Claim Missing Document
Check
Articles

Hubungan Kadar Laktat Plasma dengan Derajat Disfungsi Organ Berdasarkan Skor PELOD pada Anak Sakit Kritis Aedi Budi Dharma; Ina Rosalina; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 10, No 4 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp10.4.2008.280-4

Abstract

Latar belakang. Peningkatan kadar laktat menunjukkan hipoksia jaringan dan bila berlangsung lama akan menyebabkan kematian sel dan disfungsi organ. Skor PELOD (pediatric logistic organ dysfunction) merupakan skor komposisi yang dapat digunakan untuk menilai derajat disfungsi organ dan prediksi kematian.Tujuan. Mengetahui hubungan kadar laktat plasma dengan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD pada anak sakit kritis.Metode. Penelitian observasional analitik dengan rancangan cross sectional di Bagian Ilmu Kesehatan Anak RS dr. Hasan Sadikin Bandung pada April-Mei 2008. Pasien anak sakit kritis usia 1 bulan sampai 14 tahun dipilih secara konsekutif. Untuk menentukan korelasi antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ dilakukan dengan Spearman rank correlation. Kadar laktat dikelompokkan menjadi 2 kelompok, yaitu kadar laktat <2 mmol/L dan kadar laktat ≥2 mmol/L. Perbandingan antara kelompok kadar laktat dan distribusi umur, skor PELOD, dan jumlah disfungsi organ dilakukan uji Mann-Whitney. Variabel hipoperfusi dilakukan dengan uji chi-square. Hubungan antar variabel dengan regresi logistik.Hasil. Didapatkan 45 subjek dengan umur rata-rata 48,7 bulan. Jenis kasus kegawatan terbanyak adalah kegawatan kardiovaskular. Kadar laktat rata-rata 3,45 mmol/L dan rata-rata mengalami 3 disfungsi organ. Terdapat hubungan positif yang bermakna antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD (rs=0,54 p=0,001), juga dengan jumlah organ yang mengalami disfungsi. Kadar laktat plasma ≥3,3 mmol/L berhubungan dengan keadaan hipoperfusi.Kesimpulan. Terdapat hubungan antara kadar laktat plasma dan derajat disfungsi organ berdasarkan skor PELOD
Kelainan Kardiovaskular pada Anak dengan Berbagai Stadium Penyakit Ginjal Kronik Aumas Pabuti; Nanan Sekarwana; Partini P Trihono
Sari Pediatri Vol 18, No 3 (2016)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (122.456 KB) | DOI: 10.14238/sp18.3.2016.220-5

Abstract

Latar belakang. Penyakit kardiovaskular (PKV) merupakan penyebab orbiditas dan mortalitas tersering pada penyakit ginjal kronik (PGK) anak. Hipertrofi ventrikel kiri (LVH) dan disfungsi diastolik paling awal terlihat.Tujuan. Mengetahui proporsi PKV pada PGK stadium 1, hubungan stadium PGK dengan LVH, dan disfungsi jantung.Metode. Penelitian potong lintang analitik komparatif 26 subjek PGK anak di RS M Djamil Padang/ RS Hasan Sadikin Bandung. Dilakukan pemeriksaan urinalisis, hematologi rutin, ureum, kreatinin (eLFG), EKG, foto toraks, ekokardiografi. LVH dengan ekokardiografi bila left ventricular mass index (LVMI) >persentil 95 (38g/h2,7). Uji stastistik bermakna bila p<0,05.Hasil. Rerata umur subjek 9,1(3,8) tahun. LVH pada 1 dari 3 subjek PGK stadium 1 dan 61,5% pada PGK seluruh stadium, terbanyak stadium 5. Tidak terdapat hubungan bermakna stadium PGK dengan LVH (p=0,055), disfungsi diastolik (p=0,937) dan disfungsi sistolik (p=0,929).Kesimpulan. Pada PGK stadium 1 ditemukan LVH dan disfungsi diastolik. Tidak terdapat hubungan antara stadium PGK dengan LVH dan disfungsi jantung.
Perbedaan Skor Sepsis Modifikasi Tollner dan Kadar Procalsitonin Serum Sebelum dengan Setelah Pemberian Antibiotik Empiris pada Sepsis Neonatorum Amelia Harsanti; Nanan Sekarwana; Kusnandi Rusmil
Sari Pediatri Vol 16, No 3 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.3.2014.178-82

