Claim Missing Document
Check
Articles

Found 7 Documents
Search
Journal : JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS

Status Nudibranchia di perairan pantai Desa Teep Minahasa Selatan dan selat Lembeh Bitung Pungus, Faldy; Kaligis, Georis; Ompi, Medy
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 2 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.2.2017.15919

Abstract

Penelitian ini bertujuan 1) mengidentifikasi jenis-jenis Nudibranchia di Perairan Selat Lembeh Bitung dan Pantai Desa Teep Minahasa Selatan. 2) mengetahui kelimpahan Nudibranchia di wilayah perairan Selat Lembeh Bitung dan Pantai Desa Teep Minahasa Selatan. Jenis Nudibranchia yang ditemukan di Perairan Desa Teep Minahasa Selatan ada 10 spesies yaitu Chromodoris annae, Dorisprismatica atromarginata, Glossodoris cincta, Goniobranchus reticulatus, Nembrotha kubaryana, Phyllidia coelestis, Phyllidia picta, Phyllidia varicosa, Phyllidiela nigra, Phyllidiela pustulosa dan Perairan Selat Lembeh ada 11 spesies yaitu Chromodoris annae, Discodoris boholiensis, Goniobranchus hintuanensis, Goniobranchus verrieri, Hypselodoris sp, Hypselodoris infucata, Hypselodoris tyroni, Hyspelodoris zephyra, Phyllidia picta, Phyllidiela pustulosa, Tambja gabrielae. Perairan Desa Teep Minahasa Selatan ditemukan Phyllidiela pustulosa dengan jumlah 6 individu yang memiliki kepadatan spesies 2 ind/500 m2 dan, sedangkan kepadatan kedua tertinggi yaitu spesies Phyllidiela nigra berjumlah 3 individu dengan kepadatan 1 ind/500 m2. Kemudian 8 jenis lainnya, masing-masing species ditemukan 1 individu saja dengan kepadatan 0,33 ind/500 m2. Perairan Selat Lembeh ada 2 spesies yang banyak ditemukan yaitu Goniobranchus hintuanensis dan Phyllidiela pustulosa dengan masing-masing individu 3 serta memiliki kepadatan spesies 1 ind/500 m2, sedangkan tingkat kepadatan kedua tertinggi ada pada semua genus  Hypselodoris  yang memiliki jumlah individu yang sama yaitu 2 individu dengan kepadatan 0,67 ind/500 m2. Kemudian 5 spesies lainnya yaitu Chromodoris annae, Discodoris boholiensis, Goniobranchus verrieri, Phyllidia picta dan Tambja gabriela, masing-masing species memiliki kepadatan 0,33 ind/500 m2.
Morfologi Sargassum sp dI kepulauan RAJA AMPAT, PAPUA BARAT Pansing, Jenita; Gerung, Grevo; Sondak, Calvyn; Wagey, Billy; Ompi, Medy; Kondoy, Khristin
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 5, No 1 (2017): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.5.1.2017.14990

Abstract

Sargassum sp. merupakan salah satu sumberdaya alam pesisir yang memiliki fungsi ekologis dan ekonomis bagi masyarakat pesisir. Di Kepulauan Raja Ampat ini belum banyak alga Sargassum yang di eksplorasi. Alga Sargassum memiliki berbagai macam bentuk morfologi tallus, misalnya ada yang berbentuk seperti benang yang halus, bercabang banyak, berbentuk gelembung, daun yang lebar, bergerigi pada bagian daun dan bertalus lebar.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui jenis dan mendeskripsikan morfologi Sargassum yang ditemukan di Kepulauan Raja Ampat, Papua Barat. Dari hasil penelitian ditemukan ada 4 spesies di Pulau Yeftip Yefnawam (S. paniculatum, S. grevillei, S. cristaefolium), dan yang ditemukan di Pulau Salawati (S. polycystum).
Sebaran spasial foraminifera bentik pada terumbu karang Pulau Bunaken Sulawesi Utara Paringgi, Ezra; Mamuaja, Jane; Rampengan, Royke; Ompi, Medy; Roeroe, Kakaskasen; Rembet, Unstain
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.1.2018.20118

