Claim Missing Document
Check
Articles

Found 238 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

STRATEGI KOMUNIKASI MUSEUM RANGGAWARSITA Prabowo Nurwidagdyo; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (172.686 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini diawali dengan kesuksesan museum Ranggawarsita dalam meningkatkan jumlah pengunjung. Pada tahun 2012 pengunjung museum Ranggawarsita sebanyak 43.180 orang dan pada tahun 2013 meningkat menjadi 65.957 orang. Ditengah meredupnya daya apresiasi masyarakat tentang museum, ternyata museum ranggawarsita justru mampu meningkatkan jumlah pengunjungnya. Fenomena tersebut menjadi daya tarik bagi peneliti untuk mengkaji bagaimana strategi komunikasi yang telah dilakukan oleh museum Ranggawarsita.Tujuan penelitian adalah mengkaji bagaimana strategi komunikasi dalam meningkatkan jumlah pengunjung di museum Ranggawarsita. Tipe penelitian merupakan penelitian deskriptif kulitatif dengan menggunakan metode studi kasus. Subjek penelitian adalah kepala museum, kepala seksi pelayanan, staf pelayanan, penanggung jawab kegiatan duta museum dan ketua komunitas Lopen.Hasil dari penelitian ini menyatakan bahwa museum Ranggawarsita telah menggunakan 6 tahapan perencanaan strategi komunikasi sebagai upaya meningkatkan jumlah pengunjungnya, yaitu analisis situasi, penentuan tujuan, menentukan target sasaran, pesan, program komunikasi dan evaluasi. Museum Ranggawarsita telah berhasil mengubah paradigma lama yang berbasis koleksi ke paradigm baru yang berbasis konsumen. Konsep marketing yang telah diterapkan adalah internal marketing, integrated marketing dan relationship marketing. Strategi komunikasi yang dilaksanakan oleh museum Ranggawarsita meliputi penyelengaraan event, pembuatan iklan, penggunaan media internet dan program pemberian diskon.Kata kunci: strategi komunikasi, museum, marketing
PENGARUH INTENSITAS MENONTON SINETRON REMAJA DAN MEDIASI ORANG TUA TERHADAP PERILAKU KEKERASAN Shahnaz Natasha Anya; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (350.125 KB)

Abstract

Maraknya sinteron remaja tidak hanya memberikan dampak positif saja, namun dapat membawa dampak negatif pula. Di dalam sinetron remaja banyak mengandung adegan kekerasan baik verbal maupun fisik di setiap episodenya. Hal ini tentu menghkhawatirkan karena penonton utamanya adalah para remaja. Remaja sangat mudah terpengaruh dan mencontoh apa yang mereka lihat. Disinilah peran mediasi orang tua dibutuhkan untuk menimimalisir dampak negatif dari sinetron remaja. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh intensitas menonton sinetron remaja dan mediasi orang tua terhadap anak ketika menonton sinetron remaja terhadap perilaku kekerasan. Dasar pemikiran yang digunakan adalah social learning theory dan parental mediation theory. Penelitian kuantitaif ini menggunakan teknik simple random sampling dengan jumlah sample 73 siswa dan siswi dengan usia 13-14 tahun di SMP Islam Hidayatullah Kota Semarang. Analisis data yang digunakan adalah regresi linier sederhana dan regresi linier berganda dengan bantuan spss 20. Uji hipotesis pertama menunjukkan bahwa intensitas menonton sinetron remaja berpengaruh positif dan sangat signifikan (sig. =0,000) terhadap perilaku kekerasan dengan persamaan regresi linier sederhana Y= Y=2,679 + 0,451 . Hasil uji hipotesis kedua menunjukkann bahwa bahwa variable intensitas menonton sinetron remaja jika dihitung bersama-sama menggunakan teknik analisis regresi berganda berpengaruh terhadap perilaku kekerasan remaja dengan nilai signifikansi untuk intensitas menonton sinetron remaja sebesar (sig.=0,000). Sedangkan variabel mediasi orang tua tidak berpengaruh terhadap perilaku kekerasan dengan nilai signifikansi untuk mediasi (sig.=0,628). Kesimpulan dari uji hipotesis adalah intensitas menonton sinetron remaja berpengaruh positif terhadap perilaku kekerasan. Semakin rendah intensitas menonton sinetron remaja maka semakin rendah perilaku kekersaan. Sedangkan intensitas menonton sinetron remaja dan mediasi orang tua tidak berpengaruh terhadap perilaku kekerasan. Saran yang diberikan penelitian ini adalah untuk penelitian selanjutnya disarankan untuk menggunakan variable lain seperti faktor internal dari pribadi remaja dan faktor eksternal seperti interaski peer group, lingkungan sekolah, dan lingkungan masyarakat. Orang tua di sarankan menerapkan diet televisi bagi anak dan waspada terhadap tontonan anak.
Strategi Komunikasi Komunitas IndoRunners Destima Nursylva Anggraningrum; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (249.22 KB)

Abstract

Tidak mudah mengubah perilaku dan kebiasaan masyarakat untuk memulai hidup sehat dengan berolahraga lari. Oleh karena itu komunikasi kampanye dilakukan oleh IndoRunners untuk mencapai tujuannya, yaitu menyebarkan virus lari kepada masyarakat Indonesia. Banyak cara yang dilakukan oleh komunitas IndoRunners dalam menyebarkan virus lari tersebut. Dalam kenyataannya, IndoRunners telah tersebar diberbagai kota Indonesia bahkan luar Indonesia, dengan peningkatan yang cukup tajam pada member IndoRunners ditahun 2013-2014. Lalu bagaimanakah strategi komunikasi dijalankan IndoRunners, yang merupakan paduan dari proses perancanaan komunikasi dan manajemen komunikasi. Tujuan dilakukan penelitian ini adalah untuk melakukan kajian, menguraikan dan menjelaskan strategi komunikasi kampanye IndoRunners dalam menyebarkan virus lari.Penelitian ini menggunakan pendekatan metodologi kualitatif dengan tipe penelitian deskriptif, mendeskripsikan strategi komunikasi kampanye IndoRunners dalam menyebarkan virus lari tanpa mengoperasionalisasi atau menguji konsep strategi komunikasi kampanye pada realitas yang diteliti. Subjek penelitian ini adalah komunitas IndoRunners sebagai pelaksanaannya. Penelitian ini menggunakan pendeketan studi kasus. Dengan analisa data yang digunakan adalah analisa data penjodohan pola, yaitu membandingkan suatu pola yang didasarkan atas empiri dengan pola yang diprediksikan atau dengan beberapa prediksi alternative. Peneliti memfokuskan penjodohan pola pada strategi komunikasi yang digunakan oleh IndoRunners sesuai dengan konseptual teori.Hasil penelitian menunjukkan bahwa komunitas IndoRunners tidak menggunakan strategi sebagai pembimbing dalam taktiknya. Namun lanngsung mengaplikasikannya dalam sebuah taktik sehingga membuat nya tidak sistematis dan ringan karena tidak digunakan strategi sebagai pembimbing lahirnya ide-ide cerdas. Dan pada perencanaan komunikasi indorunners hanya melakukan proses analisis, perumusan tujuan, perumusan pesan, segmentasi sasaran, taktik, sumber daya dan evaluasi. Sedangkan pada proses manajemen komunikasi Indorunners melakukan tahapan perencanaan tanpa uji coba dilapangan, yang selanjutnya di organizing dan melaksanakan pelaksanaan tekhnis dilapangan, dan pada tahap evaluasi manajemen komunikasi IndoRunners tidak dapat mengukur apakah kegiatan komunikasi IndoRunners tepat sasaran atau tidak.
Pengaruh Terpaan Peringatan Pesan pada Iklan Rokok terhadap Sikap untuk Berhenti Merokok pada Remaja Zainul Asngadah Fatmawati; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Nuriyatul Lailiyah
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (197.719 KB)

Abstract

Peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan terbukti memiliki pengaruh yang positif dalam menurunkan angka prevalensi merokok. Peringatan kesehatan berbentuk gambar ternyata diperhatikan daripada peringatan kesehatan yang hanya berbentuk tulisan atau teks saja. Studi di berbagai negara membuktikan bahwa peringatan kesehatan berbentuk gambar adalah efektif untuk meningkatkan kesadaran perokok dan bukan perokok akan bahaya merokok bagi kesehatan. Hal tersebut sekaligus memberikan pendidikan yang efektif mengenai dampak buruk yang diakibatkan karena merokok, serta meningkatkan niat untuk berhenti merokok. Berdasarkan PP No 28 tahun 2013, mulai awal Januari 2014 peraturan mengenai peringatan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan telah diberlakukan pada media iklan, dan mulai tanggal 24 Juni 2014 peringatan berbentuk gambar tersebut mulai diberlakukan pada seluruh bungkus rokok. Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terpaan peringatan pesan kesehatan yang tercantum pada iklan rokok terhadap sikap untuk berhenti merokok pada kalangan remaja. Teori yang digunakan dalam penelitian ini adalah Protection Motivation Theory (PMT) dari Rogers dan Cognitive Response dari Greenwald. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian ini adalah eksperimen dengan desain static groupcomparison. Sedangkan teknik pengambilan sampelnya adalah non random samplingdengan total sampel 65 responden yang terdiri dari 30 responden sebagai kelompok treatment dan 35 responden sebagai kelompok kontrol. Alat yang digunakan untuk analisis data adalah uji statistik Mann Whitney U Test.Hasil penelitian pada pengujian hipotesis menunjukkan adanya pengaruh antara terpaan peringatan pesan pada iklan rokok terhadap sikap untuk berhenti merokok pada remaja. Hal ini ditunjukkan pada angka signifikansi hasil pengujian hipotesis sebesar 0,000. Selanjutnya hasil uji Mann Whitney U Test menunjukkan adanya perbedaan sikap berhenti merokok pada kelompok treatment dan kelompok kontrol. Nilai rata-rata (mean) sikap berhenti merokok pada kelompok treatment lebihtinggi dibandingkan nilai rata-rata (mean) pada kelompok kontrol. Hal tersebut menunjukkan bahwa terpaan peringatan pesan kesehatan berbentuk gambar dan tulisan yang ada pada iklan rokok berpengaruh terhadap sikap untuk berhenti merokok pada remaja. Oleh karena itu pemerintah, produsen rokok, dan masyarakat hendaknya ikut berperan aktif mensosialisasikan peringatan pesan berbentuk gambar dan tulisan agar seluruh masyarakat mengetahui informasi bahaya merokok, sehingga dapat memberikan pengetahuan yang pada akhirnya mendorong masyarakat untuk berpikir dan termotivasi untuk berhenti merokok. Kata Kunci: Terpaan Peringatan Pesan pada Iklan Rokok, Peringatan Kesehatan Berbentuk Gambar dan Tulisan, Sikap untuk Berhenti Merokok pada Remaja.
Hubungan Antara Kualitas Komunikasi Dokter-Pasien dan Tingkat Pendidikan Pasien dengan Loyalitas Pasien. Septiana Wulandari Suparyo; Joyo NS Gono; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (142.694 KB)

