Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Usia Penderita Stroke Iskemik dengan Kadar Beta-amyloid Plasma Syafrita, Yuliarni
Cermin Dunia Kedokteran Vol 42, No 10 (2015): Neurologi
Publisher : PT. Kalbe Farma Tbk.

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (149.498 KB) | DOI: 10.55175/cdk.v42i10.954

Abstract

Latar Belakang: Ketidakseimbangan antara produksi, pemecahan, dan clearance beta-amyloid (Aβ) merupakan proses patofisiologi awal penumpukan beta-amyloid di jaringan otak. Tujuan penelitian ini adalah melihat hubungan antara usia dan kejadian stroke iskemik terhadap kadar beta-amyloid plasma. Metode: Penelitian cross-sectional bersifat observasional, membandingkan kadar beta-amyloid plasma di kelompok usia muda, usia lanjut sehat, dan usia lanjut yang mengalami stroke iskemik. Hasil: Kadar Aβ40 plasma pada usia muda lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat (p=0,011). Kadar Aβ40 pada usia lanjut sehat lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut yang mengalami stroke (p<0,001). Kadar Aβ42 plasma pada usia muda lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat (p=0,002). Kadar Aβ42 pada usia lanjut yang mengalami stroke jauh lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat (p<0,001). Simpulan: Kadar Aβ40 dan Aβ42 plasma pada usia muda lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat. Pada pasien usia lanjut dengan stroke iskemik usia lanjut, kadar Aβ40 plasma lebih rendah dan kadar Aβ42 plasma lebih tinggi dibandingkan pada usia lanjut sehat.Background: The imbalance of production, degradation, and clearance of beta-amyloid is an early pathophysiological process responsible for the accumulation of beta-amyloid in the brain tissue. The purpose of this study is to find out the association between age and events of ischemic stroke, and plasma beta-amyloid. Methods: Observational cross-sectional study to compare beta-amyloid plasma levels among younger age, healthy elderly, and the elderly suffering from ischemic stroke. Results: The plasma level of Aβ40 in the younger age is significantly higher than in the healthy elderly (p=0.011). The plasma level Aβ40 in the healthy elderly is significantly higher than in the post ischemic stroke elderly (p <0.001). The plasma level of Aβ42 in younger age is higher than in the healthy elderly (p=0.002). The plasma level of Aβ42 in the elderly who experienced stroke is higher than in the healthy elderly (p<0.001). Conclusion: The plasma level Aβ40 and Aβ42 are higher in younger age compared to the healthy elderly. In the elderly with ischemic stroke, the plasma level of Aβ40 was lower and level of Aβ42 was higher compared to the healthy elderly.
Hubungan Ekspresi Reseptor Progesteron dan Ki-67 Labeling Index dengan Derajat Histopatologik Meningioma Dwi Sri Rejeki; Salmiah Agus; Yuliarni Syafrita
Majalah Patologi Indonesia Vol 28 No 3 (2019): MPI
Publisher : Perhimpunan Dokter Spesialis Patologi Indonesia (IAPI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (415.555 KB)

Abstract

ABSTRAKLatar belakangMeningioma adalah tumor yang berasal dari sel meningotel (arachnoid) yang menempel pada duramater.Tumor ini merupakan tumor terbanyak kedua pada susunan saraf pusat, terbanyak pada perempuan. Semuaderajat meningioma berisiko untuk terjadi rekurensi, sayangnya perilaku biologik dari meningioma tidak dapatdilihat hanya dari gambaran histopatologik saja. Pada banyak penelitian jenis tumor lain menunjukkan bahwareseptor progesteron mempengaruhi derajat histologik. Dikatakan Ki-67 LI berperan penting dalam menentukanrisiko rekurensi pada derajat histologik meningioma. Dengan demikian maka pada meningioma diperlukanpemeriksaan reseptor progesteron dan Ki-67 LI untuk melihat perangai dari sel tumor yang dapat menentukanterapi dan prognosis.MetodePenelitian menggunakan metode cross-sectional study. Sampel penelitian ini penderita meningioma di 5Laboratorium Patologi Anatomik Sumatra Barat. Didapatkan sebanyak 64 kasus meningioma didapatkanselama Januari 2012 sampai Desember 2015, dan 35 sampel diambil yang memenuhi kriteria inklusi. Dilakukanpemeriksaan imunohistokimia menggunakan antibodi yang spesifik dengan reseptor progesteron dan Ki-67.Analisis statistik menggunakan uji Kruskal-Wallis Test dan dianggap bermakna bila p<0,05.HasilSebanyak 35 sampel, 29 sampel (82,9%) dikelompokkan pada meningioma derajat I, 4 sampel (11,4%)dikelompokkan pada meningioma derajat II dan 2 sampel (5,7%) dikelompokkan pada meningioma derajat III.Meningioma paling banyak ditemukan pada kelompok usia 41-50 tahun, jenis kelamin perempuan dan derajathistopatologik derajat I.KesimpulanTidak terdapat perbedaan ekspresi reseptor progesteron pada derajat histopatologik meningioma. Tidakterdapat perbedaan ekspresi Ki-67 LI pada derajat histopatologik meningioma. Terdapat hubungan terbalikantara ekspresi reseptor progesteron dan Ki-67 LI pada derajat histopatologik meningioma.
Hubungan Pemberian ASI Eksklusif dan Stimulasi Psikososial dengan Perkembangan Bayi Berumur 6-12 Bulan Trya Mia Intani; Yuliarni Syafrita; Eva Chundrayetti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1S (2019): Suplemen 1
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1S.920

