Claim Missing Document
Check
Articles

INOVASI BIOPESTISIDA RAMAH LINGKUNGAN DARI DAUN TALAS (COLOCASIA ESCULENTA) DAN PUNTUNG ROKOK Neti Kesumawati; Rita Hayati; Rita Feni; Suryadi , Suryadi; Edi Efrita; Risvan Anuar; Farida Aryani
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 3 No. 5 (2025): Oktober
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v3i5.3179

Abstract

Masyarakat di Desa Perbo Kecamatan Curup Utara Raya Kabupaten Rejang Lebong Provinsi Bengkulu pada umumnya memiliki mata pencaharian bertani. Masyarakat petani selalu berusaha untuk meningkatkan hasil usahatani mereka. Salah satu upaya untuk meningkatkan hasil pertanian adalah dengan menggunakan pestisida. Pada umumnya petani menggunakan pestisida sintetik untuk memberantas hama dan penyakit tanaman mereka. Penggunaan pestisida sintetik memang sangat efektif dalam memberantas hama dan penyakit tanaman, namun disisi lain ada kekurangan dari pestisida sintetik ini. Adapun kekurangan dari pestisida sintetik ini, antara lain dapat meningkatkan imun dari hama dan penyakit itu sendiri sehingga lama kelamaan pestisida tersebut tidak lagi menimbulkan efek pada pemberantasan hama dan penyakit tanaman tersebut, selain itu pestisida sintetik juga menimbulkan pencemaran pada bagian tanaman maupun terhadap lingkungan sehingga dapat menimbulkan gangguan kesehatan bagi manusia. Untuk mengatasi efek negatif dari penggunaan pestisida sintetik ini maka harus diupayakan mencari alternatif penggunaan pestisida yang aman. Pestisida yang aman digunakan untuk tanaman maupun terhadap lingkungan adalah pestisida alami atau biopestisida. Untuk itu diperlukan pendidikan kepada masyarakat tani, khususnya anggota kelompok wanita tani Mawar supaya mengalihkan pemakaian pestisida sintetik ke biopestisida, seperti biopestisida daun talas dan limbah puntung rokok. Pengabdian pada masyarakat yang dilakukan ini berupa penyuluhan dan praktek lapangan tentang pembuatan biopestisida yang berbahan baku daun talas dan daun tembakau. Metode yang digunakan dalam pengabdian masyarakat ini yaitu berupa penyuluhan dengan metode ceramah dan diskusi untuk pendalaman. Kemudian dilanjutkan dengan pembimbingan praktek lapangan dan monotoring selama 5 hari. Hasil yang dicapai dalam pengabdian masyarakat ini adalah terimplementasikannya hasil-hasil penelitian dan kajian Perguruan Tinggi pada petani, khususnya tentang pembuatan biopestisida daun talas dan limbah puntung rokok sehingga petani terbiasa menggunakan biopestisida sebagai pengganti dari pestisida sintetik.
Optimization of Growth and Yield of Several Varieties of Green Beans (Vigna Radiata L) Using Solid Oil Palm Waste on Red Yellow Podzolic Soil in Bengkulu Rita Hayati; Jafrizal; Yukiman Armadi; Neti Kesumawati; Usman
Jurnal Penelitian Pendidikan IPA Vol 11 No 6 (2025): June
Publisher : Postgraduate, University of Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.29303/jppipa.v11i6.11559

Abstract

This study aimed to evaluate the effects of solid oil palm waste application and mung bean (Vigna radiata L.) varietal differences on growth and yield performance in red-yellow podzolic soils in Bengkulu, Indonesia. A factorial experiment was conducted using a Randomized Block Design (RBD) with three replications. The two factors tested were four levels of solid waste application (0, 10, 15, and 20 tons/ha) and three mung bean varieties (Vima 2, Vima 4, and Vima 5). Data were analyzed using Analysis of Variance (ANOVA), followed by Duncan’s Multiple Range Test (DMRT) at a 5% significance level. The results showed that solid waste application significantly improved plant height, number of pods per plant, pod weight, and seed weight per plant. Variety also had a significant effect on plant height at 56 days after planting. No significant interaction was observed between the two factors. Overall, the application of 20 tons/ha of solid waste resulted in the highest improvements in agronomic parameters. Among the tested varieties, Vima 5 demonstrated the best overall performance. These findings suggest that using solid oil palm waste at an optimal dose can enhance mung bean productivity in red-yellow podzolic soils, supporting sustainable agricultural practices.
PEMATAHAN DORMANSI BENIH SENGON BUTO (Enterolobium cyclocarpum) MENGGUNAKAN ASAM KLORIDA (HCl) Eka Suzanna; Farida Aryani; Yukiman Armadi; Neti Kesumawati
Agriculture Vol. 21 No. 1 (2026): Jurnal Agriculture
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36085/agrotek.v21i1.11188