Abstract

Masih banyaknya pasien yang mengeluhkan buruknya komunikasi dari dokter kepada pasien menjadi latar belakang dalam penelitian ini. Komunikasi yang buruk itu seperti dokter yang bersikap tidak ramah, atau komunikasi dimana terdapat kesenjangan kedudukan antara dokter dan pasien. Komunikasi dokter-pasien yang buruk tersebut mengakibatkan pasien berpindah dokter atau pasien tidak loyal. Tingkat pendidikan juga menjadi variabel penting dalam hubungan ini karena tingkat pendidikan ikut memengaruhi sikap pasien.Tujuan dari penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara kualitas komunikasi dokter-pasien dengan loyalitas pasien dan hubungan antara tingkat pendidikan pasien dengan loyalitas pasien. Tipe penelitian ini adalah eksplanatori dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah accidental sampling dengan responden berjumlah 40 orang. Penelitian ini menggunakan metode statistik korelasi Kendall’s tau-b sebagai alat uji hipotesis.Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif tetapi lemah antara kualitas komunikasi dokter-pasien dengan loyalitas pasien dan tidak terdapat hubungan antara tingkat pendidikan pasien dengan loyalitas pasien. Pada setiap tingkat pendidikan pasien, loyalitas pasien adalah tinggi. Kualitas komunikasi dokter pasien dan loyalitas pasien dalam penelitian ini masuk ke dalam kategori sangat tinggi.Disarankan kepada dokter pada praktik dokter umum untu meningkatkan lagi komunikasi antara dokter dengan pasien terutama pada saat melibatkan pasien ketika mengambil keputusan mengenai pengobatan yang diberikan atau dijalankan.
Program Acara Feature “Perempuan Bercerita” di iNews Semarang Sebagai Produser Pada Episode 2, 5, dan 10, Program Director, Reporter, Penulis Naskah, Juru Kamera, dan Editor Santa Cicilia Sinabariba; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 6, No 3: Juli 2018
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (504.274 KB)

Abstract

Television nowaday has a high penetration compared with other mass media consumed by the community, including local television iNews Semarang. As one of the local television, iNews present as news television by displaying information about Central Java with broadcasting hour for two hours at 09.00-11.00 WIB every day. This is a challenge for journalistic people to produce quality programs to audiences, in addition to the news program that became the main item iNews Semarang. For that, an innovative and new program for viewer features by presenting the program. Perempuan Bercerita comes with a feature format and presents a program that raises two inspiring female figures in each episode. This program is present to show and show the existence of women in Semarang in various areas of life, including how women take role in society by raising the story of woman in Semarang according to different theme in each episode. In producing this program, teams are divided to perform different responsibilities in each episode from pre-production, production, and post-production processes to producers, program directors, reporters, scriptwriters, cameramen, editors and dubber so that all team members get different experiences in each episode. Perempuan Bercerita aired 13 episodes at iNews Semarang every Monday at 10.00 am which aired from March 5, 2018 until June 4, 2018. Through this program, people are expected to get information and education and get the spirit and inspiration to continue to work and play an active and positive role in the environment. In addition, it also provides new referrals to local television to bring new programs to the audience.
Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus. Daniel Dwi Listantyo; Tandiyo Pradekso; Taufik Suprihatini
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (411.305 KB)

