Claim Missing Document
Check
Articles

PUSAT SENI DAN KERAJINAN SULAWESI UTARA DI MANADO. Arsitektur Neo Vernakular Sjeren A. Saroinsong; Dwight M. Rondonuwu; Frits O. P. Siregar
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30165

Abstract

Keberadaan seni  dan kerajinan dalam kehidupan manusia merupakan bagian yang tidak dapat terpisahkan. Seni dan kerajinan  selalu tumbuh dan berkembang sejalan dengan kehidupan manusianya, serta memiliki arti penting dalam setiap aspek kehidupan manusia. Seni dan kerajinan terlahir sebagai ekspresi diri dari dalam jiwa manusia yang dinamis dan menyatu. Seni dan kerajinan sendiri dapat diekspresikan dengan berbagai macam cara dan media. Dengan menggunakan tema Arsitektur Neo Vernakular, perancangan Pusat Seni dan Kerajinan Sulawesi Utara dibuat dengan mengaplikasikan budaya yang ada salah satunya dengan menerapkan salah satu alat musik tradisional Minahasa yaitu musik bambu dalam pola atap bangunan yang direncanakan dengan gaya masa kini atau modern. Tujuan dari perancangan Pusat Seni dan Kerajinan Sulawesi Utara  adalah untuk menghadirkan  suatu wadah yang dapat menampung dan menunjang berbagai aktivitas seni dan kerajinan Sulawesi Utara di Kota Manado yang terpusat serta bersifat edukatif, dan rekreatif bagi para seniman, pengrajin, pelajar, masyarakat , dan tak menutup kemungkinan bagi para wisatawan-wisatawan asing yang datang. Metode perancangan ini menggunakan metode proses desain John Zeisel dengan pendekatan perancangan terhadap 3 point utama yaitu, pendekatan terhadap tipologi, pendekatan terhadap tema dan pendekatan terhadap kajian tapak dan lingkungan. Sehingga menghasilkan suatu desain berupa layout plan, site plan, denah, tampak bangunan, potongan bangunan, detail, utilitas bangunan , spot interior, spot eksterior dan gambar perspektif.Kata Kunci: Pusat Seni dan Kerajinan, Arsitektur Neo Vernakular, Sulawesi Utara 
RESOR & PUSAT SELAM DI KECAMATAN MANGANITU SELATAN. Arsitektur Tepi Air Jessy A. Rumouw; Dwight M. Rondonuwu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30753

Abstract

Sulawesi Utara memiliki 283 pulau bernama yang diantaranya memiliki pesona pantai yang indah dan keindahan alam bawah laut, tak terkecuali dengan pulau-pulau yang ada di Kabupaten Kepepulauan Sangihe. Kabupaten  Kepulauan Sangihe memiliki sejumlah pulau dengan pantai berpasir putih dan alam bawah lautnya yang indah. Salah satu pulau dengan keindahanya, yaitu Pulau Mendaku yang terletak di Kecamatan Manganitu Selatan, Kab. Kep. Sangihe, dimana terdapat pantai dengan pasir putih dan taman bawah laut yang menjadi salah satu spot diving di Sangihe. Dengan potensi keindahannya ini mengundang wisatawan untuk datang namun minimnya fasilitas dan akomodasi yang tersedia membuat wisatawan terkendala dan potensi pulau ini tidak termanfaatkan. Dengan melihat minimnya fasilitas yang tersedia maka diangkatlah perancangan Resor & Pusat Selam di Kecamatan Manganitu Selatan ini. Dengan metode perancangan yang digunakan adalah metode dari Horst Rittel yaitu mekanisme pengembangan varieatas – reduksi varieatas, dimana pada tahap awal akan membuat beberapa alternatif dari gagasan awal yang kemudian pada tahap berikutnya akan direduksi untuk mendapatkan alternatif terbaik. Tema yang diimplementasikan adalah “Arsitektur Tepi Air” berangkat dari lokasi yang berada di pulau yang dikelilingi laut dan memiliki potensi alam bawah laut yang indah. Diharapkan dengan penerapan tema ini dapat menjawab permasalahan yang ada dan mewujudkan resor & pusat selam yang sesuai dengan standar dan memiliki keselaran dengan lingkungannya.Kata Kunci: Resor, Pusat Selam, Arsitektur Tepi Air, Kecamatan Manganitu Selatan
MUSEUM BAHARI DI KOTA MANADO. Penerapan Intangible Metaphors Dalam Arsitektur Timothy T. Tumonggor; Jefrey I. Kindangen; Dwight M. Rondonuwu
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.30771

