Claim Missing Document
Check
Articles

Found 238 Documents
Search
Journal : Interaksi Online

Communication Activities On Creating Shared Value (CSV) between Nestle Indonesia and Consumers Arfika Pertiwi Putri; Nuriyatul Lailiyah; Tandiyo Pradekso; NS Ulfa
Interaksi Online Vol 3, No 2: April 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.553 KB)

Abstract

Nestle is a company which connects its business fields on its business chain through acts that help social issues which later was elaborated by Porter and Kreamer in 2006 into creating shared value (CSV). Michael Porter and Mark Kramer then formulate CSV as a business strategy concept to emphasize the importance of place social issues and needs intocompany strategy planning. It includes communication, interaction with consumers via manyways and channels. The purpose of the research is to recognize how communication activities on creating shared value Nestle Indonesia and consumers is carried out. The research used Berlo communication theory, Innovation Diffusion theory, marketing communication, involvement, one-way and two-way communication, and cause related marketing (CRM). The type of the research was qualitative descriptive using grounded research approach and case study as the research method. The result of the research shows that there is a communication strategy in the essence of CSV business strategy of Nestle Indonesia. CSV of Nestle Indonesia consists of agroup of programs where they are derived from marketing communications mix which delivers a consistent message that company’s values are intersected with global consumer’s values (create value). The communication process between consumers and Nestle is a dialog of co-learning and co-creation experience by diffusing innovation and knowledge to customers. Furthermore, there is a co-enrichment, co-production activities inthe CSV activity chain. Key element of the process are relevant contact point, virtual and non-virtual community role, and the role of opinion leaders and formers by sharing responses where customers interact with other customers (C2C). Mass media is also an essential factor to brace the existing values in the CSV programs so that they are more acknowledged by a larger audience. An interconnected network then is built between one element and another creating a communication network.
Hubungan Intensitas Menonton Tayangan Yuk Keep Smile dan Bentuk Parental Mediation dengan Perilaku Kekerasan Yang Dilakukan Anak Annisa Aulia Mahari; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi; Sri Widowati; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 2, No 4: Oktober 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (202.15 KB)

Abstract

Latar belakang penelitian ini adalah didasarkan pada tingginya kekerasan yang dilakukan anak, salah satu faktor anak melakukan kekerasan itu adalah karena dampak dari televisi. Anak menonton tayangan dan mengadopsi perilaku yang mereka lihat dalam adegan tayangan tersebut. disini, tayangan Yuk Keep Smile merupakan tayangan yang memberikan dampak negatif. Yuk Keep Smile merupakan acara hiburan, namun di dalam adegannya sering ditemukan kekerasan verbal dan kekerasan fisik. Orang tua haruslah memberikan mediasi antara anak dengan televisi, sehingga anak tidak serta merta menirukan apa yang mereka lihat. Bentuk parental mediation manakah yang berhubungan dengan adopsi perilaku anak dari tayangan yang mereka tonton.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui hubungan intensitas menonton tayangan Yuk Keep Smile dan bentuk parental mediation dengan perilaku kekerasan yang dilakukan anak. Teori yang digunakan pada penelitian ini adalah teori belajar sosial dari Bandura dan diperkuat dengan teori Powerfull Berdasarkan data dari lapangan didapatkan hasil bahwa intensitas menonton tayangan Yuk Keep Smile cukup tinggi dan 61persen responden mendapatkan coviewing mediation. Anak yang mendapatkan coviewing mediation kecenderungan melakukan kekerasan cukup tinggi, anak yang mendapatkan active mediation kecenderungan melakukan kekerasan rendah dan anak yang mendapatkan restrictive mediation kecenderungan melakukan kekerasan cukup rendah. Populasi dalam penelitian ini adalah anak-anak yang berdomisili di Semarang yang berusia 6 - 12 tahun dan pernah menonton tayangan Yuk Keep Smile. Sampel yang digunakan non random dengan tekhnik accidental sampling dikarenakan jumlah populasi yang tidak diketahui dengan jumlah sampel sebanyak 60 responden. Untuk menguji hubungan variabel X1 dengan Y dan variabel X2 dengan Y maka digunakan uji analisis Korelasi Pearson, dan uji formula dengan Chi Square, sedangkan untuk menguji variabel X1 dan X2 dengan Y, digunakan uji analisis Korelasi Konkordansi Rank Kendall (Kendall’s W Test). Berdasarkan hasil penelitian maka semakin tingginya intensitas menonton tayangan Yuk Keep Smile dan mendapatkan coviewing mediation semakin tinggi kecenderungan perilaku kekerasan yang dilakukan anak.Kata kunci: dampak televisi dengan anak, parental mediation,kekerasan oleh anak.
PRODUKSI PROGRAM ACARA "MUSICAHOLIC" EDISI SPESIAL TALK SHOW METAL SEBAGAI PRODUCER Mahendra Zulkifli; Tandiyo Pradekso; Muchammad Bayu widagdo
Interaksi Online Vol 1, No 4: Oktober 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (325.419 KB)