Abstract

Hubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Acara ZOOM dan Kredibilitas Penyiardengan Loyalitas Mendengarkan Program Acara ZOOM di Radio Ichthus.AbstraksiRadio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsi orang setiap hari baik untukmendapatkan informasi maupun hiburan. Di radio Ichthus terdapat program acara ZOOMdengan format siaran yang disesuaikan segmentasinya supaya menarik loyalitas pendengaruntuk mendengarkan program acara tersebut. Selain format siaran yang sesuai, kredibilitaspenyiar menjadi faktor lain untuk membuat program acara ZOOM lebih menarik dan lebihhidup. Penelititan ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara kesesuaian format siaranprogram acara ZOOM dan kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acaraZOOM di radio Ichthus. Peneliti menggunakan teori dari Geller yang menyatakan, Pendengaritu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah. Orangorangingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, dan merekajuga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35), Kita membentuk gambaran tentang dirikomunikator dari pengalaman langsung dengan komunikator itu atau dari pengalamanwakilan (vicarious experiences), misalnya karena sudah lama bergaul dengan dia dan sudahmengenal integritas kepribadiannya atau karena kita sudah sering melihat atau mendengarnyadalam media massa (Rakhmat, 2009 : 258).Populasi dari penelitian ini adalah anak muda beragama kristen yang berusia 15-25 di kotaSemarang. Penarikan sampel dilakukan secara aksidental sebanyak 50 orang. Uji hipotesisdilakukan dengan menggunakan uji statistik Kendal Tau untuk melihat hubungan antarakesesuaian format siaran (X1) dan kredibilitas penyiar (X2) dengan loyalitas mendengarkan(Y). Hasil pengujian hipotesis adalah hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilaikoefisien korelasi kesesuaian format siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428.Hal ini dapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti keduavariabel tersebut terdapat hubungan yang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengandemikian, dapat dinyatakan bahwa “ada hubungan antara kesesuaian format siaran programacara ZOOM dengan loyalitas mendengarkan”. Sedangkan hubungan antara kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperolehhasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilai koefisienkorelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal ini dapatdikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabel tersebuttidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa “tidak adahubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”.Keywords: kesesuaian, kredibilitas, loyalitasRelationship Between Compliance Programs Broadcast Format Zoom and Broadcaster Credibilitywith Loyalty Zoom Programs Listening On Radio Ichthus.AbstractionRadio as a mass media consumed a good person every day for information and entertainment. AtIchthus radio programs are broadcast format ZOOM with customized listener loyalty segmentationso interesting to listen to the event program. In addition to the appropriate broadcast format,broadcasters credibility is another factor to make the program more attractive ZOOM and morealive. This study was aimed to investigate the relationship between compliance programs broadcastformat ZOOM broadcaster with credibility and loyalty listening to radio programs in Ichthus ZOOM.Researchers used the theory of Geller stated, the audience liked the format. Format provides thestructure, such as the wall of a house. People want to know who and what they are hearing, andthey also want to know the time (Geller, 2007: 35), we form a picture of yourself communicatorsfrom direct experience with the communicator or representation of experience (vicariousexperiences), eg because it had long been hanging out with him and get to know the integrity of hispersonality or because we've seen or heard in the mass media (Rachmat, 2009: 258).The population is young people aged 15-25 who are Christians in the city of Semarang. Accidentalsampling conducted as many as 50 people. Hypothesis testing is done by using a statistical testKendal Tau to see the relationship between the suitability of the broadcast format (X1) and thecredibility of the broadcaster (X2) with loyalty listening (Y).Results of hypothesis testing is the relationship between the broadcast format compatibility withloyalty programs ZOOM listening using Kendall Tau calculation, the result that the significance valueof 0.001 then there is a relationship. Correlation coefficient values conformity with loyalty listeningto the broadcast format of 0.428. It can be said that the significance value of 0.001 <0.01 whichmeans that there is a relationship between the two variables are highly significant and thehypothesis is accepted. Thus, it can be stated that "there is a relationship between the broadcastformat compatibility with loyalty programs ZOOM listening". While the relationship betweencredibility and loyalty listening broadcasters using Kendall Tau calculation, the result that thesignificance value of 0.189 then there is no relationship. Correlation coefficient broadcaster withcredibility listening loyalty of 0.174. It can be said that the significance value of 0.189> 0.05, whichmeans that the two variables are not significant and the hypothesis is rejected. Thus, it can be statedthat "there is no relationship between the broadcaster with credibility listening loyalty".Keywords: suitability, credibility, loyaltyHubungan Antara Kesesuaian Format Siaran Program Acara ZOOM danKredibilitas Penyiar dengan Loyalitas Mendengarkan Program AcaraZOOM di Radio Ichthus.PENDAHULUAN : Peranan komunikasi massa melalui media massa pada saat sekarangsemakin penting dimana masyarakat berkaitan erat dengannya, media massa merupakansumber informasi bagi masyarakat. Dalam kehidupannya manusia tidak terlepas dari mediamassa yang setiap hari mengelilinginya. Orang cenderung menggunakan media seperti suratkabar, majalah, radio, televisi untuk menghubungkan diri mereka sendiri dengan masyarakatatau dengan kata lain untuk mendapatkan informasi tentang dunia diluar dirinya dan jugauntuk mendapatkan hiburan. Sama halnya dengan bentuk-bentuk media massa yang lainseperti koran, televisi, majalah, film. Radio sebagai salah satu media massa yang dikonsumsiorang setiap hari baik untuk mendapatkan informasi maupun hiburan. Radio termasuksebagai media mekanis, karena media ini menggunakan saluran tertentu secara teknis yaknipemancar. Melalui program-program siarannya, radio menjalankan fungsi-fungsi sebagaimedia massa. Fungsi media massa pada umumnya antara lain adalah memberi informasi,mendidik, membujuk dan memberi hiburan. Untuk media radio fungsi hiburan memiliki porsiyang lebih besar dibandingkan fungsi-fungsi yang lainnya. Jumlah media radio, khususnyaradio siaran swasta, sekarang ini semakin banyak dan semakin tersegmentasi. Seperti diSemarang, terdapat 5 radio rohani diantaranya : Ichthus FM, Goodnews FM, Agape FM,Rhema FM dan BeFM dengan segmentasi audiens merupakan umat Nasrani yang berbedabedadari segi usia, kelas ekonomi maupun jenis kelamin. Radio Ichthus adalah salah saturadio siaran swasta yang berdomisili di Semarang dengan segmentasi audiens umat Nasrani.Sebagai radio yang memiliki segmentasi audiens tertentu, maka program-program siaranyang disajikan disesuaikan terhadap pendengar. Seperti lagu-lagu yang diputar, topik-topikyang menjadi bahasan, informasi yang diberikan serta program siaran khusus, contohnyaacara siraman rohani yang menjadi mayoritas acara di radio Ichthus (radio rohani) dalammenjaga dan menumbuhkan iman para pendengar yang beragama Nasrani. Radio rohanimerupakan radio atau media yang dipakai sebagai perantara akan firman Tuhan bagi parapendengarnya yang kebanyakan umat Nasrani. Media ini mempunyai daya tarik tersendiridikalangan pendengar dikarenakan mempunyai kesamaan akan batin serta keyakinan.Terlebih lagi media radio rohani ini menjadi pilihan bagi umat Nasrani yang terlalu sibukakan pekerjaannya sehingga belum bisa meluangkan waktu untuk beribadah digereja. Selamaperjalanannya, pada tahun 2005 beberapa penyiar senior di radio Ichthus pindah ke radiorohani lain yang merupakan pesaing dari radio Ichthus itu sendiri, sehingga tidak jarangsebagian anggota monitor radio Ichthus yang dulu sering masuk on air sudah jarang sekaliterdengar saat ini dikarenakan mereka (pendengar) lebih mengikuti penyiar kesayangannyapergi. Radio Ichthus memperhitungkan jumlah anggota monitor yang ikut bergabung setiapbulannya, baik anggota monitor tersebut aktif atau pasif. Jumlah pendengar yang seringmasuk atau on air mempengaruhi pendapatan Ichthus melalui iklan karena pihak pengiklantidak mau mengiklankan produknya di radio yang sepi pendengar. Dengan adanya jumlahpendengar yang bergabung mempengaruhi pihak pengiklan untuk memakai jasa radioIchthus. ZOOM (Zona Orang-Orang Muda) merupakan sebuah program acara yang adadalam radio Ichthus. Fungsi dari acara ini yaitu berusaha mempererat hubungan anak mudaKristiani di kota Semarang dan sekitarnya bahkan siapa saja yang mendengarkan Ichthus.Selain tujuannya mempererat jalinan kasih, acara ini juga sebagai ajang untuk mengontrolkehidupan anak muda dalam bergereja serta kehidupan sosialnya, antara lain berupa prestasiatau segala hal yang berhubungan dengan luar gereja. Pendengar acara ini disebut Zoomers,karena acara ini bertema anak muda maka kata Zoomers yang berarti “pecinta ZOOM”dipakai untuk memberi semangat bagi para pecinta acara ini. Acara ZOOM hadir setiap hariSenin hingga Sabtu dengan tema yang berbeda-beda. Format siaran program acara ZOOMdisesuaikan dengan segmentasinya yaitu anak muda. Format siaran terbagi dalam 4 hal yaitu :acara, musik, informasi dan iklan yang ada pada sebuah acara. Acara ZOOM memiliki temayang yang berbeda dalam tiap harinya selama 6 hari mengudara. Acara yang membahasmengenai kehidupan anak muda, mengenai gaya berpakaian, teknologi, hobby serta prestasiyang diperoleh entah di akademik maupun di kalangan professional. Acara Zoom merupakanacara di radio Icthus yang memiliki rating tinggi dikarenakan feedback dari pendengar yangsangat antusias. Dibandingkan dengan acara lainnya, acara Zoom selalu mendapat respondalam bentuk telepon secara on air dan SMS terbanyak di setiap acara berlangsung. Karenaacara Zoom merupakan acara untuk anak muda, maka penyiarnya juga disesuaikan berusiasekitar 15-25 tahun. Penyiar Zoom yang telah melebihi usia 25 tahun di pindah ke acara yanglain, sehingga secara otomatis penyiar junior menggantikan posisi para seniornya. Dalampergantian beberapa penyiar senior dengan penyiar junior, acara Zoom pernah mengalamipenurunan feedback dalam bentuk telepon maupun SMS pada saat on air. Selama mengudarakredibilitas penyiar pada Acara Zoom di radio Ichthus juga sering mendapat kritikan daripendengar yang menelepon ke studio pada saat off air. Beberapa kritikan yang disampaikankepada sebagian penyiar antara lain : artikulasi kurang jelas, banyak bicara pada saat siaran /banyak bercanda, kurang pintar mengolah kata-kata, materi siaran kurang dipahami sehinggapenyampaian menjadi bias, terlalu cepat berbicara, lupa memutarkan lagu yang di request dll.Beberapa hal tersebut menjadi tolak ukur bagi Radio Ichthus sendiri untuk meningkatkankualitas penyiarnya. Meski program acara ZOOM di radio Ichthus memiliki rating tinggikarena feedback yang antusias, tidak berarti program acara tersebut akan selalu baik apabilaIchthus kurang jeli dan teliti dalam menjaga program acara di radio Ichthus. Dengan formatsiaran yang dimiliki program acara ZOOM bukan berarti acara ZOOM telah memenuhisemua keinginan audiens. Penurunan jumlah pendengar terjadi pada acara ZOOM di akhirtahun 2009 hingga 2011. Kenyataan ini dapat dilihat dari penerimaan SMS dan telepon secaraOn Air yang tidak stabil. Penyiar program acara ZOOM juga sering mendapat mendapatkritikan dari para pendengar, diantaranya terlalu banyak berbicara pada saat siaran,membahas topik-topik yang dirasa tidak perlu, banyak bercanda, kurang memahami materisiaran, kurang pintar mengolah kata-kata artikulasi kurang jelas, terlalu cepat berbicara lupamemutarkan lagu yang di-request dan lain-lain. Jika dilihat dari format siaran program acaraZOOM dan kredibilitas penyiar, mungkinkah ada ketidaksesuaian dengan kebutuhanpendengar sehingga mempengaruhi loyalitas? Dari hal tersebut, muncullah pertanyaanapakah ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dan kredibilitaspenyiar dengan loyalitas mendengarkan acara ZOOM di radio Ichthus?PEMBAHASAN : Komunikasi Radio, Para pelaku industri radio harus paham betulmengenai teori-teori komunikasi jika ingin menguasai pasar dan mendapat banyakpendengar. Pada intinya semua media termasuk radio adalah sarana penyampai pesan untukpara komunikan. Teori klasik yang berkatian dengan hal ini adalah sebuah teori yangdikemukakan oleh Aristoteles. Dia menyebutkan bahwa unsur sebuah komunikasi adalapembicara (speaker), dalam hal ini adalah penyiar (jika di media radio), kemudian pesantermasuk hasil menulis di radio (message), dan materi siaran serta pendengar (listener)(Prayudha, 2006 : 3). Kemudian sebuah teori yang umum dan sangat terkenal dari Lasswellyang menyebutkan bahwa who says what in which channel to whom with what effects. Modeltersebut lebih menitikberatkan pada kelompok khusus yang bertanggung jawab dalammelaksanakan fungsi korelasi. Misalnya, dalam lingkungan radio siaran, seorang penyiarmembantu mengkorelasikan atau mengumpulkan respon orang-orang teradap informasi baru.Jika teori tersebut diaplikasikan dalam siaran radio, model Lasswell terdiri dari atas unsurpengirim (who - komunikator/ penyiar) yang merangsang pertanyaan mengenai pengendalianpesan, unsur pesan (say what – pesan/ bahan) untuk analisis isi siaran radio, salurankomunikasi (in which cannel – media) yang dikaji dalam analisis media radio, unsurpenerima (to whom – receiver/ pendengar) yang dikaitkan dengan analisis khalayak, danunsur pengaruh (with what effect – influence akibat)yang ditimbulkan pesan komunikasi padapendengar (Prayudha, 2006 : 7). John R. Wenburg dan William W. Wilmot mengemukakantiga konseptualisasi komunikasi, yaitu komunikasi sebagai tindakan satu arah, interaksi (duaarah) dan transaksi. Komunikasi yang terjadi pada media, seperti radio dan televisimerupakan bentuk konseptualisasi komunikasi interaksi, yaitu komunikasi dengan suatuproses sebab akibat atau aksi-reaksi, yang arahnya bergantian (Mulyana, 2003 : 65). Sebagaicontoh di dunia radio, ketika penyiar memberikan topik atau bahasan kepada pendengarnya,hal itu menandakan bahwa penyiar sedang memberikan aksi atau sebab. Ketika pendengarmulai memberikan feedbacknya berupa SMS atau telepon, hal itu menandakan adanya reaksiatau akibat. Radio memiliki karakteristik yang unik. Meskipun hanya bisa didengarkanternyata efek mendengarkan radio tidak kalah dengan media audio visual yaitu televisi. Radiobisa menjadi media penyampaian pesan yang sangat efektif. Sculberg dalam bukunya RadioAdvertising – The Authoritative Handbook, mengatakan bahwa para ahli psikologi telahmenyimpulkan bahwa memori ingatan yang berasal dari aspek pendengaran manusia,ternyata jauh lebih kuat daripada ingatan yang diperoleh dari indera penglihatan ataupenciuman (Prayudha, 2006 : 12). Radio memiliki kekuatan yang dapat memunculkan theaterof mind bagi para pendengarnya. Radio dapat membuat pendengar merasa akrab dan dekatseperti seorang teman atau sahabat yang sedang mengajak bicara, juga dapat berinteraksimelalui SMS ataupun telepon. Memberi masukan ataupun sekedar membagi informasi danopini untuk pendengar lainnya dapat menjadi alternatif. Selain itu, juga dapat mendengarkanmusik favorit dari radio. Format Siaran Radio, Perkembangan media massa khususnyaradio yang semakin maju, merupakan tantangan bagi pelaku industri media massa untukmengembangkan media tersebut. Perkembangan ini kemudian menimbulkan persaingan yangketat sehingga konsekuensi bagi pelaku industri media adalah keharusan untuk menyajikanprogram acara dan lagu yang menarik dan diminati audien. Seiring dengan perkembanganjaman, saat ini industri radio sudah menjadi sebuah komoditi bisnis yang menguntungkan.Hal ini dikarenakan, radio memang dirancang untuk memiliki sebuah penataan format acaradan format musik yang sedemikian rupa, sehingga mampu menarik pendengar dari berbagaimacam latar belakang (Schament, 2002 : 811). Seperti yang sudah disinggung sebelumnya,bahwa format adalah penyajian program dan musik yang memiliki ciri-ciri tertentu olehstasiun radio. Secara lebih sederhana dapat dikatakan format stasiun penyiaran atau formatsiaran radio dapat didefinisikan sebagai upaya pengelola stasiun radio untuk memproduksiprogram siaran yang dapat memenuhi kebutuhan audiensnya (Morrisan, 2009 : 220). MenurutMorrisan dalam bukunya Pringle Starr McCavitt menjelaskan bahwa : the programming ofmost station is dominate by one principal content element or sound, known as format.Artinya, program sebagian besar stasiun radio didominasi oleh satu elemen isi atau suarayang utama yang dikenal dengan format (Morrisan, 2009 : 220). Geller mengatakan bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, danmereka juga ingin mengetahui waktu (Geller, 2007 : 35). Artinya, pendengar lebih nyamanmemilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya. Siapa penyiar dan informasiapa yang disampaikan semuanya jelas dan mudah dimengerti. If you can create qualityprogramming, consistently stick with a host, program, or format over the time it takes to findits audience, you will likely have your own success story (Geller, 2007 : 5). Artinya, jikasebuah stasiun radio mampu menciptakan program yang berkualitas termasuk program yangkreatif di dalamnya, selain itu dengan penyiar yang konsisten dan format yang sesuai, makadengan sendirinya pendengar akan menjadi konsumen yang loyal bagi radio tersebut danakan memunculkan persepsi bahwa format siaran radio tertentu sesuai dengan dirinya.Kredibilitas Penyiar, Penyiar adalah orang yang bertugas membawakan atau memanduacara di radio, menjadi ujung tombak radio dalam berkomunikasi atau berhubungan langsungdengan pendengar. Keberhasilan sebuah program acara dengan parameter jumlah pendengardan pemasukan iklan utamanya ditentukan oleh kepiawaian penyiar dalam membawakansekaligus menghidupkan acara tersebut (Rosalia, 2010 : 28-29). Penyiar merupakan ujungtombak keberhasilan sebuah radio. Melalui seorang penyiar, radio menyampaikan visi misi,informasi dan berita untuk kebutuhan dan konsumsi pendengar. Ibarat bermain film, penyiarmerupakan aktor yang memerankan suasana sebuah siaran radio. Sebagai aktor, penyiar harusmengendalikan empat senjata utama, yaitu pikiran, perasaan, suara dan raga (Masduki, 2004 :117). Sementara itu, modal yang harus dimiliki seorang penyiar adalah suara, percaya diri,hobi dan bakat (ngobrol-ngobrol dan bakat menghibur), wawasan dan pergaulan luas,penguasaan studio yang baik (Ningrum, 2007 : 23-27. Selain itu, penyiar juga dituntutmemiliki beberapa keterampilan yang mendukung performa siarannya. Secara umum ada tigaketerampilan yang harus dikuasai para DJ dan penyiar. Pertama announcing skill,keterampilan menuturkan segala sesuatu menyangkut musik, kata atau lirik lagu yangdisajikan. Kedua, operating skill, yaitu keterampilan mengoperasikan segala peralatan siaran.Ketiga, musical touch, yaitu keterampilan merangkai musik dalam tatanan yang menyentuhemosi pendengar, bercita rasa dalam seleksi, harmonis dalam rangkaian (Masduki, 2004 :119). Sedangkan dari segi kepribadian, announcer atau penyiar perlu membentuk sikap(attitude), bahasa (language), memiliki wawasan professional (knowledge). Sikap yang harusdimiliki adalah (1) sopan di udara sesuai dengan kebutuhan situasi acara, (2) menghargaiwaktu, (3) bertanggung jawab, rendah hati, (4) tidak mengurai (Masduki, 2004 : 120). Uraiandiatas menunjukan bahwa banyak sekali yang harus dipersiapkan dan dimiliki oleh seorangpenyiar. Hal ini dikarenakan seorang penyiar memiliki tanggung jawab dan tugas yang besar.Departemen perburuhan AS dalam paparan seputar lowongan pekerjaan diradio siaran diAmerika Serikat menggambarkan penyiar radio sebagai sosok dengan banyak aktivitas atautugas kerjanya, beberapa tugasnya adalah sebagai berikut (Masduki : 2004 : 121-122).Loyalitas Mendengarkan, Loyalitas adalah komitmen pelanggan bertahan secara mendalamuntuk berlangganan kembali atau melakukan pembelian ulang produk atau jasa terpilih secarakonsisten di masa yang akan datang, meskipun pengaruh situasi dan usaha-usaha pemasaranmempunyai potensi untuk menyebabkan perubahan perilaku (Hartiti, 2003 : 129). Masihdalam buku yang sama, Griffin menjelaskan bahwa loyalitas lebih mengacu pada wujudperilaku dari unit-unit pengambilan keputusan untuk melakukan pembelian secara terusmenerus terhadap barang atau jasa suatu perusahaan yang terpilih. Sama halnya denganperusahaan radio, ketika ada seorang pendengar yang dengan setia mendengarkan dari waktuke waktu, hal itu merupakan indikasi seorang pendengar yang loyal. Hal Ini menunjukkanbahwa usaha maksimal yang dilakukan oleh radio berhasil. Produk yang diproduksi olehradio berupa informasi atau berita, penyiar yang menyenangkan dan musik yang disajikandalam suatu program mampu menarik hati para pendengar. Kunci keberhasilan sebuah radioadalah kelokalan itu sendiri, sehingga bisa mempengaruhi hati pendengarnya. Sifat radioyang sangat pribadi seakan-akan mampu me-maintainance atau melayani pendengar denganperhatian yang maksimal. Geller mengatakan, bahwa the key to personality radio is logically,having a personality. This means having rich, full life and drawing or all of your experiences.How you relate to life is how your audience will relate to you. The best broadcaster are greatoservers of life. They filter what they see going on around them through their unique creativeproses and send it back to the world. Artinya, kunci radio secara logika, memilikikepribadian. Hal ini berarti kaya makna, penuh arti kehidupan dan gambaran akan semuapengalaman Anda. Bagaimana Anda berhubungan dengan kehidupan adalah bagaimanaaudiens Anda akan berhubungan dengan Anda. Penyiar terbaik adalah pembagi pengalamandalam kehidupan. Mereka menyaring apa yang mereka lihat, atau yang terjadi di sekitarmereka melalui proses kreatif yang unik dan memberikan kembali pada dunia (Geller, 2007 :3). Radio mampu menjadi teman sejati bagi pendengar, membagikan banyak sekalipengalaman (penyiar) dan memberikan gambaran hidup yang kadang berarti bagi pendengar.Dengan ini akan ada kedekatan emosi antara radio dan juga pendengarnya. Terlebih lagidengan sajian lagu-lagu yang banyak sesuai dengan hati sehingga membuat pendengarnyamakin nyaman. Penelitian ini menggunakan tipe penelitian eksplanatori (penjelasan) karenamenjelaskan hubungan antara tiga variabel penelitian. Variabel itu meliputi kesesuaianformat siaran program acara ZOOM, kredibilitas penyiar dan loyalitas mendengarkanprogram acara ZOOM pada radio Ichthus. Populasi dalam penelitian ini adalah anak mudayang beragama Nasrani di kota Semarang berusia sekitar 15-25 tahun yang pernah atau seringmendengarkan siaran radio Ichthus terutama tentang program acara Zoom (Zona Orang-Orang Muda). Sampel yang diambil dalam penelitian ini sebanyak 50 orang, sesuai denganteori Gay & Diehl (1992 : 146) mengenai ukuran sampel yang dapat diterima. Merekamengemukakan bahwa untuk penelitian korelasi, secara minimum tolok ukurannya sekitar 30subyek sebagai obyek penelitian (Ruslan, 2003 : 47). Karena besarnya populasi yang tidakdapat dketahui secara pasti, metode yang digunakan dalam penelitian ini adalah teknik nonprobability sampling, yaitu metode sampling yang tidak memberi kesempatan atau peluangyang sama bagi setiap unsur atau populasi untuk dipilih menjadi sampel. Teknik pengambilansampel menggunakan metode sampling Accidental, merupakan teknik penentuan sampelberdasarkan kebetulan, yaitu siapa saja yang secara kebetulan/ incidental bertemu denganpeneliti dapat digunakan sebagai sampel, bila dipandang orang yang kebetulan ditemui itucocok sebagai sumber data (Kriyantono, 2006 : 156). Adapun kriteria orang yang cocokmenjadi sampel adalah : beragama Kristen, berusia 15-25 tahun, pernah mendengarkanAcara Zoom di Radio Icthus. Uji Hipotesis, Analisis ini menggunakan tes statistik korelasiuntuk menguji apakah terdapat hubungan antara variabel bebas dengan variabel terikatdengan menggunakan rumus Kendal Tau (τ) karena data yang digunakan memakai skalaordinal. (Sugiyono, 2006 : 237). Perhitungan menggunakan SPSS 18. Berdasarkan hasil ujistatistik hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau, diperoleh hasil bahwa nilaisignifikansi sebesar 0,001 maka terdapat hubungan. Nilai koefisien korelasi kesesuaianformat siaran dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,428. Hal ini dapat dikatakan bahwanilai signifikansi sebesar 0,001 < 0,01 yang berarti kedua variabel tersebut terdapat hubunganyang sangat signifikan dan hipotesis diterima. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“ada hubungan antara kesesuaian format siaran program acara ZOOM dengan loyalitasmendengarkan”. Teori yang digunakan juga sesuai, seperti yang dikatakan Geller bahwapendengar itu menyukai format. Format memberikan struktur, seperti dinding sebuah rumah.Orang-orang ingin sekali mengetahui siapa dan apa yang sedang mereka dengarkan, karenapendengar lebih nyaman memilih radio yang memang sudah jelas format dan strukturnya.Terbukti bahwa format siaran program acara ZOOM yang bertema anak muda sesuai denganpendengar, mulai dari pembahasan acara, informasi, musik dan iklan disukai oleh pendengarsehingga membuat mereka (pendengar) loyal dalam mendengarkan program acara tersebutsecara bertahap atau berkali-kali. Sedangkan, berdasarkan hasil uji statistik hubungan antarakredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan menggunakan perhitungan Kendall Tau,diperoleh hasil bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 maka tidak ada hubungan. Nilaikoefisien korelasi kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan sebesar 0,174. Hal inidapat dikatakan bahwa nilai signifikansi sebesar 0,189 > 0,05 yang berarti kedua variabeltersebut tidak signifikan dan hipotesis ditolak. Dengan demikian, dapat dinyatakan bahwa“tidak ada hubungan antara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan”. Dengankata lain dalam penelitian ini, walaupun pendengar acara ZOOM telah mendengarkan secaralangsung ketika penyiar melaksanakan siaran, termasuk mengetahui kemampuan yangdimiliki oleh seorang penyiar mulai dari kompetensi, atraktif atau dinamis, kepercayaan dankesungguhan saat siaran, belum tentu menjamin mereka (pendengar) untuk loyal terhadappenyiar tersebut, melainkan pendengar loyal dalam mendengarkan program acara ZOOMkarena format siaran acara ZOOM telah sesuai dengan apa yang diinginkan pendengar, tidakpeduli siapapun penyiar yang membawakan program acara tersebut. PENUTUP : Karenaformat siaran program acara ZOOM ada hubungan dengan loyalitas mendengarkan maka halyang kurang sesuai dalam format siaran seperti iklan, untuk disesuaikan dengan segmentasiprogram acara ZOOM yaitu anak muda. Untuk itu kesimpulan dari pengujian hipotesis ialahTerdapat hubungan positif yang signifikan antara kesesuaian format siaran program acaraZOOM dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, hal tersebut ditunjukkandengan nilai signifikansi sebesar 0,001. Sehingga semakin sesuai format siaran program acaraZOOM maka pendengar semakin loyal mendengarkan program acara ZOOM di radioIchthus. Sedangkan hasil uji variable selanjutnya tidak terdapat hubungan yang signifikanantara kredibilitas penyiar dengan loyalitas mendengarkan program acara ZOOM, haltersebut ditunjukkan dengan nilai signifikansi sebesar 0,189 atau melebihi dari ketentuanstandar siginifikasi 0,05. Sehingga hipotesis ditolak, dan beberapa hal untuk menilai ataumeneliti mengenai kredibilitas penyiar bisa dijelaskan oleh sebab-sebab yang lain yang tidakditeliti dalam penelitian ini. DAFTAR PUSTAKA : Bramson, Robert. 2005. CustomerLoyaliti : 50 Strategi Ampuh Membangun dan Mempertahankan loyalitas Pelanggan. Jakarta: PT Prestasi Pustaka. Geller, Valerie. 2007. Creating Powerful Radio : Getting, Keeping &Growing Audiences. Jordan Hill Oxford : Elsevier Inc. Gray, Frank dan James, Ross. 1997.Radio Programming Roles; FEBC Perspectives. Yaski. Hartiti. 2003. Loyalitas Pelanggan.Bandung : Yayasan Nuansa Cendikia. Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis RisetKomunikasi. Jakarta: Kencana Prenada Media Group. Masduki. 2001. Jurnalistik Radio;Menata Profesionalisme Reporter dan Penyiar. Yogyakarta : LKIS. Masduki. 2004.Menjadi Broadcaster Profesional. Yogyakarta : LKIS. McQuail, Denis. 1987. TeoriKomunikasi Massa . Edisi Kedua. Jakarta : Erlangga. Morrisan, MA. 2009. ManajemenMedia Penyiaran : Strategi Mengelola Radio dan Televisi. Jakarta : Kencana Prenada MediaGroup. Ningrum, Fatmasari. 2007. Sukses Menjadi Penyiar, Scriptwriter dan Reporter Radio.Depok : Penebar Swadaya. Prayudha, Harley. 2004. RADIO; Suatu Penghantar untukWacana dan Praktik Penyiaran. Malang : Bayumedia Publishing. Prayudha, Harley. 2006.Radio : Penyiar It’s not just a talk. Malang : Bayumedia Publishing. Rakhmat, Jalaluddin.2009. Psikologi Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Rakhmat, Jalaluddin. 2007.Metodologi Penelitian Komunikasi. Bandung : Remaja Rosdakarya. Sumarwan, Ujang.2003. Perilaku Konsumen; Teori dan Penerapannya Dalam Pemasaran. Jakarta : GhaliaIndonesia. Sugiyono. 2007. Metode Penelitian Kuantitatif Kualitatif dan R&D. Bandung:CV Alfabeta. Sunyoto, W. Daniels Handoyo. 1978. Seluk Beluk Programa Radio.Yogyakarta : Penerbitan Yayasan Kanisius. Vivian, John. 2008. Teori Komunikasi Massa.Jakarta : Kencana Prenada Media Group. Wardhana, Ega. 2009. Sukses Menjadi PenyiarRadio Profesional. Yogyakarta : CV Andi Offset.
Produksi Program Acara Berita Feature “Di Balik Nama” di Cakra S Semarang TV (Program Director) Lintang Jati Rahina; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (401.806 KB)

