Claim Missing Document
Check
Articles

Pelatihan Perencanaan Diri Terhadap Orientasi Masa Depan Remaja di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA) Nur Oktavia Hidayati; Efri Widianti; Aat Sriati; Titin Sutini; Imas Rafiyah; Taty Hernawaty; Suryani S
Media Karya Kesehatan Vol 1, No 2 (2018): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (690.011 KB) | DOI: 10.24198/mkk.v1i2.18460

Abstract

Remaja adalah kelompok beresiko mengalami masalah kesehatan, sesuai tahap perkembangannya, remaja berada pada masa transisi, pencarian identitas diri, apalagi khusus untuk remaja yang ada di Lembaga Pembinaan Khusus Anak (LPKA), selain mereka terisolasi dari lingkungan luar, kurangnya dukungan keluarga menyebabkan berbagai masalah seperti perasaan tidak berharga, malu dan kurang percaya diri, putus asa dengan masa depannya sehingga sangat diperlukan perhatian dan dukungan dalam merencanakan diri untuk masa depan mereka. Tujuan dari pengabdian pada masyarakat ini adalah membantu anak didik lapas (andikpas)  untuk meningkatkan kemampuan dalam merencanakan diri untuk masa depannya. Metode yang dipergunakan dalam kegiatan ini adalah pelatihan bagaimana menyusun perencanaan diri untuk masa depan mereka. Luaran yang dihasilkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah meningkatnya pengetahuan dan kemampuan andikpas dalam menyusun perencanaan diri. Kegiatan ini dihadiri oleh 35 andikpas. Hasil kegiatan  terjadi peningkatan pengetahuan tentang orientasi masa depan dan kemampuan andikpas dalam penyusunan perencanaan diri. Melalui program pelatihan orientasi masa depan ini ternyata dapat menjadi salah satu solusi bagi permasalahan bagi andikpas dalam merencanakan diri mereka dalam menghadapi masa depan dan memberikan gambaran dan acuan untuk andikpas dalam menghadapi masa depan mereka setelah keluar dari LPKA. Kata kunci : Andikpas, LPKA,  masa depan, perencanaan diri, remaja.
Pembentukan Self Help Group Keluarga Orang Dengan Ngangguan Jiwa (ODGJ) Efri Widianti; Taty Hernawaty; Titin Sutini; Aat Sriati; Nur Oktavia Hidayati; Imas Rafiyah
Media Karya Kesehatan Vol 1, No 2 (2018): Media Karya Kesehatan
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (406.159 KB) | DOI: 10.24198/mkk.v1i2.17884

Abstract

Kondisi yang dialami oleh klien gangguan jiwa seringkali menyebabkan ketakutan dan kecemasan pada keluarga dan masyarakat sehingga diperlukan suatu upaya untuk bisa membantu keluarga beradaptasi dengan proses perawatan keluarganya yang mengalami gangguan jiwa. Proses adaptasi keluarga lebih cepat diwujudkan ketika keluarga dengan masalah yang sama berkumpul dan sharing untuk mengatasi masalah yang sama dalam sebuah kelompok swabantu yang disebut self help group. Tujuan dari kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah untuk memfasilitasi pembentukan self help groups keluarga klien gangguan jiwa di wilayah kerja puskesmas Sukamerang Kabupaten Garut. Tahapan dalam kegiatan terdiri dari sosialisasi kegiatan nersama tokoh masyarakat setempat, pelatihan kader kesehatan, psikoedukasi keluarga, terapi suportif keluarga, dan proses pembentukan self help group. Metode pelaksanaan kegiatan pengabdian pada masyarakat ini adalah psikoterapi kelompok (group therapy) yang dimana dalam kelompok tersebut dilaksanakan diskusi, sharing experience, role play, dan tanya jawab. Luaran yang akan dihasilkan dalam kegiatan pengabdian kepada masyarakat ini adalah terbentuknya self help group atau kelompok swabantu pada keluarga klien dengan gangguan jiwa. Kesimpulan dari kegiatan ini adalah self help group yang terbentuk pada keluarga klien dengan gangguan jiwa merupakan suatu cara untuk menurunkan dampak psikososial pada keluarga dalam perawatan klien gangguan jiwa dan meningkatkan adaptasi dan produktifitas keluarga dalam merawat klien gangguan jiwa di rumah Kata Kunci: Gangguan jiwa,  kelompok swabantu,keluarga, self help group.
The Knowledge related to Mental Health of the People around the Coastal Areas Taty Hernawaty; Hadi Suprapto Arifin; Efri Widianti
Jurnal Keperawatan Indonesia Vol 23, No 3 (2020): November
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.7454/jki.v23i3.1234

