Claim Missing Document
Check
Articles

KAMPUNG SUSUN DI MANADO. Social Design Al Asy Ary, Muhammad Farid; Rondonuwu, Dwight M.; Warouw, Fela
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.20837

Abstract

Kampung Susun adalah representasi dari hunian vertikal, rumah susun, atau kampung vertikal. Kata kampung disertakan karena fungsi bangunan yang mewadahi hunian warga serta seluruh aktifitas kampung. Berdasarkan hasil identifikasi permasalahan kawasan permukiman kumuh, terdapat 25 lokasi kumuh yang tersebar di Kota Manado. Dengan menerapkan tema Social Design pada perancangan Kampung Susun, bangunan akan fokus kepada faktor manusia dengan menitikberatkan pada konsep pembangunan berkelanjutan yaitu aspek lingkungan binaan yang ekonomis dengan pengembangan lingkungannya. Tujuan perancangan kampung susun adalah untuk merancang ruang layak huni bagi masyarakat dalam kawasan permukiman kumuh di Kota Manado khususnya di daerah yang termasuk prioritas pemerintah yaitu di sepanjang sungai das tondano dalam hal ini yaitu Kelurahan Komo Luar. Pendekatan dalam proses perancangan ini melalui kajian tipologi objek, konsep tematik, dan pendekatan terhadap analisa tapak dilakukan dengan metode perancangan J.C Jones untuk mendapatkan kebutuhan pengguna sebagai kontrol dalam perencangan Kampung Susun. Semua informasi di analisa, lalu disintesiskan untuk menghasilkan konsep tertentu sesuai gagasan awal kemudian di evaluasi. Tahap evaluasi akan menjadi pijakan dalam optimalisasi perancangan. Hasil dari proses perancangan terdiri dari layout, site plan, denah, tampak, potongan, perspektif, dan gambar lainnya. Tema Social Design diterapkan pada ruang – ruang public seperti koridor, taman - taman, dego – dego, fly over antar lingkungan, boulevard kuala, dll.Kata Kunci : Rumah Susun, hunian vertikal, kampung, social design.
DESAIN TERMINAL PENUMPANG PELABUHAN AMURANG. Optimalisasi Sistem Struktur Rangka Ruang (Space Frame Structure) Pangaila, Andro A.; Rondonuwu, Dwight M.; Makarau, Vicky H.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21155

Abstract

Terminal Penumpang Pelabuhan adalah fasilitas Pelabuhan didaratan. Terminal Penumpang Pelabuhan mewadahi aktifitas penumpang baik itu keberangakatan maupun kedatangan serta pengguna sebagai penjemput maupun pengantar. Kota Amurang sebagai Daerah Berkembang membutuhkan pengembangan dari segala sisi untuk kemajuan Daerah, salah satunya pengembangan Pelabuhan, pengembangan pelabuhan yang dimaksud yaitu  pengembangan Terminal Penumpang. Namun dalam Pengembangan Terminal Penumpang saat ini masih terdapat kukurangan dalam pengembangan fasilitas yang mampu menunjang aktivitas penumpang dan pengguna. Sehingga dibutuhkan Rancangan Desain Terminal Penumpang Amurang yang baru. Dengan menerapakan tema “Optimalisasi Sistem Struktur Rangka Ruang (Space Frame Structure)”. Optimalisasi Sistem struktur rangka ruang merupakan konsep dengan penekanan dan manipulasi pada element struktur sehingga menarik pengguna dan juga memberikan rasa aman dan nyaman. Tujuan dari perancangan Desain Terminal Penumpang Pelabuhan Amurang adalah untuk mewadahi aktifitas penumpang baik yang akan datang maupun berangkat dan pengguna antar – jemput dengan melengkapi fasilitas Terminal Penumpang pelabuhan Amurang, juga menarik minat kapal – kapal untuk bersandar Dan mimiliki prospek beberapa tahun kedepan. Pendekatan dalam perancangan melalui kajian tipologi objek, konsep tematik dan pendekatan pada analisa tapak dilakukan dengan metode perancangan proses desain generasi II. Dari hasil evaluasi ini diperoleh bentukan baru (Reimaging Representating) dan dievaluasi kembali sesuai dengan kriteria yang ingin dicapai. Proses dilakukan berulang – ulang secara terus menerus (cylical/spiral) sampai pada keputusan untuk berhenti dalam perancangan (Decision To Stop Design). Penerapan konsep peracangan menghasilkan Implemetasi tema Struktur Rangka Ruang (Space Frame) diterapkan pada struktur atas (Upper Structure) dengan bentukan yang dinamis dan mengekspose Struktur Space Frame untuk menambah kesan kokoh, kuat dan bernilai estetika. Ruang Dalam Meliputi Layout Plan, Site plan, Denah Bangunan, Utilitas Bangunan, Potongan Bangaunan Dan Interior. Untuk Ruang Luar Meliputi Site Plan, Tampak Bangunan, Tampak Site, Eksterior Dan Perspektif.Kata Kunci : Terminal Penumpang Pelabuhan, Optimalisasi Sistem Struktur Rangka Ruang (Space Frame Structure)
RUMAH SAKIT KANKER ANAK DI MANADO. Healing Environment Teppie, Reza C.; Rondonuwu, Dwight M.; Poluan, Roosje J.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 7 No. 2 (2018): DASENG Volume 7, Nomor 2, November 2018
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v7i2.21252