Abstract

Sengon Buto Seeds (Enterolobium cyclocarpum) have hard and thick seeds making it difficult to germinate. Efforts to break sengon buto seed dormancy can be done by using hard acids, one of them is hydrochloric acid (HCl), which can soften the hard surface of the seed coat. This study aims to obtain the concentration and the soaking time of hydrochloric acid in accelerating the breaking of dormancy of sengon buto seeds. The design used in this study was a completely randomized design (CRD) factorial pattern with 3 replications. The first factor studied was the concentration of hydrochloric acid (HCl) (K) consisting of 3 levels, namely: K1 = 1% (1 ml/l water), K2 = 2% (2 ml/l water) and K3 = 3% (3 ml/l water). The second factor is soaking time (L) consisting of 3 levels, namely: L1 = 6 hours, L2 = 12 hours and L3 = 18 hours. The parameters studied were germination capacity, germination speed, germination uniformity, vigor index and seedling dry weight. The results showed that the concentration of hydrochloric acid (HCl) had a very significant effect on the germination capacity and the germination uniformity of sengon buto seeds, had a significant effect on the germination speed and seedling dry weight. However, it did not have a significant effect on vigor index. The hydrochloric acid concentration of 3% (3 ml/l water) could break the seed dormancy and increase the germination. The soaking time did significantly affect the germination capacity and the germination uniformity. However, it did not have a significant effect on germination speed, vigor index, and seedling dry weight of sengon buto seeds. The best soaking time for sengon buto seeds is 12 hours to break their dormancy. There was interaction between HCl concentration and soaking time on germination uniformity variables. Treatment with hydrochloric acid concentrations of 3% (3 ml/l water) and 12-hour soaking time gave a maximum germination uniformity of 44%. Key words: dormancy, hydrochloric acid, seed
PEMANFAATAN BONGGOL PISANG MENJADI KERIPIK PISANG SEBAGAI UPAYA MEMINIMALISIR PENCEMARAN LINGKUNGAN DARI LIMBAH PERTANIAN Neti Kesumawati; Risvan Anuwar; Farida Aryani; Rita Hayati; Suryadi Suryadi; Edi Efrita; Rita Feni; Yukiman Armadi
Jurnal Pengabdian Kolaborasi dan Inovasi IPTEKS Vol. 4 No. 2 (2026): April
Publisher : CV. Alina

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.59407/jpki2.v4i2.3619

Abstract

Pengabdian ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat dalam memanfaatkan bonggol pisang menjadi keripik sebagai upaya meminimalisir pencemaran lingkungan dari limbah pertanian serta meningkatkan nilai tambah ekonomi. Metode pengabdian yang digunakan adalah metode partisipatif dan aplikatif melalui kegiatan yang dilaksanakan selama 7 hari, meliputi tahapan sosialisasi, penyuluhan, pelatihan, praktik langsung, pendampingan, serta monitoring dan evaluasi dengan melibatkan 30 anggota Kelompok Wanita Tani (KWT) Mawar di Desa Perbo. Hasil pengabdian menunjukkan adanya peningkatan pengetahuan peserta mengenai pemanfaatan bonggol pisang sebagai bahan pangan alternatif, serta peningkatan keterampilan dalam proses pengolahan keripik bonggol pisang. Produk yang dihasilkan memiliki karakteristik renyah, berwarna kuning kecoklatan, bercita rasa gurih, dan memiliki daya simpan yang cukup baik. Selain itu, kegiatan ini mampu mengurangi limbah pertanian serta memberikan peluang usaha baru bagi masyarakat. Simpulan pengabdian ini adalah pemanfaatan bonggol pisang menjadi keripik efektif dalam mengurangi pencemaran lingkungan sekaligus meningkatkan keterampilan dan potensi ekonomi masyarakat berbasis sumber daya lokal.
CARA PEMBUATAN BIOPESTISIDA DAUN PEPAYA Neti Kesumawati; H. Masturi; Y. Armadi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 1 No. 1 (2018): Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Pada umumnya penduduk Desa Perbo Kecamatan Curup Utara Kabupaten Rejang Lebong bermata pencaharian sebagai petani. Bercocok tanam merupakan andalan utama penopang kehidupan mereka, semakin banyak hasil produksi pertanian yang diperoleh maka semakin meningkat kesejahteraan masyarakat petani. Oleh karena itu, petani Desa Perbo Kecamatan Curup Utara selalu berusaha untuk meningkatkan hasil panennya melalui berbagai cara, antara lain pemakaian pestisida sintetik dalam pembrantasan hama penyakit. Mereka tidak menyadari bahwa pemakaian pestisida ini akan menimbulkan dampak negatif, seperti timbulnya berbagai penyakit yang menyerang manusia serta terjadinya pencemaran lingkungan. Mengingat hal tersebut di atas, maka perlu mengalihkan pemakaian pestisida sintetik menjadi pestisida alami. Cara yang paling efektif untuk mengalihkan perilaku masyarakat yang mengutamakan pemakaian pestisida kimia ini adalah melakukan penyuluhan/pelatihan, dimana metodenya terdiri dari : tentang kelebihan dan kekurangan pestisida berbahan dasar kimia dan pestisida alami (biopesitisida) serta pelatihan pembuatan biopestisida, terutama biopestisida daun pepaya. dimana metodenya terdiri dari : (1) Pendidikan dan penyuluhan tentang perlunya menjaga kelestarian lingkungan; kelebihan dan kekurangan pestisida berbahan dasar kimia dan pestisida alami (biopesitisida); serta bagaimana teknik pembuatan biopestisida daun pepaya; (2) Pelatihan cara pembuatan biopestisida yang bahan bakunya daun pepaya yang sangat berlimpah di Desa Perbo Kecamatan Curup Utara. Melalui kegiatan penyuluhan/pelatihan dalam rangka pengabdian masyarakat ini telah meningkatkan wawasan anggota kelompok wanita tani seputar pestisida sintetik dan dampak yang ditimbulkan terhadap lingkungan serta dalam membuat pestisida daun pepaya. Selanjutnya diharapkan dapat menekan biaya operasional dalam berusaha tani serta meminimalisir pencemaran lingkungan akibat pemakaian pestisida sintetik.Kata Kunci : daun pepaya, pestisida nabati, pencemaran lingkungan
PEMANFAATAN TANAMAN LIDAH BUAYA SEBAGAI BAHAN DASAR PRODUK OLAHAN SELAI Neti Kesumawati; Yukiman Armadi; Rita Hayati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 2 No. 2 (2019): Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Selai merupakan salah satu produk pangan semi basah yang cukup dikenal dan disukai oleh masyarakat, baik anak kecil maupun orang dewasa. Rasanya yang manis sangat cocok dikonsumsi secara langsung sebagai tambahan makan roti atau campuran adonan untuk membuat kue. Di Indonesia sangat banyak produk pertanian yang bisa dijadikan sebagai bahan baku pembuat selai, seperti nanas, pisang dan stroberry. Semua bahan baku tersebut sudah lazim dipakai masyarakat untuk bahan dasar selai dan sudah dikenal masyarakat akan kelezatannya. Padahal masih banyak produk pertanian yang belum dimanfaatkan sebagai bahan dasar selai, salah satunya lidah buaya. Walaupun lidah buaya sudah dikenal lama, hanya sedikit masyarakt yang tahu  manfaat dan khasiat tanaman ini. Padahal kandungan di dalam lidah buaya tidak sekedar untuk mencuci rambut