of Counterfeit Vaccines under Jināyah and Criminal Law: A Comparative Study Abdul Syatar; Achmad Abubakar; Ahmad Fauzan; Kurniati; Darhan Sutradi Hukpar
Al-Manahij: Jurnal Kajian Hukum Islam Vol. 17 No. 1 (2023)
Publisher : Sharia Faculty of State Islamic University of Prof. K.H. Saifuddin Zuhri, Purwokerto

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24090/mnh.v17i1.7654

Abstract

The proliferation of counterfeit vaccinations was producing significant public health problems and was related with legal issues. This article compared the sanctions imposed by Islamic criminal law and national legislation on counterfeiters and distributors of fake vaccines. Several rules and regulations control the use and distribution of vaccinations in Indonesia. In accordance with Articles 196 and 197 of Law Number 36 of 2009 on Health, the criminal act of distributing counterfeit vaccines is punishable by a maximum prison sentence of ten years and a maximum fine of one billion in IDR. As opposed to Article 197, which stipulates a maximum punishment of 15 years in prison and a maximum fine of Rp. 1,500,000,000,000. counterfeiting and distributing counterfeit vaccines are considered serious crimes in both Islamic criminal law and Jināyah. The punishment for these crimes varies depending on the severity of the offense and the harm caused to society. In both systems of law, the punishment can range from fines and imprisonment to the death penalty. It is important to note that these punishments are intended to deter individuals from engaging in these crimes and protect public health and safety. It was believed that the government would increase legislation addressing the punishment of counterfeiters and drug dealers, who can harm the Indonesian national character.
Islamic Legal Thought Implementation in Indonesia Ahmad Mathar; Hardianti Hardianti; Misbahuddin Misbahuddin; Kurniati Kurniati
Journal of Social Science Vol. 3 No. 4 (2022): Journal of Social Science
Publisher : Syntax Corporation Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (254.997 KB) | DOI: 10.46799/jss.v3i4.386

Abstract

Islamic law is a system of law derived from the Qur'an and hadith, which subsequently evolved from legal philosophy. The result of legal thought is the production of legal documents based on the requirements of the community. In Indonesia, Islamic law grows and evolves in the form of four products of legal thought: fiqh, ulama fatwas, court rulings (jurisprudence), and laws. In Indonesia, the four products of legal thinking serve as rules for Muslims in national, state, and social life. This study sought to identify the outcomes of Islamic legal thinking in Indonesia. The technique employed is qualitative. According to the findings of this study, Islamic legal thought in Indonesia is comprised of the products of fiqh thought, fatwa thought, court decision thinking (jurisprudence), and legal thought. This product of Islamic legal philosophy touches on the order of Islamic society and, despite being independent of sharia law, can serve as a firm legal foundation.
Collaboration Between Revelation and Thought As A Method For Understanding Islamic Law Rahmad Kartono; Kurniati Kurniati; Lomba Sultan
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 11, No 01 (2023): Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/am.v11i01.3825

Abstract

Religious revelation teaches two ways to acquire knowledge. First, through revelation, namely through communication from God to humans, and secondly through reason or thought, namely using impressions obtained by the five senses as food for thought to arrive at conclusions. Knowledge obtained through revelation is believed to be absolute knowledge, while knowledge obtained through reason is believed to be relative knowledge, which requires continuous testing, can be right and can be wrong. In contrast to the revealed religion, the earthly religion departs from the knowledge acquired. through contemplation, to gain truth and enlightenment. In the age of scientific and technological advances, the question arises, which knowledge is more trusted, knowledge obtained through thought, knowledge through revelation, or knowledge obtained through both.
Konsep Maslahat dalam Pandangan Imām Mālik, Al Ghazali, dan Al Tufiy Sutikno Sutikno; Kurniati Kurniati; Lomba Sultan
Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Vol 11, No 01 (2023): Al-Mashlahah: Jurnal Hukum Islam dan Pranata Sosial Islam
Publisher : Sekolah Tinggi Agama Islam Al Hidayah Bogor