Abstract

Kandungan ASI sangat penting bagi perkembangan sel – sel otak yang dapat mempengaruhi perkembangan psikomotorik bayi. Sama halnya stimulasi psikososial, anak dapat mengendalikan dan mengkoordinasikan otot – ototnya serta melibatkan perasaan emosi dan pikirannya sehingga mempengaruhi kemampuan dasar perkembangan bayi. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan pemberian ASI eksklusif dan stimulasi psikososial dengan Perkembangan bayi berumur 6 – 12 bulan. Desain penelitian cross sectional komparatif. Penelitian telah dilakukan pada bulan juni 2017 – Juli 2018. Sampel penelitian adalah semua ibu yang memiliki bayi berumur 6 – 12 bulan memenuhi kriteria penelitian secara consecutive sampling. Peneliti melakukan wawancara dan observasi pada ibu dan bayi. pengolahan dan analisis data secara komputerisasi dengan uji Chi-Square dan Uji Mantel-Haenszel. Hasil penelitian menunjukkan tidak ada perbedaan signifikan umur ibu (p = 0,348 ), jumlah anak (p = 0,675) ,pendidikan ibu (p = 0,259), jenis kelamin ( p = 1,000) dan umur bayi (p = 1,000), status gizi (p = 0,893) dan ada perbedaan antara ibu bekerja dan ibu tidak bekerja (p = 0,023) pada kelompok bayi mendapatkan ASI eksklusif dan kelompok bayi tidak mendapatkan ASI eksklusif. Tidak terdapat hubungan pemberian ASI eksklusif (p = 0,317) dan terdapat hubungan (p = 0,000) stimulasi psikososial dengan perkembangan bayi berumur 6 - 12 bulan. Kesimpulan penelitian ini tidak terdapat hubungan pemberian ASI eksklusif dan terdapat hubungan stimulasi psikososial dengan perkembangan bayi berumur 6 – 12 bulan.
Gambaran Pengetahuan, Sikap dan Tindakan Mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Andalas Angkatan 2013 tentang Stroke Karina Prasasti Helhid; Yuliarni Syafrita; Ennesta Asri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7, No 1 (2018)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i1.787

Abstract

Stroke merupakan penyebab utama kecacatan pada kelompok usia diatas 45 tahun dan penyebab nomor dua kematian secara global. Stroke dapat dicegah, salah satunya dengan memberikan pengetahuan kepada mahasiswa sebagai generasi muda. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran pengetahuan, sikap dan tindakan mahasiswa Fakultas Ekonomi Universitas Andalas angkatan 2013 tentang stroke. Jenis penelitian ini adalah deskriptif dengan desain cross sectional. Teknik pengambilan sampel adalah consecutive sampling dengan jumlah sampel 85 orang. Penelitian ini dilakukan bulan Januari 2016 sampai Juni 2016. Pengumpulan data dilakukan melalui kuesioner dengan menggunakan analisis manual. Hasil penelitian didapatkan gambaran pengetahuan responden pada kategori baik sebanyak 47,1% dan kategori sedang sebanyak 52,9%. Gambaran sikap responden kategori baik sebanyak 77,6% dan kategori sedang 22,4%. Gambaran tindakan responden pada kategori baik sebanyak 75,3% dan kategori sedang 24,7%. Simpulan penelitian ini adalah didapatkan pengetahuan pada kategori sedang terdapat pada lebih dari separuh responden, sikap dan tindakan sebagian besar responden pada kategori baik.
Perbedaan Fungsi Kognitif Antara Pasien Diabetes Melitus Tipe 2 dan Non Diabetes Melitus di RSUP DR M Djamil Padang Novi Yudia; Yuliarni Syafrita; Rizanda Machmud
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 2 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i2.697