Abstract

Latar belakang. Di negara maju maupun berkembang, insiden sepsis neonatorum masih tinggi. Penggunaan antibiotik empiris, pada sepsis neonatorum, perlu pemantauan ketat untuk mencegah toksisitas dan resistensi.Tujuan. Menentukan perbedaan skor sepsis modifikasi Tollner dan kadar procalcitonin (PCT) serum sebelum dengan setelah pemberian antibiotik empiris serta hubungan perubahan keduanya pasca pemberian antibiotik empiris.Metode. Penelitian observasional analitik, rancangan one group pre-test and post-test, dilaksanakan Juli−Oktober 2013 di Unit Gawat Darurat dan Rawat Inap Divisi Neonatologi Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Subjek penelitian terdiri atas 32 neonatus dan 2 dikeluarkan karena meninggal <48 jam. Pada seluruh subjek dilakukan penilaian skor sepsis (nilai >10 masuk ke dalam penelitian) dan pemeriksaan kadar PCT serum sebelum dengan setelah mendapat antibiotik ampisilin dan gentamisin selama 48 jam. Perbedaan skor sepsis modifikasi Tollner dan kadar PCT sebelum dengan setelah pemberian antibiotik empiris dianalisis menggunakan Uji Wilcoxon. Korelasi perubahan skor sepsis dan kadar PCT diuji dengan Uji Rank Spearman. Faktor yang berhubungan dengan skor sepsis dan kadar PCT jenis kelamin, usia ≤48 jam, berat lahir rendah, dan kultur darah negatif dianalisis dengan Uji Mann-Whitney.Hasil. Skor sepsis dan kadar PCT serum awal (median (rentang)) berturut-turut 11,5 (10,5−16,5) dan 12,6 (0,30−100) ng/mL. Pasca pemberian antibiotik berturut-turut 5,5 (0,5−13,5) dan 2,65 (0,16−37,25) ng/mL. Skor sepsis dan kadar PCT berbeda bermakna sebelum dengan setelah pemberian antibiotik empiris. Terdapat korelasi positif bermakna perubahan nilai skor sepsis modifikasi Tollner dengan perubahan kadar PCT serum pasca pemberian antibiotik empiris selama 48 jam.Kesimpulan. Skor sepsis modifikasi Tollner dan kadar PCT serum berhubungan dengan pemberian antibiotik empiris pada sepsis neonatorum. Kenaikan perubahan skor sepsis modifikasi Tollner diikuti oleh kenaikan perubahan kadar PCT serum.
Hubungan Dosis Kumulatif Prednison dan Gangguan Umur Tulang pada Sindrom Nefrotik Relaps Sering Budi Firdaus; Ina Rosalina; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 10, No 6 (2009)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (190.128 KB) | DOI: 10.14238/sp10.6.2009.357-61