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30868/am.v11i01.3908

Abstract

 Maṣlaḥat  adalah sebuah produk pemikiran dari para ulama yang menggambarkan tentang kemahaadilan Tuhan dalam menurunkan syari’at kepada mukallaf. Sedemikian pentingnya maṣlaḥat ini sehingga para ulama banyak berbicara tentang dalam konteks menyetujuinya dan sebagian lainnya masih mengkaji ulang eksistensinya dalam syari’at. Maṣlaḥat  bukanlah dalil yang qaṭ’iy dan ia juga bukan merupakan dalil yang ẓannīy.  Ia hanyalah dalil ijtihadi yang secara mendasar melingkupi aspek-aspek penetapan hukum (al-tasyri’) dan menjadi kajian intens ketika mukallaf  menuntut keadilan Tuhan dan  ketika mukallaf  itu dimintai keterangan dan pertanggungjawaban perbuatannya. Diskursus ulama seputar maṣlaḥat telah berkembang dan mengantar mereka pada tahapan berbeda pendapat.
MERETAS KEBEKUAN IJTIHAD DALAM ISU-ISU HUKUM ISLAM KONTEMPORER: Imam Makmun; Darussalam Syamsuddin; Kurniati
Jurnal Al-Wasith : Jurnal Studi Hukum Islam Vol. 7 No. 1 (2022): Jurnal Al-Wasith: Jurnal Studi Hukum Islam
Publisher : Fakultas Syariah, Prodi Ahwal As Syakhsiyah (AS) Universitas Nahdlatul Ulama Al-Ghazali (UNUGHA) Cilacap

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (645.821 KB) | DOI: 10.52802/wst.v7i1.277

Abstract

Artikel ini menjelaskan tentang masalah-maslah kontemporer yang telah bertumbuhan dan diminta untuk menyelesaikannya. Sekarang ini, yang penting harus dipahami bahwa pembela iman (mujtahid) harus benar-benar mempelajari dan melihat kembali banyak masalah hukum diputuskan dan tergantung pada kondisi dan kebutuhan. Jenis penelitian ini merupakan penelitian pustaka. Sedangkan hasil dari penelitiannya adalah: Sejarah perkembangan ijtihad dapat dikelompokkan menjadi lima masa, yaitu: masa Rasulullah SAW Di zaman Rasulullah SAW, masa sahabat, masa tabiin (masa imam mazhab), masa sesudah imam madzhab yang sempat mengalami masa taqlid dan masa kejumudan ijtihad, dan masa kini atau masa kontenporer. Ijtihad dalam isu-isu hukum Islam kontemporer merupakan salah satu metode yang menjadikan hukum Islam dapat lebih dinamis dan bersifat kontekstual serta tidak ketinggalan zaman.
Fenomena Aliran Sempalan dalam Islam: Dinamika Sosiologis Eksistensi Ahmadiyah Qadian di Indonesia Abdurrahman Abubakar Bahmid; Kurniati Kurniati; Misbahuddin Misbahuddin
Al-Mizan (e-Journal) Vol. 19 No. 1 (2023): Al-Mizan (e-Journal)
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pengabdian Kepada Masyarakat Institut Agama Islam Negeri Sultan Amai Gorontalo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30603/am.v19i1.3504

Abstract

This research aims to understand the sociological phenomenon of splinter sects in Islam with the dynamics of the existence of the Qadian Ahmadiyah in Indonesia as the object of study. The growth of Islamic sects is part of social interaction and religious teachings that become a treasure of Islamic theological thought, such as Ahmadiyah. As a religious organization, the existence of Ahmadiyah, especially the Qadian sect, raises interesting sociological phenomena to be studied. Considering that each sect has a different social character at the beginning of its birth, so did the Ahmadiyah. sociologically Ahmadiyya is a portrait of the struggle of Islam in India with the theological character that surrounds it. This study is library research that aims to analyze the history of Islamic theological thought using a social approach. The existence of Ahmadiyah continues to generate pros and cons among Indonesian Muslims. The issuance of MUI Fatwa and SKB of 3 Ministers became the legitimization of Ahmadiyah's policy to be heretical and prohibited in Indonesia. The social impact is that the prohibition and misdirection of Ahmadiyah congregations have created a bad stigma in society. Until now, Ahmadiyah congregations and other Muslim communities still have unfavorable relations, often leading to conflict. However, not all regions in Indonesia are negative. Some areas have a positive environment towards the Ahmadiyah Congregation.
Interfaith Marriage Phenomenon in Indonesia from the Perspective of Sadd al-Żarī'ah and Fatḥ al-Żarī'ah Abdul Syatar; Muhammad Fazlurrahman Syarif; Harwis Alimuddin; Kurniati Kurniati; Rasna Rasna
FITRAH: Jurnal Kajian Ilmu-ilmu Keislaman Vol 9, No 1 (2023)
Publisher : IAIN Padangsidimpuan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24952/fitrah.v9i1.6800