Abstract

Kota Manado merupakan ibukota Provinsi Sulawesi Utara dengan garis pantai sepanjang 18,7 kilometer yang masuk dalam kategori waterfront city dan berpotensi dalam bidang pariwisata. Museum merupakan salah satu tujuan objek wisata. Museum bahari merupakan tempat melestarikan dan memperkenalkan kebaharian Sulawesi Utara melalui pameran yang menampilkan koleksi tentang kebaharian/kelautan, seperti benda-benda bersejarah, maupun keanekaragaman hayati laut. Namun, dewasa ini museum menjadi tempat yang kurang diminati pengunjung karena teknik penyajian yang kurang menarik dan terkesan membosankan. Sehingga masyarakat kurang merasakan manfaat museum sebagai sarana konservasi, informasi, edukasi maupun rekreasi. Dengan memanfaatkan letak stategis Kota Manado serta untuk mengangkat citra museum yang sedang sekarat, dicanangkanlah perancangan Museum Bahari di Kota Manado. Perancangan ini bertujuan untuk menghadirkan objek Museum Bahari di Kota Manado yang menarik dengan penerapan Intangible Metaphors dalam arsitektur.  Metode yang digunakan dalam perancangan adalah metode glass box menurut J.C. Jones (Design Methods:1972). Metode ini dilakukan secara sistematis dimana konsep perancangan tidak datang secara spontan, tetapi melalui beberapan tahapan yang dilakukan dengan pertimbangan tertentu. Tema yang diterapkan dalam perancangan adalah Intangible Metaphors dalam arsitektur yang merupakan bagian dari arsitektur metafora. Sifat dan karakteristik air menjadi elemen dasar dalam perancangan yang diimplementasikan pada aspek-aspek rancangan berupa konfigurasi massa, selubung, ruang luar dan ruang dalam.  Dengan penerapan tema ini diharapkan mampu menghadirkan objek Museum Bahari di Kota Manado yang menarik dikunjungi bagi masyarakat lokal maupun mancanegara.Kata kunci: Museum Bahari, Arsitektur Metafora, Intangible Metaphors, Kota Manado
LEMBAGA PEMASYARAKATAN WANITA KELAS II A di MANADO. Arsitektur Paradoks Trifena T. A. Tumundo; Dwight M. Rondonuwu; Amanda S. Sembel
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 9 No. 1 (2020): DASENG Volume 9, Nomor 1, Mei 2020
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v9i1.31100

