Claim Missing Document
Check
Articles

PEREMPUAN DALAM POLITIK DI SULAWESI UTARA Leviane Jackelin Lotulung; Deddy Mulyana
Sosiohumaniora Vol 20, No 2 (2018): SOSIOHUMANIORA, JULI 2018
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (296.316 KB) | DOI: 10.24198/sosiohumaniora.v20i2.14889

Abstract

Pasca reformasi, tren kenaikan angka partisipasi perempuan dalam politik di DPRD Provinsi Sulawesi Utara semakin nyata. Hal itu didukung oleh peraturan perundang-undangan yang mendorong keterlibatan perempuan dalam segala sektor kehidupan. Dalam penelitian ini, peneliti ingin mencari tahu faktor lainnya yang mendukung perempuan Sulawesi Utara bisa begitu mudah masuk dunia politik. Metode penelitian menggunakan pendekatan studi kasus dengan wawancara mendalam, pengamatan lapangan, serta studi literatur. Informannya adalah sebelas legislator perempuan di DPRD Provinsi Sulawesi Utara dan beberapa. Hasilnya ditemukan beberapa faktor sehingga perempuan Sulawesi Utara masuk dunia politik. Faktor-faktor tersebut yakni dukungan perundang-undangan di bidang politik, faktor sosial budaya, bahkan agama dan kedekatan calon legislator perempuan dengan pimpinan partai dan penguasa. Nama keluarga yang melekat pada nama belakang perempuan sebagai salah satu ciri budaya patriarkhi, baik yang berasal dari nama ayah maupun suami yang popular secara politik, menjadi modal tersendiri guna memperlancar perempuan masuk dunia politik.
Assessing Indonesia’s Diplomacy on the Regional Conflict Management: Lessons from the South Thailand Conflict Settlement Arifi Arifi; Deddy Mulyana
Jurnal Ilmu Komunikasi Vol 9, No 1 (2011)
Publisher : Univeritas Pembangunan Nasional "Veteran" Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31315/jik.v9i1.3419

Abstract

Artikel ini menjelaskan masalah masalah dan prospek bagi penyelesaian konflik secara komprehensif dan langgeng di Thailand Selatan, dan bagaimana Indonesia memainkan peranannya secara signifikan.Fakta menunjukkan bahwa sumber konflik kontemporer di Thailand Selatan tidak hanya berasal dari faktor lingkup internal semata, namun juga berasal dari faktor lingkup eksternal, seperti perkembangan pengaruh ideologi jihadis di tingkat global dan regional. Faktor-faktor tersebut membawa kepada kompleksitas persoalan konflik di wilayah ini dan selanjutnya mengundang perhatian dan keprihatinan masyarakat internasional, khususnya kalangan negara-negara tetangga Thailand. Sejauh ini Indonesia telah mempelopori upaya menyikapi konflik di Thailand Selatan melalui pendekatan media si baik melalui jalur pemerintah (track one) maupun jalur non-pemerintah (track two). Perundingan perdamaian Bogor tahun 2008 dan upaya mediasi konflik yang dilakukan oleh Nahdlatul Ulama dan Muhammadiyah dalam konteks ini merupakan tonggak sejarah dalam perjalanan diplomasi total Indo- nesia. Indonesia tertantang memainkan peran lebih aktif lagi dalam mendukung terwujud nya perdamaian langgeng di wilayah Asia Tenggara, khususnya di wilayah Thailand Selatan yang dirundung konflik. Pelajaran yang dari proses mediasi di masa lampau diharapkan memperkokoh diplomasi Indonesia mendukung penyelesaian konflik Thailand Selatan.
Transformation of health communication literacy in the pandemic era K. Y.S. Putri; Deddy Mulyana; S Bekti Istiyanto; Linda Zakiah; Rayni Delya Hafni
Informasi Vol 51, No 1 (2021): Informasi
Publisher : Universitas Negeri Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21831/informasi.v51i1.38290

