Claim Missing Document
Check
Articles

Found 238 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

ANALISIS FAKTOR IKLAN TRUEVIEW IN STREAM YOUTUBE Atika Nabila; Djoko Setyabudi; Tandiyo Pradekso; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 1: Januari 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (315.559 KB)

Abstract

Beriklan merupakan salah satu cara agar sebuah produk atau merek dikenal dan mampu mempersuasi audiens. Namun, beberapa peneliti terdahulu, menemukan bahwa penghindaran terhadap iklan cukup besar. Termasuk pada iklan TrueView in Stream YouTube. Padahal, iklan diharapkan mampu mempersuasi audiens. Selain itu, belanja iklan semakin meningkat dari tahun ke tahun. Hal ini mengindikasikan bahwa iklan merupakan salah satu cara yang sangat diminati oleh perusahaan atau produsen dalam memasarkan produknya. Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui faktor-faktor yang terdapat dalam iklan TrueView in Stream YouTube. Penelitian eksploratif kuantitatif ini menghimpun data primer sebanyak 100 orang responden dengan instrumen penelitiannya adalah kuesioner. Analisis data yang digunakan adalah Analisis Faktor. Sebanyak 21 faktor telah diuji dengan KMO dan Bartlett’s diketahui nilainya 0,728 dengan signifikansi 0,000. Lalu melalui perhitungan model Principal Component Analysis (PCA) diperoleh 7 kelompok faktor yang memuat 21 faktor yang diuji, dengan kata lain, seluruh faktor yang diuji lolos. Keseluruhan faktor yang lolos ini memberikan kontribusi sebesar 63,750 persen dalam iklan TrueView in Stream. Stimulus Factor adalah faktor yang paling berpengaruh dalam iklan TrueView in Stream YouTube. Diketahui dari 2 kelompok pertama dengan nilai tertinggi dari keseluruhan kelompok faktor, merupakan faktor-faktor dari stimulus factor. Kelompok pertama berkontribusi sebesar 22,818 persen dan kelompok ke-2 sebesar 10,514 persen yang terdapat dalam iklan TrueView in Stream. Faktor-faktor tersebut adalah Visual yang jelas dan detil sehingga tidak membuat bingung, Bintang iklan yang menarik, W arna iklan yang menarik, Banyaknya bagian/topik yang berbeda yang saling terhubung, Pengaruh persuasi merek iklan, Respon emosional terhadap iklan (sedih, senang, marah), menegangkan atau membuat penasaran, Iklan yang baru, kreatif, dan tidak biasa, dan pergerakan gambar video yang cepat.Sesuai dengan Activation Theory of Information Exposure bahwa pesan adalah sumber stimulasi.Keywords: YouTube, Analisis Faktor, Iklan, Stimulus
PEJUANG HAK ANAK DALAM PROGRAM TOKOH DI CAKRA SEMARANG TV Nur Dyah Kusumawardhani Putri; I Nyoman Winata; Tandiyo Pradekso; Hedi Pudjo Santosa; M Bayu Widagdo
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (118.487 KB)

Abstract

Isu mengenai anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan menjadi sebuah topik yang menarik untuk diangkat dalam sebuah news features. Bentuk news features dipilih karena pengemasan informasinya ringan dan mudah dicerna oleh masyarakat. Dengan tema human interest, tayangan ini mengangkat tentang perjuangan pengajar anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan untuk memenuhi hak-hak anak. Narasumber yang diangkat yaitu Drs. Ciptono, Kepala SLBN Semarang dan Yuli Sulistyanto (BDN), fasilitator anak dari Yayasan Setara Semarang.Konsep news features ini disesuaikan dengan program Tokoh yang sudah ada di Cakra Semarang TV. Namun ada beberapa tambahan yang membuatnya berbeda yaitu liputan profil dan voxpop dari orang terdekat. Ada dua episode yang ditayangkan yaitu "Pengajar Manusia Murni" dan "Merajut Asa Anak Jalanan". Posisi pekerjaan dibagi berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, reporter, juru kamera, dan editor.Setelah melalui tahapan praproduksi, proses produksi, pascaproduksi, karya ditayangkan di Cakra Semarang TV pada hari Senin, tanggal 14 Mei dan 21 Mei 2014, pukul 18.00 WIB. Melalui karya ini diharapkan masyarakat memiliki cara pandang yang lebih baik dalam melihat dan memperlakukan anak berkebutuhan khusus dan anak jalanan.Kata kunci: news features, human interest, Tokoh, penyandang disabilitas, anak jalanan
Hubungan Terpaan Berita Iklan Tokopedia BTS dan Terpaan Word of Mouth dengan Minat Menggunakan Aplikasi Tokopedia Rhola Bachtiar Raharjo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 9, No 1: Januari 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This study aims to determine the relationship of each variable, exposure to Tokopedia BTS advertising news (X1), word of mouth exposure (X2) with interest in using the Tokopedia (Y) application. This research uses quantitative research methods. The data collection technique used non probability sampling with a sample size of 50 respondents. The analysis used to test the hypothesis is the Pearson correlation test. Hypothesis testing that has been carried out shows that Tokopedia BTS advertising news exposure with interest in using the Tokopedia application is 0.012 (<0.05) with a correlation coefficient of 0.354, so there is a positive relationship between news exposure and interest in using Tokopedia. The significance result of word of mouth exposure with interest in using is 0.019 (<0.05) with a correlation coefficient of 0.330, so there is a positive relationship between word of mouth exposure and interest in using the Tokopedia application.
Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yang Disampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter Banun Diyah Ardani; Tandiyo Pradekso; Muhammad Bayu widagdo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

1Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterMemahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yang Disampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBanun Diyah ArdaniUniversitas Diponegoro Semarang2Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterMEMAHAMI PENGALAMAN FOLLOWER DALAM MENERIMA PESAN TWEET BERBAYAR YANG DISAMPAIKAN OLEH BUZZER DI MEDIA SOSIAL TWITTERBanun Diyah Ardani11Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Departemen Ilmu Komunikasi,Jl Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang Indonesiabanundiyah@gmail.comAbstraksiTweet berbayar merupakan sebuah fenomena yang muncul seiring dengan perkembangan media sosial Twitter. Twitter memiliki kerumunan massa dimana dilihat sebagai peluang bagi sebuah perusahaan produk untuk berpromosi di Twitter. Memanfaatkan Buzzer yang telah memiliki banyak follower, perusahaan produk menyewa jasa Buzzer untuk menyampaikan pesan promosi dengan menggunakan bahasa dan gaya berbicara khas Buzzer. Follower dapat mengidentifikasi pesan tweet berbayar walaupun dikemas bukan seperti pesan promosi yang bersifat hard-selling.Penelitian ini bertujuan untuk memahami pengalaman follower dari Buzzer dalam menerima pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi para brand company untuk mmilih Buzzer dan format komuniasi yang tepat agar kampanye produk yang dilakukan berhasil. Penelitian ini merupakan penelitian kualitatif deskriptif dengan pendekatan fenomenologi. Pengumpulan data dalam penelitian ini menggunakan teknik wawancara mendalam (in-depth interview) dan menggunakan model komunikasi Maletzke sebagai rujukan kerangka berpikir.Hasil penelitian ini menunjukkan bahwa motivasi follower masuk di media sosial Twitter adalah untuk mendapatan informasi dan hiburan. Follower cenderung follow Buzzer dengan interest yang sama. Dalam menerima pesan tweet berbayar, follower melihat beberapa aspek yang melekat pada diri Buzzer sehingga pesan dapat diterima dengan baik oleh follower. aspek tersebut diantaranya adalah Image yang dilihat dari avatar dan bio, Reputasi yang dilihat dari karakter personal dan kompetensi profesional, Jaringan Pertemanan, Jaringan Buzzer, dan Interest. Follower melihat aspek tersebut sebagai kesatuan yang dimiliki oleh Buzzer dalam menyampaikan tweet berbayar. Dalam menyampaikan pesan tweet berbayar, Buzzer dituntut untuk menulis tweet yang padat, jelas, menarik. Follower juga melakukan pengawasan terhadap pesan yang disampaikan oleh Buzzer sehingga apabila terdapat tweet yang tida patut maka follower langsung menegur.Kata Kunci: Buzzer, tweet berbayar, Twitter, Follower3Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterUNDERSTANDING FOLLOWER EXPERIENCE WHEN RECEIVING PAID TWEET WHICH IS DELIVERED BY BUZZER IN SOCIAL MEDIA TWITTERBanun Diyah Ardani11Universitas Diponegoro Semarang, Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu Politik,Departemen Ilmu Komunikasi,Jl Prof. H. Soedarto, SH Tembalang Semarang Indonesiabanundiyah@gmail.comAbstractPaid tweet is the rising phenomenon while the social media Twitter is rising up. Twitter has a mass crowd which is viewed by product company as an opportunity to promote the product in Twitter. Using Buzzer who has may followers, product company contract Buzzer to deliver promotion message using their own language and character. Follower can identify paid tweet although Buzzer deliver the message unlike hard-selling promotion message.This research was aimed to understand follower experience when receiving paid tweet from Buzzer so that brand company could use is as recommendation in order to choose Buzzer and how to communicate with follower to success product campaign. The type of research is descriptive-qualitative with phenomenological approach. The collection of data uses in-depth interview technique. Research is using Maletzke Communication Model as reference to frame the mind.The result showed that the follower motivation while entering Twitter is to get information and entertainment. Follower tend to follow Buzzer who has same interest. While receiving paid tweet, follower observe some aspects from Buzzer. The aspects are Image which is viewed by follower from avatar and bio, Reputation which is viewed from personal character and professional competence, Friend Network, Buzzer Network, and Interest. Follower observe those aspects as the whole package from Buzzer when deliver paid tweet. Buzzer has to deliver clearly interesting paid tweet less than 140 character. Follower watch the message which delivered by Buzzer so if there is inappropriate message, Follower will warn Buzzer.Key words: Buzzer, paid tweet, Twitter, Follower4Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterDAFTAR ISICover Dalam 1Abstrak Versi Bahasa Indonesia 2Abstrak Versi Bahasa Inggris 3Daftar Isi 4BAB IPENDAHULUAN 51.1 Latar Belakang 51.2 Permasalahan 71.3 Tujuan Penelitian 81.4 Signifikansi Penelitian 8BAB II 9KERANGKA TEORITIS 9BAB III 11 METODE PENELITIAN3.1 Metode Penelitian 113.2 Paradigma Penelitian 113.3 Sifat Penelitian 113.4 Informan dan Lokasi Penelitian 123.5 Metode Pengumpulan Data 123.6 Metode Analisis Data 12BAB IV 14HASIL PENELITIANBAB V 17PENUTUPDAFTAR PUSTAKA 185Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB IPENDAHULUAN1.1 Latar Belakang PenelitianTwitter merupakan situs jejaring sosial yang telah mengalami pertambahan fungsi, tidak hanya sebagai situs jejaring biasa, tetapi juga merupakan media komunikasi pemasaran online. Bahkan, karakteristik yang dimiliki Twitter memungkinkan terjadinya pola komunikasi Online Word of Mouth atau oleh sebagian kalangan dikenal sebagai buzzing. Banyak perusahaan yang ingin produknya menjadi topik pembicaraan di Twitter. Mereka berusaha mengikuti dan beradaptasi dengan perubahan perilaku mengkonsumsi media dari konsumen.Dalam komunikasi buzzing individu yang melakukan aktivitas buzzing disebut dengan Buzzer. Buzzer dalam arti yang umum dijelaskan sebagai alat atau suatu benda yang menghasilkan suara yang bisisng sehingga menarik perhatian. Dalam dunia Twitter pengertian Buzzer tidak persis seperti penjelasan tersebut. Buzzer di Twitter adalah seseorang yang memiliki akun di media sosial Twitter yang memiliki pengaruh besar, pengikut (follower) fanatik, kicauan (tweet) sering dikucaukan ulang (retweet) oleh follower, memiliki jumlah follower yang banyak dan mampu berinteraksi dengan mereka. (“Tertarik Menjadi Buzzer di Twitter”, oleh Rahadian P. Paramita, ditulis pada 4 Februari 2012, dalam http://salingsilang.com/baca/tertarik-menjadi-Buzzer-di-Twitter).Twitter tidak hanya digunakan sebagai media komunikasi antar penggunanya untuk memberi tahu aktivitas yang sedang mereka kerjakan, namun juga para pengguna mulai menggunakannya untuk aktivitas promosi (Majalah Digital Business, volume 02/2009 halaman 46). Brand Company menggunakan Twitter untuk aktivitas promosi. Melalui Buzzer, brand company menyampaikan tweet yang berkaitan dengan pesan promosi produk. Tweet dari Buzzer memiliki kecendurungan untuk disebarluaskan kembali oleh follower melalui fitur Reply dan Retweet sehingga pesan tweet berbayar memiliki potensi viral marketing sehingga banyak orang yang mengetahui dan membaca tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer.6Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter1.2 Permasalahan PenelitianFenomena tweet berbayar merupakan fenomena yang unik karena tidak terjadi di media sosial lain. Twitter memiliki media usage yang berbeda dengan media sosial lain dimana Twitter merupakan media sosial yang bersifat cepat, praktis, dan selalu up-to-date sehingga memunginkan pengguna untuk mendapatkan informasi terbaru. Selain itu, Twitter adalah media personal dimana Buzzer tidak hanya bisa menyampaikan tweet yang bersifat pribadi namun juga tweet tentang suatu produk yang dikemas secara personal dan sesuai dengan karakter dan gaya berbicara. Berangkat dari keunikan (uniqueness) fenomena tweet berbayar di media sosial Twitter, penelitian ini cukup signifikan untuk diteliti yakni memahami bagaimana pengalaman yang dialami oleh follower dalam menerima pesan tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer dalam media sosial Twitter untuk digunakan sebagai rekomendasi bagi brand company dalam memilih Buzzer dalam program kampanye produk sehingga tujuan komunikasi brand company terhadap follower tepat sasaran.1.3 Tujuan PenelitianTujuan penelitian ini adalah untuk memahami pengalaman follower (komunikan) dalam menerima pesan tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer di media sosial Twitter sehingga dapat menjadi rekomendasi bagi brand company dalam memilih dan menempatkan posisi Buzzer dalam kampanye produk agar tujuan komunikasi tepat sasaran.1.4 Signifikansi PenelitianPenelitian ini secara teoritis diharapkan mampu memberikan kontribusi bagi penelitian ilmu komunikasi khususnya dalam mengadopsi pemikiran teoritis Model Komunikasi Maletzke dalam konteks komunikasi buzzing di media sosial Twitter dimana akan dilihat sebagai Bangunan Teoritik baru dalam proses komunikasi buzzing sehingga dapat menjadi referensi bagi Brand company dan Advertising/Digital Agency dalam memahami pengalaman follower dalam memahami tweet berbayar.BAB IIKERANGKA TEORI2.1 Model Komunikasi MaletzkeDalam penelitian yang bertujuan memahami pemaknaan follower terhadap tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer dalam media sosial Twitter akan menggunakan model komunikasi Maletzke dimana pengalaman seseorang dalam memahami tweet berbayar tentu berbeda-beda. Terdapat banyak model komunikasi yang ada menjelaskan fenomena proses komunikasi. Model komunikasi Maletzke ini7Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitterdikemukakan oleh seorang peneliti dari Jerman, Maletzke (1963) yang menyampaikan perspektif dengan menggunakan skema “Schema des Feldes der Massenkommunikation”. Secara metodologis, model komunikasi ini merupakan proses yang kompleks dalam area sosial-psikologis dimana memiliki multi-eksplanasi. Maletzke membuat model berdasarkan elemen tradisional dasar yakni yang meliputi komunikator, pesan, medium, dan komunikan. Diantara medium dan komunikan terdapat dua komponen yakni tekanan (pressure/constraint) dari medium dan citra komunikan (receiver’s image) terhadap medium (McQuails dan Windahl, 1993: 46). Gambar 1.6 Model Komunikasi MaletzkeSumber: McQuails dan Windahl, 1993: 52Dari gambar diatas, Maletzke memperlihatkan secara menyeluruh mengenai komunikasi massa sebagai sebuah proses yang secara psikologis dan sosiologis dengan kompleks sifatnya. Mengandung elemen-elemen tradisional dimana kita menemukan tanda yakni C (Communicator), M (Message), Medium, dan R (Response). Dalam masing-masing bagian tersebut terdapat hal-hal yang mempengaruhi (McQuails dan Windahl, 1993: 52).8Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB IIIMETODOLOGI3.1 Metode PenelitianPenelitian ini menggunakan pendekatan deskriptif kualitatif. Penelitian kualitatif bertujuan untuk menggambarkan secara mendetail mengenai objek sehingga mendapatkan gambaran mengenai proses bagaimana follower selaku komunikan dalam model komunikasi Maletzke komunikasi memiliki image atau penilaian teorrsendiri terhadap Buzzer selaku komunikator3.2 Paradigma PenelitianPenelitian menggunakan paradigma interpretif menggunakan fenomenologi. Paradigma interpretif digunakan pada penelitian ini karena bertujuan untuk melihat fenomena dan menggali pengalaman follower dalam memahami tweet berbayar yang dilakukan oleh Buzzer di media sosial Twitter.3.3 Sifat PenelitianPenelitian yang dilakukan ini bersifat interpretif. Penelitian interpretif mencoba menafsirkan isi pesan yang muncul dalam wawancara sehingga dapat mengungkap pola tentang gejala secara rinci dan pada sejumlah informasi. Data-data yang dikumpulkan bukan berupa penyajian angka melainkan kata sebagai sebuah penggambaran. Sehingga, sajian berupa kutiapan dan data-data untuk memberikan gambaran tentang laporan penelitian. Secara harfiah, metode penelitian untuk membuat gambaran mengenai situasi atau kejadian.3.4 Informan dan Lokasi PenelitianPenelitian dilakukan dengan beberapa informan dari latar belakang yang berbeda. Informan yang diambil peneliti adalah follower Buzzer yang memiliki akun Twitter serta secara aktif berpartisipasi dalam Twitter minimal selama satu tahun terakhir, dengan jumlah follower minimal 200, dan rata-rata jumlah tweet perhari minimal 10 tweet.3.5 Metode Pengumpulan Dataa. Data Primer dalam penelitian diperoleh melalui wawancara mendalam (indepth interview) dengan pengguna Twitter yang merupakan follower dari Buzzer.b. Data sekunder riset ini adalah jurnal, artikel, internet, makalah, tulisan di blog, dan data pengguna internet.9Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitter3.6 Metode Analisis DataMetode analisis data yang digunakan dalam penelitian ini adalah metode analisis data fenomenologi Stevick-Colaizzi-Keen (dalam Kuswarno, 2009: 70) yakni membuat deskripsi lengkap peristiwa atau fenomena yang dialami langsung oleh narasumber, menelaah setiap pernyataan verbal yang berhubungan dengan permasalahan penelitian, mengelompokkan setiap unit makna ke dalam tema-tema tertentu kemudian membuat deskripsi tekstural dan deskripsi structural, menggabungkan deskripsi tekstural dan struktural untukk menentukan makna dan esensi dari fenomena, membuat penjelasan menyeluruh dari setiap makna dan esensi fenomena yang didapat.BAB IVPEMBAHASAN HASIL PENELITIANBerdasarkan temuan penelitian di lapangan dan analisis yang telah dilakukan dapat diambil kesimpulan bahwa Brand Company menggunakan jasa Buzzer untuk menyampaikan tweet berbayar yang berisi pesan promosi produk perusahaan tersebut. Buzzer tidak hanya berasal dari kalangan selebritis atau orang terkenal namun juga orang biasa yang memiliki banyak follower. Follower tidak hanya melihat Buzzer melalui apa yang disampaikan namun juga beberapa faktor yang melekat pada diri Buzzer sehingga follower percaya terhadap apa yang disampaikan oleh Buzzer. Buzzer memiliki image, reputasi, jaringan pertemanan, jaringan buzzer, dan interest. Follower menilai bahwa Buzzer membangun image dengan baik melalui avatar dan Bio. Dengan menampilkan diri dengan menarik melalui avatar dan Bio membuat impresi Follower terhadap Buzzer baik. Reputasi merupakan faktor yang mempengaruhi bagaimana follower memahami Buzzer. Reputasi ini dibentuk oleh atribut personal yang terdiri dari karakter personal (sifat Buzzer dan karakter Buzzer) dan kompetensi professional (pekerjaan, keahlian dan prestasi). Karakter personal Buzzer dalam Twitter dipengaruhi oleh sifat diri dan lingkungan sosial dimana Buzzer berinteraksi. Sifat Buzzer seringkali dapat ditangkap oleh follower karena terlihat dalam menyampaikan pesan. Follower cenderung follow Buzzer yang memiliki interest di bidang yang sama. Alasan follower follow Buzzer adalah seringkali Buzzer tidak hanya menyampaikan tweet berbayar namun juga tweet yang berkaitan dengan keahlian dan pekerjaannya. Follower merasakan manfaat ketika Buzzer menyampaikan informasi yang bisa memperkaya pengetahuannya. Seringkali follower memberikan feedback yakni me-RT tweet Buzzer atau reply tweet Buzzer yang berisi informasi tambahan10Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial Twitteratau pandapat dirinya mengenai topic tertentu. Prestasi Buzzer merupakan suatu penguat bagi follower bahwa ternyata telah follow orang yang tepat. Seperti layaknya follower Buzzer juga berinteraksi dengan jaringan pertemanannya. Follower terpaksa sering mengikuti percakapan Buzzer dan teman-temannya karena sering munculo di Twitter.Buzzer tidak bekerja sendiri dalam menyampaikan tweet berbayar, terdapat Buzzer lain yang menyampaikan tweet berbayar mengenai produk yang sama. Hal tersebut diidentifikasi follower dari penggunaan hashtag yang sama dalam tweet berbayar. Buzzer saling bekerjasama untuk meramaikan tweet berbayar di Twitter. Hal tersebut berhasil membuat follower penasaran dan lalu merasa ingin tahu terhadap apa diperbincangkan sehingga membuat follower kepo dan mencari informasi terkait.Dalam proses komunikasi dimana Buzzer menyampaikan tweet berbayar, Buzzer mengalami tekanan dari sisi pesan dan medium. Dari segi pesan Buzzer dituntut untuk membuat tweet berbayar yang menarik agar mencuri perhatian follower. Tidak hanya itu bahasa maupun penggunaan kata yang disampaikan Buzzer dalam tweet berbayar tidak lagi bisa seenaknya seperti menyampaikan tweet pribadi. Dari segi medium, Twitter memiliki karakteristik yang khas yang bisa menjadi kelebihan maupun kekurangan. Twitter hanya memiliki 140 karakter sehingga tekanan dari medium muncul ketika Buzzer harus menyampaikan pesan yang singat, jelas, padat sehingga tidak menimbulkan twit-longer. Twit-longer merupakan hal yang dihindari oleh Buzzer dimana follower akan malas membaca pesan yang terpotong dan harus membuka sebuah tautan link. Follower juga melakukan pengawasan terhadap pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer, apabila berisi konten yang tidak etis maka follower langsung memberikan feedback (RT/Reply).Adanya fenomena tweet berbayar membuat brand company untuk menyusun strategi komunikasi melalui Buzzer. Penerimaan pesan yang dilakukan oleh follower akan menjadi aspek pertimbangan brand company dalam menyusun pesan dan memiliki Buzzer sehingga kampanye produk yang dilakukan berhasil.11Memahami Pengalaman Follower dalam Menerima Pesan Tweet Berbayar yangDisampaikan oleh Buzzer di Media Sosial TwitterBAB VPENUTUPKesimpulanBerdasarkan pembahasan hasil penelitian, maka Model Komunikasi Maletzke masih relevan untuk diadopsi sehingga bisa menjelaskan bagaimana memahami follower dalam menerima pesan tweet berbayar yang disampaikan oleh Buzzer. Model Komunikasi Maletzke merupakan model komunikasi lama yang masih mampu relevan dengan era sekarang dimana asumsinya adalah orang menggunakan media untuk memuaskan kebutuhan akan informasi. Social media Twitter justru malah semakin mempermudah siapapun untuk menyampaikan pesan promosi.DAFTAR PUSTAKABoone, L.E., & Kurtz. D.L. (1999). Contemporary Marketing. Florida:Harcourt Brace and CompanyDenzin, Norman K. & Yvonne S. Lincoln. (2005). The Sage Handbook of QualitativeHawkins, Delbert. (2007). Consumer Behavior: Building Marketing Strategy. New York: McGraw-HillKartajaya, Hermawan. (1996). Marketing Plus 3: Serial Marketing Populer. Jakarta: Sinar harapanKartajaya, Hermawan. (2002). Marketing in Venus. Jakarta: Gramedia Pustaka UtamaKotler, Philip. (2000). Marketing Management: Analysis, Planning, Implementation and Control. New Jersey: Prentice HallKotler, Philip. (1971). Marketing Decision Making, A Model, Building Approach . New York: Richart and Winston, IncLincoln, Yvonna S dan Egon G. Guba. (1989). Naturalistic Inquiry: 1stMc Quails, Daniel and Sven Windahl. (1993). Communication Models. New York: Longman Publishing
Pengaruh Terpaan Iklan Situs Jual Beli Online dan Faktor Demografi terhadap Minat Bertransaksi Online Yuliantika Hapsari; Hedi Pudjo Santosa; M Bayu Widagdo; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (259.337 KB)