Abstract

The subject of interfaith marriage in Indonesia, including its pros and cons, has been in the public purview recently. This research aims to answer public concerns, provide recommendations for strengthening regulations, and even prevent this type of marriage. A qualitative method alongside a sociological approach was applied, while data collection techniques included interviews and literature studies. It was concluded through sadd al-żarī'ah analysis, that interfaith marriage should be prohibited as it only leads to harm and difficulties in households and families. Furthermore, fatḥ al-żarī'ah analysis of the marriage of a Muslim man to an Ahlu al-Kitab woman is permitted by the majority of scholars. This is due to the possibility of benefits, namely the opportunity to guide the woman to embrace Islam. it is emphasized that this possibility is relative, as the Muslim man may change his faith. Therefore, this facility (al-żarī'ah) should not be opened (fatḥ al-żarī'ah). The implications of this study recommend sadd al-żarī'ah as material for consideration in strengthening the rules regarding interfaith marriages in the future. Moreover, the polemic of interfaith marriage should be resolved immediately by affirming and enforcing changes to the marriage law. Legal vacuums in the regulation of this matter should not be allowed or ignored due to the negative impact in terms of social and religious life.
RELEVANSI HUKUM DAN ETIKA DALAM MENGHADAPI REALITAS FIQH Rondang Herlina; Kurniati Kurniati; Lomba Sultan
AL-SULTHANIYAH Vol. 12 No. 1 (2023): AL-SULTHANIYAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/al-sulthaniyah.v12i1.1567

Abstract

Kehidupan berkeluarga atau pernikahan hanya akan terjadi melalui perkawinan yang sah, baik menurut agama maupun ketentuan perundang-undangan yang berlaku. Perkawinan adalah ikatan lahir batin antara seorang pria dan seorang wanita sebagai suami-istri dengan tujuan membentuk keluarga (rumah tangga yang bahagia) dan kekal berdasarkan Ketuhanan Yang Maha Esa. Ikatan batin itu diharapkan akan menjadi pondasi bagi keutuhan perkawinan agar bisa berlangsung selamanya, karena Undang-Undang Perkawinan menganut asas monogami yang hanya memperbolehkan menikah seorang istri dengan seorang suami. Di dalam ajaran Islam, asas poligami yang dilakukan oleh suami juga diperbolehkan apabila istri tidak dapat menjalankan kewajibannya sebagai istri, cacat badan atau penyakit yang tidakdapat disembuhkan dan tidak dapat melahirkan keturunan. Namun persyaratannya diperketat atas persetujuan dari Pengadilan Agama. Penelitian menggunakan pendekatan kualitatif empiris. Pengumpulan data melalui cara observasi, wawancara dan dokumentasi. Teknik analisis dilakukan dengan reduksi data, verifikasi data dan analisis data. Sedangkan pengecekan keabsahan data dilakukan dengan metode triangulasi. Oleh karenanya relevansi atau hubungan hukum dan etika dalam perkawinan poligami dapat dipertimbangkan dengan baik agar realitas fiqh dapat diwujudkan sesuai syari’at agama.
PENYELESAIAN HUKUM ISLAM DENGAN CORAK PENDEKATAN BAYANI, TA’LILI DAN ISTISLAHI Bayu Teja Sukmana; Lomba Sultan; Kurniati Kurniati
AL-SULTHANIYAH Vol. 11 No. 2 (2022): AL-SULTHANIYAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/al-sulthaniyah.v11i2.1620

