Claim Missing Document
Check
Articles

JADWAL WAKTU SALAT ABADI Jayusman, Jayusman
Khatulistiwa Vol 3, No 2 (2013)
Publisher : The Pontianak State Institute of Islamic Studies

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (140.903 KB) | DOI: 10.24260/khatulistiwa.v3i2.213

Abstract

The all time, perpetual or all year round prayer schedule so it is called because the schedule can be used for a very long period of time. Even for centuries, this schedule is still accurate. The schedule is usually disputed by the Falak experts with regard to certain time zones that need to be adjusted.
Mahar Hafalan Al-Qur’an Perspektif Hukum Islam Irawan, Ibnu; Jayusman, Jayusman
Palita: Journal of Social Religion Research Vol. 4 No. 2 (2019): Palita: Journal of Social Religion Research
Publisher : LP2M IAIN Palopo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24256/pal.v4i2.804

Abstract

Mahar merupakan pemberian dari mempelai pria kepada wanita yang berupa materi, baik berupa seperangkat alat salat, cincin, uang atau barang berharga lainnya. Belakangan ini hafalan al-Qur’an juga kerap digunakan sebagai mahar pernikahan, dengan berbagai alasan; mahar yang meringankan, mengikuti tren, dan keinginan pribadi. Fenomena ini tidak sama dengan kasus Sahl bin Said al-Sa’idi. Tinjauan hukum Islam, dan teori maqasid al-syariyah sangat tepat digunakan dalam menentukan kepastian hukum dari fenomena tersebut. Penelitian ini merupakan kajian pustaka (library research) dengan menggunakan metode deskriptif analisis.
Interfaith Inheritance in Muslim Families in Indonesia: Practices, Philosophy, and the Direction of National Inheritance Law Development Fahimah, Iim; Suwarjin, Suwarjin; Gusmansyah, Wery; Zubaedi, Zubaedi; Jayusman, Jayusman
AHKAM : Jurnal Ilmu Syariah Vol. 24 No. 2 (2024)
Publisher : Universitas Islam Negeri Jakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15408/ajis.v24i2.40907

Abstract

This article examines the mechanisms of inheritance resolution in cases of different religions in several regions of Indonesia, namely North Sumatera, Central Java, Bengkulu, and East Java, focusing on integrating customary law, religious law, and state law in inheritance distribution. This research employs a descriptive qualitative approach with a case study method, where data is gathered through interviews, observations, and literature reviews on the practice of inheritance among families with different religions. The findings reveal that family deliberation remains the primary principle in resolving inheritance disputes despite the religious differences among heirs. Social and cultural values such as kinship, mutual assistance, and interfaith tolerance play a significant role in the inheritance process, with each region having its own ways of accommodating religious differences within families. The legal pluralism approach, which combines customary law, religious law, and state law, forms the foundation for developing a fair and inclusive national inheritance law. This article suggests strengthening the principle of deliberation, creating an adaptive legal unification, and formulating inclusive regulations for interfaith inheritance rights to create a harmonious and just inheritance system that aligns with the spirit of Indonesia's cultural diversity. AbstrakArtikel ini mengkaji mekanisme penyelesaian waris beda agama di beberapa wilayah di Indonesia, yaitu Sumatera Utara, Jawa Tengah, Bengkulu, dan Jawa Timur, dengan fokus pada integrasi hukum adat, agama, dan negara dalam pembagian warisan. Penelitian ini menggunakan pendekatan kualitatif deskriptif dengan metode studi kasus, di mana data diperoleh melalui wawancara, observasi, dan kajian literatur mengenai praktik waris beda agama dalam masyarakat. Hasil penelitian menunjukkan bahwa meskipun terdapat perbedaan agama di antara ahli waris, musyawarah keluarga menjadi prinsip utama dalam penyelesaian sengketa waris. Nilai sosial dan budaya seperti kekeluargaan, gotong royong, dan toleransi antaragama berperan penting dalam proses pembagian warisan, dengan setiap daerah memiliki cara-cara tersendiri dalam mengakomodasi perbedaan agama dalam keluarga. Pendekatan pluralisme hukum yang memadukan hukum adat, agama, dan negara menjadi landasan dalam pengembangan hukum waris nasional yang adil dan inklusif. Artikel ini menyarankan penguatan prinsip musyawarah, unifikasi hukum yang adaptif, serta penyusunan aturan inklusif untuk hak waris lintas agama, guna menciptakan sistem kewarisan yang harmonis dan adil sesuai dengan semangat keragaman budaya Indonesia.
Revealing the Enforcement of Mbasuh Dusun Tradition for Pregnant Women Outside of Marriage in Indonesia Efrinaldi, Efrinaldi; Jayusman, Jayusman; Fatimah, Fatimah; Rimanto, Rimanto; Yarmunida, Miti
AL-ISTINBATH : Jurnal Hukum Islam Vol 8 No 2 November (2023)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Curup