Abstract

Mental health is one of Indonesia’s public health development goals. The Pangandaran District Administration of West Java is an expanded district that actively carries out various development programs, including mental health programs. This study aimed to identify public knowledge about mental health in Pangandaran District using quantitative descriptive method. The research population comprised residents of the Pangandaran District, and a sample was collected via cluster multistage sampling technique. The sample was gradually determined in the order of subdistricts, villages, subvillages, community units, and neighborhood units. The total sample was composed of 113 respondents. The questionnaire was developed based on theories and concepts on public mental health and distributed to participants after validity and reliability tests were conducted. The construct validity test result was between 0.303 and 0.764, which meant that all items were valid. The Kuder-Richardson 20 formula was used to test reliability, and the reliability coefficient was 0.887. Mathematical calculations were used for data analysis; data are presented as frequency distributions. In this study, 61.10% of the respondents had “less” knowledge, 33.59% had “good” knowledge, and the remaining 5.30% had “enough” knowledge of mental health. The results suggest that the local government should provide mental health education for the residents. For educational institutions, mental health programs should be a fundamental offering in Indonesian society. Abstrak Pengetahuan tentang Kesehatan Mental Warga di Sekitar Wilayah Pesisir. Sehat secara mental merupakan bagian dari tujuan pembangunan kesehatan masyarakat. Pemerintah Kabupaten Pangandaran merupakan kabupaten pemekaran yang sedang menggalakkan berbagai program pembangunan termasuk program kesehatan jiwa. Penelitian ini bertujuan mengidentifikasi pengetahuan masyarakat Kabupaten Pangandaran mengenai kesehatan jiwa. Metode penelitian menggunakan deskriptif kuantitatif. Populasi penelitian adalah seluruh masyarakat Kabupaten Pangandaran dan sampel diambil menggunakan tehnik cluster multistage sampling. Tahapan penetapan sampel dilakukan bertahap mulai dari kecamatan, desa, dusun, rukun warga, sampai rukun tetangga dan didapat sebanyak 113 orang. Data penelitian dikumpulkan melalui kuesioner dan dibagikan pada seluruh responden. Kuisioner dikembangkan dari teori dan konsep kesehatan jiwa masyarakat dan sudah dilakukan uji validitas dan reliabilitas. Uji validitas konstrak didapatkan hasil berkisar antara 0,303 sampai 0,764 sehingga semua item dinyatakan valid. Uji reliabilitas menggunakan uji Kuder Richardson 20 dan diperoleh koefisien reliabilitas KR-20 sebesar 0,887. Analisa data menggunakan perhitungan matematis dan ditampilkan dalam bentuk tabel distribusi frekuensi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa 61,10% responden kurang memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa, 33,59% responden memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa yang baik, dan sisanya 5,30% responden memiliki pengetahuan mengenai kesehatan jiwa yang cukup. Saran, bagi pemerintah setempat agar memberikan pendidikan kesehatan jiwa bagi masyarakat. Bagi instansi pendidikan, diharapkan menjadi data dasar dalam membuat program kesehatan jiwa di masyarakat.  Kata Kunci: Jawa Barat, kesehatan masyarakat, program kesehatan jiwa, wilayah pesisir
GAMBARAN ADVERSITY QUOTIENT PADA TAHANAN REMAJA DI RUMAH TAHANAN KELAS 1 BANDUNG Nita Fitria; Taty Hernawaty; Iyus Yosep
Majalah Keperawatan Unpad Vol 12, No 2 (2011): Majalah Keperawatan Unpad
Publisher : Fakultas Keperawatan Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (66.028 KB)

