Claim Missing Document
Check
Articles

Found 20 Documents
Search
Journal : JURNAL ILMIAH PLATAX

Implementation of Environmentally Friendly Monitoring Method: "Green Watch" and "Image Analysis" in Sustainable Resource Utilization in the Coast Community of the Gulf of Amurang, North Sulawesi Fontje Georis Judri Kaligis; Medy Ompi
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 4 No. 2 (2016): EDISI JULI-DESEMBER 2016
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.4.2.2016.14204

Abstract

Monitoring the condition of coral reefs using 'green watch' and 'image analysis' in the use of sustainable resource in the coastal communities of the Gulf of Amurang North Sulawesi has been conducted with the purpose of (1) to understand the condition of coral reefs in the waters of TEEP and Kapitu, (2) the coastal communities can utilize the method of 'green watch' and 'image analysis', and also can do the monitoring themselves both groups and individuals. Results of research by two methods illustrates that there are seven types of coral growth in the waters of Teep, and 8 types in the waters Kapitu village, where each type of coral growth showed different in percent cover. Overall reef condition for waters in the village of TEEP is very good with 79% of live coral, while the  Kapitu village is good with a percentage of live coral is 64%. With this condition is expected that the community can do the monitoring continuously, and also rehabilitate the damage corals. By doing so the resources will be always available for both village.   Keywords: Coral Reef, associate organisms, 'green watch', 'image analysis', live coral  and dead coral, percent cover, Abstrak Monitoring kondisi terumbu karang dengan menggunakan metode ‘green watch’ dan ‘ image analysis’ dalam pemanfaatan sumberdaya yang berkelanjutan di komunitas pesisir Teluk Amurang Sulawesi Utara telah dilakukan dengan tujuan (1) memahami kondisi terumbu karang di perairan Teep dan Kapitu, (2) masyarakat nelayan dapat memanfaatkan metode ‘green watch’ dan ‘image analysis’, sekaligus melakukan monitoring secara mandiri baik kelompok maupun individu.  Hasil penelitian dengan dua metode ini menggambarkan bahwa ada 7 tipe pertumbuhan karang di desa Teep, dan 8 tipe di perairan desa Kapitu, di mana masing masing tipe pertumbuhan karang hadir dengan presentase tutupan yang berbeda.  Kondisi karang secara keseluruhan untuk perairan di Desa Teep adalah yang sangat bagus dengan 79 % karang hidup, sedang untuk desa Kapitu adalah cukup bagus dengan presentase karang hidup adalah 64 %.  Dengan kondisi ini diharapkan masyarakat dapat mempertahankan, dengan cara melakukan kegiatan monitoring secara berkesinambungan, sekaligus merehabilitasi kondisi karang yang telah rusak. Dengan  mempertahankan kondisi yang baik ini maka servis dari ekosistem ini terhadap masyarakat di kedua Desa ini akan terus ada.   Kata kunci: Terumbu Karang, organisme asosiasi, ‘green watch’, ‘image analysis’, karang hidup, karang mati, persentase tutupan.
Shell Color Classification And Carotenoid Pigments On Littoraria pallescens (Philippi, 1846) From Mangrove Ecosystem Area On Mokupa Village, Tombariri Sub District and Basaan Village, Ratatotok Sub District) Susan M. Sumampouw; Desy M. H. Mantiri; Farnis B. Boneka; Medy Ompi; James J. H. Paulus; Adnan S. Wantasen
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20650