Abstract

Dalam Metode Ijtihad terbagi menjadi Tiga Bagian Yaitu : (1) Ijtihad Al-Bayani, yang digunakan untuk menjelaskan hukum-hukum syara’ yang terkandung dalam nash namun sifatnya masih zhonni (sesuatu yang bersifat dugaan, relatif, sangkaan dan tidak pasti), baik dari segi penetapannya maupun penunjukannya dan (2) Ijtihad Ta’lili, yaitu ijtihad untuk menggali dan menetapkan hukum terdapat permasalahan yang tidak terdapat dalam Al Quran dan sunnah dengan menggunakan metode qiyas, Sedangkan (3) Ijtihad Istislahi, adalah pengorbanan kemampuan untuk sampai kepada hukum syara’ (Islam) dengan menggunakan pendekatan kaidah-kaidah umum, mengenai masalah yang mungkin digunakan pendekatan kaidah-kaidah umum tersebut, dan tidak ada nash yang khusus atau dukungan ijma’ terhadap suatu masalah, serta Tidak diterapkannya metode qiyas atau metode istihsan terhadap masalah itu. Pada dasarnya Ijtihad ini merujuk kepada kaidah jalb al-mashlahah wa daf’al-mafsadah (menarik kemaslahatan dan menolak kemafsadatan), sesuai dengan aturan yang telah ditetapkan untuk kaidah-kaidah syara. Bayani, ta’lili dan istislahi juga merupakan model epistimologi yang selalu dan sudah sejak lama digunakan ulama ushul fiqh dalam menyingkapi, menemukan dan merumuskan hukum yang bertumpu pada kemaslahatan, dan sangat relevan dalam menyelesaikan, menjawab persoalan-persoalan kontemporer yang semakin komplit dan rumit. Dalam hal, teori bayani dan ta’lili tidak dapat diterapkan pada kasus-kasus yang hukumnya tidak tidak terdapat pada nash, maka teori istislahi dapat menjadi alternatif. Melalui teori maslahah al-mursalah dan dzari’ah persoalan-persoalan kontemporer akan dapat diselesaikan dengan baik dan dinamis.
PARADIGMA KEADILAN DALAM PENEGAKAN HUKUM NEGARA BERDASARKAN TEORI KEBENARAN PERSPEKTIF FILSAFAT HUKUM ISLAM Rifky Adji Sukmana; Kurniati Kurniati; Lomba Sultan
JURNAL ILMIAH FALSAFAH: Jurnal Kajian Filsafat, Teologi dan Humaniora Vol. 8 No. 2 (2022): JURNAL ILMIAH FALSAFAH
Publisher : Institut Agama Islam Sultan Muhammaad Syafiuddin Sambas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.37567/jif.v8i2.1589