Abstract

Latar belakang. Pemberian prednison jangka panjang selama pengobatan sindrom nefrotik (SN) mengganggu proses pertumbuhan, terutama pertumbuhan kartilago secara langsung dan gangguan faktor-faktor pertumbuhan (growth factors). Pada SN relaps sering, selalu diberikan prednison jangka panjang yang berulang sehingga dapat menyebabkan gangguan pertumbuhan yang dapat diketahui dari gangguan umur tulang.Tujuan. Untuk mengetahui hubungan antara dosis kumulatif prednison dan gangguan umur tulang pada anak pasien SN relaps sering.Metode. Penelitian menggunakan rancangan cross-sectional. Subjek penelitian adalah anak pasien SN relaps sering, berumur 1-14 tahun, yang berobat jalan di poliklinik Subbagian Nefrologi Bagian Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Hasan Sadikin Bandung mulai bulan April sampai dengan Juni 2008. Dilakukan anamnesis, pemeriksaan fisis, penghitungan dosis kumulatif prednison selama pengobatan, dan pemeriksaan umur tulang. Analisis regresi linier multipel digunakan untuk menilai dosis kumulatif prednison, umur awitan penyakit, lama pemberian prednison, dan jumlah relaps, merupakan faktor risiko yang dapat menyebabkan gangguan umur tulang. Dinyatakan bermakna bila p<0,05.Hasil. Didapatkan 23 anak dengan rata-rata dosis kumulatif prednison (9.677,8±5.016,8) mg, umur awitan (53,30±24,7) bulan, lama pemberian prednison (36,3±22,2) bulan, jumlah relaps (4,5±1,7) kali, dan selisih umur tulang adalah (35,52±21,2) bulan. Analisis regresi multipel dari faktor risiko menunjukkan hanya dosis kumulatif prednison yang menunjukkan hubungan yang bermakna (p<0,05) sedangkan umur awitan penyakit akan menunjukan hubungan yang bermakna (p<0,05) bila jumlah sampel minimal 33.Kesimpulan. Terdapat hubungan yang bermakna antara dosis kumulatif prednison dan gangguan umur tulang pada anak pasien SN relaps sering.
Pengaruh Pengetahuan Terhadap Sikap Ibu Mengenai Imunisasi Ulangan Difteria-Tetanus Yenny Purnama; Eddy Fadlyana; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 10, No 2 (2008)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (273.807 KB) | DOI: 10.14238/sp10.2.2008.117-121

Abstract

Latar belakang. Peran serta dan penerimaan ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus diperlukan untuk menunjang upaya pencegahan penyakit tersebut.Tujuan. Mengetahui pengaruh pengetahuan terhadap sikap ibu murid SD kelas I mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus.Metode. Subjek penelitian adalah ibu murid SD kelas I di Kotamadya Bandung, menggunakan penelitian kuantitatif dan kualitatif. Rancangan penelitian kuantitatif berupa survei cross-sectional dimulai bulan November sampai Desember 2007. Sampel diambil secara cluster random sampling. Analisis statistik dilakukan untuk melihat pengaruh pengetahuan ibu murid SD kelas 1 terhadap sikap imunisasi ulangan difteria-tetanus dengan menggunakan analisis jalur. Pengetahuan adalah informasi yang dimiliki oleh ibu mengenai penyebab, gejala, pengobatan, penularan, dan pencegahan tentang penyakit difteria-tetanus. Sikap adalah respons ibu terhadap penyakit difteria-tetanus mengenai penyebab, gejala, pengobatan, penularan, dan pencegahannya. Rancangan penelitian kualitatif berupa focus group discussion dengan analisis deskriptif, untuk menilai pengetahuan dan sikap ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus yang tidak tergali dengan penelitian kuantitatif. Sampel diambil sebanyak 5-10 orang dari ibu yang telah ikut dalam penelitian kuantitatif.Hasil. Didapatkan 226 ibu dengan rata-rata usia 35 tahun. Hasil analisis jalur, didapatkan pengetahuan secara signifikan dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan jumlah anak. Sikap signifikan dipengaruhi oleh pendidikan ibu dan pengetahuan (95%CI: -t<+1,96>t). Hasil analisis jalur didapatkan pengaruh total pendidikan ibu dan pengetahuan terhadap sikap adalah cukup. Pengaruh total pendidikan ibu dan jumlah anak terhadap pengetahuan adalah kurang. Analisis focus group discussion tergambarkan bahwa ibu yang mempunyai pengetahuan tinggi lebih bersikap mandiri terhadap pelaksanaan imunisasi ulangan difteria-tetanus.Kesimpulan. Pengetahuan ibu berpengaruh positif terhadap sikap ibu mengenai imunisasi ulangan difteria-tetanus
Perbedaan Laju Filtrasi Glomerulus Berdasarkan Kadar Kreatinin dan Cystatin C Serum pada Sindrom Nefrotik Anak Ackni Hartati; Nanan Sekarwana; Dzulfikar DLH
Sari Pediatri Vol 16, No 5 (2015)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.5.2015.325-9