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29240/jhi.v8i2.8437

Abstract

This research aims to reveal the enforcement of the mbasuh dusun tradition in cases of pregnancy outside marriage in Bengkulu City, Indonesia. This type of research is field research. The nature of this research is descriptive analytic. Data collection techniques in this study used observation, interviews, and documentation. The data obtained was analyzed using descriptive qualitative methods to obtain conclusions and research findings. The result of this study is that: the implementation of the mbasuh dusun tradition is a customary sanction for pregnant women outside of marriage in Bengkulu City, as al-'urf al-shahih and has an effective impact. This mbasuh dusun tradition is carried out by slaughtering a goat, and the perpetrator must be present to be aware and must apologize. Then give charity  (and ask for prayers) at the place where the goat was slaughtered or outside the house. Unlike customary sanctions in other regions, the implementation of the mbasuh dusun tradition has a goal and purpose, so that the perpetrator is ashamed and does not repeat the act again, so that it can effectively reduce and even deter the perpetrator. The application of this customary sanction in the context of developing marriage law in Indonesia, it is necessary to review the legalization of marriage of pregnant women outside of marriage in the Compilation of Islamic Law (KHI), and it turns out that the provision of sanctions for pregnant women outside of marriage has a significant impact on creating a deterrent effect and bringing benefits to the community. 
Peraturan Gubernur DKI Jakarta No. 185 tahun 2017 Tentang Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Bagi Calon Pengantin Perspektif Maslahah Mursalah Jayusman, Jayusman; Efrinaldi, Efrinaldi; Jaya, Hervianis Virdya; Putra, Andi Eka; Bunyamin, Mahmudin
MU'ASYARAH: Jurnal Kajian Hukum Keluarga Islam Vol 1, No 1 (2022): Oktober
Publisher : UIN Fatmawati Sukarno Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29300/mua.v1i1.4896

Abstract

Pemerintah DKI Jakarta membuat suatu kebijakan yang mewajibkan setiap masyarakatnya yang hendak menikah harus melakukan pemeriksaan kesehatan. Surat pemeriksaan kesehatan menjadi salah satu syarat dilangsungkannya perkawinan yang mencakup imunisasi TT, tes HIV/AIDS, IMS, dan Hepatisis yang dilakukan oleh puskesmas dan/rumah sakit setempat, kemudian hasilnya berupa Sertifikat Layak Kawin. Rumusan masalahnya adalah bagaimanakah tinjauan maslahah terhadap Pergub DKI Jakarta No. 185 Tahun 2017 tentang Konseling dan Pemeriksaan Kesehatan Bagi Calon Pengantin dalam konteks pengembangan hukum keluarga Islam di Indonesia? Penelitian ini berjenis library research dan bersifat deskriptif analitis. Data primernya Pergub DKI Jakarta No. 185 Tahun 2017 sedangkan data sekundernya terdiri dari literatut terkait. Penelitian ini menggunakan kajian teori maslahah dan pendekatan Ushul Fiqh. Analisis dan penarikan kesimpulan dilakukan secara deduktif. Kesimpulannya, kebijakan ini merupakan upaya preventif, dalam rangka mencegah hal-hal seperti: penyebaran penyakit menular, perceraian, KDRT, kematian ibu dan bayi yang disebabkan karena faktor kesehatan, dan penyakit turunan. Kebijakan ini sejalan dengan tujuan dari hukum Islam yang disebut dengan maqāsid syarī’ah yaitu demi hifz al-nafs (menjaga jiwa antar calon pengantin dari penyakit menular, menjaga jiwa bagi ibu hamil juga pada bayi yang dikandungnya). Kebijakan ini memberikan kemaslahatan bersama khususnya bagi calon pengantin dan anak keturunannya sebagai generasi penerus bangsa.
Community-Based Religious Empowerment and Family Resilience: The Masturah Program for Divorce Prevention among Tablighi Jamaat Families Jayusman, Jayusman; Shafra, Shafra; Rahmi, Rahmi
Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam Vol. 19 No. 1 (2026): Ijtimaiyya: Jurnal Pengembangan Masyarakat Islam
Publisher : Universitas Islam Negeri Raden Intan Lampung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24042/ijpmi.v19i1.30739