Abstract

Foraminifera diklasifikasikan ke dalam Kingdom Protista, masuk dalam Filum Protozoa dan didefinisikan sebagai organisme bersel tunggal yang hidup secara akuatik (terutama di laut), mempunyai satu atau lebih kamar yang terpisah satu sama lain oleh sekat (septa) yang ditembusi oleh banyak lubang halus (foramen). Penelitian ini bertujuan untuk mendeskripsikan foraminifera bentik yang ditemukan pada Pulau Bunaken dan menyajikan sebaran spasial dari masing-masing kelompok fungsional dan genus foraminifera bentik, serta menganalisis kualitas lingkungan perairan berdasarkan komposisi foraminifera bentik.  Teridentifikasi 37 spesies foraminifera bentik dari 20 Genus yang tersebar pada 6 stasiun pengambilan sampel. Genus-genus tersebut terdiri dari : Amphistegina, Archaias, Baculogypsina, Calcarina, Heterostegina, Marginopora, Peneroplis, Planorbulinella, Sorites, Eponides, Pyrgo, Quinqueloculina, Rotorbis, Textulariina, Spiroloculina, Triloculina, Elphidium, Ammonia, Polymorphiniina dan Neorotalia. Hasil perhitungan FoRAM Index (FI) pada daerah penelitian lebih besar dari 4 yaitu berkisar dari 7.75 hingga 9.06.
Estimasi potensi karbon pada sedimen ekosistem mangrove di pesisir Taman Nasional Bunaken bagian utara Verisandria, Rio; Schaduw, Joshian; Sondak, Calvyn; Ompi, Medy; Rumengan, Antonius; Rangan, Jety
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol 6, No 1 (2018): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.6.1.2018.20567

Abstract

Ekosistem mangrove merupakan salah satu potensi yang menjadi parameter untuk dikaji dari ekosistem Blue Carbon. Mangrove memanfaatkan CO2 untuk proses fotosintesis dan menyimpannya dalam stok biomassa dan sedimen sebagai upaya mitigasi perubahan iklim. Perkiraan penyimpanan karbon pada ekosistem mangrove begitu besar sehingga penting untuk menghitung persentase estimasi simpanan karbon pada ekosistem mangrove terutama pada sedimen mangrove. Telah dilakukan penelitian untuk mengestimasi simpanan karbon pada sedimen ekosistem mangrove yang tumbuh di Pesisir Taman Nasional Bunaken bagian Utara. Pengambilan sampel sedimen mangrove dilakukan dengan teknik Purpose Sampling dan data yang diperoleh dianalisis dengan metode Loss on Ignition. Nilai rata-rata densitas sedimen tanah tertinggi terletak pada lapisan kedalaman 60-100 cm, yaitu pada bagian depan dan tengah masing-masing sebesar 0,78 g/cm3 dan 0,80 g/cm3. Pada titik bagian belakang terletak di kedalaman 0-30 cm yaitu 0,90 g/cm3. Nilai rata-rata persentase karbon tertinggi terletak pada lapisan kedalaman 60-100 cm, masing-masing bagian depan sebesar 20,61%; bagian tengah sebesar 22,01%; dan bagian belakang sebesar 16,18%. Nilai rata-rata simpanan karbon pada sedimen ekosistem mangrove di Pesisir Taman Nasional Bunaken bagian Utara tersebar di 5 lokasi, yaitu di Molas sebesar 126,61 Mg ha-1; di Meras sebesar 157,01 Mg ha-1; di Tongkaina sebesar 138,26 Mg ha-1; di Bahowo sebesar 40,25 Mg ha-1; dan di Tiwoho sebesar 136,54 Mg ha-1.
STUDI PERUMUSAN STRATEGI PENGELOLAAN EKOWISATA BAHARI KOTA MANADO DI ERA REVOLUSI INDUSTRI 4.0 BERDASARKAN ANALISIS SWOT Sarif Hidayat; Antonius P Rumengan; Suria Darwisito; Medy Ompi; Winda M Mingkid; Billy Th Wagey; Carolus P Paruntu
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.3.2019.24421