Abstract

Sebagai media audio visual, televisi dapat menjadi media yang efektif untuk menyampaikan suatu informasi mengenai sejarah karena sifat informasinya yang tidak mudah basi dan dapat menjadi media untuk bernostalgia kepada para pemirsanya dibandingkan dengan jenis media massa lainnya. Di beberapa stasiun televisi lokal di Semarang, belum ada yang menyajikan konten yang bertema sejarah yang berangkat dari sebuah kawasan, kuliner, dan tradisi. Program “Di Balik Nama” hadir untuk memuaskan pemirsanya dalam menyajikan tayangan penyampai informasi sejarah yang tidak membosankan, mengedukasi, sekaligus sebagai media untuk bernostalgia.Produksi berita feature pada karya bidang ini dibuat dengan lima posisi pekerjaan berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, program director, scriptwriter, camera person, dan editor gambar. Pada laporan ini, dijabarkan tentang job description seorang program director, camera person, produser, dan editor gambar. Program ini dibuat sebanyak 13 episode dengan menayangkan cerita sejarah yang dikemas dengan visual yang mengedepankan beauty shots, editing gambar yang sesuai alur cerita, dan konten mengenai sejarah di balik sebuah nama yang dijelaskan secara lengkap.Setelah melalui tahapan praproduksi, produksi, dan pascaproduksi, “Di Balik Nama” tayang setiap hari Jumat pukul 19.00 WIB di Cakra Semarang TV. Karya ini tayang mulai 17 April sampai dengan 24 Juli 2015. Diharapkan dengan tayangan ini, masyarakat dapat memperoleh informasi tentang sejarah di balik sebuah kawasan, kuliner, dan tradisi yang ada di Semarang dan sekitarnya, dapat teredukasi dengan menonton acara ini, sehingga dapat meningkatkan wawasan seputar sejarah yang ada di Semarang dan sekitarnya.
Hubungan Intensitas Penggunaan Game Online, Pengawasan Orang Tua terhadap Anak, dengan Prestasi Belajar Anak Devi Pranasningtias Indriani; Turnomo Rahardjo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.86 KB)

Abstract

Hubungan Intensitas Penggunaan Game Online,Pengawasan Orang Tua terhadap Anak,dengan Prestasi Belajar AnakABSTRAKSIHubungan Intensitas Penggunaan Game Online,Pengawasan Orang tua terhadap Anak, dengan Prestasi Belajar AnakLatar belakang penelitian ini didasari oleh banyaknya kasus anak pecandu game online di Indonesia, salah satunya seorang gadis usia 12 tahun kabur dari rumahnya selama 2 minggu, untuk tinggal di warnet untuk bermain game online. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa minat remaja terhadap game online cukup besar. Hal-hal seperti ini kurang diperhatikan orang tua, orang tua terkadang memberi kebebasan pada anaknya dalam bersosialisasi melalui dunia maya atau internet. Kurangnya pengawasan dan kepekaaan dari orangtua menjadi salah satu faktor penyebab perilaku anak di dunia maya tidak terbendung. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan game online, pengawasan orang tua terhadap anak, dengan prestasi belajar anak. Teori yang digunakan untuk penelitian ini, antara lain flow theory, roles theory, dan parental mediation. Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah dasar dan menegah yang bermain game online di game center atau warnet yang berada di kecamatan Banyumanik, Semarang. Sample dalam penelitian ini sampel 150 orang, di ambil masing-masing 10 orang dari lima belas warnet yang rata-rata jumlah pemain game online-nya 20-50 per hari. Untuk pengujian hipotesis digunakan perhitungan statistik Koefisien Korelasi Pearson sebagai alat untuk menguji atau menghitung tingkat koefisien korelasi antar variabel.Hasil penelitian ini menyatakan bahwa hasil penelitian intensitas penggunaan game online (X1) berada dalam kategori tinggi. Hal ini disebabkan sebagian besar anak bermain game online dengan frekuensi 7 hari dengan lama waktu bermain selama 5 jam. Sedangkan untuk variabel pengawasan orang tua terhadap anak (X2) menyatakan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh orang tua dalam kategori tinggi, hal ini disebabkan karena sebagian responden menyatakan bahwa orang tua mereka menetapkan aturan, memberikan larangan, mengetahui teman dan tempat bermain mereka, serta mengingatkan kembali apabila terdapat aturan yang tidak dipatuhi. Hasil penelitian mengenai prestasi belajar (Y) menyatakan bahwa prestasi belajar yang diperoleh oleh responden dalam kategori rendah. Hal ini disebabkan sebagian besar anak yang bermain game online mempunyai nilai rata-rata (gabungan semester satu dan dua) sebesar 6. Berdasarkan perhitungan statistik, variabel intensitas penggunaan game online (X1) dengan prestasi belajar anak (Y) memiliki koefisien korelasi sebesar - 0,561 dengan nilai signifikansi 0,000. Pada hubungan variabel pengawasan orang tua terhadap anak (X2) dengan kepuasan prestasi belajar anak (Y) diperoleh hasil koefisien korelasi sebesar 0,594 dengan nilai signifikansi 0,000. Dari hasil perhitungan tersebut dapat disimpulkan bahwa terdapat hubungan yang kuat antar variabel tersebut dan hubungannya juga sangat signifikan. Dengan demikian bisa ditarik kesimpulan bahwa terdapat hubungan negatif yang signifikan antara intensitas penggunaan game online dengan prestasi belajar anak dan juga terdapat hubungan positif dan signifikan antara pengawasan orang tua terhadap anak dengan prestasi belajar anak. Saran penelitian ini adalah orang tua perlu meningkatkan pengawasan terhadap anak tidak hanya controling roles tapi juga nurturing roles, selain itu orang tua perlu memperluas kemampuan literasi media, supaya bisa mengimbangi perkembangan teknologi dan membatasi anak dalam penggunaannya.Kata Kunci: intensitas penggunaan game online; pengawasan orang tua; prestasi belajar.ABSTRACRelation of Intensity of Using Online gaming, Parental Supervision of Child,and Child’s Academic AchievementThe background of this research is based on the number of cases of children who addicted to online games in Indonesia, one of them is a 12-year- old girl who ran away from home for 2 weeks to stay in the internet cafe to play online games. From these data it can be seen that there is big interest for online gaming especially for teenager. Things like this have less attention from parents, parents sometimes give their children the freedom to socialize through cyberspace or the internet. Lack of parental supervision and sensitivity is one of the factors causing the child's behavior in cyberspace is not unstoppable. This study aims to determine the relationship between the intensity of the using online games, parental supervision of the child , and the child's academic achievement . Theory used for this study, among other things flow theory, roles theory, and parental mediation. The population in this study were children who in age of elementary and middle school who play online games in the game center or internet cafe at Banyumanik, Semarang. Sample in this study is 150 people, each taken 10 people from fifteen internet cafe that have the average number of online game players the 20-50 per day . For statistical hypothesis testing used Pearson correlation coefficient calculation as a tool to test or measure the level of the correlation coefficient between variables .Results of this study declare that the research intensity of using online games ( X1 ) are in the high category. This is due to the majority of children play games online with a frequency of 7 days with long time playing games online for 5 hour. As for parental supervision (X2) states that supervision is done by the parents in the high category, and this is because the majority of respondents stated that their parents set rules, give prohibition, knowing their friends and play area, and reasserts if there is a rule that was not followed. Results of research on child‟s academic achievement (Y) states that the achievement obtained by the respondents in the low category. This is due to most of the kids who play online games have an average value (combined from semesters one and two) at 6 . Based on statistical calculations, the variable intensity of using online games (X1) with the academic achievement of children (Y) has a correlation coefficient of - .561 with a significance value of 0.000 . Parental supervision to child (X2) to the satisfaction of academic achievement of children (Y) obtained by the correlation coefficient is 0.594 with a significance value of 0.000 . From the results of these calculations, it can be concluded that there is a strong relationship between these variables and the relationship is also very significant. It can thus be concluded that there is a significant negative correlation between the intensity of using online games with academic achievement of children and there is also a positive and significant relationship between parental supervision for children with academic achievement of children. Suggestions of this study are the parents need to increase oversight of child not only control roles, but also nurturing roles, besides that, the parents need to expand the capabilities of media literacy , in order to balance the development of technology and limit the child in its use .Keywords : intensity of using online gaming ; parental supervision ; academic achievement .BAB IPENDAHULUANLatar belakang penelitian ini didasari oleh banyaknya kasus anak pecandu game online di Indonesia, salah satunya seorang gadis usia 12 tahun kabur dari rumahnya selama 2 minggu, untuk tinggal di warnet untuk bermain game online. Dari data tersebut dapat diketahui bahwa minat remaja terhadap game online cukup besar. Hal-hal seperti ini kurang diperhatikan orang tua, orang tua terkadang memberi kebebasan pada anaknya dalam bersosialisasi melalui dunia maya atau internet. Kurangnya pengawasan dan kepekaaan dari orangtua menjadi salah satu faktor penyebab perilaku anak di dunia maya tidak terbendung.Berdasarkan data dalam Education For All (EFA) Global Monitoring Report 2011: The Hidden Crisis, Armed Conflict and Education yang dikeluarkan Organisasi Pendidikan, Ilmu Pengetahuan, dan Kebudayaan Perserikatan Bangsa-Bangsa (UNESCO) yang diluncurkan di New York, Senin (1/3/2011), indeks pembangunan pendidikan atau education development index (EDI) berdasarkan data tahun 2008 adalah 0,934. Nilai itu menempatkan Indonesia di posisi ke-69 dari 127 negara di dunia (http://www.iaincirebon.ac.id/blog/2013/03/09/393.htm. diakses 21 September 2013 pukul 08.53).Penurunan education development index (EDI) Indonesia yang cukup tinggi terjadi terutama pada kategori penilaian angka hingga kelas V SD. Muhibbin Syah (2006: 144) menyatakan bahwa prestasi belajar siswa dipengaruhi oleh setidaknya tiga faktor yakni faktor internal (faktor dari dalam siswa), yakni keadaan/kondisi jasmani dan rohani siswa; faktor eksternal (faktor dari luar siswa), yakni kondisi lingkungan di sekitar siswa; faktor pendekatan belajar (approach to learning), yakni jenis upaya belajar siswa yang meliputi strategi dan metode yang digunakan siswa untuk melakukan kegiatan pembelajaran materi-materi pelajaran.Maraknya perkembangan dunia internet, membawa banyak pengaruh (faktor eksternal) bagi siswa. Salah satunya dengan kehadiran game online. Anaksekolah merupakan salah satu kelompok yang mudah terpengaruh oleh dampak game online. Waktu yang seharusnya digunakan untuk beristirahat atau bermain, namun anak cenderung memanfaatkannya untuk duduk di depan komputer dan asik dalam permainan game online tersebut.Untuk mencegah seorang anak bermain game online tentu bukan pekerjaan mudah bagi orang tua. Peran orang tua untuk mendampingi dan mengawasi penggunaan internet pada anak sangat dibutuhkan. Komunikasi yang secara intens antara orang tua dan anak dapat mengarahkan anak untuk mengatur waktu untuk belajar dan bermain internet.Fasilitas internet yang banyak tersedia di mana-mana, salah satunya warung internet, menjadikan anak bisa mengakses internet dari mana saja. Tidak selalu harus bermain di rumah, anak bisa mencuri waktu sepulang sekolah dengan mengunjungi arena game online atau warung internet yang ada di sekitar sekolah mereka. Hal ini mengakibatkan meningkatnya intensitas anak bermain game online. Jika hal ini diiringi dengan rendahnya komunikasi orang tua dan anak berpengaruh terhadap kedisiplinan anak dalam belajar. Dengan demikian apakah intensitas anak dalam bermain game online dan komunikasinya dengan orang tua dapat mengubah perilaku belajar sehingga dapat memengaruhi prestasi belajar anak?Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan antara intensitas penggunaan game online dengan prestasi belajar anak dan untuk mengetahui hubungan antara pengawasan orang tua terhadap anak dengan prestasi belajar anak .Teori yang digunakan untuk penelitian ini, antara lain flow theory, roles theory, dan parental mediation. Flow theory dari Csikszentmihalyi menyatakan bahwa kesenangan/enjoyment,diwujudkan dalam kondisi aliran (flow state), dimana terdapat pengalaman "autotelic" atau motivasi diri yang ditandai dengan konsentrasi yang mendalam dan fokus pada apa yang kita lakukan pada saat ini, menggabungkan tindakan dan kesadaran, dan hilangnya cerminan kesadaran diri (misalnya, kehilangan kesadaran bahwa manusia adalah makhluk sosial). Enjoyment merupakan suatu perasaan yang dapat mengkontrol tindakan seseorangyang juga ditandai oleh adanya penyimpangan pengalaman secara temporal (biasanya, perasaan bahwa waktu telah berlalu lebih cepat dari normal), dan pengalaman yang menyenangkan tersebut memuaskan seseorang secara instrinsik (Nakamura and Csikszentmihalyi, 2002: 90). Dalam penelitian ini, ketika anak bermain game online terdapat kesenangan dan kepuasan tersendiri yang membuat mereka hilang kesadaran dan lupa waktu untuk bersosialisasi, istirahat, dan mengerjakan tugas dari sekolah.Roles Theory dapat memprediksi perilaku pemegang peran melalui peran yang dimiliki seseorang. Peran keluarga penting sejauh mereka dapat mengatur perilaku dan berkomunikasi sesuai dengan peran-peran dalam keluarga. Keluarga merupakan sebuah situasi dengan kesulitan yang tinggi, hal ini disebabkan karena banyaknya pekerjaan yang harus dilakukan secara kelompok, sehingga berfungsi sebagai keluarga. Peran atau role dalam keluarga membantu kita mengkoordinasikan penyelesaian tugas dan juga membantu dalam pengaturan siapa melakukan apa dalam keluarga. Terdapat dua peran utama dalam roles theory, yaitu nurturing roles dan controlling roles (Le Poire, 2006: 58-66).„Parental mediation‟ didefinisikan sebagai interaksi orang tua dan anak saat menggunakan media. Livingstone dan Helsper menunjukkan bahwa teori tentang parental mediation harus diperluas agar mencakup mediasi penggunaan Internet. Livingstone dan Helsper menemukan empat jenis parental mediation di Internet adalah active co-use, interaction restrictions, technical restrictions, dan monitoring (Nikken, 2011: 4-5).Populasi dalam penelitian ini adalah anak usia sekolah dasar dan menegah yang bermain game online di game center atau warnet yang berada di kecamatan Banyumanik, Semarang. Teknik pengambilan sampling dalam penelitian ini menggunakan nonprobability sampling dengan metode purposive sampling. Menurut Sugiyono (2008:85), teknik purposive sampling adalah teknik penentuan sampel dengan pertimbangan tertentu. Sample dalam penelitian ini sampel 150 orang, di ambil masing-masing 10 orang dari lima belas warnet yang rata-rata jumlah pemain game online-nya 20-50 per hari. Untuk pengujian hipotesisdigunakan perhitungan statistik Koefisien Korelasi Pearson sebagai alat untuk menguji atau menghitung tingkat koefisien korelasi antar variabel.BAB IIINTENSITAS PENGGUNAAN GAME ONLINE, PENGAWASAN ORANG TUA TERHADAP ANAK, DAN PRESTASI BELAJAR ANAKHasil penelitian mengenai intensitas penggunaan game online berada dalam kategori sangat tinggi. Hal ini disebabkan sebagian besar anak bermain game online dengan frekuensi 7 hari dengan lama waktu bermain game selama 5 jam. Rata-rata responden yang memiliki intensitas yang tinggi menyatakan bahwa orang tua mereka tidak mengetahui jika mereka bermain game online, selain karena orang tua mereka yang bekerja, mereka juga memberikan alasan mengerjakan tugas dirumah teman atau mengikuti kegiatan ekstrakurikuler.Hasil penelitian dari pengawasan orang tua terhadap anak menyatakan bahwa pengawasan yang dilakukan oleh orang tua dalam kategori tinggi.Hal ini terlihat pada persentase pengawasan orangtua pada kategori tinggi yang lebih besar dibandingkan kategori yang lainnya. Meskipun orang tua tidak memberikan hukuman dan hanya kadang-kadang membantu anak dalam mengerjakan tugas dan mempelajari materi atau bab baru dipelajari di sekolah. Hasil pengawasan orang tua pada kategori tinggi disebabkan karena sebagian responden menyatakan bahwa orang tua mereka menetapkan aturan, memberikan larangan, mengetahui teman dan tempat bermain mereka, serta mengingatkan kembali apabila terdapat aturan yang tidak dipatuhi.Hasil penelitian mengenai prestasi belajar menyatakan bahwa prestasi belajar yang diperoleh oleh responden dalam kategori rendah. Hal ini disebabkan sebagian besar anak yang bermain game online mempunyai nilai rata-rata (gabungan semester satu dan dua) sebesar 6.BAB IIIHUBUNGAN INTENSITAS PENGGUNAAN GAME ONLINE,PENGAWASAN ORANG TUA TERHADAP ANAKDENGAN PRESTASI BELAJAR ANAKBab ini menguraikan hasil analisis uji hipotesis mengenai ketiga variabel dalam penelitian ini, yaitu intensitas penggunaan game online, pengawasan orang tua terhadap anak dan prestasi belajar anak. Analisis korelasi sederhana (Bivariate Correlation) digunakan untuk mengetahui keeratan hubungan antara dua variabel dan untuk mengetahui arah hubungan yang terjadi, salah satunya adalah Pearson Correlation. Korelasi Pearson atau sering disebut Korelasi Product Moment merupakan alat uji statistik yang digunakan untuk menguji hipotesis asosiatif (uji hubungan) dua variabel bila datanya berskala interval atau rasio.Berdasarkan hasil analisis korelasi product moment dengan menggunakan bantuan SPSS Statistics 17.00 for windowsdi atas, untuk korelasi variabel intensitas penggunaan game online (X1) dengan prestasi belajar anak (Y)diperoleh koefisien korelasi sebesar -0,561 pada taraf signifikansi 0,00. Dengan demikian dapat dikatakan bahwa terdapat hubungan yang negatif dan signifikan antara Intensitas Penggunaan Game Online dengan Prestasi Belajar Anak. Sedangkan untuk korelasi variabel pengawasan orang tua terhadap anak (X2) dengan prestasi belajar anak (Y) diperoleh koefisien korelasi sebesar 0,594 pada taraf signifikansi 0,00, hal ini menunjukkan bahwa terdapat hubungan yang positif dan signifikan antara Pengawasan Orang Tua terhadap Anak dengan Prestasi Belajar Anak.Hasil temuan penelitian ini menyatakan bahwa sebagian besar anak bermain game online dengan frekuensi 7 hari dengan lama waktu bermain game online selama 5 jam. Umumnya, pengguna yang ketergantungan cenderung menggunakan Internet selama 20-80 jam per minggu, dengan sesi tunggal yang bisa bertahan hingga lima belas jam. Kurangnya waktu tidur tersebut menyebabkan kelelahan yang berlebihan seringkali membuat fungsi akademisatau pekerjaan terganggu dan penurunan sistem kekebalan tubuh seseorang.Young juga menambahkan, “Students had difficulty completing homework assignments, studying for exams, or getting enough sleep to be alert for class the next morning due to such Internet misuse. Often times, they were unable to control their Internet use which eventually resulted in poor grades, academic probation, and even expulsion from the university.”Hasil penelitian ini menunjukkan hubungan yang positif, hal ini berarti semakin tinggi pengawasan orang tua maka semakin tinggi pula prestasi belajarnya. Menurut Kusuma (1973: 27-28) untuk mencapai tujuan pendidikan dalam keluarga, orang tua harus melakukan perannya dalam melakukan pengawasan dalam kaitannya dengan aktivitas anak dalam masyarakat. Dalam roles theory, peran atau role dalam keluarga membantu mengkoordinasikan penyelesaian tugas dan juga membantu dalam pengaturan siapa melakukan apa dalam keluarga. Peran orang tua sebagai behavior control dapat menerapkan aturan tertentu mengenai proses belajar. Selain peran sebagai behavior control, orang tua juga harus berperan sebagai family boundary maintenance, yang memberikan batasan kepada anak mengenai apa yang terbaik bagi mereka (Bab I, hal 30).Pengawasan orang tua adalah sikap dari orang tua dalam mengamati dan mengontrol apa yang dilakukan anaknya.Dengan adanya pengawasan orang tua, maka diharapkan anak mempunyai tingkah laku dan kebiasaan yang baik.Pengawasan orangtua merupakan merupakan faktor eksternal yang menunjang keberhasilan (prestasi) belajar siswa.Pengawasan yang dilakukan orang tua dapat memberikan semangat dan motivasi kepada anak untuk dapat belajar dengan baik, sehingga seorang anak akan mempunyai kemauan dan kemampuan untuk belajar lebih giat lagi yang berakibat prestasinya dapat meningkat (Bab I, hal 31).BAB IVPENUTUPKesimpulan penelitian ini adalah intensitas penggunaan game online mempunyai hubungan dengan prestasi belajar anak, anak yang bermain game online secara intens mempunyai prestasi belajar yang rendah. Variabel pengawasan orang tua terhadap anak juga mempunyai hubungan dengan prestasi belajar anak. Pengawasan orang tua secara ketat atau tinggi dengan membuat aturan atau larangan, mampu membuat anak tidak melupakan kewajibannya untuk belajar. Dengan proses pembelajaran yang dipantau oleh orang tua secara ketat, akan meningkatkan prestasi belajar anak.Selama ini orang tua hanya menggunakan controling roles (membuat aturan, melarang anak, memperingatkan) saja, orang tua perlu mengimbangi dengan perannya dalam nurturing yaitu dengan berkomunikasi dengan anak. Nurturing roles dapat diwujudkan dengan membangun kedekatan dengan anak seperti meluangkan waktu bermain/belajar bersama anak supaya anak merasa lebih nyaman dan terbuka kepada orang tuanya. Selain itu, orang tua perlu memperluas kemampuan literasi media, supaya bisa mengimbangi perkembangan teknologi dan membatasi anak dalam penggunaannya. Orang tua dapat melakukan beberapa jenis parental mediation, yaitu active co-use (orang tua bersikap aktif, dengan menjelaskan, membatasi, dan bermain game bersama anak), interaction restrictions (larangan kegiatan dimana anak-anak berhubungan dengan orang secara online), dan technical restrictions (melakukan instalasi berbagai program filter dan pemantauan perangkat lunak pada komputer). Untuk penelitian yang akan datang disarankan tidak hanya terbatas pada hubungan akan tetapi meneliti pula mengenai pengaruh intensitas bermain game online serta pengawasan orang tua terhadap prestasi belajar untuk mengetahui seberapa besar pengaruh game online dan pengawasan orang tua terhadap prestasi belajar. Peneliti selanjutnya juga bisa menambahkan variabel lain misalnya intensitas komunikasi anak dengan peer group-nya, karena hal ini dimungkinkan bisa mempengaruhi prestasi belajar anak.DAFTAR PUSTAKAChen, Milton. 1996. Anak-anak dan Televisi. Jakarta: Gramedia Pustaka Utama.Daradjat. Zakiah. 1992. Ilmu Pendidikan Islam. Jakarta. Bumi Aksara.Dradjat, Zakiah. 1995. Metodik Khusus Pengajaran Agama Islam. Jakarta : Bumi Aksara dan Depag.Deloitte Acces Economic. 2011. Nusantara Terhubung: Peran Internet dalam pembangunan ekonomi Indonesia. Australia: Deloitte Touche Tohmatsu.Iriantara, Yosal. 2009. Literasi media: apa, mengapa, bagaimana. Bandung: Simbiosa Rekatama MediaKecamatan Banyumanik dalam Angka 2011Kriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana Prenada GroupKusuma, Indra. 1973. Pengantar Ilmu Pendidikan, Surabaya : Usaha NasionalLe Poire, Beth A. 2006. Family Communication Nurturing an Control in a Changing World. London: Sage Publications.McQuail, Dennis. 2000. Mass Communication Theory. London: SAGE publicationPotter, W. James. 2001. Media Literacy Second Edition. New Delhi: Sage PublicationPoerwanto, Ngalim. 1986. Prinsip-Prinsip dan Teknik Evaluasi Pengajaran. Remaja Karya. BandungSingarimbun, Masri dan Effendi . 1995. Metode Penelitian Survei. Jakarta: LP3ES.Slameto. 2003. Belajar dan Faktor-Faktor yang Mempengaruhinya. Jakarta: PT. Rineka Cipta.Sudjana, Nana. 2008. Penilaian hasil Proses Belajar Mengajar. Bandung: PT Remaja.RosdakaryaSugiyono, 2008. Metode Penelitian Kunatitatif Kualitatif dan R&D. Bandung Alfabeta.Syah, Muhibbin. 2006. Psikologi Belajar. Jakarta: PT Raja Grafindo Persada.Tim Indikator TIK Indonesia, Kominfo. 2011. Teknologi Informasi dan Komunikasi (TIK) Indonesia. Jakarta: Puslitbang Penyelenggaraan Pos dan Informatika Kementerian Komunikasi dan InformatikaWinarso, Heru Puji. 2005. Sosiologi Komunikasi Massa. Jakarta: Prestasi Pustaka.Winkel, W.S. 1996. Psikologi Pendidikan. Jakarta: Grasindo.World Bank 2012JurnalAstuti, Rulik Yuni. 2002. Pengawasan Orang Tua dan Kebiasaan Menonton Televisi. Malang: Universitas Negeri MalangCsikszentmihalyi, M. 1993. The Envolving Self: a Psychology for the third millenium. New York: Harper Perrenial.Nabi, Robin L dan Marina Kremar. 2004. Conceptualizing Media Enjoyment as Attitude: Implications for Mass Media Effects ResearchNakamura, J., dan Csikszentmihalyi, M. 2002. The Concept of Flow. In Handbook of positive psychology.Nikken, Peter. 2011. Parental Mediation Of Young Children‟s Internet Use. Netherlands: Erasmus University RotterdamSherry, John L. 2004. Flow and Media Enjoyment.Vorderer, Peter, dkk. 2004. Enjoyment: At Heart of Media Entertainment.Young, K. S. 1996. Internet Addiction: The emergence of a new clinical disorder. Paper presented at 104th annual meeting of the American Psychological Association, Toronto, Canada, August 10, 1996.Internethttp://www.iaincirebon.ac.id/blog/2013/03/09/393.htmhttp://edukasi.kompasiana.com/2012/04/13/makalah-kualitas-pendidikan-di-indonesia-saat-ini-454680.htmlhttp://www.mediaindonesia.com/ data/pdf/pagi/2008-12/2008-12-24_17.pdfhttp://wartawarga.gunadarma.ac.id/2010/01/dampak-dari-game-online-bagi-para-pelajar/http://www.hidayatullah.com/read/25878/16/11/2012/kejahatan-online-dan pentingnya-orantua-melek-internet.htmlhttp://www.jurnalmedan.co.id/index.php?option=com_content&view=article&id=72870:game-online-bisa-ganggu-prestasi-pelajarcatid=56:akademia&Itemid=63
Analisis Konten Seks dalam Affectionate game di Situs Girlsgogames.co.id. Skripsi. Rizqi Ganis Ashari; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (381.79 KB)