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui pengaruh terpaan iklansitus jual beli online terhadap minat bertransaksi online. Selain itu, penelitianini juga bertujuan untuk menguji faktor demografi yang memediasi terpaaniklan situs jual beli online dan minat bertransaksi online.Penulis menggunakan Teori Respon Kognitif dan Teori KategoriSosial untuk menjelaskan pengaruh terpaan iklan situs jual beli online danfaktor demografi terhadap minat bertransaksi online. Populasi penelitian iniadalah khalayak yang pernah melihat iklan situs jual beli online dan sampelyang diambil sebanyak 100 orang, dengan teknik purposive sampling.Dalam uji hipotesis, penulis menggunakan Analisis Regresi HirarkiBerganda. Uji hipotesis menunjukkan nilai signifikansi variabel terpaan iklanterhadap variabel minat bertransaksi online adalah 0.000, sehingga terdapatpengaruh langsung terpaan iklan terhadap minat bertransaksi. Sedangkannilai signifikansi variabel terpaan iklan terhadap minat bertransaksi onlinemelalui variabel usia, jenis kelamin, tingkat pendidikan adalah0.296;0.234;0.131 nilai signifikansi > 0.05 sedangkan variabel terpaan iklanterhadap variabel minat bertransaksi melalui tingkat pendapatan sebesar0.001, nilai signifikansi < 0.05, sehingga terpaan iklan berpengaruh terhadapminat bertransaksi hanya melalui tingkat pendapatan.
KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012 Rizky Amalya Hadiningtyas; Tandiyo Pradekso; Djoko Setiabudi
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (169.098 KB)