Abstract

Populasi lanjut usia yang menderita Diabetes Melitus (DM) akan mengalami penurunan neurocognitive yang lebih cepat dan lebih buruk dibandingkan kelompok non DM dengan usia dan tingkat pendidikan yang sama. Tujuan penelitian ini adalah menentukan perbedaan fungsi kognitif antara kelompok DM dan non DM dengan menggunakan kuisioner MoCA-Ina. Penelitian ini merupakan penelitian komparasi dengan desain crosssectional study menggunakan data primer yang diambil langsung secara random dari hasil wawancara pada tiap kelompok di RSUP DR M Djamil Padang dari Juli 2014 sampai dengan September 2014. Terdapat kecendrungan penurunan fungsi kognitif pada kedua kelompok terhadap kemampuan visuospasial, penamaan, atensi, abstraksi, dan delayed recall dengan hasil pada kelompok DM tipe 2 lebih rendah. Sebagian besar kelompok DM tipe 2 memiliki kadar GDP dan GD2PP yang tinggi dengan  persentase  sebesar  60%  dan  65%. Uji-t  yang  dilakukan  untuk  melihat  beda  rerata  skor  MoCA-Ina menunjukkan adanya perbedaan skor rerata antar kedua kelompok dengan p<0,001. Simpulan penelitian ini adalah terdapat perbedaan skor rerata antara fungsi kognitif kelompok DM tipe 2 dan non DM dengan hasil skor MoCA-Ina pada kelompok DM tipe 2 yang mempunyai skor yang lebih buruk dibandingkan kelompok non DM. Diharapkan tenaga kesehatan dapat menjadikan MoCA-Ina sebagai acuan dalam melakukan pemeriksaan skrinning fungsi kognitif agar penurunan kognitif yang lebih cepat dapat diketahui dan dihindari.
Gambaran Kualitas Hidup Pasien Miastenia Gravis Di RSUP Dr. M. Djamil Padang Fadel Muhammad; Yuliarni Syafrita; Lydia Susanti
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 8, No 1 (2019): Online Maret 2019
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v8i1.969

Abstract

Miastenia Gravis (MG) merupakan kelainan autoimun yang menyerang reseptor neurotransmitter di tautan neuromuskular dan menghambat terjadinya kontraksi otot. Kelemahan otot yang terjadi menyebabkan keterbatasan aktivitas fisik serta mempengaruhi setiap aspek dari kualitas hidup. Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui gambaran kualitas hidup pada pasien miastenia gravis di RSUP Dr. M. Djamil Padang. Penelitian ini merupakan studi deskriptif dengan desain cross sectional melibatkan 38 pasien yang telah menyetujui informed consent dan berusia 20-79 tahun. Pengambilan sampel menggunakan teknik consecutive sampling. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner WHOQOL-BREF. Kualitas hidup baik jika didapatkan skor akhir 51-100 dan kualitas hidup kurang jika didapatkan skor akhir 0-50. Analisis data menggunakan analisis univariat. Pengumpulan data dilakukan pada data rekam medis.Hasil penelitian menunjukkan responden paling banyak berusia 20-49 tahun (76,3%), berjenis kelamin perempuan (84,2%), MGFA kelas II (63,2%), dan lama menderita rata-rata 56,87 bulan dengan median 45 bulan. Kualitas hidup 89,5% baik, rata-rata skor 63,7. Kesimpulan penelitian ini adalah secara umum kualitas hidup pasien MG adalah baik, terdapat kecenderungan penurunan skor akhir kualitas hidup seiring dengan lamanya mederita dan meningkatnya kelas MGFA.
Gambaran Faktor Risiko dan Tipe Stroke pada Pasien Rawat Inap di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan Periode 1 Januari 2010 - 31 Juni 2012 Cintya Agreayu Dinata; Yuliarni Syafrita; Susila Sastri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 2, No 2 (2013)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v2i2.119