Abstract

Dalam setiap penegakan hukum pastinya senantiasa memperjuangkan nilai-nilai keadilan. Keadilan secara substantif sangat diperlukan, karena pada setiap perkara mengandung adanya pelanggaran hak. Negara berkewajiban melindungi hak-hak dan kepentingan warganya agar tidak terampas oleh pihak lain. Negara melalui unsur penegak hukum (hakim) melakukan proses penegakan hukum yang pada umumnya melibatkan dua pihak yang bersengketa sejatinya berusaha mencari kebenaran dalam rangka menegakkan hukum dan keadilan. Berdasarkan peraturan perundang-undangan dalam hukum negara sendiri, kebenaran yang dicari adalah kebenaran formal. Tetapi dalam prakteknya, kebenaran formal belum bisa mencerminkan kebenaran bagi para pencari keadilan. Maka dari itu perlu juga mengakomodir sebuah peradilan agama dan hukum islam dalam proses penegakan hukum agar tercapai nilai-nilai keadilan dan kebenaran secara substantif demi melindungi hak dan kepentingan warga negara. Meskipun Peradilan Agama saat ini terus berkembang dan sejajar dengan Peradilan Negara. Tetapi dalam praktik bidang penegakan hukum sendiri, konsep dan filosofi hukum islam senantiasa tidak mewarnai penyelesaian perkara yang terjadi, melainkan mengedepankan asas kebenaran formalnya hukum negara. Oleh karena itu diperlukannya mengkaji konsep keadilan dalam penegakan hukum negara berdasarkan teori kebenaran perspektif filsafat hukum islam.
Co-Authors A Qadir Gassing A, Ardiwansa A, Asriawan A. Farah Salsabilah Abd Rahman Abd Rahman R Abd Rahman R Abd. Qadir Gassing Abd. Rahman Abd. Rahman Abd. Rahman R Abd. Rahman Razak Abdalul Zikri Abdul Halim Talli Abdul Rahman Abdurrahman Abubakar Bahmid Abu Sahman Nasim Abu Sahman Nasim Achmad Abubakar Achmad Alfian Achmad Musyahid Idrus Adinda Cahya Magfirah Agung, Muh. Agus Miranto Ahmad Faidillah Ahmad Fauzan Ahmad Ginannafsih Shafar Ahmad Mathar Aisyiah Al Islami Harris Ajub Ishak Aldin, Din Alief Alwan Alfian, Befri Alimuddin Alimuddin Alimuddin, Harwis Ananda Putri Andi Alya Nabilah Andi Arfan Sijal Andi Aulia Andi Fadhil Andi Hastriana Andi Ika Prasasti Abrar Andi Jabal Nur Andi Moh. Rezki Darma Andi Muh. Taqiyuddin BN Andi Nur Wasita Syafirawati Anjas Saputra Anjas Saputra Ardah, Lukman Arham, Ghina Ghefira Fadhia Arif Rahman Ramli Asfira Yuniar Asman Asman Astriani Astriani Athoriq R, Muhammad Aqsho Che Awalia, Nurhikma Awaliah Musgamy Ayudia Ramadhani Bayu Teja Sukmana Burhan, Nur Amaliah Darhan Sutradi Hukpar Darmawansyih Darnia Darnia Dian Amelia Sari Dirgi Septian Darmajid Eka Syahriani Elina Mirza Evhy Sekarwangi Putri Fadilah Alwaritsa Tayib Fadliyanto Koem Fahrial S Fathiyah Marsya Tilawah Fatthurohman Fatthurohman Feliatra Ferdiansa Putra Fiantika Armanda Fuad Farawansyah G. Gunawan Gunawan Gunawan Gusnata Gusnata Halisatul Muslimah Hardianti Hardianti Haris Haris Haruna, Nadyah Hendrik Imran Herniwati Herniwati Hidayatussalam Husni Mubarak Ibtisam Ibtisam Ihkhsan, Muh Ikhsan, Akmal Ikram, Muhammad Furqanul Ilham Ramadhan Imam Makmun Imam Makmun Imran, Muh. Fadhil Abdillah Indra Satriani Islamul Haq Ismail Keri J, Jumarni Kamaluddin Nurdin Marjuni Kamila, Selma Zahra Khoirun Nisya Lomba Sultan Luthfi Bakence M Ilham M, Mutmainnah Mahmud, Irbach Nurfatin Mansyur, Nur Islamiah Mappasessu Mappasessu Marilang Maryam Maryam Marzuki Umar Mirdina Ayanah Misbahuddin Misbahuddin Misruki Misruki Moh Alvin Kamal Muammar Bakry Mubarak, Kasyful Muh Fadly Multazam Muh Ghazi Al Ghifari Muh. Alief Ramadhan Muh. Baqir Hakim Muh. Ikbal M Muh. Shohibul Ihzar Muh. Yusril Faudzi Muhammad Audy Andy Muhammad Fazlurrahman Syarif Muhammad Imran Muhammad Mulyadi Muhammad Nur Hidayat Muhammad Rusydi Muhammad Saleh Ridwan Muhammad Taufan Djafri Musyfikah Ilyas Mutiara Wahyuni Nurfiana S Naba, Khair Tasnim Razak Nafisah Nafisah Nasrung, Nur Aulia Ni'man Samad Nur Aliah Mufidah Nurfyana Narmia Sari Nurjanna, Sitti Nurul Azizah Nurul Hadist Nurul Ismatul Khaerah Patongai, Alni Avasyah R.A Pratama, Raffi Farid Amar Pratiwi, Ratu Ajeng Qadir Gassing Qadir Gassing Rahmad Kartono Rahman, Ahmad Fadly Rahmat, Anugrah Safitri Rahmiati Rahmiati Rahmiati Rahmiati Ramadani, Tasya Almutia Rasna Rasna Rifky Adji Sukmana Rifyan Zahir Rimbawan, Israh Dwi Rindi Rindi Rondang Herlina S, Sarmila Safei Safei Safitri Aulia Zalsalnabila Safriani, Laela Salsa Luthfiah Rezki Samsidar Jamaluddin Samsuddin S, Samsuddin Sanallah, Muh. Sari, Dian Amelia Shafira Shafira Siti Aisyah Siti Nur Kholifah Siti Rahmayanti Sitti Aisyah Kara Sitti Mania, Sitti Sukmawidari, Ria Sutikno Sutikno Suwandi, Ervina Syahrul Syamsuddin, Darussalam Syamsul, Auliyah Shafira Azzahra Syatar, Abdul Tantri Indar Pratiwi Tantri Pratiwi Tarmizi Tasliyah Erlina Wardayani, Wardayani Yusnadia Achda Saputri Yusriansyah Yusriansyah Yusuf Rahim Zainuddin Zalsabillah, Annisa Zul Mulki Zulfitri Zulkarnain Suleman Zulhas’ari Mustafa