p-Index From 2021 - 2026
4.566
P-Index
This Author published in this journals
All Journal Humaniora Jurnal Studi Pemerintahan Jurna lAntropologi Indonesia Jurnal Sosiologi Reflektif Jurnal Kawistara : Jurnal Ilmiah Sosial dan Humaniora Al-Ulum Farabi Indonesian Journal of Islam and Muslim Societies Jurnal Ilmu Komunikasi Jurnal Ketahanan Nasional Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik Jurnal Populasi Al-Ihkam: Jurnal Hukum dan Pranata Sosial JSW (Jurnal Sosiologi Walisongo) Jurnal PIKOM (Penelitian Komunikasi dan Pembangunan) Otoritas : Jurnal Ilmu Pemerintahan Langkawi: Journal of The Association for Arabic and English Al-Albab Al-Izzah: Jurnal Hasil-Hasil Penelitian Jurnal Pemikiran Sosiologi community: Pengawas Dinamika Sosial EQIEN - JURNAL EKONOMI DAN BISNIS Jurnal Masyarakat dan Budaya Politicon : Jurnal Ilmu Politik Manhaj: Jurnal Penelitian dan Pengabdian Masyarakat Culture & Society: Journal Of Anthropological Research Jurnal Hawa : Studi Pengarus Utamaan Gender dan Anak Jurnal Baabu Al-ilmi : Ekonomi dan Perbankan Syariah Jurnal Ilmu Manajemen Profitability BJRM (Bongaya Journal of Research in Management) Jurnal Sosiologi Andalas Jurnal Ilmiah Wahana Pendidikan Jurnal Studi Gender dan Anak Fikrah: Jurnal Ilmu Aqidah dan Studi Keagamaan Deskripsi Bahasa Economos : Jurnal Ekonomi dan Bisnis Jurnal Bisnis dan Kewirausahaan International Journal of Economic Research and Financial Accounting JKAP (Jurnal Kebijakan dan Administrasi Publik) Liquidity : Jurnal Ilmu Manajemen dan Bisnis Shahih : journal of islamicate multidisciplinary Jurnal Studi Pemerintahan Jurnal Kawistara Income Journal of Economics Development Politik Indonesia: Indonesian Political Science Review
Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : Humaniora

Mitos Menstruasi: Konstruksi Budaya Atas Realitas Gender Irwan Abdullah
Humaniora Vol 14, No 1 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (50.771 KB) | DOI: 10.22146/jh.743

Abstract

Rahim merupakan sumber dari berbagai persoalan yang dihadapi perempuan yang memiliki implikasi yang luas dalam penataan sosial (Lupton, 1994). Karena memiliki rahim, perempuan harus menghadapi menstruasi, kehamilan, melahirkan, bahkan menopause. Fakta biologis ini secara langsung membedakan perempuan dengan laki-laki yang bersifat kodrati. Persoalan yang dihadapi perempuan dan laki-laki kemudian menjadi sangat berbeda karena alasan laki-laki tidak memiliki rahim. Adanya rahim ini menyebabkan perempuan memiliki cacat bawaan karena ia membawa serta serangkaian “penyakit” yang harus diderita kaum perempuan yang oleh Morris (1993: 104) dikatakan menyebabkan terjadinya histeria yang merupakan gangguan terhadap keseluruhan pengaturan suhu tubuh dalam proses biologisnya. Penyakit semacam ini telah membentuk dikotomi yang tegas antara “penyakit perempuan” dan “penyakit laki-laki” Tulisan ini merupakan usaha untuk mengkaji bagaimana mitos tentang menstruasi yang terkait dengan kultur suatu masyarakat memiliki implikasi yang luas dalam penataan sosial, khususnya dalam pembentukan dan pelestarian hubungan gender dalam masyarakat. Apakah, misalnya, menstruasi dapat menjadi tanda dari adanya negosiasi kekuasaan yang berlangsung dalam suatu setting sosial tertentu dan bagaimana proses dekonstruksi terhadap realitas seksual itu dapat terjadi.
Tantangan pembangunan Ekonomi Dan Transformasi Sosial: Suatu Pendekatan Budaya Irwan Abdullah
Humaniora Vol 14, No 3 (2002)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (2221.651 KB) | DOI: 10.22146/jh.762

Abstract

Empat puluh delapan tahun yang lalu, jauh sebelum Orde Baru dimulai, Soedjatmoko menerbitkan sebuah tulisan tentang “pembangunan sebagai masalah kebudayaan”2. Bagi Soedjatmoko, “pembangunan ekonomi itu bukan suatu proses ekonomi semata-mata, melainkan suatu penjelmaan dari perubahan sosial dan kebudayaan yang meliputi bangsa kita di dalam kebulatannya” (1983:21). Pembangunan itu selalu menyangkut perubahan persepsi dan sikap terhadap kehidupan secara menyeluruh, tidak di dalam bagian-bagian yang terpisah. Oleh karena itu, setiap proses pembangunan ekonomi selalu menyangkut faktor nonekonomi di dalamnya Ada tiga proses di mana kebudayaan mengambil tempat yang sangat penting di dalamnya. Pertama, kebudayaan merupakan faktor penting di dalam mendorong proses transformasi. Kedua, kebudayaan sekaligus dinilai sebagai penghambat proses transformasi karena nilai-nilai yang dimilikinya tidak sesuai dan bertentangan dengan nilai dan praktik kehidupan baru. Ketiga, kebudayaan harus pula dilihat sebagai produk dari suatu proses transformasi di mana ia diproduksi dan direproduksi di dalam kehidupan sehari-hari. Tulisan ini berusaha membahas ketiga posisi kebudayaan tersebut dan ingin menunjukkan skenario yang perlu dilakukan di dalam proses transformasi masyarakat ke fase berikutnya.
Penelitian Berwawasan Gender dalam Ilmu Sosial Irwan Abdullah
Humaniora Vol 15, No 3 (2003)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (55.832 KB) | DOI: 10.22146/jh.794

Abstract

Sebagai sebuah proses sosial, konstruksi realitas itu bertumpu pada istilah dan nilai yang dibawa oleh sebuah bahasa yang digunakan untuk menjadi kekuatan dalam pencitraan. Proses itu juga menunjuk kepada faktor sejarah yang di dalamnya terkandung pengertian bahwa konstruksi realitas perempuan memiliki akar dan tahapan-tahapan yang kompleks. Kompleksitas realitas kehidupan kaum perempuan dapat ditinjau dari dua sudut. Pertama, realitas itu tersusun dari unsurunsur yang begitu luas yang menyebabkan pemahaman dan penelitian terhadap realitas itu harus mengindentifikasikan unsur-unsur tersebut dan melihat kaitan antarunsur yang terdapat dalam susunan itu. Tanpa usaha yang sistematis untuk memilah-milah dan menghubung-hubungkan unsur-unsur yang menyusun realitas, tidak akan diperoleh suatu pemahaman yang dalam tentang apa, siapa, dan bagaimana kaum perempuan itu. Dalam hal ini, dapat dilihat bahwa unsurunsur penyusun realitas itu berupa agama, budaya, ekonomi, politik, atau lingkungan fisik suatu tempat. Dalam kenyataannya, unsur-unsur tersebut tidak dapat diabaikan. Ketimpangan gender, misalnya, dapat berkaitan dengan "budaya" dan "ekonomi". Keluarga dari kebudayaan yang sama di desa yang sama memperlihatkan pola hubungan laki-laki dan perempuan yang berbeda karena kemampuan ekonomi keluarga itu berbeda. Lebih khusus lagi unsur-unsur tersebut dapat dirinci menjadi, misalnya, pendidikan, pekerjaan, keanggotaan partai, dan lingkungan tempat tinggal. Kedua, realitas hidup kaum perempuan tersusun dari unsur yang berlapis-lapis yang menyebabkan usaha penelitian menjadi usaha mengupas lapis demi lapis unsur untuk menemukan realitas tersebut. Lapislapis ini telah menyebabkan realitas hidup kaum perempuan tidak ubahnya suatu misteri yang perlu diungkapkan dengan membuka lapis demi lapis sebelum ditemukan apa, siapa, dan bagaimana sesungguhnya kaum perempuan itu. Susunan yang berlapis-lapis ini terutama disebabkan oleh proses sejarah. Misalnya, pada lapis ekonomi, harus dilihat apakah ketimpangan gender tersusun atas dasar pembagian kerja pertanian yang berkaitan dengan sumber daya ekonomi yang dimiliki masyarakat dan dipengaruhi oleh kesempatan kerja yang dimiliki suatu rumah tangga. Lapis-lapis ini dibuka satu per satu untuk mengetahui hakikat realitas dan hubungan gender.
KEKERASAN VIGILANTISM DALAM TATANAN SOSIAL: SEBUAH USULAN KERANGKA ANALISIS KEKERASAN DARI KASUS AMERIKA, AFRIKA, DAN INDONESIA Cho Youn Mee; Sjafri Sairin; Irwan Abdullah
Humaniora Vol 17, No 1 (2005)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1181.578 KB) | DOI: 10.22146/jh.824

Abstract

This article examines vigilantism as a framework to see various violence cases in Indonesia, and through which tries to open a scope for further discussion about building a scheme of violence study in general . Vigilantism is analyzed on its stance in the established socio-political order and defined as establishment violence . Various case materials from America, Africa and Indonesia are offered in this analytical framework .
THE CONSTRUCTION AND CONTESTATION OF ISLAMIC IDENTITY OF THE BAJO PEOPLE IN WAKATOBI ISLANDS, SOUTH EAST SULAWESI, INDONESIA Benny Baskara; Irwan Abdullah; Djoko Suryo
Humaniora Vol 26, No 1 (2014)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (156.883 KB) | DOI: 10.22146/jh.4698

Abstract

On the one one hand, the Bajo people are well-known as ‘the sea people’ who have their own indigenous belief system – belief in the Lord of the Sea. On the other hand, they also acknowledge themselves as Muslims. Thus, the religious identity of the Bajo people reflects a unique combination of Islamic teachings and their indigenous beliefs. This unique combination is not only expressed in their religious life, in their rituals and worship practices, but also in the values found in their customary practices (adat) as a guiding system for their life. This paper examines the construction and contestation of the religious identity of the Bajo people, especially how they construct their identities in relation to their natural, social, and religious environments. The contestation of the Bajo religious identity covers three aspects: the contestation of the Islam of ‘the sea people’ against the Islam of ‘the land people’, the contenstation of the ‘official’ Islam against the ‘traditional’ Islam, and the challenges of modernity, especially the commodification of the Bajo religious expressions. This contestation, in turn, reconstructs their religious identity into a more adaptive one.
Misrepresentation of Science and Expertise: Reflecting on Half a Century of Indonesian Anthropology Irwan Abdullah
Humaniora Vol 30, No 1 (2018)
Publisher : Faculty of Cultural Sciences, Universitas Gadjah Mada

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.854 KB) | DOI: 10.22146/jh.33429

Abstract

Indonesian anthropology was founded in 1957 and developed since then in various universities. After more than fifty years of inhabiting these lecture halls, anthropology’s orientation as a science has transformed from a discipline that bestows on graduates the ability to think into one in which graduates are prepared for a career of conductingfield research ordered by others. This article reflects on the shifts that have occurred in anthropology, focusing on three of the field’s central figures in Indonesia: Koentjaraningrat, Masri Singarimbun, and Parsudi Suparlan. During the lives of these three pioneers, anthropology playeda central role in critically evaluating humanitarian projects, and as such anthropologists frequently served to protect the weak and marginal. Anthropologists were on the frontlines of every discussion regarding the future of the nation, enabling anthropological perspectives to be accommodated in policy. Today, anthropologists seem locked into their own academic spaces. The results of anthropological field research are often said to provide unique and interesting—but irrelevant—stories. This article recommends a fundamental transformation in the curriculum, allowing the politics of science to be reconsidered and reformulated to ensure anthropology maintains a central role in resolving future humanitarian problems.
Co-Authors Achmad Nurmandi Ade Yamin Ahmad Firdaus, Ahmad Ahmad Muzakky Ahmad Sunawari Long Ahmad Zubaidi Andi Jam’an Andri Arief Rachman Asdi Asdi Asnaini Asnaini Asnaini Asnaini, Asnaini Asyifa Nadia Jasmine Atho'ilah Aly Najamudin Atik Tri Ratnawati Ayu Yuningsih Benny Baskara Cho Youn Mee Cut Irna Liyana Dian Asriani Djoko Surjo Djoko Suryo Djoko Suryo Efendi, Zakaria Eka Wardiana Ekawati Sri Wahyuni Emilia Bassar Erdi Wikan Febrihananto Fatimah Fatimah Fernando, Henky Franceline Anggia Galuh Nur Rohmah Hadiati E Hadiati Erry Hasse Jubba Hermin I. Wahyuni Hermin Indah Wahyuni Heru Nugroho Heru Nugroho Heru Nugroho Hidayati, Mega I Putu Sastra Wingarta Ibnu Mujib Idrus Al-Hamid Iribaram, Suparto Istiadah Istiadah Iswandi Syahputra Jubba, Hasse Kahar Laila Nur Atika Lala M Kolopaking Lasiyo Lasiyo Leanne Morin Liliek Budiastuti Wiratmo M A Chozin M. Alkaf M. Hidayat Magfirahtun Tristiawati Rusli Maghfira Nur Aziza Mahesa Mandiraatmadja Meysella Al Firdha Hanim Miko Polindi Mohamad Yusuf Muassomah Muassomah Muchran BL BL Muhammad Arifin Muhammad Arifin Muhammad Hendri Muhammad Rifai Darus Mutmainna Rachman nfn Sumardjo Nur Intan Vadila Nur Quma Laila Nur Sandi Marsuni Nurhadi Yuwana Nurul Ainul Mukrima Nurul Khusna Pahira Pahira Prima Ayu Rizqi Mahanani Putri Ananda Saka Rahman, Farida Ratna Noviani Riri Novitasari Rohmani Nur Indah Sahrullah Sahrullah Saifuddin Zuhri Qudsy Samsul Rizal Siti Masitoh Sjafri Sairin Sulaiman, Syarifuddin Sunandar Macpal syf aminah Tyas Retno Wulan Ulung Pribadi, Ulung Vivid Violin Wening Udasmoro Wildana Wargadinata Yuniar Galuh Larasati Zaenuddin Hudi Prasojo Zaenuddin Hudi Prasojo ZAINAL ABIDIN BAGIR Zainal Said Zakaria Efendi Zalkha Soraya Zuli Qodir Zuly Qodir Zuly Qodir Zuly Qodir Zuly Qodir