Abstract

AbstrakStroke merupakan penyakit akibat gangguan peredaran darah otak yang dipengaruhi oleh banyak faktor risiko terdiri dari yang tidak dapat diubah berupa usia dan jenis kelamin dan yang dapat diubah seperti hipertensi, peningkatan kadar gula darah, dislipidemia, dan pekerjaan. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui distribusi tipe stroke dan faktor risiko yang berpengaruh pada pasien stroke rawat inap di RSUD Kabupaten Solok Selatan. Metode penelitian: Penelitian ini adalah penelitian deskriptif dengan menggunakan data skunder pasien stroke yang dirawat di RSUD Solok Selatan. Data yang diambil meliputi usia, jenis kelamin, tekanan darah, kadar gula darah, profil lipid saat pertama pasien masuk rumah sakit, dan pekerjaan. Sampel penelitian adalah seluruh pasien stroke yang pernah dirawat di Bagian Penyakit Dalam RSUD Kabupaten Solok Selatan pada periode 1 Januari 2010 – 31 Juni 2012 yang memenuhi kriteria inklusi. Hasil penelitian: Hasil penelitian menunjukkan proporsi stroke terbanyak adalah stroke ischemic (61,46%), perempuan (54,17%) yang berusia >50 tahun (81,25%) yang bekerja sebagai ibu rumah tangga (43,75%). Faktor risiko yang dapat diubah tertinggi adalah hipertensi (82,30%) diikuti kolesterol total meningkat (69,79%). Faktor risiko tertinggi pada stroke ischemic adalah gula darah meningkat (47,89%) dan pada stroke hemorrhagic adalah hipertensi (100,00%). Faktor risiko tertinggi pada seluruh pasien adalah hipertensi (82,30%). Kesimpulan: Berdasarkan hasil penelitian ini disimpulkan bahwa stroke tipe ischemic lebih banyak dari tipe hemorrhagic dengan faktor risiko utama hipertensi, sedangkan stroke ischemic terutama dipengaruhi oleh peningkatan gula darah.Kata kunci: stroke ischemic, stroke hemorrhagic, faktor risiko strokeAbstractStroke is a disease caused by disorder of brain blood circulation with many risk factors that contribute in this disease, consist of non modifiable risk factor including age and sex and modifiable risk factors example hypertension, high glucose level, dyslipidemia, and jobs. This study aimed to determine the distribution of the type of stroke and the risk factors that affect to stroke patients who were treat in South Solok hospital.Methods: This research is descriptive research using secondary data, including the patient’s medical record. The data including age, gender, blood pressure, glucose level, lipid profile when the first patient in the hospital, and jobs. The samples were all stroke patients who had been treat in the Department of Internal Medicine of South Solok hospital in the period from January 1st 2010 until June 31th 2012 that meet the inclusion criteria.The results: The results showed the highest proportion of strokes were ischemic stroke (61.46%), women (54.17%) aged> 50 years (81.25%) who work as housewives (43.75%). The highest of modifiable risk factors are hypertension (82.30%) followed by increases in total cholesterol (69.79%). The highest risk factors for ischemic stroke is high glucose level (47.89%) and for hemorrhagic stroke is hypertension (100.00%). The highest risk in both ischemic stroke and hemorrhagic is hypertension (82.30%).Conclusion: Based on the end result, we can concluded that the insidence of ischemic stroke disease is greater than hemorrhagic stroke, and as the main risk factor is hypertension, mean while ischemic stroke is most affected by high glucose level.Keywords: stroke ischemic, stroke hemorrhagic, faktor risiko stroke
Hubungan Konsumsi Antioksidan dari Makanan dengan Beta-Amyloid Plasma sebagai Penanda Gangguan Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia Ratna D Siregar; Nur Indrawati Lipoeto; Yuliarni Syafrita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 4, No 1 (2015)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v4i1.206