Abstract

ABSTRAK Adversity Quotient (AQ) merupakan suatu bentuk pengukuran yang digunakan untuk mengetahui kemampuan seseorang dalam merespons suatu tantangan atau kesulitan dalam kehidupannya untuk mencapai suatu keberhasilan. Salah satu tantangan dan kesulitan bagi tahanan yang berusia remaja adalah proses pembinaan  selama di rumah tahanan. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui gambaran adversity quotient  tahanan remaja di Rumah Tahanan Negara Kelas 1 Bandung. Metode penelitian yang digunakan adalah metode deskriptif kuantitatif. Teknik sampling yang digunakan adalah total populasi dengan jumlah sampel 44 orang remaja tahanan pada bulan Agustus 2011. Alat ukur yang digunakan dalam penelitian ini adalah modifikasi dari Adversity Response Profile Quick TakeTM. Adapun hasil yang diperoleh dari penelitian ini 0% berada pada kisaran kelompok climber, 22,72% berada pada kisaran peralihan camper ke climber, 45,45% perawat berada pada kisaran kelompok camper, 22,72% pada kisaran peralihan quitter ke camper. Saran dari penelitian ini adalah untuk diadakannya peneltian lanjutan mengenai faktor-faktor yang mempengaruhi Adversity Quotient remaja tahanan di Rumah Tahanan Negera Kelas 1 Bandung. Kata Kunci : Adversity Quotient, Rumah Tahanan Kelas 1  Bandung, Tahanan Remaja ABSTRACT Adversity Quotient (AQ) is a form of measurement used to determine a person's ability to respond to a challenge or difficulty in achieving a successful life. Some of the challenges and difficulties for adolescent in, pressure from house state inmate The purpose of this study to know the description of adversity quotient adolescent in House state inmate Class 1 Bandung.The research design used is quantitative descriptives. The sampling technique used is total population with 44 people adolescent in August 2011. The measurement used in this study is a modification of the data collection involved Adversity Response Profile Quick TakeTM .The results obtained from this study showed 0% of adolescent in the range of climbers group, 22,72 % in the range of transitional camper to climbers, 45,45% adolescent are in the range camper group, 22,72 % in the range of the transition to a camper quitter and 9,09% group quitter. Suggestions from this study is to further the holding of the other research on the factors of influence Adversity Quotient in House state inmate Class 1 Bandung Keywords : Adversity Quotient, House state inmate Class 1 Bandung, Adolescent
LITERASI INFORMASI KESEHATAN LINGKUNGAN PADA MASYARAKAT DI DUSUN CIKANGKUNG DESA CIKEMBULAN KECAMATAN SIDAMULIH KABUPATEN PANGANDARAN: PENGELOLAAN SAMPAH BERBASIS TEKNOLOGI LINGKUNGAN TEPAT GUNA Taty Hernawaty
Dharmakarya Vol 6, No 1 (2017): Maret
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.539 KB) | DOI: 10.24198/dharmakarya.v6i1.14559

Abstract

Program Perilaku Hidup Bersih dan Sehat (PHBS) yang dicanangkan pemerintah sejak 2010 perlu dukungan masyarakat. Berdasarkan hasil pengamatan lingkungan, halaman dan pekarangan rumah penduduk di Dusun Cikangkung Kecamatan Sidamulih tampak berserakan dan tidak rapi. Hampir seluruh masyarakat memiliki kebiasaan membuang sampah ke dalam lubang tanah yang dibuatnya di halaman atau pekarangan rumah dan adapula yang dibakar. Hal penting yang harus diperhatikan dengan cara pembuangan seperti ini adalah pengelolaan dalam pemilahan. Beberapa jenis sampah tidak baik langsung dibakar karena dapat menghasilkan gas kimia berbahaya dan beracun. Pemberian informasi kesehatan lingkungan yang difokuskan pada pengelolaan sampah belum pernah diberikan pada masyarakat. Oleh karena itu, kegiatan PKM ini bertujuan meningkatkan wawasan dan sikap masyarakat mengenai pentingnya Program PHBS kebersihan lingkungan khususnya pengelolaan sampah. Kegiatan ini dilakukan dalam bentuk penyuluhan dan kerja bakti. Kegiatan ini diharapkan memberikan manfaat bagi pemerintah Jawa Barat khususnya Kabupaten Pangandaran dalam meningkatkan kualitas hidup masyarakat. Bagi masyarakat setempat, terciptanya lingkungan yang bersih, sehat, dan asri.
Faktor Caregiver dan Kekambuhan Klien Skizofrenia Laeli Farkhah; Suryani S; Taty Hernawaty
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 5 No. 1 (2017): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1194.394 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v5i1.348