Abstract

The purpose of this study was to classify the color of the shell and to know the carotenoid pigment content in Littoraria pallescens based on color classification and population distribution in the mangrove ecosystem area of Mokupa Village, Tombariri Sub district and Basaan Village, Ratatotok Sub district. Sampling directly on mangrove trees as water begins to recede. Identification of L. pallescens species is done by looking at the shape of the shell, the color of the shell, the color of the operculum and the shape of the genital organ. Shell color classification by inserting into the Color Explorer application. Analysis of carotenoid pigments by extraction process with acetone and petroleum ether, further separation of pigment by thin layer chromatography. The results obtained show that L. pallescence dominates life on mangrove trees. Sex was inversely proportional to the two research sites, 53.8% of the male L. pallescens species and 46.2% female in Mokupa waters while from Basaan waters there were 47.1% males and 52.9% females. Color classification based on the percentage of occurrences of constant color that is black (18.5), black orange (16.3) brown black spots (16,3), gray (10.7), angry (6,3), yellow pale (17.8), brown yellow spots (14,1). The detected pigment based on the color classification of the shell is located on the identical and identifiable Rf for all colors is the β-carotene pigment.Keyword : Littoraria pallescence, Carotenoid pigments Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengklasifikasikan warna cangkang dan mengetahui kandungan pigmen karotenoid pada Littoraria pallescens berdasarkan klasifikasi warna dan sebaran populasinya di wilayah ekosistem mangrove Desa Mokupa kecamatan Tombariri dan Desa Basaan Kecamatan Ratatotok. Pengambilan sampel secara langsung pada pohon mangrove saat air mulai surut. Identifikasi spesies L. pallescens dilakukan dengan melihat bentuk cangkang, warna cangkang, warna operculum dan bentuk organ genital.  Pendataan untuk klasifikasi warna cangkang dengan memasukkan ke dalam aplikasi Color Explorer. Analisis pigmen karotenoid melalui proses ekstraksi dengan aseton dan petroleum eter, selanjutnya pemisahan awal pigmen dengan kromatografi lapis tipis. Hasil yang diperoleh menunjukan bahwa L. pallescence mendominasi hidup pada pohon mangrove. Jenis kelamin berbanding terbalik pada dua lokasi penelitian, spesies L. pallescens jantan 53.8% dan betina 46.2% di perairan Mokupa sedangkan dari perairan Basaan terdapat 47.1% jantan dan 52.9% betina. Klasifikasi warna berdasarkan persentase kemunculan warna yang konstan yaitu warna hitam (18,5), hitam oranye (16,3) coklat bercak hitam (16,3), abu-abu (10,7), Marah (6,3), kuning pucat (17,8), kuning bercak coklat (14,1). Pigmen yang terdeteksi berdasarkan klasifikasi warna pada cangkang adalah berada pada Rf yang sama dan yang dapat diidentifikasi untuk semua warna adalah pigmen ß-karoten.Kata kunci : Littoraria pallescence, Pigmen Karotenoid
Foraminifera On The Beach Of Malalayang Dua Petrick Billy; Jane M. Mamuaja; Royke M. Rampengan; Medy Ompi; Esry T. Opa; Joppy Mudeng
Jurnal Ilmiah PLATAX Vol. 6 No. 2 (2018): ISSUE JULY-DECEMBER 2018
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.6.2.2018.20660

Abstract

Beach as one on the landform that reflects the work of hydro-oceanographic factors, generally in the form of loose sedimentary material. Loose sediment is a collection of organic and inorganic particles that accumulate widely and are irregular in shape. One example of organism in marine waters that contributes to the availability of organic particles in the beach landform is foraminifera. Foraminifera is a single-celled organism that has the ability to form shells from substances of CaCO3 which originate from itself or from the surrounding environment. This study was aimed to classify physical sediments on the Malalayang Dua beach according to the points of sediment sampling, and see how the composition of foraminifera in the beach area and analyze the presence of foraminifera in relation to the granulometry of beach sediments. From the result of the study, it is found that the composition of grain size of sediment on the beach of Malalayang Dua is different, in stasion 1A, 1B, 2A, and 2B the sediment were mostly composed by fine grains while in station 3A and 3B were of coarse-grained sediment. A number of a species of foraminifera (dead test) was found in the study, and the number of tests was highes in fine sediments compared to coarse sediment.Keywords : Beach Landform, Malalayang Dua Coast, Foraminifera ABSTRAKGisik sebagai salah satu bentuklahan yang merefleksikan kerja faktor-faktor hidro-oseanografi, umumnya berwujud material sedimen lepas. Sedimen lepas adalah kumpulan partikel organik dan anorganik yang terakumulasi secara luas dan bentuknya tidak beraturan. Salah satu organisme di perairan laut yang berkontribusi terhadap ketersediaan partikel organik di gisik adalah foraminifera. Foraminifera merupakan organisme bersel tunggal yang mempunyai kemampuan membentuk cangkang dari zat-zat CaCO3yang berasal dari dirinya sendiri atau dari lingkungan sekitarnya. Penelitian ini bertujuan untuk mengelompokkan sedimen gisik di pantai Malalayang Dua menurut titik-titik pengambilan sampel sedimen, dan melihat bagaimana komposisi foraminifera di kawasan gisik serta menganalisis keberadaan foraminifera dalam kaitannya dengan granulometri sedimen gisik. Dari hasil penelitian komposisi ukuran butir sedimen pada lahan gisik di pantai Malalayang Dua berbeda menurut stasiun yang ditetapkan, di ruang pantai ke arah Timur yaitu stasiun 1A, 1B, 2A, 2B komposisi sedimennya berukuran halus, sedangkan di ruang pantai ke arah Barat yaitu stasiun 3A dan 3B komposisi sedimennya berukuran kasar, komposisi sedimen di setiap stasiun gisik litoral dan sublitoral menampilkan adanya perbedaan tingkat kekasaran partikel sedimen. Dari hasil penelitian ditemukan 9 cangkang foraminifera. Pada komposisi sedimen gisik yang berukuran halus ditemukan jumlah cangkang foraminifera yang lebih banyak dibandingkan dengan gisik yang komposisi sedimen berukuran kasar.Kata kunci : Lahan Gisik, Pantai Malalalayang Dua, Foraminifera
Diversity of Coral Genus Scleractinia in Tidung Island Waters, Seribu Islands, DKI Jakarta Province Ekel, Jouvan Randy; Manembu, Indri Shelovita; Manengkey, Hermanto Wem Kling; Roeroe, Kakaskasen Andreas; Ompi, Medy; Sambali, Hariyani
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.34917