tetapi juga bisa mengobati  penyakit, menghaluskan kulit, menyuburkan rambut atau sebagai minuman dan makanan kesehatan. Dengan berbagai keunggulan yang dikandungnya, tanaman berlendir ini dapat dijadikan menjadi berbagai macam olahan makanan yang antara lain  adalah selai.Produk olahan selai lidah buaya menmiliki prospek bisnis cukup bagus, khususnya pada daerah pertanian yang memiliki banyak tanaman lidah buaya sehingga dapat meningkatkan pendapatan masyarakat petani. Desa Perbo Kecamatan Curup Utara yang berada di Kabupaten Rejang Lebong Propinsi Bengkulu banyak dijumpat tanaman lidah buaya tetapi tanaman ini hanya dijadikan tanaman hias yang banyak memenuhi pot di rumah-rumah atau banyak juga ditanam di pekarangan atau lingkungan sekitar. Tidak ada usaha masyarakat untuk untuk mengolah tanaman yang sedang naik pamor ini menjadi produk olahan dengan nilai tambah yang tinggi. Kekurangan informasi yang diterima masyarakat telah menyebabkan tanaman hanya dipandang sebelah mata sehingga tidak termanfaatkan secara maksimal. Oleh karena itu, perlu mengenalkan tanaman ini serta produk-produk olahan apa saja yang bisa dibuat berbahan dasar lidah buaya kepada masyarakat petani, khususnya kelompok wanita tani (KWT) Mawar. Cara yang paling efektif untuk mengenalkan tanaman ini adalah melakukan penyuluhan/ pelatihan, dimana metodenya terdiri dari : (1) Pendidikandan penyuluhantentang tanaman lidah buaya, manfaatnya dan produk olahan yang bisa dibuat dengan bahan dasar lidah buaya; (2) Pelatihan cara pembuatan selai lidah buaya. Kegiatan pengabdian yang dilakukan telah meningkatkan wawasan petani dalam membuat seali lidah buaya sehingga bisa dijadikan peluang bisnis baru yang bisa menjadi penopang hidup. Kata Kunci : Lidah Buaya, Selai Lidah Buaya, Diversifikasi Pangan
BIO-PESTISIDA BERBASIS EKSTRAK TEMBAKAU DARI LIMBAH PUNTUNG ROKOK DAN KULIT JERUK Neti Kesumawati; Suryadi Suryadi; Hasanawi Masturi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 2 No. 3 (2019): Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK Limbah rokok atau yang sering kita sebut “ Puntung rokok “ adalah limbah yang tidak bermanfaat bagi lingkungan. Sedangkan limbah rokok dari tahun ketahun semakin meningkat, apalagi Indonesia merupakan negara peringkat ketiga dalam hal mengkonsumsi rokok. Menurut WHO, konsumsi rokok Indonesia perkapita adalah 1.742 rokok perorang pertahun. Rokok ini menghasilkan limbah berupa puntung rokok yang dapat merugikan lingkungan.  Selain berdampak negatif bagi lingkungan, puntung rokok yang mengandung senyawa eugenol dapat digunakan untuk mengendalikan organisme penganggu tanaman (OPT). Kemampuan pestisida puntung rokok ini akan bertambah dahsyat dalam pengendalian OPT apabila dicampur dengan ekstrak kulit jeruk yang dianggap masyarakat sebagai sisa produk yang tidak bermanfaat dan bernilai, termasuk masyarakat Desa Perbo Kecamatan Curup Utara. Padahal daerah ini merupakan daerah penghasil jeruk sehingga sangat mudah dan banyak untuk mendapatkan kulit jeruk sebagai bahan baku pembuatan pestisida yang berguna untuk membasmi hama. Salah satu pestisida yang digunakan untuk membasmi hama dengan kemungkinan tidak menimbulkan dampak negatif bagi tanaman dan lingkungan, yaitu dengan menggunakan pestisida botani yang berasal dari tumbuh-tumbuhan, seperti kulit jeruk nipis. Berhubung masyarakat Desa Perbo Kecamatan Curup Utara masih lebih memprioritaskan pemakaian pestisida kimia dalam pengendalian OPT dan kurang memahami dampak negatif yang ditimbulkan, seperti timbulnya berbagai penyakit yang menyerang manusia serta terjadinya pencemaran lingkungan (Kesumawati, 2017). Maka perlu merubah pola pikir masyarakat agar beralih pada pestisida alami Cara yang paling efektif yang bisa diterapkan adalah melakukan penyuluhan/ pelatihan, dimana metodenya terdiri dari : (1) Pendidikan dan penyuluhan tentang perlunya memelihara kelestarian lingkungan dan bagaimana teknik pembuatan biopestisida kulit jeruk/puntung rokok; (2) Pelatihan cara pembuatan biopestisida yang bahan bakunya kulit jeruk dan puntung rokok. Kegiatan pengabdian yang dilakukan telah berhasil meningkatkan wawasan petani dalam membuat biopestisida campuran kulit jeruk dan puntung rokok, menekan biaya operasional dalam berusahatani serta meminimalisir pencemaran lingkungan akibat pemakaian pestisida sintetik.  Kata Kunci : Kulit jeruk, puntung rokok, pestisida nabati.
ANEKA KREASI PRODUK OLAHAN PISANG neti Kesumawati; Suryadi Suryadi; Yukiman Armadi
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 3 No. 1 (2020): Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

