p-Index From 2021 - 2026
9.381
P-Index
Claim Missing Document
Check
Articles

PASAR KLIWON KUDUS DENGAN PENEKANAN DESAIN THOMAS KARSTEN Agustin, Alin Pradita; Hardiman, Gagoek; Rukayah, Siti
IMAJI Vol 1, No 2 (2012): IMAJI
Publisher : IMAJI

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

 Potensi pasar tradisional di Indonesia sangat besar sebab retribusi dari pasar tradisional cukup besarkontribusinya bagi pendapatan daerah. Akan tetapi perkembangan pasar tradisional tidak mendapat perhatianyang lebih dari pemerintah pusat maupun pemerintah daerah. Kudus merupakan daerah yang memilikipertumbuhan ekonomi yang sangat pesat. Dalam survei pendataan pasar di Kudus tahun 2010, terdapat 23pasar di Kabupaten Kudus. Peran pasar tradisional di Kabupaten Kudus cukup besar, tidak hanya dalammeningkatkan pendapatan daerah, tetapi berperan langsung terhadap pendapatan pekerja maupun pedagang.Keamanan dan kenyamanan menjadi faktor mutlak yang harus dipertimbangkan dalam merencanakan suatubangunan yang bersifat publik. Thomas Karsten merupakan sosok arsitek pada zaman kolonial Belanda yangdianggap paling unggul karena mampu membangun pasar yang mempertimbangkan kenyamanan pedagangdengan menggunakan pencahayaan dan penghawaan alami. Kajian ini diawali dengan mempelajari pengertian dan hal-hal mendasar mengenai pasar, pasartradisional, standar-standar mengenai pasar, persyaratan khusus pasar sehat, dan studi banding beberapapasar tradisional karya Thomas Karsen. Dilakukan juga tinjauan mengenai lokasi Pasar Kliwon Kudus danpembahasan konsep perancangan dengan penekanan desain Thomas Karsten. Tapak yang digunakan adalahtapak asli dari Pasar Kliwon Kudus, yang kemudian diperluas sesuai kebutuhan ruang yang ada. Selain itu jugadibahas mengenai penataan massa dan ruang dalam bangunan, penampilan bangunan, struktur, serta utilitasyang dipakai dalam perancangan “Pasar Kliwon Kudus dengan Penekanan Desain Thomas Karsten”. Konsep perancangan ditekankan pada prinsip Thomas Karsten, dimana prinsip desain ditemukanmelalui penelitian arsitektur kecil yang dilakukan pada pasar-pasar karya Karsten. Konsep desain Karstendiaplikasikan secara eksplisit maupun konseptual dalam perancangan bangunan Pasar Kliwon Kudus.
BENTUK DAN PROPORSI PADA PERWUJUDAN ARSITEKTUR VERNAKULAR BUGIS Sani, Andi Asrul; Supriyadi, Bambang; Rukayah, R.Siti
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