Abstract

AbstrakPenelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara konsumsi vitamin A, vitamin C, vitamin E, zink dan selenium dari makanan dengan fungsi kognitif pada lanjut usia. Metoda penelitian adalah cross sectional study terhadap 145 lansia umur ≥ 60 tahun, pada dua kecamatan di Kabupaten Lima Puluh Kota Sumatra Barat. Wawancara konsumsi antioksidan menggunakan Food Frequency Questionnaires (FFQ), fungsi kognitif diperiksa dengan Montreal Cognitive Assesment versi Indonesia (MoCA-Ina), Aβ40 dan Aβ42 plasma diperiksa dengan metode ELISA. Data dianalisis menggunakan uji Mann-Whitney dan Chi-square. Pada hasil penelitian ditemukan 83 orang (57,2%) lansia yang mengalami gangguan fungsi kognitif. Terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi vitamin C (p<0,049) dan vitamin E (p<0,037) tetapi tidak terdapat hubungan signifikan antara vitamin A, zink dan selenium dengan fungsi kognitif. Tidak terdapat hubungan yang signifikan antara konsumsi antioksidan dengan tingkat Aβ40 dan Aβ42 serta antara tingkat Aβ40 dan Aβ42 dengan fungsi kognitif masing-masing (p<0,058 dan p<0,350). Kesimpulan hasil penelitian ini didapatkan hubungan antara konsumsi vitamin C dan vitamin E dari makanan dengan fungsi kognitif. Tetapi tidak terdapat hubungan antara konsumsi antioksidan dengan Aβ40 dan Aβ42 plasma dan Aβ40 dan Aβ42 dengan fungsi kognitif.Kata kunci: antioksidan, beta-amyloid, fungsi kognitif, lanjut usiaAbstractThe objective of this study was to determine the relationship between consumption of vitamin A, vitamin C, vitamin E, zinc and selenium from foods with cognitive function in elderly. This was a cross-sectional study that was conducted to 145 elderly with age ≥ 60 years, in two districts in West Sumatra, in Lima Puluh Kota city. Interview antioxidant intake using a Food Frequency Questionnaires (FFQ), cognitive function was checked by Montreal Cognitive Assessment Indonesian version (MoCA-Ina), plasma Aβ40 dan Aβ42 were examined by ELISA while the data were analyzed by using the Mann-Whitney and Chi-square test. Results : Eighty three elderly people (57.2%) were found with impaired cognitive function. There was a significant association between the consumption of vitamin C (p < 0.049) and vitamin E (p < 0.037) but there was no signifikan association between vitamin A, zinc and selenium with cognitive function. There was no significant association between consumption of the antioxidant and both plasma Aβ40 and Aβ42 levels. There was no significant between levels of Aβ40 and Aβ42 and cognitive function (p < 0.058 and p < 0.350, respectively).Conclusion : There is a association between the consumption of vitamin C and vitamin E from food and cognitive function, but there is no association between the consumption of the antioxidant and levels of plasma Aβ40 and Aβ42 and between levels of plasma Aβ40 and Aβ42 and cognitive function.Keywords: antioxidants, amyloid-beta, cognitive function, elderly
Hubungan Faktor Risiko dengan Fungsi Kognitif pada Lanjut Usia Kecamatan Padang Panjang Timur Kota Padang Panjang Iqbal Al Rasyid; Yuliarni Syafrita; Susila Sastri
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 6, No 1 (2017)
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v6i1.643

Abstract

Kemajuan teknologi dan industri berdampak kepada peningkatan kualitas kesehatan. Tujuan penelitian ini adalah menentukan hubungan faktor risiko seperti pertambahan usia, jenis kelamin, stresor sosial, tingkat pendidikan, penyakit yang pernah diderita dan pekerjaan terhadap fungsi kognitif lanjut usia. Penelitian dilakukan dengan studi potong lintang menggunakan data hasil Tes MoCA-Ina. Penelitian dilakukan di kecamatan Padang Panjang Timur pada tahun 2014. Hasil analisis data dengan chi-square didapatkan bahwa sebagian besar responden adalah usia lanjut (60,8%), berjenis kelamin perempuan (71,1%), memiliki tingkat pendidikan rendah (61,9%), dan tidak memiliki riwayat penyakit (gangguan kardiovaskular, diabetes, kejang, dan trauma kepala) (51,5%). Analisis bivariat didapatkan usia dengan fungsi kognitif (p = 0,001), jenis kelamin dengan fungsi kognitif (p = 0,100), tingkat pendidikan dengan fungsi kognitif (p = 0,017), dan riwayat penyakit dengan fungsi kognitif (p = 0,394). Hasil penelitian ini dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan bermakna antara usia dan tingkat pendidikan terhadap fungsi kognitif lanjut usia. Pada jenis kelamin dan riwayat penyakit tidak terdapat hubungan bermakna.
Profil Pasien Periodik Paralisis Hipokalemia Di Bangsal Saraf RSUP DR M Djamil Gunawan Septa Dinata; Yuliarni Syafrita
Jurnal Kesehatan Andalas Vol 7 (2018): Supplement 2
Publisher : Fakultas Kedokteran, Universitas Andalas