ABSTRAK         Buah pisang adalah komoditas pertanian Desa Kelilik Kecamatan Kepahiang Kabupaten Kepahiang belum termanfaatkan secara maksimal, terbukti buah pisang pada umumnya masih dikonsumsi sebatas pencuci mulut sesudah makan. Padahal produksi pertanian ini sangat belimpah dan sering mengalami pembusukan akibat tidak laku terjual. Selain itu, bagian tanaman pisang lainnya, seperi jantung pisang dan bonggol pisang yang bisa diolah menjadi produk olahan juga belum diketahui masyarakat. Oleh karena itu, perlu dilakukan penyuluhan/pelatihan tentang teknologi pengolahan bagian tanaman pisang, terutama buah, jantung dan bonggol pisang  untuk meningkatkan nilai tambah (nilai jual) bagian tanaman tersebut sehingga daapat meningkatkan pendapatan warga masyarakat. Salah satu teknologi yang mudah diterapkan dan biayanya sangat murah adalah mengolah buah pisang menjadi selai pisang, dodol pisang, dan kiripik  pisang; mengolah jantung pisang menjadi abon jantung pisang; mengolah bonggol pisang menjadi keripik. Tujuan pengabdian masyarakat ini adalah (1) Agar warga masyarakat Desa Kelilik memiliki pengetahuan dan ketrampilan untuk memperpanjang masa simpan buah pisang dan jantung pisang; (2)  Mampu mengurangi resiko kerugian akibat penumpukan hasil panen; (3) Mampu memanfaatkan teknologi pengolahan buah pisang menjadi selai pisang, dodol pisang, keripik pisang; jantung pisang menjadi abon jantung pisang; (4) Mampu meminimalisir pencemaran lingkungan akibat limabah pertanian  dengan mengolah bonggol pisang menjadi keripik. Metode yang digunakan dalam pelatihan ini terdiri dari tiga metode (1) Pendidikandan penyuluhantentang arti pentingnya memperpanjang masa simpan tanaman hortikultura dan pengetahuan tentang pembuatan buah pisang dan jantung pisang serta meminimalisir pencemaran limbah bonggol pisang; (2) Pelatihan tentang proses pembuatan selai pisang, dodol pisang, keripik buah pisang, abon jantung pisang dan keripik bonggol pisang. Kegiatan pengabdian yang sudah dilakukan telah meningkatkan pendapatan warga masyarakat Desa Kelilik dalam membuat selai pisang, dodol pisang, keripik pisang, abon jantung pisang dan keripik bonggol pisang, meningkatkan nilai jual dari buah pisang, menekan kerugian ditingkat petani akibat membusuknya hasil panen, membuka peluang bisnis baru sehingga dapat meningkatkan pendapatan para petani secara umum serta meminimalisir pencemaran lingkungan akibat limbah pertanian Kata Kunci : Buah pisang,  Umur Simpan,  Produk Olahan pisang.
DIVERSIFIKASI PANGAN OLAHAN DODOL BERBASIS TERONG DAN JAGUNG MANIS GUNA MENINGKATKAN NILAI TAMBAH Neti Kesumawati; Suryadi Suryadi; Yukiman Armadi; Rita Hayati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 3 No. 3 (2020): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Masyarakat Desa Durian Depun Kecamatan Merigi Kabupaten Kepahiang Propinsi Bengkulu pada umumnya bermata-pencaharian sebagai petani. Tanaman terong dan jagung manis menjadi tanaman andalan masyarakt Desa Durian Depun. Semua kebutuhan hidup biasanya dipenuhi mereka dari hasil penjualan terong dan jagung manis. Oleh karena itu, kalau hasil panen tidak sesuai dengan harapan mereka, baik kuantitas maupun kualitas akan menyebabkan para petani merasa sangat kecewa. Apalagi pada saat  hasil panen  tidak laku terjual dan mengalami pembusukan. Ada salah satu upaya untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi masyarakat prtani terong dan jagung manis adalah mengolahnya menjadi produk olahan yang dapat diperjualbelikan dengan harga yang tinggi. Disamping meningkatkan harga jual, pengolahan ini juga dapat memperpanjang masa simpan hasil panen dan meminimalisir pembusukan hasil panen. Atas dasar ini, maka staf pengajar Fakultas Pertanian Universitas Muhammadiyah Bengkulu memilih lokasi ini sebagai sasaran pengabdiaan kepada masyarakt. Untuk memperlancar kegiatan pengabdiaan masyarakat, tim pengabdi dibantu oleh mahasiswa yang sedang melaksanakan KKN. Metode pendekatan yang diterapkan dalam program ini, dengan menggunakan metode penyuluhan dan demontrasi pembuatan dodol terong serta dodol jagung manis. Dari evaluasi, penerapan teknologi tepat guna melalui pelatihan pembuatan dodol terong dan dodol jagung manis dilaksanakan dengan hasil sangat baik, terbukti dari antusiasnya para Ibuk-ibuk PKK sebagai peserta penyuluhan dan pelatihan dalam mengikuti semua tahapan pengabdian kepada masyarakat. Hal ini terlihat dari banyaknya pertanyaan yang muncul dari ibuk-ibuk PKK yang merasa kurang paham tentang pembuatan dodol terong dan dodol jagung manis dan banyaknya para pesrta yang hadir. Pengetahuan dan ketrampilan dalam mengolah dodol terong dan dodol jagung manis dapat dijadikan modal dasar untuk membuka usaha rumahan (home industri) bagi ibuk-ibuk PKK khususnya dan masyarat Desa Durian Depun sehingga dapat  meningkatkan penghasilan/pendapatan rumah tangga dan dapat meningkatkan kesejahteraan keluarga.   Kata Kunci : Dodol terong, dodol jagung manis, Produk olahan
PENGOLAHAN CABAI SEGAR MENJADI PRODUK OLAHAN “ TEPUNG CABAI “ Yukiman Armadi; Neti Kesumawati; Rita Hayati
Jurnal Pengabdian Masyarakat Bumi Rafflesia Vol. 4 No. 1 (2021): Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Bumi Raflesia
Publisher : Universitas Muhammadiyah Bengkulu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