Abstract

Indonesian public health communication literacy is the education center for the government and related institutions. The formulation of this research problem is how to model health communication literacy in communities in tourism areas in Indonesia. The research objective was to determine the health communication literacy model in the community in tourism areas in Indonesia. The concept used in this research is new media literacy and health communication and audience attitudes. Several previous studies support this research. The method used is quantitative by distributing questionnaires to respondents. The result of the research is that health communication literacy on social media in a cognitive structure greatly affects the respondents. However, at the conative level, there are still some respondents who do not care about this pandemic because of the long duration. In the simple regression results, this study shows a great influence on the respondent's attitude. The suggestion of this research is the need for knowledge collaboration in subsequent research. So that it is not only in social science research but with natural science.
PENULIS SUNDA SEBAGAI PELESTARI BUDAYA Santi Susanti; Deddy Mulyana; Ninis Agustini Damayani
Jurnal Kajian Informasi dan Perpustakaan Vol 1, No 2 (2013)
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.379 KB) | DOI: 10.24198/jkip.v1i2.11046

Abstract

This research aims to find out motives to become Sundanese Writers, self meaning construction of Sundanese Writers as culture preservators and message presenting process of Sundanese Writers as culture preservators. This research used qualitative method with a phenomenological approach. Data was gained through a series of indepth interviews with eight informants as Sundanese Writers in Bandung City, and also from nonparticipant observation and literature study. The informants of this research are classified into two types, these are Sundanese Culture Inheritors and Sundanese Culture Developers. The results of this study indicated that the main motive to become a Sundanese Writers is idealism, which consists of aspects of driving and the aspects of expectation. The self meaning of Sundanese Writers as culture preservators was constructed into two types, these are Sundanese Culture Inheritors and Sundanese Culture Developers. Message presenting process of Sundanese Writers as culture preservators were done by involving steps commonly done by writers to produce a writing. Penelitian ini bertujuan menemukan motif menjadi Penulis Sunda, konstruksi makna diri Penulis Sunda sebagai pelestari budaya dan proses penyampaian pesan Penulis Sunda sebagai Pelestari Budaya. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan studi fenomenologi. Data diperoleh melalui wawancara mendalam dengan delapan Penulis Sunda yang berada di Kota Bandung, juga melalui observasi nonpartisipan dan studi pustaka. Hasil penelitian ini mengungkapkan bahwa motif utama menjadi Penulis Sunda adalah idealisme kesundaan, yang terbagi ke dalam aspek pendorong dan aspek harapan. Konstruksi makna diri Penulis Sunda sebagai pelestari budaya terbagi menjadi Pewaris Budaya Sunda dan Pengembang Budaya Sunda. Proses penyampaian pesan Penulis Sunda sebagai Pelestari Budaya dilakukan melalui tahapan yang umum dilakukan penulis untuk menghasilkan suatu tulisan.
Indonesian postgraduate students’ intercultural communication experiences in the United Kingdom Sarah Aisha; Deddy Mulyana
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 7, No 1 (2019): June 2019
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (293.737 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v7i1.20901

Abstract

Despite the increasing number of Indonesian postgraduate students studying overseas, including in the United Kingdom, not many studies have been done on their intercultural communication experiences and academic engagement. This research aims to investigate Indonesian postgraduate students’ intercultural communication experiences and academic engagement in the United Kingdom. In this study, we address the following research question: What are the hindering factors and the facilitating factors of Indonesian postgraduate students’ academic engagement within their courses of study? A qualitative research method is used in this study, based on semi-structured interviews with 13 participants. The results of the study indicate that the students are more engaged in some areas, such applying deep learning strategies by connecting ideas, and less engaged in others, such as interacting with academic staff. Several interrelated factors were indicated as contributing to facilitating or hindering academic engagement which include sociocultural, institutional, and individual factors. The hindering factors consists of the transition to a new academic environment, intense academic workload, ‘expert’ or ‘boring tutors, linguistic barriers, and having feelings of uneasiness. Conversely, the facilitating factors consist of institutional support service, course design, caring and casual tutors, learning from prior experiences, having the initiative to ask, and realizing to make the most of the opportunity.
Unraveling communication between child patients’ family members and healthcare staff Deddy Mulyana; Devie Rahmawati; Hermito Gidion; Elsa Roselina
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 9, No 1 (2021): June 2021
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (63.258 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v9i1.31758