Abstract

Coral reefs are one of the most productive and diverse ecosystems on earth and provide ecosystem services. One of the islands of the Seribu Islands that has a coral reef ecosystem is Tidung Island. It is strategic and developing location makes this island used as a residential area, conservation area, and tourist destination. But the utilization has an impact on the damage of coral reefs through environmental and anthropogenic pressures. This study aims to determine coral diversity by identifying the coral genus Scleractinia and the factors that affect coral diversity. Observations were done on three different stations include 2 snorkeling areas and 1 natural area. The method used is LIT (Line Intercept Transect) and coral genus identification with Coral Finder Toolkit Indo Pacific 3.0. The results of identification obtained 16 coral genera namely genus Acropora, Montipora, Isopora, Favites, Leptastrea, Favia, Goniastrea, Montastrea, Platygyra, Echinopora, Porites, Pocillopora, Stylophora, Ctenactis, Pavona, dan Symphyllia, with the value of Diversity Index (H') in the waters of Tidung Island ranges from 0.94 – 2.34  in the category of low to moderate diversity. The parameters of water quality in Tidung Island, temperature, salinity, and acidity (pH) are relatively good for coral growth, but brightness is still relatively poor for coral growth. The impact of human activities such as snorkeling, ship anchors, fishing with destroyers, oil and waste pollution, and rock mining are factors that affect coral growth and diversity.Keywords: Coral Scleractinia; Limiting Factors; Coral Finder; Tidung IslandAbstrakTerumbu karang adalah salah satu ekosistem yang paling produktif dan beragam di bumi serta menyediakan jasa ekosistem. Salah satu pulau dari gugusan Kepulauan Seribu yang memiliki ekosistem terumbu karang yaitu Pulau Tidung. Letaknya yang strategis dan berkembang menjadikan pulau ini dimanfaatkan sebagai kawasan permukiman, daerah konservasi, dan kawasan tujuan wisata. Namun dari pemanfaatan tersebut memberikan dampak terhadap kerusakan pada terumbu karang melalui tekanan-tekanan lingkungan maupun antropogenik. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui keanekaragaman karang dengan mengidentifikasi genus karang Scleractinia dan faktor yang mempengaruhi keanekaragaman karang. Pengamatan di tiga stasiun berbeda yaitu di antaranya 2 kawasan wisata snorkeling, dan 1 kawasan yang masih alami. Metode yang digunakan yaitu LIT (Line Intercept Transect) dan identifikasi genus karang dengan Coral Finder Toolkit Indo Pasific 3.0. Hasil identifikasi didapatkan 16 genus karang yaitu genus Acropora, Montipora, Isopora, Favites, Leptastrea, Favia, Goniastrea, Montastrea, Platygyra, Echinopora, Porites, Pocillopora, Stylophora, Ctenactis, Pavona, dan Symphyllia, dengan nilai Indeks Keanekaragaman (H’) di perairan Pulau Tidung berkisar 0,94 – 2,34 berada pada kategori keanekaragaman rendah hingga sedang. Parameter kualitas perairan di Pulau Tidung, suhu, salinitas, dan derajat keasaman (pH) tergolong baik bagi pertumbuhan karang, namun kecerahan masih tergolong kurang baik bagi pertumbuhan karang. Dampak aktivitas manusia seperti snorkeling, jangkar kapal, penangkapan ikan dengan alat perusak, pencemaran minyak dan sampah, serta penambangan batu karang menjadi faktor yang mempengaruhi pertumbuhan dan keanekaragaman karang.
Morphological identification of crabs in the rocky coast of Manado Bay Rustikasari, Irna; Paransa, Darus S. J.; Kaligis, Erly Y.; Ompi, Medy; Pelle, Wilmy E.; Pratasik, Silvester B.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.9.2.2021.35200

