Claim Missing Document
Check
Articles

Found 26 Documents
Search

Sexsual Awareness for Education Melalui Media Puzzle Sebagai Upaya Pencegahan Seks Bebas Di SMK Yadika 2 Cijagra Paseh Winengsih, Ecih; Kurniawati, Ratna Dian; Noprianty, Richa; Munawaroh, Madinatul; Sutriyawan, Agung; Marton, Rizma Raisa; Rahmah, Nazwa Nisrina; Charlina, Yolla; Susanti, Susi
Sasambo: Jurnal Abdimas (Journal of Community Service) Vol. 7 No. 4 (2025): November
Publisher : Lembaga Penelitian dan Pemberdayaan Masyarakat (LITPAM)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.36312/ggexwg18

Abstract

Permasalahan rendahnya pengetahuan remaja terkait kesehatan reproduksi dan risiko seks bebas masih menjadi tantangan serius di Kabupaten Bandung. Data BPS 2024 menunjukkan 5,78% perempuan usia 20–24 tahun di Jawa Barat menikah atau hidup bersama sebelum usia 18 tahun, dengan peningkatan kasus signifikan di wilayah Kabupaten Bandung. Laporan DP2KBP3A juga mencatat kenaikan kasus pernikahan dini dari 1.962 kasus (2021) menjadi 1.998 kasus (2023). Penelitian pengabdian ini bertujuan meningkatkan kesadaran remaja mengenai bahaya seks bebas melalui program Sexual Awareness for Education berbasis media puzzle edukatif sebagai metode belajar interaktif. Metode yang digunakan adalah pendekatan edukasi partisipatif melalui tahapan persiapan, pelaksanaan, evaluasi, dan tindak lanjut. Media puzzle dikembangkan untuk menjelaskan konsep seks bebas, risiko kesehatan, dampak sosial, serta strategi pencegahannya. Kegiatan dilaksanakan melalui diskusi kelompok, pemaparan materi, simulasi permainan puzzle, serta evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pemahaman siswa terkait risiko seks bebas serta meningkatnya kemampuan siswa dalam mengidentifikasi langkah pencegahan perilaku seksual berisiko. Selain itu, media puzzle terbukti menciptakan suasana belajar yang lebih aktif dan menyenangkan. Program ini memberikan model edukasi kreatif yang dapat diterapkan secara berkelanjutan oleh pihak sekolah sebagai upaya pencegahan permasalahan kesehatan reproduksi remaja. Sexual Awareness for Education Through Puzzle Media as an Effort to Prevent Free Sex at SMK Yadika 2 Cijagra Paseh The issue of low adolescent knowledge regarding reproductive health and the risks of free sex remains a serious challenge in Bandung Regency. Data from BPS 2024 indicate that 5.78% of women aged 20–24 in West Java were married or cohabiting before the age of 18, with a significant increase recorded in Bandung Regency. Reports from DP2KBP3A also show a rise in early marriage cases from 1,962 cases in 2021 to 1,998 cases in 2023. This community service study aims to improve adolescents’ awareness of the dangers of free sex through the “Sexual Awareness for Education” program utilizing educational puzzle media as an interactive learning method. The method applied was a participatory educational approach consisting of preparation, implementation, evaluation, and follow-up stages. The puzzle media was developed to explain the concept of free sex, health risks, social impacts, and preventive strategies. Activities included group discussions, material presentations, puzzle simulations, and evaluation using pre- and post-tests. The results showed an increase in students’ understanding of the risks associated with free sex and an improvement in their ability to identify preventive measures against risky sexual behavior. Moreover, the puzzle media succeeded in creating a more active and engaging learning atmosphere. This program offers a creative educational model that can be implemented sustainably by schools as an effort to prevent adolescent reproductive health problems
Analisis Pemahaman Calon Tenaga Kerja terhadap Hak-Hak Dasar Ketenagakerjaan di Desa Kaligung Solichah, Mar’atus; Munawaroh, Madinatul; Maulana, Iqbal; Prakoso, Firza Agung
Jurnal Pendidikan Tambusai Vol. 10 No. 1 (2026)
Publisher : LPPM Universitas Pahlawan Tuanku Tambusai, Riau, Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31004/jptam.v10i1.36552