Abstract

NAMA : Mahendra ZulkifliNIM : D2C007051JUDUL : PRODUKSI PROGRAM ACARA "MUSICAHOLIC" EDISISPESIAL TALK SHOW METAL SEBAGAI PRODUCERABSTRAKSIAcara yang bertajuk tentang musik hampir ada di semua stasiun televisi, namunprogram musik yang saat ini marak bukanlah sebuah produk jurnalistik dan hanyamenayangkan aliran musik mainstrem. Aliran musik non mainstream jarang diangkatkarena dianggap tidak mampu mendongkrak rating, oleh karean itualiran musik nonmainstream menjadi altenatif produk jusnalistik yang menarik dan segar untukdiangkat, karena tema yang diambil tidak terpaku kepada kebutuhan pasar.Program talk show tentang musik metal dibuat untuk mengangkat komunitas musikmetal dibuat dengan memadukan antara informasi dan entertainment atau lebihdikenal dengan edutaiment.Secara umum ada empat tahap dalam pembuatan talkshow yaitu pra produksi dimulaidari mencari ide produksi sampai mempersiapkan director treatment, dan melakukanpersiapan dan latihan yang bersifat teknis bersama dengan kerabat kerja, pada tahapproduksi tugas yg di lakukan antara lain mengarahkan acara dan memastikan seluruhgambar dapat digunakan, dan diakhiri dengan mengevaluasi hasil kerja sertamemastikan layak siar.Adapun kendala yang dihadapi selama proses produksi adalah adanya pergantiannarasumber karena salah satu narasumber berhalangan hadir, adanya perubahanjadwal pelaksanaan produksi, karena keterbatasan waktu liputan maka VT diambildari file yang sudah ada sebelumnya. Untuk anggaran justru terdapat penghematanuntuk sewa pick up, fee narasumber, fee presenter, namun ada penambahan anggaranuntuk biaya editing.Setelah kita mengkaji tugas dan tanggung jawab serta peran seorang produser, disebutkanbahwa seorang produser mempunyai andil yang sangat besar dalam terbentuknya suatu teamproduksi, selain itu seorang produser juga harus mengontrol secara teliti kerja team produksidemi lancarnya program acara yang telah direncanakan. Yang tidak kalah pentinya bahwaseorang produser adalah orang yang mendanai atau membiayai pada program acara yangdirencanakanKata Kunci: talk show, musik metal, produserABSTRACTThere is a lot tv program who use musik as it theme, but the musik program that iscurrently emerging is not a product of journalism and only broadcast mainstremmusik. Non-mainstream musik genre rarely broadcasted because they are not able toboost ratings, that is why non mainstream musik become an attractive alternativejusnalistik products which is interisting and fresh to be appointed, because the themeis taken is not glued to the needs of the market.Talk show programs about metal musik is made to lift the metal musik communitycreated with combination of information and entertainment, better known byedutainment.Generally there is three stage on talkshow production that is pre-production startedfrom ideas inquiry until preparing director treatment dan doing preparation andrehearsal which is technically with production crew, at production stage task that hasto be done are directing program and ensure every picture can be used and endedwith evaluate and ensure the program can be broadcastedThe obstacles encountered during the production process is a change of speaker asone speaker was unable to attend, a change in schedule of production, due to thelimited time of coverage, the VT derived from pre-existing file. For budget there is asaving that come from pick up rental, speaker fees, presenter fees, but no additionalbudget for the cost of editing.After reviewing duties and responsibilities of the role of a producer, it is stated that aproducer has contributed greatly to the establishment of a production team, other thanthat a producer must also carefully control production team work for programs thathave been planned. it Is no less important that a producer is a person who fund orfinance the programs plannedKeyword : talk show, metal musik, producerPRODUKSI PROGRAM ACARA "MUSICAHOLIC" EDISI SPESIAL TALK SHOWMETAL SEBAGAI PRODUCERKarya BidangDisusun untuk memenuhi persyaratan menyelesaikanPendidikan strata 1Jurusan Ilmu Komunikasi Fakultas Ilmu Sosial dan Ilmu PolitikPenyusunNama : Mahendra ZulkifliNIM : D2C007051JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUAN1.1 LATAR BELAKANGSaat ini dalam kehidupan sehari-hari kita tidak bisa terlepas dari televisi.Dengan televisi kita bisa mendapatkan banyak informasi baik politik, sosial, budaya,agama dan ekonomi. Dari sekian banyak media komunikasi massa seperti surat kabar,majalah, radio, televisi dan internet ternyata televisilah yang paling diminati banyakkhalayak. Karena kelebihan televisi yang mampu menampilkan informasi secaramenarik melalui audio visual memudahkan khalayak untuk menerima informasisecara cepat dan mudah.Televisi sangat berperan dalam berbagai aspek kehidupan. Misalnya dalambidang pendidikan, pada waktu tertentu sesuai dengan masing-masing jadwal televisiswasta ataupun negeri, ditampilkan acara yang bertemakan pendidikan, seperti kuiscerdas cermat, debat ataupun seminar yang mendukung edukasi. Kemudian dalambidang ekonomi, kita bisa mendapatkan informasi tentang nilai kurs dollar dansebagainya. Sedangkan dalam bidang jurnalistik sendiri yang terus menyiarkan beritasesuai dengan perkembangan dunia. Apalagi dalam dunia entertainment yangsekarang mendominasi bisnis pertelevisian, begitu mudah untuk mengkomunikasikanapa saja yang dilakukan oleh para selebritis melalui acara infotainment.Musik adalah salah satu konten acara yang digemari oleh semua kalangan.Seiring dengan berkembangnya industri pertelevisian di tanah air, mulai bermunculanacara-acara yang bertajuk tentang musik hampir di semua televisi baik lokal maupunnasional seperti Inbox (SCTV), Dahsyat (RCTI), Spektakuler (Indosiar). Namunacara-acara musik tersebut dikemas sebatas dalam bentuk entertainment saja denganmenampilkan band, penyanyi dan juga video klip sehingga terkesan monoton dantidak variatif. Musik yang ditampilkanpun sebagian besar musik mainstream sepertipop, apalagi dengan adanya demam K-pop yang berasal dari Negara Korea membuatmusik-musik popular semakin sering ditayangkan.Bisa dibilang program musik yang saat ini marak bukanlah sebuah produkjurnalistik namun hanya sebagai pemuas kebutuhan masyarakat akan musik, karenadidalamnya tidak ada kegiatan menyiapkan berita, menulis, maupun mengedit sesuatuyang berupa catatan atau laporan sebuah kejadian. Seharusnya acara musik di televisidapat dikemas lebih menarik dengan memadukan unsur informasi, edukasi danhiburan yang sesuai dengan fungsi televisi itu sendiri .Pada dasarnya setiap manusia memiliki rasa keingintahuan yang cukup besarterhadap semua hal, tidak terkecuali terhadap aliran musik non mainstream yang saatini kurang diangkat oleh media, karena dianggap hanya disukai oleh segelintir orangdan kurang menguntungkan.Aliran musik non mainstream dapat menjadi altenatif produk jusnalistik yangmenarik dan segar untuk diangkat, karena tema yang diambil tidak terpaku kepadakebutuhan pasar dan memiliki tempat tersendiri dihati audiensnya khususnya bagipenggemar musik non mainstream. Mengingat selama ini musik-musik nonmainstream jarang diangkat pada produk-produk jurnalistik baik lokal maupunnasional, karena stasiun televisi maupun radio lebih fokus pada acara yang sesuaidengan kemauan pasar demi meraih rating tinggi atau sponsor dalam jumlah yangbesar.Musik metal diangkat sebagai tema acara karena selain memiliki penggemarfanatik juga mempunyai berbagai hal menarik yang belum diketahui oleh banyak,seperti: Musik metal yang rumit Tekhnik bermusik yang tinggi Aksi panggung yang eksploratif Jarangnya plagiarisme Lirik musik metal kebanyakan fiksional Musik metal mempunyai banyak sub-genre(http://www.jelajahunik.us/2012/06/6-hal-menarik-tentang-aliran-death.html)Seperti jenis musik ekstrim lainnya, keberadaan musik metal juga seringmemunculkan opini negatif dari masyarakat karena gaya hidup yang keras dan bebas,namun mereka tetap bisa bertahan dengan idealismenya hingga sekarang terutamadalam bermusik. Oleh karena itu musik metal menjadi layak dan menarik untukdiangkat sebagai tema program acara Musikaholic.1.2 TUJUANTujuan program talkshow dengan tema musik metal ini adalah inginmengangkat komunitas musik Metal di Semarang dan memberikan informasi kepadapemirsa mengenai perkembangan musik Metal di Semarang.Munculnya berbagai acara talkshow yang saat ini banyak digemari olehmasyarakat dan memiliki rating dan share yang cukup tinggi seperti Bukan EmpatMata (Trans 7), Hitam Putih (Trans 7), Kick Andy (Metro TV), Radio Show (TVOne) dan masih sedikit acara talkshow yang mengangkat musik sebagai tema utamaacara terutama musik non mainstream, melatar belakangi dibuatnya acara talkshowyang bertemakan musik metal.Acara ini memadukan antara informasi dan entertainment atau lebih dikenaldengan edutaiment. Secara konseptual program ini berisi informasi yang berguna danbermakna dibalut dalam konsep hiburan yang santai sehingga informasi lebih bisaditerima oleh pemirsa serta pemirsa tidak akan merasa jenuh. Kearifan lokal sebagaiunsur dari budaya nasional menjadi menarik untuk dipelajari jika dikemas dalamprogram yang menarik pula sehingga pemirsa memperoleh manfaat secara tidaklangsung dari program yang mereka lihat, dalam hal ini adalah masyarakat akan lebihmengetahui kehidupan komunitas musik metal di Kota Semarang pada khususnya,dengan informansi yang berimbang dari beberapa narasumber yang berkompeten,baik dari aspek positif dan aspek negatifnya. Hal ini sesuai dengan definisi dariprogram talkshow itu sendiri.Pesan yang ingin disampaikan program ini adalah agar audiens dapatmenikmati acara musik yang lebih variatif dengan memperhatikan fungsi jurnalistikdi dalamnya tanpa perlu memperlebar jurang perbedaan karena genre musik.1.3 SIGNIFIKANSI1.3.1 Akademis : Secara akademis, pembuatan acara Talk Show inidapat digunakan sebagai sarana untukmengaplikasikan ilmu yang sudah di dapat selamaperkuliahan. Khususnya di bidang pemrogramanpenyiaran dan produksi studio. Talkshow ini menjadisalah satu kontribusi jurnalistik dalam bentuk audiovisual.1.3.2 Praktis : Sebagai rujukan bagi pekerja media televisi dalammengemas sebuah acara yang mengangkat sesuatubersifat lokal pada televisi lokal.1.3.3 Sosial : Membuka wawasan masyarakat mengenai musik danbudaya metal. Diharapkan setelah adanya acara inimasyarakat lebih memahami musik metal dan budayametal secara historis.1.4 KONSEP ACARAMetal adalah suatu aliran musik yang mulai berkembang di dunia pada awaltahun 1970 an. Genre ini muncul dari aliran musik rock yang dikembangkan padabeberapa unsurnya. Mulai dari tempo musik yang lebih cepat, komposisi musik yanglebih keras, serta lirik-lirik yang semakin berani. Musik jenis ini lantas berkembangpesat dan terbagi dalam beberapa sub genre musik diantaranya Heavy Metal, DeathMetal, Black Metal, Trash Metal dan Grindcore.Istilah musik metal dicetuskan pertama kali oleh band Hard Rock tahun 1960an, Steppenwolf. Salah satu lagu mereka yang berjudul " Born To Be Wild", terdapatlirik yang berbunyi "I like smoke and lightning heavy metal thunder racin with thewind and the feelin that I'm under." Namun istilah tersebut masih belum diterapkansecara tepat pada komposisi musik dan lagunya, hingga kemudian band rock asalInggris, yakni Black Sabbath, merilis album yang juga berjudul "Black Sabbath" ditahun 1970 an. Album inilah yang dianggap banyak pengamat sebagai album metalpertama di dunia.(http://seputarinfomusik.blogspot.com/2012/04/sejarah-musik-metal-dunia.html)Musik metal berakar pada jenis musik underground yang sering didefinisikansebagai musik non mainstream, dimana perkembangannya bukan lewat mediapopuler tapi lebih sering menggunakan jalan "bawah tanah". Karya-karya merekajuga dipentaskan melalui konser-konser yang sifatnya tertutup. Gaya musiknya yangekstrim serta lirik yang berani menjadikan musik jenis ini hanya digemari olehkalangan tertentu.Program ini akan menarik audiens karena program ini termasuk programlimited edition dimana tidak semua media eletronik mau untuk mengangkat musiknon mainstream sebagai tema suatu program, sehingga audiens diharapkan dapatmemanfaatkan kesempatan ini untuk mengetahui lebih jauh tentang perkembangankomunitas metal yang ada di Kota Semarang pada khususnya.Keberadaan televisi lokal mungkin bisa menjadi alternatif untuk memberiwadah bagi kreatifitas para musisi metal. Mengingat televisi lokal tidak mutlakberorientasi pada keuntungan, tapi lebih menonjolkan unsur kearifan dan budayalokal. Dengan mengadakan talkshow tentang komunitas SBS pada khususnya danmusik metal pada umumnya, diharapkan bisa memberikan dampak positif bagiperkembangan musik metal di Semarang dan sekitarnya.Untuk mengangkat musik dan komunitas metal di Jawa Tengah khususnya diSemarang. Kami akan bekerjasama dengan salah stasiun televisi lokal di Semarangdalam proses produksi dan penayangan acara talkshow kami. Karena televisi lokalmemiliki kedekatan (proximity) dan target audience yang sesuai dengan acara kami.Televisi lokal Semarang yang akan kami ajak untuk bekerja sama adalah PROTV, dengan berbagai pertimbangan antara lain televisi ini belum pernah membuatacara talkshow yang membahas musik metal ataupun komunitas metal. Sebagai salahsatu televisi lokal yang ada di Semarang, keberadaan PRO TV telah diakui olehmasyarakat Semarang dalam menyajikan tayangan yang berlandaskan pada nilai-nilaikebudayaan Jawa Tengah namun dikemas dengan tampilan dan sajian yang lebihmodern dan segar. Hal ini menjadi salah satu point tersendiri bagi PRO TV untukbisa betahan di dunia pertelevisian di Semarang, yang notabene juga telah banyakmemiliki televisi lokal yang sejenis.Sebagai televisi berjaringan yang tergabung dalam satu wadah MediaNusantara Citra, PRO TV memiliki akses ke televisi lain, seperti RCTI, MNCTV, danGlobal TV. Selain menjangkau lebih banyak khalayak, hal ini juga dapatmemudahkan penyebaran informasi berita. Di Semarang sendiri, PRO TV dapatmembuktikan eksistensinya sebagai salah satu televisi lokal yang memang bertahandi Semarang. Sebagai saluran televisi pilihan masyarakat Semarang menghadirkanberaneka ragam program yang memberikan informasi lengkap bagi warga Semarangdisertai berbagai program Feature dan Entertainment yang bersifat edukatif, sampaiberagam program Talkshow dengan isu-isu terkini dari fenomena yang terjadi disekitar kita.Dalam bidang pendidikan, PRO TV juga menunjukkan kepedulian yang besar.Hal ini dibuktikan dengan crew PRO TV yang sebagian besar adalah kaum muda ataufresh graduate yang masih memiliki ide dan kreativitas yang segar sehingga bisamemberikan tayangan yang original dan menarik.Keunggulan yang dimiliki PRO TV adalah kedekatan dengan pemirsa yangdijalin melalui muatan lokal yang tinggi, dimana budaya dan kedekatan (proximity)membuat PRO TV mampu memberi porsi yang lebih bagi hal-hal yang disukai danyang ingin diketahui oleh masyarakat setempat. Namun, bila dibandingkan dengantelevisi lokal lain yang berada di Kota Semarang, PRO TV memiliki jangkauan yanglebih luas, dengan program-program acara yang lebih variatif didukung pula dengankualitas produksi dan sumber daya manusia yang lebih unggul.Selain itu PRO TV memiliki program acara Musikaholic yang sesuai dengankonsep acara kami. Acara ini berdurasi tiga puluh menit yang terbagi dalam 4 segmendalam setiap episodenya berisi liputan event konser musik yang telah berlangsung diKota Semarang, lengkap dengan informasi konser yang akan dilangsungkan di kotatersebut. Ditambah dengan ulasan musik dan video klip band lokal, dan jugadilengkapi dengan profil band yang telah diliput dan beragam video klip lagu top dariband mancanegara.Pada awalnya acara ini ditayangkan pada hari minggu pukul 18.30 WIB. Akantetapi pada awal Agustus 2012 karena adanya kebijakan manajemen dari pusatmengingat PRO TV memiliki dua slot siaran yaitu lokal dan nasional maka secaraotomatis manajeman harus memilah program yang mungkin disiarkan siang hari ataumalam hari dan untuk acara Musikaholic pihak manajemen memandang sebagai acarayang sifatnya fleksibel artinya bisa ditayangkan malam hari atau siang hari makaacara ini akan pindah tayang pada hari kamis pukul 22.30. Oleh karena itu kami inginmencoba konsep Talkshow edisi spesial metal pada program acara Musikaholic.Selain agar lebih variatif dan tidak membosankan juga bertujuan untuk menyesuaikandengan perubahan jam tayang.1.5 KONSEP PRODUKSI1.5.1 Produksi Talkshowa. Lokasi di studio indoor yang terletak di lantai 3 kantor PRO TV.Studio berukuran 10 x 12 m dengan daya lighting lampu flourescent 4bank sebesar 200 watt dilengkapi dengan standar peredam suara untukproduksi acara televisi.b. Tinggi lighting dengan lantai 3 meter, jarak lighting denan kamera 1,5meter.c. Produksi akan menggunakan 3 kamera, yakni 2 kamera dengan merkJVC GY-DV550, serta 1 kamera dengan merk JVC KY-F560. Khususuntuk presenter, kamera akan dilengkapi dengan teleprompter denganLCD 15’ dengan software EZ PrompterXPd. Untuk perlengkapan audio, presenter dan narasumber masing-masingakan menggunakan clip on dengan merk SONY ECM 77Be. Pergerakan dan variasi angel kamera akan di mix menggunakanswitcher 8 channel.f. Seluruh kamera akan diposisikan kurang lebih 4 meter dari obyekbidikan. Kamera 1 dan 2 akan bergerak dinamis mengikuti alur dialog,kamera 3 akan berfungsi sebagai kamera master dan cenderung statis.g. Properti acara akan menggunakan satu set meja kursi dengandilengkapi karpet berukuran 3 x 4m, background set yang terbuat darikayu dan didesain khusus untuk acara talkshow.h. Talkshow akan dipandu dengan presenter wanita yang mempunyaikarakter muda dan ceria. Presenter akan mengenakan setelan baju alakomunitas musik metal.i. Narasumber berjumlah 3 orang, yakni Bambang Iss (Pengamat Musikdan Musisi Senior Semarang), Rudy Murdock (Vokalis band "RadicalCorps"), Imam Putre (Ketua SBS (Scattered Brains Society) dangitaris band Putre Faction).PEMBAHASANProgram acara Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metal ditayangkan pada19 mei 2013 pukul 22.30 WIB setelah program acara Kriminal Sepekan dan sebelumprogram acara Impact Musik Grace & favor di stasiun PRO TV. Program iniberdurasi 30 menit yang terbagi menjadi 4 segmen yaitu segmen pembukaan,pembahasan tema segmen pertama dan pembahasan tema segmen kedua, sertadiakhiri dengan pembahasan tema pada segmen ke tiga dan closing pada segmen ke4. Setiap segmen diakhiri dengan commercial break yaitu iklan Hotel GrasiaSemarang, iklan program acara Lestari Budaya, iklan program acara GebyarCampursari, iklan program acara Dibalik Kasus dan iklan program acara Jateng HariIni untuk segmen pertama, iklan program acara Cerita Muda, iklan program acaraBintang Atmo, iklan program acara Rono Rene, iklan program acara Prime Topicuntuk segmen kedua, dan untuk segmen ke tiga iklan program acara Gitaran Sore-Sore, iklan program acara Mungkin Magic, iklan program acara Jejak Jelajah Wisata.Program ini menghadirkan 3 narasumber yaitu Bambang Iss sebagai tokoh musiksekaligus pengamat musik senior di Semarang, Imam Putre selaku ketua ScatteredBarins Society (SBS), dan Kancil sebagai pengganti Rudy Murdock yangberhalangan hadir, dengan Aliska sebagai host.Tujuan program acara Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metal ini adalahingin mengangkat komunitas musik Metal di Semarang dan memberikan informasikepada pemirsa mengenai perkembangan musik Metal di Semarang.Program talkshow ini diawali dengan penjelasan sejarah musik metal olehhost dimana host menjelaskan bahwa musik metal mulai masuk ke Kota Semarangpada akhir sekitar tahun 80 an, dengan berbagai sub genrenya seperti Heavy Metal,Trash Metal, ataupun Death Metal. Sebagai generasi pertama musik metal di KotaSemarang adalah Brutalator dan Syndrome, sampai akhirnya dibentuklah komunitasmusik metal dengan nama Scattered Barins Society (SBS) yang resmi berdiri padatanggal 25 April 1996 dengan basis di Semarang.Bambang Iss menyatakan bahwa istilah metal adalah perkembangan dariistilah Rock, pada tahun 60 an sampai 70 an muncul beberapa band yang mengusungaliran musik rock yang akhirnya disebut dengan istilah metal. Kancil menambahkanbahwa musik metal, rock dan trash mulai merambah Semarang pada tahun 90 an.Mulai masuk pembahasan tentang Scattered Barins Society (SBS), Kancilmenjelaskan bahwa Scattered Barins Society (SBS) muncul pada tahun 1995 – 1996an ketika aliran musik ekstrim mulai masuk ke Indonesia, setelah konser Spultura.Komunitas Scattered Barins Society (SBS) mulai terbentuk dari ajakan-ajakan untukngumpul yang dilakukan melalui selebaran, berawal dari ngobrol dan sharing yangdilakukan setiap jumat malam maka muncullah ide untuk untuk membentukkomunitas Scattered Brains Society (SBS). Kegiatan yang dilakukan Scattered BarinsSociety (SBS) meliputi gathering, live musik, dan workshop. Hal ini menunjukkanbahwa mereka jauh dari anggapan masyarakat bahwa komunitas metal lebihcenderung kearah negative seperti narkoba, kekerasan, dan lain-lain.Untuk keanggotaan Scattered Barins Society (SBS) Imam sebagai ketuamenyatakan tidak ada syarat khusus untuk menjadi anggota, hanya saja calon anggotaminimal mengerti apa yang disebut dengan ektrim metal. Beberapa anggota yangmemiliki band pernah merilis album baik indie maupun label seperti Morbiddustdengan label Jakarta, Syndrome dengan label Proton, Radical dengan label Bandung,The Killer of Gods, dan lain sebagainya.Sebagai penutup acara Imam menjelaskan tentang project selanjutnya dariScattered Barins Society (SBS) yaitu event bertema charity yang rencana akandilaksanakan pada tanggal 8 Juli yang hasilnya akan digunakan untuk membiayaianggota Scattered Barins Society (SBS) yang akan berangkat ke Eropa sebagai dutaseni.Acara ini diproduksi di dalam ruangan studio, setting studio menyesuaikandengan tema acara yang diangkat yaitu musik metal. Dengan menggunakan beberapaposter yang mempertegas unsur musik metal sebagai background, selain itumenggunakan properti lainnya seperti sofa untuk narasumber yang berwarna hitam,untuk tempat duduk host sendiri menggunakan kotak kayu agar memunculkan kesanbebas dan santai. Disamping itu terdapat sepasang gitar yang difungsikan sebagaipemanis dengan tujuan untuk menutupi ruang-ruang kosong yang menggangguestetika dan memperkuat kesan bahwa acara membahas mengenai musik.Untuk host dan narasumber dari awal disarankan menggunakan kaos berwarnahitam agar menimbulkan kesan yang “garang” karena hal tersebut bisa menjadi nilaiplus terkait dengan tema acara yaitu musik metal.Dalam pembuatan acara ini menggunakan 4 kamera yang bertujuanmemperkaya variasi gambar dan mendapatkan hasil yang maksimal, mengingat acaraini mengahdirkan tiga narasumber. Untuk mendapatkan gambar yang jernih tentunyadidukung dengan lightning lampu flourescent 4 bank sebesar 200 watt dilengkapidengan standar peredam suara untuk produksi acara televisi yang di posisikanmenyorot area panggung agar pada saat pengambilan gambar tidak terdapat bayanganyang menggangu agar gambar yang dihasilkan memuaskan. Penataan lampu sengajadibuat agak temaram atau remang namun tetap sesuai kaidah-kaidah penyiaran.Nuansa temaram dimaksudkan untuk mencerminkan musik metal yang merupakanmusik minoritas, tidak umum dan unik.PENUTUPPra Produksi Konsep acara yang ditawarkan menarik dan sesuai dengan fungsi PROTV sebagai televisi lokal, karena tema yang diangkat tidak terpakupada tren yang berkembang saat ini dan tidak semua media eletronikmau untuk mengangkat musik non mainstream khususnya musik metalsebagai tema suatu program. Apalagi dengan image PRO TV sebagaitelevisi lokal yang berkonsentrasi pada budaya lokal maka tema yangmengangkat komunitas metal asli kota semarang akan mempertegasimgae Pro TV sebagai televisi lokal yang mengutamakan konten dankearifan lokal. Hal ini sesuai dengan Visi PRO TV untuk membangundan menyuarakan kepentingan masyarakat Jawa Tengah dengan siarantelevisi yang profesional, menguntungkan, berkualitas, bertanggungjawab, beretika, berkeadilan yang berlandaskan keimanan danketaqwaan kepada Tuhan Yang Maha Esa. Dalam proses produksi acara ini melibatkan banyak orang,denganberbagai pertimbangan seluruh kru produksi diambil dari pihak PROTV yang tentunya professional dibidangnya dan sudah terbiasabekerjasama dalam suatu tim sehingga lebih mudah dalam prosespedekatan dan pengintegrasian. Hal ini terbukti lebih efektif daripadamembentuk tim baru yang terdiri dari orang luar, karena belum tentuorang-orang tersebut memiliki pengalaman yang memadai dan dapatbekerjasama dalam tim Dengan perencanan yang matang dan negosiasi yang baik denganpihak televisi, sangat menetukan keberhasilan dalam memproduksisuatu acara Dari bugetingpun dapat kita lihat keberhasilan dalam memproduksiacara ini. terjadi penghematan biaya produksi dimana biaya yangdikeluarkan lebih kecil dari anggaran yang telah direncanakan.Produksi .Isi dari tayangan Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metal yangtelah diproduksi sesuai dengan tujuan awal dibuatnya acara ini.Dimana acara ini ingin mengangkat komunitas musik metal disemarang dan ingin memberikan informasi kepada pemirsa mengenaiperkembangan musik metal di semarang. Hal ini dapat kita lihat darihasil dialog dengan ketiga narasumber selama acara ini berlangsung.Para narasumber menjelaskan awal mula musik metal masuk kesemarang hingga dapat berkembang sampai sekarang, selain itumereka juga membahas bagaimana peran komunitas metal disemarang dengan berbagai kegiatanya dalam menghidupi danmempertahankan eksistensi musik metal di semarang. Setelah mengkaji tugas dan tanggung jawab serta peran seorangproduser, disebutkan bahwa sebagai produser mempunyai andil yangsangat besar dalam terbentuknya suatu team produksi, selain ituseorang produser juga harus mengontrol secara teliti kerja teamproduksi demi lancarnya program acara yang telah direncanakan.Yang tidak kalah pentingnya bahwa seorang produser adalah orangyang bertanggung jawab terhadap kebutuhan dan biaya program acarayang direncanakan.Pasca ProduksiDengan telah ditayangkanya acara Musikaholic Edisi Spesial Talkshow Metaldi PRO TV pada 19 Mei 2013 pukul 22.30 dan tanggapan positif baik dari pihak PROTV maupun pemirsa, secara khusus merupakan representasi capaian keberhasilanseorang produser dalam menjalankan tugas dan kesuksesan acara ini secara umum.DAFTAR PUSTAKABukuBurton, Graeme. Membincangkan Televisi (Sebuah pengantar Kepada Studi televisi).Yogyakarta. Jalasutra. 2007Arifirii, Eva. Broadcasting to be broadcaster. Yogyakarta. Graha Ilmu. 2010Djamal, Hidajanto dan Andi Fachruddin. Dasar-Dasar Penyiaran (Sejarah,Organisasi, Operasional, dan Regilasi).Jakarta. Kencana. 2011Santana.K, Septiawan. (2003). Jurnalisme Investigatif. Jakarta: Yayasan OborIndonesia.Subroto, Darwanto Sastro. Produksi Acara Televisi. Yogyakarta. Duta WacanaUniversity Press. 1994Team AnneAhira.com. Mengenal Dasar Jurnalistik Adalah Penting. Dikutip dariWahyudi.J.B. Dasar-Dasar Jurnalistik Radio dan Televisi.Jakarta: PT Pusaka Utama Grafiti.1996Wibowo, Fred. Dasar-dasar Produksi Program Televisi. Jakarta Rasindo. 1997InternetPujilaksono, Setiyo . Mengenal Lebih Jauh Tentang Televisi. Dikutip dariAsiaaudiovisualra09setiyopujilaksono’s BlogDwi Lestari, Kristina. Dasar-Dasar Jurnalistik. Dikutip darihttp://pelitaku.sabda.org/dasar_dasar_jurnalistik(Diakses tanggal 7 April2012)http://asiaaudiovisualra09setiyopujilaksono.wordpress.com/2009/07/06/mengenallebih-jauh-tentang-televisi/ (Diakses tanggal 8 April 2012)http://www.anneahira.com/jurnalistik-adalah.htm (Diakses tanggal 7 April 2012)http://www.indoreggae.com/artikel4.html (Diakses tanggal 7 April 2012)http://www.seputarinfomusik.blogspot.com/sejarah-musik-metal-dunia.html (diaksestanggal 7 April 2012) oleh Beje “Sejarah Musik Metal Dunia”Team AnneAhira.com. Dasar Sebuah Produk Jurnalistik. Dikutip dariwww.anneahira.com/produk-jurnalistik.htm (Diakses tanggal 7 April 2012)
PT. erudeye Indonesia’s Pazcal Cloud Launching Activity Report (Project Officer) Pipin F.P. Lestari; Djoko Setyabudi; Nurrist Surayya Ulfa; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 3: Agustus 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (214.02 KB)