Abstract

Caregiver merupakan orang yang bertanggung jawab memberikan perawatan secara langsung dalam segala situasi,baik saat pasien kambuh atau tidak kambuh. Beberapa faktor caregiver yang berhubungan dengan kekambuhanpasien skizofrenia adalah dukungan keluarga, pengetahuan tentang pengobatan skizofrenia, peristiwa kehidupan yang penuh stres, dan kualitas hidup caregiver. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor caregiver yang berhubungan dengan kekambuhan pasien skizofrenia. Penelitian ini merupakan penelitian deskriptif analitikdengan rancangan crosssectional. Pengambilan sampel dengan consecutive sampling sebanyak 30 orang. Datadikumpulkan menggunakan kuesioner. Analisis data menggunakan uji korelasi Pearson Product Moment untukmelihat hubungan antara dua variabel dan uji regresi logistik untuk menentukan faktor yang dominan berhubungan dengan frekuensi kekambuhan pasien skizofrenia. Hasil penelitian menunjukkan semua variabel memiliki hubungan dengan frekuensi kekambuhan pasien skizofrenia. Variabel dukungan keluarga memiliki hubungan yangkuat dengan arah hubungan yang negatif (r = -0,630). Variabel pengetahuan keluarga memiliki hubungan yangsedang dengan arah hubungan yang negatif (r = -0,820). Variabel kualitas hidup memiliki hubungan yang sangatkuat dengan arah hubungan yang negatif (r = -0,560). Variabel peristiwa hidup penuh stres memiliki hubunganyang sedang dengan arah hubungan yang positif (r = 0,447). Hasil analisis regresi logistik menunjukkan bahwafaktor caregiver yang paling dominan berhubungan dengan dengan kekambuhan adalah kualitas hidup dengannilai r = -0,560 dan koefisien determinannya (r2) yaitu 0,768 yang memiliki kekuatan hubungan (OR) 25,093.Dari penelitian ini dapat disimpulkan bahwa kualitas hidup caregiver merupakan faktor yang paling dominanterhadap kekambuhan. Penelitian ini merekomendasikan agar perawat berperan aktif dalam meningkatkan kualitashidup caregiver dan pentingnya caregiver support group dalam rangka meningkatkan kualitas hidup caregiver.
Relationship of Adolescents’ Characteristics, Smartphone Uses and Premarital Sexual Behavior in High School Students Hardiyati Hardiyati; Shelly Iskandar; Taty Hernawaty
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 7 No. 1 (2019): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (82.176 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v7i1.410

Abstract

Adolescents’ problematic behavior is in relation to premarital sexual behavior. Adolescents’ premarital sexual behavior can cause abortion, unwanted pregnancy, death, potential HIV/AIDS infection as well as moral decency crime in Gowa District. Factors of premarital sexual behavior among adolescents include gender, origin of school, status and frequency of dating, religious norms, household norms, knowledge and the uses of smartphone. This research aims at analyzing adolescents’ characteristics of and the uses of smartphone in relation with premarital sexual behavior among high school students in Gowa District, South Sulawesi Province. It was the correlational design quantitative research. Total samples amounted to 500 high school students in Gowa District, South Sulawesi Province after these were selected with the cluster sampling. The questionnaire used in this research consisted of religious norms (the reliability test results of 0.791, R-value of 0.397–0.678), household norms (the reliability test results of 0.856, R-value of 0.430–0.893), knowledge (the reliability test results of 0.738, R-value of 0.362–0.514), and premarital sexual behavior (the reliability test results of 0.844, R-value of 0,483–0,763), smartphone use with the calculated R value > r table (0.514) the reliability indicates the alpha cronbach’s value> 0.60. The analyzed data use Chi square and logistic regression. The research results show that the premarital sexual behavior has total risk value of 66.0% and the unrisky value of 34.0%. It relates to some adolescents’ characteristics among others frequency of dating (p=0.000), status of dating (p=0.000), religious norms (p=0.000), household norms (p=0.000), knowledge (p=0.000), and smartphone use (p=0.000), the variables of adolescents’ characteristics i.e. gender and the origin of school do not have significant relationship (p> 0.05). The smartphone use is the most significant factor with the premarital sexual behavior (OR=3.583). The smartphone use is the most significant factor with premarital sexual behavior, and therefore, it indicates that teachers at school and parents at home should who carry out the control and adolescent education in the smartphone use are important factors to be upgraded. The school based health education program can avoid the risky premarital sexual behavior, and the program can focus on the control of smartphone use and skill training among adolescents.
Relationship between Academic Stress, Family and Peer Attachment with Internet Addiction in Adolescents Putri Ariani; Suryani Suryani; Taty Hernawaty
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 6 No. 3 (2018): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1639.523 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v6i3.483