Abstract

Pada lingkungan kerja yang menuntut setiap individu untuk melakukan pekerjaannya dengan baik, tidak dapat dipungkiri bahwa akan ada permasalahan yang muncul, baik masalah secara struktural maupun horizontal. Maka dari itu diperlukan kesiapan secara matang bagi setiap individu yang akan memilih pekerjaan yang tepat agar meminimalkan masalah yang akan terjadi. Sehingga penelitian ini akan meneliti apakah setiap calon tenaga kerja telah mengetahui hak-hak dasar ketenagakerjaan yang didapatkan apabila memasuki dunia kerja. Karena dengan kurangnya informasi dasar pada dunia kerja seperti mengenai upah layak, jam kerja wajar, kontrak kerja, dan perlindungan keselamatan menyebabkan mereka mudah mengalami penipuan rekrutmen, pemotongan upah, hingga perjanjian kerja yang tidak adil. Metode yang dipilih pada penelitian ini berupa survei kuantitatif melalui kuesioner berskala Likert yang disebarkan kepada siswa kelas akhir serta lulusan baru. Data dianalisis secara deskriptif untuk menggambarkan pola pengetahuan responden pada aspek pemahaman jam kerja, pemahaman PKWT/PKWTT, pemahaman hak cuti, serta pemahaman K3. Hasil penelitian diharapkan memberikan gambaran aktual mengenai literasi ketenagakerjaan serta menjadi dasar penyusunan program edukasi dan kebijakan yang lebih efektif dalam melindungi calon pekerja.
Membangun gizi seimbang di desa: intervensi edukasi untuk cegah stunting Richa Noprianty; Ratna Dian Kurniawati; Madinatul Munawaroh; Ecih Winengsih; Agung Sutriyawan
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 2 (2026): April
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i2.38560

Abstract

Abstrak Angka stunting di Desa Dukuh, Kecamatan Ibun, Kabupaten Bandung masih tergolong tinggi dan menjadi permasalahan kesehatan prioritas pada mitra sasaran, khususnya di RW 13 yang teridentifikasi memiliki 6 balita stunting. Kondisi ini menunjukkan adanya permasalahan nyata pada mitra berupa kurang optimalnya pengetahuan keluarga tentang gizi seimbang, praktik pemberian makan pada balita yang belum tepat, serta kondisi kesehatan lingkungan yang belum mendukung tumbuh kembang anak secara optimal. Selain itu, keterbatasan akses informasi dan edukasi kesehatan yang berkelanjutan turut memperburuk situasi tersebut. Oleh karena itu, diperlukan upaya pengabdian kepada masyarakat yang terarah melalui edukasi gizi dan peningkatan kesehatan lingkungan sebagai solusi untuk mengatasi permasalahan yang dihadapi mitra, sehingga diharapkan dapat menurunkan angka stunting dan meningkatkan kualitas kesehatan generasi penerus. Pengabdian masyarakat dilaksanakan pada bulan Agustus 2025 oleh dosen Fakultas Ilmu Kesehatan dan mahasiswa Universitas Bhakti Kencana. Sasaran kegiatan adalah kader kesehatan dan ibu yang mempunyai anak usia 0 – 5 tahun berjumlah 34 orang. Kegiatan berupa pemberian edukasi tentang pencegahan stunting melalui gizi seimbang dengan metode isi piringku, pemberian vitamin A dan obat cacing dari kader serta membuat camilan bergizi dan sehat untuk balita. Peserta diberikan kuesioner pretest dan posttest. Hasil analisis menunjukkan bahwa rata-rata skor pretest responden adalah 10,79 dan meningkat menjadi 11,03 pada posttest. Terdapat peningkatan rerata sebesar 0,24 poin setelah dilakukan intervensi. Pembuatan camilan sehat menggunakan tempe dan sayuran diikuti oleh masyarakat dan dipilih pemenangnya. Cemilan dinilai dari rasa, tekstur dan warna yang menarik. Melalui demonstrasi dan pelatihan kreatif, keterampilan ibu dalam menyusun resep camilan sehat dan bergizi dapat ditingkatkan sebagai upaya pencegahan stunting di masyarakat. Kata kunci: camilan bergizi; edukasi kesehatan; gizi seimbang; pengabdian kepada masyarakat; stunting. Abstract The prevalence of stunting in Dukuh Village, Ibun Subdistrict, Bandung Regency remains high and represents a priority public health concern, particularly in RW 13, where six stunted toddlers have been identified. This situation reflects underlying issues, including inadequate family knowledge of balanced nutrition, inappropriate infant and young child feeding practices, and suboptimal environmental health conditions that hinder optimal child growth and development. Limited access to sustained health information and education further contributes to the persistence of the problem. This community engagement program aimed to address these challenges through targeted nutrition education and environmental health improvement interventions. The activity was conducted in August 2025 by lecturers and students from the Faculty of Health Sciences, Bhakti Kencana University. Participants included 34 individuals, consisting of health cadres and mothers with children aged 0–5 years. The intervention comprised education on stunting prevention through balanced nutrition using the “My Plate” approach, distribution of vitamin A supplementation and deworming medication by health cadres, and training on the preparation of healthy and nutritious snacks for toddlers. Participants completed pretest and posttest questionnaires to assess knowledge changes. The results indicated an increase in the mean score from 10.79 (pretest) to 11.03 (posttest), with a mean difference of 0.24 points, suggesting a modest improvement in participants’ knowledge following the intervention. Additionally, a community-based activity involving the preparation of healthy snacks made from tempeh and vegetables was conducted, with entries evaluated based on taste, texture, and visual appeal. Through demonstrations and hands-on training, mothers’ skills in developing nutritious snack recipes were enhanced, contributing to community-based efforts in stunting prevention. Keywords: nutritious snacks; health education; balanced nutrition; community service; stunting.
Work and Individual Factors Influencing Stress Among Nurse Anesthetists in West Java, Indonesia Richa Noprianty; Akmal Fadhlurrohman; Madinatul Munawaroh; Fikri Mourly Wahyudi
Journal of Public Health and Pharmacy Vol. 5 No. 3 (2025)
Publisher : Pusat Pengembangan Teknologi Informasi dan Jurnal Universitas Muhammadiyah Palu