Abstract

Coastal areas have a wealth of biological natural resources including marine life such as crustaceans. One of the marine organisms in the crustacean group is the crab. The purpose of this study was to identify the types of crabs that live in rocky coastal habitats through a morphological approach. To determine the morphology of crabs can be done by looking at the shape, color, and size. The results of this study found 3 types of crabs in two locations in the Manado Bay area including the crab is Grapsus albolineatus, Ozius truncatus, and Uca (Galasimus) tetragonon. Based on the results of the research above, morphological forms were found on the abdomen in the form of a tapered triangle which indicated that the crab was male and the abdomen was triangular with the female sex. The most common crabs found at the study site were female crabs.Keywords: Coastal Area; Crab; Morphology AbstrakWilayah pesisir memiliki kekayaan sumber daya alam hayati diantaranya biota laut seperti krustasea. Salah satu organisme laut dalam golongan krustasea adalah kepiting. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengidentifikasi jenis kepiting yang hidup di habitat pantai pesisir berbatu melalui pendekatan morfologi. Untuk mengetahui morfologi pada kepiting dapat dilakukan dengan melihat bentuk, warna serta ukuran. Hasil penelitian ini menemukan 3 jenis spesies kepiting pada dua lokasi yang berada di daerah Teluk Manado diantaranya kepiting Grapsus albolineatus Ozius truncatus dan Uca (Galasimus) tetragonon. Berdasarkan hasil penelitian diatas maka ditemukan bentuk morfologis pada bagian abdomen berbentuk segitiga meruncing yang menunjukkan bahwa kepiting tersebut berkelamin jantan dan abdomen berbentuk segitiga melebar merupakan kepiting dengan jenis kelamin betina. Kepiting yang paling banyak ditemukan pada lokasi penelitian adalah kepiting betina.  Kata Kunci: Wilayah Pesisir; Kepiting; Morfologi 
Community Structure of Gastropod in Bahowo Mangrove Ecotourism Area Handayani, Maymanah; Rangan, Jety K.; Lumingas, Lawrence J. L.; Manginsela, Fransine B.; Kepel, Rene C.; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v9i2.35634

Abstract

This article describes the structure of the gastropod community in the Bahowo Mangrove Ecotourism Area, Manado. From 30 sample units (squared) analyzed, obtained 185 individual gastropods belonging to 27 species with an average density of 6.17 individuals/m2. The Shannon index value (H') is quite high at 3.038, the evenness index (E) is also high at 0.922, and the dominance index (D) is low at 0.078. This variation in gastropod community structure occurs between transects. In Transect 1 there are 15 species with an average density of 7.6 individuals/m2. The most dominant species in this transect was Tectus fenestratus with a density of 1.6 individuals/m2 and a relative abundance of 21.05%. In Transect 2 there are 7 species with an average density of 2.6 individuals/m2. The most dominant species in this transect was Angaria delphinus with a density of 0.6 individuals/m2 and a relative abundance of 23.08%. On Transect 3 there are 9 species with an average density of 8.3 individuals/m2. The most dominant species in this transect was Terebralia sulcata with a density of 2.7 individuals/m2 and a relative abundance of 32.53%. Compared to the other two transects, Transect 2 had lower individual abundance and density, but also the poorest species richness. In terms of biodiversity, Transect 1 is the highest. With a composition of 15 species, Transect 1 has a higher H' index value than in Transect 2 and Transect 3. Between Transect 2 and Transect 3 there is no significant difference in the Shannon index value. The three transects showed a low dominance index value and a relatively high evenness index value.Keywords: Gastropod; Community; Mangrove; Bahowo AbstrakArtikel ini menggambarkan struktur komunitas Gastropoda di Kawasan Ekowisata Mangrove Bahowo, Manado. Dari 30 unit sampel (kuadrat) yang dianalisis, diperoleh 185 individu gastropoda yang termasuk dalam 27 spesies dengan rata-rata kepadatan 6,17 individu/m2. Diperoleh nilai indeks Shannon (H’) cukup tinggi yakni 3,038, indeks kemerataan (E) juga tinggi yakni 0,922, dan indeks dominansi (D) yang rendah yakni 0,078. Variasi stuktur komunitas Gastropoda ini terjadi antar transek. Pada Transek 1 terdapat 15 spesies dengan kepadatan rata-rata 7,6 individu/m2. Spesies paling dominan di transek ini  adalah Tectus fenestratus dengan kepadatan 1,6 individu/m2 dan kelimpahan relatif 21,05%. Pada Transek 2 terdapat 7 spesies dengan kepadatan rata-rata 2,6 individu/m2. Spesies paling dominan di transek ini adalah Angaria delphinus dengan kepadatan 0,6 individu/m2 dan kelimpahan relatif 23,08%. Pada Transek 3 terdapat 9 spesies dengan kepadatan rata-rata 8,3 individu/m2. Spesies paling dominan di transek ini  adalah Terebralia sulcata dengan kepadatan 2,7 individu/m2 dan kelimpahan relatif 32,53% Dibandingkan dengan dua transek lainnya, Transek 2 memiliki kelimpahan dan kepadatan individu lebih rendah, tapi juga paling miskin kekayaan spesies. Dari segi keanekaagaman hayati, Transek 1 adalah yang tertinggi. dengan komposisi 15 spesies, Transek 1 memiliki nilai indeks H’ lebih tinggi dibandingkan dengan di Transek 2 dan di Transek 3. Antara Transek 2 dan Transek 3 tidak menunjukkan perbedaan yang nyata nilai indeks Shannonnya. Pada ketiga transek menunjukkan nilai indeks dominansi yang rendah dan nilai indeks kemerataan yang relatif tinggi.Kata Kunci: Komunitas; Gastropoda; Mangrove; Bahowo
Rekruitment Tropical Box Mussels, Septifer Bilocularis In Tiwoho Coastal Area Palit, Deyti A.; Boneka, Farnis B.; Kaligis, Early Y.; Rimper, Joice R. T. S. L; Lumenta, Cyska; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 9 No. 2 (2021): ISSUE JULY-DECEMBER 2021
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v9i2.35726

