Claim Missing Document
Check
Articles

Found 13 Documents
Search
Journal : Archive of Community Health

FAKTOR-FAKTOR YANG BERHUBUNGAN DENGAN KEINGINAN PERPINDAHAN FASILITAS KESEHATAN TINGKAT PERTAMA PADA PESERTA JKN MANDIRI DI KOTA DENPASAR TAHUN 2017 Iwan Abdi Suandana; Pande Putu Januraga; Putu Ayu Indrayathi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 6 No 1 (2019): Juni 2019
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (581.998 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2019.v06.i01.p01

Abstract

ABSTRAK Keinginan pindah fasilitas kesehatan tingkat pertama merupakan salah satu bentuk ketidakpuasan pasien serta akan berdampak pada loyalitas pasien dalam memanfaatkan pelayanan kesehatan. Pada tahun 2016, terjadi peningkatan yang signifikan pada peserta JKN Mandiri di Kota Denpasar yang melakukan perpindahan FKTP yaitu di bulan Juni sebanyak 453 orang dan menjadi 504 orang pada bulan November 2016. Berdasarkan hasil wawancara dengan pihak BPJS Kesehatan Cabang Denpasar didapatkan data mengenai keluhan peserta JKN di FKTP di Kota Denpasar meliputi pelayanan yang kurang ramah, kurang informatif, antrian panjang, penolakan pasien luar wilayah dan pasien tidak terlayani karena berobat di luar jam kerja FKTP. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang berhubungan dengan keinginan pindah FKTP pada peserta JKN Mandiri di Kota Denpasar. Desain penelitian ini menggunakan analitik crossectional dengan jumlah sampel 108 orang. Teknik pengambilan sampel dilakukan dengan cara consecutive sampling di beberapa FKTP yang bekerjasama dengan BPJS Kesehatan di Kota Denpasar. Pengumpulan data dilakukan dengan kuesioner dan dianalisis dengan analisis univariat, bivariat (chi-square) dan multivariat (regresi logistik) Berdasarkan hasil mutivariat didapatkan hasil terdapat hubungan antara ketersediaan fasilitas (p=0,005, 95% CI=2,05-56,57), waktu tunggu (p=0,000, 95% CI=5,98-233,68), jarak (p=0,000, 95% CI=3,66-51,92), pindah domisili (p=0,022, 95% CI=1,34-43,01) dan pelayanan dokter (p=0,005, 95% CI=2,02-55,32) dengan keinginan pindah FKTP, sedangkan waktu pelayanan tidak mempunyai hubungan dengan keinginan pindah FKTP (p=0,138, 95% CI=0,50-147,25). Adapun faktor yang paling dominan terhadap keinginan pindah FKTP yaitu waktu tunggu (p=0,000 dan Adjust OR= 37,38) Bagi pihak FKTP sebaiknya dapat meningkatkan kualitas mutu pelayanan yang diberikan pada peserta JKN serta bagi BPJS Kesehatan dapat meningkatkan penilaian terhadap FKTP yang bekerjasama dengannya dalam hal kredensialing dan rekredensialing FKTP. Kata Kunci: Perpindahan, FKTP, JKN ABSTRACT The desire to move first-level health facilities is one form of patient dissatisfaction and will have an impact on patient loyalty in utilizing health services. In 2016, there was a significant increase in JKN Mandiri participants in Denpasar City who moved FKTP in June as many as 453 people and became 504 people in November 2016. Based on interviews with BPJS Health Denpasar Branch data obtained about JKN participants' complaints in FKTP in Denpasar City includes services that are not friendly, less informative, long queues, rejection of patients outside the region and patients not served because of treatment outside FKTP working hours. This study aims to determine the factors associated with the desire to move FKTP on JKN Mandiri participants in Denpasar City. The design of this study used cross-sectional analytics with a sample of 108 people. The sampling technique was done by consecutive sampling in several FKTP in collaboration with BPJS Health in Denpasar City. Data collection was carried out by questionnaire and analyzed by univariate, bivariate (chi-square) and multivariate (logistic regression) analysis. Based on the results of the mutivariat, there was a correlation between the availability of facilities (p = 0.005, 95% CI = 2.05-56.57) , waiting time (p = 0,000, 95% CI = 5.98-233.68), distance (p = 0,000, 95% CI = 3.66-51.92), moving domicile (p = 0.022, 95% CI = 1.34-43.01) and doctor's service (p = 0.005, 95% CI = 2.02-55.32) with the desire to move FKTP, while the service time has no relationship with the desire to move FKTP (p = 0.138, 95 % CI = 0.50-147.25). The most dominant factor for the desire to move FKTP is the waiting time (p = 0,000 and Adjust OR = 37.38) For the FKTP it should be able to improve the quality of service provided to JKN participants and for BPJS Health can improve the assessment of FKTP in collaboration with in terms of FKTP credentialing and recruitment. Keywords: Displacement, FKTP, JKN
EVALUASI PENGELOLAAN DANA BANTUAN OPERASIONAL KESEHATAN DI PUSKEMAS III DENPASAR SELATAN DAN JARINGANNYA DI DENPASAR, BALI Andrew Paul; Pande Putu Januraga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 8 No 3 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ACH.2021.v08.i03.p04

