p-Index From 2021 - 2026
9.157
P-Index
This Author published in this journals
All Journal JPTK: Jurnal Pendidikan Teknologi dan Kejuruan JURNAL ILMU SOSIAL Biota: Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Jurnal Administrasi Publik Wacana, Jurnal Sosial dan Humaniora Journal of Educational Science and Technology JURNAL KEPEMIMPINAN DAN PENGURUSAN SEKOLAH AKRUAL: Jurnal Akuntansi AKSIOLOGIYA : Jurnal Pengabdian Kepada Masyarakat Pendas : Jurnah Ilmiah Pendidikan Dasar Sketsa Bisnis JURNAL PERTANIAN QARDHUL HASAN: MEDIA PENGABDIAN KEPADA MASYARAKAT Journal of Public Administration Studies Journal Publicuho JUPE : Jurnal Pendidikan Mandala Literasi : Jurnal Ilmu Pendidikan FIKROH: JURNAL PEMIKIRAN DAN PENDIDIKAN ISLAM Journal of Management and Bussines (JOMB) Darmabakti : Junal Pengabdian dan Pemberdayaan Masyarakat JagoMIPA: Jurnal Pendidikan Matematika dan IPA Jurnal Ilmiah Mahasiswa Bidang Hukum Kenegaraan Fahima: Jurnal Pendidikan dan Kajian Keislaman Trunojoyo Law Review Kasta: Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Best Journal of Administration and Management Journal Publicuho Wacana: Journal of the Humanities of Indonesia Jurnal Aplikasi Manajemen & Kewirausahaan MASSARO Jurnal Ilmiah Pangan Halal Triwikrama: Jurnal Ilmu Sosial Karimah Tauhid Journal of Economic, Management and Entrepreneurship Al'Adalah Frontier Agribisnis Mozaic: Islamic Studies Journal Journal of International Islamic Law, Human Right and Public Policy NU-JST Global Review of Tourism and Social Sciences As-Sulthan Journal of Education International Journal of Multidisciplinary Reseach
Claim Missing Document
Check
Articles

Emotional Sensory Mapping Minuman Beras Kencur Berbasis Jenis Beras Berbeda Khairunnisa, Nyimas Isnaini; Aminullah, Aminullah; Fitrilia, Tiana
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 5 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i5.19032

Abstract

Beras kencur umumnya terbuat dari beras putih sehingga belum begitu mengenal dari beras merah dan beras hitam padahal memiliki antioksidan lebih tinggi. Evaluasi sensori penting untuk menentukan pilihan konsumen terhadap produk. Penelitian ini bertujuan mempelajari atribut sensori dan emosi beras kencur berbasis jenis beras berbeda dengan metode Emotional Sensory Mapping (ESM). Sampel yang digunakan ada tiga yaitu beras kencur dari beras putih (135), beras merah (278), dan beras hitam (469). Penelitian terdiri dari empat tahap yaitu menentukan atribut sensori dan emosi beras kencur dari FGD (Focus Group Discussion), menentukan panelis konsumen, persiapan sampel beras kencur dan penilaian, dan terakhir adalah mengolah data dengan XLSTAT 2021. Analisis yang digunakan dalam CATA adalah uji Cochran’s Q, analisis korespondensi, PCoA (Principal Coordinate Analysis), dan Penalty Analysis. Hasil penelitian mendapatkan 16 atribut sensori dan 9 atribut emosi. Berdasarkan hasil penelitian, perbedaan jenis beras secara signifikan tidak mempengaruhi atribut sensori, kecuali warna cream, warna coklat, dan plain. Menurut panelis, minuman beras kencur yang ideal memiliki aroma kencur, rasa kencur, rasa manis, warna cream, dan tekstur cair. Beras kencur yang paling dekat dengan ideal adalah sampel 135 yaitu beras kencur dari beras putih, di mana sampel 135 memiliki emosi senang, datar, dan menarik. Berdasarkan Penalty Analysis, atribut emosi yang harus dimiliki atau masuk kategori must have adalah warna cream, di mana dapat meningkatkan penerimaan konsumen terhadap pengembangan minuman beras kencur.
Penurunan Reject Pengemasan Minuman Serbuk Berskala Industri dengan Six Sigma DMAIC (Define, Measure, Analyze, Improve, And Control) Nurfahri, Rizky Ardhi; Aminullah, Aminullah; Aminah, Siti
Karimah Tauhid Vol. 4 No. 5 (2025): Karimah Tauhid
Publisher : Universitas Djuanda

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.30997/karimahtauhid.v4i5.19033