Abstract

KOMUNIKASI STRATEGIS JOKOWI DALAM PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstrakKondisi masyarakat yang dinamis dan semakin kritis dengan perkembangan politik membawa dampak perubahan cara atau pola yang biasanya dilakukan oleh partai politik untuk memenangkan perhatian masyarakat sebagai pendukung partai. Untuk itu, institusi politik membutuhkan metode dan konsep baru sebagai sarana pendekatan alternatif guna membangun hubungan yang lebih efektif dengan konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan masyarakat non partisan yang menjadi target audiens kontestan, yakni marketing politik. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya dalam pertarungan politik pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran.Berawal dari situlah maka, penelitian ini bertujuan untuk menggambarkan secara komprehensif pelaksanaan komunikasi strategis dalam konteks politik pada kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam memenangkan pemilihan umum kepala daerah secara langsung di wilayah DKI Jakarta tahun 2012. Konsep dasar yang digunakan untuk menganalisis data adalah Marketing Politik (Firmanzah) dan Handbook of Political Marketing (Newman). Metode yang digunakan dalam penelitian ini ialah deskriptif kualitatif dengan menggunakan pendekatan studi kasus. Pengumpulan data dilakukan melalui wawancara mendalam, dokumentasi, rekaman arsip, dan perangkat fisik.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan politik dan pembentukan image politik kandidat dalam menciptakan, membentuk dan memperkuat persepsi target pemilih kontestan untuk memenangkan pertarungan politik yang ketat dengan menggunakan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien pada target pemilih.Kata kunci: strategi pemasaran, bauran pemasaran, persepsiTHE STRATEGIC COMMUNICATION OF JOKOWI IN PEMILUKADA DKI JAKARTA 2012AbstractThe condition of society, nowadays, become more dynamic and more critical in the political development. It is make a changes for the impact of the way or the pattern, that is usually use by the political party to win attention of the society as a supporter of the party. For that, the political institutions need a new methods and concepts as a means of alternative approaches to build more effective relationship with constituents candidate, contituents other party, and non partisan as a public target audience, it is called a political marketing. The campaign team of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama used concepts and methods in Newman’s political marketing to achieve their communication goals with his victory in the Pemilukada DKI Jakarta 2012 which held two rounds.This research aims to describe implementation of strategic communication of Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama to win in Pemilukada DKI Jakarta 2102. The basic concepts which used to analyze the data is the Political Marketing by Firmanzah and the Handbook of Political Marketing by Newman. The research method is descriptive qualitative research with the case study approach. The data was collected through in depth interviews, documentation, archival footage, and physical tools.Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama’s campaign team is very concerned about the marketing strategy especially segmentation. Because the accuracy of segmentation voters market, played a major role in accuracy of political message and image of political candidate for creating, shaping and strengthening the perception of the target audiences to win the election used marketing communication mix for more effective and more efficient.Keywords: marketing strategic, marketing mix, perceptionPENDAHULUANPerubahan pemilihan kepala daerah dari dipilih oleh DPRD secara bersamaan menjadi dipilih langsung oleh rakyat membawa situasi politik terutama di tataran lokal (daerah) menjadi semakin dinamis. Pemilukada secara langsung yang menjadi bagian integral dari akselarasi demokratisasi di tingkat nasional dinilai dapat mengakomodasi sistem seleksi terpadu yang saling melengkapi untuk melahirkan kepala daerah terpilih yang berkualitas, mulai dari seleksi sistem kenegaraan, partai politik, administratif, hukum administratif sampai seleksi politis.Di sisi lain, sistem multipartai menjadikan kompetisi antar kandidat di daerah semakin tinggi dalam era globalisasi dengan kondisi masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan politik Indonesia. Untuk itu, politisi yang ikut serta dalam persaingan politik yang ketat tidak hanya semata – mata menonjolkan kemampuan kandidat atau kapasitas organisasional dari politisi tetapi juga membutuhkan dukungan dan jaringan dari pihak lain. Kondisi ini menuntut politisi untuk menerapkan cara – cara yang lebih tepat dan relevan dengan melakukan pendekatan yang lebih persuasif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik.Marketing politik yang merupakan komunikasi strategis dalam kajian komunikasi politik ialah perencanaan yang matang dalam menggunakan elemen – elemen yang terkandung pada strategi pemasaran dan bauran pemasaran sehingga dapat menghasilkan sebuah komunikasi yang efektif dan efisien. Keberhasilan marketing politik dalam berkomunikasi akan menciptakan dampak yang lebih tinggi kadarnya dibanding dengan komunikasi informatif, meliputi dampak kognitif, dampak afektif, dan dampak behavioral.Sebagaimana dengan komunikasi strategis yang berperan membujuk, menggerakkan, dan meyakinkan target audiens dalam mencapai tujuan, metode dan konsep dalam marketing politik juga memiliki peran membantu partai politik dan kandidat membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat agar menjadi lebih baik dalam mengenal masyarakat terutama yang menjadi target audiens sehingga dalam pengembangan program kerja partai sesuai dengan keinginan dan kebutuhan masyarakat.Terdapat fenomena menarik di antara Pemilukada yang terjadi sepanjang tahun 2012, yakni Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang diikuti oleh enam pasangan calon Gubernur dan calon Wakil Gubernur, dimana Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama adalah Gubernur – Wakil Gubernur DKI Jakarta terpilih dengan masa jabatan 2012 – 2017 menjadi bukti bahwa penggunaan metode kampanye yang tepat, relevan, dan sesuai dengan kondisi masyarakat sekarang ini akan menentukan kalah – menang kontestan pemilihan umum.Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012 sesuai dengan konsep marketing politik yang disampaikan oleh Newman (1999: 8) bahwa terdapat enam langkah, meliputi: (1) environmental research; (2) internal & external assessment analysis; (3) strategic marketing; (4) goal setting & campaign strategy; (5) communication, distribution, and organization plan; (6) key markets & outcomes.Keberhasilan marketing politik yang diterapkan tim kampanye dalam berkomunikasi dengan masyarakat Jakarta terutama yang menjadi target audiens mampu menciptakan dampak behavioral. Salah satunya adalah menggiring Addie MS, seorang konduktor ternama di Indonesia, menjadi salah seorang simpatisan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melalui kicauan tweet-nya yang menjadi virus liar positif dengan pengaruh yang sangat kuat dalam perang media sosial antara kubu Fauzi Bowo dengan kubu Joko Widodo, antara lain terkait slogan Fokoke Jokowi dan hastag JOKOWINNERS (Leinad, 2012).Partisipasi yang tinggi dari masyarakat Jakarta dalam keikutsertaan kegiataan pengadaan baju kotak – kotak yang menjadi ikon Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama hingga mampu berubah menjadi trend di semua kalangan masyarakat Jakarta yang menghiasi di setiap sudut jalan di wilayah DKI Jakarta (Rizal, 2012). Adapula eksposure yang tinggi dari media massa terkait pemberitaan aktivitas komunikasi Joko Widodo. Pasalnya Joko Widodo menjadi sosok media darling bagi media massa nasional karena kampanye yang menarik dari kandidat sehingga membuat audiens mencari – cari berita tentang kandidat. Untuk itu, semua pemberitaan mengenai kandidat adalah pemberitaan dengan nilai berita yang tinggi bagi media (Saut, 2012).PEMBAHASANMarketing politik merupakan sebuah perencanaan dan pelaksanaan kampanye untuk mengatasi isu tertentu yang akan menghasilkan suatu rencana komunikasi yang saling terkait satu sama lain. Rencana komunikasi tersebut dalam wujud strategi komunikasi yang dibuat secara hati – hati berdasarkan tujuan yang dikembangkan disertai dengan sasaran audiens yang spesifik, kebutuhan akan informasi yang telah diidentifikasi secara cermat dan ketat, dan penggabungan secara optimal strategi pemasaran dan komunikasi pemasaran yang dibuat dengan biaya yang efektif dan efisien dengan hasil yang diinginkan.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama merupakan tim pemenang yang menggunakan konsep dan metode dalam marketing politik Newman untuk mencapai tujuan komunikasi dengan kemenangannya pada Pemilukada DKI Jakarta 2012 yang berlangsung dua putaran. Melalui berbagai langkah strategis dalam marketing politik, timkampanye sangat memerhatikan elemen strategi pemasaran dalam marketing politik terutama segmentasi pemilih karena ketepatan pembagian pasar pemilih, berperan besar dalam ketepatan penyampaian pesan dan pembentukan image politik dalam menciptakan, membentuk, dan memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta, yang didukung dengan penggunaan bauran komunikasi pemasaran yang efektif dan efisien.Tentu saja, sebelum menerapkan metode dan konsep strategi pemasaran dan bauran pemasaran dalam marketing politik, tim kampanye telah lebih dulu mengenal publik terutama target audiens baik secara internal maupun eksternal melalui riset pasar dan analisis situasi. Hasil riset pasar melalui kunjungan langsung tersebut, memberikan pertimbangan bagi tim dan kandidat sebagai aktivitas monitoring pencarian dan pengumpulan informasi atas perkembangan isu – isu dalam opini publik salah satunya terkait kandidat yang diajukan dalam pemilihan yang sesuai dengan kebutuhan dan keinginan masyarakat atas figur pemimpin yang mampu membawa perubahan kota dan kehidupan masyarakat khususnya keadaan ekonomi. Selain itu, riset pasar juga berperan membantu tim untuk memahami masyarakat dalam identifikasi kondisi heterogenitas masyarakat Jakarta. Kemudian berdasarkan identifikasi masyarakat dalam riset pasar tersebut, tim melakukan segmentasi pasar pemilih pada masyarakat Jakarta guna mengidentifikasi khalayak mana yang sanggup dilayani dan menguntungkan bagi kandidat dalam memperoleh dukungan suara saat pemilihan umum. Tim melakukan pembagian pasar berdasarkan pengembangan pendekatan etnis Jawa, etnis China, dan non muslim pada konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan. Berdasarkan segmen pemilih tersebut, kemudian tim melakukan pembidikan dan pemilihan pada masing – masing wilayah yang meliputi wilayah Jakarta Barat, Jakarta Timur, Jakarta Pusat, Jakarta Utara, dan Jakarta Selatan.Pemilih dibanjiri oleh informasi politik dalam jumlah besar dan beragam yang berasal dari masing – masing kandidat pada Pemilukada DKI Jakarta 2012. Kondisi tersebut menyulitkan pemilih untuk memilah – milah informasi guna membuat keputusan perilaku pemilih saat pemilihan umum karena adanya kesamaan pada masing – masing informasi politik dari kandidat. Untuk itu, tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan upaya untuk memposisikan kandidat pada tempat yang jelas, berbeda, dan diinginkan dalam benak pemilih dibandingkan dengan tempat kandidat lain. Tim kampanye melakukan upaya memposisikan kandidat yang memberikan keunggulan paling besar dalam benak pemilih dengan menempatkan image politik kandidat dan produk politik yang sesuai dengan masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audienskandidat. Tim yang memiliki tujuan komunikasi strategis, yakni mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta, melakukan upaya positioning pada segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat melalui image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang menjunjung tinggi empat pilar kebangsaan yang menjamin keberagaman dan sosok pemimpin yang jujur dan amanah dalam kepemimpinannya. Untuk memperkuat persepsi dalam pembentukan image politik tersebut, tim mewujudkannya dalam dua tahapan produk politik, yakni core product bahwa kelayakan kandidat tersebut karena kandidat memimpin Jakarta dengan menjamin keberagaman dalam kebersamaan pada heterogenitas masyarakat Jakarta dengan didukung actual product kandidat melalui hasil kinerja Joko Widodo selama menjabat sebagai wali kota Solo yang mendapat peringkat ketiga sebagai walikota terbaik tingkat internasional. Pembentukan image politik yang diperuntukkan segmen kelompok masyarakat konstituen kandidat yang berperan memperkuat persepsi yang diwujudkan dalam bentuk dua tahapan produk politik tersebut memiliki keterkaitan dengan past records kandidat yang terekam dalam benak pemilih (Nursal, 2004: 153).Tim kampanye juga membentuk image politik yang sama dengan konstituen kandidat pada konstituen partai lain dan non partisan sebagai langkah awal mengenalkan sosok kandidat dalam benak pemilih tersebut. Karena, kondisi kognitif dan afektif pada segmen kelompok masyarakat konstituen partai lain dan non partisan yang berbeda dengan konstituen kandidat maka tim perlu melakukan aktivitas positioning dengan membentuk image politik kandidat secara bertahap. Setelah konstituen partai lain dan non partisan berusaha mengenali sosok Joko Widodo melalui image politik sebelumnya, tim kembali membentuk image politik bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin yang mewakilkan diri setiap individu dalam masyarakat Jakarta terutama individu yang tergolong konstituen partai lain dan non partisan. Pembentukan image politik ini diperkuat dengan karakter Joko Widodo sebagai pribadi yang sederhana, apa adanya, tulus, ikhlas, dan mengutamakan komunikasi yang humanis dalam berkomunikasi dengan siapa saja. Karakter tersebut dibangun dan ditunjukkan ketika kandidat melakukan kunjungan langsung ke pasar, kawasan tua/kawasan padat, cagar budaya maupun rumah penduduk yang telah ditetapkan sebagai tempat kampanye guna berinteraksi langsung dengan masyarakat untuk mengenal maupun hanya sekedar memperkenalkan diri Joko Widodo kepada basis pemilihnya. Kemudian, tim membentuk image politik selanjutnya bahwa Joko Widodo adalah sosok pemimpin pendengar dan dibutuhkan Jakarta saat itu. Terbentuknya image politik tersebut semakin memungkinkan konstituen partai lain dan nonpartisan mengenal kandidat yang memungkinkan pula terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak mereka.Positioning politik tidak akan dapat dilakukan tanpa adanya proses penciptaan dan komunikasi politik. Karenanya, ketepatan dan konsistensi yang jelas pada elemen branding, produk politik, dan pesan politik akan membantu tim dalam pembentukan identitas politik kandidat yang kuat dan jelas guna membentuk persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih kandidat yang telah ditetapkan sebagai target audiens. Pesan politik bukan hanya sekedar jargon politik melainkan di dalamnya berisikan tujuan dan harapan yang diberikan kandidat sebagai daya tarik bagi basis pemilih. Dalam marketing politik, strategi pengelolaan dan perancangan pesan merupakan faktor yang perlu diperhatikan oleh tim kampanye dalam melakukan aktivitas branding dengan menonjolkan image politik kandidat sehingga menjadi pembeda dibanding pesaing. Image politik yang bagus di benak basis pemilih akan memberikan efek positif bagi pemilih guna memberikan prioritas keputusan perilaku politik mereka dengan memberikan dukungan suara pada kandidat saat pemilihan umum.Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama membentuk dan menyampaikan konsistensi pesan politik, yaitu Jakarta membutuhkan perubahan yang dapat diwujudkan dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama. Untuk mempercepat dan memperkuat penyampaian pesan politik dalam benak basis pemilih, tim kemudian mewujudkannya dalam tiga produk politik. Core product berupa penjaminan hak masyarakat atas penyelesaian problema Jakarta dan penjaminan keberagaman dalam kebersamaan masyarakat Jakarta, didukung dengan actual product berupa sembilan unggulan dan enam puluh delapan ribu kegiatan pemerintah daerah (PemDa) DKI Jakarta serta augmented product berupa perwujudan perubahan Jakarta dengan Jakarta Bersih, Jakarta Bangkit, dan Jakarta Bersama menjadi Jakarta Baru bersama dengan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama.Komunikator sebagai orang yang menyampaikan pesan politik juga memiliki peran dan ikut andil pada proses positioning dengan membentuk image politik dan produk politik yang sesuai dengan harapan pemilih. Faktor komunikator yang meliputi kredibilitas dan daya tarik komunikator yang diperoleh dengan adanya etos dan sikap komunikator sangat berperan dalam pembentukan image politik di benak basis pemilih (Effendy, 2007: 38-39). Karena, pemilih akan tertarik dengan suatu hal yang ditawarkan secara politik jika hal tersebut memiliki kedekatan ideologi dengan diri pemilih, yang kemudian dibangun oleh tim dengan merepresentasikan kedekatan ideologis pemilih pada diri Joko Widodo selaku komunikator.Terbentuknya persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta di benak basis pemilih menciptakan daya tarik baru sendiri bagi basis pemilih terhadap aktivitas komunikasi tim atas penawaran solusi alternatif penyelesaian problema Jakarta. Daya tarik tersebut dibentuk dan diperkuat tim hingga mampu menciptakan komitmen dalam benak basis pemilih untuk mendukung dan memilih kandidat saat pemilihan umum. Pembentukan komitmen tersebut merupakan bentuk konsistensi image politik, pesan politik, dan produk politik kandidat sehingga mampu meminimalisasi bauran pemasaran price untuk berkomitmen memilih Joko Widodo saat pemilihan oleh basis pemilih, yang kemudian tim dapat meningkatkan manfaat yang diperoleh pemilih atas price tersebut dalam kegiatan pengadaan baju kotak – kotak. Hal ini karena kegiatan pengadaan baju kotak – kotak menciptakan wirausahawan dari masyarakat Jakarta kalangan menengah ke bawah yang ikut serta dan menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Kegiatan pengadaan baju kotak – kotak semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama memimpin Jakarta. Kelayakan tersebut salah satunya bahwa kandidat adalah pemimpin yang bisa dan mampu membawa perubahan Jakarta khususnya keadaan ekonomi masyarakat Jakarta terutama rakyat kecil sehingga semakin memperkuat terbentuknya bauran pemasaran price di benak pemilih, hingga mampu menciptakan arus besar masyarakat Jakarta akan solidaritasnya mendukung kandidat di setiap kawasan di DKI Jakarta, yang menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat.Semua kegiatan yang dilakukan tim guna mengubah opini publik menjadi persepsi publik juga diperlukan perancangan kegiatan promosi dengan penetapan bauran komunikasi pemasaran yang dapat digunakan sebagai sarana untuk menyampaikan image politik, produk politik, dan pesan politik pada pemilih. Pemilihan media perlu dipertimbangkan karena tidak semua media tepat sebagai sarana untuk melakukan promosi. Kandidat perlu memerhatikan dengan seksama dan bijak atas media yang paling efektif dalam mentransfer pesan politik pada masing – masing segmen konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama melakukan promosi terbagi menjadi dua media, yakni above the line dan below the line. Above the line adalah media komunikasi yang digunakan tim kampanye untuk menjangkau basis pemilih terutama masyarakat non partisan, seperti kalangan elit, kalangan profesional, dan sebagainya yang tergolong dalam kalangan menengah ke atas. Tim kampanye menggunakan media massa televisi untuk berkomunikasi dalam penyampaian pesan dengan jangkauan luasnya sehingga komunikasi antara komunikator dan komunikan menjadi lebih efektif dan efisien dalam mencapai tujuan komunikasi strategis. Adapula mediasosial facebook dan twitter yang digunakan tim untuk mengenalkan kandidat dan berbagi informasi terkait dengan kandidat dan produk politik. Sedangkan below the line adalah media komunikasi yang menggunakan personal selling melalui kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan oleh kandidat untuk berkomunikasi dengan basis pemilih yang terdiri dari tiga kelompok masyarakat, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non partisan dalam etnis Jawa, etnis China, dan non muslim. Kunjungan langsung sosial tatap muka dan bersama yang dilakukan di pasar, kawasan padat/kawasan tua, dan cagar budaya dengan diskusi dan kumpul bersama untuk bersilaturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya. Kunjungan langsung kandidat yang dilakukan secara berkala dan terus menerus semakin memperkuat persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta dalam benak basis pemilih. Terbentuknya persepsi publik yang semakin kuat, semakin menciptakan dan memperluas arus besar masyarakat Jakarta untuk mendukung dan memilih kandidat yang kemudian menamakan diri mereka sebagai relawan kandidat. Relawan kandidat berperan sales promotion kandidat yang ikut serta menyampaikan pesan politik kepada basis pemilih kandidat. Adapula stiker merupakan media yang digunakan tim melakukan evaluasi terhadap setiap aktivitas komunikasi strategis yang membantu pemilih untuk menentukan prioritas yang besar di benak basis pemilih atas perilaku politik. Media stiker dipasang pada lingkungan basis pemilih yang telah berkomitmen untuk memilih Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama pada Pemilukada DKI Jakarta 2012.PENUTUPDinamika politik modern dengan masyarakat yang semakin kritis terhadap perkembangan dunia politik menuntut politisi untuk menerapkan cara yang lebih efisien dan efektif dalam berkampanye untuk memenangkan persaingan politik. Marketing politik yang digunakan tim kampanye Joko Widodo – Basuki Tjahaja Purnama dalam menghadapi Pemilukada DKI Jakarta 2012, membangun hubungan dua arah yang efisien dan efektif dengan masyarakat Jakarta yang memungkinkan tim untuk mengenal masyarakat dengan baik terutama kantong pemilih. Hubungan tersebut membantu tim dalam proses penyampaian pesan politik dengan menggunakan pengelolaan dan perancangan pesan yang memiliki konsistensi dengan image politik dan produk politik pada masing – masing segmen basis pemilih tim.Marketing politik yang digunakan tim kampanye berperan pada proses membangun dan menciptakan citra politik kandidat melalui tahapan strategi pemasaran dengan konsistensi pada proses branding yang diwujudkan dalam bauran pemasaran. Langkah awal dalam proses strategi pemasaran; segmentasi, membantu tim melakukan pembagian pasar pemilih ke dalamkelompok pemilih yang sesuai etnis pada kelompok masyarakat Jakarta, meliputi konstituen kandidat, konstituen partai lain, dan non muslim untuk dibidik dan ditetapkan tim sebagai kantong pemilih (target audiens). Penetapan audiens mempermudah dalam proses positioning yang berbeda pada masing – masing kelompok masyarakat yang telah ditetapkan sebagai target audiens tersebut guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim, yaitu mengubah opini publik menjadi persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta. Penyampaian produk politik tim yang terbagi menjadi tiga tahapan; core product, actual product, dan augmented product memungkinkan adanya diferensiasi produk di benak pemilih dibanding produk politik lainnya yang akan semakin memperkuat terbentuknya persepsi publik.Marketing politik membantu tim dalam proses pencapaian tujuan komunikasi tim dengan merancang kegiatan promosi yang diakhiri penetapan bauran komunikasi pemasaran, meliputi personal selling tim kampanye dan kandidat melalui kunjungan langsung pada lingkungan kantong pemilih yang hanya sekedar untuk bersialturahmi dan berkenalan maupun membahas mengenai problema Jakarta dan solusinya, relawan kandidat sebagai sales promotion yang berperan serta dalam membentuk persepsi publik atas kelayakan kandidat memimpin Jakarta pada benak basis pemilih, serta media massa televisi dan media sosial facebook dan twitter sebagai media komunikasi antara kandidat dengan masyarakat Jakarta guna mencapai tujuan komunikasi strategis tim.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. (2003). Komunikasi Politik. Jakarta: PT. Balai Pustaka.Baxter, Leslie A., and Earl Babbie. (2004). The Basics of Communication Research. Wadsworth: Thomson.Bryman, Alan. (2008). Social Research Methods (3rd ed.). Oxford University Press.Cangara, Hafied. (2009). Komunikasi Politik. Jakarta: Rajawali Pers.Denzin, Norman K., and Yvonna S. Lincoln. (2009). Handbook of Qualitative Research. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Departemen Pendidikan Nasional. (2008). Kamus Besar Bahasa Indonesia Pusat Bahasa (4th ed.). Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Effendy, Onong Uchjana. (1999). Hubungan Masyarakat. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Effendy, Onong Uchjana. (2007). Ilmu Komunikasi & Teori. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Firmanzah. (2007). Marketing Politik. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Firmanzah. (2008). Mengelola Partai Politik: Komunikasi dan Positioning Ideologi Partai di Era Demokrasi. Jakarta: Yayasan Obor Indonesia.Griffin, EM. (2011). A First Look at Communication Theory (8th ed.). New York: McGraw-Hill.Heryanto, Gun Gun., and Irwa Zarkasy. (2012). Public Relations Politik. Bogor: Ghalia Indonesia.Kennedy, John E., dan R. Dermawan Soemanagara. (2009). Marketing Communication: Taktik & Strategi. Jakarta: Bhuana Ilmu Populer.Kriyantono, Rachmat. (2010). Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta: Kencana.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid I (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Kotler, Philip, and Gary Amstrong. (2004). Dasar – Dasar Pemasaran Jilid II (9th ed.). Jakarta: PT Indeks.Littlejohn, Stephen W., and Karen A. Foss. (2009). Teori Komunikasi (9th ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Moleong, Lexy J. (1991). Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Nimmo, Dan. (2005). Komunikasi Politik: Komunikator, Pesan, dan Media. Bandung: PT Remaja Rosdakarya.Newman, Bruce I. (Eds.). (1999). Handbook of Political Marketing. London: SAGE Publications Ltd.Nursal, Adman. (2004). Political Marketing: Strategi Memenangkan Pemilu. Jakarta: PT Gramedia Pustaka Utama.Percy, Larry. (2008). Strategic Integrated Marketing Communication: Theory and Practice. USA: Elsevier.Perpustakaan Nasional RI Data Katalog Dalam Terbitan (KDT). (2012). Demokrasi Lokal: Evaluasi Pemilukada di Indonesia. Jakarta: Konstitusi Press.Ruslan, Rosady. (2008). Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta: PT. RajaGrafindo Persada.Severin, Werner J., and James W. Tankard, Jr. (2009). Teori Komunikasi: Sejarah, Metode, & Terapan Di Dalam Media Massa (5th ed.). Jakarta: Kencana.Sulaksana, Uyung. (2003). Integrated Marketing Communications. Yogyakarta: Pustaka Pelajar.Upe, Ambo. (2008). Sosiologi Politik Kontemporer. Jakarta: Prestasi Pustakaraya.Yin, Robert K. (2006). Studi Kasus. Jakarta: PT RajaGrafindo Persada.West, Richard., and Lynn H. Turner. (2008). Pengantar Teori Komunikasi (3rd ed.). Jakarta: Salemba Humanika.Skripsi, Tesis, dan JurnalAttia, Ashraf M. et al. (2011). Commentary: The Impact of Social Networking Tools on Political Change in Egypt’s “Revolution 2.0”. Electronic Commerce Research and Applications, 10 (June): 369-374. New York: Elsevier B.V.Chu, Chih-Chung et al. (2012). The Effect of Advertisement Frequency on the Advertisement Attitude-The controlled Effects of Brand Image and Spokesperson’s Credibility. Procedia – Social and Behavioral Sciences, 57: 352-359. Elseiver Ltd.Lariscy, Ruth Ann Weaver and Spencer F. Tinkham. (1996). Use and Impact of Direct Mail in the Context of Integrated Marketing Communications: U.S. Congressional Campaigns in 1982 and 1990. Journal of Business Research, 37: 233-244. New York: Elsevier Science Inc.Nuriyatul Lailiyah. (2011). Komunikasi Strategis Dalam Pemilihan Umum Kepala Daerah, Studi Kasus: Kampanye Pasangan Widya Kandi – M. Mustamsikin dalam Pemilihan Bupati Kendal 2010. Tesis. Universitas Diponegoro.Seravica Molasita Mahu. (2010). Marketing Politik Partai Demokrat Dalam Pemilu Legislatif 2009. Skripsi. Universitas Diponegoro.InternetAnggadha, Ary., dan Fajar Sodiq. (2012). Dalam http://metro.news.viva.co.id/news/read/342548-ibunda-jokowi--bang-haji-rhoma-mungkin-khilaf. Diunduh pada 8 Oktober pukul 22.15 WIB.Febriyan. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391119/Nasib-Ahok-Dampingi-Jokowi-Masih-Tunggu-Mega. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.21 WIB.Fokoke Jokowi Mantra Ampuh di Jagat Maya. (2012). Dalam http://ahok.org/berita/news/fokoke-jokowi-mantra-ampuh-di-jagat-maya/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Hartawan, Tony. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/03/19/214391063/Pertemuan-Rahasia-Foke-dan-Calon-Gubernur-Lain. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 22.30 WIB.Leinad, Sam. (2012). Jokowi Menang Lagi di Twitter. Dalam http://media.kompasiana.com/new-media/2012/09/20/jokowi-menang-lagi-di-twitter-494958.html. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Noviansyah, Aditia. (2012). Dalam http://www.tempo.co/read/news/2012/07/16/078417190/Dana-Kampanye-Foke-Tujuh-Kali-Lipat-dari-Jokowi. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 23.00 WIB.Rizal, Ade. (2012). Dalam http://jogja.tribunnews.com/2012/04/05/baju-kotak-kotak-jokowi-jadi-trend/. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Saut, Prins David. (2012). Dalam http://news.detik.com/read/2012/09/21/013101/2028702/10/jokowi-menangkan-pilgub-dki-karena-jadi-kesayangan-media. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Sodikin, Amir. (2012). Addie MS Ternyata Pemicu “Fokoke Jokowi”. Dalam http://megapolitan.kompas.com/read/2012/09/26/10010016/Addie.MS.Ternyata.Pemicu.Fokoke.Jokowi. Diunduh pada 6 April pukul 10.00 WIB.Wiwoho, Laksono Hari. (2012). Dalam. http://pilkada.kompas.com/berita/read/2012/09/19/02371093/Peta.Kekuatan.Foke.Versus.Jokowi.2. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 02.30 WIB.www.lsi.or.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.00 WIB.www.lsi.co.id. Diunduh pada 1 Desember 2013 pukul 21.30 WIB.
Pengaruh Terpaan Social Media Marketing , Sales Promotion , Inovasi terhadap Loyalitas Konsumen dalam Menggunakan Layanan Go-Pay Nikita Putri Mahardhika; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 8, No 2: April 2020
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (186.253 KB)