Abstract

The objective of this research was to formulate a strategy for managing maritime ecotourism in the era of industrial revolution 4.0 in the city of Manado. The study was conducted at the coastal areas of the mainland of Manado City and Bunaken Island for 3 months, February - May 2019. The research method was a survey with descriptive analysis and SWOT. The results of the study obtained 4 strategy formulations (key success factors) in the context of managing maritime ecotourism in the industrial revolution era 4.0 in the city of Manado, namely: 1) Increasing law enforcement in the field of marine ecotourism, waste management on land and sea, 2) Awareness of the community environmental hygiene both on land and sea, 3) Empowering biodiversity resources of coral reefs, seagrass beds and mangroves in the park for developing marine maritime ecotourism through digital applications, and 4) managing and developing resorts, coastal culinary attractions, points of diving spots, and tourism  ports. The results of the SWOT curve show the condition of marine ecotourism in the city of Manado in quadrant 2, namely a situation where the threat to the development of marine ecotourism is more dominant than opportunity, but there are strengths of tourism organizations that can be relied on. Stakeholders are expected to be able to improve performance so that quadrant 2 conditions change to quadrant 1, which is to support an aggressive strategy: a very good situation because of the power that is used to seize profitable opportunities. In the era of industrial revolution 4.0, every stakeholder in the maritime ecotourism industry in the city of Manado was supposed to change the management system towards digital-based by making applicationsKeywords: Bunaken island, revolution industry 4.0, Manado city, marine ecotourism, strategyTujuan penelitian adalah untuk merumuskan strategi pengelolaan ekowisata bahari di era revolusi industri 4.0 di Kota Manado.  Penelitian dilakukan di wilayah pesisir daratan Kota Manado dan Pulau Bunaken selama 3 bulan, Februari - Mei 2019. Metode penelitian adalah survei dengan analisis deskriptif dan SWOT. Hasil penelitian diperoleh 4 rumusan strategi (faktor-faktor kunci keberhasilan) dalam rangka pengelolaan ekowisata bahari era revolusi industri 4.0 di Kota Manado, yaitu: 1) Meningkatkan penegakan hukum di bidang ekowisata bahari, pengelolaan sampah di darat maupun laut, 2) Menyadarkan masyarakat tentang kebersihan lingkungan baik di daratan maupun lautan, 3) Memberdayakan sumber daya keanekaragaman hayati terumbu karang, padang lamun dan mangrove di kawasan TNB untuk pengembangan ekowisata bahari melalui aplikasi digital, dan 4) Mengelola dan mengembangkan resort, tempat-tempat wisata kuliner pantai, titik-titik penyelaman, dan pelabuhan pariwisata.  Hasil kurva SWOT memperlihatkan kondisi ekowisata bahari Kota Manado berada dalam kuadran 2, yaitu situasi dimana ancaman terhadap pengembangan ekowisata bahari lebih dominan dibandingkan peluang, namun ada kekuatan organisasi kepariwisataan yang dapat diandalkan. Pemangku kepentingan diharapkan dapat meningkatkan kinerja agar kondisi kuadran 2 berubah menjadi kuadran 1, yaitu mendukung strategi agresif: situasi yang sangat baik karena adanya kekuatan yang dimanfaatkan untuk meraih peluang yang menguntungkan.  Dalam era revolusi industri 4.0, maka setiap pemangku kepentingan industri ekowisata bahari di Kota Manado sudah seharusnya merubah sistem pengelolaan yang ada ke arah berbasis digital dengan cara membuat aplikasi pengelolaan ekowisata bahari.Kata Kunci: Ekowisata bahari, revolusi industri 4.0, Kota Manado, Pulau Bunaken, strategi
IKAN YANG BERUAYA DI DAERAH MANGROVE PANTAI TASIK RIA Otinus Lokbere; Farnis B Boneka; Chatrien A Sinyal; Billy Th Wagey; Medy Ompi; Rose OSE Mantiri
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.3.2019.24515

Abstract

This study is intended to find out the fish that are cultured into the mangrove area of Tasik Ria beach, Mokupa, Minahasa Regency. Fish is obtained through gill jarring at high tide. The fish that were identified were Archamia fucata, Lutjanus fulvus, Lutjanus eherenbergii, Lethrinus ornatus, Scolopsis lineate, Sargocentron diadema, Epinephelus merra and Scorpaenopsis oxycephala. The fish are generally carnivorous, and are nocturnal.Key words: Tasik Ria Beach, the fishes, carnivorous, mangroves
IDENTIFIKASI DAN HABITAT GURITA (CEPHALOPODA) DARI PERAIRAN SALIBABU, KABUPATEN KEPULAUAN TALAUD Andika R Balansada; Medy Ompi; Frans Lumoindong
JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS Vol. 7 No. 3 (2019): JURNAL PESISIR DAN LAUT TROPIS
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jplt.7.3.2019.24742