Abstract

Divorce rates in Indonesia are high and worrying. Problem-solving is needed to help the government address these issues. The Masturah program for the Tablighi Jamaat in Lampung is the basic capital in the formation of a sakinah family, a harmonious household, and it avoids divorce. The pre-research findings of this program are believed to have helped suppress the divorce rate among Tabligh congregations in Lampung. Whereas, logically, their domestic life is vulnerable to disharmony because husbands often perform khurūj. This paper will further discuss how the Masturah program for the Tablighi Jamaat at Al-Kirom Islamic Boarding School, Kebon Bibit Hajimena, South Lampung, aims to realize a sakinah family and reduce the divorce rate among the Tablighi Jamaat. The findings of this study are the masturah program for the Tablighi Jamaat at Al-Kirom Islamic Boarding School, Kebon Bibit Hajimena, South Lampung, which contains maslahah and is a structured religious development program that fosters sakinah, mawaddah, and a family full of grace, guided by Islamic teachings. This program has succeeded in turning its alumni into more observant couples, maintaining family religious education, and carrying out religious orders. Thus reducing the divorce rate among them.
Keragaman Genetik Pertumbuhan pada Sifat Bentuk Batang dan Indeks Volume Kayu Surian (Toona sinensis Roem) di Plot Uji Provenans Candiroto, Jawa Tengah Jayusman, Jayusman
Bioedukasi: Jurnal Pendidikan Biologi Vol 11, No 1 (2018): Bioedukasi: Jurnal Pendidikan Biologi
Publisher : Department of Biology Education Faculty of Teacher Training and Education Sebelas Maret Un

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (286.652 KB) | DOI: 10.20961/bioedukasi-uns.v11i1.19730

Abstract

Uji provenan untuk memilih materi genetik surian yang akan dilibatkan dalam program pemuliaan  telah dilakukan di Candiroto, Jawa Tengah dengan menguji 15 provenans dengan rincian  5 provenans dari Jawa Barat, 8 provenas dari Jawa Tengah dan 2 provenans dari Jawa Timur.  Desain pengujian  berbentuk square plot (5 x 5), 25 pohon setiap blok,  3 replikasi dengan jarak tanam 3 x 3m pada areal seluas 1,2 Ha. Pengamatan periodik dilakukan dengan melakukan pengukuran beberapa sifat pertumbuhan penting antara lain bentuk batang dan indeks volume kayu. Pemilihan kedua sifat tersebut berdasarkan peruntukan kayu surian adalah untuk bahan kayu pertukangan yang dipersyaratkan memiliki bentuk batang lurus, silindris dengan tinggi bebas cabang seoptimal mungkin, serta mampu menghasilkan volume kayu yang maksimal. Pengamatan pada umur 11 tahun terhadap bentuk batang dilakukan berdasarkan skor 1 – 5 sedangkan indeks volume batang dihitung tanpa dikalikan angka bentuk. Hasil pengamatan menunjukkan bahwa nilai rerata bentuk  batang surian terdistribusi paling banyak pada pada rentang skor   2,03 – 4,21 dengan nilai rerata 3,2 yang mengindikasikan bentuk batang surian cenderung  lurus mulai dari setengah tinggi bebas cabang hingga batang lurus setinggi bebas cabang. Pengamatan indeks volume seluruh provenans berada pada  kisaran 0,11 - 0,33 m3 denga nilai rerata sebesar 0,23 m3. Analisis varian menunjukkan kedua sifat tersebut sangat dipengaruhi asal provenans. Hasil uji Duncan menunjukkan bahwa peringkat seluruh provenan untuk kedua sifat tidak selaras. Berdasarkan sifat bentuk batang dan indeks volume dari seluruh provenans yang diuji  maka peluang menetapkan provenans terbaik untuk ditetapkan sebagai sumber materi genetik untuk pembangunan populasi pemuliaan telah dapat dilakukan karena data yang digunakan telah memenuhi setengah daur penebangan. Keterbatasan jumlah famili dan individu yang di plot uji provenans dapat dilengkapi dengan infusi atau penambahan materi genetik dari provenans terpilih tersebut dengan tetap mempertimbangkan area koleksi yang mewakili sebaran provenas dan kecukupan jumlah famili. Untuk mendapatkan panduan dalam infusi materi genetik maka diperlukan informasi keragaman genetik, sehingga koleksi materi genetik lanjutan yang akan dilakukan dapat  lebih efektif.