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25077/jka.v7i0.835

Abstract

Hipokalemia Periodik Paralisis (HKPP) adalah sindroma kelemahan dan kelumpuhan otot yang langka yang terkait dengan hipokalemia. Kelemahan bervariasi dari kelemahan ringan sampai kelumpuhan total. Serangan membaik secara spontan dan pulih dalam waktu 3-36 jam. Fungsi kognitif dan sensorik tetap baik dan refleks tendon dalam mungkin akan berkurang atau tidak ada. Kami melaporkan 10 kasus pasien dengan Periodik Paralisis Hipokalemia di bangsal Saraf DR M Djamil Padang. Laporan kasus ini menggambarkan karakteristik klinis dan laboratorium pasien periodik paralisis dan untuk mencari etiologi dan terapi lebih lanjut. dilakukan pemeriksaan kadar kalium serum, kreatinin serum dan hitung leukosit pada pasien dengan periodik paralisis di bangsal saraf RSUP DR M Djamil Padang, dari periode Juli 2013 – September 2014. Diagnosis Periodik Paralisis ditegakkan berdasarkan temuan fisik dan laboratorium. Data yang dikumpulkan untuk diproses dan ditabulasikan secara manual. Jenis kelamin wanita sebanyak sembilan orang dan pria satu orang. didapatkan rerata umur 32.5 ± 9.16, berdasarkan hasil pemeriksaan kadar kalium darah didapatkan nilai minimum kalium tidak terukur (50%) dan nilai maksimum 2.1 mmol/L, dan rerata hitung leukosit 19.820 ± 8.579. Sebagian besar pasien periodik paralisis yang dirawat di bangsal Saraf RSUP DR M Djamil masuk dengan keluhan klinis tetraparese dengan kadar kalium yang tidak terukur dan hitung leukosit yang meningkat.
Co-Authors Adang Bachtiar Afriyeni Sri Rahmi Ahmad, Baihaqi Alya Ramadhini Andi Fadilah Yusran Andy, Marfri Anggi Anugerah Basir ATTIYA ISTARINI Basjiruddin Ahmad Bestari, Reno Cintya Agreayu Dinata Darwin Amir Darwin Amir Darwin Amir, Darwin Dedi Sutia Dhiang Mulia Syofiadi Djong Hon Tjong Dwi Sri Rejeki Dwitya Elvira, Dwitya Elsi Rahmadhani Hardi Elvia Fataya Ennesta Asri Erdanela Setiawati Eva Chundrayetti Eva Decroli Fadel Muhammad Fadrian, Fadrian Fanny Adhy Putri Fitra Ermila Basri Gunawan Septa Dinata Haiga, Yuri Harun Harnavi Hauda El Rasyid Hendra Permana Husni Minanda Fikri Indra, Syarif Iqbal Al Rasyid Istiqomah Jabbar, Ridho Ahmad Karina Prasasti Helhid Kurniawan, Yoga Setia Lestari, Novia Riza Lydia Susanti Lydia Susanti Lydia Susanti Lydia Susanti Lydia Susanti, Lydia M Hasan Machfoed Marfri Andy Marliana, Lesti Meldayeni Busra Mubarak, M. Dzaky Muhammad Farhan Khadaffi Mustafa Noer Nailatul Fadhilah Nela Novita Sari Netti Suharti Nora Fitri Nora Fitri Novi Yudia Nur Indrawati Lipoeto Nur Indrawaty Lipoeto Nurhayati Nurhayati Nurvalinda, Nurvalinda Pitra, Dian Ayu Hamama Putri, Fanny Adhy Rahmi Ulfa Rasyid, Hauda El Ratna D Siregar Rauza Sukma Rita Reno Bestari Reno Bestari Restu Susanti Rika Susanti Rika Susanti Rini Gusya Liza, Rini Gusya Rizanda Machmud Rizki Muhammad Rananda RR. Ella Evrita Hestiandari Russilawati, Russilawati Salmiah Agus Sukri Rahman Susila Sastri Susila Sastri Sutia, Dedi Syahrul, Muhammad Zulfadli Syarif Indra Syarif Indra Trya Mia Intani Widia Rahmawati Yantri Maputra Yanwirasti Yanwirasti Yaumi Faiza Yoga Setia Kurniawan Yulia Trisna