Abstract

ABSTRAKPemerintah telah membantu Puskesmas dan jaringannya di setiap daerah melalui dana Bantuan Operasional Kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji manfaat dana BOK yang diterima oleh Puskesmas dan yang dirasakan oleh masyarakat. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif melalui wawancara mendalam terhadap Kepala Puskesmas, Kepala Tata Usaha, Bendahara BOK, Penanggungjawab Promotif Preventif, Penanggungjawab KIA/KB dan Imunisasi, serta wawancara mendalam terhadap beberapa pengguna yang biasa menggunakan jasa Puskesmas. Manfaat dana BOK untuk Puskesmas ditinjau dari segi manajemen untuk mendukung kegiatan promotif preventif serta dapat memperluas cakupan program. Berikutnya terpenuhinya sumber biaya untuk kegiatan yang mencakup SPM sehingga dapat terlaksana sesuai jadwal. Kemudian kegiatan Kesehatan Ibu dan Anak serta Imunisasi dapat berjalan dengan baik. Sedangkan manfaat dari segi operasional adalah dapat menjangkau lapisan masyarakat seluas-luasnya melalui kegiatan di luar Puskesmas. Manfaat dana BOK untuk masyarakat dalam hal kualitas layanan adalah adanya peningkatan dalam pelayanan. Sedangkan manfaat dalam hal kemudahan akses adalah dalam hal antrian loket tidak lagi terlalu lama. Privatisasi juga menjadi jauh lebih baik karena sudah tersedia lebih banyak ruangan-ruangan pemeriksaan. Untuk ke depannya diharapkan agar juknis operasional dana BOK dapat diperbaharui. Untuk seluruh staf Puskesmas agar pelayanan yang sudah baik tetap dipertahankan bahkan ditingkatkan.Kata Kunci: BOK, Promotif dan Preventif, Manfaat
HUBUNGAN KARAKTERISTIK PASIEN TERHADAP TINGKAT KEPERCAYAAN ATAS PELAYANAN YANG DIBERIKAN OLEH DOKTER RESIDEN DI RUANG RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM PUSAT SANGLAH DENPASAR TAHUN 2017 Ni Made Mas Dwi Purwaningrat; Pande Putu Januraga; Putu Ayu Indrayathi
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 4 No 2 (2017): Desember (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (675.242 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2017.v04.i02.p01