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56338/jphp.v5i3.6590

Abstract

Introduction: Anesthesia services have complex and high-risk work characteristics, which can impact work stress in health workers, including nurse anesthetists in the operating room. This research aims to determine the relationship between work and individual characteristics and the incidence of work stress experienced by nurse anesthetists. Methods: The research method used was quantitative research with a cross-sectional approach. The population in this study were nurse anesthetists in the West Java region who were members of the DPD IPAI JABAR, totalling 765 people. The sample was chosen with non-probability sampling using a stratified random sampling technique based on the work area of the nurse anesthetists, totalling 88 people. The research instrument used a questionnaire about individual characteristics, work characteristics, and workload using the Maslach Burnout Inventory (MBI) questionnaire, created as a Google form sent via the DPD IPAI West Java admin. Data analysis uses regression with chi-square. Results: The research results show that the average work stress is 58.15, with a minimum value of 23, a maximum of 87, and a moderate stress category of 81.8%. Work characteristics related to work stress include hospital type (p-value 0.003), length of work per day (p-value 0.016), and patient’s ASA (p-value 0.013). Meanwhile, individual characteristics related to work stress are age (0.002) and year of work (0.000). Conclusion: Differences in working hours, type of hospital, work patterns, length of service, type of hospitals, as well as lack of seminars or education regarding stress management in the workplace, can influence work stress so that there is a need for clear work mapping for the hospital so that the quality of service can be provided optimally.
Pemberdayaan masyarakat melalui edukasi manajemen anestesi pra-operasi (PRIMA BEDAH) Richa Noprianty; Fikri Mourly Wahyudi; Cici Valiani; Madinatul Munawaroh; Wahyu Wahdana
SELAPARANG: Jurnal Pengabdian Masyarakat Berkemajuan Vol 10, No 4 (2026): August (In Progress)
Publisher : Universitas Muhammadiyah Mataram