Abstract

The purpose of this study was to determine 1) the types of substrates on which Septiver attached, and 2) the number of tropical boxes mussel recruits at different size aggregation. The meter was placed on one side of the mussel aggregation, and it was pulled up to the other side through the middle of the mussel aggregation.  There were two different sizes of aggregation, namely small aggregation with a diameter of 5-25 cm, and large aggregation with a diameter > 1 meter. Aggregation samples were carried out by placing a core with a diameter of 10 cm in the center of the small mussel aggregation, then at the edge and the middle position of the large aggregation. All aggregation in the core was removed and inserted into the labeled sample plastic. The sampling was applied 4 times on different mussel aggregations, as replication. The results show that young mussels (recruiters) are attached to algae stems, mussel byssus, and dead hard coral. The number of mussel recruits was square-root transformed to obtain homogeneity data, before being tested using One-Way Analysis of Variance.  The results showed that the recruitment of Septifer was influenced by the size of the aggregation (P<0.05, 1-way ANOVA). The average recruitment of Septiver in the middle position has a higher number of recruits than to the edge position (SNK test, P < 0.05), as well as the average recruitment in the middle position was higher than to the small aggregations (SNK-Test, P < 0.05). However, no recruits differ among edge position of large aggregation and small aggregation occurs (SNK test, P > 0.05).  Discussion of different factors affecting attachment occurs.Keywords: box mussel; Septifer; recruit; aggregation; larva; TiwohoAbstrakTujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui 1) jenis-jenis substrat yang menjadi tempat menempel kerang mudah Septiver, dan 2) jumlah rekruit kerang kotak tropis pada ukuran aggregasi kerang yang berbeda. Pengukuran ukuran aggregasi kerang dilakukan dengan meletakkan meteran pada salah satu sisi aggregasi kerang, selanjutnya meteran ditarik sampai ke sisi yang lain melewati bagian tengah aggregasi kerang.  Ada 2 jenis ukuran aggregasi, yaitu aggregasi kecil dengan ukuran diameter aggregasi 5 – 25 cm, dan aggregasi besar, yaitu dengan ukuran diameter aggregasi kerang > 1 meter.   Pengukuran diameter aggregasi dilakukan  4 kali, masing-masing dengan aggregasi berbeda, sebagai ulangan.  Sampel aggregasi kerang dilakukan dengan meletakkan kor (‘cor’) dengan diameter 10 cm di bagian tengah pada aggregasi kerang kecil, posisi pinggir dan tengah aggregasi besar.  Sampel diambil juga sebanyak 4 kali (ulangan) pada masing aggregasi yang berbeda, sebagai ulangan. Kerang disortir dengan bantuan mikroskop, di mana kerang dengan ukuran < 3 mm adalah yang disebut sebagai rekruitmen, dipisahkan dari substrat yang menjadi tempat menempel, selanjutnya kerang diukur panjangnya dengan menggunakan mistar, dengan ketelitian 1 mm. Hasil penelitian teridentifikasi bahwa kerang muda menempel pada  substrat alga, rambut (byssus), dan substrat keras karang mati. Data jumlah rerkuit telah ditransform dengan menggunakan akar, sebelum diuji dengan Analisa Varians 1 Arah (One-Way ANOVA).  Hasil menunjukkan bahwa rekruit kerang Septifer adalah dipengaruhi oleh ukuran aggregasi (P<0.05, 1 Arah ANOVA).  Rata-rata rekruit kerang yang berada di posisi tengah memiliki jumlah rekruit yang lebih besar dibandingkan dengan rata-rata rekruit yang menempel pada posisi pinggir (Uji SNK, P < 0.05). Sama halnya dengan rata rekruit yang ada di posisi tengah aggregasi besar adalah lebih besar dibandingkan dengan jumlah rekruit dari aggregasi kecil (Uji-SNK, P < 0.05).  Hal yang berbeda, di mana tidak ada perbedaan rata-rata rekruit yang ada di posisi pinggir aggregasi besar dibandingkan dengan yang ada di aggregasi kecil (uji SNK, P>0.05). Faktor yang mempengaruhi penempelan dan rekruit dari agrregasi dengan ukuran berbeda didiskusikan.Kata kunci: Kerang Kotak; Septifer; recruit; aggregate; larva; Tiwoho
Coral Reef Conditions in Bahowo Waters Tongkaina, Sub District Bunaken, Manado North Sulawesi Podung, Thania Theresia; Roeroe, Kakaskasen A.; Paruntu, Carolus P.; Ompi, Medy; Schaduw, Joshian N. W.; Rondonuwu, Ari B.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.37239