Abstract

Lembaga Pemasyarakatan merupakan tempat melaksanakan hukuman pidana dan sebagai tempat pembinaan terhadap narapidana dan anak didik pemasyarakatan di Indonesia. Penggolongan Lembaga Pemasyarakatan terbagi atas dasar; jenis kelamin, umur, lama pidana, jenis kejahatan dan kriteria lainnya yang dibutuhkan. Di kota Manado sampai saat ini belum tersedia Lembaga Pemasyarakatan yang dikhususkan untuk narapidana wanita. Karena itulah dibutuhkan perencanaan dan perancangan Lembaga Pemasayarakatan Narapidana Wanita (LPNA) dengan fasilitas dan daya tampung berdasarkan spesifikasi kelasnya yaitu kelas II A. Adapun tujuan perancangan adalah menghadirkan Lembaga Pemasyarakatan khusus untuk wanita Kelas II A yang mampu mewadahi kegiatan narapidana dan juga sebagai tempat pembinaan dan pengembangan para narapidana wanita dengan pendekatan perancangan Arsitektur Paradoks.  Perancangan ini menggunakan metode glass box, dimana proses perancangannya dapat dimulai dari pengumpulan data, analisis, sintesa, sampai pada pradesain. Dengan pendeketan tema Arsitektur Paradoks maka dihasilkan konsep perancangan berupa pernyataan paradoks seperti; “lembut namun keras”, “terbuka namun tertutup”. “Tidak Bebas namun bebas”, “dingin namun hangat”, yang diwujudkan dalam bentuk desain bangunan dan ruang luarnya pada gambar site plan, layout, tampak bangunan, potongan bangunan, utilitas bangunan, spot interior, spot ekesterior dan perspektif bangunan.Kata kunci            : Lembaga Pemasyarakatan, Narapidana wanita, metode glass box Arsitektur paradoks
PUSDIKLAT DAMKAR DI KOTA MANADO: Lingkungan Binaan Responsif Christofel Jacob; Dwight M. Rondonuwu; Esli D. Takumansang
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 12 No. 2 (2023): DASENG Volume 12, Nomor 2, April 2023
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Salah satu bencana yang dapat menjadi ancaman bagi manusia adalah kebakaran. Tata letak bangunan di Kota Manado yang cenderung tidak beraturan dan saling berdekatan dengan batas tembok yang saling menempel menjadi salah satu pemicu terjadinya kebakaran yang cepat merambat dan menimbulkan kerusakan yang lebih besar dan fatal. Dalam penanganannya, dibutuhkan tenaga profesional seperti petugas pemadam kebakaran (damkar) yang terlatih dan teredukasi dengan baik. Adanya kantor pemadam kebakaran di kota Manado sangat membantu penanganan kebakaran yang bisa terjadi kapanpun. Namun, fasilitas kantor sendiri tidak banyak menjawab perihal kinerja para petugas damkar yang dituntut profesional; terlatih dan teredukasi dengan baik. Oleh karena itu, objek seperti Pusat Pendidikan dan Pelatihan (Pusdiklat) Damkar dinilai penting untuk dihadirkan. Dalam merancang objek ini, tema yang diangkat ialah Lingkungan Binaan Responsif yang dapat menjembatani kehidupan sosial pengguna dengan tata lingkungan sekitarnya melalui implementasi beberapa prinsip-prinsip tema tersebut sehingga respon pengguna terhadap bangunan bahkan terhadap lingkungan luar dapat tercipta. Kata Kunci : Pusdiklat Damkar, Lingkungan Binaan Responsif
PANTI ASUHAN DI KABUPATEN MINAHASA UTARA: Place Attachment dalam Arsitektur Pamela Fedoria; Dwight M. Rondonuwu; Aristotulus E. Tungka
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Seiring berjalannya waktu, masyarakat semakin menyadari betapa penting dan banyaknya hal yang perlu diperhatikan dalam membesarkan anak. Tetapi tidak semua anak mendapatkan kesempatan didukung secara maksimal tumbuh-kembangnya sebab tidak ada keluarga yang mendukung. Panti asuhan dirancang di Desa Kaima, Minahasa Utara dengan luasan tapak 16.265 m2 yang masih dikelilingi alam untuk mendukung tumbuh- kembang anak. Tapak berkontur dengan KDB 60%, KDH 40%, dan KLB 80% ini ditempatkan 5 massa bangunan dengan bangunan paling tinggi berlantai 3 agar cukup menampung 200 anak. Tema place attachment bertujuan untuk menciptakan kesan rumah pada setiap anak asuh yang menghuni panti asuhan sehingga dapat menciptakan kenangan masa kecil yang indah. Pengimplementasian tema perancangan pada bangunan memanfaatkan warna. Desain selubung bangunan interaktif dengan material kayu berwarna untuk memacu sifat eksplorasi anak dan dilakukan perbedaan warna sebagai pengarah. Pemilihan bentuk massa bangunan dan ruang luar juga menyesuaikan dengan psikologis anak. Area bersosialisasi outdoor dibuat berbentuk lingkaran disertai dengan unsur edukasi. Panti asuhan juga menghadirkan plaza, jalan pedestrian, lapangan olahraga, dan ruang bermain outdoor pada ruang luarnya. Panti asuhan ini menggunakan penghawaan alami dengan sumber air bersih berasal dari PDAM menggunakan pompa. Bangunan seluruhnya menggunakan konstruksi beton bertulang dengan rangka atap baja ringan. Kata Kunci: Panti Asuhan, Place Attachment, Minahasa Utara
SCIENCE PARK TERUMBU KARANG DI LIKUPANG: Arsitektur Organik Thalia G. Pomantow; Dwight M. Rondonuwu; Judy O. Waani
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 13 No. 1 (2024): DASENG Volume 13 Nomor 1, Februari 2024
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Science Park Terumbu Karang di Likupang merupakan pusat penelitian dan pengembangan berbasis properti yang mengakomodasi dan meningkatkan pertumbuhan dalam hal ini pertumbuhan terumbu karang dengan berafiliasi dengan universitas atau badan penelitian pemerintah dan swasta berdasarkan pendekatan, dengan tata kelolanya dalam hal ini berpusat di daerah Likupang, Minahasa Utara. Fasilitas yang disediakan science park yaitu Laboratorium, ruang pemeliharaan Terumbu Karang, dek observasi dan lainnya dapat membantu pertumbuhan dan perkembangan Terumbu karang secara langsung karena memiliki lokasi yang strategis dekat tempat perkembang biakan terumbu karang yang berlokasi di pantai Pulisan, Likupang Timur, Minahasa Utara. Fasilitas dan ruang yang disediakan science park ini mengutamakan dengan nuansa alami dengan memanfaatkan alam disekitarnya dengan menggunakan pendekatan Arsitektur Organik yang diterapkan pada dalam beberapa prinsip seperti sirkulasi, bentuk bangunan, dan struktur bangunan. Keberadaan science park terumbu karang dapat mendorong pertumbuhan terumbu karang di Likupang, dengan meningkatnya populasi terumbu karang dapat meningkatkan pertumbuhan wisatawan negara dan mancanegara di Likupang untuk dapat menikmati keindahan dan keragaman biota laut yang ada. Untuk mendukung peningkatan wisatawan science park terumbu karang memiliki fasilitas rekreasi yang dapat dinikmati wisatawan yang berkunjung seperti aquarium, kolam interaktif, dan taman rekreasi pantai dimana wisatawan dapat bermain sambil belajar tentang terumbu karang dengan suasana alami yang dikelilingi pepohonan dan pantai yang indah. Kata Kunci: Science Park, Terumbu Karang, Arsitektur Organik, Likupang
RE-DESAIN PRESIDENT SHOPPING CENTER DI KOTA MANADO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU Kulas, Bryan E.; Siregar, Frits O. P.; Rondonuwu, Dwight M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 20 No. 1 (2023): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v20i1.52659

Abstract

ABSTRAK Pusat perbelanjaan / Shopping center merupakan aktivitas komersill yang direncanakan, dikembangkan, dimiliki dan dioperasikan dalam satu unit bisnis. Kota manado sempat mempunyai pusat perbelanjaan yang sempat popularrdi tahun 1990- an, yaitu President Shopping Center. Melihat kondisi bangunan saat ini, fasilitas utama atau pendukung, dan peruntukannya, President Shopping Center tidak lagi memenuhi syarat sebagai pusat perbelanjaan di kota Manado dannsekitarnya. Tujuan dari me- redesain President Shopping Center di Kota Manado merupakan mendesain ulang President Shopping Center menjadi lebih menarik dan aman dari yang ada saat ini dengannmemperhatikan kawasan sekitar. President Shopping Center dirancang Kembali dengan metoda pendekatan Arsitektur Hijau dengan konsep ruang terbuka hijau yang bisa membagikan rasa kenyamanan yang lebih dalam melaksanakan aktivitas berbelanja. Kata Kunci: Re-Desain, President Shopping Center, Manado, Arsitektur Hijau ABSTRACT Shopping center / Shopping center is a commercial activity that is planned, developed, owned and operated in one business unit. Manado City once had a shopping center that was popular in the 1990s, namely President Shopping Center. Looking at the current condition of the building, main or supporting facilities, and its designation, President Shopping Center no longer qualifies as a shopping center in the city of Manado and its surroundings The purpose of redesigning the President Shopping Center in Manado City is to redesign the President Shopping Center to be more attractive and safer than the current one by paying attention to the surrounding area. President Shopping Center is redesigned with a Green Architecture approach method with the concept of green open space that can share a sense of more comfort in carrying out shopping activities KeyWords: Re-Design, President Shopping Center, Manado, Green Architecture
PUSAT PELATIHAN dan PEMENTASAN PADUAN SUARA Di KOTA MANADO - HARMONIZATION IN ARCHITECTURE Taihuttu, Abraham; Rondonuwu, Dwight M.; Tinangon, Alvin J.
MEDIA MATRASAIN Vol. 21 No. 1 (2024): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v21i1.56073

Abstract

ABSTRAK Paduan suara adalah sebuah seni musik yang membutuhkan kerjasama dan kolaborasi antar individu untuk menciptakan harmoni yang indah dalam nyanyian. Kota Manado adalah salah satu kota dengan jumlah peminat paduan suara yang tinggi. Kurangnya fasilitas dan wadah untuk berlatih dan menampilkan paduan suara di Manado membuat para pelaku paduan suara tidak efektif untuk meningkatkan keterampilan dalam paduan suara. Pusat Pelatihan dan Pementasan Paduan Suara di Manado dirancang untuk menjadi wadah bagi masyarakat yang ada sebagai fasilitas pendukung berkembangnya paduan suara yang ada di Manado dan sekitarnya. Pusat Pelatihan dan Pementasan Paduan Suara ini diharapkan dapat bermanfaat untuk lebih berkembangnya paduan suara yang ada di Manado dan sekitarnya baik dalam segi kualitas maupun kuantitas. Harmonization in Architecture sebagai tema perancangan merupakan sebuah upaya untuk menciptakan harmoni antara arsitektur dan musik. Arsitektur dan musik memiliki peran yang saling melengkapi dan memperkuat satu sama lain. Sebagaimana harmonisasi dalam musik dibutuhkan untuk menyeimbangkan hati dan suara maka harmonisasi dalam arsitektur yang mencakup elemen-elemen seperti bentuk, warna, tekstur, dan suara dicocokkan dan diterapkan secara harmonis untuk menciptakan suasana dan estetika objek arsitektur yang baik. Kata Kunci: Pusat Pelatihan, Pusat Pementasan, Paduan Suara, Hamonization in Architecture ABSTRACT Choir is an art of music that requires cooperation and collaboration between individuals to create beautiful harmony in singing. Manado City is one of the cities with a high number of choir enthusiasts. The lack of facilities and containers to practice and perform choirs in Manado makes choir performers ineffective in improving skills in choirs. The Choir Training and Performance Center in Manado is designed to be a forum for the existing community as a supporting facility for the development of choirs in Manado and its surroundings. This Choir Training and Performance Center is expected to be useful for the further development of choirs in Manado and its surroundings both in terms of quality and quantity. Harmonization in Architecture as a design theme is an effort to create harmony between architecture and music. Architecture and music have roles that complement and reinforce each other. Just as harmonization in music is needed to balance heart and sound, harmonization in architecture that includes elements such as shape, color, texture, and sound is matched and applied harmoniously to create a good atmosphere and aesthetics of architectural objects Keywords: Training Center, Performance Center, Choir, Hamonization in Architecture
RE-DESAIN PRESIDENT SHOPPING CENTER DI KOTA MANADO DENGAN PENDEKATAN ARSITEKTUR HIJAU Kulas, Bryan E.; Siregar, Frits O. P.; Rondonuwu, Dwight M.
MEDIA MATRASAIN Vol. 20 No. 1 (2023): MEDIA MATRASAIN
Publisher : Department of Architecture, Engineering Faculty - Sam Ratulangi University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/matrasain.v20i1.52659

Abstract

ABSTRAK Pusat perbelanjaan / Shopping center merupakan aktivitas komersill yang direncanakan, dikembangkan, dimiliki dan dioperasikan dalam satu unit bisnis. Kota manado sempat mempunyai pusat perbelanjaan yang sempat popularrdi tahun 1990- an, yaitu President Shopping Center. Melihat kondisi bangunan saat ini, fasilitas utama atau pendukung, dan peruntukannya, President Shopping Center tidak lagi memenuhi syarat sebagai pusat perbelanjaan di kota Manado dannsekitarnya. Tujuan dari me- redesain President Shopping Center di Kota Manado merupakan mendesain ulang President Shopping Center menjadi lebih menarik dan aman dari yang ada saat ini dengannmemperhatikan kawasan sekitar. President Shopping Center dirancang Kembali dengan metoda pendekatan Arsitektur Hijau dengan konsep ruang terbuka hijau yang bisa membagikan rasa kenyamanan yang lebih dalam melaksanakan aktivitas berbelanja. Kata Kunci: Re-Desain, President Shopping Center, Manado, Arsitektur Hijau ABSTRACT Shopping center / Shopping center is a commercial activity that is planned, developed, owned and operated in one business unit. Manado City once had a shopping center that was popular in the 1990s, namely President Shopping Center. Looking at the current condition of the building, main or supporting facilities, and its designation, President Shopping Center no longer qualifies as a shopping center in the city of Manado and its surroundings The purpose of redesigning the President Shopping Center in Manado City is to redesign the President Shopping Center to be more attractive and safer than the current one by paying attention to the surrounding area. President Shopping Center is redesigned with a Green Architecture approach method with the concept of green open space that can share a sense of more comfort in carrying out shopping activities KeyWords: Re-Design, President Shopping Center, Manado, Green Architecture
Co-Authors - Suryono Aghita G. Maliatja, Aghita G. Agnes V. Basuki Agrendi A. C. Wojongan Akiang, Andriano B. Al Asy Ary, Muhammad Farid Alvin J. Tinangon Alvin J. Tinangon Amanda S. Sembel Amanda S. Sembel Aristotulus E. Tungka Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Bokau, Devanya Deviani Ruth Christofel Jacob Claudia S. Punuh, Claudia S. Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Cynthia E.V Wuisang, Cynthia E.V Cynthia E.V. Wuisang Deddy Erdiono Elisabet S. Pua Esli D. Takumansang Fela Warouw Fela Warouw Frits O. P. Siregar Frits O. P. Siregar Hanny Poli Haurissa, Destela Herry Kapugu Hudha, Nurul Jefrey I. Kindangen Jessy A. Rumouw Johannes Van Rate Johansen C. Mandey Joseph Rengkung Judy O. Waani Judy O. Waani Kandow, Varrah N. Kolibu, Eunike T. Kolompoy, Gracia J. P. Kristanya C. E. Tendean Kriswanto W. Zachawerus Kulas, Bryan E. Lucky Mandulangi, Lucky Manege, Max Millian Meytti Y. Sabarofek Mokalu, Kezia Stefani Ndari, Putriana A. Nur, Ady I. A. Nussy, Juan E. Octavianus H. A. Rogi Octavianus Hendrik Alexander Rogi Pamela Fedoria Pangaila, Andro A. Paramitha, Indtani Pierre H. Gosal Raymond Ch. Tarore Reny Syafriny Roosje J. Poluan Rorong, Yolanda O. Sakul, Fianna G. Sangkay, Visilia C. Sembel, Amanda S Sjeren A. Saroinsong Sonny Tilaar Steven Lintong Stevenly A. Mamesah Syafrida A. Kamal Syalom Fujaya, Fransiska Taihuttu, Abraham Teppie, Reza C. Thalia G. Pomantow Timothy T. Tumonggor Torondek, Vicky Trifena T. A. Tumundo Tumbelaka, Stevanus Vailen Van Den Bokshouw, Andry A. Vicky H. Makarau Wahab, Sitti Rahma Sy. Windy M. Mononimbar