Abstract

Latar belakang. Komplikasi sindrom nefrotik (SN) yang sering telambat terdeteksi adalah gangguan ginjalakut (GnGA). Cystatin C serum dipertimbangkan menjadi pemeriksaan potensial pengganti kreatinin sebagaipenanda fungsi ginjal. Kadar cystatin C lebih mendekati nilai laju filtrasi glomerulus (LFG) dibandingkandengan kreatinin serum.Tujuan. Menentukan perbedaan LFG berdasarkan kadar kreatinin dan cystatin C serum pada SN anak.Metode. Penelitian potong lintang dilakukan dari Februari–Maret 2014 di unit rawat jalan dan rawat inapRSUP Dr. Hasan Sadikin Bandung, RSUD Kota Bandung, dan RSUD Cibabat Kota Cimahi. Subjek SNusia 1–14 tahun. Pemeriksaan kadar kreatinin dengan metode Jaffe dan cystatin C serum dengan particleenhancedturbidimetric immunoassay (PETIA). Uji statistik menggunakan McNemar dan uji t berpasangandan kemaknaan berdasarkan nilai p<0,05.Hasil. Terdapat 21 kasus SN yang terdiri atas 18 laki-laki dan 3 perempuan dengan rerata usia 6 tahun 3bulan. Nilai LFG berdasarkan kreatinin 137,86±27,07 ml/min/1,73 m2 dan LFG berdasarkan cystatin C73,59±12,49 ml/min/1,73 m2. Terdapat perbedaan signifikan antara LFG berdasarkan kadar kreatinin dancystatin C serum (p<0,01).Kesimpulan. Proporsi LFG cystatin C berdasarkan formula Filler lebih rendah dibandingkan kreatininberdasarkan formula Schwartz
Hubungan Kadar Cardiac Troponin T (cTnT) sebagai Penanda Jejas Miokardium dengan Derajat Pneumonia pada Anak Meida Erimarisya; Heda Melinda Nataprawira; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 16, No 1 (2014)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | DOI: 10.14238/sp16.1.2014.11-6

Abstract

Latar belakang. Hipoksemia berhubungan erat dengan pneumonia dan akan bertambah berat seiring bertambah beratnya pneumonia. Hipoksemia merupakan satu dari beberapa mekanisme yang menyebabkan komplikasi/penyulit kardiovaskular pada pneumonia. Cardiac troponin T (cTnT) telah digunakan secara luas sebagai penanda yang sensitif dan spesifik dalam deteksi kerusakan/jejas pada miokardium.Tujuan. Menganalisis hubungan kadar cTnT sebagai penanda jejas miokardium dengan derajat pneumonia.Metode. Penelitian cross-sectional dilaksanakan dari April-Juni 2013, dilibatkan 38 anak usia 2-60 bulan dengan diagnosis pneumonia dan dibagi dalam 2 kelompok, yaitu pneumonia dan pneumonia berat. Kadar cTnT serum dan pemeriksaan EKG dilakukan pada sedikitnya 72 jam awitan sesak. Analisis statistik dilakukan dengan uji Chi-kuadrat dan Mann-WhitneyHasil. Kelompok pneumonia terdiri dari 17 subjek dan pneumonia berat 21 subjek. Rerata kadar cTnT masing-masing kelompok 10,33 pg/dL dan 17,51 pg/dL (p=0,037). Proporsi subjek dengan kadar cTnT >10pg/mL dalam kelompok pneumonia berat berbeda bermakna dibandingkan kelompok pneumonia (p=0,009). Kelainan gambaran EKG ditemukan pada 8 dari 20 subjek dengan kadar cTnT >10pg/mL berupa gangguan irama, pemanjangan interval PR atau QT dan perubahan aksis jantung dan hipertrofi ventrikel kananKesimpulan. Kadar cTnT berhubungan dengan derajat pneumonia. Peningkatan kadar cTnT menunjukkan kerusakan/ jejas non-iskemik pada miokardium.
Korelasi Kadar Hemoglobin dengan Kadar Vascular Endothelial Growth Factor Plasma pada Tetralogi Fallot Vidi Permatagalih; Sri Endah Rahayuningsih; Nanan Sekarwana
Sari Pediatri Vol 15, No 3 (2013)
Publisher : Badan Penerbit Ikatan Dokter Anak Indonesia (BP-IDAI)