Abstract

Coral reefs are coastal ecosystems with the highest level of diversity with about one million species worldwide and are habitats for assemblages of millions of polyps that produce limestone to form their skeletons and develop into vast expanses of colonies. Corals are invertebrates belonging to the phylum Coelenterata (hollow animals) or Cnidaria. In order to preserve the coral reef ecosystem in the future in the Bahowo area, quantitative data is needed that can explain/describe the condition of coral reefs. The purpose of this study was to determine the condition of coral reefs, in this case, data on coral cover and associated biota in Bahowo waters. The data collection of this research used the UPT (Underwater Photo Transect) method. Analysis of the data in the form of research images using the CPCe (Coral Point Count with Excel extensions) application. The results of the analysis of the condition of coral reefs in Bahowo waters are in the damaged/bad category with live coral cover percentage data of 16.33%.Keywords: Live coral cover; Underwater photo transect (UPT); Coral reef condition; Bahowo watersAbstrakTerumbu karang merupakan ekosistem pesisir dengan tingkat keanekaragaman tertinggi dengan jumlah sekitar satu juta spesies di seluruh dunia dan merupakan habitat bagi kumpulan dari berjuta-juta hewan polip yang menghasilkan zat kapur membentuk skeletonnya dan berkembang menjadi hamparan koloni yang luas.  Karang adalah hewan tak bertulang belakang yang termasuk dalam filum Coelenterata (hewan berongga) atau Cnidaria.  Dalam rangka pelestarian ekosistem terumbu karang ke depan di daerah Bahowo, maka dibutuhkan data kuantitatif yang dapat menjelaskan/menggambarkan tentang kondisi terumbu karang.  Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui kondisi terumbu karang, dalam hal ini data tutupan karang dan biota asosiasi di perairan Bahowo.  Pengambilan data penelitian ini menggunakan metode UPT (Underwater Photo Transect).  Analisis data berupa gambar penelitian menggunakan aplikasi CPCe (Coral Point Count with Excel extensions).  Hasil analisa kondisi terumbu karang di perairan Bahowo masuk dalam kategori rusak/buruk dengan data presentase tutupan karang hidup sebesar 16,33%.Kata kunci: Tutupan karang hidup; Underwater photo transect (UPT); Kondisi terumbu karang; Perairan Bahowo
Gastropod Community Structure in Ecosystem Lamun Village Lihunu North Minahasa Regency North Sulawesi Province Manaida, Frendi; Lalita, Jans D.; Salaki, Meiske S.; Lumingas, Lawrence J. L.; Menajang, Febry S. I.; Ompi, Medy
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.38741

Abstract

The research was conducted in the seagrass ecosystem of Lihunu Village, East Likupang Subdistrict, North Minahasa Regency, and North Sulawesi Province.  The area is one of the coastal areas in North Sulawesi that lack information about gastropod resources. Therefore, the main reason for conducting research is to find out the presence of gastropods in the area.  The purpose of the study was to know the types of gastropods and to know the structure of communities through species density, relative density, diversity, and dominance. Sampling is done using the quadratic transect technique measuring 50 x 50 cm.  Quadrate used 50 cm x 50 cm, then converted to square meters to 0,25 m2. The density of the species is 4,80 Ind/m2.  The relative density value of the species with the highest percentage is in Euplica scripta Species with a value of 14,44% and the species with the lowest percentage value, namely Cymbiola vespertilio Species with a value of 0,56%.  Diversity index values in 3 transects fall under the high criteria. Transect 1 is H'= 5.30, transect 2 is H'= 4,18 and transect 3 is H' = 3,95. And the highest dominance value in Euplica scripta Species with a value of C = 0,48.  The water area of Lihunu Village of North Minahasa Regency has an average temperature of 30 ° C.  Salinity is obtained with an average of 30‰. The degree of acidity (pH) obtained is 8.Keywords: Gastropod; Community Structure; Lihunu.AbstrakPenelitian dilakukan di ekosistem lamun perairan Desa Lihunu, Kecamatan Likupang Timur, Kabupaten Minahasa Utara, Provinsi Sulawesi Utara. Daerah tersebut menjadi salah satu daerah pesisir di Sulawesi Utara yang kekurangan informasi mengenai sumberdaya gastropoda. Oleh karena itu, yang menjadi alasan utama melakukan penelitian adalah untuk mengetahui keberadaan gastropoda di daerah tersebut. Tujuan dari penelitian ini yaitu mengetahui jenis-jenis gastropoda serta mengetahui struktur komunitas melalui: Kepadatan spesies, kepadatan relatif, keanekaragaman, dan dominansi. Pengambilan sampel dilakukan dengan menggunakan teknik transek kuadrat berukuran 50 x 50 cm. Kuadrat yang dipakai 50 cm x 50 cm, kemudian dikonversikan ke meter persegi menjadi 0,25 m2. Nilai kepadatan spesies yaitu 4.80 Ind/m2. Nilai kepadatan relatif jenis dengan persentase tertinggi terdapat pada Spesies Euplica scripta dengan nilai 14.44% dan spesies dengan nilai persentase terendah yaitu Spesies Cymbiola vespertilio dengan nilai sebesar 0,56%. Nilai indeks keanekaragaman di 3 transek masuk dalam kriteria tinggi. Transek 1 yaitu H’= 5,30 ,pada transek 2 yaitu H’= 4,18 dan transek 3 yaitu H’ = 3,95. Dan nilai dominansi tertinggi pada Spesies Euplica scripta dengan nilai C = 0.48. Daerah perairan Desa Lihunu Kabupaten Minahasa Utara memiliki rata-rata suhu 30°C. Salintas yang diperoleh dengan rata-rata 30‰. Derajat keasaman (pH) yang diperoleh yaitu 8.Kata kunci :Gastropoda; Struktur Komunitas; Lihunu.
Polychaeta Communities in Subtidal Zone Soft Substrate of Manado Bay, North Sulawesi Lumingas, Aaron R. T.; Boneka, Farnis B.; Ompi, Medy; Mamangkey, Noldy G. F.; Manembu, Indri S.; Undap, Suzanne L.; Lumingas, Lawrence J. L.
Jurnal Ilmiah Platax Vol. 10 No. 1 (2022): ISSUE JANUARY-JUNE 2022
Publisher : Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35800/jip.v10i1.39518