Abstract

Biological, psychological and social changes make adolescents at risk of various health problems in the community. The ease of internet access nowadays makes adolescent more vulnerable to internet addiction. In Indonesia, many studies examine the relationship between internal factors such as low self-esteem, loneliness and the type of personality with internet addiction. Further research is still needed that focuses on external factors such as academic stress, family and peer attachment. This study aimed to examine the relationship of academic stress, family and peer attachment with internet addiction in high school adolescents in Andir District, Bandung City. The study used a quantitative correlational design with a cross-sectional approach. The population was high school adolescents. A total sample of 367 adolescents was determined using the slovin formula with alpha Cronbach 0.05. Respondents were recruited using random cluster sampling. Data were analyzed using Rank Spearman and Logistic Regression. Statistical tests of academic stress variables showed, family and peer attachments were significantly related with internet addiction in adolescents (p = 0.000); family attachment variable was significantly related to internet addiction in adolescents (p = 0.000), and peer attachment was significantly related with internet addiction in adolescents (p = 0.000). Logistic regression tests showed the family attachment variable had a significant influence on internet addiction in high school adolescents. In conclusion, there are correlations between academic stress, family and peer attachment to internet addiction. The family attachment has the most significant influence with internet addiction in high school adolescents. It is essential for community mental health nurses to conduct health education to families related to the result of this study
Comparison of Lecture and Video Methods in Increasing Caregiver Knowledge in Treating Clients Halusination Bambang Eryanto; Taty Hernawaty; Shelly Iskandar
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 6 No. 2 (2018): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (636.238 KB) | DOI: 10.24198/jkp.v6i2.776

Abstract

Efforts to improve caregiver’s knowledge on hallucination is by providing an education the caregivers. Enhancing such knowledge can be carried out by different methods, include lecture and watching video methods. The purpose of the present research was to compare the effectiveness of lecture  and watching video method in enhancing caregiver’s knowledge on hallucination.          The research used a quasi-experiment method with a pretest and posttest group design, with the research sample was 60. The sampling technique used was a total sampling. The scores of caregiver’s knowledge were determined by a questionnaire of knowledge on hallucination that was self-developed by validity test (0.707) and reliability test (0.968). The data obtained was then tested by using Independent Sample T-test, Mann-Whitney test, and Wilcoxon test.          The result of pretest of caregiver’s knowledge before the intervention showed that there was no difference between intervention and control group (p-value=0.624), while result of posttest of caregiver’s knowledge after the intervention showed that there was a significant difference between lecture group and video group (p-value=0.000). The research findings revealed that there was a significant increase in the scores of knowledge for both methods (p-value=0.000), but the increase of video group’s knowledge score was higher (4.23) than that of lecture group (2.57).          The conclusion of the research was that wathing video method was more effective than lecture method in enhancing caregiver’s knowledge so that video can be used as an alternative method for mental health education.
The Structure, Process, and Outcome of Mentorship on Survivor with Schizophrenia: A Case Study Rozali Arsyad Kurniawan; Suryani Suryani; Taty Hernawaty; Lilibeth Al-Kofahy
Jurnal Keperawatan Padjadjaran Vol. 9 No. 1 (2021): Jurnal Keperawatan Padjadjaran
Publisher : Faculty of Nursing Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24198/jkp.v9i1.1645