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (175.663 KB) | DOI: 10.14238/sp15.3.2013.156-60

Abstract

Latar belakang. Vascular endothelial growth factor-A (VEGF-A) diketahui merupakan penanda hipoksia jaringan yang berperan dalam angiogenesis. Anak dengan penyakit jantung bawaan sianotik seperti Tetralogi Fallot (TF) mengalami hipoksia jaringan dengan komplikasi timbulnya pembuluh darah baru kolateral, polisitemia hipoksik, dan anemia relatif.Tujuan. Menentukan korelasi kadar VEGF plasma dengan kadar Hb.Metode. Penelitian analisis cross-sectional yang mengambil data secara konsekutif anak TF yang berobat ke poli rawat jalan dan rawat inap Departemen Ilmu Kesehatan Anak Rumah Sakit Dr. Hasan Sadikin, Bandung. Kekuatan korelasi kadar Hb dengan VEGF ditentukan dengan uji korelasi Spearman. Kemaknaan dihitung berdasarkan nilai p<0,05. Analisis data dilakukan dengan program SPSS for windows versi 17.0.Hasil. Duapuluh pasien anak TF yang menjadi subjek penelitian, terdiri atas 9 anak laki-laki dan 11 anak perempuan. Didapatkan korelasi negatif bermakna berkekuatan sedang antara kadar Hb dan kadar VEGF (r=-0,503; p=0,024). Tidak terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut jenis kelamin dan status gizi (p=0,412 dan 0,948), tetapi terdapat perbedaan bermakna kadar VEGF plasma menurut kelompok usia (p=0,048).Kesimpulan. Terdapat korelasi negatif antara kadar Hb dan kadar VEGF plasma. Kadar VEGF plasma dapat diperkirakan dari kadar Hb, apabila kadar Hb semakin rendah, maka kadar VEGF meningkat.
ANALISIS TINGKAT KEPUASAN MASYARAKAT TERHADAP DIMENSI KUALITAS PELAYANAN TENAGA PELAKSANA ELIMINASI MENGGUNAKAN PEMODELAN RASCH dini riyantini sari; Nanan Sekarwana; Zahrotur Rusyda Hinduan; Bambang Sumintono
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 1 (2016): Volume 2 Nomor 1 September 2016
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (489.047 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i1.10419

Abstract

Jenis penyakit filariasis limfatik telah lama menjadi masalah kesehatan khususnya daerah endemis filariasis di Indonesia. Tahun 2014 angka mikrofilaria rate (Mf rate) di Kelurahan Nibung Putih sebesar 2,08%. Tingginya prevalensi penyakit filariasis limfatik berhubungan dengan kualitas pelayanan Tenaga Pelaksana Eliminasi (TPE). Penelitian ini bertujuan menganalisis tingkat kepuasan masyarakat terhadap dimensi kualitas pelayanan TPE di Kelurahan Nibung Putih Kabupaten Tanjung Jabung Timur Provinsi Jambi. Instrumen yang digunakan adalah kuesioner berupa formulir pengumpulan data hasil modifikasi dari penelitian yang dilakukan oleh Valarei dan Nasution D.C. Pemodelan Rasch digunakan untuk analisis data kuesioner, desain penelitian ini adalah observasional analitik kuantitatif dengan metode survei, pendekatan waktu cross sectional studies pada bulan April 2016 dengan subjek warga Kelurahan Nibung Putih yang berjumlah 103 orang. Item pada masing-masing konstruk didapati mempunyai daya diskriminasi yang beragam, yang menunjukkan instrumen mempunyai kemampuan mengukur. Hasil analisis keseluruhan responden bahwa sebanyak 103 berada di atas rata-rata logit item (+0,00 logit) yang menunjukkan persetujuan responden pada kualitas pelayanan. Hasil analisis univariat berdasarkan karakteristik responden dapat disimpulkan bahwa umur masa remaja akhir (42,9%), jenis kelamin laki-laki (55,2%), pendidikan tidak tamat SD (66,7%), pekerjaan buruh dan karyawan swasta (100%), memberikan penilaian sangat puas terhadap dimensi kualitas pelayanan TPE di Kelurahan Nibung Putih.Kata Kunci: Kualitas Pelayanan, Pemodelan Rasch, Tenaga Pelaksana Eliminasi
Deteksi Dini Pengalaman Kekerasan Pada Anak Di Tingkat Keluarga Di Kecamatan Jatinangor Nurusofa Surti Dewi; Nita Arisanti; Viramitha Kusnandi Rusmil; Nanan Sekarwana; Meita Dhamayanti
Jurnal Sistem Kesehatan Vol 2, No 3 (2017): Volume 2 Nomor 3 Maret 2017
Publisher : Universitas Padjadjaran

Show Abstract | Download Original | Original Source | Check in Google Scholar | Full PDF (229.064 KB) | DOI: 10.24198/jsk.v2i3.11956