Abstract

This study aims to analyze the structure of the Polychaeta community on the soft substrate of the subtidal zone in Manado Bay. Samples were taken by grab at 3 stations namely ST1 located at a depth of 8 m with black mud substrate; ST2 is located at a depth of 26 m with blackish sand substrate, and ST3 are located at a depth of 18 m with blackish sand as a substrate. From the three sampling stations, 27 species of 253 Polychaeta individuals were identified. Station 1, which is located near the mouth of the Bailang River, has high individual abundance but low species diversity. Station 2, which is located near the Megamas area, has moderate individual abundance but high species richness. Station 3, which is located around the Faculty of Medicine, Unsrat Malalayang, has low individual abundance but high species richness. Substrate types and anthropogenic disturbances such as enrichment of organic matter are thought to be determinants of individual abundance, composition, and species richness of Polychaeta in Manado Bay.Keywords: Polychaeta; biodiversity; soft substrate; Manado BayAbstrak Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis struktur komunitas Polychaeta pada substrat lunak zona subtidal di Teluk Manado. Sampel diambil dengan grab pada 3 stasiun yakni ST1 terletak pada kedalaman 8 m dengan substrat lumpur berwarna hitam; ST2 terletak pada kedalaman 26 m dengan substrat pasir berwarna kehitaman; dan ST3 terletak pada kedalaman 18 m dengan substrat pasir berwarna kehitaman. Dari tiga stasiun sampling tersebut berhasil diidentifikasi 27 spesies dari 253 individu Polychaeta. Stasiun 1 yang terletak dekat muara Sungai Bailang memiliki kelimpahan individu tinggi tetapi keanekaragaman spesies rendah. Stasiun 2 yang terletak dekat kawasan Megamas memiliki kelimpahan individu sedang tetapi kekayaan spesies tinggi. Stasiun 3 yang terletak di sekitar pemukiman belakang Fakultas Kedokteran Unsrat Malalayang memiliki kelimpahan individu rendah tetapi kekayaan spesies tinggi. Jenis substrat dan gangguan antropogenik seperti pengayaan bahan organik diduga merupakan faktor penentu kelimpahan individu, komposisi dan kekayaan spesies Polychaeta di Teluk Manado. Kata Kunci: Polychaeta; keanekaragaman hayati; substrat lunak; Teluk Manado
Co-Authors Adnan S. Wantasen Alex D Kambey Andika R Balansada Angkouw, Esther D. Anna Rejeki Simbolon Antonius P Rumengan Antonius Rumengan Ari B. Rondonuwu Azzahra Aulina Billy Th Wagey Billy Theodorus Wagey Boneka, Farnis B. Boneka Calvyn Calvyn Calvyn F. A. Sondak, Calvyn F. A. Calvyn, Calvyn Carolus P Paruntu Carolus Paulus Paruntu Chatrien A Sinyal Cyska Lumenta Dairivaldo, Kettang Legrant Darus S. Paransa Darwasito, Suria daud, fitran Diah Anggraini Wulandari Djamaaludin, Rignolda Ekel, Jouvan Randy Erly Y. Kaligis Erly Y. Kaligis, Erly Y. Ernawati Widyastuti Esry T. Opa F. A. Sondak Farnis B Boneka Farnis B. Boneka Farnis B. Boneka Fernando Gultom, Fernando Fontje Georis Judri Kaligis Frans Lumoindong Fransine B. Manginsela Ginting, Elvy Like Grevo S Gerung Gulo, Puji Eli Arnita Handayani, Maymanah Indri Manembu Jane M. Mamuaja Janny D. Kusen Jety K Rangan Joice R.T.S.L Rimper Joppy Mudeng Joshian N.W. Schaduw Kaligis, Early Y. Kaligis, Erly Yosef Kaligis, Georis Kaunang, Stella T. Kawung, Nickson Khristin I. F. Kondoy, Khristin I. F. Klaudio Mauli Kumampung, Deislie Roxmerie H. Kumentas, Veronicha Kurniati Kemer Lalita, Jans D. Lawrence J. L. Lumingas Lawrence J.L. Lumingas Lintang, Rosita A.J. Lumingas, Aaron R. T. Lumuindong, Frans Luturkey, Maureen Fenesya Mamangkey, Noldy G.F Mamangkey, Noldy Gustaf Frans Mamuaja, Jane M. Manaida, Frendi Manembu, Indri Shelovita Manembu Manengkey, Hermanto Wem Kling Mantiri, Desy M. H Menajang, Febry S. I. Natalie D Rumampuk Nego E Bataragoa Nickson J. Kawung, Nickson J. Nickson Kawung Ode Mantra, Syahrun Otinus Lokbere Palit, Deyti A. Pangkey, Henneke D. Pansing, Jenita Paransa, Darus Sa’adah Johanis Paringgi, Ezra Paulus, James Pelle, Wilmy E. Petrick Billy Podung, Thania Theresia Polan, Threis S. Pungus, Faldy Rampengan, Royke Rangan, Jety Rangan, Jety K. Rembet, Unstain Rene C. Kepel, Rene C. Rimper, Abraham M. Rimper, Joice R. T. S. L Rimper, Joice Rinefi T.S.L Rizald Max Rompas, Rizald Max Roeroe, Kakaskasen Andreas Rose OSE Mantiri Royke M. Rampengan Ruddy D Moningkey Rumampuk, Natalie Detty C Rumengan, Antonius Petrus Rustikasari, Irna Salaki, Meiske S. Sambali, Hariyani Saragih, Hans S. R. P. Sarif Hidayat Silvester B Pratasik Sondak, F. A. Stella T. Kaunang Stenly Wullur Sumilat, Deiske Adeleine Suria Darwisito Susan M. Sumampouw Suzanne L Undap Tambunan, Rose Agustin Veibe Warouw Verisandria, Rio Winda Mercedes Mingkid