Abstract

Rumah Sakit Kanker Anak merupakan fasilitas kesehatan yang khusus menangani anak-anak penderita kanker. Berdasarkan permasalahan yang ada di kota Manado, tingginya peningkatan jumlah anak-anak penderita penyakit kanker di Manado belum diimbangi dengan perencanaan pembangunan fasilitas kesehatan yang khusus menangani penyakit kanker pada anak secara medis dan paliatif. Perancangan fasilitas Rumah Sakit Kanker Anak menerapkan tema Healing Environment yang  mendukung proses penyembuhan suatu penyakit dengan memperhatikan semua aspek-aspek positif lingkungan yang baik kepada anak-anak penderita kanker.Tujuan perancangan adalah untuk merancang fasilitas kesehatan yang memberikan pelayanan perawatan dan pengobatan yang maksimal bagi anak-anak penderita kanker, serta menyediakan suatu lingkungan rumah sakit yang mendukung pemulihan pasien secara psikologis. Metode yang digunakan dalam perancangan tersebut adalah Proses Desain Generasi II dengan pendekatan 3 aspek yaitu pendekatan tipologi objek, pendekatan analisa tapak dan lingkunagan, dan pendekatan tematik. Hasil dari proses perancangan berupa konsep rancangan yang dapat dilihat pada gambar-gambar seperti layout, site plan, denah, tampak, potongan, perpektif dan gambar lainnya.Penerapan tema Healing Environment akan banyak di terapkan pada ruang luar objek rancangan dan dapat dilihat pada konsep aplikasi tematik, serta konsep perancangan tapak dan ruang luar. Kata Kunci: Rumah Sakit Kanker Anak, Healing Environment.
PUSAT WISATA KULINER DI MANADO. Lokalitas Arsitektur Nussy, Juan E.; Rondonuwu, Dwight M.; Tarore, Raymond Ch.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23673

Abstract

Pusat Wisata Kuliner adalah sebuah kawasan pariwisata pusat kuliner yang bisa memenuhi kebutuhan kuliner pengunjung dan wisatawan di kota Manado sekaligus tempat rekreasi dan refreshing dimana pengunjung dapat menikmati berbagai wisata kuliner yang mampu mencerminkan budaya dan ciri khas Kota Manado. Pusat Wisata Kuliner di Manado dirancang untuk menyempurnakan dan melengkapi berbagai kekurangan dari kawasan wisata kuliner yang sudah ada sebelumnya seperti kurangnya perancangan pada ruang luar yang mencakup tempat parkir, ruang terbuka hijau, view  menarik yang disesuaikan dengan fungsi dan prinsip arasitektural. Selain dalam hal ruang luar, perencangan ruang dalam juga menjadi perhatian perancangan tata ruang dan fungsi ruang guna untuk kenyamanan pengguna. Menggunakan konsep perancangan Lokalitas Arsitektur kawasan ini akan menonjolkan ciri khas Sulawesi Utara dalam desain bangunan serta ornament-ornament di dalamnya. Metode perancangan ini menggunakan metode proses desain Glass Box oleh J.C Jones dengan pendekatan perancangan terhadap 3 point utama yaitu, pendekatan terhadap tipologi, pendekatan terhadap tema dan pendekatan terhadap kajian tapak dan lingkungan. Sehingga menghasilkan suatu desain berupa layout plan, site plan, denah, tampak bangunan, potongan bangunan, utilitas dan gambar perspektif sesuai dengan konsep perancangan. Kata Kunci: Kota Manado, Pusat Wisata Kuliner, Lokalitas Arsitektur
PERANCANGAN MANADO CULINARY CENTER. Arsitektur Lansekap Kolompoy, Gracia J. P.; Syafriny, Reny; Rondonuwu, Dwight M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23688

Abstract

Manado Culinary Center adalah sebuah tempat dimana semua kegiatan kuliner dilakukan yang dipusatkan dalam suatu kawasan. Kota Manado sebagai kota pariwisata memiliki peningkatan wisatawan yang sangat pesat tiap tahunnya. Wisata kuliner tidak kalah menarik dengan sektor wisata lainnya karena kuliner pasti menjadi sebuah kebutuhan primer manusia sehingga kemanapun tujuan mereka berwisata, kuliner tetap menjadi bagian dari perjalanan wisata.Pada saat ini Kota Manado telah memiliki sejumlah tempat yang menjual makanan-makanan khas, sayangnya tempat-tempat tersebut kurang representatif. Maka dari itu dibutuhkan perencanaan dan perancangan Manado Culinary Center dengan penerapan konsep tema Arsitektur Lansekap yang diharapkan dapat menjadi sarana untuk pengembangan sektor pariwisata dan ekonomi.Metode dalam proses perancangan ini melalui pendekatan tipologi fungsi , tematik, dan lokasi. Proses perancangannya berdasarkan dari pengumpulan data, analisis, dan pengkonsepan rancangan.Hasil dari perancangan ini merupakan layout, site plan, denah, tampak bangunan, tampak site, potongan (bangunan, site, orthogonal), perspektif, spot interior, spot eksterior, layout utilitas, detail utilitas, dan detail struktur. Dengan penerapan tema Arsitektur Lansekap yang mengambil dan mengangkat potensi-potensi lansekap pesisir pantai. Kata kunci: Manado Culinary Center, Arsitektur Lansekap
MANADO CITY HOTEL. Waterfront Architecture Nur, Ady I. A.; Rondonuwu, Dwight M.; Rogi, Octavianus H. A.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 8 No. 1 (2019): DASENG Volume 8, Nomor 1, Mei 2019
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v8i1.23690

Abstract

City Hotel merupakan sebuah tempat dengan pelayanan akomodasi bagi para wisatawan dan business traveler. Sebuah Gedung City Hotel pada umumnya berfungsi  sebagai tempat tinggal sementara bagi para wisatawan dan business traveler. Kota Manado sebagai ibu kota provinsi Sulawesi Utara menjadi salah satu tujuan utama wisatawan dan business traveler dengan arus wisatawan yang terus bertambah setiap tahunnya. Karena kota Manado merupakan kota Waterfront sehingga Waterfront Architecture dapat diterapkan pada objek City Hotel.Tujuan utama dari perancangan objek ini adalah untuk merancang hotel yang bukan hanya sebagai tempat untuk menginap namun memaksimalkan potensi dan keindahan pesisir kota Manado untuk water activity bagi tamu hotel, untuk memudahkan para wisatawan dan business traveler untuk dapat dengan mudah mengakses pusat kota Manado dan kawasan wisata bahari di sekitar kota Manado, serta memaksimalkan kawasan waterfront objek rancangan untuk menjadi salah satu tempat rekreasi bagi tamu yang menginap maupun hanya datang untuk menikmati kawasan waterfront.Pendekatan dalam proses perancangan menggunakan pendekatan metode desain generasi ke-dua dari Horst Rittel melalui kajian tipologi objek, analisis tapak dan lokasi yakni dengan tahapan pengumpulan data, analisis data, dan konsep tematik serta transformasi konsep.Hasil dari proses perancangan desain terdiri dari, layout,site plan,denah,tampak,potongan,perspektif,dan gambar tambahan lainnya. Dimana tema Waterfront Architecture diterapkan pada  site plan City Hotel yang dimana area tepi air site diolah dengan menempatkan area promenade,water fountain and splash, serta taman tepi air, pembuatan dalam site dan sekitar bangunan untuk lebih mendekatkan tema dengan objek rancangan yang juga berfungsi sebagai pengarah dalam site, orientasi masa bangunan yang diutamakan menghadap arah laut dan fasade bangunan dengan bukaan yang besar untuk memaksimalkan view laut..Kata kunci : City Hotel, Waterfront Architecture, Kota Manado 
Kajian Hubungan Ketertarikan Pengunjung dengan Atmosphere Ruang Pusat Perbelanjaan (Studi Kasus : Manado Town Square) Siregar, Frits O. P.; Rondonuwu, Dwight M.; Poli, Hanny
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 3 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.6.3.156

Abstract

Fenomena menjamurnya pembangunan pusat perbelanjaan di Indonesia, lebih khususnya yang ada di kota Manado akan meningkatkan daya saing antar pusat perbelanjaan yang ada untuk menarik pengunjungnya. Manado Town Square Mal adalah salah satu pusat perbelanjaan yang sangat diminati oleh masyarakat kota Manado dan telah menjadi salah satu icon tujuan wisata belanja bagi turis local maupun domestic yang berkunjung ke Manado merupakan fenomena lain yang terbentuk di kota Manado. Atmosphere ruang pusat perbelanjaan Manado Town Square memiliki cirri khas dengan layout koridor tunggal yang memanjang yang diiringi dengan deretan retail sepanjang koridor tersebut serta atrium dengan plafond berupa awan buatan. Dari fenomena-fenomena tersebut maka diadakan suatu penelitian yang mengeksplorasi atmosphere ruang pusat perbelanjaan Manado Town Square di Manadountuk menganalisis hubungan ketertarikan pengunjung dengan atmosphere ruangnya untuk mengetahui faktor atmosphere ruang apa saja yang berhubungan dalam mempengaruhi ketertarikan pengunjung terhadap atmosphere ruang yang tercipta dan dirasakan oleh pengunjung. Pendekatan yang digunakan untuk memecahkan permasalahan penelitian adalah pendekatan rasionalistik. Teori utama yang digunakan adalah Teori Atribut Lingkungan dari Gerald D. Weisman (1981) dan Teori Dimensi Store Atmosphere dari Mary Jo Bitner (1992). Teknik analisis untuk obyek-spesifik menggunakan teknik analisis kuantitatif menggunakan filsafat rasionalisme (upaya mencari yang esensial) dan teknik analisis kuantitatif statistik yang menganalisis rerata. Hasil penelitian diharapkan akan menggambarkan pengaruh faktor penataan ruang pada pusat perbelanjaan terhadap karakteristik atmosphere-nya yang akan mempengaruhi reaksi yang dirasakan pengunjung pada saat datang dan berbelanja. Reaksi pengunjung terhadap karakteristik store atmosphere ini akan mempengaruhi pada ketertarikan pengunjung untuk mengunjungi ruang tersebut serta tingkat kepuasannya yang berdampak pada pembelian produk-produk yang ditawarkan. Urgensi hasil penelitian ini adalah untuk meningkatkan daya saing pusat-pusat perbelanjaan yang lain berupa masukan bagi para desainer pusat perbelanjaan dalam mendesain pusat perbelanjaan agar supaya tercipta suatu atmosphere ruang yang dapat meningkatkan ketertarikan pengunjungnya.
Pendekatan Lansekap Budaya dalam Pengelolaan Ekomuseum: Studi di Kabupaten Minahasa, Sulawesi Utara Wuisang, Cynthia E. V.; Rengkung, Joseph; Rondonuwu, Dwight M.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 6 No. 4 (2017): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.7.4.191

Abstract

Lansekap budaya adalah fenomena integrasi dari lahan (land), manusia, budaya, dalam kurun waktu dan sejarah yang panjang. Dalam upaya pelestarian Lansekap Budaya berkelanjutan, Ekomuseum adalah salah satu model pengelolaan dengan berbasis sosio-budaya dan etnoekologi. Konsep Ekomuseum berkembang dengan pesat di berbagai negara di belahan dunia dengan berbagai strategi yang melibatkan masyarakat dalam perencanaan dan pengelolaan. Tulisan ini memetakan interaksi masyarakat Minahasa dengan lingkungannya dan bagaimana ekomuseum digunakan sebagai salah satu pendekatan dalam pengembangan dan pelestarian lansekap budaya. Metoda yang digunakan adalah deskriptif-kualitatif dengan melakukan survey terhadap sejumlah permukiman wilayah regional dan melihat potensi ekomuseum masing-masing teritory. Data kemudian dianalisis berdasarkan pendekatan geografi. Kesimpulan tulisan ini adalah merekomendasikan model pengelolaan ekomuseum yang ideal untuk Kabupaten Minahasa.
Perencanaan Grenbelt pada Lansekap Bantaran Sungai Wilayah Perkotaan Wuisang, Cynthia E.V; Rondonuwu, Dwight M.
Jurnal Lingkungan Binaan Indonesia Vol. 5 No. 4 (2016): JLBI
Publisher : Ikatan Peneliti Lingkungan Binaan Indonesia

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32315/jlbi.v5i4.225

Abstract

Pada banyak kota besar di Indonesia, eksistensi dan kehidupan, kelestarian dan juga estetika lingkungan dari beberapa sungai dan bantarannya telah terancam. Hal ini terlihat dengan adanya dampak negatif yang terjadi seperti erosi, banjir, adanya limbah polutan, penyempitan sungai ataupenggunaan lahan yang tidak sesuai pada tepian sungai.Penyebab utamanya adalah kurangnya pemahaman sistim alami dan pengelolaan yang kurang sesuai dengan karakter sungai-sungai yang mengalir di kawasan tersebut. Keterkaitan fisik dan sosial budaya masyarakat disekitarnya juga merupakan permasalahan lain yang perlu dikaji seperti manfaat domestik sungai tersebut bagi masyarakat untuk mandi, mencuci dan lainnya. Studi ini dilakukan untuk mengetahui dan mempelajari karakter serta fungsi bantaran sungai di kawasan perkotaan sebagai satu bagian dari sistim DAS dan mengkaji model perencanaan lansekap yang berkaitan dengan tata hijau sebagai upaya untuk meningkatkan kualitas lingkungan bantaran sungai wilayah perkotaan. Studi dilakukan di wiayah perkotaan dengan metoda kualitatif dan dengan mengambil kasus kota Manado. Melalui studi ini diharapkan menjadi masukan bagi pemerintah terkait untuk dapat melakukan strategi penataan lansekap secara efisien dan produktif sehingga bentuk dan peran serta fungsi fisik dan ekologis yang diinginkan dan berkelanjutan dapat dicapai secara optimal.
PUSAT PEMBERDAYAAN PENYANDANG DISABILITAS DI KOTA MANADO: Arsitektur Inklusif Sangkay, Visilia C.; Rogi, Octavianus H. A.; Rondonuwu, Dwight M.
Jurnal Arsitektur DASENG Vol. 14 No. 4 (2025): Daseng Volume 14 Nomor 4, November 2025
Publisher : PS S1 Arsitektur. Jurusan Arsitektur, Fakultas Teknik Universitas Sam Ratulangi Manado

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.35793/daseng.v14i4.66664

Abstract

Perancangan Objek Pusat Pemberdayaan Penyandang Disabilitas di Kota Manado dengan pendekatan Arsitektur Inkusif dilatarbelakangi dari factor sumber daya manusia, yaitu penyandang disabilitas. Penyandang disabilitas sering dianggap tidak mampu dan memerlukan perhatian khusus oleh masyarakat sekitar. Minimnya fasilitas, layanan pelatihan, dan penyediaan tenaga kerja bagi penyandang disabilitas menjadi hambatan dalam beraktivitas di tengah Masyarakat. Pendekatan Arsitektur Inklusif dalam perancangan ini tidak hanya menyediakan fasilitas bagi penyandang disabilitas, tetapi bisa memberi kesempatan bagi kaum ini untuk mengikuti pelatihan dan program pembelajaran sesuai dengan klasifikasi penyandang disabilitas yang ada. Metode perancangan yang digunakan dalam perancangan ini adalah metode konsep Pengembangan Varietas-Reduksi Varietas (PV-RV) oleh Horst Rittel, yang memuat identifikasi permasalahan dan penentuan solusi akhir, yang mana mencakup nilai akhir optimal untuk perancangan bagi pengguna utama dari objek perancangan ini, yakni penyandang disabilitas dengan klasifikasi, yaitu Tunanetra, Tunadaksa, Tunawicara, Tunarungu dan Tunaganda. Objek perancangan ini memuat ruang serta area yang inklusif, di dalamnya digunakan penerapan prinsip desain yang aksesibel, fleksibel, ergonomis, serta penerapan secara sensory design dan deaf space. Ruang yang tersedia dalam objek ini ialah ruang privat untuk ruang pelatihan, ruang serbaguna, akomodasi, ruang penunjang, ruang pengelola, area UMKM Inkubasi, kebun, taman dan area parkir. Desain yang responsif dan pengadaan fasilitas serta program pendidikan yang diterapkan dalam perancangan ini diharapkan dapat mewadahi seluruh aspek aktivitas bagi penyandang disabilitas. Kata Kunci: Penyandang Disabilitas, Inclusive Design, Universal Design, Manado
Co-Authors - Suryono Aghita G. Maliatja, Aghita G. Agnes V. Basuki Agrendi A. C. Wojongan Akiang, Andriano B. Al Asy Ary, Muhammad Farid Alvin J. Tinangon Alvin J. Tinangon Amanda S. Sembel Amanda S. Sembel Aristotulus E. Tungka Aristotulus E. Tungka, Aristotulus E. Bokau, Devanya Deviani Ruth Christofel Jacob Claudia S. Punuh, Claudia S. Cynthia E. V. Wuisang, Cynthia E. V. Cynthia E.V Wuisang, Cynthia E.V Cynthia E.V. Wuisang Deddy Erdiono Elisabet S. Pua Esli D. Takumansang Fela Warouw Fela Warouw Frits O. P. Siregar Frits O. P. Siregar Hanny Poli Haurissa, Destela Herry Kapugu Hudha, Nurul Jefrey I. Kindangen Jessy A. Rumouw Johannes Van Rate Johansen C. Mandey Joseph Rengkung Judy O. Waani Judy O. Waani Kandow, Varrah N. Kolibu, Eunike T. Kolompoy, Gracia J. P. Kristanya C. E. Tendean Kriswanto W. Zachawerus Kulas, Bryan E. Lucky Mandulangi, Lucky Manege, Max Millian Meytti Y. Sabarofek Mokalu, Kezia Stefani Ndari, Putriana A. Nur, Ady I. A. Nussy, Juan E. Octavianus H. A. Rogi Octavianus Hendrik Alexander Rogi Pamela Fedoria Pangaila, Andro A. Paramitha, Indtani Pierre H. Gosal Raymond Ch. Tarore Reny Syafriny Roosje J. Poluan Rorong, Yolanda O. Sakul, Fianna G. Sangkay, Visilia C. Sembel, Amanda S Sjeren A. Saroinsong Sonny Tilaar Steven Lintong Stevenly A. Mamesah Syafrida A. Kamal Syalom Fujaya, Fransiska Taihuttu, Abraham Teppie, Reza C. Thalia G. Pomantow Timothy T. Tumonggor Torondek, Vicky Trifena T. A. Tumundo Tumbelaka, Stevanus Vailen Van Den Bokshouw, Andry A. Vicky H. Makarau Wahab, Sitti Rahma Sy. Windy M. Mononimbar