         Kecamatan Curup Utara yang terletak di Propinsi Bengkulu merupakan dataran tinggi dengan kondisi tanah yang subur dan cocok untuk usaha budidaya tanaman.  Banyak hasil-hasil pertanian yang berasal dari daerah ini, salah satunya adalah cabai merah keriting yang mempunyai tingkat kepedasan yang tinggi. Biasanya cabai ini menjadi inceran wisatawan yang datang ke daerah ini untuk dijadikan buah tangan. Kondisi ini merupakan peluang bisnis yang tidak dapat diabaikan karena menguntungkan secara ekonomi sehingga dapat meningkatkan perekonomian para petani cabai. Pada tahu 2016 luas tanam di Kecamatan Curup Utara  34  ha dengan produksi mencapai  289  ton. Hasil yang berlimpah ini di satu sisi sangat membahagiakan para petani tetapi di sisi lain membuat miris hati petani karena banyaknya cabai yang tidak laku terjual dan membusuk. Apalagi hasil produksi cabai mereka kalah bersaing dengan cabai-cabai yang masuk dari daerah lain, seperti Lampung dan Padang. Berdasarkan hasil pembicaraan awal dengan  anggota kelompok wanita tani Matahari, mereka menghendaki agar para penyuluh member informasi berupa ilmu pengetahuan dan ketrampilan tentang pengolahan cabai segar menjadi tepung cabai. Hal mendasari permintaan mereka adalah  produk ini akan dapat dijual ke pasaran pada saat harga melonjak tinggi sehingga dapat meraup keuntungan yang besar; pembuatannya sangat mudah; serta bahan bahan bakunya (cabai) sangat melimpah di Kecamatan Curup Utara.   Bentuk kegiatan yang akan dilakukan diantaranya berupa; pendidikan dan penyuluhan tentang pengolahan pascapanen; pelatihan dalam pembuatan  tepung cabai.  Kegiatan pengabdian yang dilakukan diharapkan akan meningkatkan wawasan anggota kelompok wanita tani Matahari dalam pengolahan cabai segar menjadi tepung cabai dan meminimalisir kerugian di tingkat petani cabai akibat banyaknya cabai yang rusak/busuk.  Dari aspek produksi akan dihasilkan produk  tepung cabai .  Kata Kunci : Hortikultura, Umur Simpan,  Tepung  Cabai