Abstract

This study aims to determine whether there is an influence of social media marketing exposure, sales promotion, innovation toward consumers’ loyalty in using Go-Pay as a digital payment. Sample for conducting the research was chosen from Go-Pay users who live in Semarang, aged 20-35 years, have been exposed to Go-Pay’s social media marketing, sales promotion, innovation, and follow @gopayindonesia social media. The collected data were analyzed by the linear regression analysis method. The result indicates that social media marketing exposure did not have any significant influence on consumers’ loyalty in using Go-Pay as a digital payment with a significance level of 0,117. Meanwhile, sales promotion and innovation exposure have a significant influence on consumers’ loyalty. The sales promotion exposure has a significance level of 0,000 with a regression coefficient of 0,170 on consumers’ loyalty. On the other side, innovation exposure has a significance level of 0,001 with a regression coefficient of 0,365.
Wisata Keluarga dalam Program Acara Jateng Exotic di Cakra Semarang TV Bareta Hendy Pamungkas; Tandiyo Pradekso; M Bayu Widagdo; Djoko Setyabudi; I Nyoman Winata
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (326.914 KB)

Abstract

Program berita feature dianggap paling tepat dalam menggambarkan potensi wisata karena memiliki pengertian sama dengan softnews, demikian juga dengan cara membuatnya. Namun karena program berita feature bukan merupakan informasi yang harus cepat disajikan agar tidak basi informasinya, maka proses produksi program berita feature sangat fleksibel sesuai dengan kebutuhan dan dapat disiarkan kapan saja, sehingga memproduksinya dapat disesuaikan dengan kesiapan tim produksi dan kebutuhan slot program.Produksi program berita feature pada karya bidang ini dibuat dengan tiga posisi pekerjaan berdasarkan tugas dan tanggung jawab masing-masing, yaitu produser, sutradara, dan juru kamera. Program ini dibuat empat episode dengan tiga segmen tiap tayangnya. Konsep yang diambil adalah wisata keluarga satu hari penuh tanpa menghabiskan banyak waktu, dimana tempat-tempat yang diangkat antara lain adalah Curug Tujuh Bidadari Bandungan, Kuliner Sate Kelinci Bandungan, Pasar Bandungan, The Sea Pantai Cahaya, Kuliner Ayam Goreng Gringsing Bu Bengat, Wisata Air Water Blaster Semarang, Pusat Oleh-Oleh Kampoeng Semarang, Kampung Batik Semarang, Kuliner Toko Oen, Wisata Sejarah Kota Lama, Kuliner Malam Pasar Semawis Semarang.Pengerjaan tayangan melalui tahap pra produksi, produksi, dan pasca produksi di mana media Cakra Semarang TV sebagai sarana publikasi dengan cara mengisi slot program pariwisata yang telah ada yaitu Jateng Exotic. Tayang setiap hari Minggu pada tanggal 23 Februari, 2 Maret, 9 Maret, dan 16 Maret 2014, diharapkan karya ini dapat memperkenalkan, memberitakan, dan menginformasikan tempat pariwisata di Kota Semarang dan sekitarnya.Kata kunci: wisata keluarga, jateng exotic, feature, jurnalistik
Hubungan antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat Pemahaman Pesan Kampanye Sosial Light On dengan Perilaku Menyalakan Lampu Utama Sepeda Motor Anggi Pramesthi Kusumarasri; Tandiyo Pradekso; Nurist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (451.388 KB)