Abstract

Perusahaan minuman serbuk mengalami 2000 kasus cacat per batch. Metode Six Sigma DMAIC dipilih untuk mengendalikan mutu produk. Metode ini dimulai dengan tahap Define untuk mengidentifikasi jenis cacat. Pada tahap Measure, dibuat control chart dan tingkat sigma awal untuk mengeliminasi cacat tertinggi, seperti kempes, kemasan berlubang, dan bergaris, melalui Diagram Pareto. Di tahap Analyze, dibuat Diagram Pareto dan analisis sebab-akibat menunjukkan lima faktor penyebab cacat, dilanjutkan dengan uji statistika Independent T-Test. Analisis 5W + 1H untuk pengendalian mutu produk dilakukan pada tahap Improve dan diakhiri dengan saran perbaikan pada tahap Control. Penelitian ini berhasil mengidentifikasi dan mengurangi cacat hingga 46,23%, menurunkan persentase menjadi 2,25%. Tindakan perbaikan diharapkan menjaga mutu dan mencegah cacat berulang melalui penelusuran dokumentasi yang baik.
Efektivitas Ekstrak Daun Beluntas (Pluchea indica) sebagai Antimikroba pada Tahu Putih Dieny, Azkiya; Aminullah; Nur’utami, Dwi Aryanti; Aminah, Siti
Biota : Jurnal Ilmiah Ilmu-Ilmu Hayati Vol 8, No 2 (2023): June 2023
Publisher : Universitas Atma Jaya Yogyakarta

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.24002/biota.v8i2.6375

Abstract

Daun beluntas memiliki aktivitas antimikroba yang dapat mengawetkan produk tahu yang memiliki masa simpan yang pendek. Penelitian ini bertujuan untuk mempelajari pengaruh konsentrasi ekstrak daun beluntas dan lama perendaman terhadap daya hambat mikroba tahu putih. Penelitian terdiri dari tahapan pendahuluan dan utama. Penelitian pendahuluan meliputi tahap pengamatan tahu putih tanpa perlakuan di hari ke-0 (H+0), ke-1(H+1), ke-2 (H+2) dan ke-3 (H+3), serta penyiapan ekstrak daun beluntas menggunakan metode maserasi. Penelitian utama yaitu aplikasi ekstrak beluntas pada rendaman tahu putih dengan berbagai variasi konsentrasi lama perendaman. Pertumbuhan mikroba pada tahu dianalisis dengan uji Total Plate Count (TPC) dan uji visual. Pada H+2, tofu mengandung mikrobia 4,9 x 108 koloni/mL dengan aroma masam, memiliki kenampakan berlendir serta warna putih kekuningan. Hal ini menunjukan bahwa H+2 sebagai hari kritis. Tahu pada H+2 tersebut kemudian diberi perlakuan ekstrak daun beluntas pada penelitian utama. Analisis statistik menunjukkan bahwa peningkatan konsentrasi ekstrak daun beluntas dan lama perendaman menurunkan secara signifikan jumlah total mikroba pada tahu putih. Secara visual, tahu putih yang direndam dengan ekstrak daun beluntas memiliki permukaan tidak berlendir, dan memiliki aroma ekstrak daun beluntas. 
ADAPTIVE GOVERNANCE DALAM PENGEMBANGAN KAPASITAS PERANGKAT DESA (STUDI DI DESA KENDANG DUKUH KECAMATAN WONOREJO) Laili, Nur; Aminullah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 02 (2025): Volume 10, Nomor 02 Juni 2025 publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i02.27276