Abstract

ABSTRAKSalah satu faktor yang paling mempengaruhi kepercayaan pasien adalah kualitas pelayanan yang diberikan, dimana pentingnya karakteristik pasien sebagai penentu utama pembentukan persepsi terhadap suatu pelayanan di rumah sakit. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan karakteristik pasien terhadap tingkat kepercayaan pasien atas pelayanan yang diberikan oleh dokter residen. Penelitian ini dilakukan di Ruang Rawat Inap Kelas III RSUP Sanglah Denpasar. Desain penelitian menggunakan rancangan Cross Sectional analitik kuantitatif. Sampel diambil dengan teknik consecutive sampling sebanyak 109 responden. Analisis data dilakukan dengan uji statistik Chi Square Fisher Exact’s untuk melihat hubungan karakteristik pasien terhadap tingkat kepercayaan atas pelayanan yang diberikan oleh dokter residen. Hasil penelitian menunjukkan bahwa ada hubungan antara karakteristik pendidikan pasien (p=0,014) dan karakteristik umur (p=0,043) dengan tingkat kepercayaan pasien atas pelayanan dokter residen. Tetapi tidak ada hubungan antara jenis kelamin (p=0,104) dan pekerjaan (p=0,751) dengan tingkat kepercayaan pasien atas pelayanan dokter residen. Karakteristik umur responden rata-rata 42,02 pada kelompok umur ? 45 tahun, jenis kelamin perempuan, pasien lebih banyak berpendidikan SMA/SMK dan berstatus bekerja. Pasien memiliki tingkat kepercayaan yang tinggi atas pelayanan dokter residen (82,57%). Ada hubungan antara karakteristik pendidikan dan karakteristik umur dengan tingkat kepercayaan pasien atas pelayanan dokter residen. Untuk mencapai target kepercayaan pelanggan, dapat dilakukan dengan menjelaskan pelayanan yang diberikan oleh dokter residen kepada pasien yang memiliki umur lanjut usia serta berpendidikan rendah.Kata Kunci : Kepercayaan Pasien, Rumah Sakit, Karakteristik ABSTRACTPatient’s Trust is one factors that influences the quality of services provided by hospital. In order to determine the level of patient trust, hospital needs to comprehend the characteristic of patients for decision making related to services provides by the hospital. The purpose of this study was to find out the relationship of patient characteristic towards level of trust for the service provided by resident doctors. This research was conducted in class III inpatient room at Sanglah Hospital Denpasar. This study is a cross sectional with quantitative approach. Samples were taken by consecutive sampling technique with 109 respondents. Data analysis was performed with Chi Square Exact’s Statistical Test to find out the relationship of patient characteristics toward level of trust in the services provided by resident doctors. Patient characteristic in this study include age, sex, education, and occupation. Study found that 90 respondents (82,57%) had high level of trust in the services provided by resident doctors .There was a relationship between the characteristics of patient education (p=0.014) and age characteristics (p=0.043) with the level of patient trust in the services of resident doctors. But there is no relationship between sex and occupation with p value 0.104 and 0.751 respectively. Therefore, to achieve target of customer trust, it can be done by explaining the services provided by resident doctors to elderly patients and low education.Keywords : patient trust, hospital, characteristics
INCREASING HIV PREVALENCE AMONG FEMALE SEX WORKERS IN INDONESIA: HOW IS IT PRESENTED IN THE MEDIA AND SCHOLARLY JOURNALS? Pande Putu Januraga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 2 No 2 (2013): Desember (2013)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3015.897 KB)

Abstract

Within different target audiences, the media and scholarly journals have significant roles in enhancing the awareness and influencing the development of HIV prevention-related policies. However, particularly in developing and poor countries, the media seem to affect policy development in contradictory ways. Thus, it is interesting to investigate how the increase in prevalence of HIV among female sex workers (FSWs) in Indonesia is represented in the media and to make a comparison of this representation with those in scholarly articles. Using three types of newspaper and peer-reviewed scholarly articles, this paper found that the media tend to frame the problem and its risk factors as merely a health problem produced by unsafe behaviours that are inappropriate to the local culture and belief. Efforts to challenge dominant values through the involvement of local media should encourage local journalists aware of the consequences of their chosen media template. Furthermore, given the fact that the majority of scholarly articles included in the analysis focused more on biological and behavioural factors of HIV infection, more social research is needed.
GAMBARAN PERAN PENGAWAS MENELAN OBAT KELUARGA DAN TENAGA KESEHATAN DI WILAYAH KERJA PUSKESMAS I DENPASAR BARAT Bella Riezka Aristianti Putri; Pande Putu Januraga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 5 No 1 (2018): Juni (2018)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (321.967 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2018.v05.i01.p06