Abstract

SUMMARY PENELITIANHubungan antara Tingkat Pendidikan dan Tingkat PemahamanPesan Kampanye Sosial Light On dengan Perilaku MenyalakanLampu Utama Sepeda MotorBAB IPENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGMasalah sosial yang akhir-akhir ini banyak diberitakan media salahsatunya adalah kecelakaan lalu lintas. Kecelakaan lalu lintas memakan korbantidak sedikit. Masalah ini memang merupakan masalah keselamatan berkendara dijalan. Namun menjadi masalah social kala menjadi sorotan dan perhatianmasyarakat. Polri sebagai salah satu lembaga pemerintahan yang bertugasmenangani langsung masalah lalu lintas tidak tinggal diam.Banyak upaya yang dilakukan oleh Polri dalam mengubah perilakumasyarakat agar lebih sadar tentang keselamatan berkendara. Bentuk kampanyePolri untuk menekan angka kecelakaan salah satunya yaitu kampanye sosial LightOn. Kampanye sosial Light On merupakan imbauan pada masyarakat penggunakendaraan sepeda bermotor untuk menyalakan lampu motornya pada siang danmalam hari. Asumsi dari menyalakan lampu sepeda motor pada siang dan malamhari tersebut adalah, sepeda motor akan lebih mudah terlihat oleh pengemudisepeda motor dan pengemudi kendaraan bermotor lainnya. Dengan demikian,pengemudi kendaraan bermotor lainnya akan lebih waspada dan berhati-hatisecara psikologis dalam berkendara (Lukas Adi Prasetya, 2009).Kewajiban menyalakan lampu tersebut sesuai dengan UU No 22/2009pasal 107, “Pengemudi kendaraan bermotor wajib menyalakan lampu utamakendaraan bermotor yang digunakan di jalan pada malam hari dan pada kondisitertentu (1), Pengemudi sepeda motor selain mematuhi ketentuan sebagaimanadimakusd pada ayat (1) wajib menyalakan lampu utama pada siang hari(2)”.Sejak disahkannya UU No 22/2009 pada 22 Juni 2009, kampanye sosialLight On disosialisasikan dan mulai diterapkan pada masyarakat. Namun, selamapertengahan tahun 2009 hingga akhir tahun 2010, Polri hanya memberikanimbauan pada masyarakat pengendara sepeda motor untuk menyalakan lampupada siang hari. Hingga akhirnya pada Januari 2011 mulai ada penindakan olehPolri dengan mengenakan sanksi pada pengendara yang tidak menyalakan lampumotor di siang hari.Meskipun telah intens dalam memberikan imbauan menyalakan lampumotor pada siang hari, masih banyak pelanggaran yang terjadi. Menurut datapelanggaran Light On tahun 2011 yang dipeoleh dari Ditlantas Polda JawaTengah, Polresta Surakarta menyajikan data dengan pelanggaran tertinggi yaitu3.105 kasus.Berbanding terbalik dengan kondisi di Kota Solo, Kabupaten Magelangmenyajikan data pelanggaran dengan kasus paling rendah. Pelanggaran diKabupaten Magelang pada tahun 2011 berjumlah 10 kasus. Selisih angka antaraKota Solo dan Kabupaten Magelang cukup tinggi. Dengan cara sosialisasi yangsama, namun hasil dari kampanye sosial Light On berbeda di setiap kota. Bedakota tentunya berbeda pula kondisi demografinya.1.2 PERUMUSAN MASALAHMenurut data pelanggaran Light On tahun 2011 yang dipeoleh dariDitlantas Polda Jawa Tengah, Polresta Surakarta menyajikan data denganpelanggaran tertinggi yaitu 3.105 kasus. Jumlah pelanggaran tersebut termasukangka yang tinggi mengingat sosialisasi yang dilakukan oleh Polri selama satusetengah tahun sudah sangat intens. Berbeda dengan Kota Surakarta, KabupatenMagelang memegang peringkat terendah terhadap jumlah pelanggaran Light Ondengan jumlah hanya 10 pelanggaran.Kondisi di tiap wilayah kota dan kabupaten di Jawa Tengah tentu saja berbedadari berbagai aspek. Salah satu perbedaan dari tiap daerah dapat diihat darikondisi demografisnya. Perbedaan tingkat pendidikan dan tingkat pemahamanpesan kampanye sosial Light On juga yang mungkin membuat masyarakatberbeda perilaku mengenai kepedulian keselamatan berkendara.Berdasarkan perumusan masalah tersebut, maka timbullah pertanyaansebagai berikut, “apakah terdapat hubungan antara tingkat pendidikan dan tingkatpemahaman pesan kampanye social Light On dengan perilaku menyalakan lampusepeda motor?”BAB IIANALISIS HUBUNGAN ANTARA TINGKAT PENDIDIKAN DANPEMAHAMAN PESAN KAMPANYE SOSIAL LIGHT ON DENGANPERILAKU MENYALAKAN LAMPU SEPEDA MOTOR2.1 Landasan TeoriKecelakaan di jalan saat kita berkendara merupakan hal yang akhir-akhirini semakin sering terjadi. Banyak upaya yang telah dilakukan oleh Polri untukmenanggulangi angka kecelakaan yang terus meningkat setiap tahunnya. Upayayang pernah dilakukan oleh Polri salah satunya adalah menggalakkan Light On,yaitu imbauan bagi pengendara menyalakan lampu motornya pada siang danmalam hari. Agar segala sesuatu tentang Light On ini diketahu oleh masyarakat,maka perlu diadakan sosialisasi melalui penyampaian pesan dan informasi.Kegiatan yang paling tepat dalam hal ini yaitu dengan diadakannya kampanyekomunikasi.Rogers dan Storey mendefinisikan kampanye sebagai serangkaiantindakan komunukasi yang terencana dengan tujuan menciptakan efek tertentupada sejumlah besar khalayak yang dilakukan secara berkelanjutan pada kurunwaktu tertentu. Merujuk pada definisi ini, maka setiap aktivitas kampanyekomunikasi setidaknya harus mengandung empat hal yakni (1) tindakankampanye yang ditujukan untuk menciptakan efek atau dampak tertentu (2)jumlah khalayak sasaran yang besar (3) biasanya dipusatkan dalam kurun waktutertentu dan (4) melalui serangkaian tindakan komunikasi yang terorganisasi(Venus, 2009:7).Kampanye pada hakikatnya adalah tindakan komunikasi yang bersifat goaloriented (Venus, 2009:25). Semua kegiatan kampanye pasti ada tujuan yang ingindicapai oleh penyelenggara kampanye. Dalam menjalankan kampanye agar tujuandapat dicapai, tentu tidak bisa dilakukan tanpa perhitungan atau perencanaan.Pelaksana kampanye harus menyusun manajemen kampanye secara sistematis danefektif. Manajemen kampanye adalah proses pengelolaan kegiatan kampanyesecara efektif dan efisien dengan memanfaatkan seluruh sumber daya yang adaguna mencapai tujuan yang telah ditetapkan.Apapun latar belakang kampanye, suatu gagasan pada akhirnya akandiwujudkan dalam bentuk yang bisa disampaikan kepada khalayak. Pesan-pesaninilah yang akan dipersepsi, ditanggapi, diterima atau ditolak oleh khalayak.Pesan-pesan kampanye dirancang secara sistematis agar dapat memunculkanrespon tertentu dalam pikiran khalayak. Agar respon tersebut muncul, mkaprasyarat yang harus dipenuhi adalah adanya kesamaan pengertian danpemahaman tentang symbol-simbol yang digunakan antara pelaku dan penerima(Venus, 2009:70)Kampanye sosial sebenarnya adalah kegiatan persuasi terhadap targetsasaran agar menimbulkan efek dari segi sikap dan perilaku. Namun perlu diingatbahwa membuat seseorang untuk bertindak adalah lebih sulit daripada mendorongmereka untuk berpikir tentang suatu hal. Setiap kegiatan kampanye memerlukanstrategi komunikasi yang merupakan perencanaan dan manajemen untukmencapai tujuan tertentu dalam praktik operasionalnya (Ruslan, 2007:38). Dalamkampanye sosial Light On ini tentu dibutuhkan strategi komunikasi yang baikuntuk menyampaikan pesan guna mencapai tujuannya, yaitu agar masyarakat maumenyalakan lampu sepeda motor.Pesan atau informasi yang berasal dari kampanye sosial Light Ondisampaikan kepada masyarakat sebagai sasaran yang dituju oleh programkampanye tersebut. Kampanye ini memakai media untuk menyampaikan pesanatau informasi tersebut. Mempertimbangkan bagaimana cara menyampaikan isipesan kampanye termasuk ke dalam manajemen kampanye. Penggunaan mediapada proses berlangsungnya kampanye sosial tidak akan pernah lepas sebagai alatuntuk menyampaikan pesan. Fungsi media massa adalah menyampaikan informasitentang keadaan disekitarnya kepada masyarakat. Fungsi menyampaikaninformasi ini diartikan bahwa media massa adalah penyebar informasi bagipembaca, pendengar atau pemirsa. Proses penyebaran informasi ini disebutdengan komunikasi massa.Mass communicatin is the process whereby media organizations produceand transmit messages to large publics and the process by which thosemessagse are sought, used, and influenced by audiences. Mediaorganizations distribute messages that affect and reflect the cultures ofsociet, and they provide information simultaneously to largeheterogeneous audiences, making media part of society’s institutionalforces (Littlejohn, 2004:273).Komunikasi massa adalah proses di mana media memproduksi danmengirim pesan-pesan kepada khalayak luas dan proses yang mana pesan tersebutdicari, digunakan, dan dipengaruhi oleh audiens. Media mendistribusikan pesanpesanyang mempengaruhi dan mencerminkan budaya masyarakat, dan pesanpesantersebut menyediakan informasi secara berkelanjutan pada audiens yangluas, membuat media bagian dari perangkat institusi masyarakat.Iklan-iklan layanan masyarakat mengenai Light On yang dikeluarkan olehPolri merupakan komunikasi massa melalui surat kabar, majalah, radio, televisi,leaflet, poster, spanduk, MMT, billboards, dan lain-lain. Dikategorikan sebagaikomunikasi massa (nonpersonal) karena perusahaan sponsor (penyelenggarakampanye) tersebut secara simultan berkomunikasi dengan penerima pesan yangberanekaragam, bukan kepada individu tertentu atau personal atau kelompok kecil(Shimp, 2003:5). Demikian pula dengan publisitas, hampir sama dengan iklannamun penyelenggara kampanye tidak mengeluarkan biaya untuk waktu danruang beriklan. Publisitas biasanya dilakukan dalam bentuk berita atau komentareditorial mengenai produk atau jasa dari perusahaan. Bentuk-bentuk ini dimuatdalam media cetak atau televisi secara gratis karena perwakilan mediamenganggap informasi tersebut penting dan layak ditampilkan kepada khalayakmereka (Shimp, 2003: 6). Misalnya sosialisasi Light On diberitakan dalam mediacetak,media menginformasikan kepada khalayak bahwa menyalakan lampusepeda motor pada siang dan malam hari penting untuk mengurangi angkakecelakaan. Data dari Polri mengenai turunnya angka kecelakaan yang diberitakandi media juga merupakan publisitas kampanye sosial Light On karena dianggapinformasi ini penting bagi masyarakat.Selain iklan dan publisitas, kampanye sosial Light On juga menggunakanambient media untuk melengkapi sarana penyampaian pesan kampanye. ambientmedia yang menyerupai bat untuk bermain tenis meja. Di kedua sisi bet tersebutterdapat tulisan “Nyalakan Lampu Sepeda Motor Anda”. Bat tersebut dipegangoleh polisi lalu lintas dan ditunjukkan pada pengendara sepeda motor. Penggunaanambient media ini saat patroli polisi lalu lintas pada pagi dan sore hari.Produk yang ditawarkan dalam kampanye Light On adalah perubahanperilaku pengendara sepeda motor. Tujuan utama dari kampanye ini adalahterwujudnya perubahan perilaku masyarakat, yang awalnya hanya menyalakanlampu sepeda motor pada malam hari, diharapkan menyalakan lampu sepedamotor pada siang hari juga guna mengurangi angka kecelakaan. Oleh karena itudalam menyelenggarakan kampanye, pesan-pesan kampanye harus diautrsedemikian rupa agar lebih efektif untuk diterima dan mempengaruhi targetsasaran. Hal tersebut sesuai dengan pendapat Stuyek (1990) bahwa, penggunaansesuatu yang jelas dan bahasa yang sederhana dalam membuat pesan akanmembuat pesan tersebut lebih mudah dimengerti (Venus, 2009:81).Pemahaman pesan pada kampanye sosial Light On akan mempengaruhiperilaku khalayak sasarannya. Pada tahap afektif, muncul sikap seseorangterhadap apa yang sudah diketahui dan dipahami. Muncul sikap positif ataunegative, percaya atau tidak percaya dalam menanggapi manfaat menyalakanlampu sepeda motor ini. Hingga sampai pada tahap seseorang akan berperilaku(behavior) sesuai dengan apa yang dirasakan dan disadarinya, yaitu menyalakanlampu sepeda motor pada siang dan malam hari.Khalayak atau target sasaran kampanye yang terterpa kegiatan komunikasipemasaran merupakan sasaran dari penyampaian pesan dan diharapkanberperilaku seperti kegiatan yang sedang dikampanyekan. Khalayak adalahindividu-individu yang berpikir, memiliki perasaan, mengevaluasi, menentukan,beraksi dan bereaksi atas sesuatu (Venus, 2009:116). Karena alasan ini makapesan-pesan kampanye akan dipersepsi secara berbeda oleh setiap individu danakhirnya menghasilkan efek yang beragam pula. Para pelaku kampanyemenyadari bahwa khalayak sasaran mereka tidaklah homogen. Mereka memilikikeragaman dari segi demografis maupun psikografis. Keragamaan inilah yangmemunculkan perbedaan keinginan, kebutuhan, dan cara mereka meresponlingkungan. Dengan demikian masing-masing kelompok khalayak memerlukanpendekatan yang berbeda, mulai desain pesan, cara menyampaikannya hinggasiapa komunikator yang cocok menyampaikan pesan tersebut. Pernyataan tersebutsesuai dengan bauran komunikasi yaitu who says what in which channel to whomwith what effect. Ini artinya segmentasi perlu dilakukan dalam menentukankhalayak sasaran kampanye (Venus, 2009:124). Target sasaran yang sudahditentukan oleh penyelenggara kampanye diharapkan mendapat pengetahuan yangcukup tentang kampanye melalui media, sehingga pesan secara efektif dapatmempengaruhi audiens sampai ke tahap yang diinginkan. Menurut McQuail(1972), salah satu fungsi media bagi individu yaitu sebagai identitas pribadi untukmenemukan model perilaku (McQuail, 2005:72). Jadi, segmentasi khalayaksasaran atau audience dilakukan agar kampanye tepat sasaraan. Setelah pesanyang diberikan tepat sasaran, khalayak sasaran bisa paham mengenai isi pesankampanye. Lalu audience mempunyai pilihan, setuju untuk mengadopsi perilakudari isi pesan tersebut atau tidak.Masyarakat sendiri menanggapi pesan kampanye berbeda satu denganyang lainnya. Respon khalayak terhadap pesan kampanye dipengaruhi oleh prosespenerimaan dan pengolahan pesan atau informasi yang dilakukan khalayak(Venus, 2009:78). Maka dari itu pesan harus memiliki kemampuan tertentu yangdapat mendorong khalayak untuk memberikan respon positif sesuai harapanpelaku kampanye. Menurut Venus (2009), ada beberapa aspek yang perlumendapat perhatian dalam membaut pesan, yaitu :a. Penekanan terhadap apa yang akan dipersepsi orangb. Bagaimana pesan tersebut dapat menarik perhatian khalayakc. Serta bagaimana informasi dalam pesan itu disimpan dan diingat olehpenerimanya.Selain itu, masyarakat juga menerima pesan dengan selektif. Orang akanmelihat apa yang ia lihat, mendengar apa yang ingin ia dengar. Maka, setiap orangakan menginterpretasikan pesan sesuai dengan latar belakang dan pengalamanyang dimilikinya. Garnett (1992) menyatakan bahwa persepsi selektif ditentukanoleh latar belakang keluarga, karakteristik kepribadian fisik, tingkat pendidikan,perbedaan budaya, dan factor lainnya (Venus, 2009:80). Tingkat pendidikanmerupakan salah satu faktor penting dalam mengasah kemampuan danketrampilan. Proses pendidikan diharapkan dapat menciptakan manusia terdidikyang mempunyai pola tingkah laku yang sesuai dengan tujuan pendidikan.Olehkarena itu proses pendidikan dilakukan dalam suatu system. Pendidikanformal adalah jalur pendidikan yang terstruktur dan berjenjang yang terdiri ataspendidikan dasar, pendidikan menengah dan pendidikan tinggi.Pendidikan memberikan kontribusi besar dalam berinteraksi denganlingkungan, ketrampilan dan pengetahuan yang diperoleh melalui bangku sekolahmembantu memperlancar daya tangkap seseorang dalam berkomunikasi.Pendidikan masyarakat mempengaruhi persepsinya dan kemampuan konsepsinyamengenai pesan yang diterima. Pada gilirannya akan berpengaruh pula terhadappengaturan pikiran dan perasaan ketika melaksanakan tanggapan ataumenyampaikan umpan balik kepada komunikator. Kemampuan yang dimiliki tiapindividu yang nantinya akan terlihat bagaimana ia berperilaku. Seluruh perilakumanusia adalah hasil belajar, artinya perubahan perilaku organisme sebagaipengaruh lingkungan (Rakhmat, 2007:21).Sesuai dengan aliran Behaviorisme, seluruh perilaku manusia selaininsting merupakan hasil belajar (Syam, 2011:75). Oleh para ilmuan Behaviorismealiran ini lebih dikenal dengan Teori Belajar, Behaviorisme hanya inginmengetahui bagaimana perilaku manusia dikendalikan oleh faktor-faktorlingkungan (Rakhmat, 2007:21). Salah satunya adalah media, sebagai salurankomunikasi massa yang menjadi perangkat institusi masyarakat. Media jugamerupakan salah satu media