Abstract

The personal recovery paradigm in schizophrenia patients require a change of service. One of the changes that can be made to support the schizophrenia recovery process is a change in the concept of the relationship between patients and nurses. Nurse mentorship for schizophrenia patients is a new terminology of innovation in a supportive relationship between health workers and patients. At present, it is not known how the structure, process, and outcome of mentorship to schizophrenia survivors. This study aimed to explain how the structure, process, and outcome of mentoring nurses to schizophrenia survivors. This research is qualitative research using the case study method involving three cases of mentorship conducted in Banyumas Regional Hospital. A total of nine participants were involved in this study which consisted of three nurses as mentors, three schizophrenia survivors, and three caregivers. Data were collected by semi-structured interview techniques, observation, and document review. After in-depth analysis seven research themes were found. Participants’ perception about the structure of mentorship include the theme mentorship requires a variety of abilities of nurses and conditions of survivors who can participate in mentorship. While the mentorship process includes the theme requires patience in mentorship, giving guidance for the recovery of survivors, and facing the recurrence of survivors due to treatment factors. Participants revealed the outcome of mentorship in the theme mentors feel inner satisfaction, and survivors feel more enthusiastic about life. The results of this study provide the view that mentorship has the potential to be developed into quality nursing interventions to support the recovery process of schizophrenia survivors.
Co-Authors Aat Sriati Aat Sriati AI MARDHIYAH, AI Ai Wia Aisyah, Salsa amelia, siti halinda Anastasia Anna Anita Setyawati Annisa Khaerera Arlette Puspa Pertiwi Astiti, Indita Wilujeng Ayu Siti Marlina Azzahra Salsabila Bambang Eryanto Banda, Kondwani Joseph Cahyani, Gita Danil Haq Deviana Indriyanti Dewi Purwati Donny Nurhamsyah Donny Nurhamsyah Dyah Setyorini Efri Widianti Eka Afrima Sari Eko Nugraha Farkhah, Laeli Fathonah, Dewi Yulia Ferdinand Salomo Leuwol Firdaus, Rifqii Daiatul Firdaus, Rosalia Fitri Aulia Hadi Suprapto Arifin Hardiyati Hardiyati Harima Dayana Putri Harun, Hasniatisari Hasniatisari Harun Hendrawati Hendrawati Hendrawati Hendrawati Heni Dwi Windarwati Henik Tri Rahayu Hertini, Reni Hikmat, Rohman Iceu Amira Iceu Amira DA Ifna Rosydah Imas Maesaroh Imas Rafiyah Indita Wilujeng Astiti Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana Indra Maulana` Indra Maulana Indriyanti, Deviana Intan Ayudhita Syena Intan Ayudhita Syena Irman Somantri Iwan Shalahuddin Iyus Yosep Iyus Yosep Khoirunnisa Khoirunnisa Kurniawan Kurniawan Lantang, Rica Nur Aprilia Lilibeth Al-Kofahy Lin, Mei-Feng Mahali, Nia Ainun Nadina Mamat Lukman Maziyya, Nur Milenia Shafaria Mudiyanselage, Sriyani Padmalatha Konara Muhtar, Ariel Akbar Arditia Mujahidah, Shafira Aulia Mutia Sundari Nandi Prima Yuda Nenden Nur Asriyani Maryam Nita Fitria NUGRAHA, EKO Nur Aini Nur Oktavia Hidayati Nur Oktavia Hidayati Nur Oktavia Hidayati Nurmansyah, Donny Nursifah, Anita Nursiswati Putri Ariani Rahyu Setiani Raihan, Fatwa Muhammad Ratna Multisari Ratu Nurafni Reni Hertini Rifqii Daiatul Firdaus Rina Fajar Sari, Rina Fajar Rizkiani Tri Ramdani Rosalia Firdaus Rozali Arsyad Kurniawan Ryan Hara Permana Sakti, Dimas Wibawa Sarah Kusumah Bakti Setiani, Haniifah Setiani Sheizi Prista Sari Shelly Iskandar Siti Rahmawati Siti Ulfah Rifa’atul Fitri Sri Hartati Pratiwi Sukma Senjaya Sukma Senjaya Sukmawati Sukmawati Suryani S Suryani S Suryani Suryani Suryani Suryani Suryani Suryani Suryani Suryani Tetelepta, Edward Gland Tetti Solehati Theresia Eriyani Titin Sutini Titis Kurniawan Tutu April Ariani Udin Rosidin Violla Anggiani Wina Winingsih Winingsih, Wina Wiwi Mardiah, Wiwi Wiwi Mardiyah Yolanda Yolanda Yulianita, Henny