This research lifting Vernacular Architectural Bugis with case studies Bola Soba State Watampone as part of the work of Duke ( King ). The issue building design process Bola Soba into focus through all proportions studys components constituent. Base his study , in addition to an understanding of the essence vernacular, the need of understanding also his tectonics, tradition ( build ) Architecture Bugis and rules proportion.the feel aesthetics in architecture is based on the elements and principles of design that can be explained rationally one of which is the principle of proportion. Leaning on his study approach: all characteristics of vernacular ( Bugis ) , visual and numerical portrait (measurement dimension ) objects. Images are visual and numerical reference database for reconstruction  groups object to the graphic data and figures. Analysis of calculation of the ratio  proportion to his assisted Software Microsoft Excel and SPSS ( Statistical Product and Service Solution). The findings of this research form the basic of the ratio of the amount used as a reference for comparison of the parts of the building detail in the building in the city of Bola Soba in Watampone. Proportion 1 : 1.23 with Sulapa Appa element and is believed to be the final findings as the basic for the size calculation of the proportion of the building Bola Soba. Implications of the findings could be early reference ( hypothesis ) , that the work of vernacular architecture Bugis embodiment has a basic size its design. Reference process is certainly still need to be explored with further research, including the work of other vernacular which created by the Duke / King Bugis. In historically, kingdom Bugis had been a formidable kingdom in his day which civilization has its own form of architecture heritage building. There are four great kingdoms that became the Bugis area is the kingdom of Luwu, kingdom of Bone, the kingdom of Soppeng and Wajo.Penelitian ini mengangkat Arsitektur Vernakular Bugis dengan studi kasus Bola Soba Kota Watampone sebagai wujud karya kalangan Bangsawan (Raja).Persoalan proses perancangan bangunan Bola Soba menjadi fokus telaah melalui ke-proporsi-an komponen-komponen pembentuknya.Dasar telaahnya, selain pemahaman tentang esensi ke-vernakular-an, perlu pemahaman pula sisi ke-tektonika-annya, tradisi (membangun) Arsitektur Bugis dan kaidah proporsi.Rasa estetika dalam arsitektur didasarkan pada elemen –elemen dan prinsip-prinsip perancangan yang bisa dijelaskan secara rasional salah satunya adalah prinsip proporsi. Pendekatan studinya bersandar pada : ke-ciri-an vernakular (Bugis), potret visual dan numerik (pengukuran dimensi) obyek. Potret visual dan numerik merupakan database rujukan untuk me-rekonstruksi-kan gugus obyek ke data grafis dan angka. Analisis perhitungan rasio ke-proporsi-annya dibantu perangkat lunak Microsoft Excel dan SPSS (Statistical Product and Service Solution). Temuan penelitian ini berupa besaran rasio dasar yang digunakan sebagai acuan perbandingan bagian-bagian detail bangunan dalam bangunan Bola Soba di Kota Watampone.Proporsi 1:1,23 dengan elemen Sulapa Appa menjadi temuan akhir dan diyakini sebagai dasar ukuran perhitungan proporsi dalam bangunan Bola Soba.Implikasi temuannya bisa menjadi referensi awal (hipotesis), bahwa perwujudan karya arsitektur vernakular Bugis memiliki dasar ukuran dalam proses perancangannya.Referensi ini tentunya masih perlu didalami dengan penelitian lanjutan, termasuk karya vernakular lain yang dikreasi oleh kalangan Bangsawan/Raja Bugis.Secara historis,kerajaan Bugis pernah menjadi kerajaan yang tangguh di zamannya memiliki peradaban tersendiri berupa peninggalan Arsitektur Bangunan.Ada empat kerajaan besar yang menjadi wilayah Bugis yaitu Kerajaan Luwu,Kerajaan Bone,Kerajaan Soppeng dan Wajo. This research lifting Vernacular Architectural Bugis with case studies Bola Soba State Watampone as part of the work of Duke ( King ). The issue building design process Bola Soba into focus through all proportions studys components constituent. Base his study , in addition to an understanding of the essence vernacular, the need of understanding also his tectonics, tradition ( build ) Architecture Bugis and rules proportion.the feel aesthetics in architecture is based on the elements and principles of design that can be explained rationally one of which is the principle of proportion. Leaning on his study approach: all characteristics of vernacular ( Bugis ) , visual and numerical portrait (measurement dimension ) objects. Images are visual and numerical reference database for reconstruction  groups object to the graphic data and figures. Analysis of calculation of the ratio  proportion to his assisted Software Microsoft Excel and SPSS ( Statistical Product and Service Solution). The findings of this research form the basic of the ratio of the amount used as a reference for comparison of the parts of the building detail in the building in the city of Bola Soba in Watampone. Proportion 1 : 1.23 with Sulapa Appa element and is believed to be the final findings as the basic for the size calculation of the proportion of the building Bola Soba. Implications of the findings could be early reference ( hypothesis ) , that the work of vernacular architecture Bugis embodiment has a basic size its design. Reference process is certainly still need to be explored with further research, including the work of other vernacular which created by the Duke / King Bugis. In historically, kingdom Bugis had been a formidable kingdom in his day which civilization has its own form of architecture heritage building. There are four great kingdoms that became the Bugis area is the kingdom of Luwu, kingdom of Bone, the kingdom of Soppeng and Wajo.
MAKNA RUMAH CARAHULU KOMERING SEBUAH KAJIAN SEMIOTIK Iskandar, Iskandar Iskandar; Suprapti, Atiek; Rukayah, R Siti
Jurnal Arsir Vol 1, No 2 (2017): ARSIR
Publisher : Jurnal Arsir

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Rumah Carahulu Komering merupakan salah satu rumah vernakular yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Rumah ini merupakan rumah asli Suku Komering. Rumah Carahulu bentuknya memiliki kekhasan tersendiri salahsatunya atapnya berbentuk pelana segitiga menjulang tinggi, memiliki bentuk bidang ruang berbentuk kubus, pintu utama dan jendela utama berbentuk gerbang bermahkota serta memiliki ragam hias ukiran yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk mencari makna dari unsur-unsur bentuk Rumah Carahulu melalui pendekatan Semiotik. Metode penelitian yang dipakai yaitu metode penelitian kualitatif melalui pendekatan metode Rasionalistik atau Post Positivistik dengan landasan teori tentang Makna dan teori tentang Semiotik.Pengambilan data primer dilakukan dengan cara mengamati secara seksama terhadap objek rumah, melakukan wawancara dengan keturunan pemilik rumah, tokoh masyarakat, wawancara dan sesepuh desa. Pengambilan data sekunder melalui data sejarah Suku Komering berupa buku penelitian terdahulu. Rumah Carahulu Komering memiliki makna dari unsur-unsur bentuknya yaitu makna nostalgia akan tanah leluhur sebagai Mountain People (Manusia Gunung) dan makna regenerasi hidup, makna keyakinan Suku Komering terhadap akidah Islam bahwa dakwah Islam untuk Keluarga hal yang mutlak, makna filosofis hidup Suku Komering bahwa kejadian di muka bumi selalu berpasangan serta makna pesan moral melalui sifat karakter flora, geometris dan kaligrafi. Rekomendasi untuk Pemerintah supaya Rumah Carahulu Komering dimasukan sebagai Benda Cagar Budaya. Rekomendasi untuk Iptek, agar Rumah Carahulu Komering dilakukan penelitian lebih lanjut bidang Arsitekur lainnya, bidang Building Science dan Bidang Struktur Konstruksi. Komering house is one of the vernacular houses in the South Sumatra province. This house is a home to Komering native tribes . The house has a peculiarities shape one of them saddle-shaped roof towering triangle, has a cube-shaped space field, the main door and windows have an ornament like the crown-shaped with a decorative unique carving. This study aimed to explore the meaning of form elements Carahulu house through a semiotic approach. The research used a qualitative method with Rationalistic Research approach or Post positivistic methods with the theoretical basis of the meaning and the theory of semiotics. The primary data is collect by carefully observing of the house, doing interviews with the descendants of homeowners, community leaders, interviews and village elders. Secondary data retrieval through the historical data from a book and Parts Komering previous research. The Carahulu Komering house has the meaning of the elements of shape that is nostalgia for the ancestral lands as Mountains Man and the meaning of regeneration of life, the meaning of Komering Tribe faith against the Islamic religion that Islamic missionary for Family absolutes right, the philosophical meaning of Komering Tribe that everything happens on earth are always in pairs and meaning of moral messages through character of floral, geometric and calligraphy. Recommendations for the Government to Komering Carahulu house included as Objects of Cultural Property. Recommendations for science and technology, to conduct Carahulu Komering house further research especially in architectural fields, Building Science and Structure Construction
BENTUK DAN PROPORSI PADA PERWUJUDAN ARSITEKTUR VERNAKULAR BUGIS Sani, Andi Asrul; Supriyadi, Bambang; Rukayah, R.Siti
Jurnal Teknik Sipil dan Perencanaan Vol 17, No 2 (2015): Jurnal Teknik Sipil & Perencanaan
Publisher : Semarang State University

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.15294/jtsp.v17i2.6885

Abstract

This research lifting Vernacular Architectural Bugis with case studies Bola Soba State Watampone as part of the work of Duke ( King ). The issue building design process Bola Soba into focus through all proportions study's components constituent. Base his study , in addition to an understanding of the essence vernacular, the need of understanding also his tectonics, tradition ( build ) Architecture Bugis and rules proportion.the feel aesthetics in architecture is based on the elements and principles of design that can be explained rationally one of which is the principle of proportion. Leaning on his study approach: all characteristics of vernacular ( Bugis ) , visual and numerical portrait (measurement dimension ) objects. Images are visual and numerical reference database for reconstruction  groups object to the graphic data and figures. Analysis of calculation of the ratio  proportion to his assisted Software Microsoft Excel and SPSS ( Statistical Product and Service Solution). The findings of this research form the basic of the ratio of the amount used as a reference for comparison of the parts of the building detail in the building in the city of Bola Soba in Watampone. Proportion 1 : 1.23 with Sulapa Appa element and is believed to be the final findings as the basic for the size calculation of the proportion of the building Bola Soba. Implications of the findings could be early reference ( hypothesis ) , that the work of vernacular architecture Bugis embodiment has a basic size its design. Reference process is certainly still need to be explored with further research, including the work of other vernacular which created by the Duke / King Bugis. In historically, kingdom Bugis had been a formidable kingdom in his day which civilization has its own form of architecture heritage building. There are four great kingdoms that became the Bugis area is the kingdom of Luwu, kingdom of Bone, the kingdom of Soppeng and Wajo.Penelitian ini mengangkat Arsitektur Vernakular Bugis dengan studi kasus Bola Soba Kota Watampone sebagai wujud karya kalangan Bangsawan (Raja).Persoalan proses perancangan bangunan Bola Soba menjadi fokus telaah melalui ke-proporsi-an komponen-komponen pembentuknya.Dasar telaahnya, selain pemahaman tentang esensi ke-vernakular-an, perlu pemahaman pula sisi ke-tektonika-annya, tradisi (membangun) Arsitektur Bugis dan kaidah proporsi.Rasa estetika dalam arsitektur didasarkan pada elemen –elemen dan prinsip-prinsip perancangan yang bisa dijelaskan secara rasional salah satunya adalah prinsip proporsi. Pendekatan studinya bersandar pada : ke-ciri-an vernakular (Bugis), potret visual dan numerik (pengukuran dimensi) obyek. Potret visual dan numerik merupakan database rujukan untuk me-rekonstruksi-kan gugus obyek ke data grafis dan angka. Analisis perhitungan rasio ke-proporsi-annya dibantu perangkat lunak Microsoft Excel dan SPSS (Statistical Product and Service Solution). Temuan penelitian ini berupa besaran rasio dasar yang digunakan sebagai acuan perbandingan bagian-bagian detail bangunan dalam bangunan Bola Soba di Kota Watampone.Proporsi 1:1,23 dengan elemen Sulapa Appa menjadi temuan akhir dan diyakini sebagai dasar ukuran perhitungan proporsi dalam bangunan Bola Soba.Implikasi temuannya bisa menjadi referensi awal (hipotesis), bahwa perwujudan karya arsitektur vernakular Bugis memiliki dasar ukuran dalam proses perancangannya.Referensi ini tentunya masih perlu didalami dengan penelitian lanjutan, termasuk karya vernakular lain yang dikreasi oleh kalangan Bangsawan/Raja Bugis.Secara historis,kerajaan Bugis pernah menjadi kerajaan yang tangguh di zamannya memiliki peradaban tersendiri berupa peninggalan Arsitektur Bangunan.Ada empat kerajaan besar yang menjadi wilayah Bugis yaitu Kerajaan Luwu,Kerajaan Bone,Kerajaan Soppeng dan Wajo. This research lifting Vernacular Architectural Bugis with case studies Bola Soba State Watampone as part of the work of Duke ( King ). The issue building design process Bola Soba into focus through all proportions study's components constituent. Base his study , in addition to an understanding of the essence vernacular, the need of understanding also his tectonics, tradition ( build ) Architecture Bugis and rules proportion.the feel aesthetics in architecture is based on the elements and principles of design that can be explained rationally one of which is the principle of proportion. Leaning on his study approach: all characteristics of vernacular ( Bugis ) , visual and numerical portrait (measurement dimension ) objects. Images are visual and numerical reference database for reconstruction  groups object to the graphic data and figures. Analysis of calculation of the ratio  proportion to his assisted Software Microsoft Excel and SPSS ( Statistical Product and Service Solution). The findings of this research form the basic of the ratio of the amount used as a reference for comparison of the parts of the building detail in the building in the city of Bola Soba in Watampone. Proportion 1 : 1.23 with Sulapa Appa element and is believed to be the final findings as the basic for the size calculation of the proportion of the building Bola Soba. Implications of the findings could be early reference ( hypothesis ) , that the work of vernacular architecture Bugis embodiment has a basic size its design. Reference process is certainly still need to be explored with further research, including the work of other vernacular which created by the Duke / King Bugis. In historically, kingdom Bugis had been a formidable kingdom in his day which civilization has its own form of architecture heritage building. There are four great kingdoms that became the Bugis area is the kingdom of Luwu, kingdom of Bone, the kingdom of Soppeng and Wajo.
MAKNA RUMAH CARAHULU KOMERING SEBUAH KAJIAN SEMIOTIK Iskandar, Iskandar Iskandar; Suprapti, Atiek; Rukayah, R Siti
Arsir Vol 1, No 2 (2017): Arsir
Publisher : Universitas muhammadiyah palembang

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.32502/arsir.v1i2.878

Abstract

Rumah Carahulu Komering merupakan salah satu rumah vernakular yang ada di Provinsi Sumatera Selatan. Rumah ini merupakan rumah asli Suku Komering. Rumah Carahulu bentuknya memiliki kekhasan tersendiri salahsatunya atapnya berbentuk pelana segitiga menjulang tinggi, memiliki bentuk bidang ruang berbentuk kubus, pintu utama dan jendela utama berbentuk gerbang bermahkota serta memiliki ragam hias ukiran yang unik. Penelitian ini bertujuan untuk mencari makna dari unsur-unsur bentuk Rumah Carahulu melalui pendekatan Semiotik. Metode penelitian yang dipakai yaitu metode penelitian kualitatif melalui pendekatan metode Rasionalistik atau Post Positivistik dengan landasan teori tentang Makna dan teori tentang Semiotik.Pengambilan data primer dilakukan dengan cara mengamati secara seksama terhadap objek rumah, melakukan wawancara dengan keturunan pemilik rumah, tokoh masyarakat, wawancara dan sesepuh desa. Pengambilan data sekunder melalui data sejarah Suku Komering berupa buku penelitian terdahulu. Rumah Carahulu Komering memiliki makna dari unsur-unsur bentuknya yaitu makna nostalgia akan tanah leluhur sebagai Mountain People (Manusia Gunung) dan makna regenerasi hidup, makna keyakinan Suku Komering terhadap akidah Islam bahwa dakwah Islam untuk Keluarga hal yang mutlak, makna filosofis hidup Suku Komering bahwa kejadian di muka bumi selalu berpasangan serta makna pesan moral melalui sifat karakter flora, geometris dan kaligrafi. Rekomendasi untuk Pemerintah supaya Rumah Carahulu Komering dimasukan sebagai Benda Cagar Budaya. Rekomendasi untuk Iptek, agar Rumah Carahulu Komering dilakukan penelitian lebih lanjut bidang Arsitekur lainnya, bidang Building Science dan Bidang Struktur Konstruksi. Komering house is one of the vernacular houses in the South Sumatra province. This house is a home to Komering native tribes . The house has a peculiarities shape one of them saddle-shaped roof towering triangle, has a cube-shaped space field, the main door and windows have an ornament like the crown-shaped with a decorative unique carving. This study aimed to explore the meaning of form elements Carahulu house through a semiotic approach. The research used a qualitative method with Rationalistic Research approach or Post positivistic methods with the theoretical basis of the meaning and the theory of semiotics. The primary data is collect by carefully observing of the house, doing interviews with the descendants of homeowners, community leaders, interviews and village elders. Secondary data retrieval through the historical data from a book and Parts Komering previous research. The Carahulu Komering house has the meaning of the elements of shape that is nostalgia for the ancestral lands as Mountains Man and the meaning of regeneration of life, the meaning of Komering Tribe faith against the Islamic religion that Islamic missionary for Family absolutes right, the philosophical meaning of Komering Tribe that everything happens on earth are always in pairs and meaning of moral messages through character of floral, geometric and calligraphy. Recommendations for the Government to Komering Carahulu house included as Objects of Cultural Property. Recommendations for science and technology, to conduct Carahulu Komering house further research especially in architectural fields, Building Science and Structure Construction
PEMILIHAN PEDESTRIAN WAYS DITINJAU DARI PERSEPSI PENGGUNA DI KORIDOR JALAN GUNUNG SAHARI JAKARTA PUSAT Auf, Abdurrahman Ibnu; Murtini, Titien Woro; Rukayah, Siti
MODUL Vol 15, No 1 (2015): Modul Volume 15 Nomer 1 Tahun 2015
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (555.239 KB) | DOI: 10.14710/mdl.15.1.2015.39-46

Abstract

Koridor Jalan Gunung Sahari merupakan salah satu pusat pertumbuhan kota di Jakarta Pusat. Banyak aktivitas yang terjadi pada koridor tersebut. Seiring perkembangannya Jalan Gunung Sahari mengalami peningkatan aktivitas kendaraan bermotor yang cukup padat. Hal ini berpengaruh pada penggunakaan jalur pedestrian. namun, jalur pedestrian pada Jalan Gunung Sahari mengalami ketimpangan pengguna, yaitu di sisi sebelah timur lebih ramai pengguna, sedangkan di sisi sebelah barat hampir tidak terdapat pengguna. Penelitian ini bertujuan untuk mengkaji faktor-faktor apa sajakah yang mempengaruhi persepsi pengguna pedestrian ways dalam menentukan jalur yang diambil ketika berjalan pada pedestrian ways di koridor Jalan Gunung Saharari Jakarta Pusat. Penelitian ini menghasilkan bahwa faktor yang paling berpengaruh terhadap pemilihan jalur pedestrian di koridor jalan gunung sahari adalah faktor aktivitas pendukung yang terdiri dari ruang, aktivitas, dan jalur pedestrian itu sendiri. Hipotesis yang mengatakan bahwa“Presepsi pengguna pedestrian ways dipengaruhi oleh perkembangan aktifitas di  koridor tersebut terutama pedestrian yang dianggap nyaman, aman, menyenangkan dan memiliki daya tarik akan lebih ramai” ternyata setelah diteliti lebih dalam faktor yang paling  berpengaruh terhadap pemilihan jalur pedestrian adalah aktifitas pendukung
Konsep Arsitektur Jawa Dan Sunda Pada Masjid Agung Sang Cipta Rasa Cirebon Muffid, Mudhofar; Suprijadi, Bambang; Rukayah, Siti
MODUL Vol 14, No 2 (2014): MODUL Volume 14 No.2 Tahun 2014
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (3701.35 KB) | DOI: 10.14710/mdl.14.2.2014.65-70

Abstract

Salah satu alasan Cirebon  dikenal sebagai kota Wali, adalah  dengan melihat sejarah Cirebon sebagai pusat pengembangan Islam ditanah Jawa Barat termasuk Banten, dan Masjid Agung Sang Cipta Rasa sebagai pusat kegiatan keagamaan dan kemasyarakatan mempunyai peran stategis dan penting. lokasi Cirebon yang berada di perbatasan Jawa dan Sunda, memungkinkan  terjadinya  akulturasi budaya dan pengaruh lokal mempengaruhi wujud arsitektur Masjid Agung tersebut, pengaruh Sunda dikarenakan Sunan Gunung Jati adalah cucu dari Prabu Siliwangi Raja kerajaan Pajajaran yang menguasai tanah Sunda, memberikan pengaruh yang cukup besar, disisi lain Sunan Gunung Jati  merupakan anggota Dewan Wali Sanga yang berpusat di Jawa, juga mempunyai salah satu istrinya dari pembesar Majapahit. Dua arsiektur tradisonal ini memberikan pengaruh yang cukup besar pada perwujudan konsep arsitektur pada Masjid Agung sang Cipta Rasa. Penelitian ini dengan metode penelitian Kualitatif bertujuan mengkaji dugaan pengaruh dua arsitektur tradisional yaitu arsitektur Sunda dan arsitektur Jawa terjadi pada konsep arsitektur yang digunakan. Sasarannya mengkaji tata letak Masjid Agung Sang Cipta Rasa terhadap kawasan Keraton, Bentuk dan Ruang Arsitektur serta ragam hias. Dari hasil penelitian dapat dilihat perpaduan dua konsep Arsitektur Jawa dan Sunda ada pada Konsep Arsitektur Masjid Agung Sang Cipta Rasa. Kata Kunci : Masjid, Arsitektur Jawa, Arsitektur Sunda
JALUR EVAKUASI BENCANA DI KAWASAN PERKOTAAN (Study Kasus : Gunung Sahari Jakarta Pusat) Auf, Abdurrohman Ibnu; Murtini, Titien Woro; Rukayah, Siti
MODUL Vol 16, No 1 (2016): Modul Volume 16 Nomer 1 Tahun 2016 (8 articles)
Publisher : architecture department, Engineering faculty, Universitas Diponegoro

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (720.503 KB) | DOI: 10.14710/mdl.16.1.2016.49-54

Abstract

Jalur pedestrian adalah jalur untuk pejalan kaki yang menghubungkan satu tempt ke tempat lainnya. Jalur pedestrian sangat dibutuhkan dalam sebuah kawasan kota. Jalur pedestrian dapat dikatakan juga sebagai ruang terbuka publik, karena pada jalur pedestrian ini dapat digunakan juga sebagai fasilitas untuk bersosialisasi antar individu. Selain itu juga pada jalur pedestrian yang aman dan nyaman bagi penggunanya, elemen-elemen pendukung juga harus disediakan. Berbagai fasilitas yang ada di jalur pedestrian dapat melengkapi fungsi jalur pedestrian sebagai ruang publik (maulani,dkk, 2013). Kawasan Gunung sahari jakarta pusat merupakan jalan utama dikota Jakarta yang memiliki jalur pedestrian, Jalur pedestrian pada Koridor Gunung Sahari mengalami peningkatan kegiatan yang cukup pesat menyusul meningkatnya perkembangan aktivitas dikoridor jalan tersebut (Rohman, 2015) . Namun, peningkatan hanya disalah satu sisi saja, beberapa faktor menjadi penyebabnya. Melihat fenomena tersebut muncul pertanyaan mengapa tidak difungsikan kembali jalur tersebut?. Bencana merupakan salah satu hal yang dapat terjadi dimana, kapan, dan kepada siapa saja. Bencana dapat berupa bencana alam dan human eror. Penanggulangan bencana belum terlalu diperhatikan oleh masyarakat. Salah satunya jalur evakuasi bencana di kawasan kota. Tidak berfungsinya pedestrian di koridor gunung sahari layak untuk diteliti dan ditinjau apakah layak untuk difungsikan sebagai jalur evakuasi?
ANALISIS PESAN DAKWAH MODERASI DALAM NOVEL KIDUNG RINDU DI TAPAL BATAS KARYA AGUK IRAWAN MN. Rukayah, Siti; Qadaruddin, Muhammad; Haramain, Muhammad
KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Keagamaan Vol 13 No 1 (2020): THE MODERATION OF RELIGION (SINTA 4)
Publisher : LPPM IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.688 KB) | DOI: 10.35905/kur.v13i1.1386

Abstract

The development of da'wah in the digital era is inseparable from the probelmatika of society as a target for da'wah and so many media are used as a means of da'wah. One of the means used by many preachers to deliver their da'wah material is through written media and literacy such as novels. The novel is one of the alternative dawah for delivering dawah material to the target of preaching or mad'u, many stories in the novel are promoted as messages of propaganda in the form of film media. This article has a very positive purpose in understanding the contents of da'wah what are the meanings in a story that have elements of nationalism and da'wah by using descriptive qualitative methods, then linking them to interpretations of the Qur'an. The results of this research are first the theme of da?wah moderation  raised in this novel about Garuda in my chest, in the da?wah moderation scheme the presence of dissatisfaction, sadness, sadness of life in his country but they eat in other countries, semantic messages of moderation means tolerance and  help each other, and belief in God Almighty.
Analisis Pesan Dakwah Moderasi Dalam Novel Kidung Rindu Di Tapal Batas Karya Aguk Irawan Mn. Rukayah, Siti; Qadaruddin, Muhammad; Haramain, Muhammad
KURIOSITAS: Media Komunikasi Sosial Keagamaan Vol 13 No 1 (2020): THE MODERATION OF RELIGION (SINTA 4)
Publisher : LPPM IAIN Parepare

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (1155.688 KB) | DOI: 10.35905/kur.v13i1.1386

Abstract

The development of da'wah in the digital era is inseparable from the problem of society as a target for da'wah and so many media are used as a means of da'wah. One of the means used by many preachers to deliver their da'wah material is through written media and literacy such as novels. The novel is one of the alternative dawah for delivering dawah material to the target of preaching or mad'u, many stories in the novel are promoted as messages of propaganda in the form of film media. This article has a very positive purpose in understanding the contents of da'wah what are the meanings in a story that have elements of nationalism and da'wah by using descriptive qualitative methods, then linking them to interpretations of the Qur'an.
Co-Authors Abdullah Ali Abdurrahman Ibnu Auf, Abdurrahman Ibnu Abdurrohman Ibnu Auf, Abdurrohman Ibnu Achmad, Fathi Khalidi Adriyani Adam Ady Purwoto Affani, Ririn Afifatun , Siti Agung Budi Sardjono Agung Dwiyanto Agung Nugroho Agusfiana, Ega Dwi Airin Dian Nagari Ali Rachman, Ali Alin Pradita Agustin Andi Asrul Sani, Andi Asrul Anggararatri, Yasinta Annica Etenia Annica Etenia Annica Etenia Arief Satya Wijaya Arief Satya Wijaya Arnia Iga Meirta Arung Arafah, Latief Ashri Amalia Hadi, Ashri Amalia Asrul Sahri Siregar Athia Maulida Tsania Shofie Athia Maulida Tsania Shofie Atiek Suprapti Atiek Suprapti Budiarto atik suprapti Aulia Safira Aziz, A. Malik Abdul Bagus Wahono, Bagus Bambang Supriadi Bambang Suprijadi Bambang Supriyadi Basalamah, Huda Muhammad berliana narimala Budi Sudarwanto Cahya, Mochamad Robby Fajar Daffa Maulana Rifli Daffa Maulana Rifli Dardi, Satriana Dargayana, Glandisepa Chahyanita Deni Wahyu Setiawan deni wibawanto Dewi Astuti Diana Susilowati disa ceria Diwangkara, Naufal Kresna Djoko Indrasaptono Dunggio, Abdul Rivai Saleh Edi Purwanto Edi Purwanto Edward E. Pandelaki Edward Endrianto Pandelaki Eka Sarofah Erie Kolya Nasution Etenia, Annica Fahmi Syarif Hidayat Fahmi Syarif Hidayat Fajar Cahya, Mochamad Robby Farida Nur Rachmawati Fariz Addo Giovano fathulia fatmatina Fitria N, Revie Fitriyanstanti, Devi Fredy, Khalid Frisca Ajengtirani Ardiniken Fristy Sulistiani Gagoek Hardiman Gbran, Hassan Giovano, Fariz Addo Glandisepa Chahyanita Dargayana Hanifah Fairuza Prabarini Harsritanto, Bangun Indrakusumo Radityo Hassan Gbran Heru Wibowo Hexa Apriliana Hidayah Huda Muhammad Basalamah Indrasaptono, Djoko Iriani, Restu Isdy Sulistyo Iskandar, Iskandar Iskandar Iskandar, Iskandar Iskandar Iskandar, Puteri Ivien Aryo Puspita Wardani Joesron Alisyahbana, Joesron Koko Pradityo, Koko Kristiani Budi Lestari Kusuma, Tegar Lestari, Kristiani Budi Lia Rosmala Schiffer Lilik Kartika Sari, Lilik Kartika Loretta Ernadia Luqman Nashirudin Nafiq Lutfiana, Nuraini luthfan alfarizi, luthfan Malaha, Naomi Mira Fitriana Mohammad Sahid Indraswara Mudhofar Muffid Muhamad Wisnu Aribowo Muhammad Abdullah Muhammad Abdullah Muhammad Abdullah Muhammad Haramain Muhammad Qadaruddin Mujiono, Untung Musi, Muhammad Akil Muslih nabila maharani saputra Nasution, Revie Fitria Nasution, Titi Anggraeni Naufal Kresna Diwangkara Ningsih, Warti Novika, Puke Rizkiana Novitawati Novitawati Nuning Vita Hidayati Nunuk Juli Sufiati Nurmadiah Nurnainah, Nurnainah nurul kusumaningrum Pancawati Dewi Pannyiwi, Rahmat Paramtopo, Dewanggo Haryo Pariaribo, Konstantina M Pella, Yosin Herloheti Permata Widianingrum Permata Widianingrum Prabu Aji, Sulistyani Priyo Susatyo Puji Hadianti Ardhana Reswari Purbanova, Reni Puteri Iskandar Putri, Esa Rinjani Cantika Qamarya, Nurul R. Rusli Rachmayanie, Arieska Avianda Rahmatiah Rahmatiah Rany, Azhar Hasna Reangga Perkasa, Reangga Rohayah, Nur Rohman Eko Santoso Rosyid Ridlo Al-Hakim Saputra, M. Khalid Fredy Sari, Suzana Ratih Septana Bagus Pribadi Setijanto Setyo Effendi Setyoningsih , Sri Setyowati, Endang Ariyani Siti Patimah Soraya, Dhita Rasyida Sri Ariyanti Sudarmawan Juwono Sudarmawan Juwono Sufiati, Nunuk Juli Sugiono Sutomo, Sugiono Suhargo Tri H. Suminar, Saka Surya, Sara SURYANI Suzana Ratih Sari Suzanna Ratih Sari Suzanna Ratih Sari Suzzana Ratih Sari titien murtini Titien Woro Murtini Titien Woro Murtini Titien Woro Murtini Titien Woro Murtini Titien Woro Murtini, Titien titin murtini, titin Titin Woro Murtini Tondok, Santalia Banne Tri H., Suhargo Untung Mujiono Vivi Kurnia Putri Vivi Kurnia Putri W. Lestari Wahyuti, Wahyuti Wijayanti . Wijayanti Wijayanti Wijayanti Wijayanti Windiariani Lestari Wulasty Digda Yumnahanin Wuriani, Wuriani Yermi, Yermi Yudi Nugraha Bahar Yunita Kristina YUUSHIINA DINI HAPSARI, YUUSHIINA DINI