Abstract

The octopus in Manado language is called Boboca, while the local Talaud community is called Urrita. Octopus is used as food and bait. Information on octopus biology needs to be known as basic information in the management of octopus resources. This study aims to identify and provide information on octopus habitat in the waters of Salibabu. Collecting specimens using arrows (jubi). The morphology of the example octopus is identified as Octopus cyanea Gray, 1849. In the arms of the octopus there are white-colored spots. On the left and right side of the crown of the arm are two false eyes (ocellus). On the face of the ventral arm is a dark pole pattern above the pale or creamy base color. Characteristics of female morphomes generally have a larger size compared to males. Specimen habitats are found outside the nest at night and in the nest during the day time.Keywoeds: Octopus, Biology, Identify, Morphology, Morphometric, Habitat
Co-Authors Adnan S. Wantasen Alex D Kambey Andika R Balansada Angkouw, Esther D. Anna Rejeki Simbolon Antonius P Rumengan Antonius Rumengan Ari B. Rondonuwu Azzahra Aulina Billy Th Wagey Billy Theodorus Wagey Boneka, Farnis B. Boneka Calvyn Calvyn Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Calvyn, Calvyn Carolus P Paruntu Carolus Paulus Paruntu Chatrien A Sinyal Cyska Lumenta Dairivaldo, Kettang Legrant Darus S. Paransa Darwasito, Suria daud, fitran Diah Anggraini Wulandari Djamaaludin, Rignolda Ekel, Jouvan Randy Erly Y. Kaligis Erly Y. Kaligis, Erly Y. Ernawati Widyastuti Esry T. Opa F. A. Sondak Farnis B Boneka Farnis B. Boneka Farnis B. Boneka Fernando Gultom, Fernando Fontje Georis Judri Kaligis Frans Lumoindong Fransine B. Manginsela Ginting, Elvy Like Grevo S Gerung Gulo, Puji Eli Arnita Handayani, Maymanah Indri Manembu Jane M. Mamuaja Janny D. Kusen Jety K Rangan Joice R.T.S.L Rimper Joppy Mudeng Joshian N.W. Schaduw Kaligis, Early Y. Kaligis, Erly Yosef Kaligis, Georis Kawung, Nickson Khristin I. F. Kondoy, Khristin I. F. Klaudio Mauli Kumampung, Deislie Roxmerie H. Kumentas, Veronicha Kurniati Kemer Lalita, Jans D. Lawrence J. L. Lumingas Lawrence J.L. Lumingas Lintang, Rosita A.J. Lumingas, Aaron R. T. Lumuindong, Frans Luturkey, Maureen Fenesya Mamangkey, Noldy G.F Mamangkey, Noldy Gustaf Frans Mamuaja, Jane M. Manaida, Frendi Manembu, Indri Shelovita Manembu Manengkey, Hermanto Wem Kling Mantiri, Desy M. H Menajang, Febry S. I. Natalie D Rumampuk Nego E Bataragoa Nickson J. Kawung, Nickson J. Nickson Kawung Ode Mantra, Syahrun Otinus Lokbere Palit, Deyti A. Pangkey, Henneke D. Pansing, Jenita Paransa, Darus Sa’adah Johanis Paringgi, Ezra Paulus, James Pelle, Wilmy E. Petrick Billy Podung, Thania Theresia Polan, Threis S. Pungus, Faldy Rampengan, Royke Rangan, Jety Rangan, Jety K. Rembet, Unstain Rene C. Kepel, Rene C. Rimper, Abraham M. Rimper, Joice R. T. S. L Rimper, Joice Rinefi T.S.L Rizald Max Rompas, Rizald Max Roeroe, Kakaskasen Andreas Rose OSE Mantiri Royke M. Rampengan Ruddy D Moningkey Rumampuk, Natalie Detty C Rumengan, Antonius Petrus Rustikasari, Irna Salaki, Meiske S. Sambali, Hariyani Saragih, Hans S. R. P. Sarif Hidayat Silvester B Pratasik Sondak, F. A. Stella T. Kaunang Stenly Wullur Sumilat, Deiske Adeleine Suria Darwisito Susan M. Sumampouw Suzanne L Undap Tambunan, Rose Agustin Veibe Warouw Verisandria, Rio Winda Mercedes Mingkid