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk mengevaluasi penerapan prinsip Adaptive Governance dalam peningkatan kapasitas aparatur desa di Desa Kendang Dukuh, Kecamatan Wonorejo, serta mengidentifikasi faktor-faktor yang mendukung maupun menghambat implementasinya. Desa ini menghadapi sejumlah tantangan struktural, seperti rendahnya kualitas sumber daya manusia, terbatasnya akses terhadap pelatihan, serta lemahnya koordinasi antara pemerintah desa dengan pihak di tingkat atas maupun masyarakat. Kondisi tersebut menghambat efektivitas penyelenggaraan pemerintahan desa dan layanan publik yang responsif terhadap dinamika sosial ekonomi. Dengan menggunakan pendekatan Adaptive Governance sebagai kerangka analisis, penelitian ini menelaah sejauh mana praktik tata kelola yang inklusif, partisipatif, dan adaptif dapat diterapkan dalam konteks desa. Penelitian dilakukan dengan metode kualitatif deskriptif melalui teknik wawancara mendalam, observasi lapangan, dan studi dokumentasi. Temuan menunjukkan bahwa meskipun terdapat inisiatif untuk menerapkan prinsip-prinsip adaptif, pelaksanaannya masih terbatas akibat kurangnya kapasitas kelembagaan dan sinergi antar pemangku kepentingan. Namun, terdapat peluang penguatan melalui program pelatihan berkelanjutan, pemberdayaan komunitas lokal, dan peningkatan kolaborasi lintas sektor. Penelitian ini tidak hanya memperkaya diskursus teoritis mengenai Adaptive Governance pada tingkat desa, tetapi juga menawarkan rekomendasi kebijakan yang aplikatif bagi perbaikan tata kelola desa yang lebih adaptif dan berkelanjutan.
Pelaksanaan Program Pemberdayaan Masyarakat Miskin Perspektif Rational Choice Di Desa Winong kabupaten Pasuruan Syafiudin, Achmad; Aminullah, Aminullah
Pendas : Jurnal Ilmiah Pendidikan Dasar Vol. 10 No. 02 (2025): Volume 10, Nomor 02 Juni 2025 publish
Publisher : Program Studi Pendidikan Guru Sekolah Dasar FKIP Universitas Pasundan

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.23969/jp.v10i02.27428

Abstract

Kemiskinan merupakan isu sosial yang mendesak di Indonesia, terutama di daerah pedesaan. Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis pelaksanaan program pemberdayaan masyarakat miskin di Desa Winong, Kecamatan Gempol, Kabupaten Pasuruan, serta mengkaji penerapan teori pilihan rasional dalam pengambilan keputusan masyarakat terkait program pemberdayaan. Penelitian ini brtujuan untuk menganalisis program pemberdayaan masyarakat miskin dengan menggunakan perspektif ratioal choice dengan beberapa Variabel : implementasi program pemberdayaan menurut Grindle (2021) implementasi konteks dan sosial dan di tambahkah dengan rational choice dengan 5 variabel: Pembuatan keputusan, Kejelasan masalah, Terdapat sejumlah alternatif solusi yang dinilai secara rasionald dan Memilih alternatif solusi. Metode penelitian yang digunakan adalah kualitatif dengan pendekatan deskriptif. Hasil penelitian menunjukkan bahwa program pemberdayaan yang dilaksanakan oleh pemerintah dan Lembaga Pemberdayaan Masyarakat Desa (LPMD) telah memberikan dampak positif terhadap kesejahteraan masyarakat, meskipun masih terdapat tantangan dalam hal partisipasi dan pemahaman masyarakat.
Perilaku Ekonomi Rumah Tangga Petani Kelapa Sawit Swadaya di Kecamatan Pamukan Utara Kabupaten Kotabaru Aminullah Aminullah; Hartoni Hartoni
Frontier Agribisnis Vol 9, No 2 (2025)
Publisher : Universitas Lambung Mangkurat

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.20527/frontbiz.v9i2.15796

Abstract

Perkebunan kelapa sawit berperan penting dalam perekonomian Indonesia sebagai penyedia lapangan kerja dan sumber Pendapatan Asli Daerah (PAD). Kabupaten Kotabaru, khususnya Kecamatan Pamukan Utara, merupakan sentra produksi kelapa sawit terbesar dengan kontribusi mencapai 25,5% dari total produksi kabupaten. Meskipun memiliki potensi ekonomi yang besar, petani kelapa sawit swadaya menghadapi berbagai kendala seperti keterbatasan harga, keterbatasan akses modal, serta tantangan alokasi tenaga kerja dan pengeluaran rumah tangga. Oleh karena itu, penelitian ini bertujuan untuk menganalisis curahan tenaga kerja, sumber pendapatan, dan pengeluaran konsumsi rumah tangga petani sawit swadaya di Kecamatan Pamukan Utara. Penelitian ini dilakukan di Desa Mulyoharjo, Desa Harapan Baru, dan Desa Kalian, dengan teknik pengambilan sampel menggunakan Proportionate Random Sampling , yang melibatkan 70 rumah tangga petani sawit swadaya dari populasi 233 rumah tangga. Hasil penelitian menunjukkan bahwa curahan tenaga kerja rumah tangga petani sawit swadaya terdiri dari 60,86 HKO/bulan untuk on-farm , 11,36 HKO/bulan untuk off-farm , dan 11,71 HKO/bulan untuk non-farm , dengan total 84,67 HKO/bulan. Pendapatan rumah tangga petani sawit swadaya diperoleh dari usahatani sebesar Rp4.160.928/bulan, off-farm sebesar Rp1.167.857/bulan, serta pendapatan non-farm sebesar Rp1.032.142/bulan, sehingga total pendapatan mencapai Rp6.360.928/bulan. Pengeluaran rumah tangga petani sawit swadaya terdiri dari pengeluaran pangan sebesar Rp2.233.731/bulan dan pengeluaran non-pangan sebesar Rp1.200.424/bulan. Kesimpulan dari penelitian ini menunjukkan bahwa keseimbangan antara curahan tenaga kerja, pendapatan, dan pengeluaran sangat berpengaruh terhadap stabilitas ekonomi petani sawit swadaya.
The Model of Legal Contract Between Courier and Expedition Company in Pamekasan Regency Aminullah, Aminullah; Hanafi, Hanafi
TRUNOJOYO LAW REVIEW Vol 6, No 1 (2024): February
Publisher : Faculty of Law Universitas Trunojoyo Madura

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21107/tlr.v6i1.22005

Abstract

The status of couriers as expedited employees often raises legal issues, especially regarding fulfilling their rights as workers in the context of labour law protection in Indonesia. These legal issues are then exacerbated by enacting the labour copyright law, which is detrimental to many workers. This study aims to determine the implementation of the work agreement between the expedition company and the courier. This research analyses the work contract model between couriers and expedition companies in Pamekasan Regency. This research uses empirical legal research methods conducted at several expedition companies in Pamekasan. The result of the research is that the expedition company chooses to be financially responsible in implementing the employment contract with the courier, where the model of employment contract applied by the expedition company to the courier is a certain time employment agreement (PKWT), which is renewed every year, so there are several things that the company can avoid including severance pay, employee leave, overtime pay, and health insurance facilities.
Multi-Actor Innovative Framework in Effective Implementation of The Welfare Card and Affirmative Business Card Policy Aminullah; Any Urwatul Wusko
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 6 No. 2 (2026): June
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v6i2.3660

Abstract

This conceptual article examines the implementation effectiveness of two newly introduced Indonesian social assistance instruments, Welfare Card and Affirmative Business Card through a Multi-Actor Innovative Framework grounded in Sandfort and Moulton's Effective Implementation perspective. Within the 2026 national agenda to accelerate extreme poverty reduction through the National Socio-Economic Single Data (DTSEN) and targeted social assistance digitalization, persistent challenges of data integration and targeting accuracy remain critical concerns for policy implementation. This study adopts a qualitative policy-analysis design, synthesizing secondary data from government policy documents, official statements, and relevant academic literature. The analysis is organized around three interrelated strategic action fields proposed by Sandfort and Moulton: the policy field (national policymakers), the organizational field (implementing agencies and distribution channels), and the frontline field (social assistance facilitators and beneficiaries). Each field is examined in terms of power dynamics, institutional culture, inter-actor relationships, and operating rules, while the card-based assistance mechanism itself is analyzed as the core program technology linking policy intent to field-level practice. The discussion identifies potential coordination gaps, capacity mismatches, and strategic intervention points across actor levels that may shape implementation effectiveness. The article concludes that multi-actor coordination, supported by integrated data systems and contextualized frontline capacity building, is essential for the success of these new social protection instruments, and offers directions for future empirical research employing primary fieldwork to validate the proposed framework in specific local contexts.
Fragmented Indicators in Local Stunting Governance Across Pasuruan Villages, East Java Wahyu Intan Lestari; Aminullah Aminullah
KASTA : Jurnal Ilmu Sosial, Agama, Budaya dan Terapan Vol. 6 No. 2 (2026): June
Publisher : Lembaga Bale Literasi

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.58218/kasta.v6i2.3744

Abstract

Stunting reduction in Indonesia is formally designed as an integrated policy agenda involving health services, village governance, family assistance, community organizations, and households. However, integrated policy design does not necessarily lead to integrated local implementation. This study examines how indicator fragmentation shapes stunting policy implementation across four villages in Pasuruan, East Java. Using a comparative qualitative case study design, data were collected through semi structured interviews with 52 informants, document analysis, and field observation. The findings show that implementation became fragmented when village governments, Puskesmas, Posyandu cadres, family assistance teams, district agencies, and households operated under different targets, datasets, reporting routines, and accountability demands. Coordination often remained procedural, emphasizing meetings, reports, and activity completion rather than substantive household follow up. Posyandu cadres played a critical bridging role between policy systems and households, but faced administrative burdens, limited incentives, and weak authority in formal decision making. The study contributes conceptually by developing indicator fragmentation as an analytical lens for explaining why integrated public health policy becomes fragmented in local practice. Practically, it highlights the need to align indicators, data, budgeting, service delivery, and household follow up in village level stunting governance.
How digital governance networks shape community empowerment: A multilevel study of Indonesian villages Aminullah Aminullah; Any Urwatul Wusko; Dustin Tarinque Loreño
JURNAL ILMU SOSIAL Vol 25, No 1 (2026)
Publisher : Faculty of Social and Political Sciences, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14710/jis.25.1.2026.37-58

Abstract

This study examines how digital governance networks shape community empowerment in Indonesian villages, focusing on the mediating role of participation quality and citizen facing transparency and accountability. Drawing on network governance and empowerment theory, the study conceptualizes village digitalization as an inter-organizational governance arrangement rather than a standalone administrative intervention. Quantitative data were collected from villages in East Java Province between May and July 2025, involving governance network respondents and 1,200 community members. Governance network characteristics were measured using social network analysis, while citizen perceptions of participation quality, transparency and accountability, and community empowerment were captured through structured surveys. The hypotheses were tested using multilevel structural equation modelling to distinguish village level governance effects from individual level empowerment mechanisms. The results show that higher levels of digital integration and greater network density are positively associated with participation quality and transparency at the village level, while highly centralized governance networks are associated with lower participation quality. At the individual level, participation quality and transparency and accountability are positively related to community empowerment. Mediation analysis confirms that the effects of digital integration and governance network structure on empowerment are indirect and transmitted through governance processes. The study contributes to public administration scholarship by demonstrating that digital governance reforms enhance community empowerment only when embedded within collaborative and transparent governance networks.
Co-Authors A. Juli Andi Gani Abuzar Khpalwak Zazai Agustiani, Novi Ahmad Paisal Ariski Ahmaludin Ahmaludin Andaista, Rahmatunnisa Any Urwatul Wusko Apriani, Yasri Aprilia, Sapira Aprilia, Tri Aristi, Sindi Nurmaya Aslikha Aulannisa, Fairuza Bambang Santoso Hariyono Baroza, Danu Wisnu Cahyasiam, Riski Delfitriani Dieny, Azkiya Distya Riski Hapsari Dustin Tarinque Loreño Dwi Mita Setyasih Erni Ratna Dewi Fahreza, Fadhil Gusta Fani Rahmasari, Fani Fauzi, Muhamad Rizki Fawaizul Umam Febriyanti, Emilia Firdaus, Muhammad Rizqy Fitri Wulandari Fitrilia, Tiana Fuad Azim Gadis Putri Nabila Gunawan, Syifa Zahra Hambali Hambali Hanafi Hanafi Hartoni Hartoni Huda, Muhammad Habib Zainul Indradewa, Rhian Irfan Islamy Irwansya, Irwansya Iskandar A. Gani Ismail Roshangar Israyati Rifqoh Jamilatul Uyun Khairul Muluk Khairunnisa, Nyimas Isnaini Khasani, Khiban Khoiriyah, Amanatul Khumaidi khusnul chotimah KUSUMA, NAILAH AKA Laila Qurrota A’yunina Laili Fitriyah Luluk Nafisah Lustiani, Marisa Hijjah M Rifky Ananda M Rizki Arya Effendi Mardiah Mega Silpia Moh Choirul Anam Muhammad Rikzul Fikri Munawaroh Muslimatul Fauziyah Nofita Ningsih Nugroho, Arief Setiawan Budi Nur Laili Nur Rohmad Nuzil Nur Sayidah Nurfahri, Rizky Ardhi Nurlaela, Raden Siti Nurul Karisma Nur’utami, Dwi Aryanti Pertiwi, Sri Rejeki Retna Pramesti Dwipayana Puspa, Nurkania Kresna Qodariah, Siti Nurlailatul Rahmaniah, Mustika Ramadhan, Alif Muhammad Rif'ah Hisbiyah Aimmatul Khoir Riris Setiyo Rini Rohmat Ilzar Rozaqi Rose Diana Saidah, Chilmiatus Saudatina Sekar Arum Sefiya, Helmi Silfiah, Rossa Ilma Silpi Riani Silpia, Mega Siti Aminah Siti Aminah Siti Atika Sobarudin, Muhammad Fahmi Sonya Puspitasari Sudrajat, Fathira Sakinah Anugrawati Sukarman Sukarman Suryadi Suryadi Syafiudin, Achmad Tiblola, Lidya Iriani Thabita Titi Rohmayanti Wahyu Intan Lestari Winda Agustin Yasri Apriani