Abstract

PT erudeye Indonesia is a B2B company with a business model that is established in the information technology and focuses on cloud computing and enterprise services. In 2014, PT. erudeye Indonesia plans to develop cloud computing services Pazcal (Spazio & Scala), spazio means space, scala is scale which is intended for enterprise IT in the Jakarta. PT erudeye Indonesia through Pazcal product want to enter the cloud computing market in Indonesia because Indonesian enterprise needs for a large data storage. But, Pazcal has not received the awareness because the product is still new. Furthermore, cloud providers in Indonesia are also very numerous and varied so that Pazcal must have a difference of positioning. Therefore PT erudeye Indonesia wants to do the right marketing communication activities for the Pazcal product to get attention and has a position of products in the mind of the target market.The goal of marketing communications activities is to foster awareness and create product positioning as efficient and reliable cloud computing products. Pazcal message strategy arranges the analytical survey considerations, competitors, SWOT, and the theoretical framework which will be delivered by multiple tools at three stages of the implementation strategy of positioning. There are the building stage, the stage of providing education and strengthen the positioning stage in the form of online and offline campaign. At building positioning stage, the tools used are the interface design websites, articles, e-books, social media and media relations. Education stage, the tools used are articles, webinars "PaaS for Quick Development, Collaboration & Deployment" and the seminar "Rainbow Rendezvous: Boost Your Experience with Pazcal". While on the strengthen positioning stage, the tools used are a video testimony, webinar "PaaS for Quick Development, Collaboration & Deployment "and the seminar" Rainbow Rendezvous: Boost Your Experience with Pazcal ". Whole of that marketing communications activities are designed to support the goal of launching Pazcal cloud products.
Pengaruh Terpaan Berita Negatif Joko Widodo di Media Massa dan Faktor Demografi (Usia, Jenis Kelamin, dan Tingkat Pendidikan) terhadap Citra Joko Widodo sebagai Presiden RI Asty Setiandini; Joyo NS Gono; Much Yulianto; Tandiyo Pradekso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (174.365 KB)

Abstract

Since Joko Widodo was officially elected as Indonesia’s President on November 2014, the news about Joko Widodo often became headlines in various mass media such as prints, online, or television. However, some survey results showed that the news about Joko Widodo tend to be negative. This negative news could affect the image of Joko Widodo as a President in the eyes of the public. Although the mass media have the power to influence the image, the response given by public for every information they got from mass media was different. It is influenced by their demographical factors like age, gender, and educational level because those factors could determine how people accepting and processing the messages given by mass media. This is a quantitative research with explanative type, which aims to determine the effect of negative news exposure about Joko Widodo in mass media and demographical factors (age, gender, and educational level) toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President. The theories used in this research are The Theory of Dependency Mass Communication Effect and Social Category Theory. This research used a purposive non random sampling technique and taken a sample of 100 people in Semarang. The primary data was analyzed using hierarchical multiple regression with the help of SPSS program. The statistical calculations showed that there is a direct effect of negative news exposure about Joko Widodo in mass media toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President with significance score 0.000 (<0.05). Meanwhile, negative news exposure about Joko Widodo in mass media toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President through age and gender showed significance score 0.426 and 0.337 but through the educational level obtained significance score 0.049 (<0.05). The result showed that there is an effect of negative news exposure of Joko Widodo in mass media toward Joko Widodo’s image as Indonesia’s President through educational level but there is no effect through age and gender.
Hubungan Persepsi Kecantikan Tradisional, Persepsi Kecantikan Ideal dan Citra Merek Kosmetik Sariayu dengan Minat Beli Produk Kosmetik Sariayu Aike Ingget Pratiwi; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 9, No 4: Oktober 2021
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Although Sariayu cosmetic products have been established for a long time, in 2016 until 2020, Sariayu’s cosmetic products have a lower Top Brand Index (TBI) than its 2 competitors, Wardah and Viva. Furthermore in the last 2 years, some of the products are not included in the Top Brand. This result is not in accordance with the previous and current efforts done by Sariayu to promote its produtcs and values. Starts with being main sponsor at Miss Indonesia, Miss Earth Indonesia, launched some innovations, and created web-series. Researcher presumes that Top Brand Index (TBI) drop is not solely caused by the communication strategy made by Sariayu but the shifting meaning of beauty and value carried by Sariayu with what beauty mean in today's society. This research aims to explain the linkages between traditional beauty perceptions, ideal beauty perceptions, and Sariayu cosmetics brand image with Sariayu cosmetics purchase intention. This research uses quantitative research with explanatory research type. The population in this study is women who lives in Semarang City, aged 17-35 years, and know Sariayu’s cosmetic products. This study uses non-probabililty sampling techniques with 100 respondents. Chi Square is used as statistical test. The theories used as references are the Self Congruity Theory by Sirgy and The Consumer Decision-Making Theory by George E. Belch and Michael A. Belch. The result showed that there is no linkages between traditional beauty perception with Sariayu cosmetics purchase intention (significance value 0.098 > 0.05), there is linkages between the ideal beauty perceptions with Sariayu cosmetics purchase intention (significant value 0.000 < 0.05), as well as there is no linkages between Sariayu cosmetic brand image with Sariayu cosmetics purchase intention (significance value 0.077 > 0.05.).
Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub, Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013 Awang Asmoro; Tandiyo Pradekso; Muchamad Yulianto
Interaksi Online Vol 2, No 1: Januari 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (279.667 KB)

Abstract

Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub,Intensitas Komunikasi Politik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensiterhadap Partisipasi Politik Pemilih Pemula pada Pilgub Jateng 2013ABSTRACTOn May 26th, 2013, people of Central Java implemented the Gubernatorial Election.Various campaigns conducted to gain public sympathy. However, the number of abstentions wasvery high, reaching 44 percent. On the other hand, youth voters have a significant impact to thesuccess of the elections, or the victory of candidate, based on the relatively large amount.Adolescents at 17-18 years old, which when the Central Java Gubernatorial Election 2013, theyvote for the first time, most of them live with a family and at that age are also often involved insome reference groups.This study used quantitative research methods and the type is explanatory research,which examines the relationship between variables through hypothesis testing. The populationused in this study were high school students, Madrasah Aliyah, and vocational high schools inSemarang city, with multistage random sampling technique. This study used logistic regressionas statistical test. This test is used when the dependent variabel have dichotomous scale.The results showed that exposure to the candidates’ campaigns has no effect on youthvoters political participation, while political communication intencity in the family and politicalcommunication intencity in the reference group both has influence on youth voters politicalparticipation. Opened campaign or through the media can’t reach youth voters effectively. Onthe other side, youth voters need some party (but not political party) to mobilize their politicalparticipation. So, this study suggested that the target of the campaign are families or groups whohave access to the youth voters. Family and reference group had a significant influence on thepolitical socialization process to the youth voters, so that will be more effective when the politicor campaign informations delivered through the socialization agents.Keywords : campaign, family, reference group, youth votersABSTRAKSIPada tanggal 26 Mei 2013, masyarakat Jawa Tengah melaksanakan pemilihan Gubernurdan Wakil Gubernur secara langsung. Namun, angka golput ternyata sangat tinggi, yaitumencapai angka 44 persen. Di sisi lain, pemilih pemula memiliki pengaruh yang cukupsignifikan bagi kesuksesan pemilihan umum, ataupun bagi kemenangan salah satu kandidat,mengingat jumlah yang relatif besar. Remaja pada usia 17-18 tahun, di mana pada saat PilgubJateng 2013 menjadi pemilih untuk pertama kalinya, sebagian besar tinggal dengan keluarga danpada usia tersebut juga sering terlibat dalam suatu kelompok referensi.Penelitian ini menggunakan metode penelitian kuantitatif dengan tipe penelitianeksplanatori, yaitu mengkaji hubungan antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi yangdigunakan dalam penelitian ini adalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang, denganteknik multistage random sampling. Uji statistik yang digunakan adalah uji regresi logistik. Ujiini digunakan ketika variabel tetap berskala dikotomi.Hasil penelitian menunjukan bahwa terpaan kampanye Cagub-Cawagub tidakmempunyai pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula, sedangkan intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga dan intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Kampanye terbuka ataumelalui media tidak dapat menjangkau pemilih pemula dengan efektif. Di sisi lain, pemilihpemula membutuhkan pihak-pihak untuk memobilisasi partisipasi politik mereka. Untuk itu,disarankan agar kampanye dilakukan untuk menyasar keluarga atau kelompok-kelompok yangmemiliki akses kepada pemilih pemula. Keluarga dan kelompok referensi memiliki pengaruhyang signifikan dalam proses sosialisasi politik kepada pemilih pemula sehingga akan lebihefektif ketika informasi politik atau informasi kampanye disampaikan melalui agen-agensosialisasi tersebut.Kata kunci: kampanye, keluarga, kelompok, pemilih pemulaPENDAHULUANKomunikasi merupakan aspek penting dalam kehidupan manusia. Pertukaran pesandilakukan di antara manusia melalui komunikasi. Fungsi komunikasi untuk mempersuasi banyakdijumpai dalam dunia politik. Komunikasi berperan sebagai penghubung antara pemerintahdengan rakyat. Di Indonesia, dengan sistem pemerintahan yang republik, di mana republikdengan Dewan Perwakilan Rakyat, Dewan Perwakilan Daerah dan Presiden yang dipilihlangsung oleh rakyat, maka komunikasi digunakan sebagai alat untuk mempersuasi masyarakatagar memberi dukungan kepada suatu pihak atau golongan. Salah satu bentuk nyata dukunganmasyarakat terhadap suatu pihak atau golongan adalah melalui pemilihan umum (pemilu). Dalampemilu, para kandidat berlomba-lomba memperoleh suara rakyat untuk bisa menduduki jabatantertentu dalam pemerintahan. Komunikasi dalam kegiatan ini berperan penting untukmempersuasi masyarakat. Salah satu strategi komunikasi untuk mempersuasi masyarakat adalahkampanye. Upaya perubahan yang dilakukan kampanye selalu berkaitan dengan aspek kognitif,afektif, dan behavior. Namun, di tengah maraknya kampanye politik yang dilakukan partaipolitik dalam pemilu di tahun 1999, 2004, dan 2009, didapat data bahwa partisipasi politikmasyarakat Indonesia dalam pemilu justru mengalami penurunan. Tidak hanya dalam Pemilu,rendahnya partisipasi politik masyarakat dalam Pilgub juga terasa. Data hasil Pilgub di beberapadaerah juga menunjukkan bahwa tingkat Golput masyarakat sangat tinggi, yaitu Jawa Tengahdengan tingkat Golput paling tinggi dari provinsi lain dengan 45,25 persen(http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432).Keluarga sebagai lingkungan terdekat bagi seseorang memiliki peran yang cukup pentingbagi perkembangan seseorang. Dalam dunia politik, keluarga, terutama orang tua memilikiperanan untuk mengedukasi anaknya tentang politik. Tidak hanya melalui keluarga, pemilihpemula yang masih berusia remaja cenderung terlibat dengan kelompok referensi dalampergaulannya. Kelompok referensi dalam bentuk kelompok teman sebaya, kelompok diskusi, dankomunitas memiliki peran penting juga dalam kesuksesan pemilihan umum. Sosialisasi tentangpolitik juga dapat terjadi dalam kelompok referensi, di mana dengan keberadaan kelompokreferensi, informasi, dalam hal ini informasi politik yang diperoleh masing-masing anggota dapatdibagikan kepada anggota lain, sehingga menambah pengetahuan bagi anggota, sehinggaanggota dapat menentukan sikapnya terhadap politik.Penelitian ini bertujuan untuk mengetahui pengaruh terpaan kampanye Cagub-CawagubJateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, dan intensitas komunikasi politikdi dalam kelompok referensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula dalam Pilgub Jateng2013.Tipe penelitian ini adalah eksplanatori. Tipe penelitian ini digunakan untuk menjelaskanhubungan (korelasi) antar variabel melalui pengujian hipotesis. Populasi dalam penelitian iniadalah siswa SMA, MA, dan SMK di Kota Semarang. Data diambil dari Profil Pendidikan KotaSemarang Tahun 2012 dengan mengambil data kelompok usia 16-18 tahun. Pada tahun 2013,usia terkecil dalam kelompok usia tersebut akan memenuhi syarat usia sebagai pemilih dalampemilihan umum, maka anggota kelompok usia tersebut pada Pemilihan Gubernur Jawa Tengah2013 dianggap sebagai pemilih pemula. Jumlah anggota populasi ini adalah 50.419 orang.Teknik pengambilan sampel yang digunakan adalah multistage random sampling.Kerangka TeoriBeberapa studi menunjukkan bagaimana agenda kampanye mempengaruhi isu yangmenonjol di kalangan pemilih (Iyengar & Simon; Togeby, dalam Hansen, 2008: 8). Kampanyesebagai sarana komunikasi persuasi kandidat digunakan untuk mengarahkan isu yang menonjoldi kalangan pemilih sesuai dengan keinginannya. Misalnya, De Vreese (dalam Hansen, 2008: 9)menunjukkan bagaimana isu dari kampanye jajak pendapat menyebabkan pemilih mengevaluasikinerja politisi terhadap isu kampanye. Johnston dkk. (dalam Hansen, 2008: 9) menunjukkanbagaimana isu perdagangan bebas meningkatkan isu yang menonjol selama kampanye danbagaimana pemilih mengevaluasi kandidat berdasar pengaruh yang kuat terhadap perdaganganbebas pada pilihan mereka. Freedman dkk (dalam Hansen, 2008: 7) menemukan bahwa terpaankampanye meningkatkan ketertarikan politik, kesadaran, pengetahuan, dan kecenderungan untukmemilih.Para peneliti secara tradisional berkonsentrasi pada keluarga sebagai agen sosialisasi utama,menemukan bahwa diskusi politik di dalam rumah, partisipasi orang tua dalam pemilihan, dansumber daya politik secara signifikan berdampak pada partisipasi politik remaja (Verba dkk;Brady dkk, dalam Pacheco, 2008: 415). . Menurut beberapa ilmuwan, anak muda hanya memilihseperti pilihan orang tua mereka (Rundio; dalam Armstrong, dkk, 2008: 1). Misalnya, jika orangtua mereka Partai Republik, mereka cenderung memilih Partai Republik juga. Studi telahmenunjukkan bahwa arah politik dikalahkan oleh paksaan orang tua yang lebih banyak padatahun-tahun awal seseorang bergabung dalam pemilihan umum dan perlahan-lahan berkurang,selalu tersisa sedikit pengaruh (Jennings; dalam Gross, 2007: 6).Kelompok referensi adalah seseorang atau sekelompok orang yang mempengaruhi perilakuindividu secara signifikan (Bearden dan Etzel, 2001: 184). Dalam studi merek pilihan konsumen,Witt (dalam Bearden dan Etzel, 2001: 183-184) menegaskan studi nonmarketing pada awalnyamengindikasi bahwa kohesivitas kelompok mempengaruhi perilaku. Baron dan Byrne (dalamRakhmat, 2009: 149) berpendapat bahwa pengaruh sosial terjadi ketika perilaku, perasaan, atausikap kita diubah oleh apa yang orang lain katakan atau lakukan.Hipotesis1. Terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 (X1) secara signifikan berpengaruhterhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).2. Intensitas komunikasi politik di dalam keluarga (X2) secara signifikan berpengaruh terhadappartisipasi politik pemilih pemula (Y).3. Intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi (X3) secara signifikanberpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula (Y).PEMBAHASANRegresi logistik merupakan pendekatan untuk memprediksi, seperti regresi Ordinary LeastSquare (OLS). Namun, dengan regresi logistik, peneliti memprediksi hasil yang dikotomi, dalampenelitian ini adalah partisipasi politik pemilih pemula, dengan nilai 1 untuk kategoriberpartisipasi dan nilai 0 untuk kategori tidak berpartisipasi. Situasi ini menimbulkan masalahbagi asumsi OLS yang mengharuskan varians eror (nilai residual) terdistribusi normal.Uji parsial dilakukan untuk mengetahui apakah variabel bebas secara individu mempengaruhivariabel terikat.TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x1 -.085 .633 .918x2 1.085 .000 2.959x3 1.239 .000 3.454Constant -6.209 .000 .002Ho : β = 0 (Variabel x tidak signifikan mempengaruhi variabel dependen)Ha : β ≠ 0 (Variabel x signifikan mempengaruhi variabel dependen)Kriteria pengujian: Jika nilai signifikansi < 0,05, maka Ho ditolak, Ha diterima. Jika nilai signifikansi > 0,05, maka Ho diterima, Ha ditolak.Hasil pengujian :Nilai signifikansi X1 = 0,633, berarti > 0,05Nilai signifikansi X2 = 0,000, berarti < 0,05Nilai signifikansi X3 = 0,000, berarti < 0,05Karena ada satu variabel yang tidak signifikan, maka dilakukan penghitungan ulang denganmembuang variabel yang tidak signifikan. Hasilnya sebagai berikut:TabelPartial TestB Sig. Exp(B)x2 1.078 .000 2.938x3 1.226 .000 3.409Constant -6.526 .000 .001Interpretasi Odds RatioKoefisien regresi pada regresi logistik sulit diinterpretasikan karena regresi logistik berbicaramengenai probabilitas. Maka digunakan angka odds ratio, di mana nilai odds ratio ditunjukkanpada kolom Exp(B).1. Exp(B1) = 2,938Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam keluarga yang dilakukanpemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politik meningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkeluarga yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013 meningkat 2,938kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitas komunikasi politikdi dalam keluarga yang lebih rendah.2. Exp(B2) = 3,409Artinya, semakin tinggi intensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi yangdilakukan pemilih pemula, maka kecenderungannya untuk ikut berpartisipasi politikmeningkat.Atau,Kecenderungan pemilih pemula yang mengalami intensitas komunikasi politik di dalamkelompok referensi yang tinggi untuk berpartisipasi politik dalam Pilgub Jateng 2013meningkat 3,409 kali lipat lebih tinggi dibanding pemilih pemula yang memiliki intensitaskomunikasi politik di dalam keluarga yang lebih rendah.Pengaruh Terpaan Kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, Intensitas KomunikasiPolitik di dalam Keluarga, dan Kelompok Referensi terhadap Partisipasi Politik PemilihPemula dalam Pilgub Jateng 2013Berdasarkan hasil analisis statistik, diketahui bahwa dari tiga variabel bebas yaitu terpaankampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013, intensitas komunikasi politik di dalam keluarga, danintensitas komunikasi politik di dalam kelompok referensi, variabel terpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 tidak berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula. Dari hasilperhitungan, tidak terdapat cukup bukti untuk menerima hipotesis yang menyatakan bahwaterpaan kampanye Cagub-Cawagub Jateng 2013 berpengaruh positif terhadap partisipasi politikpemilih pemula.Zaller (dalam Evans, 2004: 201) berpendapat bahwa dari sudut pandang statistika, meskipunkita tahu dari perspektif dunia nyata bahwa terpaan kampanye memiliki efek pada bagaimanaorang-orang memilih (pemilu), belum ada yang formalisasi nyata dari efek kampanye karenasurvey dengan ribuan responden pun tidak cukup besar untuk mendeteksi efeknya. Selarasdengan hasil penelitian ini, bahwa terpaan kampanye yang diterima oleh kelompok pemilihpemula ternyata tidak memiliki pengaruh terhadap partisipasi politik pada pemilihan umum. Efekkampanye pada Pilgub Jateng 2013 tidak terlihat pada kelompok pemilih pemula, karena tidakmendapat cukup bukti yang mendukung hipotesis yang diajukan. Lebih lanjut, Newton (dalamFarrell dan Beck, 2004: 184) berpendapat, pemilih membentuk preferensi mereka atas dasarinformasi selain yang disediakan dalam kampanye, dan terhadap informasi ini, pesan bias yangdipikirkan oleh spesialis pemasaran tidak bisa menang. Artinya adalah bahwa pemilih,memutuskan pilihan mereka pada pemilihan umum bukan berdasar informasi yang diberikandalam kampanye. Sedangkan pesan-pesan yang telah disusun oleh tim sukses kampanye, tidakdapat menang melawan informasi yang diperoleh di luar kampanye. Dalam penelitian ini,sumber informasi lain diperoleh melalui diskusi politik dalam keluarga dan kelompok referensi,di mana keduanya memberikan pengaruh yang signifikan terhadap partisipasi politik kelompokpemilih pemula. Semakin intensif diskusi yang dilakukan, baik di dalam keluarga maupunkelompok referensi, maka akan semakin tertanam dalam benak pemilih pemula, yang kemudianmempengaruhi pandangan politiknya, sehingga partisipasi politiknya sebagai pengamatterbentuk berdasarkan pandangan keluarga maupun kelompok referensi.Berdasarkan seminar “Voting” (1954), oleh Bernard Berelson, Paul F. Lazarsfeld, danWilliam N. McPhee, dan “The American Voter” (1960), oleh Angus Campbell, Philip E.Converse, Warren E. Miller, dan Donald E. Stokes, pada penelitian terbaru, banyak ahliberpendapat bahwa keputusan pemilihan bergantung pada identifikasi partisan dan sosiologiyang sudah ada sebelum kampanye dimulai dan kampanye hanya mengaktifkan preferensi yangtersembunyi ini (dalam Mayer, 2008: 59). Jadi, dalam sebuah keputusan partisipasi pemilih,kampanye tidak memiliki pengaruh yang berarti, namun keputusan lebih dipengaruhi olehmisalnya faktor lingkungan dan pandangan pribadi terhadap kandidat, di mana hal ini sudahmulai berkembang di dalam benak kalangan pemilih sebelum dilakukannya kampanye. Kegiatankampanye diperlukan untuk hanya mengaktifkan ingatan tentang pandangan pribadi danlingkungan yang mempengaruhinya saat sebelum dilakukannya pemungutan suara. Kampanyedalam hal ini tidak lebih sebagai pengingat saja tentang kegiatan pemilihan umum, hal inimenggambarkan tidak adanya pengaruh yang diberikan kepada keputusan pemilih.Kelompok yang menolak perlunya kampanye politik, berpendapat bahwa hasil pemiluditentukan oleh kinerja pemerintah dan bahwa kampanye hanya berarti sedikit dalammenentukan hasil pemilu. Mengikuti tradisi klasik dari V.O. Key (dalam Maisel dkk, 2007: 3),peneliti tersebut menekankan model reward atau hukuman berdasarkan indikator pemerintahanyang sebenarnya, seperti perekonomian atau perang dan damai. Jika perekonomian berjalandengan baik dan masyarakat puas dengan kinerja keseluruhan pemerintahan saat ini, merekaharus memilih anggota partai tersebut, dan jika mereka tidak puas, mereka harus menghukumpartai tersebut dengan menolak memilih partai tersebut. Model demokrasi ini, menurut Popkin(dalam Maisel dkk, 2007: 3) hanya membutuhkan informasi dan pilihan yang minim sebagaibagian dari pemilihan umum. Pemilih tidak diharuskan mengikuti debat dengan sangat hati-hatiatau mencari detail dari program kerja kandidat. Sebaliknya, mereka hanya harus mampu menilaiyang telah dilakukan pemerintah saat ini. Sesuai dengan konsep tersebut, analisis berbasis kinerjacenderung berpikir bahwa kualitas kampanye, janj-janji kandidat, dan liputan media massa tidakberarti dalam menentukan hasil pemilihan umum. Permasalahan yang menonjol (seperti tingkatpengangguran, inflasi, dan lain-lain) adalah yang menggerakan pemilih (Beck dan Nadeau,dalam Maisel dkk, 2007: 3). Kegiatan kampanye, ditujukan untuk meraih simpati masyarakatagar memilih suatu partai atau kandidat dalam pemilihan umum, namun, berdasarkan uraian diatas, kampanye politik tidak berpengaruh terhadap keputusan pemilih dikarenakan pemilihmengambil keputusan berdasarkan kinerja kandidat. Kegiatan kampanye yang lebih berfokuspada penyampaian program kerja atau hiburan-hiburan tidak memiliki dampak signifikanterhadap keputusan pemilih. Pemilih pemula, yang sebagian besar pelajar, memiliki cenderungmemiliki sedikit waktu untuk mengakses informasi mengenai kinerja kandidat. Namun denganadanya keluarga dan kelompok referensi, di mana di antaranya memiliki pengetahuan danpenilaian terhadap kandidat, maka dalam diskusi yang melibatkan pemilih pemula, pemilihpemula akan dapat menilai kinerja kandidat berdasarkan informasi yang diperoleh dari keluargaataupun kelompok referensi. Semakin banyak pemilih pemula memperoleh informasi, makapemilih pemula akan lebih obyektif dalam menentukan pilihan.Chaffe dkk (dalam Nimmo 2006: 112-113) berpendapat anak dari keluarga yang mendorongpengungkapan diri dan penyingkapan gagasan politik yang bertentangan; sementara mengecilkanhubungan sosial yang berupa penghormatan dan yang konformis, cenderung lebihberpengetahuan tentang politik, lebih besar kemungkinannya terlibat dalam politik, lebih percayakepada politik, lebih realistik dalam mengagumi pemimpin politik, dan lebih menaruh minatterhadap politik dibandingkan dengan anak dari keluarga tipe yang lain. Dalam diskusi keluarga,semakin intensif komunikasi yang dilakukan dalam rangka membahas masalah politik danmelibatkan pemilih pemula, maka pemilih pemula yang cenderung aktif dalam diskusi, misalnyadengan mengutarakan pandangan politiknya, akan cenderung berpartisipasi dalam politik.Hirsch (dalam Nimmo, 2006: 113) menyebutkan bahwa kelompok sebaya memiliki pengaruhyang memperkuat dan mendukung pandangan politik anak sehingga politik benar-benar menjadimasalah pembahasan yang relevan. Nimmo (2006: 113) berpendapat bahwa kelompok sebayajuga mempengaruhi belajar politik sehingga mereka memberikan bimbingan melaluikeanggotaan dalam asosiasi sukarela, perhimpunan kewarganegaraan, atau dengan rekan kerja diperusahaan, serikat, buruh, atau tempat kerja yang lain. Karena orang biasanya masuk dalampandangan sendiri, maka kemungkinan asosiasi seperti itu mengubah opini politik menjadiberkurang. Meskipun tidak selalu demikian, kecenderungan yang umum ialah bahwa orangmenyesuaikan kepercayaan, nilai, dan pengharapan politiknya dengan kawan sebaya untukmemelihara persahabatan yang ditunjukkan dengan menjadi kawan sebaya.Menurut Huntington dan Nelson (dalam Arifin, 2011: 213), sifat partisipasi politik yangterlihat berdasarkan hasil penelitian cenderung kepada partisipasi politik yang dimobilisasi ataudigerakan oleh pihak lain (mobilized participation). Namun, berbeda dengan pendapatHuntington dan Nelson, penggerak partisipasi politik kelompok pemilih pemula bukan olehpartai politik, kandidat, tim sukses, atau pejabat pemerintah, karena terpaan kampanye tidakmempengaruhi partisipasi politik kelompok ini. Penggerak yang berpengaruh terhadap kelompokpemilih pemula adalah keluarga dan kelompok referensi. Keluarga dan kelompok referensitermasuk dalam lingkungan terdekat bagi kelompok pemilih pemula. Ini artinya bahwakeputusan kelompok pemilih pemula dalam pemilihan umum dipengaruhi oleh lingkungan yangada di dekatnya. Dengan intensitas komunikasi yang tinggi di dalam keluarga maupun kelompok,pemilih pemula mendapat pengetahuan politik yang mana pengetahuan tersebut berdasar padaperspektif masing-masing keluarga atau kelompok, artinya pengetahuan yang diberikan bersifatsubjektif. Berdasarkan hal tersebut, menurut Dan Nimmo (dalam Arifin 2011: 223-224)kelompok pemilih pemula ini cenderung masuk dalam tipe pemilih rasional. Kelompok pemilihpemula yang berpartisipasi cenderung melakukan diskusi mendalam tentang politik baik dengankeluarga maupun kelompok referensi. Pemberi suara rasional berminat secara aktif terhadappolitik, rasa ingin tahu yang dimiliki kelompok pemilih pemula menjadikan diskusi denganlingkungan terdekat sebagai sarana mendapatkan informasi, dalam hal ini adalah informasipolitik. Melalui diskusi, pemilih pemula dapat memperoleh cukup informasi untuk menentukanalternatif yang dihadapkan padanya, alternatif pemimpin Jawa Tengah periode 2013-2018. Motifpartisipasi yang terlihat dalam penelitian ini, menurut Dan Nimmo (2006: 129-130) yaitusengaja, diarahkan dari dalam, dan diarahkan dari luar. Motif sengaja, artinya bahwa pemilihpemula secara sengaja terlibat dalam diskusi politik yang kemudian akan meningkatkanpengetahuan politiknya dan dapat mempengaruhi pandangan politiknya. Motif diarahkan daridalam, artinya bahwa orientasi atau kecenderungan partisipasi politiknya diperoleh melaluibimbingan orang tuanya. Pemilih pemula dengan intensitas komunikasi politik yang tinggi didalam keluarga cenderung terpengaruh untuk berpartisipasi dalam pemilihan umum. Yangketiga, motif diarahkan dari luar, artinya bahwa kecenderungan partisipasi pemilih pemula,selain dipengaruhi oleh keluarga, juga dipengaruhi lingkungan yang lebih luas, dalam hal iniadalah kelompok referensi. Diskusi politik yang terjadi dalam kelompok yang melibatkanpemilih pemula, cenderung mempengaruhi partisipasi pemilih pemula dalam pemilihan umum.Partisipasi pemilih pemula dalam Pilgub Jateng 2013 ini termasuk rendah, di mana sebanyak59% menyatakan tidak berpartisipasi dalam pemilihan umum. Ini menunjukkan bahwa motifyang ada dalam diri pemilih pemula kurang dibangun. Jika intensitas komunikasi politik didalam keluarga dan kelompok referensi berpengaruh secara signifikan terhadap kecenderunganpartisipasi dalam pemilihan umum, maka ketika intensitas komunikasi politik di dalam keluargadan kelompok referensi rendah, pemilih pemula cenderung tidak berpartisipasi. Ini berarti motifdiarahkan dari dalam dan luar, kurang berkembang dalam diri pemilih pemula. Keluarga dankelompok referensi kurang bisa memaksimalkan perannya sebagai agen sosialisasi politik kepadapemilih pemula. Sedangkan pemilih pemula, juga kurang termotivasi untuk secara aktif mencariinformasi politik sehingga kecenderungan partisipasinya rendah.PENUTUPBerdasarkan hasil analisis data menggunakan regresi logistik, maka dapat disimpulkansebagai berikut:1. Tidak terdapat pengaruh terpaan kampanye Cagub-Cawagub terhadap partisipasi politikpemilih pemula. Beberapa jawaban atas temuan ini yaitu antara lain, kegiatan kampanyeyang ditujukan kepada kelompok pemilih pemula sedikit, hal ini menyebabkan terpaan yangdiperoleh cenderung rendah, sehingga pengetahuan yang dimiliki pemilih pemula tentangkandidat juga minim. Kegiatan kampanye yang umum dilakukan seperti kampanye terbukadan melalui media massa maupun media luar ruang tidak dapat menjangkau kalangan remaja.2. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam keluargaterhadap partisipasi politik pemilih pemula.3. Terdapat pengaruh yang signifikan dari intensitas komunikasi politik di dalam kelompokreferensi terhadap partisipasi politik pemilih pemula.4. Partisipasi politik pemilih pemula cenderung rendah dan hal itu lebih dipengaruhi padaintensitas komunikasi politik di dalam keluarga dan kelompok referensi yang cenderungrendah juga.Berdasarkan kesimpulan di atas, peneliti memberikan beberapa saran sebagai berikut:1. Para calon yang tampil dalam pemilihan umum, agar melakukan kampanye dengan cara lainuntuk menyasar pemilih pemula, hal ini karena dengan kegiatan kampanye yang telahdilakukan seperti kampanye terbuka, melalui media massa maupun media luar ruang, tidakdapat mempengaruhi partisipasi mereka. Untuk itu, disarankan agar melakukan kampanyemelalui agen sosialisasi bagi pemilih pemula atau remaja, yaitu keluarga dan kelompokreferensi, hal tersebut bisa menjadi alternatif yang efektif untuk menjangkau pemilih pemulaatau remaja.2. Komisi Pemilihan Umum (KPU) sebagai pihak penyelenggara pemilihan umum bersamapemerintah, agar memberikan sosialisasi kepada masyarakat mengenai pentingnyapendidikan politik bagi anak muda.3. Keberadaan keluarga dan kelompok referensi, sebagai lingkungan terdekat dan sebagai agensosialisasi bagi pemilih pemula, berpengaruh terhadap partisipasi politik pemilih pemula.Maka, keluarga dan kelompok referensi sebaiknya lebih aktif mengajak anak berkomunikasidan berdiskusi tentang politik, sehingga terjadi keterbukaan antar anggota keluarga danpemilih pemula dapat meningkatkan pengetahuan politik.4. Keberadaan pemilih pemula sebagai bagian baru dalam dunia politik memiliki peran pentinguntuk ikut membangun bangsa, maka pemilih pemula sebaiknya lebih aktif dan tertarik padadunia politik. Pemilih pemula sebaiknya terbuka terhadap informasi politik yang diterimabaik melalui media massa maupun dari orang lain. Hal ini sangat berguna untukmengembangkan pengetahuan politik para pemilih pemula.DAFTAR PUSTAKAArifin, Anwar. 2011. Komunikasi Politik: Filsafat-Paradigma-Teori-Tujuan-Strategi danKomunikasi Politik Indonesia. Yogyakarta: Graha Ilmu.Armstrong, Abbigail dkk. 2008. Examining Trends in Youth Voting: The Effect of Turnout,Competition, and Candidate Attributes on 18-24 Voters from 1974-2004. University ofEvansville.Bearden, William O. dan Michael J. Etzel. 1982. Reference Group Influence on Product andBrand Purchase Decisions. Journal of Consumer Research: Volume 9.Evans, Jocelyn A.J. 2004. Voter & Voting: an Introduction. London: Sage Publications.Farrell, David M. dan Rudiger Schmitt-Beck. 2004. Do Political Campaigns Matter? CampaignEffects in Elections and Referendums. New York: Routledge.Gross, John. 2007. The Influence of Parents in the Voting Behavior of Young People: A Look atthe National Civic and Political Engagement of Young People Survey and the 2008Presidential Election. Public Opinion and Survey Research.Hansen, Kaper M. 2008. The Effect of Politial Campaigns: Overview of the Research OnlinePanel of Electoral Campaigning (OPEC). University of Copenhagen.Maisel, L. Sandy, Darrell M. West, dan Brett M. Clifton. 2007. Evaluating Campaign Quality:Can the Electoral Process be Improved. New York: Cambridge University Press.Mayer, William G. 2008. The Swing Voter in American Politics. Washington: The BrookingInstitution.Nimmo, Dan. 2006. Komunikasi Politik: Khalayak dan Efek. Bandung: Remaja Rosdakarya.Pacheco, Julianna Sandell. 2008. Political Socialization in Context: The Effect of PoliticalCompetition on Youth Voter Turnout. USA: Springer Science+Business Media.Rakhmat, Jalaluddin. 2009. Psikologi Komunikasi. Bandung: Remaja Rosdakarya.http://ugm.ac.id/index.php?page=rilis&artikel=1432
Efektifitas Terpaan Publisitas Kegiatan Filantropi PT Sido Muncul dan Brand Trust Terhadap Loyalitas Konsumen Tolak Angin di Kota Semarang Teresia Kinta Wuryandini; Tandiyo Pradekso; Wiwid Noor Rakhmad; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 3, No 4: Oktober 2015
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (516.649 KB)

Abstract

Loyalitas konsumen Tolak Angin dapat dikatakan rendah, oleh karena itu PT SidoMuncul melakukan berbagai kegiatan untuk mendekatkan Tolak Angin pada masyarakat,salah satunya adalah dengan melakukan kegiatan filantropi dan menumbuhkan kepercayaankonsumen akan merek Tolak Angin. Lalu, seberapa besar efektifitas terpaan publisitaskegiatan filantropi PT Sido Muncul dan brand trust terhadap loyalitas konsumen TolakAngin di Kota Semarang?Tujuan penelitian ini adalah untuk mengkaji seberapa besar efektifitas terpaanpublisitas kegiatan filantropi PT Sido Muncul dan brand trust terhadap loyalitas konsumenTolak Angin di Kota Semarang.Boundary Spanning Public Relations Theory dan Commitment-Trust Theorydigunakan untuk menjelaskan efektifitas terpaan publisitas kegiatan filantropi PT SidoMuncul dan brand trust terhadap loyalitas konsumen Tolak Angin di Kota Semarang.Populasi dalam penelitian ini adalah konsumen Tolak Angin di Kota Semarang yang terterpapublisitas kegiatan filantropi yang dilakukan oleh PT Sido Muncul yang diambil sebanyak 50orang, dengan teknik purposive sampling.Analisis Regresi Linear Berganda digunakan untuk melakukan uji hipotesis. Ujihipotesis menunjukkan nilai signifikansi variabel terpaan publisitas kegiatan filantropi PTSido Muncul adalah 0,158 atau lebih besar dari α (0,05), sehingga terpaan publisitas kegiatanfilantropi PT Sido Muncul tidak mempengaruhi loyalitas konsumen Tolak Angin di Kotasemarang. Sedangkan, nilai signifikansi variabel brand trust adalah 0,000 atau lebih kecildari α (0,05), sehingga brand trust mempengaruhi loyalitas konsumen Tolak Angin di KotaSemarang.Variasi variabel dependen yang dapat dijelaskan oleh kedua variabel independenadalah sebesar 34%, brand trust memberikan sumbangan relatif sebesar 32, 7% dansumbangan efektif sebesar 11,11 %.
HUBUNGAN MENGAKSES MEDIA MASSA DENGAN ADOPSI OLAHRAGA FLAG FOOTBALL Agraha Dwita Sulistyajati; Sri Widowati Herieningsih; Tandiyo Pradekso; Djoko Setyabudi
Interaksi Online Vol 2, No 2: April 2014
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (287.751 KB)

Abstract

Berdasarkan pada teori Powerfull Effect, penelitian ini berasumsi bahwa terdapat hubungan antara media massa dengan adopsi olahraga. Peneliti bertujuan untuk menentukan hubungan intensitas membaca komik Eyeshield 21, intensitas menonton film Hollywood yang memuat olahraga American Football, dan intensitas memainkan video game Madden NFL dengan adopsi olahraga Flag Football. Target penelitian adalah 83 orang anggota komunitas Indonesian Flag Football Association di Semarang. Penelitian ini menerapkan metode kuantitatif dan menggunakan uji normalitas dengan uji Kendall’s Tau-b untuk memeriksa hubungan diantara variabel.Hasil data menunjukkan bahwa intensitas membaca komik Eyeshield 21 tergolong tinggi. Intensitas menonton film bertemakan American Football tidak terlalu tinggi. Sedangkan Intensitas memainkan video game Madden NFL terbilang rendah. Meskipun begitu, intensitas mengadopsi olahraga Flag Football tergolong tinggi. Mayoritas responden memainkan olahraga Flag Fooball.Uji normalitas menunjukkan bahwa data pada penelitian ini tidak berdistribusi normal, sehingga peneliti menggunakan analisis non parametrik. Uji korelasi menunjukkan bahwa tidak ada hubungan antara komik Eyeshield 21 dan adopsi olahraga Flag Football. Sebaliknya, film bertemakan olaharaga American Football dan video game Madden NFL memiliki hubungan dengan adopsi 2olahraga Flag Football, meskipun hubungannya lemah. Hasil ini mengungkapkan bahwa media tidak memiliki efek powerfull di setiap kondisi. Pada beberapa kasus, media hanya memberi implikasi kecil kepada khalayak. Orang juga lebih mempercayai kerabat dekat dibandingkan media. Peneliti menggunakan teori minimalis efek dan teori kontrol sosial untuk menjelaskan temuan penelitian.Keyword : intensitas, media, komik, film, video game, hubungan, adopsi, olahraga
Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah untuk Peningkatan Publisitas Lizzatul Farhatiningsih; Tandiyo Pradekso; Agus Naryoso
Interaksi Online Vol 1, No 3: Agustus 2013
Publisher : Jurusan Ilmu Komunikasi, FISIP, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (374.895 KB)

Abstract

Nama : Lizzatul FarhatiningsihNIM : D2C009011Judul : Audit Media Relations Humas Sekretariat Daerah ProvinsiJawa Tengah untuk Peningkatan PublisitasABSTRAKPenelitian ini dilatarbelakangi karena kurang berperannya Biro HumasSetda Jawa Tengah dalam melakukan fungsi kehumasan terhadap PemerintahProvinsi Jawa Tengah. Humas telah melakukan banyak kegiatan namun efeknyapada pemberitaan tentang Pemerintah Provinsi yang muncul belum terasa. Namunkesesuaian melakukan banyak kegiatan tersebut belum diimbangi denganpemberitaan-pemberitaan positif yang muncul di media massa baik cetak maupunelektronik. Hal tersebut menyebabkan terjadinya aksi di masyarakat yangmemperburuk citra Pemerintah Provinsi Jawa Tengah.Metode yang digunakan adalah metode audit komunikasi. Tipe penelitianini adalah tipe penelitian deskriptif, di mana tipe penelitian ini terbatas pada usahamengungkapkan suatu masalah atau keadaan sebagaimana adanya dan bertujuanuntuk membuat deskripsi gambaran atau lukisan secara sistematis, faktual, danakurat mengenai fakta-fakta, sifat-sifat, serta hubungan antara fenomena ataukegiatan yang dilakukan oleh Biro Humas Setda Provinsi Jawa Tengah yangberkaitan dengan media relations. Teknik pengumpulan data yang dipakai adalahteknik wawancara mendalam kepada delapan orang yang terdiri dari pimpinan danstaf Biro Humas serta wartawan baik dari media massa cetak maupun elektronikyang berkaitan dengan Humas.Dari hasil penelitian didapatkan hasil bahwa kinerja Humas Setda JawaTengah belum efektif. Kegiatan media relations yang dilakukan masih terbataspada kegiatan yang biasa dari tahun ke tahun mereka lakukan. Padahal,semestinya Humas mampu memahami, memiliki pengetahuan yang terusberkembang dan maju, serta melakukan lebih dari itu. Hal ini dikarenakanbanyaknya ketimpangan yang terjadi di Humas. Pemahaman mengenai mediarelations masih menitik beratkan pada fokus tujuan Humas saja yaitu untukmendapatkan publisitas, pemahaman mengenai tools media relations yang belumberkembang, belum adanya SDM yang kompeten dalam melaksanakan tugaspokok dan fungsi, minimnya anggaran, dan kewenangan yang terbatas membuatkinerja Humas menjadi kurang efektif. Dengan hasil audit komunikasi ini, pihakPemerintah Provinsi Jawa Tengah terutama Sekretariat Daerah Jawa Tengah perlumelakukan perbaikan terhadap fungsi maupun kewenangan Humas agar kinerjaHumas menjadi lebih efektif dan meningkatkan publisitas positif di media massa.Kata kunci: Audit Komunikasi, Media Relations, Public Relations, Publisitas.Nama : Lizzatul FarhatiningsihNIM : D2C009011Judul : Media Relations Audit of Public Relations in Region SecretariatCentral Java Province for Increasing The PublicityABSTRACTThis research is backgrounded of less contribution from Public Relations RegionSecretary Central Java Province when they do their function. Public Relationshave been doing many activities but the effect in news mass media about theGovernment of Central Java Province is nothing yet. However, doing moreactivity is not balance with appearing the good news in mass media, both printand electronic media. It causes many actions in society that make the bad imageof Government of Central Java Province.Communications audit methods is used in this research. Reseacher usesdescriptif research type that this research limited to the efforts to reveals aproblem or situation as it is and aims to create a picture or description of thepainting in a systematic, factual, and accurate information on the facts,characteristics, and relations between phenomena or activities conducted byPublic Relations in Region Secretariat Central Java Province related to mediarelations. In this research, used indepth interview technique to collect theinformation to eight people that consist of head, leader, staf of Public Relationeither reporters from print and electronic media.The outcomes from this research is the activity in Public Relations RegionSecretariat Central Java Province is not effective. Media relations activity thatconducted are limited to their annual activity. Besides, Public Relations should beable to understand, develop the knowledge, and do more than it. It is caused muchunbalances in Public Relations. Understanding of media relations is still focusedon the goal of Public Relations is only to get publicity, undevelop ofunderstanding media relations tools, nothing humans resources that competencewith main duty and functions of Public Relations, minimum budgeting andfacilities, and limited authority that makes the performance of Public Relations isnot effective. The outcome of this communication audit, Central Java Province,espescially Region Secretariat of Centra Java need an improvement in PublicRelations’function and competence. In order to make Public Relations’s task bemore effective and increasing positive publicity in mass media.Keywords: Communication Audit, Media Relations, Public Relations, Publicity.JURNALAudit Media Relations Humas Setda Jawa Tengah untukPeningkatan PublisitasLIZZATUL FARHATININGSIHD2C009011JURUSAN ILMU KOMUNIKASIFAKULTAS ILMU SOSIAL DAN ILMU POLITIKUNIVERSITAS DIPONEGOROSEMARANG2013PENDAHULUANKeberadaan Public Relations atau Humas sangat dibutuhkan olehperusahaan-perusahaan maupun instansi pemerintah. Fungsi-fungsi dan tugastugasHumas sangat menunjang kelangsungan hidup dan mempengaruhi citra darisuatu instansi pemerintah. Humas merupakan suatu profesi dengan proseskomunikasi kepada publik atau dengan kata lain Humas menghubungkan antaralembaga/instansi dengan publiknya baik eksternal maupun internal. Dalamkonteks lembaga publik seperti pemerintah, peran melayani dan mengembangkandukungan publik guna mencapai tujuan organisasi merupakan hal yang sangatpenting. Pemberitaan yang beredar mengenai instansi pemerintah merupakansalah satu tanggung jawab besar bagi Humas.Sekretariat Daerah Provinsi Jawa Tengah (Setda ProvJateng) merupakanunsur pembantu pimpinan Pemerintah Provinsi Jawa Tengah yang dipimpin olehSekretaris Daerah, berada di bawah dan bertanggung jawab kepada Gubernur.Sekretariat Daerah Provinsi bertugas membantu Gubernur dalam melaksanakantugas penyelenggaraan pemerintahan, administrasi, organisasi dan tata laksanaserta memberikan pelayanan administrasi kepada seluruh Perangkat DaerahProvinsi. Divisi Humas Setda Jateng bertugas memberikan informasi danpenjelasan mengenai kebijakan-kebijakan yang akan atau telah dilakukan olehpemerintah/instansi, menciptakan hubungan yang harmonis antara pemerintahdengan publiknya. Untuk dapat melakukan tugas-tugas tersebut Humas harusmelakukan berbagai macam kegiatan komunikasi yang berbeda untuk masingmasingpublik, baik internal maupun eksternal.Media massa memegang peran dalam tugas Humas tersebut karena mediamassa dapat menimbulkan kesadaran terhadap sesuatu, mempersuasi ataumengajak untuk melakukan hal tertentu, serta mengubah sikap, pendapat, atauperilaku seseorang. Menurut Wasesa dalam Political Branding and PublicRelations (2011 : 18) agar suatu citra sebuah merek baik komersial maupunpolitik dapat melekat di benak konsumen atau audiens, perlu dilakukanrehabilitasi setiap 3 bulan sekali agar loyalitas konsumen pun tercipta. Haltersebut dapat diartikan menjadi institusi pemerintah, khususnya Humas SetdaJateng perlu melakukan pembaharuan, pencerahan, analisis, atau evaluasi di setiap3 bulan untuk dapat mempertahankan loyalitas dalam hal ini adalah loyalitaspihak-pihak eksternal terhadap Pemerintah Provinsi Jawa Tengah, seperti pers danmasyarakat.Pemerintah Provinsi Jateng yang dipimpin oleh Gubernur Bibit Waluyobanyak menuai prestasi selama melaksanakan tugas memimpin Jawa Tengah,akan tetapi, pemberitaan mengenai prestasi yang diraih oleh Pemerintah ProvinsiJawa Tengah tersebut rupanya tidak terlalu mendapat perhatian publik ketikamedia menyiarkan pemberitaan tersebut, justru beberapa kasus yang dialami olehPemerintah Provinsi Jawa Tengah baik Gubernur Bibit Waluyo besertajajarannyalah yang belakangan ini lebih menjadi sorotan dan kemudianberpengaruh terhadap sikap masyarakat dan opini masyarakat kepada pemerintah.Seperti kasus yang terjadi ketika Gubernur Bibit Waluyo memberikan pernyataanmengenai kesenian Jathilan atau jaran kepang dengan menyebut Jathilan sebagaikesenian terjelek di dunia.Kegiatan media relations yang selama ini telah dilakukan oleh HumasSetda Pemprov Jateng antara lain konferensi pers, press release, press luncheon,dan talk show. Selain itu ada pula anggaran APBD dengan jumlah yang cukupbesar yang diberikan kepada organisasi-organisasi wartawan Jawa Tengah, sertapembuatan Forum Komunikasi Wartawan Jawa Tengah yang dipimpin olehSekretaris Daerah Provinsi Jawa Tengah. Beberapa kebijakan dan kegiatantersebut merupakan upaya menjalin hubungan yang baik sehingga kiranya dapatmeningkatkan publisitas dan meminimalisir pemberitaan negatif di media massa.Tetapi, meskipun Humas Setda Jateng sudah melakukan berbagai kegiatan danupaya tersebut, pada kenyataannya pemberitaan mengenai Pemerintah ProvinsiJawa Tengah masih didominasi oleh munculnya pemberitaan yang negatif baik dimedia cetak maupun elektronik.Oleh sebab itu, yang kemudian menjadi pokok permasalahan adalahbagaimana kegiatan Media Relations Humas Sekretariat Daerah PemerintahProvinsi Jawa Tengah dalam meningkatkan publisitas?Penelitian ini diharapkan dapat memperdalam kajian Teori MediaRelations yang berkaitan dengan audit media relations serta diharapkanmemberikan kontribusi bagi Humas Setda Provinsi Jawa Tengah pada khususnyadan humas di seluruh instansi pemerintah daerah pada umumnya untukmenentukan langkah-langkah yang dapat ditempuh untuk menjalin hubunganyang baik dengan media massa agar dapat meningkatkan publisitas instansitersebut. Penelitian ini mengambil pemikiran-pemikiran tentang media relationsIriantara, teori media relations Lesley suatu hubungan dengan media komunikasiuntuk melakukan publisitas atau merespon kepentingan media terhadap organisasidan berguna untuk memberikan informasi kepada masyarakat karena kaitannyadengan media massa dan pers selain itu juga bermanfaat untuk memperolehdukungan dan kepercayaan masyarakat. Kegiatan-kegiatan media relations antaralain, Press Conference, Press Tour, Press Reception, Press Briefing, PressStatement, Press Interview, Press Gathering, Press Release, Media Advisory,Press Kit, Press Room, Media List, Talkshow. Ada pula teori-teori tentang auditkomunikasi, Jane Gibson dan Richard Hodgetss (1991 : 453) dalam bukunyaOrganizational Communication: A Manajerial Perspective dalam Hardjana (2000: 10) yaitu suatu analisis yang lengkap atas sistem-sistem komunikasi internal daneksternal dari suatu organisasi.Audit public relations merupakan komponen reguler dari banyak programpublic relations. Mereka menyediakan data input bagi perencanaan programpublic relations pada masa mendatang dan membantu mengevaluasi efektivitaskerja sebelumnya. Agensi Joyece F.Jones dan Ruder Finn Rotmann yang dikutipBakin, Aronoff & Lattimore (1997 : 124) menjelaskan proses audit dalam empatproses :1. Mencari tahu apa yang “kita” pikirkan (finding out what “we” think)2. Mencari tahu apa yang “mereka” pikirkan (finding out what “they” think)3. Mengevaluasi kesenjangan sudut pandang di antara keduanya (Evaluatingthe disparity)4. Memberi Rekomendasi (Recomending)ISIPenelitian ini terbagai ke dalam dua bab pembahasan yang membahas mengenaikesesuaian kinerja Humas atau kegiatan-kegiatan media relations yang dilakukandengan konsep dan mencari tahu mengenai kebutuhan Humas dalam rangkapeningkatan kerja dan jika diperlukan perbaikan di dalamnya. Pembahasantersebut antara lain sebagai berikut :1. Pemahaman media relations : Humas Setda Jawa Tengah sendiri memahamimedia relations sebagai upaya menjalin hubungan baik dengan media massauntuk mempublikasikan kegiatan pimpinan daerah seperti Gubernur, WakilGubernur, Setda, dan lainnya kepada masyarakat sesuai dengan kedudukanHumas sebagai Kominfo, Komunikasi dan Informasi. Humas perlu jugamemahami tools media relations dan bahwa media relations merupakanupaya menjalin hubungan yang baik dengan wartawan serta bagaimanamenyampaikan informasi-informasi kepada masyarakat dengan tepat.2. Tujuan kegiatan media relations : bertujuan untuk menjalin hubungan yangbaik dengan media, bekerja sama, memaksimalkan publisitas dari kegiatankegiatanpara pejabat pimpinan daerah seperti Gubernur, Wakil Gubernur,Sekretaris Daerah dan Asisten Daerah. Humas seharusnya perlu memahamitujuan-tujuan kegiatan media relations yang lain, yaitu perlunya memperolehumpan balik dari masyarakat mengenai upaya dan kegiatanlembaga/organisasi yang telah dilakukan karena hal tersebut akan menjadisalah satu dasar bagi pemerintah untuk melakukan perbaikan-perbaikankinerja yang dilakukan.3. Target audience kegiatan media relations : menyasar seluruh media massabaik lokal maupun nasional dan baik cetak maupun elektronik yang memilikikredibilitas, dapat memberitakan suatu berita secara objektif, serta ikutmelakukan fungsi informatif dan edukatif kepada masyarakat. Humasseharusnya menerapkan absensi bagi wartawan yang hadir dalam setiapkegiatan yang dilaksanakan, karena hal tersebut merupakan salah satu carauntuk melakukan kontrol terhadap ketepatan sasaran Humas.4. Jenis kegiatan media relations : Hanya sedikit dari kegiatan media relationsyang diketahui dan dilakukan dengan baik oleh Humas. Humas kurangmemaksimalkan sebagian besar kegiatan media relations dan terlihat hanyasekedar formalitas dalam melaksanakannya. Banyak persiapan yang tidakdilakukan secara matang seperti persiapan tempat, waktu, yang lebihmengandalkan keseluruhan kegiatan-kegiatan tersebut dilakukan secaraincidental. Perlu dipahami bahwa saat ini kegiatan media relations mulaiberkembang dan lebih beraneka ragam. Selain itu, Humas harus mengetahuikarakteristik dan perbedaan teknik pelaksanaan masing-masing kegiatanmedia relations. Anggaran dana dan fasilitas yang disediakan oleh pemerintahjuga bisa lebih dimanfaatkan untuk memaksimalkan kegiatan.5. Analisis Masalah : Pendekatan research maping media dengan melakukanmonitoring belum dapat dilakukan dengan baik oleh Humas karena saat iniyang dilakukan oleh Humas adalah sekedar melakukan kliping berita tanpamenganalisis, sehingga hal tersebut akan berdampak pada kurangmaksimalnya pelaksanaan respon krisis pemberitaan. Biro Humasmembutuhkan staf-staf yang lebih mengerti mengenai pekerjaan kehumasan.Bagaimanapun juga, Biro Humas harus melakukan maping media secaraperiodik dengan melakukan analisis pada pemberitaan-pemberitaan yang dikliping setiap harinya. Selain itu respon pada krisis pemberitaan juga harussegera dilakukan jika diperlukan. Humas harus memahami bahwa mapingmedia bukan hanya sekedar kliping, tetapi mengumpulkan pemberitaan, sertapembuatan analisis dari pemberitaan tersebut dan membuat kecenderungan isimasing-masing media massa secara periodik6. Indikator berita : Indikator berita yang diterapkan Humas yaitu visi misi daripemerintah rupanya belum dapat dimaksimalkan karena analisis berita sendiritidak dilakukan dengan baik. Humas harus memahami bahwa indikatorpemberitaan yang merupakan visi misi dari pemerintah menjadi salah satufaktor penentu bagaimana hasil dari maping media yang dilakukan olehHumas. Baik pimpinan maupun staf perlu menangani secara seriusterhambatnya proses maping media tersebut. Selain merupakan visi dan misi,harusnya Humas juga memiliki indikator-indikator tetap yang akan selaluberlaku meski terjadi pergantian pemerintahan sebagai tolok ukur mendasarpenilaian terhadap suatu berita.7. Budgeting kegiatan media relations : Perencanaan anggaran kegiatan mediarelations di Humas telah dilakukan namun memang masih kurang maksimal.Humas dalam melakukan budgeting perlu memperhatikan beberapa hal yaituperencanaan yang ditulis secara rinci dan lebih mendetail untuk anggaranbagi setiap kebutuhan yang mungkin diperlukan. Selain itu, dalam melakukanperencanaan anggaran seharusnya Humas juga mempertimbangkan danacadangan yang sekiranya dibutuhkan, terlebih jika terdapat wartawanwartawanyang memang meminta upah kepada Humas setelah melakukanpeliputan8. Time schedule : Humas tidak memiliki time schedule yang jelas denganalasan bahwa mereka bekerja incidental sesuai dengan kegiatan-kegiatanyang dilakukan oleh Gubernur yang tidak bisa direncanakan pada jauh harisebelumnya. Humas seharusnya membuat time table perencanaan suatukegiatan atau event yang akan diselenggarakan. Selain itu, pembagian kerjadalam setiap kegiatan juga harus diperjelas dengan membuat job descriptionyang lebih rinci bagi masing-masing orang karena selama ini terlihat ketidakteraturan koordinasi yang memang berjalan berdasarkan kebiasaan. Pimpinanjuga harus mengecek kesiapan staf dalam menangani kegiatan tersebut dariawal hingga evaluasi dilakukan.9. Strategi dan taktik : Humas masih mengandalkan sistem menghafal dankebiasaan dalam melakukan setiap kegiatan media relations. Oleh sebab itu,Humas perlu memiliki SOP secara tertulis yang menjadi pedoman pengerjaandari setiap kegiatan. Pembagian tugas kerja yang jelas juga harus diterapkandari awal perencanaan hingga evaluasi kegiatan. Sebagai pimpinan, KepalaBiro dapat menjadi fasilitator untuk saling tukar menukar pikiran danpendapat mengenai kinerja Humas antara bagian satu dengan yang lain agartidak terjadi pemikiran atau pemahaman yang subyektif. Selain itu, Humasjuga harus memahami bahwa pelaksanaan kegiatan kehumasan menyangkuthubungan antara instansi dengan pihak luar dalam hal ini adalah media.Humas harus memiliki cara untuk dapat memaksimalkan publisitas yangpositif dengan melakukan pendekatan dengan media.10. Pemilihan Tempat Pelaksanaan : Pemilihan tempat pelaksanaan yangmemang ikut menyesuaikan tempat kegiatan yang dilaksanakan pimpinandaerah pada saat itu memang sudah biasa dilakukan. Dengan begitu faktorkenyamanan wartawan memang cenderung dikesampingkan. Humasseharusnya menyelenggarakan kegiatan media relations dalam hal ini PressConference di tempat yang nyaman.11. Penanggungjawab Pelaksanaan : Kepala Biro Humas sebagaipenanggungjawab meskipun banyak menghabiskan waktu di luar ruangansetidaknya harus dapat melakukan monitoring setiap kegiatan dari paraKepala Bagian. Di sini peran pimpinan sangat dibutuhkan untuk memberikanpengarahan di mana masih banyaknya staf yang merasakan kebingungan dancenderung asal kerja sesuai dengan pemahaman subyektif mereka.12. Evaluasi : Evaluasi yang dilakukan oleh Humas yaitu check list kesesuaianrencana dan pelaksanaan yang meliputi pencapaian tujuan, narasumber, isimateri rencana anggaran, target yang datang serta rekomendasi. Humas sudahmemahami dan melakukan evaluasi pada keseluruhan hal-hal tersebut. Tetapi,dalam laporan pertanggungjawaban tahunan, evaluasi dari kekurangan tidakdicantumkan. Humas seharusnya merinci segala kekurangan dalampencapaian target dari setiap kegiatan media relations. Humas juga harusterbuka dengan pimpinan atas pencapaian dan kegagalan yang terjadi. Selainitu, Humas juga harus mengetahui bahwa evaluasi dilakukan setelah akhirkegiatan dan secara berkala yaitu tiga bulan sekali untuk dapat membuatrekomendasi bagi kegiatan yang akan dilaksanakan selanjutnya.13. Proses Pendokumentasian : Selama ini memang Humas baru melakukandokumentasi pemberitaan di media cetak saja. Humas perlu memahamibahwa saat ini media televisi dan internet merupakan media yang banyakdigunakan dan diakses oleh masyarakat. Dokumentasi media televisi pun saatini sebenarnya sudah cukup mudah, melalui youtube, rekaman pemberitaandapat diakses dan didokumentasikan. Selain itu, untuk media internet, situssituspemberitaan kini mulai banyak dan mudah diakses kapan dan di manasaja oleh masyarakat, melihat bahwa saat ini pun banyak isu bermula darimedia internet. Humas harus mengikuti perkembangan isu di media massauntuk menjadi suatu pertimbangan langkah-langkah yang akan dilakukan.14. Model Respon Krisis Pemberitaan : Respon krisis pemberitaan yangdilakukan oleh Humas selama ini dilakukan hanya jika pemberitaan negatifsudah menyebabkan akibat tergeraknya massa dalam aksi-aksi demonstrasi.Hal tersebut juga menunjuk ke arah maping dan monitoring media yangmemang belum dilaksanakan oleh Humas dengan baik. Penyatuanpemahaman antara melakukan respon dengan release dan melakukan respondengan membuat pemberitaan tandingan juga perlu dilakukan, seharusnyaHumas memiliki kategori-kategori tertentu pemberitaan yang memang akandirespon dengan release dan kriteria-kriteria pemberitaan yang akan direspondengan membuat pemberitaan lain di media massa. Humas juga seharusnyalebih memahami bagaimana cara melakukan respon krisis yang efektif danefisien. Setidaknya dalam membuat release, setelah itu mereka harusmelakukan cross check dengan memantau dimuat atau tidaknya pemberitaantersebut di media massa. Humas seharusnya mendapatkan feedback darimedia atas kegiatan yang telah dilaksanakan bagaimana pun juga mediarelations melibatkan komunikasi dua arah.PENUTUPPenelitian mengenai audit media relations Humas Setda Jawa Tengah untukpeningkatan publisitas ini adalah penelitian yang berfokus pada kajian tentangkegiatan media relations yang dilakukan oleh Humas Setda. Kegiatan-kegiatanmedia relations yang diteliti adalah kegiatan-kegiatan media relations yangmemang dilakukan oleh Humas selama ini demi terjalinnya hubungan yang baikdengan wartawan dan mendapatkan publisitas di media massa. Penelitian tersebutdilakukan karena melihat banyaknya pemberitaan-pemberitaan negatif tentangPemprov Jateng akhir-akhir ini.Pada penelitian ini, hal-hal yang dibahas adalah kegiatan-kegiatan mediarelations dari proses awal perencanaan hingga tahap evaluasi beserta jenisjenisnyaserta cara melakukan respon pada krisis pemberitaan yang terjadi.Mengacu pada pendapat dari Lesley bahwa media relations adalah suatuhubungan dengan media komunikasi untuk melakukan publisitas atau meresponkepentingan media terhadap organisasi.Kegiatan-kegiatan yang dilakukan oleh Humas selama ini masihmemunculkan pemberitaan-pemberitaan negatif mengenai pemerintah provinsi.Terlebih-lebih pada beberapa kasus yang terjadi seperti kasus pembangunan jalantol, kuda kepang, parcel lebaran, serta masih banyak lagi hal-hal yang kemudianmenjadikan munculnya pemberitaan negatif di media massa meski memiliki sisipositif pada faktanya.Penelitian mengambil kesimpulan bahwa Humas sudah dapat memahamimedia relations. Hanya saja pemahaman tersebut masih berfokus padakepentingan yang ingin dicapai oleh Humas yaitu sekedar untuk mendapatkanpublisitas di media massa. Selain itu, Dalam fokus dan sasaran kegiatan mediarelations, Humas belum menguasai keseluruhan maksud dan tujuan dilakukannyamedia relations. Hal tersebut yang kemudian membuat Humas dalammelaksanakan pekerjaannya kurang memperhatikan prosedur-prosedurpelaksanaan kegiatan media relations secara teknis yang tepat.Kesimpulan lain yang sekaligus merupakan kritik kepada Humas adalahHumas belum memahami adanya perkembangan dari jenis-jenis kegiatan-kegiatanmedia relations. Humas masih bertahan dengan kegiatan-kegiatan yang biasadilakukan dari tahun ke tahun dengan tata cara pelaksanaan yang juga kurangdipahami oleh sebab itu tidak dipersiapkan dengan baik. Kinerja Humas yangkurang efektif juga dikarenakan rendah dan lemahnya kemampuan di manaHumas kurang memiliki sumber daya manusia yang kompeten dalammelaksanakan tugas-tugas kehumasan seperti dalam Bagian Analisis Media danInformasi Humas, kegiatan menganalisis media belum dilakukan karena stafmerupakan lulusan Sekolah Menengah Atas yang tidak mendapatkan pengetahuanmengenai konsep-konsep kehumasan. Humas tidak melakukan perencanaan danpelaksanaan kegiatan dengan baik. Banyak kegiatan yang dilakukan tidakmenggunakan perencanaan komunikasi strategis yang benar, lebih kepada hanyamengikuti perintah atasan, sehingga tidak terkoordinir dengan baik. Evaluasi yangdilakukan oleh Humas cenderung formalitas dan kurang maksimal. Tidak adarekomendasi yang dicantumkan dalam setiap laporan pertanggungjawaban yangdibuat.Hubungan antara Humas dengan media sejauh ini baik, hanya saja masihselalu terjadi perbedaan pendapat yang disebabkan oleh perbedaan kepentinganantara Humas dengan media massa. Seperti perbedaan pendapat ketika terjadikasus kuda kepang, dan pembangunan proyek tol Semarang-Solo. Selain itu,media juga masih bertindak pasif dalam kegiatan-kegiatan komunikasi denganHumas.Kepala Biro juga kurang memahami media relations, sehingga kurangnyakontrol pimpinan membuat pelaksanaan kegiatan-kegiatan media relations tidakberjalan dengan baik. Tidak ada pertemuan rutin untuk membahas mengenaievaluasi kegiatan dan hasil dari pelaksanaan kegiatan media relations.Humas belum dapat memanfaatkan fasilitas, sarana dan prasarana yangdimiliki dan diberikan oleh Pemerintah Provinsi Jawa Tengah dengan baik.Seperti dalam melakukan dokumentasi pemberitaan, Humas tidakmelaksanakannya pada media selain media cetak. Hal tersebut terjadi dikarenakantidak adanya pendidikan dan pelatihan mengenai kegiatan pendokumentasianberita yang baik yang seharusnya diberikan kepada baik pimpinan maupun stafHumas. Humas belum dapat melakukan respon terhadap krisis pemberitaandengan efektif dan efisien dikarenakan sistem kerja Humas yang belumterkoordinir dengan baik. Banyak pemberitaan negatif yang kemudian hanyalewat tanpa mendapat penanganan.Biro Humas perlu mendapatkan penataran dan pelatihan berkala yangdiikuti oleh baik Kepala Bagian maupun staf, mengenai pemahaman serta tugastugaspenting yang harus dilaksanakan seperti bagaimana praktek analisis mediaseharusnya dilakukan dan dalam melaksanakan kegiatan-kegiatan media relationsdengan baik dan benar. Apabila pimpinan tidak dapat meminta bantuan penatardari kantor regional, maka pimpinan dapat menyewa tenaga ahli komunikasiuntuk memberikan pelatihan.DAFTAR PUSTAKAAnggoro, M. Linggar. 2002. Teori dan Profesi Kehumasan serta Aplikasi diIndonesia. Jakarta : Bumi AksaraArdianto, E.L. 2004. Komunikasi Massa: Suatu Pengantar. Bandung: SimbiosaArdianto, Elvinaro & Soemirat, Soleh. (2008). Dasar-Dasar Public Relations.Bandung: PT Remaja RosdakaryaBaskin Otis, Aronoff Craig, dan Lattimore. 1997. Public relations: The Professionand the Practice 4 Edition. United state of America: McGraw Hill CompaniesBungin, Burhan H.M. 2007. Penelitian Kualitatif : Komunikasi, Ekonomi,Kebijakan. Publik, dan Ilmu social. Jakarta : Kencana Prenama Media GroupDarmastuti, Rini. 2012. Media Relations : Konsep, Strategi Dan Aplikasi.Yogyakarta : ANDIDennis L. Wilcox, Glen T. Cameron, Phillip H. Ault, and Warren K. Agee. PublicRelations: Strategies and Tactics. Seventh Edition, Pearson Education, Inc., USA,2003Effendy, Onong Uchjana. 2002. Hubungan Masyarakat suatu StudyKomunikologis. Bandung : PT Remaja RosdakaryaF, Rachmadi. 1994. PR dalam Teori dan Praktek : Aplikasi dalam Badan Swastadan Lembaga Pemerintah. Jakarta : Gramedia Pustaka UtamaIriantara, Yosal. 2005. Media Relations: Konsep, Pendekatan, dan Praktik.Bandung: Simbiosa Rekatama MediaIriantara, Yosal. 2007. Community Relations (Konsep dan Aplikasinya). Bandung: Simbiosa RekatamaHamidi. 2010. Metode Penelitian dan Teori Komunikasi. 3rd. Malang : HamidiHardjana, Andre. 2000. Audit Komunikasi Teori dan Praktek. Jakarta: GrasindoJefkins, Frank. 2004. Public Relations. Jakarta : ErlanggaKriyantono, Rachmat.2008. Public Relations Writing. Cetakan ke-2. Jakarta :Fajar InterpratamaLarkin, Judy, 2003, Risk Issues and Crisis Management: A Casebook of BestPractice. London: Kogan PageMoleong. 2008. Metodologi Penelitian Kualitatif. Bandung : RosdakaryaNurudin.2007. Pengantar Komunikasi Massa. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaNova, Firsan.2011. Crisis Public Relations. Jakarta : PT Raja Grafindo PersadaNova, Firsan. 2009. Crisis Public Relations. Jakarta : PT. GrasindoPuspandani, Kartika Dewi. 2006. Pengukuran Publicity Effectiveness Level danPemanfaatannya dalam Perencanaan Strategi dan Taktik Komunikasi.Yogyakarta: Fisipol Universitas Gajah Mada.Ruslan, Rosady. 1997. Kiat dan Strategi Kampanye Public Relations. Jakarta : PTRaja Grafindo PersadaRuslan, Rusady. 2006. Manajemen Humas dan Komunikasi, Konsepsi danAplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaRusady, Ruslan. 2007. Manajemen Public Relations & Media KomunikasiKonsepsi dan Aplikasi. Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaRuslan, Rosady. 2010. Manajemen Public Relations dan Media Komunikasi.Jakarta : PT Rajagrafindo PersadaWardhani, Diah. 2008. Media Relations : Sarana Membangun ReputasiOrganisasi. Yogyakarta : Graha IlmuWasesa, Silih Agung. 2011. Political Branding & Public Relations. Jakarta : PTGramedia Pustaka UtamaWidjaja. 1997. Komunikasi dan Hubungan Masyarakat. Jakarta : Bumi AksaraSumber internethttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/news/2012/04/11/115146/Pemprov-Jateng-Gagal-Entaskan-Kemiskinan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013pukul 19.11 WIBhttp://www.antarajateng.com/detail/index.php?id=69893#.URMs-R1QFVYdiunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.15 WIBhttp://regional.kompas.com/read/2012/09/12/13433283/Gubernur.Jateng.Menyinggung.Seniman.Jathilan diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.16 WIBhttp://www.solopos.com/2011/05/17/komisi-d-peringatkan-gubernur-soal-jalantol-98292 diunduh pada tanggal 04 Februari 2013 pukul 19.17 WIBhttp://www.tempo.co/read/news/2010/10/22/177286567/Pemberian-Dana-ke-Wartawan-Tradisi-Lama diunduh pada tanggal 07 Februari 2013 pukul 15.00WIBhttp://news.detik.com/read/2012/11/22/174732/2098697/10/kpk-sebut-banyakpejabat-korupsi-gubernur-jateng-sepertinya-tidak-ada diunduh pada tanggal 14Februari 2013 pukul 22.00 WIBhttp://eprints.undip.ac.id/29126/1/SUMMARY_PENELITIAN_Wiwid_Adiyanto.pdf diunduh pada tanggal 21 Februari 2013 pukul 20.28 WIBhttp://tvku.tv/v2010b/index.php?page=stream&id=6444 diunduh pada tanggal 19Maret 2013 pukul 20.14 WIBhttp://efkawejete.blogspot.com/ diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.00WIBhttp://kabar17.com/2012/05/gubernur-jawa-tengah-dikecam-petani-tembakau/diunduh pada tanggal 05 Maret 2013 pukul 21.28 WIBhttp://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 05 Maret 2013pukul 21.59 WIBhttp://news.detik.com/read/2012/11/29/123142/2104844/10/warga-menolakeksekusi-tanah-lemah-ireng-semarang-ricuh diunduh pada tanggal 05 Februari2013 pukul 01.00 WIBhttp://repository.upnyk.ac.id/2306/1/Nunung_Prajarto.pdfhttp://ahmadyusuf-fpsi08.web.unair.ac.id/artikel_detail-46452-Umum-Metode%20Penelitian.html(http://www.solopos.com/2012/11/28/gubernur-jateng-raih-planinum-gold-darisby-351805 05 Maret 2013 pukul 23.00 WIB(http://news.detik.com/read/2011/06/27/180047/1669850/10/sebut-walikota-solobodoh-gubernur-jateng-akan-ditolak-masuk-solo diunduh pada tanggal 05Februari 2013 pukul 01.00 WIB)(http://www.youtube.com/watch?v=miDtNj_JIwg diunduh pada tanggal 08 Maret2013 pada pukul 19.00 WIB)(http://www.youtube.com/watch?v=3H0aQzl8M1w diunduh pada tanggal 08Maret 2013 pada pukul 19.01 WIB(http://birohumas.jatengprov.go.id/portal/view/struk2 diunduh pada tanggal 11Maret 2013 pada pukul 00.04 WIB)http://www.suaramerdeka.com/v1/index.php/read/cetak/2009/04/27/61199/Pers-Diminta-Tak-Hanya-Tulis-Berita-Negatif- diunduh pada tanggal 11 Maret 2013pada pukul 00.05 WIB)http://web.undp.org/comtoolkit/reaching-the-outside-world/outside-world-coreconcepts-working-media.shtml diunduh pada tanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIBhttp://prinyourpajamas.com/how-to-build-your-own-media-list/ diunduh padatanggal 13 Juli 2013 pukul 16:51 WIB
Co-Authors Achmad Habibie Taufiqqur Rahman Adi Nugroho Adinda Sekar Cinantya Aditia Nurul Huda Aditya Iman Hamidi Adityo Cahyo Aji Afif Hazly Hasibuan Agraha Dwita Sulistyajati Agus Naryoso Ahda Hanif Fauzi Ahmad Fauzi Ahmad Fikar Harakan Aike Ingget Pratiwi Aisah Putri Sajidah, Aisah Putri Ajeng Rengganis, Sekar Albert Rivai Sinaga Aldi Atwinda Jauhar Aldiansyah, Duvit Aldila Leksana Wati Alexandra Parahita Bening Kesumaputri Alif Ibrahim Alya Anwar, Rizqika Alyssa Jasmine Aurelia Rahmiqatrunnada Amrina Rida Hapsari Ananda Erfan Musthafa Andrea Oktavia, Helga Anggi Pramesthi Kusumarasri Anggia Anggraini Anjar Mukti Yuni Pamungkas, Anjar Mukti Annisa Aulia Mahari Annisa Kusumawardhani Annisya Winarni Putri Aprida Mulya, Resti Ardelia Fitriani, Neysa Ardini Koesfarmasiana, Ardini Arfika Pertiwi Putri Arif Nurochman Arinda Putri Oktaviani Aryatama Wibawa, Michael Asep Virgo Asri Aulia Rachmawati Asri Nugraheningtyas Astrid Damayanti Asty Setiandini Atika Nabila Atina Primaningtyas Aulia Nur Awang Asmoro Ayu Puspitasari, Ramadhiana Ayu Saraswati Ayu Sri Purnama, Ayu Sri Azzahira Putri Zakaria, Grandhis Badri Ilham Ramadhan Bagoes Praswanda, Yusrizal Bagoes Widjanarko Banun Diyah Ardani Bareta Hendy Pamungkas Bayu Widagdo, Muhammad Bella Yunita Binarso Budiono Budiono Bisma Alief Charisma Rahma Dinasih Chintya Dyah Meidyasari Daffa Satriowibowo Daniel Dwi Listantyo Dara Pramitha Darda Putranto, Addakhil Deansa Putri Deni Arifiin Destima Nursylva Anggraningrum Devi Pranasningtias Indriani Dhira Widya Prasya, Dhira Dhiyah Puspita Sari Dhyah Shanti Nur Kartika Dimas Muhammad Distian Jobi Ridwan Diyan Hafdinovianti Ayu Kinasih Djoko Setiabudi Djoko Setyabudi Donik Agus Setiyanto DONNA RADITA MERITSEBA DR Sunarto Dwi Mulya Ningsih Dwi Purbaningrum Eggie Nurmahabbi Eka Ardianto Farasila, Iraisa Farisa Dian Utami Fariz Dewanto Fatma Izzatussayidati Febri Ariyadi Febriana Handayani Febriandani, Anisa Fitriyani, Putri Frida Asih Pratiwi Galuh Perwitasari Ghaliyah Julya Almira Ghana Pratama, Albert Ghela Rakhma Islamey Ghita Kriska Dwi Ananda Gilang Wicaksono Hajar Azizatun Niswah Hamidah, Nadiya Handi Aditia Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas S, Hapsari Dwiningtyas Hapsari Dwiningtyas Sulistyani Hardiyanto, Muhamad Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hedi Pudjo Santosa Hendrikus Setya Pradhana Henny Novita Rumono Hilda Maisyarah I Nyoman Winata I Nyoman Winata Ibrahim Muhammad Ramadhan Ichsan Wahyu Pratama Imam Muttaqin Indah Puspawardhani Indra Septia BW Infra Ranisetya Intan Mashitasari Ira Astri Rasika Jaya Pramono Adi Jimmy Fachrurrozy Jody Suryamar Yudha Joyo Nur Suyanto Gono Kanaya Az Zahrah Karunia Yusuf, Kevin Kembang Soca Paranggani Khairani, Indah Khairunnisya Sholikhah Kinanati Bunga Wulansari Krisna Adryanto Lintang Jati Rahina Lintang Ratri Rahmiaji LISTIANTO HINDRA PRAMONO Lizzatul Farhatiningsih Lucia Eka Pravitasari Luh Rani Wijayanti M Bayu Widagdo Maharani Easter Mahendra Zulkifli Manggala Hadi Prawira Marcia Julifar Ardianto Marsha Fildzaishma Marshanda Putri, Tyara Martia Mutiara Tasuki Marwah Gayatri Purnado Maya Lestari Melinda Wita Satryani Meriza Lestari Meta Detiana Putri Mohammad Akbar Rizal Hamidi Much Yulianto Much. Yulianto Muchamad Yulianto Muchammad Bayu widagdo MUHAMMAD ABDUSSHOMAD Muhammad Bayu widagdo Muhammad Bayu Widagdo Muhammad Fadhel Raditya Muhammad Rofiuddin Muhamy Akbar Iedani Muliawati, Ditha N S Ulfa Naafisa Maulida Pratama Nabila Rezki, Anisa Nadia Dwi Agustina Nadia Hutaminingtyas Nanik Sudaryningtyas, Nanik Naura Kamila Prasetyanti Nicho Putera Gustantyo Nidya Aldila Nikita Putri Mahardhika Nikolas Prima Ginting Ninda Nadya Nur Akbar Noni Meisavitri Novi Rosmaningrum NS Ulfa Nungki Dwi Widyastuti Nur Dyah Kusumawardhani Putri Nur Shafira, Hana Nurist Surayya Ulfa Nurist Surraya ulfa Nurist Surrayya Nuriyatul Lailiyah Nurrist Suraya Ulfa Nurrist Surayya Ulfa Nurul Avita Sari Nurul Hasfi Otto Fauzie Haloho Pipin F.P. Lestari Prabowo Nurwidagdyo Pranamya Dewati Prescilla Roesalya Primada Qurrota Ayun Pungkas Dwitanto Purwoko, Agus R. Sigit Pandhu Kusumawardana Radika Oktavianti, Dina Raihan Triaffandra Ramadhan, Maulana Ramadhinda, Azzahra Randyani Rarasati Raymond Soelistiono Filemon Raynaldo Faulana Pamungkas Reichan Anantyo, Muhamad Resty Widyanty Revana Meylani Rhola Bachtiar Raharjo Rifki Nur Pratiwi Rifqah Nailah Rijalul Vikry Rizka Amalia Rizka Arsianti Rizky Amalya Hadiningtyas Rizqi Ganis Ashari Rohedy Ayucandra Rohmat Pambudi Roli Harni Purba, Juita Rony Kristanto Setiawan Rosita Kemala Sari Rosyada Setijawan, Amrina Rumi Aulia Rahmanisa S Rouli Manalu Safira Nurin Aghnia Santa Cicilia Sinabariba Septian Aldo Pradita Septiana Hadiwinoto, Jessica Septiana Wulandari Suparyo Setyabudi, Gunawan Shafira Inas Nurina Shahnaz Natasha Anya Sigit Haryadi Sofi Kumala Fatma Sofianisa Rahmawati Sri Budi Lestari Sri Widowati Sri Widowati Herieningsih Sri Widowati Herieningsih Sunarto Sunarto Tan Faizal Rachman Tasya Nadia Taufik Indra Ramadhan Taufik Reza Ardianto Taufik Suprihatini Taufik Suprihatini Teresia Kinta Wuryandini Theresia Dita Anggraini Thriyani Rahmania Titan Armaya Tiur Agata, Elisa Tjen Jocelyn Ivana Tri Muriati Harahap, Anggi Tri Utami Triangga Ardiyanto Trixie Salawati Triyono Lukmantoro Triyono Lukmantoro Turnomo Rahardjo Uci Andriani Veriska, Veriska Vicho Whisnurangga Vinny Avilla Barus Wahyu Aji Hernawan, Dhimas Wahyu Kuncoro Aji, Danar Wahyu Nur R, Efrilia Wahyu Widiyaningrum Widya Andhika Aji Wina Natasya Saragih Wiwid Noor Rakhmad Yanu Angga Andaru, Yanu Yanuar Luqman Yoga Yuniadi Yohanes Rico Ananda Putra, Yohanes Yuan Stephanie Yuliantika Hapsari Yunita Indriyaswari Yusriana, Amida YUSUF AKBAR, MUHAMMAD Zainul Asngadah Fatmawati Zelda Elsa Khabibah Zulfikar Mufti