Abstract

Health Communication in general and therapeutic communication in particular as relatively new communication fields are getting more important at the present, let alone in Indonesia with a population of over 270 million people. They come from hundreds of ethnic groups that may have different assumptions about the causes of and the solutions to various diseases and illnesses. Many health problems are related to communication problems between health providers and patients who may come from different cultures. These communication problems occasionally lead to medical malpractice. It is based on this reason that effective communication between healthcare staff (doctors and nurses) and patients (and their families) is deemed critical in bringing about satisfying results for both parties. This study aims to unravel therapeutic communication between healthcare staff and family members of patients. It used a phenomenological qualitative research method. The sample of the study were family members of child patients hospitalized in two hospitals in Jakarta who accompanied the child patients during their hospitalization from 2015 to 2017 and in 2019. The sample consisted of 30 participants; they all were interviewed and observed in the study. Without aiming to make generalizations, the research findings showed that in essence the research participants were satisfied with the communication conducted by the healthcare staff and the BPJS (Badan Penyelenggara Jaminan Sosial or Social Security Administrator) program provided by the Government. But some of them had their unspoken dissatisfaction with the overall treatment process related to doctors’ communication and the deficiency of the BPJS program. 
PENGALAMAN KOMUNIKASI KELUARGA PADA MANTAN BURUH MIGRAN PEREMPUAN Wahyu Utamidewi; Deddy Mulyana; Edwin Rizal
Jurnal Kajian Komunikasi Vol 5, No 1 (2017): June 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.495 KB) | DOI: 10.24198/jkk.v5i1.7901

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengalaman komunikasi keluarga buruh migran perempuan mengelola komunikasi dalam rangka mempertahankan keutuhan rumah tangga. Pokok-pokok pertanyaan penelitiannya adalah buruh migran perempuan memaknai peran dirinya sebagai seorang istri dan ibu bagi anak-anaknya serta memaknai profesinya sebagai buruh migran perempuan dan memaknai komunikasi dirinya terhadap suami dan anaknya. Motif apa saja yang menguatkan pasangan suami istri untuk mengelola perkawinan mereka serta pengalaman komunikasi keluarga buruh migran perempuan. Pendekatan yang digunakan dalam penelitian ini adalah kualitatif dengan studi fenomenologi. Subjek penelitiannya adalah mantan buruh migran perempuan. Informan dipilih melalui teknik purposive sampling. Hasil penelitian menunjukkan bahwa buruh migran memaknai profesinya sebagai buruh migran perempuan yaitu sebagai profesi, mata pencaharian, aktualisasi diri, inspirator dan motivator. Buruh migran memaknai peran dirinya sebagai istri dan seorang ibu. Sebagai seorang istri buruh migran memaknai dirinya sebagai seorang perempuan ditakdirkan sebagai istri/kodrat illahi, sebagai istri dapat membantu mencari nafkah, sebagai teman hidup, penasehat yang bijaksana untuk suami, dan menjadi seseorang yang dapat mendorong/memotivasi suami. Buruh migran perempuan memaknai dirinya sebagai seorang ibu yaitu sebagai sumber pemenuhan kebutuhan anak, teladan atau model bagi anaknya dan sebagai pemberi stimuli bagi perkembangan anaknya.Tiga motif yang melatarbelakangi seseorang untuk mengelola komunikasi, yaitu motif saling menjaga, mencintai dan menyayangi, motif agama dan motif keluarga. Pengalaman komunikasi keluarga buruh migran perempuan dalam mengelola komunikasi untuk mempertahankan keutuhan rumah tangga yang harmonis meliputi komunikasi yang dilakukan dengan suami dan anak-anaknya. Komunikasi yang terjalin selama berada diluar negeri sampai informan kembali terus dipertahankan agar anak-anak tetap merasa nyaman dengan keberadaan ibunya.
Menimbang Iklan Politik di Media Massa Menjelang Pemilihan Presiden 2004 Deddy Mulyana
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 5, No 1 (2004): Filsafat Itu Ibarat Orang Bertanya
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v5i1.1098