pembelajaran bagi manusia. Dalam kampanye sosialLight On, manusia belajar memahami pesan kampanye melalui media disekitarnya. Hasil belajar itu tidak semuanya sama. Semakin tinggi tingkatpendidikan seseorang, maka kualitas belajarnya juga semakin bagus. Semakinbanyak pula pengalaman yang diperoleh dari lingkungan belajarnya dan akanberpengaruh pada perilaku mereka. Demikian pula dalam kegiatan kampanyesosial Light On, para pengendara sepeda motor tidak serta merta menyalakanlampu sepeda motor. Namun merupakan hasil interaksi audiensnya denganlingkungan, yaitu melihat media yang berisi tentang imbauan menyalakan lampusepeda motor pada siang dan malam hari, serta pengetahuan manusia yangmerupakan hasil dari belajar dan pendidikan dalam memahami pesan tersebut.Dalam pertumbuhannya, manusia bukan saja mengalami perkembangandalam segi jasmaniahnya, tetapi juga rohaniahnya. Dan perkembangan inimembentuk jiwanya, sifat tabiat dan tingkahlakunya (Effendy, 1993:53). Lalumuncul berbagai sikap terhadap pesan atau rangsangan yang mereka terimaberupa sikap yang merupakan kecenderungan untuk berperilaku dengan cara-caratertentu. Dengan kata lain, perilaku manusia adalah produk dari dorongandoronganlingkungan.Menurut De Fleur and Ball-Rokeach (1982) “Since individuals were notseen as socially active, psychological and biological factors became moreimportant than social ones in explaining the behavior of people in masssociety. For example, characteristics such as instincts and psychologicaldrives become crucial when describing audience members,” (Windahl,Signitzer with Olson, 2009:196)Menurut McQuail dalam bukunya Teori Komunikasi Massa, apa yangdiungkapkan oleh DeFleur tersebut relevan bila dikaitkan dengan kerumitan pesanmedia umumnya dan bila dibandingkan dengan jenis rangsangan yang digunakandalam hampir seluruh percobaan psikologi. Kedua, semakin jelas bahwa reaksi ituberbeda-beda secara sistematis sesuai dengan kategori sosial penerima, yangantara lain berdasarkan usia, pekerjaan, gaya hidup, jenis kelamin, agama, dansebagainya (2005:235).Manusia satu sama lain tentu tumbuh dan berkembang di lingkungan yangberbeda-beda. Dari lingkungan yang berbeda inilah akan terbentuk sikap, nilainilai,serta kepercayaan individu yang mendasari kepribadian mereka, kemudianakan mempengaruhi cara mereka memandang dan menghadapi sesuatu, sehinggapersepsi mereka pun berbeda. Begitu juga dalam kampanye sosial Light On dalamrangka mengurangi angka kecelakaan, pesan yang disampaikan melalui mediamassa menimbulkan rangsangan berupa persepsi dan respon berbeda pada tiapindividu.Menurut DeFleur (1970), “Individuals differences theory argued that,because of people vary greatly in their psychological makeup and becausethey have different perceptions of things, media influence differs fromperson to person. More specifically, media messages contain particularstimulus attributes that have differential interaction with personalitycharacteristics of members of the audience” (Baran & Davis, 2006:149).Teori tersebut menegaskan bahwa, setiap orang akan menanggapi isi media massaberdasarkan dengan kepercayaan serta nilai-nilai sosial mereka. atas dasar bahwatiap individu tidak sama perhatiannya, kepentingannya, kepercayaan maupunnilai-nilainya, maka dengan sendirinya selektivitas mereka terhadap komunikasimassa juga berbeda. Dalam hal ini adalah proses pemahaman pesan darikampanye sosial Light On, yang selanjutnya akan berpengaruh terhadap tingkahlaku (behavioral) khalayak sasarannya.BAB IIIPENUTUPBerbagai cara telah diupayakan oleh Polri untuk terus mengurangi angkakecelakaan. Banyak program dan terobosan yang digalakkan oleh Polri agar angkakecelakaan tidak semakin bertambah. Namun masyarakat seringkali tidakmengindahkan bahkan menganggap sepele program-program dari Polri tersebut.Polri pun terus mengupayakan cara yang lebih efektif dan diharapkan masyarakatmau menerimanya. Melalui program Light On inilah Polri berupaya mengurangiangka kecelakaan, terutama kecelakaan sepeda motor.Jarak pandang manusia terhadap benda sangat terbatas, terlebih jika bendatersebut bergerak dalam kecepatan tinggi. Sepeda motor bila dilihat dari kacaspion kendaraan lain akan terlihat kecil dan kadang tidak terlihat jelas. Apalagijika pengendaranya mengendarai dengan kecepatan tinggi. Hal inilah yang seringmenyebabkan terjadinya kecelakaan sepeda motor, tidak terlihat oleh pengendarakendaraan lainnya. Jika lampu utama sepeda motor tersebut selalu menyala akanmembantu penglihatan pengemudi kendaraan bermotor lainnya karena cahayamudah tertangkap oleh indera penglihatan manusia. Dengan demikian diharapkandapat menurunkan angka kecelakaan.3.1 SIMPULAN1. Penelitian pada kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara tingkat pendidikan dengan perilakumenyalakan lampu utama sepeda motor. Nilai korelasi antara tingkatpendidikan dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motorsebesar 0,328. Sedangkan pada Kota Surakarta tidak ada hubungan yangsignifikan antara tingkat pendidikan dengan perilaku menyalakan lampuutama sepeda motor, dan nilai korelasinya hanya sebesar -0,093.2. Penelitian pada kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman pesan kampanyesosial Light On) dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,301. Begitu pula pada Kota Surakarta,terdapat hubungan yang signifikan antara tingkat pemahaman pesankampanye sosial Light On dengan perilaku menyalakan lampu utamasepeda motor dengan nilai korelasi sebesar 0,414.3. Masyarakat Kabupaten Magelang nampak lebih banyak yang menyalakanlampu utama sepeda motor pada siang dan malam hari jika dibandingkandengan masyarakat Kota Surakarta.3.2 SARAN1. Saran bagi Polri selaku penyelenggara kampanye hendaknya melakukanpendekatan lebih pada masyarakat di Kota Surakarta agar mereka lebihmemahami arti penting dari Light On ini. Cara kampanye danpenyampaian pesannya pun bisa lebih variatif agar bisa menarik perhatianmasyarakat. Namun sosialisasi yang dilakukan bisa dipertimbangkan darifactor lain karena tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan denganperilaku masyarakat Kota Surakarta dalam menyalakan lampu utamasepeda motor. Sedangkan untuk Kabupaten Magelang yang masyarakatnyasudah lebih banyak yang menyalakan lampu utama sepeda motor padasiang dan malam hari tidak perlu ada sosialisasi lanjutan.2. Untuk penelitian yang akan datang disarankan tidak hanya menelitimengenai hubungan, tetapi juga pengaruh intensitas kampanye. Penellitiselanjutnya juga bisa menambahkan variable keefektifan kampanye karenakeefektifitasan kampanye juga mempengaruhi pemahaman pesanmasyarakat mengenai kampanye tersebut.ABSTRAKKampanye sosial akhir-akhir ini semakin marak di kalangan masyarakat yangbertujuan untuk membawa perubahan sosial atau perilaku masyarakat ke arah yang lebihbaik. Polri pun turut serta menjadi salah satu penyelenggara kampanye sosial. Kampanyesosial dari Polri adalah kampanye yang bertujuan untuk mengurangi angka kecelakaan dijalan raya, khususnya untuk kecelakaan kendaraan kecil seperti sepeda motor. Namuntidak semua masyarakat berperilaku seperti apa yang diharapkan dalam kampanye ini,yaitu menyalakan lampu utama sepeda motor. Factor yang mempengaruhi perilakumasyarakat antara lain tingkat pendidikan dan tingkat pemahaman pesan kampanye sosialLight On.Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui hubungan antara tingkatpendidikan dan tingkat pemahaman pesan kampanye sosial Light On dengan perilakumenyalakan lampu sepeda motor. Teori yang digunakan adalah teori Behaviorisme danIndividuals differences theory. Tipe penelitian yang digunakan dalam penelitian iniadalah tipe explanatory dengan pendekatan metode penelitian kuantitatif. Populasipenelitian ini adalah pengendara sepeda motor di Kabupaten Magelang dan KotaSurakarta. Teknik pengambilan sampel menggunakan Non-Random Sampling dengansampel masing-masing kota sebanyak 50 responden.Hasil penelitian pada Kabupaten Magelang menunjukkan bahwa terdapathubungan antara tingkat pendidikan dan perilaku menyalakan lampu sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,328, dan terdapat hubungan antara tingkat pemahamanpesan kampanye sosial Light On dengan perilaku menyalakan lampu utama sepeda motordengan nilai korelasi sebesar 0,301. Sedangkan hasil penelitian di Kota Surakartamenunjukkan bahwa tidak terdapat hubungan tingkat pendidikan dan perilakumenyalakan lampu sepeda motor dengan nilai korelasi hanya -0,093. Namun terdapathubungan antara tingkat pemahaman pesan kampanye sosial Light On dengan perilakumenyalakan lampu utama sepeda motor dengan nilai korelasi sebesar 0,414.Melihat hasil penelitian di dua kota yang berbeda dan hasil yang berbeda pula,dapat dilihat bahwa masyarakat Kabupaten Magelang nampak lebih patuh dan tertibdalam menyalakan lampu utama sepeda motor pada siang dan malam hari jikadibandingkan dengan masyarakat Kota Surakarta.Saran bagi Polri selaku penyelenggara kampanye hendaknya melakukanpendekatan kepada masyarakat Kota Surakarta yang tidak berdasarkan tingkat pendidikankarena tingkat pendidikan tidak memiliki hubungan dengan perilaku menyalakan lampuutama sepeda motor. Bagi penelitian selanjutnya disarankan tidak hanya menelitimengenai hubungan, tetapi juga pengaruh intensitas kampanye. Penelliti selanjutnya jugabisa menambahkan variable keefektifan kampanye karena keefektifitasan kampanye jugamempengaruhi pemahaman pesan masyarakat mengenai kampanye tersebut.Kata Kunci : Tingkat Pendidikan; Tingkat Pemahaman Pesan Kampanye Sosial LightOn; Perilaku Menyalakan Lampu Sepeda MotorABSTRACTNowadays, social campaign becomes more popular in the society which has apurpose to bring the social changing or the public's behavior to be better. The IndonesianNational Police Department joins and becomes one of the organizers of social campaigns.The social campaign of the police department is a campaign that aims to reduce thenumber of accidents on the highway, especially for small vehicle accidents, likemotorcycle. However, not all people behave as what is expected in this campaign, whichis turning the motorcycle's main lamp on. The factors that influence people's behavior arethe level of education and the message comprehension level of Light On social campaign.The purpose of this study is to recognize the relationship between the levels ofeducation and comprehension of the Light On social campaign message and the behaviorof turning the motorcycle's main lamp on. The theory that is used is the theory ofbehaviorism and the individuals differences theory. This type of research used in thisstudy is the explanatory type with quantitative research method approach. The populationof this research were the bikers in Magelang regency and Surakarta city. The samplingtechnique was non-random sampling with the sample of 50 respondents in each town.The results showed that, in Magelang regency, there was a relationship betweenthe education level and the behavior of turning the motorcycle's main lamp on with thecorrelation value of 0.328, and also a relationship between the message comprehensionlevel of Light On social campaign and the behavior of turning the motorcycle's main lampon with a correlation value of 0.301. On the other hand, the results of the research inSurakarta showed that there was no correlation between the education level and thebehavior of turning the motorcycle's main lamp on with only -0.093 correlation value.However, there was no relationship between the message comprehension level of LightOn social campaign and the behavior of turning the motorcycle's main lamp on with thecorrelation value of 0.414.Considering these results in two different cities with different results, it could beconcluded that the people of Magelang regency seemed to be more dutiful and orderly inturning on the motorcycle's main lamp on on day and night compared to Surakarta'speople.The suggestion for the Indonesian National Police Department as the organizer ofthis campaign is to have a non educational-base approach, because the education level hasno relation with the behavior of turning the motorcycle's main lamp on. To the nextresearch, it is suggested that it is not only researching about the relationship, but alsoabout the campaign's intensity influence. The next researcher can also add the campaigneffectiveness variable, because the campaign effectiveness also influences the people'smessage comprehension about that campaign.Key words: education level; comprehension level of the light on social campaignmessage; behavior of turning on the motorcycle's lampDAFTAR PUSTAKAAhmadi, Abu. 2006. Pengantar Ilmu Kependidikan. Jakarta : Rieneka CiptaMunib, Ahmad. 2001. Ilmu Kependidikan. Semarang : UPT MKK UNNESBaran, Stanley J & Dennis K. Davis. 2006. Mass Communication Theory, 4th Edition.USA : Thomson WadsworthEffendy, Onong Uchjana. 1993. Human Relations & Public Relations. Bandung : CV.Mandar MajuGregory, Anne. 2001. Perencanaan dan Manajemen Kampanye Public Relations. Jakarta :ErlanggaGunawan, Ary H. 2000. Sosiologi Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaKriyantono, Rachmat. 2006. Teknik Praktis Riset Komunikasi. Jakarta : KencanaLittlejhon, Stephen.W & Foss, Karen.A. 2004. Theories of Human Communication; EightEdition. Canada : Thomson WadsworthMcQuail, Denis. 2005. Teori Komunikasi Massa, Edisi Kedua. Jakarta : ErlanggaNotoatmodjo, Soekidjo. 2007. Promosi Kesehatan dan Ilmu Perilaku. Jakarta : RinekaCiptaPriyanto, Duwi. 2009. 5 Jam Belajar Olah Data dengan SPSS 17. Yogyakarta : ANDIRakhmat, Jalaluddin. 2007. Psikologi Komunikasi. Bandung : PT. Remaja RosdakaryaSarwono, Sarlito Wirawan. 2002. Psikologi Sosial. Jakarta: Balai PustakaSarwono, Sarlito Wirawan. 2004. Teori-teori Psikologi Sosial. Jakarta : PT. Raja GrafindoPersadaSeverin, Werner J. & Tankard, James W. 2005. Teori Komunikasi; Sejarah, Metode, danTerapan di Dalam Media Massa. Jakarta : KencanaShimp, Terence A. 2003. Periklanan Promosi, Komunikasi Pemasaran Terpadu, Jilid I Edisike 5. Jakarta : ErlanggaSingarimbun, Masri & Sofian Effendi. 1989. Metode Penelitian Survai. Jakarta : LP3ESSiswoyo, Dwi dkk. 2008. Ilmu Pendidikan. Yogyakarta : UNY PressSugiyono. 2008. Metode Penelitian Kuantitatif, Kualitatif. Bandung : CV. AlfabetaSyam, M.Noor dkk. 2003. Pengantar Dasar-dasar Pendidikan. Surabaya : Usaha NasionalVenus, Antar. 2009. Manajemen Kampanye, Panduan Teoritis dan Praktis dalamMengefektifkan Kampanye Komunikasi. Bandung : Simbiosa Rekatama MediaWindahl, Sven & Benno Signitizer. 2009. Using Communication Theory, 2nd Edition, AnIntroduction to Planned Communication. London : Sage PublicationsWitherington. 1991. Psikologi Pendidikan. Jakarta : Rineka CiptaPrasetya, Adi Lukas. 2009. Nyalakan Lampu Motor Siang Hari, Menekan Kecelakaan.http://www.kompas.com/lipsus052009/antasariread/2009/09/27/19553723/Nyalakan.Lampu.Motor.Siang.Hari..Menekan.Kecelakaan, diunduh pada tanggal 8Februari 2012Polres Wonogiri. 2009. Polwil Pantau Sosialisasi Light On dan Lajur Kiri.http://polreswonogiri.com/beritakepolisian/detail/34/polwil-pantau-sosialisasilight-on-dan-lajur-kiri diunduh pada tanggal 8 Februari 2012Hapsari, Esti Dwi. 2011. Pengaruh Kampanye Keselamatan berkendara (Safety Riding)Terhadap Persepsi Kedisiplinan dalam Berlalu Lintas.http://etd.eprints.ums.ac.id/15932/1/2._HALAMAN_DEPAN.pdf, diunduh padatanggal 30 Mei 2012Munawaroh, Siti. 2009. Efektivitas Komunikasi Kampanye Program Safety RidingPolantas Polda Metro Jaya untuk Meningkatkan Pengetahuan (Studi PelajarSMK Binakarya Mandiri di Kabupaten Bekasi ).http://digilib.mercubuana.ac.id/skripsi1.php?ID_Skripsi=0000014044&NIM=44205010060, diunduh pada tanggal 30 Mei 2012
Aktivitas Promosi dalam Launching Produk Layanan Wisata Baru Buana Muda Pesona Tour Semarang Bidang Pekerjaan Program Manager Jaya Pramono Adi; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Nurrist Surayya Ulfa
Interaksi Online Vol 2, No 3: Agustus 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (176.893 KB)

Abstract

Backpacking merupakan salah pilihan dalam melakukan kegiatan wisata. Prinsip utama backpacking adalah kemandirian sehingga tidak bepergian bersama kelompok tur yang ditawarkan oleh agen perjalanan. Backpacker menekankan melakukan kegiatan wisata dengan cara dan biaya yang murah. Setiap pilihan tentu saja memiliki konsekuensi. Kegiatan wisata dengan menjadi seorang backpacker juga punya kekurangan. Karena liburan dilakukan secara mandiri maka resiko menjadi korban kejahatan, tersesat at au pun menjadi sasaran penipuan di tempat baru yang dikunjungipun semakin besar. Jika terjadi permasalahan dalam perjalanan maka backpackerharus menyelesaikan masalah secara mandiri. Selain itu, backpacker juga harus mempersiapkan dana cadangan kalau sewaktu-waktu muncul biaya yang diluar prediksi karena kondisi di lapangan seringkali berbeda dari infor masi yang didapatkan sebelumnya sehingga murah belum tentu menyenangkan.Pada bulan Januari 2014, Pesona Tour ingin melakukan pengembangan usaha. Mereka akan meluncurkan layanan wisata baru bernama Buana Muda. Buana Muda mengangkat konsep wisata yaitu Destination Management Company dan budgettravelling sehingga anak muda tetap dapat merasakan perjalanan wisata murah sesuai dengan daya beli yang mereka miliki tanpa harus repot mempersiapkan segala kebutuhan wisata dan tidak perlu merasa khawatir dengan munculnya biaya tambahan karena semua biaya telah dihitung di awal.Aktivitas promosi yang dilakukan menggunakan event marketing sebagai fondasi utama dan didukung oleh alat promosi lain seperti periklanan, marketing public relation,publisitas, point of purchase material, E communication dan relationship marketing. Event Marketing berbentuk kontes fotografi yang berjudul Buana Muda “Feel The New Experience” bertujuan untuk memperkenalkan dan menarik minat khalayak sasaran di semarang mengenai layanan wisata baru Buana Muda. Setelah aktivitas promosi dilakukan selama satu bulan terjadi kenaikan awaraness sebesar 39% dan minat sebesar 32%. Selain itu berhasil dibentuk komunitas buana muda guna menjaga keberlangsungan pesan komunikasi pemasaran. Keywords : Aktivitas, Promosi, Event, Tour
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Bagoes Widjanarko Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurul Hasfi Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Trixie Salawati Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti