Claim Missing Document
Check
Articles

Found 6 Documents
Search
Journal : FOUNDASIA

Pendidikan berbasis nilai untuk guru taman kanak-kanak Rukiyati Rukiyati; Lusila Andriani Purwastuti; Mami Hajaroh; Arif Rohman
FOUNDASIA Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Prodi Filsafat dan Sosiologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v12i2.46494

Abstract

Studi ini bertujuan untuk meningkatkan kemampuan profesional guru dalam menghidupkan nilai-nilai yang diterapkan di sekolah. Kegiatan ini menggunakan strategi berupa teori, dialog, dan proyek. Instrumen yang digunakan adalah kuis dan angket. Teknik analisis menggunakan analisis deskriptif. Subjek kegiatan adalah guru Taman Kanak-Kanak di berbagai wilayah di Indonesia, meliputi Nusa Tenggara Timur, Sumatera, Jawa dan Hong Kong sejumlah 142 orang. Hasil kegiatan menyimpulkan bahwa para guru telah dapat memahami nilai-nilai dan mempraktikkannya di dalam kegiatan pembelajaran. Para peserta mengungkapkan bahwa mereka mendapatkan ilmu yang sangat bermanfaat dan juga dapat bertukar pengalaman dengan guru di luar Yogyakarta sehingga pertemanan peserta tampak semakin akrab. Peserta menilai kegiatan telah berjalan sangat baik dan bermanfaat.  Saran dalam kegiatan selanjutnya adalah dilibatkannya orang tua siswa dalam kegiatan ini sehingga tujuan pendidikan berbasis nilai dapat dicapai dengan lebih optimal.Kata kunci: Pendidikan taman kanak-kanak, nilai-nilai, kompetensi guru
High order thinking skill sebagai landasan dalam pengembangan asesmen dan evaluasi pendidikan Mami Hajaroh
FOUNDASIA Vol 12, No 2 (2021)
Publisher : Prodi Filsafat dan Sosiologi Pendidikan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v12i2.47332

Abstract

Studi ini memberikan wawasan tentang konsep keterampilan berpikir tingkat tinggi sebagai kompetensi yang integral dengan keterampilan berpikir tingkat rendah. Kompetensi berpikir kritis dan kreatif sebagai kompetensi tingkat tinggi terbentuk dari kompetensi berpikir tingkat rendah dari kemampuan mengingat, memahami, menerapkan, menganalitis, hingga mampu berpikit kritis dan kreatif. Pengetahuan sebagai obyek berpikir memiliki dimensi-dimensi dari pengetahuan faktual, konseptual, prosedural dan pengetahuan metakognitif. Pendidik dalam proses pembelajaran membantu peserta didik berproses untuk mencapai kompetensi yang tinggi melalui pembelajaran yang multi dimensi tersebut dan melakukan penilaian untuk membantu proses pelaksanaan kompetensi serta memastikan ketercapaian evaluasi hasil belajar. Taksonomi pendidikan yang ditemukan oleh Bloom merupakan konsep dasar yang selalu menjadi rujukan dalam menyusun tujuan atau kompetensi pendidikan dan evaluasinya. Kompetensi berpikir kreatif sebagai kompetensi berpikir tinggi yang ditambahkan oleh Andersen di tahun 2001. Pembaruan taksonomi Bloom yang dilakukan oleh Andersen menjadikan konsep ini relevan dengan konteks dunia di abad 21.Kata kunci: Berfikir tingkat tinggi, asesmen, evaluasi pembelajaran.
PENANAMAN NILAI-NILAI NASIONALISME MELALUI KEARIFAN LOKAL PARA BURUH MIGRAN DI HONG KONG Rukiyati, Rukiyati; Hajaroh, Mami; Purwastuti, Lusila Andriani
FOUNDASIA Vol. 9 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v9i1.26162

Abstract

Para buruh migran yang bekerja di Hong Kong perlu diberi motivasi dan wawasan keindonesiaan dan rasa nasionalisme agar mereka bekerja dengan tekun tetapi mempunyai target yang jelas untuk kembali ke tanah air. Pemberian motivasi dan wawasan dilakukan dengan media kearifan lokal Indonesia berupa pengenalan kembali dan menyanyikan lagu-lagu tradisional, dan  lagu wajib serta memasak makanan tradisional Indonesia. Peserta pelatihan ini adalah para buruh migran yang tergabung dalam organisasi nirlaba TCKLC Hong Kong sebanyak 25 orang, kesemuanya perempuan. Metode PPM yang digunakan adalah ceramah singkat, diskusi, penugasan, praktik, dan bernyanyi. Hasil kegiatan PPM menunjukkan para buruh migran sangat senang menerima pelatihan penanaman nilai-nilai nasionalisme melalui kearifan lokal. Diperoleh kesadaran dari para buruh migran bahwa walaupun di Hong Kong mereka mendapatkan penghasilan yang cukup besar, tetapi tetap merasa sebagai kurang bermartabat, kurang terhormat. Setelah pelatihan,para buruh migran merasa sangat termotivasi untuk pulang ke tanah air dengan  rencana yang jelas untuk pekerjaan dan kegiatannya masing-masing. Bekal dari Hong Kong berupa uang akan dimanfaatkan untuk usaha dan sekolah,  sedangkan bekal ilmu akan digunakan untuk bekerja menjadi guru di daerahnya masing-masing. Lima bulan setelah pelatihan, diperoleh informasi sebagian buruh migran yang telah selesai masa kontraknya benar-benar telah kembali ke tanah air dan bekerja sesuai rencana ketika pelatihan. Ada yang menjadi guru PAUD, guru bahasa Inggris, melanjutkan pendidikan, dan ada pula yang berwirausaha. Kata kunci: Nilai nasionalisme, buruh migran, kearifan lokal
POHON TEORI EVALUASI KEBIJAKAN DAN PROGRAM (Metode, Nilai dan Menilai, Penggunaan) Hajaroh, Mami
FOUNDASIA Vol. 9 No. 1 (2018)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v9i1.26149

Abstract

Tulisan ini mendeskripsikan filosofi keilmuan evaluasi kebijakan dan program. Evaluasi sebagai bagian dari proses kebijakan merupakan tahap penting, yakni sebagai tahap penyediaan informasi tentang kebijakan dan program yang berjalan. Dalam prakteknya, evaluasi memerlukan teori-teori evaluasi. Teori yang dimaksudkan oleh para theorist identik dengan pendekatan atau model teori yang bersifat preskriptif, bukan tentang teori deskriptif atau empiris. Pohon teori evaluasi sebagai ilmu terapan dibangun oleh tiga akar ilmu yakni epistemology, social inqury dan social accountability yang membangun tiga cabang ilmu evaluasi. Ketiga cabang ilmu evaluasi meliputi cabang metode (method), cabang menilai (valuing), dan cabang penggunaan (use). Ketiga cabang pohon ilmu evaluasi dilihat sebagai sesuatu yang saling berhubungan satu sama lain. Bila pohon ilmu evaluasi  itu berada dalam ruang tiga dimensi maka ujung kanan adalah cabang penilaian akan berhubungan dengan sisi paling kiri yakni cabang penggunaan. Para ahli ilmu evaluasi ditempatkan pada setiap cabang dengan melihat kecenderungan utama dan khusus dari pendekatan ilmu yang mereka kembangkan. Kata Kunci: Evaluasi, Pohon Teori, Pendekatan Evaluasi, Evaluasi Kebijakan
RESPECT: PENDIDIKAN UNTUK MENCEGAH KEKERASAN DI SKOTLANDIA HAJAROH, MAMI
FOUNDASIA Vol. 1 No. 9 (2008)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v1i9.5870

Abstract

Strategi Nasional Untuk Kekerasan dalam Keluarga di Scotlandia mengimplementasikan Strategi Pencegahan (Prevention Strategy), baik secara lokal maupun nasional Elemen-elemen kunci dari Prevention Strategy adalah: 1) Meningkatkan kesadaran publik (Public Awareness Raising); 2) Pendidikan (Education). 3) Pelatihan (Training); 4) Layanan untuk perempuan, anak-anak dan pemuda (Service,for women, children and young people); 5) Legislasi (legislation); 6) Strategi Tempat Kerja (workplace strategies); 7) Bekerja dengan Iaki-laki yang menggunakan kekerasan (Work with men who use violence). Salah satu kegiatan yang dilakukan adalah pelatihan 'Respect" bagi guru. Pelatihan ini tentang cara bagaimana mengajarkan kesetaraan pada anak. Target curriculum dalam pelatihan antara lain: 1) Komitmen untuk belajar; 2) menghargai dan menjaga diri; 3) menghargai dan menjaga orang lain; dan 4) tanggung jawab social. Konsep dari Skotlandia ini dapat diambil nilai-nilai dan prinsip pendidikannya untuk diimplemantasikan di Indonesia. Pelatihan terhadap guru dan calon guru tentang "pcmbclajaran yang menghargai" (respect) dapat diberikan agar guru dan calon guru memiliki "sense of respect" yang menjadi bagian dari diri yang tercermin dalam setiap perilaku guru baik di kelas maupun di dalam kelas. Selanjutnya, guru melatih dan membiasakan perilaku anak didiknya untuk memiliki "sense of respect" terhadap teman-teman dan lingkungan sehingga generasi kita menjadi generasi yang sanggup mengubah kekerasan menjadi perdamaian.
An Evaluation of the Implementation of the Equivalency Education Program in Community Learning Centers (CLCs) Bengkayang Regency Agantina Venalia; Mami Hajaroh
FOUNDASIA Vol. 17 No. 1 (2026)
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/foundasia.v17i1.89448

Abstract

This study aims to describe the results of evaluating the implementation of the equivalency education program at community learning centers. This is an evaluative study that utilizes the CIPP (Context, Input, Process, and Product) evaluation model. The research uses a descriptive qualitative approach and purposive sampling. The sample consists of two Community Learning Centers (CLCs) in Bengkayang Regency: The Adubs Community Learning Center and the Insan Madani Community Learning Center. The research subjects or data sources were the institution managers, tutors, and learners. Data was collected using observation, interviews, and documentation. Data analysis involved triangulation and three stages: data reduction, data presentation, and conclusion. The result showed: (1) from a contextual perspective, that implementers' understanding of non-formal education policies and standards is not yet fully optimal. The identification of learners' needs has not been effectively carried out on a regular basis, resulting in strategic planning that is not fully targeted. (2) From the input aspect, the implementation of the equity education program still has limitations in terms of human resource quality, infrastructure, and funding that do not meet standards; tutor qualifications are still not in line with regulations, and budget constraints hinder the effectiveness of achieving an ideal program. (3) Process aspect: program implementation is approaching compliance and effectiveness based on Ministry of Education and Culture Regulation No. 47 of 2023, but there are still weaknesses in management, institutional oversight, and supervision of teachers/institutional heads, which is rarely conducted. Partnerships at CLC Adubs are quite good, while at CLC Insan Madani, they are still limited, thereby reducing the program's reach and support. (4) The product aspect indicates that the program is effective, as evidenced by the learning outcomes of the learners, with a graduation rate of nearly 90%. This study recommends improving human resource quality, fulfilling infrastructure needs, strengthening management and supervision, and expanding partnerships to support the quality and sustainability of the equity education program.