Abstract

Berbagai penelitian menunjukkan, pemberitaan kampanye politik tidak begitu berpengaruh untuk mengubah perilaku memilih, selain memperteguh kecenderungan yang sudah ada. Oleh karena itu, iklan politik di kita – yang mirip dengan iklan kecap yang selalu mengklaim sebagai nomor satu–paling banter sekadar mengekalkan memori khalayak bahwa para capres dan cawapres itu eksis dan dapat dipertimbangkan untuk dipilih. Berdasarkan Teori Penggolongan Sosial, kesetiaan khalayak kepada partai politik atau kandidat politik lebih bersifat primordial, alih-alih merupakan pilihan rasional. Keanggotaan orang-orang dalam suatu kelompok tertentu menimbulkan dampak yang penting atas perilaku mereka. Media massa mungkin berhasil mempengaruhi massa untuk mengubah pilihan bila komunikasi tatap-muka juga digunakan untuk memperteguh pesan-pesan media massa. Bila komunikasi tatap-muka tidak dilakukan, pilihan seseorang akan lebih dipengaruhi kelompok rujukannya. Dalam konteks demikian, kampanye politik –lewat media massa– akan berdampak penting terutama bagi khalayak yang belum punya pilihan. Dengan asumsi bahwa setiap pertambahan suara itu penting, maka kampanye politik, termasuk iklan politik, harus dirancang sungguh-sungguh untuk menciptakan citra kandidat sebaik mungkin. Dan, para tim sukses sebaiknya tidak menggunakan iklan sloganistik, melainkan yang dramatik, tetapi rasional, tidak jauh dari kenyataan para kandidat. Untuk itu, media yang tepat adalah televisi. Dalam media ini, komunikasi verbal dan nonverbal, termasuk penampilan, perlu diperhatikan untuk mengarahkan kandidat agar tampil prima di mata khalayak. Lewat acara debat di televisi, sang kandidat dapat menampilkan citra-dirinya semaksimal mungkin, mulai dari kepribadian, kecerdasan hingga daya tarik fisiknya.
Merancang Peran Baru Humas dalam Pengembangan Otonomi Daerah Deddy Mulyana
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 2, No 1 (2001): “Publish or Perish!”
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v2i1.693

Abstract

Humas pemerintah daerah, dalam upaya pengembangan otonomi daerah, seyogianya tidak lagi sekadar corong yang melulu menginformasikan kegiatan-kegiatan pemerintah kepada masyarakat, juga bukan hanya membela dan menyembunyikan cela pemerintah dari kritik yang dilontarkan publik. Lembaga humas harus berperan sebagai jembatan antara berbagai kepentingan pemerintah dan rakyat. Untuk itu, perlu dibuka dialog antara kedua pihak tersebut. Selain itu, pemerintah juga perlu lebih mengembangkan kemampuan mendengarkan rakyat, alih-alih berbicara terus dan hanya ingin didengarkan. Melalui keterbukaan, dialog, dan kepekaan mendengarkan suara berbagai pihak, iklim komunikasi kondusif dapat dikembangkan sebagai wahana bagi penyelesaian berbagai masalah di daerah.
Cross-Cultural Health Communication Deddy Mulyana
MediaTor (Jurnal Komunikasi) Vol 5, No 2 (2004): Seorang Periset yang Baik Mesti Memiliki Sikap Enteng
Publisher : Pusat Penerbitan Universitas (P2U) LPPM Unisba