Abstract

ABSTRAKData Dinas Kesehatan Provinsi Bali menunjukkan bahwa jumlah kasus TB paru terbesar berada di Denpasar sebesar 1021 kasus pada tahun 2015. Tidak tercapainya angka kesembuhan pasien dan angka konversi TB serta lamanya proses pengobatan pasien mempengaruhi kepatuhan pasien sehingga memerlukan pengawasan menelan obat dalam menjamin keteraturan pengobatannya. Tujuan dari penelitian ini untuk mengetahui gambaran peranan pengawas menelan obat keluarga dan dari tenaga kesehatan pada pasien tuberkulosis di Puskesmas I Denpasar Barat. Penelitian ini menggunakan metode penelitian kualitatif yang bersifat deskriptif dengan teknik pengambilan sampel secara purposive sampling serta menggunakan azas kecukupan dan kesesuaian. Hasil dari penelitian ini diketahui bahwa peran PMO keluarga dalam mengawasi pasien menelan obat, yaitu mengawasi pasien menelan obat jika tidak bekerja, memberikan dorongan agar pasien berobat secara teratur dengan memberikan kalimat motivasi, mengingatkan pasien untuk periksa dahak ulang dari jadwal pemeriksaan yang telah diberitahukan oleh petugas kesehatan dan dicatat dalam kartu kuning yang digunakan dalam pemeriksaan, merujuk pasien jika efek samping semakin berat dan menganjurkan pemeriksaan tanpa memberikan informasi mengenai TB, peran PMO tenaga kesehatan dalam mengawasi pasien menelan obat hanya menanyakan bagaimana minum obatnya, memberi dorongan dengan pemberian KIE agar minum obat secara teratur, mengingatkan pasien untuk periksa dahak ulang dari jadwal pemeriksaan yang telah ditetapkan, mengenali efek samping obat dengan pemberian KIE diawal pengobatan, dan memberikan informasi serta mengajurkan pemerikasaan bagi keluarga yang mempunyai gejala TB. Tetapi menurut pasien PMO keluarga hanya mengingatkan untuk minum obat dan dalam tidak diberikannya informasi mengenai TB dikarenakan masih adanya stigma negatif di masyarakat serta pengetahuan PMO keluarga yang kurang mengenai perannya. Secara umum PMO telah menjalankan perannya tetapi masih terdapat beberapa peran yang masih belum dilakukan secara optimal sehingga upaya yang dapat dilakukan yaitu melakukan diskusi antara pasien, PMO keluarga dan tenaga kesehatan mengenai jadwal minum obat pasien dan memberikan informasi yang lebih terperinci mengenai perannya dalam proses pengobatan pasien TB.Kata Kunci: Peran, PMO Keluarga, PMO Petugas Kesehatan
KAMPANYE KONDOM, KEMENTERIAN KESEHATAN, DAN DETERMINAN SOSIAL KESEHATAN Pande Putu Januraga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 1 No 1 (2012): Juni (2012)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (824.377 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2012.v01.i01.p01

Abstract

ANALISIS IMPLEMENTASI BUDAYA ADAPTIF PUSKESMAS TEGALLALANG II KABUPATEN GIANYAR DALAM PROGRAM PENGENTASAN STUNTING PADA MASA PANDEMI COVID-19 Ni Kadek Esilia Septigar Pranati; Pande Putu Januraga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 9 No 1 (2022): April 2022
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ACH.2022.v09.i01.p02

Abstract

The stunting alleviation program is a national priority during the COVID-19 pandemic, thus encouraging primary health center to adapt. It is necessary to conduct research to determine the implementation of the adaptive culture of the Tegallalang II Primary Health Center in Gianyar Regency in the stunting alleviation program during the COVID-19 pandemic through the dimensions of creating change, customer focus, and organizational learning. The design of this research is descriptive with qualitative methods. The research informants were 16 people from health workers in the working area of ??the Tegallalang II Primary Health Center who were selected through purposive sampling technique. The data collection instrument used in-depth interview guidelines. The results showed that the Tegallalang II Primary Health Center had the main quality of customer-centered cultural adaptive culture. Change depends on the organization and the individual. The unpreparedness of health human resources is a major factor in the barriers to change. The lack of knowledge sharing activities causes the organizational level learning aspect to be less active. Internal and external support from health center is needed to increase the quantity of human resources and improve organizational learning. Key words: Adaptive Culture, Primary Health Center, Stunting Alleviation Program, COVID-19 Pandemic
STRATEGI PUSKESMAS KUTA II DALAM MEMPERTAHANKAN DAN MENINGKATKAN MUTU PELAYANAN KESEHATAN PADA MASA PANDEMI COVID-19 Ni Komang Yudi Sri Astari; Pande Putu Januraga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 8 No 3 (2021): Desember 2021
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ACH.2021.v08.i03.p08

Abstract

ABSTRAKPuskesmas sebagai salah satu penyedia layanan kesehatan bagi masyarakat perlu memiliki mutu pelayanan yang berkualitas sesuai dengan harapan masyarakat untuk dapat menjaga kepuasan serta kepercayaan pasien khususnya di masa pandemi COVID-19 seperti saat ini. Tujuan penelitian ini untuk mengetahui strategi dalam mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada masa pandemi COVID-19 di Puskesmas Kuta II Kabupaten Badung. Penelitian ini menggunakan metode kualitatif. Informan dari penelitian ini merupakan petugas dari Puskesmas Kuta II sejumlah 17 orang yang dipilih melalui teknik purposive sampling. Instrumen pengumpulan data menggunakan pedoman wawancara mendalam dan lembar observasi. Analisis data dilakukan dengan reduksi data, penyajian data, serta penarikan kesimpulan atau verifikasi. Hasil penelitian menunjukkan bahwa strategi yang ditetapkan oleh Puskesmas Kuta II dalam mempertahankan dan meningkatkan mutu pelayanan kesehatan pada masa pandemi COVID-19 telah mencakup seluruh aspek yang terdapat pada 4 prinsip penjaminan mutu dan 5 dimensi mutu dengan lebih menekankan pada selalu memenuhi kebutuhan atau harapan pelanggan dengan berusaha memberikan fasilitas yang baik serta memberikan pelayanan yang cepat, tepat, dan aman. Namun, dalam pelaksanaan strategi tersebut terdapat beberapa kendala seperti terbatasnya tempat yang ada dan SDM yang belum memadai. Oleh sebab itu, diperlukan adanya peningkatan manajemen SDM dan peningkatan penataan ruangan di puskesmas.Kata Kunci: Strategi, Mutu Pelayanan Kesehatan, Puskesmas
ANALISIS FAKTOR – FAKTOR KONDISI KERJA YANG MELATARBELAKANGI KETERLAMBATAN PENYELESAIAN PENGISIAN DOKUMEN REKAM MEDIS OLEH DOKTER DI INSTALASI RAWAT INAP RUMAH SAKIT UMUM DAERAH KABUPATEN KLUNGKUNG I Gede Diki Sudarsana; Ketut Suarjana; Pande Putu Januraga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 4 No 2 (2017): Desember (2017)
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (580.277 KB) | DOI: 10.24843/ACH.2017.v04.i02.p09

Abstract

ABSTRAKRSUD Kabupaten Klungkung merupakan salah satu rumah sakit yang belum dapat mencapai indikator mutu kelengkapan rekam medis 24 jam setelah selesai pelayanan. Kelengkapan, keakuratan, dan ketepatan rekam medis merupakan tanggungjawab utama dokter. Perilaku dokter dalam penyelesaian pengisian rekam medis salah satunya dapat dipengaruhi oleh kondisi kerja tempatnya bertugas. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor kondisi kerja yang melatarbelakangi keterlambatan penyelesaian pengisian dokumen rekam medis oleh dokter di Instalasi Rawat Inap RSUD Kabupaten Klungkung. Penelitian ini menggunakan metode deskriptif kualitatif. Pengumpulan data menggunakan metode wawancara mendalam dan studi dokumentasi yang dilakukan di instalasi rawat inap RSUD Kabupaten Klungkung pada bulan April-Mei 2017. Informan pberjumlah delapan orang yang terdiri dari dokter spesialis dan manajemen rumah sakit. Hasil penelitian ini menunjukan bahwa beban kerja yang cukup tinggi, belum efektifnya supervisi, belum maksimal pengetahuan dokter terkait rekam medis, belum terbiasanya dokter menggunakan formulir rekam medis yang baru, serta belum efektifnya pelaksanaan sosialisasi melatarbelakangi keterlambatan penyelesaian pengisian rekam medis oleh dokter. Selain itu, faktor diluar kondisi kerja yang melatarbelakangi keterlambatan penyelesaian pengisian yaitu kebijakan hari libur dan kepulangan pasien diluar jam kerja dokter spesialis. Simpulan penelitian ini diketahui bahwa faktor kondisi kerja yang belum optimal di RSUD Kabupaten Klungkung melatarbelakangi terjadinya keterlambatan penyelesaian pengisian dokumen rekam medis oleh dokter spesialis di instalasi rawat inap. Maka perlu adanya perbaikan pada faktor kondisi kerja yang ada di RSUD Kabupaten Klungkung.Kata Kunci : Dokter, Kondisi Kerja, Rekam Medis. ABSTRACTKlungkung Public General Hospital has not able to achieve one of the quality indicators namely completeness of patients’ medical records after 24 hours of the patient care is finalized. The completeness and validity of the medical record is the responsibility of the physician. This study aimed at identifying factors related to the physicians’ performance in filling up the medical records. This study used a qualitative method with in-depth interviews conducted among eight specialized physician and administrative staff working at in-patient wards of Klungkung Public General Hospital from April to May 2017. The study results showed two groups of factors influencing the performance of physicians in filling up the medical records. The first was internal working condition factors consist of a high work-load, lack of socialization and supervision, lack of knowledge related to the medical records management, and problems with the new forms. The second was external factors such as off-day policy as well as the time difference between patients’ discharge and physician working hours. The study conclusion is that suboptimal working conditions influence the completeness of patients’ medical records. A human resources strategy to optimize working condition particularly for physicians, is needed.Keywords: Doctor, Work Condition, Medical Record
GAMBARAN KESIAPAN RUMAH SAKIT UMUM DAERAH SANJIWANI KABUPATEN GIANYAR DALAM MENERAPKAN LAYANAN TELEMEDICINE Ni Kadek Ari Arniti; Pande Putu Januraga
ARCHIVE OF COMMUNITY HEALTH Vol 10 No 2 (2023): Agustus 2023
Publisher : Program Studi Sarjana Kesehatan Masyarakat Universitas Udayana Berasosiasi Dengan Ikatan Ahli Kesehatan Masyarakat Indonesia (IAKMI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24843/ACH.2023.v10.i02.p05

Abstract

ABSTRAK Faktor utama penyebab kegagalan implementasi telemedicine adalah kurangnya kesiapan dalam menggunakan teknologi yang ada. Implementasi telemedicine tidak akan efektif apabila penyedia pelayanan kesehatan tidak siap dengan perubahan yang terjadi. Oleh karena itu penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan kesiapan penerapan layanan telemedicine di RSUD Sanjiwani Kabupaten Gianyar di masa depan. Penelitian ini menggunakan desain penelitian kualitatif. Pemilihan informan dilakukan dengan teknik purposive sampling. Informan dalam penelitian ini berjumlah sebanyak 14 orang. Dalam penelitian ini menggunakan teknik analisis data interaktif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa dari konteks teknologi, organisasi dan lingkungan sudah menunjukkan pelaksanaan layanan telemedicine selama ini sudah berjalan dengan baik dan sudah menggambarkan kesiapan RSUD Sanjiwani Kabupaten Gianyar untuk menerapkan layanan telemedicine di masa depan. Namun tantangan kedepan dalam pelaksanaan layanan telemedicine di RSUD Sanjiwani Kabupaten Gianyar adalah belum terpenuhinya aspek kepuasan pasien. Oleh sebab itu, RSUD Sanjiwani Kabupaten Gianyar harus memenuhi aspek kepuasan pasien pengguna layanan telemedicine agar pengguna layanan telemedicine dapat memberikan umpan balik terhadap pelayanan yang diberikan. Kata Kunci : Kesiapan, Rumah Sakit, Telemedicine ABSTRACT The main factor that causing the failure implementation of the telemedicine is due lack of radiness to use the existing technology. The implementation of the telemedicine will not be effective if health care providers are not ready for changes. Therefore, this study aims to describe the readiness to implementation telemedicine at Sanjiwani Hospital of Gianyar Regency in the future. The study uses a qualitative research design. The selection of informants was carried out by purposive sampling technique. There were 14 informants in this study. In this study using interactive data analysis techniques. The results show that from the context of technology, organization and environment, the implementation of telemedicine has been going well and has illustrated the readiness of Sanjiwani Hospital of Gianyar Regency to provide telemedicine in the future. However, the future challenge in implementing telemedicine at Sanjiwani Hospital of Gianyar Regency is that the patient satisfaction aspect has not been met. Therefore, the Sanjiwani Hospital of Gianyar Regency must meet the aspects of patient satisfaction using telemedicine so that telemedicine service users can provide feedback on the services provided. Keywords: Readiness, Hospital, Telemedicine
Co-Authors - Suarjawa Adiatma Siregar, Adiatma Ajeng Diantini Andrew Paul Anton, Sri Sulistyawati Aree Jampaklay Aree Jampaklay Ariwidyastuti, Cokorda Istri Artha, Ketut Ary Diana Astuti, Maria Magdalena Zulian Puji Ayu Sugiantari Bella Riezka Aristianti Putri Benny Tjahjono Candradewi, Anak Agung Sagung Oka Nur Citra Mutiarahati, Ni Luh Cokorda Bagus Jaya Lesmana, Cokorda Bagus Jaya Cokorda Istri Ariwidyastuti Crosita, Yessi Dany Karmila Desak Nyoman Widyanthini Desak Putu Yulita Kurniati Devi, Ade Dwita Nia Sita Dewa Ayu Agung Dwita Arthaningsih Dewa Nyoman Wirawan Dewa Nyoman Wirawan, Dewa Nyoman Dewi Aprelia Meriyani Dewi, Ni Made Ayu Kemala Dewi, Ni Made Umi Kartika Diaris, Ni Made Dinar Lubis Dinar Lubis Djelantik, Manik Jantine Donny Hardiawan Duara, I Ketut Dusita Phuengsamran Dusita Phuengsamran Dwipayana, I Ketut Dyah Pradnyaparmita Duarsa Gde Ngurah Idraguna Pinatih Gede Bagus Parmadi Wijaya Gede Benny Setia Wirawan Gerstel, Lisanne Gusti Ayu Krisma Yuntari Gustina, Ni Luh Zallila Handayani, Miasari Harjana, Ngakan Putu Anom Hertog Nursanyoto I Desak Ketut Dewi Satiawati I Gede Diki Sudarsana I Gusti Agung Komang Diafari Djuni Hartawan I Gusti Ayu Agung Putri Krismayanthi I Gusti Ngurah Edi Putra I Gusti Ngurah Edi Putra I Gusti Ngurah Edi Putra I Ketut Duara I Ketut Dwipayana I Ketut Surya Negara I Made Ady Wirawan I Made Edy Listartha I Made Suarjana I Nyoman Dharma Wiasa I Nyoman Mangku Karmaya I Wayan Gede Artawan Eka Putra I Wayan Gede Artawan Eka Putra, I Wayan Gede Artawan Eka Ida Ayu Agung Dewi Sawitri Ida Ayu Putri Widhiastuti Indraswari, Ni Luh Astri Indrayani, Putu May Jampaklay, Aree Juwita, Mery Nurma K. Budiartha Kadek Suranugraha Kadek Tresna Adhi Kardiwinata,, Made Pasek Karmila, Dany Ketut Ary Diana Artha Ketut Suarjana Komang Ayu Kartika Sari Kowara, Mellysa Krismayanthi, I Gusti Ayu Agung Putri Kurniati, Desak Putu Y Kusumajaya, Anak Agung Ngurah Laszlo Robert Koloszvari Laurensius Patrick Lisanne Gerstel Luh Putu Sinthya Ulandari Luh Seri Ani Made Ayu Devi Pita Loka Made Pasek Kardiwinata Manuaba, I.B.G. Fajar Maria Magdalena Zulian Puji Astuti Maria Salestina Sekunda Maria Salestina Sekunda Mas Manik Astawastini, I Dewa Ayu Meriyani, Dewi Aprelia Monika Sri Yuliarti Monika Sri Yuliarti, Monika Sri Muchamad Zaenal Arifin, Muchamad Zaenal Murniati, Ni Nengah Narendra Suputra, I Dewa Gede Agung Ngakan Made Ari Mahardika Ni Kadek Ari Arniti Ni Kadek Esilia Septigar Pranati Ni Ketut Sri Lestari Ni Ketut Sutiari Ni Komang Yudi Sri Astari Ni Luh Putu Suariyani Ni Made Ayu Kemala Dewi Ni Made Dian Kurniasari Ni Made Diaris Ni Made Mas Dwi Purwaningrat Ni Made Parwati Ni Made Sri Nopiyani Ni Made Sri Nopiyani Ni Nengah Murniati Ni Nyoman Sri Budayanti Ni Putu Purlimaningsih Ni Putu Widarini Ni Wayan Arya Utami, Ni Wayan Arya Ni Wayan Septarini Ni Wayan Trisnadewi, Ni Wayan Nirmala, Putu Nitya Octaviana, Betty Olwin Nainggolan P. Muliawan P. Muliawan Panithee Thammawijaya Panithee Thammawijaya Pemayun, Cokorda Istri Mita Phuengsamran, Dusita Pradnyani RS, I Gusti Ayu Indah Pradnyawati, Luh Gede Pradnyawati, Luh Gede Prasad, Shailendra Prawinegara, Rozar Purlimaningsih, Ni Putu Putra, I Gusti Ngurah Edi Putu Aryani Putu Ayu Indrayathi Putu Emy Suryanti Putu Erma Pradnyani Putu Nitya Nirmala Rai Riska Resty Wasita Rina Listyowati Rina Listyowati Rina Listyowati, Rina Rofingatul Mubasyiroh rosida, Anik Rudi Wisaksana S.Pd. M Kes I Ketut Sudiana . Sagitariani, Sayu Kade Alit Santosa, Karina Samaria Sari, Komang Ayu Kartika Sawitri, Anak Agung Sagung Sawitri, Ida Ayu Agung Dewi Sayu Kade Alit Sagitariani Scholte, Willem F Suandana, Iwan Abdi Sudewi, Ni Made Ayu Sri Ratna Sudikno Sudikno Sugiantari, Ayu Sulaiman, Nurjannah Suranugraha, Kadek Surya Negara, Surya Suryanti, Putu Emy Susila, I Made Dwie Pradnya Swapatni, Ni Made Adi Thammawijaya, Panithee The Angela Prisilia Taroreh Ulandari, Luh Putu S Utami, Kadek Cahya Valerie, Ivy Cerelia Wati, Putu Ayu Wayan Citra Wulan Sucipta Putri Wibawa, I Komang Gede Sentanu Widhiastuti, Ida Ayu Putri Widowati, I Gusti Ayu Rai - Willem F Scholte Wirawan, Ady Yudi Ardiana Yudi Ardiana, Yudi Yuntari, Gusti Ayu Krisma