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.31764/jpmb.v10i4.41250

Abstract

AbstrakTindakan pembedahan menuntut kesiapan pasien secara fisik, psikologis, dan kognitif sejak fase pra-operasi. Rendahnya pemahaman masyarakat mengenai persiapan, risiko, dan prosedur anestesi berpotensi meningkatkan kecemasan serta menurunkan keterlibatan aktif pasien dalam proses persiapan pembedahan. Berdasarkan hasil penelitian terdahulu yang menunjukkan adanya kesenjangan pemahaman pra-operasi pada masyarakat, tim dosen dan praktisi Program Studi Sarjana Terapan Keperawatan Anestesiologi Universitas Bhakti Kencana melaksanakan kegiatan pengabdian kepada masyarakat berupa Program Edukasi Manajemen Anestesi untuk Kesiapan Pra Operasi ditinjau dari Persiapan, Risiko, Informasi, Manajemen, dan Anestesi (PRIMA BEDAH) pada masyarakat RT 02 RW 06 Kelurahan Randusari, Kota Semarang. Kegiatan ini bertujuan untuk meningkatkan pengetahuan dan sikap masyarakat terkait kesiapan pra-operasi, sekaligus menjadi model hilirisasi hasil penelitian ke dalam kegiatan aplikatif berbasis bukti. Kegiatan dilaksanakan melalui ceramah interaktif, diskusi tanya-jawab, dan pembagian media edukasi kepada 30 responden, dengan evaluasi menggunakan pre-test dan post-test. Hasil kegiatan menunjukkan peningkatan pengetahuan responden pada kategori Baik dari 6,7% menjadi 63,3%, serta hilangnya seluruh responden pada kategori Kurang. Sikap responden turut menguat, dari 83,3% menjadi 100% pada kategori Baik. Kegiatan ini terbukti efektif meningkatkan kesiapan masyarakat menghadapi tindakan operasi, sekaligus menjadi model hilirisasi penelitian yang berkelanjutan dalam pelaksanaan Tridarma Perguruan Tinggi. Kata kunci: anestesi; edukasi kesehatan; hilirisasi penelitian; kesiapan pra-operasi; risiko anestesi. Abstract      Surgical procedures require adequate physical, psychological, and cognitive patient readiness beginning in the preoperative phase. Limited community understanding of preoperative preparation, risks, and anesthesia procedures may increase anxiety and reduce active patient involvement. Building on prior research findings that identified gaps in preoperative understanding, lecturers and practitioners from the Anesthesiology Nursing Study Program, Bhakti Kencana University, conducted a community service program titled PRIMA BEDAH (Preparation, Risk, Information, Management, Anesthesia) for residents of RT 02 RW 06, Randusari Village, Semarang City. This activity aimed to improve community knowledge and attitudes toward preoperative readiness and to serve as a model for the downstream application of research findings into evidence-based practice. The program was delivered through interactive lectures, discussions, and educational media to 30 respondents, evaluated using pre-test and post-test measures. Results showed knowledge in the "Good" category increased from 6.7% to 63.3%, while all respondents in the "Poor" category disappeared post-intervention. Attitude scores also improved, from 83.3% to 100% in the "Good" category, demonstrating the program's effectiveness in enhancing community preoperative readiness. Keywords: anesthesia; health education; research downstreaming; preoperative readiness; anesthesia risk.
Kegiatan promotif-preventif kesehatan keluarga dan pemberdayaan masyarakat melalui optimalisasi pengelolaan sampah Agus Mi’raj Derajat; Rahmat Santoso; Yunisa Mega Pasha; Ina Sugiharti; Madinatul Munawaroh; Dewi Kurnia; Nadia Ushfuri Amini; Roganda Situmorang
JOURNAL of Public Health Concerns Vol. 6 No. 6 (2026): JOURNAL of Public Health Concerns
Publisher : Indonesian Public Health-Observer Information Forum (IPHORR) Kerja sama dengan: Unit Penelitian dan Pengabdian Kep Akademi Keperawatan Baitul Hikmah