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29313/mediator.v5i2.1169

Abstract

Setiap kebudayaan memiliki pandangan yang beragam tentang kesehatan atau penyakit, kehidupan atau kematian. Ada masyarakat yang menganggap penyakit sebagai nasib yang harus diterima secara fatalistik. Ada pula masyarakat yang memandangnya sebagai cobaan dari Tuhan, dsb. Selain itu, terdapat juga perbedaan konsep untuk menamai jenis penyakit tertentu pada sejumlah pengguna bahasa yang berbeda. Nama suatu penyakit dalam suatu bahasa tidak bisa diterjemahkan langsung ke dalam bahasa lain. Dokter berkebangsaan Amerika, misalnya, akan kebingungan bila menangani pasien orang Indonesia yang berpenyakti “raja singa”, karena nama penyakit itu tak bisa diterjemahkan langsung menjadi “king lion”. Keragaman budaya ini berimplikasi pada para petugas kesehatan, perawat, dokter, untuk memahami budaya pasien, yang ditanganinya, yang berasal dari komunitas budaya berbeda. Kekeliruan memahami latar belakang budaya pasien dapat menimbulkan kesalahan dalam mendiagnosis penyakit, menangani pasien, atau menentukan resep obat.
Co-Authors Ahmad Zuhdi Firdaus Amalia Djuwita Andang Iskandar Andang Iskandar, Andang Andi Subhan Amir Anjelia, Lydia Okva Arifi Arifi Asep Suryana Astri Wulandari Atie Rachmiatie Atwar Bajari Benazir Bona Pratamawaty Bertha Sri Eko Cece Sobarna Dadang Rahmat Hidayat Dadang Sugiana Damayanti, Ninis Agustini Devie Rahmawati Devie Rahmawati Diah Fatma Sjoraida Dian Wardiana Sjuchro dicky yusuf budiman kusmayadi Dwi Budi Santoso Edwin Rizal Eeng Ahman, Eeng Efi Fadilah Eni Maryani Fakhri Zakaria Farida Agus Setiawati Fiona Verity Giri Lumakto Gita Anita Hanny Hafiar Harningsih, Harningsih Henny Sri Mulyani Rohayati Hermito Gidion Hidayat, Veny Ilham Gemiharto Ira Mirawati Janah Sojanah, Janah Jenny Ratna Suminar Jenny Ratna Suminar K. Y.S. Putri Kadri Kadri Kadri Kadri Kamil, Dinda Nur Griya Kurniansyah, Rafli Akram Lartutul, Xavery Alberto Leviane Jackelin Lotulung Linda Zakiah Maimon Herawati Mila Viendyasari Musa, Hussein Gibreel Navarro, Charles Julian Santos Nia Kurniati Nindi Aristi Ninis Agustini Damayani Normansyah Nuraini, Fira Pujia Nuraini, Nanan Pandan Yudhapramesti Pawit M. Yusuf, Pawit M. Purwanti Hadisiwi Rayni Delya Hafni Rudy Harjanto S. Bekti Istiyanto Santi Susanti Santi Susanti, Santi Sarah Aisha Shaharoun, Awaluddin Siregar, Rachmi Kurnia Siti Karlinah Sri Seti Indriani Sumin, Sumin Susanne Dida Susie Perbawasari Tedjakumala, Ingrid Tendy Y. Ramadin Tine Silvana Rachmawati Tine Silvana Rachmawati Ujang Asmara Utamidewi, Wahyu Utamidewi, Wahyu Ute Lies Siti Khadijah Wiratri Anindhita Wiratri Anindhita Yaputra, Albert Yudhawirawan, Radhi Abimanyu Yulia Ayriza Yuyu Yohana Risagarniwa