Abstract

Undang-Undang Republik Indonesia No. 35 Tahun 2014, menyatakan setiap anak memiliki hak untuk mendapatkan perlindungan dari kekerasan dan diskriminasi. Kejadian  terbanyak  kekerasan  pada  anak  terjadi  di  tingkat  keluarga.  Penelitian dilakukan untuk mengetahui gambaran dan karakteristik kekerasan pada anak di tingkat keluarga di Kecamatan Jatinangor sebagai deteksi dini terhadap kekerasan. Penelitian ini dilakukan menggunakan studi desain deskriptif kuantitatif dengan rentang waktu pengambilan data September sampai November 2016 secara satu kali potong lintang pada siswa/i Sekolah Menengah Pertama (SMP) aktif berusia 13-15 tahun di Kecamatan Jatinangor, Kab. Sumedang dengan sampel valid diambil sebanyak 98 orang. Ditinjau dengan kejadian terbanyak berdasarkan pengalaman kekerasan di rumah dan lingkungan yaitu pernah melihat orang dewasa di rumah meneriaki dan berteriak yang membuat takut (37.8%), serta berdasarkan jenis pengalaman disiplin dan mendapatkan tindak kekerasan   yaitu   memberi   sesuatu   istimewa   atau   uang   (90.82%).   Berdasarkan pengalaman  pola  asuh  yaitu  terluka/jatuh  karena  tidak  ada  orang  dewasa  yang mengawasi (27.6%), berdasarkan pengalaman kejadian menakutkan yaitu seseorang masuk ke rumah untuk mencuri sesuatu (16.34%), dan berdasarkan pengalaman kekerasan  seksual  yaitu  menyuruh  melihat  organ  vital/pribadinya  atau  sebaliknya (8.2%). Sebagian besar anak pernah mengalami kekerasan di rumah dan sekitarnya.Kata Kunci: kekerasan pada anak, keluarga, pengalaman
Co-Authors Abdul Hadi Martakusumah Achadiyani Ackni Hartati Ade Hafni Aedi Budi Dharma Ag Soemantri Agus Darajat Ahmad Roisul Umam Ahmad Roisul Umam Ahmedz Widiasta Alfiah Rahmawati Amelia Harsanti Angela Rowan Anita Deborah Anwar Anne Dian Rachmawati Annisa Rahmah Furqaani Astuti Dyah Bestari Aufa Salsabila Surahman Aumas Pabuti Azhali M. S. Bachti Alisjahbana Bambang Sumintono Bambang Sumintono Bertram Fong Bethy S Hernowo Budi Firdaus Carmen Norris Catur E Suksesty Danny Hilmanto Dany Hilmanto Deasy Nurisya DEDDY MUCHTADI Dedi Rachmadi Dedi Rachmadi Deni Kurniadi Sunjaya Dessy R. Emril Dewi, Windy Krisanti Kusuma Dhona Andhini Dida A. Gurnida Dida Ahmad Gurnida Dida Akhmad Gurnida Dida Akhmad Gurnida Dida Akhmad Gurnida Dinan S. Bratakoesoemo dini riyantini sari dini riyantini sari, dini riyantini Djatnika Setiabudi Dzulfikar DLH Eddy Fadlyana Elsa Pudji Setiawati Elsa Pudji Setiawati Elsa Pudji Setiawati Elsa Puji Setiawati Endang Susilowati Endang Sutedja Farhati Farhati Farid Husin Farid Husin Firman Fuad Wirakusumah Fitri Nurlina Fitria Fitria Guswan Wiwaha Hadi Susiarno Hadiyati, Ida Harvi Puspa W Harvi Puspa Wardani Heda Melinda Nataprawira Heda Melinda Nataprawira Herman Susanto Herman, Herry Herry Garna Hertanto Wahyu Subagio Husin, Farid Ida Ayu Putu Sri Widnyani Ida Hadiyati Ida Parwati Ike Rostikawati Husen Imelda, Imelda - Ina Rosalina Ina Rosalina Insi Farisa Desy Arya Intania, Sekky Irman Somantri Ishak Abdulhak Ismy, Jufriady Jambak, Muhammad Khalid Johanes C Mose Jufitriani Ismy Kurniaty Ulfah Kusnandi Rusmil Kuswandewi Mutyara Lailiyya, Nushrotul Lelani Reniarti Lelly Yuniarti Maimun Syukri Meida Erimarisya Meilani Meilani Meilani Meilani, Meilani Meita Damayanti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Meita Dhamayanti Mia Yasmina Andarini Muhammad Heru Muryawan Nely Bonita Nita Arisanti Nita Arisanti Nita Arisanti Nita Arisanti Novina Novina Nur Suryawan Nurhalim Shahib Nurihsan, Achmad Juntika Nurizzatun Nafsi Nurusofa Surti Dewi Nurusofa Surti Dewi, Nurusofa Surti Nushrotul Lailiyya Oyoh Oyoh Paramita Diah Winarni Partini P Trihono Paul McJarrow Ponpon Idjradinata Purnomo Putri Rizkia R. Kince Sakinah Rachmat Soelaeman Ratna Damailia Ratu Dobit Reizkiana Feva Kosmah Dewi Rosalinna Rosalinna Ruswana Anwar Ryadi Fadil Salsabila Berlianisa Sekky Intania Sinta Dwi Juwita Siti Aisyah Siti Nurrani Yuniasari Siti Yuyun Rahayu Fitri Sri Endah Rahayuningsih Sri Endah Rahayuningsih Sri Hastuti Andayani Sylvia Rachmayati Titik Respati Titin Junaidi Uni Gamayani Uni Gamayani, Uni Veratiwi Veratiwi Vidi Permatagalih Viiola Irene Winata Vina Rizki Amalia Viramita K Rusmi Viramitha Kusnandi Rusmil Yani Triyani Yenny Purnama Yopi Wulandhari Yudi Mulyana Hidayat Yuni Susanti Pratiwi Yuni Susanti Pratiwi, Yuni Susanti Yusrawati Yusrawati Zahrotur Rusyda Hinduan