Abstract

Video game yang awalnya berperan sebagai media hiburan, kini dipandang sebagai media massa. Kemampuannya untuk menghasilkan gambar dan suara, interaktivitas, dan memperlihatkan proses mengenai sesuatu, menjadikan game serupa dengan media massa. Sayangnya, meski telah menjadi media massa, konten pada media ini belum diliterasikan. Sementara itu, konten berbahaya seperti seksualitas dapat menjadi bagian dari media ini. Akibatnya, game dianggap sebagai pemicu berbagai perilaku menyimpang, salah satunya perilaku seks oleh anak dibawah umur. Penelitian ini bertujuan mengetahui konten seks yang ada dalam affectionate game di situs Girlsgogames.co.id dan menjelaskan bagaimana konten seks itu dikemas dalam permainan. Affectionate game adalah game yang memberikan pengalaman bermain, dimana pemain dituntut untuk mengekpresikan cinta. Hasil penelitian dimanfaatkan sebagai satu bentuk kontribusi dalam keragaman penelitian game studies dan rekomendasi kepada orang tua mengenai konten seksualitas pada affectionate game, sehingga upaya pencegahan dapat dilakukan sejak dini. Selanjutnya, konten seks dibagi menjadi 2 variabel, seks melalui penampilan dan kegiatan seksualitas. Selain itu, posisi konten seks dalam permainan juga menjadi bagian penelitian ini. Metode deskriptif analisis isi kuantitatif, digunakan dalam penelitian ini. Sebanyak 54 game dipilih sebagai sample dari 343 game yang ada pada kategori Permainan Petualangan Bagi Anak Perempuan. Teknik penarikan sampel dilakukan dengan cara purposive sampling. Game dianalisis oleh 3 koder laki-laki. Uji reliabilitas dilakukan dengan rumus Holsti, dan seluruh variabel yang diteliti menunjukkan angka di atas 70%. Hasil analisis menunjukkan bahwa berdasarkan tampilannya, karakter primer affectionate game ditampilkan sebagai hypersexualized karakater, atau penggambaran yang dilebih-lebihkan pada bagian tubuh baik melalui pakaian (perempuan=68,5% dan laki-laki=22%), ketelanjangan sebagian (perempuan=64,8% dan laki-laki=16,7%), ataupun proporsi tubuh yang tidak realistik (perempuan=72,2% and laki-laki=33,3%). Sementara itu, kegiatan seks yang ditemukan di game ini adalah ciuman (87%) dan rayuan (13%). Sebagian besar kegiatan seks dikemas sebagai player act (90,76%), sehingga pemain memainkan konten seks sebagai tujuan utama permainan.
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Bagoes Widjanarko Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Bayu widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurul Hasfi Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Trixie Salawati Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti