Claim Missing Document
Check
Articles

Relasi Teologi Aswaja Dengan Ham Perspektif Kiai Said Aqil Siroj Budi Harianto
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 4 No 2 (2018): June
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (210.173 KB) | DOI: 10.36835/humanistika.v4i2.34

Abstract

Abstract: The definition of Ahl al-Sunnah Wa al-Jama'ah resulted from the construction of Kiai Said Aqil Siroj's thought ie Ahl al-Sunnah Wa al-Jama'ah as manhaj al-fikr al-din al-syamil 'ala syu'un al-hayat wa muqtadhayatiha al-qaim 'ala asas al-tawassuth wa al-tawazun wa al i'tidad wa al-tasamuh (a method of religious thought that encompasses all aspects of life and stands on the principle of equilibrium in aqidah, mediator and adhesive in social life, and justice and tolerance in politics). Kyai Said Aqil Siroj's typology of thought is an inclusive (open) religious typology and the Ahl al-Sunnah Wa al-Jama'ah perspective of Kiai Said can be said of the inclusiveness of Ahl al-Sunnah Wa al-Jama'ah. So Ahl al-Sunnah Wa al-Jama'ah must contain tawasut, tasamuh, tawazun and i'tidal in acting or thinking. So as to respond to new things in modern life such as human rights. Keywords: HAM, Ahl as-Sunnah Wa-al Jama'ah, Justice, Freedom, Equality.
KASEKTEN PEREMPUAN DI PESANTREN: PONDOK PESULUKAN THORIQOT AGUNG TULUNGAGUNG Ravika Alvin Puspitasari; Budi Harianto
IJouGS: Indonesian Journal of Gender Studies Vol 2, No 2 (2021)
Publisher : Institut Agama Islam Negeri Ponorogo

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21154/ijougs.v2i2.3147

Abstract

In Javanese Islamic discourse in general, Javanese scholars look more at the broad horizon of Sufistic teachings and practices as an important variable in the Islamization of Java. The author feels that the micro area that discusses daily spirituality, especially women's spirituality, is an area of study that is worthy of research. In the practice of spirituality, of course, it cannot be separated from magical power, it is believed to have supernatural powers. The power is obtained in practice or penijazahan. Then there are various theories about mysticism, kebatinan to sects, in fact women are also actively involved in cosmology or social facts in Java. Therefore, the author poses a research question, namely, why the position of women in the narrative of daily spirituality is considered secondary and how is the practice of kasekten in Pondok Pesulukan Tharekat Agung. This paper specifically discusses the practice of spirituality or female students at the Thoriqot Agung Islamic boarding school in Tulungagung district. Practice or education is generally known as the path that can lead a person to gain enlightenment (sakti). This study uses an ethnographic-based qualitative approach. The findings of this study explain that sociological aspects and patriarchal religious interpretations condition women's spirituality to always be at a secondary level. Women who engage in spiritual practice cannot get the same degree as men, such as becoming Murshid, even though they are already spiritually established. Thus, women are only counted as students in the Tarekat and are not as charismatic as men who hold the title of Kyai Tarekat.Keyword: Kesakten; Spiritual; Women; Secondary
Pembaharuan Dakwah Pendidikan Islam di Sumatera Barat Nurul Syalafiyah; Budi Harianto
Bahasa Indonesia Vol 1 No 1 (2020): J-Kis: Jurnal Komunikasi Islam Juni 2020
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/j-kis.v1i1.123

Abstract

Sumatera Barat merupakan wilayah penting dalam perkembangan dakwah pendidikan Islam di Indonesia, karena ia merupakan wilayah pertama yang mengalami proses modernisasi dakwah pendidikan Islam pada awal abad ke-20-an. Adanya pembaharuan yang terjadi di Minangkabau sendiri memiliki banyak faktor, baik internal maupun eksternal. Artikel ini membahas bagaimana pembaruhan dakwah dalam pendidikan Islam di Sumatera Barat. Dengan menggunakan filsafat sejarah penulis mencoba mendeskripsikan pembaharuan dakwah pendidikan Islam di Sumatera Barat tersebut. Hasil yang ditemukan penulis menghasilkan kesimpulan bahwa Sumatera Barat memiliki banyak tokoh pembaharu dalam dunia dakwah pendidikan Islam. Tokoh-tokoh yang memberikan pengaruh besar dengan adanya lembaga atau sekolah sebagai sarana dakwah yang ia dirikan adalah Abdullah Ahmad yang telah mendirikan Adabiyah School, yang telah memadukan ilmu umum dan ilmu agama. Rahmah el-Yunusiah telah mendirikan Madrasah Diniyah Putri. Rahmah adalah tokoh pendidikan Islam wanita pertama yang menaruh perhatian akan pentingnya pendidikan bagi kaum wanita, hingga ia mendapat gelar Syaikhah dari Senat Guru Besar Universitas al-Azhar. Surau sebagai sarana dakwah dalam bidang pendidikan Islam di Sumatera Barat yang mengalami pembaharuan sintem dengan berkelas, adalah Sumatera Thuwalib, namun walau sistemnya berubah, namun mereka tetap menggunakan buku-buku lama (turast).
Walisongo: Strategi Dakwah Islam di Nusantara Nurul Syalafiyah; Budi Harianto
Bahasa Indonesia Vol 1 No 2 (2020): J-Kis: Jurnal Komunikasi Islam Desember 2020
Publisher : Program Studi Komunikasi dan Penyiaran Islam IAI Pangeran Diponegoro Nganjuk

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.53429/j-kis.v1i2.184

Abstract

Islam mulai berkembang di Nusantara sekitar abad 13 M. Adapun tokoh yang sangat berjasa dalam proses Islamisasi di Nusantara terutama di tanah Jawa adalah “ Walisongo”. Sumbangsih serta peran Walisongo dalam proses Islamisasi di tanah Jawa sangat besar. Tokoh Walisongo yang begitu dekat dikalangan masyarakat muslim kultural Jawa sangat mereka hormati. Ajaran-ajaran dan dakwah yang unik serta sosoknya yang menjadi teladan serta ramah terhadap masyarakat Jawa sehingga dengan mudah Islam menyebar ke seluruh wilayah Nusantara. Penyebaran agama Islam di Pulau Jawa yang dilakukan walisongo terbagi dari berbagai wilayah diantaranya yakni Surabaya-Gresik-Lamongan JawaTimur, Demak-Kudus-Muria di Jawa Tengah, dan Cirebon di Jawa Barat. Keberhasilan Islamisasi Jawa merupakan hasil perjuangan dan kerja keras Walisongo. Walisongo melakukan proses Islamisasi berjalan dengan damai, baik politik maupun kultural, meskipun terdapat konflik itupun sangat kecil sehingga tidak mengesankan sebagai perang maupun kekerasan ataupun pemaksaan budaya. Penerepan metode dakwah yang dilakukan oleh Walisongo yakni metode dakwah yang lentur atau baik sehingga dapat diterima baik oleh masyarakat jawa. Sehingga walisongo tidak dianggap sebagai ancaman di Pulau Jawa.
Analisis Nilai Karakter Peduli Sosial Melalui Metode Role Playing di Kelas V SDI Miftahul Huda Plosokandang Kabupaten Tulungagung Nik Haryanti; Nurul Syalafiyah; Budi Harianto; Sony Eko Adisaputro
JURNAL PENDIDIKAN DAN KEWIRAUSAHAAN Vol 9 No 2 (2021)
Publisher : STKIP PGRI SITUBONDO

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.47668/pkwu.v9i2.326

Abstract

Tujuan penelitian ini adalah untuk mengetahui nilai karakter peduli sosial siswa-siswa saat atau setelah pembelajaran dengan metode role playing dan mendeskripsikan pembelajaran dengan metode role playing yang mengembangkan karakter peduli sosial. Metode penelitian ini merupakan suatu penelitian kualitatif. Teknik pengumpulan data yang digunakan adalah angket, observasi, wawancara, dan dokumentasi. Teknik analisis data yang digunakan adalah yaitu: l) reduksi data 2) penyajian data dan 3) penarikan kesimpulan/verifikasi. Hasil penelitiannya menunjukkan bahwa 1) Nilai karakter peduli sosial melalui metode role playing dalam proses pembelajaran di Kelas V SDI Miftahul Huda Plosokandang Kabupaten Tulungagung diketahui berdasarkan nilai karakter peduli sosial siswa saat mengikuti pembelajaran dengan metode role playing dapat dilihat nilai rata-rata dari angket tersebut sebesar 4,121 dengan persentase 82,42 atau dikategorikan baik. Sedangkan nilai-nilai karakter peduli sosial siswa setelah mengikuti pembelajaran dengan metode role playing yang mana angket diisi oleh teman dari siswa dilihat rata-rata sebesar 4,125 dengan persentase 82,5 atau dalam kategori Baik. 2) Pembelajaran dengan metode role playing yang mengembangkan karakter peduli sosial siswa-siswa Kelas V SDI Miftahul Huda Plosokandang Kabupaten Tulungagung dilakukan dengan 3 pertemuan. Berdasarkan hasil observasi kegiatan pembelajaran diperoleh dari rata-rata atau prosentase yang diperoleh pada pertemuan I yaitu 70,90% dalam predikat atau kategori cukup. Sedangkan pertemuan II yaitu 80,00% dalam predikat atau kategori Baik. Selanjutnya pertemuan III yaitu yaitu 94,54% dalam predikat atau kategori Sangat Baik
PERKEMBANGAN AGAMA ISLAM DARI TRADISI SENI WAYANG KULIT DI KOTA MADIUN Aditya Chandra Abdullah,; Budi Harianto
HUMANISTIKA : Jurnal Keislaman Vol 9 No 2 (2023): Juni 2023
Publisher : Institut Ilmu Keislaman Zainul Hasan Genggong

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar

Abstract

Da’wah is also the duty of a Muslim. In preaching, of course, a Muslim needs a medium to convey what will be conveyed. In this millennial era, preaching can be done anywhere, especially on social media, arts, traditions, even the Wayang Kulit tradition. However, in some areas, wayang kulit has begun to decline in development and its existence has dwindled, but in some areas there are still puppet shows, for example in the city of Madiun. Da’wah strategy conveyed by the Dalang figure from a conversation from a wayang play being played. In a wayang play, there are philosophies that can describe Islamic terms. This was also conveyed by the Dalang using language that the public could easily understand. Wayang kulit was chosen as the most effective medium of propaganda because wayang is also part of Javanese culture, which is still favored by various groups of Javanese society. And also the stories or plays in Wayang also contain Islamic teachings.
TAWARAN METODOLOGI FAZLUR RAHMAN DALAM TEOLOGI ISLAM Budi Harianto
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 4 No 2 (2016): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2016.4.2.277-298

Abstract

Islamic intellectual treasures abundant, but very poor in methodology. Inespecially in the field of theology, was minimal in the use of a methodology, especially in the classical period and the medieval. The methodology in reviewing the new Islamic theology known and discussed in modern times. Islam has buildings that are monotheistic. A religion that has the confidence of the One God. However, the empirical reality, the one God gave birth to a range of views and theological concepts are different. This means that even God as the object of faith Muslims as the God, but when the same Lord responded and understood by many individual Muslims worldwide, it gave birth to a  variety of the concept of God. Differences theological views that depart from the diversity of logic, or form with paradigm, viewpoint and methodology used by the Muslims themselves in capturing and interpreting God. One party Islamic anyone using a logical perspective, ie, attempt to understand God through ratio.No more base through an intuitive understanding. On the other hand thereare quite satisfied with the text.]Keywords: Theology, methodology, Fazlur Rahman, Critical Method,Double Movement.
DINAMIKA DALANG PEREMPUAN WAYANG PURWA DALAM ARUS ISLAMISASI Budi Harianto; Seli Muna Ardiani
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 6 No 1 (2018): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2018.6.1.99-118

Abstract

The female Wayang Purwa puppeteer originally came with a heavy Javanese cultural identity. This identity is reflected in the mindset of Javanese people who always move upward to achieve the principle of natural harmony; then practiced in specific rites in order to maintain the principle of unity. This important role then gradually declines over time. The process of Islamization which has strengthened after the reformation era has become an obstacle of the fate of female puppeteer. Female puppeteers are also the target of the current Islamization in the interests of political contestation in Indonesia. In addition to being confronted with the fact of malesentrism, the female puppeteers are also forced to accept a far more closed interpretation of Islamic religion. This article aims to answer how the dynamics that occur in female puppeteers of Wayang Purwa in the stream of Islamization. Keywords: Female Puppeteer, Cultural Identity, Islamization, Javanese Society  Dalang perempuan wayang purwa mulanya hadir dengan identitas kultural Jawa yang kental. Identitas ini tercermin dalam pola pikir masyarakat Jawa yang selalu bergerak ke atas untuk mencapai prinsip harmoni alam; kemudian dipraktikkan dalam ritus-ritus khas demi menjaga prinsip kemenyatuan tersebut. Peran penting ini kemudian berangsur luruh dari waktu ke waktu. Arus Islamisasi yang kian menguat paska reformasi menjadi salah satu ‘pengganjal’ nasib dalang perempuan. Dalang perempuan juga menjadi sasaran arus Islamisasi dalam kepentingan kontestasi politik di Indonesia. Selain dihadapkan dengan fakta pedalangan yang malesentrism, dalang perempuan juga terpaksa mengamini tafsir keagamaan Islam yang jauh lebih tertutup. Artikel di bawah ini berusaha untuk menjawab bagaimana dinamika yang terjadi pada dalang perempuan wayang purwa dalam arus Islamisasi. Kata kunci: Dalang Perempuan, Identitas Kultural, Islamisasi, Masyarakat Jawa
ASWAJA AN-NAHDLIYAH SEBAGAI REPRESENTATIF TEOLOGI ISLAM NUSANTARA PERSPEKTIF KIAI SAID AQIL SIROJ Budi Harianto; Nurul Syalafiyah
Kontemplasi: Jurnal Ilmu-Ilmu Ushuluddin Vol 7 No 2 (2019): Jurnal Kontemplasi
Publisher : UIN Sayyid Ali Rahmatullah Tulungagung

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.21274/kontem.2019.7.2.252-281

Abstract

Kiai Said Aqil Siroj said that the Nahdlatul Ulama (NU) is a perfect representation of Islam Nusantara in terms of both its organizational culture and movement. NU steps at jama'ah and jam'iyah levels has become a complete reference in harmonizing religion, ideology, and nationalism. NU has three ukhuwah, namely ukhuwah basariyah, islamiyah, and wathaniyah that are in line with the national interest of the Republic of Indonesia. As a sturdy fortress of the national, Islam Nusantara develops knowledge, strengthens networks and forms a national strategy regarding the “Unity in Diversity” principle of the Republic of Indonesia. NU adheres to the theology of Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah and makes it a manhaj al-fikr. Thus of Kiai Said Aqil Siroj, Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah that is constructed by NU, then which is then often called as Ahl al-Sunnah wa al-Jama'ah an-Nahdliyah, can be one of theological representations of Islam Nusantara. This article is intended to put Kiai Said Aqil Siroj's view properly on Ahl al-Sunnah Wa al-Jama'ah, that is constructed by Nahdlatul Ulama correlation with the concept of Islam Nusantara in the framework of scientific dynamics of Islamic studies, and its contribution to the earthing of friendly, peacefully, and blessed Islam for all Indonesians in particular, and for the world in general. From a scientific point of view, an expression by Kiai Said Aqil Siroj is a new nuance in the study and insight of Islamic thought.Keywords : Kiai Said Aqil Siroj, Nahdlatul Ulama, Aswaja An-Nahdliyah, Islam Nusantara.Kiai Said Aqil Siroj menyatakan bahwa Nahdlatul Ulama (NU) merupakan representasi paripurna dari Islam Nusantara dalam kultur organisasi maupun gerakannya. Gerak langkah NU pada level jama’ah maupun jam’iyah menjadi referensi utuh dalam menyelaraskan agama, ideologi, dan rasa kebangsaan. Dalam NU terdapat tiga ukhuwah yaitu ukhuwah basariyah, islamiyah, dan wathaniyah yang selaras dengan kepentingan NKRI. Sebagai benteng kokoh Islam Nusantara bergerak mengembangkan pengetahuan dan menguatkan jaringan serta membentuk strategi kebangsaan sesuai kebhinekaan NKRI. NU yang menganut teologi Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah dan menjadikanya sebagai manhaj al-fikr. Maka dengan melihat pernyataan Kiai Said Aqil Siroj diatas maka Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah yang dikonstruk oleh NU yang dalam perkembanganya sering disebut dengan Ahl al-Sunnah wa al-Jama’ah an-Nahdliyah bisa menjadi salah satu representasi Teologi Islam Nusantara. Dari paparan tersebut artikel ini dimaksudkan untuk mendudukan secara tepat pandangan Kiai Said Aqil Siroj tentang Ahl al-Sunnah Wa al- Jama’ah yang dikontruks oleh Nahdlatul Ulama’ dalam korelasinya dengan konsep Islam Nusantara dalam bingkai dinamika keilmuan studi Islam, serta kontribusinya bagi pembumian Islam yang ramah, damai, dan menjadi rahmah bagi seluruh bangsa Indonesia khususnya bagi dunia umumnya. Pada sisi keilmuan pengungkapan pemikiran Kiai Said Aqil Siroj tersebut nuansa baru dalam kajian dan wawasan pemikiran Islam.Kata Kunci : Kiai Said Aqil Siroj, Nahdlatul Ulama, Aswaja An-Nahdliyah, Islam Nusantara.   
ANALISIS FAKTOR YANG MEMPENGARUHI MINAT MAHASISWA DALAM MEMILIH BERKARIR DI PERBANKAN SYARIAH Meliyani; Syahriza, Rami; Harianto, Budi
Jurnal Tabarru': Islamic Banking and Finance Vol. 7 No. 1 (2024): Jurnal Tabarru' : Islamic Banking and Finance
Publisher : Department of Islamic Banking, Faculty of Islamic Studies, Islamic University of Riau (UIR)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.25299/jtb.2024.vol7(1).15042

Abstract

Penelitian ini bertujuan untuk menganalisis faktor-faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa dalam memilih berkarir di perbankan syariah. Populasi dalam penelitian ini adalah mahasiswa Program Studi Perbankan Syariah Stambuk 2019, dengan sampel sebanyak 93 mahasiswa menggunakan kuesioner melalui google from. Teknik analisis dalam penelitian ini, menggunakan uji analisis faktor dengan SPSS Versi 26. Hasil penelitian menunjukkan bahwa terdapat empat faktor yang mempengaruhi minat mahasiswa dalam memilih berkarir di perbankan syariah, diantaranya yaitu: Faktor Magang, Faktor Pengetahuan, Faktor Pertimbangan Pasar Kerja dan Faktor Minat Berkarir. Selain itu, Faktor Magang dengan indikator pengalaman magang membentuk untuk bertanggung jawab terhadap pekerjaan menjadi faktor yang paling berpengaruh minat mahasiswa dalam memilih berkarir di perbankan syariah. Karena disaat magang karyawan bank memberikan tugas kepada mahasiswa yang magang untuk menyelesaikan tugas tersebut, sehingga membuat mahasiswa tersebut merasa memiliki rasa tanggung jawab dan menyelesaikan tugas yang diberikan dengan benar.
Co-Authors AA Sudharmawan, AA Adenan Adenan, Adenan Aditya Chandra Abdullah, Afifah, Fika Nur Aghni Afriani, Lilia Ahmad Nurcholis Ahmad Sumantri - Ali Hanafiyah Rambe, Ali Hanafiyah Andri Soemitra Andrian Syaputra Anwar Syahputra, Syofyan Aprilia, Nadia Aqwa Naser Daulay Arifuddin, Nur Asmaul Husna Azzahra, Alivia Biqi Asshafah Zain Bunda, Yola Permata Erlina Erlina Esti Rahayu Fadhila Rahma, Tri Inda Fahmi, Muhammad Ikhwan Fani, Mukhammad As Alukal Huda Mei Hamdi, Syaibatul Hapzi Ali Hendrawan, Yoni Herri Trisna Frianto, Herri Trisna Hidayatullah, Syaikhu Ihsan Ila Nasution Indra, Ahmad Perdana Intan Zarina binti Raja Zaki Hashim, Raja Irawan, Ryan Isra Hayati Katimin, Katimin Kumala, Rahima Lestari, Arini Lubis, Amyra Zhahra M. Yogi Riyantama Isjoni Maidalena Maidalena, Maidalena MAKSUM PINEM Meidi Wani Lestari, Meidi Wani Meliyani Mochamad Chobir Sirad Muhajir, As'aril Muhammad Arif Muhammad Fadlan Siregar Muliza Muliza, Muliza Mustapa  Khamal  Rokan Nafis, Fauzan Nasution , Muhammad Lathief Ilhamy Nasution , Yenni Samri Juliati Nasution, M. Cholis Pandapotan Nik Haryanti Nurhasanah, Upik Nuri Aslami Nursantri Yanti Nurul Jannah Nurul Syalafiyah Nurul Syalafiyah Nurul Syalafiyah Nurul Syalafiyah Nurul Syalafiyah Putera, Faga Pandunata Putri, Dwita Agustina Rahmi Syahriza, Rahmi Ravika Alvin Puspitasari Ritonga, Ainun Jakia Ritonga, Nurul Amelia Pratiwi Romi Nasution, Muhammad Rona Merita Rubiyah Yusof, Rubiyah Sarah Sabila, Sarah Sastika, Mila Seli Muna Ardiani Shinta, Jeesica Sirait, Hikman Siregar, Anri Akta Perdana Siregar, Jainuddin Parlindungan Siswahyudianto Sony Eko Adisaputro Subandi Subandi Sumardi Efendi Syafril Syafril Syahputra, Syofyan Anwar Syahriza, Rami Syalafiyah, Nurul Timbul, Timbul Trisna Frianto, Herri Tuti Anggraini YENNI SAMRI JULIATI NASUTION, YENNI SAMRI JULIATI