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.56922/phc.v6i6.4419

Abstract

Background: Indonesia faces significant health challenges, ranging from the double burden of disease to issues regarding the distribution of medical facilities and personnel. Official data from the Indonesian Ministry of Health and Statistics Indonesia (BPS) indicate that the country is grappling with a double health burden: a high prevalence of infectious diseases alongside a surge in non-communicable diseases. Consequently, educational interventions are required to provide insights aimed at improving health outcomes. Purpose: To enhance public knowledge regarding the risks of stunting, adolescent early marriage, and hypertension, and to provide guided training on household waste management and the adoption of clean and healthy living behaviors. Method: This initiative consisted of interactive education and training interventions conducted in Mandalahaji Village, Pacet District, Bandung Regency. Forty-two residents participated in the program, which involved eight lecturers and twenty-six students. Participant knowledge and understanding were assessed using a one-group pretest-posttest design, utilizing questionnaires administered before (pretest) and after (posttest) the educational activities. Knowledge was evaluated by comparing pretest and posttest results, while participant skills were assessed through observations of waste sorting practices, health cadres conducting screening visits, and the implementation of clean and healthy living behaviors. These results were analyzed descriptively to provide an overview of healthy living behaviors implementation and to evaluate the success of the educational activities. Results: Evaluation showed an improvement in participants' knowledge and skills across the entire series of activities, with achievements approaching or exceeding the minimum target of 70% of the total program target. Post-test results indicated that the number of participants demonstrating a "good" level of knowledge was 38 (90.5%) for waste management; 40 (95.2%) for balanced nutrition and immunization; 38 (90.5%) for screening techniques and hypertension; and 42 (100.0%) for the prevention of early marriage. Additionally, 40 participants (95.2%) demonstrated a "good" level of knowledge regarding clean and healthy living behavior following the educational activities. Conclusion: The program successfully improved community knowledge and skills regarding household waste management, balanced nutrition, early detection of hypertension, adolescent reproductive health, and healthy living behavior, with outcomes approaching or meeting the minimum target of 70% of the program's objectives. Suggestion: Periodic follow-up support by health volunteers and waste bank administrators is necessary to ensure the sustainability of waste management and healthy living behaviors practices. Health volunteers need to continue monitoring changes in community behavioral patterns specifically waste sorting practices, screening visits, and healthy living behaviors implementation in the subsequent months to ensure the program's impact is sustained. Keywords: Community empowerment; Family health education; Healthy living behaviors; Household waste management Pendahuluan: Indonesia menghadapi berbagai tantangan besar di bidang kesehatan, mulai dari beban ganda penyakit hingga masalah penyebaran fasilitas dan tenaga medis. Data resmi dari Kementerian Kesehatan RI dan Badan Pusat Statistik menunjukkan Indonesia menghadapi beban ganda kesehatan, yaitu tingginya penyakit menular serta lonjakan penyakit tidak menular. Sehingga diperlukan intervensi edukasi untuk memberikan wawasan sebagai upaya perbaikan derajat kesehatan. Tujuan: Untuk meningkatkan pengetahuan masyarakat mengenai risiko stunting, pernikahan dini pada remaja, hipertensi, serta pelatihan dengan pendampingan pengelolaan sampah rumah tangga dan penerapan perilaku hidup bersih dan sehat (PHBS). Metode: Kegiatan ini merupakan edukasi interaktif dengan intervensi pelatihan yang dilaksanakan di Desa Mandalahaji, Kecamatan Pacet, Kabupaten Bandung. Kegiatan ini diikuti 42 warga untuk menjadi partisipan. Pelaksanaan kegiatan melibatkan 8 orang dosen serta 26 orang mahasiswa. Pengukuran tingkat pengetahuan dan pemahaman partisipan dilakukan dengan pendekatan one group pretest and posttest design menggunakan kuesioner yang diberikan sebelum (pretest) dan sesudah kegiatan edukasi (posttest). Evaluasi pengetahuan dilakukan dengan membandingkan hasil pretest dan posttest, sedangkan untuk tingkat kemampuan partisipan di evaluasi berdasarkan observasi ketika melakukan praktik pemilahan sampah, kader dalam melakukan kunjungan skrining, dan penerapan PHBS. Hasil evaluasi ini di analisa secara deskriptif untuk memberikan gambaran penerapan PHBS dan menilai keberhasilan kegiatan edukasi. Hasil: Evaluasi menunjukkan peningkatan pengetahuan dan keterampilan peserta pada seluruh rangkaian kegiatan, dengan capaian mendekati atau melampaui target minimal 70 persen dari total sasaran program. Berdasarkan posttest menunjukkan bahwa tingkat pengetahuan mengenai pengelolaan sampah dalam kategori baik menjadi sebanyak 38 partisipan (90.5%), untuk tingkat pengetahuan mengenai gizi seimbang dan imunisasi dalam kategori baik menjadi sebanyak 40 partisipan (95.2%), untuk tingkat pengetahuan mengenai teknik skrining dan hipertensi dalam kategori baik menjadi sebanyak 38 partisipan (90.5%), untuk tingkat pengetahuan mengenai pencegahan pernikahan dini dalam kategori baik menjadi sebanyak 42 partisipan (100.0%). Sedangkan untuk tingkat pengetahuan mengenai pola hidup bersih dan sehat (PHBS) dalam kategori baik menjadi sebanyak 40 partisipan (95.2%) setelah kegiatan edukasi. Simpulan: Program berhasil meningkatkan pengetahuan dan keterampilan masyarakat mengenai pengelolaan sampah rumah tangga, gizi seimbang, deteksi dini hipertensi, kesehatan reproduksi remaja, dan PHBS, dengan capaian mendekati atau memenuhi target minimal 70 persen dari sasaran program. Saran: Perlu dilakukan pendampingan lanjutan secara berkala oleh kader kesehatan dan pengurus bank sampah agar praktik pengelolaan sampah dan PHBS dapat berjalan berkelanjutan. Pemantauan perubahan pola perilaku masyarakat (praktik pemilahan sampah, kunjungan skrining, dan penerapan PHBS) perlu terus dilakukan oleh kader kesehatan pada bulan-bulan berikutnya untuk memastikan keberlanjutan dampak program.